Hunk Menu

Overview of the Naolla

Naolla is a novel which tells about life of Hucky Nagaray, Fiko Vocare and Zo Agif Ree. They are the ones who run away from Naolla to the Earth. But only one, their goal is to save Naolla from the destruction.

Book 1: Naolla, The Confidant Of God
Book 2: Naolla, The Angel Falls

Please read an exciting romance novel , suspenseful and full of struggle.
Happy reading...

Look

Untuk beberapa pembaca yang masih bingung dengan pengelompokan posting di blog ini, maka saya akan memberikan penjelasannya.
(1)Inserer untuk posting bertemakan polisi dan dikutip dari blog lain;(2)Intermezzo adalah posting yang dibuat oleh pemilik blog;(3)Insert untuk cerita bertema bebas yang dikutip dari blog lain;(4)Set digunakan untuk mengelompokan posting yang sudah diedit dan dikutip dari blog lain;(5)Posting tanpa pengelompokan adalah posting tentang novel Naolla

Sabtu, 09 Maret 2013

Naolla, The Confidant of Gods: You Are The Naolla's Hero


Sore yang indah kali ini dibumbui oleh datangnya deretan awan hitam dari arah barat daya. Angin sore itupun sedikit agak kencang dan membawa hawa dingin di kota La Paz.
Jheibo menggigil kedinginan di tangan Ray.
“Jhei… Kamu masuk kedalam kantung jaketku saja biar tidak dingin. Sepertinya hari mau hujan lagi”.
Jheibo yang mengigil langsung terbang dan masuk kedalam kantung jaket Ray yang cukup untuk melindungi tubuh mungilnya dari terpaan angin. Dari arah jendela apartemen Alva tersebut dapat melihat jalan, belokan dan gedung-gedung disekitarnya. Cahaya langit yang berwarna jingga juga terbalut manis diantara deretan gedung bertingkat.
Srekkkk… Jheibo tampaknya gelisah sekali dikantung jaket Ray.
“Kenapa Jhei?”, tanya Ray menyadari kegelisahan Jheibo disakunya.
Jheibo keluar dan tampaknya dia baru saja membuka hidung. Mungkin Jheibo gelisah karena mencium bau yang aneh.
“Lari! Vocare!”, Jheibo memperingati Ray.
Ray menatap lekat mata Jhgeibo yang kecil seolah-olah ingin mencari keseriusan dari mata hewan itu. Setelah didapatnya sinar mata yang menunjukan keseriusan, alis kiri Ray terangkat.
Bruakk!!!! Suara pintu didobrak.
Seseorang bertubuh kekar dan dibalut pakaian khas yuari Fugk menghampiri Ray.
“Ikut aku Ray, cepat. Pasukan yuari Vocarae telah menyerang kota! Dia mencarimu dan Fiko…”. Nafas orang itu masih terengah-engah.
“Kita kemana? Fiko belum kembali kesini… Ayo kita jemput Fiko, Tuan…. Emmmm”.
“Namaku Embroal. Panggil saja aku Ru. Bukannya aku tidak peduli dengan Fiko tetapi tidak ada waktu lagi Ray. Kita percaya saja pada Fiko kalau dia bisa menyusul kita. Kamu suruh saja Jheibo menyampaikan pesan untuk menemui kita di…”.
Setelah mendapat pesan untuk menyuruh Fiko menuju Zokle Hajunba didekat bukit, Jheibo keluar dan terbang secepat mungkin. Sementara Yuari Vocere sudah memasuki ruangan Ray dan mengepung mereka berdua.
“Hahahaha… Ini dia azzo langit yang sudah menyusahkan seisi  Hrewa Kufe. Tunggu apa lagi ayo serang dia!”, perintah Juyu.
Para Yuari mulai menyerbu Ru dan Ray. Pada situasi ini, mereka tentu tidak akan bisa menang melawan puluhan Yuari tersebut. Namun Ru yang memiliki azzo roh mengeluarkan linggi dari arah punggungnya yang berbentuk sayap berwarna merah dan bisa memproduksi linggi-linggi tajam yang berbentuk seperti bulu sebelah. Linggi-linggi itu meluncur dan mengarah keyuari-yuari didepannya. Trak! Trak! Trak! Bagaikan hujan linggi bulu, para yuari sedikit kerepotan menghalau serangan dari Ru. Namun  kerana yuari-yuari tersebut adalah pasukan pilihan maka mereka tidak mudah dikalahkan.
Kembali Ru mengeluarkan hujan lingginya dan terus seperti itu hingga beberapa saat.
“Ray, ambil linggiku dan halau mereka sebisamu”, pinta Ru sambil terus mencoba menghalau Yuari.
Ray menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa memegang linggi. Aku anti linggi, tuan Ru”.
Ru terdiam sejenak lalu melemparkan linggi yang tadinya ingin dia berikan pada Ray kearah yuari.
“Aku tidak tahu Ray. Maafkan aku. Sekarang tidak mungkin kita bisa mengalahkan mereka diruangan sesempit ini. Sini kamu aku gendong. Kita akan terbang melompati bangunan ini”.
Ray menuruti perkataan Ru. Tangannya dia rangkulkan dileher Ru sedangkan kakinya dia angkat dan diapitkan kepinggang Ru. Dada mereka saling bertemu. Dengan posisi seperti ini, linggi Sayap Ru bisa dioptimalkan fungsinya. Ru memutar lingginya sehingga mirip baling-baling helikopter dan menghancurkan dinding kamar tersebut untuk membuat jalan keluar. Setelah cukup besar, tangan Ru memeluk tubuh Ray erat dan terbang mirip paralayang. Mereka terjun dan akhirnya terbawa angin untuk naik keatas dan terbang menjauh.
“Sialan! Ayo kejar mereka pasukan Cehug!!!”, perintah Juyu.
Maka segera puluhan pasukan Cehug  mengejar Ru dan Ray.
Ray menatap wajah tampan Ru. “Tuan, dibelakang banyak pasukan Cehug!”, ucap Ray memperingati.
Ru menoleh sebentar lalu melepaskan lingginya ,seperti tadi, untuk mengahalau para yuari tersebut.
“Tenang Ray, aku akan berusaha melindungimu. Setidaknya sampai pasukan Fugk menolong kita”.
Mata Ray menangkap sesosok tubuh dibawah sana yang sedang terikat ditiang lampu jalanan dan sedang dikelilingi pasukan yuari Vocare. Tubuh berotot orang itu terlihat jelas karena baju yang dia kenakan telah lepas dan orang itu adalah… Fiko.
“Turun kan aku tuan! Cepat!”. Ray melepaskan kaki dan tangannya yang sedang merangkul Ru kemudian meminta Ru untuk menurunkannya.
“Apa-apan kamu ini Ray?! Kita harus secepatnya menyelamatkanmu dari kepungan para yuari vocare!”.
“Lepaskan aku tuan! Fiko disandera ditiang itu! Lepas!!!! Lepasssss!!!!!”. Ray berteriak dan menghantamkan kepalanya kedahi Ru agar Ru mau melepaskannya.
Ru bersikeras dan masih erat memeluk pinggang Ray.
Ray mencekik leher Ru namun Ru sempat melindungi kulitnya dengan Linggi. “Diam!”. Cupppp!!!
Bibir Ray yang meronta dia ciumi agar tidak banyak bicara lagi. Namun Ray malah mengigit kencang bibir Ru hingga berdarah dan melepaskan ciumannya. Kesempatan itu Ray manfaatkan sebaik-baiknya. Dia kembali mengigit bibir atas Ru hingga cengkraman yuari itu melemah dan Ray akhirnya jatuh bebas dari ketinggian 35 meter. Bruak!!! Ray jatuh diatas  sebuah gondola dan kemudian dia melompat kebawah menuju sebuah bendera lalu meluncur turun hingga ketanah dari atas tiang bendera.
Ru yang kesakitan kehilangan kendali dan menabrak dinding gedung didepannya.
Ray berlari dan menghampiri gerombolan yuari yang mengelilingi Fiko. Tubuhnya sudah melemah karena menyentuh linggi Ru. Dengan tertatih-tatih dia terus berlari dan jatuh didekat gerombolan yuari vocare itu.
“Lepaskan Fiko….”, pintanya.
Fiko yang sudah terikat lemas dan dipenuhi luka menolehkan kepalanya kearah Ray. “Ray…???”.
Kamamuja berjalan dan menghampiri Ray. “Ini dia azzo tuan Sukaw… Tak perlu susah-susah kita mencarinya dan dia sudah berlutut dihadapan kita untuk menyerahkan diri. Hei anak muda! Kalau kamu tidak mau ikut denganku maka aku pastikan tuan Fiko Vocare yang agung itu meregang nyawa diujung linggiku! Hahaha”.
“Saya akan ikut dengan kalian asalkan Fiko selamat… Aku memang tidak hebat dan juga tidak kuat, tetapi aku tahu bahwa akulah yang menyebabkan semua kekacauan ini. Aku mohon, lepaskan Fiko dan ambil aku sesuai perintah Sukaw…”. Ray seolah mengiba pada Kamamuja.
Pria itu berjalan semakin dekat dengan Ray. Dia menggapai dagu Ray sampai pemuda itu berdiri dihadapannya dengan tatapan takut.
“Terimakasih karena kamu mau merelakan dirimu untuk kami bawa kehadapan Raja Sukaw tetapi untuk kali ini… Maaf kami harus menangkap kalian berdua!”. Crap! Dengan sebuah alat khusus, dia  borgol tangan Ray dan diseretnya ketiang lampu dimana Fiko disandera.
“Ray… Ka-mu tidak usah… memper-duli-kan aku. Pergi saja… “, kata Fiko sambil terbata-bata.
Mereka berdua diikat berbelakangan di tiang lampu tersebut.
“Aku memang bodoh Fiko, tetapi aku tidak bisa membiarkanmu mati ditangan orang seperti mereka ini. Biarlah aku yang mengalah jika memang ini sudah takdirku. Melawanpun rasanya sudah tidak bisa karena cepat atau lambat aku pasti akan segera menghilang dari Naolla. Aku percayakan Naolla padamu Fiko. Harapanku hanya ada padamu…”. Ray berkaca-kaca.
“Kamu bodoh Ray! Sekarang siapa yang akan menjaga Naolla jika tiang lampu jalan ini yang menentukan nasib kita? Seandainya kamu mau pergi dan membiarkan aku disini, mungkin kamu bisa menyelamatkan Naolla dari mereka…”. Fiko menangis karena merasa tidak tahu harus berbuat apa lagi. “Kita sudah cukup sampai disini Ray. Aku tahu hari dimana Naolla akan seperti ini pasti tiba dan kita hanya bisa mematung tanpa melakukan apa-apa”.
Ray tertunduk diam. Dia membenarkan perkataan Fiko.
“Hahahaha… Inilah akhir dari kedunguan kalian berdua…”. Kamamuja tertawa puas.
Juyu dan para yuari cehug telah tiba dan menghampiri tuan Kamamuja beserta pasukan yuari yang lain.
“Tuan memang bisa saya andalkan. Sekarang kita bawa mereka kehadapan Sukaw secepatnya. Ayo!”, kata Juyu.
“Baik ketua. Ayo seret mereka ke hajunba untuk segera dihadapkan pada Raja Agung”, perintah Kamamuja pada anak buahnya. Segera mereka melepaskan ikatan Ray dan Fiko lalu menggiring mereka untuk menaiki cehug.
Namun…
“Ho-ho-how…! Yihaaa!!!”. Diagta datang mengendarai  Usketo, hewan sejenis burung garuda merah raksasa tak berkaki, bersayap kupu-kupu, berekor ular dan memiliki satu antena ditengah kepalanya. “Tenang azzo langit, kamu tidak akan berakhir disini”.
Juyu tercengang dan tidak mengerti dengan ucapan Diagta. “Apa-apan ini Diagta? Minggir!”.
“Apa Juyu? Aku tidak dengar?”.
“Minggir bodoh!”, bentak Juyu kesal.
“Sewot nih. Kalau kamu mau menyingkirkan aku, kamu harus singkirkan juga mereka itu!”, Diagta menunjuk keatas, diatap gedung. Ratusan yuari Fugk telah mengepung Juyu dan para yuari vocare.
Bruakkk! Melompatlah Qwed yang ditunggangi Xano dari atap gedung ke aspal sehingga aspal tersebut retak akibat tidak kuat menahan beban seberat Qwed.
“Lawan aku…”, kata Xano.
Wush… Crak-crak-crak! Puluhan linggi angin terbang kearah aspal. “Aku tidak akan membiarkan kalian membawa Ray ke Hrewa Kufe”. Loka Fugk turun dengan bantuan linggi anginnya.
“Loka? Apa maksudmu Diagta? mengapa kamu membawa orang-orang ini kemari?”, tanya Juyu.
“Hmmpppp… Mungkin selama ini aku sadar bahwa aku istimewa dimata Sukaw dan aku tahu untuk apa aku berada di Hrewa Kufe. Tujuanku dan Sukaw sebenarnya sudah jauh berbeda namun aku tidak bisa mentoleransi lagi. Mungkin inilah saatnya aku memihak pada sisi yang aku anggap benar”.
“Apa?! Berarti kamu…”.
“Benar Juyu. Aku pergi dari Hrewa Kufe dan melakukan hal yang benar”.
“Brengsek! Kalian dengar para Yuari? Dia adalah pengkhianat dan kalian berhak memenggal kepalanya disini sekarang juga! Penggal mereka!!!”. Amarah Juyu tak tertahan lagi sehingga dia memerintahkan pasukan yuarinya untuk menyerang Diagta dan semua orang yang menghalangi rencananya. Pertempuran sengit antara Yuari Fugk dan Yuari Vocare tak terelakkan. Kota La Paz seketika menjadi ladang pertempuran sengit dari dimensi lain sehingga kota itu menjadi porak poranda. Semua yuari bertarung sekuat tenaga untuk mempertahankan tujuannya. Para hewan-hewan khas Naolla seperti  Dretaju, cehug, bican dan kaguka juga ikut berperang bahkan sebuah pasukan yuari Fugk membawa Henje Terezse yang pandai melompat.
Tentu saja kekacauan yang memecah konsentrasi beberapa yuari yang menjaga Ray dan Fiko dimanfaatkan oleh salah seorang yuari Fugk bernama Siot untuk melepaskan ikatan mereka berdua.
“Terimakasih tuan…”. Fiko memegang tangan Ray dan membawa Ray pergi.
“Kemana Fiko?”, tanya Ray.
“Kamu akan aku bawa ke pintu hajunba secepatnya untuk menyembunyikanmu sementara waktu. Aku tidak mau kalau kamu sampai jatuh ketangan Sukaw, Ray”.
Dibelakang mereka tampak beberapa yuari vocare yang mengendarai kaguka sedang mengejar. Set! Tiba-tiba datang seorang yuari Fugk mengendarai dretaju menghadang yuari vocare berkaguka tersebut.
“Tuan lari lah, biar aku yang hadapi mereka”, katanya.
“Ayo Ray…”.
Mereka terus berlari melewati gang-gang menuju pintu hajunba yang masih terbuka diatas bukit. Malam yang mulai gelap sedikit mempersulit jarak pandang keduanya saat berlari. Penerangan lampu jalanan, hanya itu yang mereka andalkan. Tetapi puluhan Yuari Vocare masih mengejar mereka dan sesekali melemparkan linggi kearah Fiko dan Ray.
Duar! Sebuah rumah roboh dan menghalangi jalan mereka. Dari arah samping muncul Ouiuo, hewan yang hanya memilik kepala berbentuk jambu biji bergigi tiga, berkaki lima dan berwarna putih. Tubuhnya sangat besar, sebesar rumah. Diatas kepalanya berdiri tegak orang yang paling jahat di Naolla, Raja Sukaw.
“Sukaw?”. Fiko kaget setelah melihat orang itu.
“Ada apa Fiko? Kaget? Tak usah memasang tampang seperti itu karena aku tidak akan kasihan lagi denganmu yang tak lebih dari seekor semut dimataku. Kamu tidak ada apa-apanya. Serahkan anak itu sekarang!”, pinta Sukaw.
Fiko dan Ray terdiam sejenak. Apa yang ada didepan mereka tentu tidak bisa dianggap remeh mengingat nyawa Ray dan nasib Naolla ada disini. Jika mereka sampai salah perhitungan tentu saja Sukaw akan dengan mudah merebut Ray dari tangan Fiko. Dibelakang mereka telah berdiri para Yuari Vocare yang siap menerkam mereka berdua.
Angin malam berhembus dengan kencang. Menerbangkan debu-debu hingga jauh. Tatapan mata Ray masih terlihat memikirkan sesuatu. Tentu saja Ray harus memilih apakah dia harus selamat atau menyerahkan diri kepada Sukaw.
Ouiuo yang ditunggangi Sukaw mulai mendekati Ray dan Fiko. Makhluk raksasa itu terlihat berat sekali dan mereka berdua masih belum tahu kekuatan dari makhluk itu.
“Hiat!!!!”, Fiko tiba-tiba mengeluarkan linggi apinya dan melemparnya kearah Ouiuo.
Sruuuttttt… Linggi api tersebut seolah-olah menembus kulit Ouiuo dengan mudah dan tidak meninggalkan bekas. Fiko tercengang kaget.
“Bagaimana bisa? Inikah kekuatannya?”. Fiko meraih tangan Ray.
Sukaw tertawa, “Hahahahaha…”. Dengan santainya dia bicara, “Inilah hebatnya Ouiuo. Kamu harus takut akan hal ini Fiko! Makan Dia!”.
Set! Druagggg! Trak-tak-tak… Ouiuo melompat kearah Fiko dan menyerang dengan giginya yang besar. Untung saja Fiko sigap dan segera memeluk erat Ray kemudian menghindar dari serangan hewan itu.
Srakkkk…. Fiko terjatuh dan mennghantam tembok. Dia segera bangkit kemudian mengajak Ray untuk berlari.
“Percuma kita berlari Fiko, mereka akan tetap mengejar kita”.
“Kalau kita tidak lari, tentu kita akan menjadi makanan empuk bagi para yuari dan hewan itu. Kita harus mencari pintu hajunba itu secepatnya”.
Mereka terus berlari dan sesekali mencoba menghalangi Ouiuo dengan kobaran api yang sengaja Fiko buat.
“Tunggu Fiko! Aku lelah… “, kata Ray. Dia terlihat sangat lelah sekali.
“Ayo Ray… Kita tidak punya banyak waktu lagi. La Paz sudah dikepung oleh pasukan yuari vocare. Sini aku gendong”.
“Tidak perlu Fiko. Aku sudah menerima takdirku”.
Deg! Fiko tersentak dan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. “Apa-apaan kamu ini Ray. Tidak! Aku tidak mau kamu berakhir ditangan Sukaw”. Fiko menundukan punggungnya supaya Ray bisa naik.
Namun Ray malah menjauh dan berlari kearah yang berlawanan. Fiko mengejar Ray dan meraih pundak kekasihnya tersebut.
“Inikah, Ray? Inikah orang yang selama ini sudah bersamaku di bumi? Jangan buat ini mudah bagi Sukaw Ray. Aku tahu kita tidak bisa menolak takdir tetapi apakah kamu mau takdir mengatur hidupmu semudah ini? Jawab ray!”.
Ray terdiam.
“Aku tahu ini sangat sulit untukmu. Semua hanya perlu waktu dan aku mohon ulurlah waktu itu setidaknya sampai aku bisa menemukan jalan yang bisa membawa kita menjauh dari Sukaw. Aku percaya padamu Ray dan aku mohon kamu percaya padaku. Aku akan berusaha mengulur waktu sampai kita berdua benar-benar kehabisan tenaga. Jangan perbolehkan takdir mengatur hidupmu dengan mudah Ray”. Fiko berusaha meyakinkan Ray.
Ray berfikir sejenak dan akhirnya dia mau naik keatas punggung Ray.
Drrruuuuaaagggghhhh!!! Sebuah tembok kembali roboh dan dibaliknya tampak Ouiuo sedang menuju kearah Fiko dan Ray.
“Mau lari kemana kalian?!”. Sukaw melempar linggi anginnya kearah Fiko.
Fiko terus berusaha berlari dan menghindari serangan-serangan dari Sukaw sebisanya. Deretan linggi kian beterbangan kearah Fiko dan Ray. Meskipun Fiko udah berusaha membelokkan beberapa linggi dengan menggunakan lingginya.
“Host..host..host… Ray. Kamu bersembunyi dibalik bangunan itu untuk sementara waktu. Jika situasi semakin gawat, kamu sebaiknya segera berlari menuju pintu hajunba dan biar aku yang menghalangi Sukaw disini”, pinta Fiko.
Ray turun dari punggung Fiko. “Tapi…”.
“Cepat Ray!”.
Dengan ragu Ray mulai berlari menunduk sampai dia merasa aman berada dibalik sebuah tembok rumah.
Detak jantung Fiko semakin berdegup kencang sekencang langkah kakinya berlari sambil memegang dua buah linggi api dikedua tangannya mencoba menebas kaki Ouiuo. Meski dia tahu bahwa makhluk itu tidak bisa dilukai dengan linggi.
“Hiatttt!!!”.
Blap! Kembali linggi Fiko terserap begitu saja.
Krakkk!!!! Duar! Ouiuo menyerang Fiko dengan membabi buta sehingga meluluh lantakkan bangunan disekitar mereka. Ray menjauh dari tempat itu untuk mencari lokasi yang aman.
“Hahahahaha.. Kamu tidak bisa lari kemana-mana lagi Fiko. Sebaiknya kamu mati saja disini”.
Fiko terdesak dan tubuhnya berhasil terinjak Ouiuo. Fiko masih berusaha melepaskan diri namun tetap tidak bisa.
“Arggghhhh! Aku ti-dak, akan membi-arkan mhu… Mengambil Ray. Ingat itu!!”.
Sukaw turun dari atas Ouiuo dan menghampiri Fiko.
“Inilah saatnya untuk mengakui bahwa kamu memang tidak pantas berada di Hrewa Kufe, Fiko. Lihatlah betapa menyedihkannya dirimu. Dari dulu aku memang tidak pernah mau diperintah oleh Raja Vocare. Aku yakin jika aku mau maka aku akan bisa melampaui mereka. Raja dimataku hanyalah pesolek bermahkota emas. Jangan memandangku dengan kebencian seperti itu Fiko. Aku beri kesempatan terakhir dimenit-menit terakhir, kamu mau membawa Ray kehadapanku atau nyawamu yang aku bawakan kehadapan Ray?”. Sukaw terdengar mengancam.
“Memangnya kamu bisa apa tanpa Hrewa Kufe? Hah?! Kamu bukanlah apa-apa dan bukanlah siapa-siapa Sukaw! Kamu bisa saja sekarang menyombongkan diri tetapi aku yakin bukan ini yang akan membuat anda besar di Naolla”.
Set! Sukaw mengeluarkan sebuah linggi dari tangan kanannya.
Fiko menatap linggi itu dengan sedikit takut. Sekejap kemudian linggi itu telah bergerak dan….
Crakkk!!!
“Ray??”. Fiko kaget.
Linggi yang hampir menusuk dada Fiko berhasil diserap Ray kedalam tangannya yang melindungi dada Fiko. Sukaw tercengang dengan kemampuan Ray.
“Azzo ini…”.
Tanpa banyak membuang waktu lagi Ray langsung mengarahkan tangannya kearah kaki Ouiuo yang menginjak Fiko. Dengan kemampuannya, Ray dan Ouiuo beradu daya serap. Terjadilah sesuatu yang sangat luar biasa. Ray dan makhluk itu seolah-olah saling berusaha menyerap tubuh lawan masing-masing. Tubuh Ray yang kecil semakin terisap kedalam tubuh Ouiuo.
“Ray!!!”. Fiko menarik tangan Ray sekuat tenaga karena kini hanya tangan kanan Ray yang belum terisap kedalam tubuh Ouiuo. Fiko masih terus berusaha dan semakin kuat menarik tangan Ray. “Ray!!! Bertahan Ray!”.
Sukaw tampak bingung melihat kejadian ini. Dia bingung antara harus membiarkan atau membantu. Jika tubuh Ray terisap kedalam Ouiuo maka Ray akan hilang dan jika harus menolong dia tidak tahu bagaimana cara menghentikan kekuatan Ouiuo.
“Ray….”.
Terlepaslah genggaman Fiko dari tangan Ray. Ujung jari Ray hampir terserap dan Fiko tak bisa menahannya. Ketika Fiko sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, sebuah keajaiban datang. Secara mengejutkan tubuh Ray kembali keluar dan berbalik menyerap tubuh Ouiuo.
“Akkkkkkkkkkk… akkkkkkk… akkkkkkk…”, erang Ouiuo.
Tubuh makhluk besar itu dengan cepat diserap Ray hingga masuk seutuhnya ketubuh Ray. “Hiatttttttt…. Bukan salahku jika ini adalah takdirmu!”. Kulit Ray mengelupas akibat menyerap kekuatan Ouiuo yang besar. Tubuh Ray bisa menyerap Ouiuo karena ternyata Ouiuo itu adalah sebuah azzo dewa sama seperti dirinya. Meskipun sama-sama azzo dewa namun Ouiuo adalah azzo dewa yang tidak kosong karena dia adalah jenis azzo dewa tipe roh sehingga Ray masih lebih kuat menyerap azzo karena dia adalah azzo kosong.
Sesaat kemudian tubuh Ray yang sudah menyerap Ouiuo dengan sempurna ambruk ketanah dengan seluruh kulit tubuh yang mengelupas. Ray tampak tidak sadarkan diri. Dengan cepat Sukaw menuju tubuh Ray namun dengan sigap Fiko melemparkan lingginya agar Sukaw tidak semakin mendekat.
“Dasar anak lemah!”. Sukaw membuat ratusan linggi dan melemparkannya kearah Fiko.
Trak! Trak! Trak! Namun ratusan linggi melindungi tubuh Fiko dari serangan Sukaw. Siapakah orang yang telah melakukan itu? Sukaw menengok kearah atap bangunan dan tampaklah sesosok tubuh yang dia yakini sebagai Loka Fugk.
“Kurang ajar! Berani sekali kamu menunjukan kerutan dahi seperti itu didepanku tuan Dega Yoka!”. Sukaw tampak sangat marah.
Tuan Loka turun dan langsung membuat linggi ditangannya. “Anda mungkin berkuasa atas Naolla saat ini, tetapi ini bumi. Semua orang sama disini. Anda harus ingat itu”.
Set! Dengan langkah cepat, Sukaw menuju Loka sambil menghantamkan lingginya. “Berani juga kamu mengucapkan kata seperti itu didepanku”.
Trang! Loka menahan serangan linggi Sukaw dengan lingginya. Sebagai sesama pengguna linggi berazzo angin, mereka secara teori sudah mengetahui kelemahan dan kelebihan kekuatan masing-masing. Maka terjadilah pertarungan adu linggi angin yang membuat suasana semakin tambah mencekam. Ratusan linggi berserakan dan tertancap ditanah.
Sementara itu Fiko menggendong Ray dan membawanya ketempat yang aman, jauh dari lokasi pertarungan.
“Bertahan Ray…”, kata Fiko sambil menatap pilu kekasihnya itu.
Kota La Paz kini tak ubahnya ladang linggi dan arena pertarungan besar. Kepulan asap terlihat dimana-mana dan gedung-gedung rusak akibat kekacauan ini. Fiko masih tidak tahu harus menuju kemana lagi tetapi dia melihat seseorang menggunakan jubah putih berpenutup kepala dengan seekor arudretajunya mendekat dari arah depan. Kepulan asap yang tebal dan ditambah gelapnya malam menyamarkan wajah orang itu.
“Si-si-siapa anda?”, tanya Fiko siaga.
Orang itu tidak langsung menjawab namun dia membuka penutup kepalanya dan tersenyum pada Fiko.
“Tuan Xano? Anda kah ini?”.
“Ya, Ini saya tuan. Lama tidak jumpa”.
“Ini Qwed? Qwed yang dulu selalu bersama-sama tuan?”. Fiko menengadah untuk memastikan bahwa tebakannya benar.
“Qwed sudah berhasil menjadi arudretaju tuan. Ada banyak hal yang harus saya ceritakan kepada anda. Sebaiknya tuan dan Ray naik keatas punggung Qwed. Ayo!”.
Dengan segera mereka bertiga naik keatas punggung Qwed yang sudah dilengkapi rompi tempat duduk dan pergi meninggalkan lokasi tersebut menuju suatu tempat.
La Paz mencekam. Kepulan asap dan langit yang semakin gelap menambah kelamnya hari itu. Dengan sedikit berlari, Qwed menuju sebuah tempat yang terdapat pintu hajunba.
“Cepat Qwed!”, perintah Xano.
Dengan sigap, Qwed yang memiliki tubuh raksasa itu masuk kedalam hajunba khusus yang juga berukuran besar.
Blap! Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di ujung hajunba tersebut. Sebuah tempat yang sangat asing bagi mereka. Tempat itu tampak seperti gurun putih berkilau dengan danau-danau biru yang bertebaran. Di ujung pandangan mereka, tampak sebuah menara mirip bulu tangkis raksasa berwarna putih.
“Apa itu tuan? Dimana kita sekarang?”, tanya Fiko.
“Ini adalah tempat dimana Ray pertama kali turunkan”.
Fiko menatap wajah Xano seolah-olah tidak mengerti dengan ucapan dari mulut pria itu.
Dia menunjuk kearah menara. “Disana tuan akan mendapat jawaban yang sebenar-benarnya tentang kekacauan di Naolla beberapa waktu belakangan ini. Maka dari itu, saya mengajak tuan dan Ray kesini agar semuanya jelas dan menentukan bagaimana nasib Naolla selanjutnya. Ayo jalan Qwed! Waktu kita tidak banyak lagi sebelum Sukaw berhasil mengejar kita”.
“Grrrrr.. aurrgggghhhh!”. Dengan cepat Qwed langsung berlari diatas hamparan pasir, menuju menara tersebut.
Fiko masih tidak paham dengan ucapan tuan Xano dan dia berharap di menara itu semua kebingungannya akan terhapus. Dia menatap Ray yang telah terluka parah dan terbaring dalam dekapannya.
Semakin dekat langkah Qwed  menuju menara itu semakin besar dan megah menara itu terlihat. Sebuah menara dengan pilar-pilar condong yang kokoh tampak lengang dan tidak berpenghuni. Benar-benar megah menara berwarna putih itu.
Trrreeetttt… Pintu besar menara didorong oleh Qwed. Ruangan besar dan tampak kumuh akibat tidak terawat menyapa kehadiran mereka berempat.
“Ada apa didalam menara ini tuan? Kelihatannya tidak ditinggali”, tanya Fiko. Matanya menatap seluruh sudut ruangan yang terlihat kumuh dan berdebu.
“Kita menuju menara keenam. Disana ada dunia baru yang akan membuat kita menjadi orang yang baru. Hap!”. Xano turun dari punggung Qwed.
Fiko semakin bingung dan tidak mengerti dengan situasi ini. Setelah memastikan Ray sudah diposisi yang nyaman, dia kemudian juga ikut turun dari atas tubuh Qwed. “Tunggu tuan! Apa-apan ini? Dunia baru apa? Ada sebenarnya ini?”.
Xano berhenti sejenak dan memandangi Fiko untuk berusaha meyakinkannya melalui tatapan mata. Dia menarik nafas sejenak kemudian melanjutkan langkah kakinya.
Enam belas menara yang besar dengan plat trapesium berukir dikiri dan kanan tiap-tiap menara semakin memperindah bentuk menara ini. Menara itu benar-benar mirip sebuah shuttle cock raksasa namun mengapa menara itu dibuat seperti ini. Apakah ada fungsi tertentu?
Fiko, Xano dan Qwed ,yang masih membawa Ray dipunggungnya, terus menaiki anak-anak tangga untuk menuju puncak menara ke enam. Entah ada apa disana namun Fiko tetap berusaha tenang.
Ketika langkah kaki telah sampai memijak lantai ruangan teratas menara keenam, tampaklah sesosok tubuh tinggi berjubah coklat sedang membelakangi mereka dan menatap kearah gurun putih diluar sana. Melihat dari punggung dan perawakan orang tersebut, sepertinya Fiko mengenalinya. Namun dia masih tidak yakin dengan dugaanya itu.
“Permisi tuan. Ini Pangeran Fiko dan Ray sudah aku bawa kemari”, kata Xano.
Orang berjubah  itu membuka penutup kepalanya dan perlahan menoleh kearah Xano.
Sungguh Fiko tidak percaya dengan apa yang dilihatnya ini. Sosok pria tinggi didepannya sekarang adalah raja Edka Higudasa, ayahnya. “Ayah? Apakah itu kau?”.
Dia berbalik badan. “Iya Fiko, ini ayah”.
Fiko langsung menghampiri raja dan memeluknya. “Ayah masih hidup? Kemana saja ayah selama ini?”. Dia kemudian melepas pelukannya.
“Ayah sengaja pergi untuk sementara waktu dan membiarkanmu berkembang sesuai harapan ayah sebelum kamu siap menjadi raja yang sesungguhnya didunia baru yang akan ayah ciptakan”.
Fiko terlihat bingung dengan ucapan ayahnya.
“Lihatlah keluar sana. Hamparan pasir putih dan danau-danau birunya ini masih kosong dan perlu diisi. Sejak beberapa tahun silam ayah sudah merencanakan untuk memulai kehidupan putih dan tanpa ada hitam seperti ditempat ini. Kamu mau kan tinggal bersama ayah di menara ini?”.
Walau masih tidak mengerti, Fiko berusaha mengerti. Dia berbalik badan dan menurunkan Ray dari punggung Qwed. “Nanti saja kita membahas masalah dunia baru. Ray sekarat dan perlu pertolongan segera, ayah”.
Edka menghampiri Ray dan menatap ganjil pada Fiko. “Mengapa azzo ini masih kamu biarkan bebas, Fiko? Tujuan ayah menitipkan azzo ini pada Loka memang karena azzo ini nantinya akan menjadi milik kamu. Bukankah kamu mau menjadi raja yang kuat?”.
“Tolong ayah sembuhkan Ray. Aku mohon… Dia tetap menjadi azzo bebas dan biarlah begitu. Ray seperti ini juga karena menolongku”. Fiko mengiba pada tuan Edka.
“Baiklah. Aku akan berusaha memulihkan azzo ini”. Raja membungkuk dan dengan kekuatannya dia berusaha mengalirkan azzo ketubuh Ray yang melepuh. Secara ajaib fisik Ray berangsur-angsur membaik dan akhirnya pulih seperti sedia kala.
“Hmmm…”. Ray mulai sadar dan membuka mata.
“Ray? Syukurlah kamu tidak apa-apa. Aku sangat mengkhawatirkan kamu Ray”. Fiko memeluk tubuh Ray.
“Di-mana… ini…??”, tanya Ray dalam keadaan lemas.
“Ini di menara putih, tempat ayahku tinggal”.
Ray menatap raja Edka sambil tersenyum.
*** 
Setelah Ray beristirahat di menara ke lima, raja Edka dan Fiko kembali membahas mengenai dunia baru di menara keenam. Di dunia itu ternyata memang tidak ada bayangan dan malam hari sehingga dunia itu diberi nama oleh raja Edka dengan sebutan Anyarrai yang berarti, putih terang. Anyarrai dalah dimensi baru yang tercipta di antara langit. Di sini rencananya raja Edka akan membuat dunia baru yang benar-benar putih.
“Bagaimana ayah yang seorang raja bisa berfikir sekejam itu? Naolla tidak hanya diisi oleh mereka yang berhati jahat bukan? Aku tidak setuju jika ayah ingin menghancurkan Naolla. Tolong ayah pertimbangkan lagi rencana itu”. Tolak Fiko.
Raja Edka mengambil sesuatu dari balik kantong jubahnya. “Ini ada pisau azzo untuk kamu. Pisau ini adalah tuas untuk menjalankan sistem penghancur  di menara ini. Jika kamu mengalirkan azzo kepisau ini maka secara otomatis pisau ini akan meresponnya dan membuat menara ini aktif dan siap membidik Naolla”, terang raja Edka pada Fiko.
Fiko mengambil pisau yang masih bersarung tersebut. “Untuk apa ayah melakukan ini semua?”. Syat! Fiko melemparkan pisau itu keluar  jendela.
Dengan langkah anginnya, Edka menangkap pisau tersebut sebelum terlanjur terlempar keluar jendela. “Apa-apan kamu ini Fiko?! Kamu ini harus berani mengambil keputusan. Terkadang memang sulit antara memilih baik dan buruk namun apakah kamu mau mengorbankan yang baik untuk yang jahat?”.
“Ayah sungguh berbeda dari Raja Vocare yang aku kenal dahulu. Kalau rencana untuk memusnahkan orang-orang  Naolla, aku tidak setuju”.
“Lalu apakah kamu mau melihat Naolla yang sudah kacau seperti itu? Hah?! Ayah hanya akan membawa sedikit orang-orang terpilih yang ayah yakin mereka bisa bersikap baik di dunia baru ini. Ayah bahkan sudah menentukan siapa saja mereka sejak dahulu. Kamu mau setuju atau tidak, ini tidak akan merubah waktu penghancuran daratan Naolla dua hari lagi. Hari ini, orang-orang terpilih akan segera mendapat pintu hajunba khusus yang aku persiapkan untuk membawa mereka kemari. Bersiap-siaplah untuk menjadi tuan rumah yang baik, Fiko Vocare”. Tuan Edka beranjak dan menuju pintu.
“Tunggu ayah! Apakah ayah yakin hati mereka tidak akan berubah dan mengotori Anyarrai? Mereka bisa dipercaya seratus persen?.
Raja Edka terdiam dan tanpa mengindahkan perkataan Fiko, dia kembali melanjutkan langkah kakinya.
Fiko terdiam dan tatapannya terlihat menerawang memikirkan nasib Naolla. Dengan langkah lesu, Fiko menuju menara ke lima. Disana terbaring Ray yang masih beristirahat. Wajah manis Ray seolah-olah harapan untuk Fiko agar bisa memilih keputusan. Dia duduk di tepi ranjang Ray daan mengusap rambut Ray.
“Ray… Aku sedang menghadapi situasi tersulit didalam hidupku. Naolla akan segera dimusnahkan dan aku harus membiarkan atau menghentikannya. Aku tidak tahu harus berbuat apa Ray”. Fiko membelai mesra rambut Ray.
Ray yang terlelap tidur kemudian terbangun dan langsung membuka mata menatap Fiko. “Terang sekali ditempat ini”. Ray menyipitkan matanya.
“Oh, kamu silau ya sayang? Sebentar ya, aku tutup tirainya dulu”. Fiko beranjak dari duduknya dan menggeser tirai jendela dan kembali duduk disamping Ray. “Kamu sudah baikan?”.
“Iya… Ngomong-ngomong ini dimana?”.
“Ini di Anyarrai. Dimensi baru yang ditemukan raja Edka. Kita aman disini untuk beberapa saat. Aku minta maaf karena sudah membuatmu hampir celaka Ray”.
Ray membelai wajah Fiko. “Tidak perlu begitu Fiko. Aku merasa senang kamu bisa selamat. Aku sudah paham, kalau cepat atau lambat aku juga pasti akan menghilang dari Naolla. Aku hanya perlu seorang tuan untuk menjadi wadahku”.
Fiko mendekatkan wajahnya kewajah Ray dan menatap Ray lekat-lekat. “Ray, aku mau bersama-sama kamu selamanya. Aku akan berusaha ada didekatmu. Ini janjiku. Kamu bukanlah azzo dimataku karena kamu adalah orang yang bisa membuat aku seperti ini Ray. aku sayang kamu”. Fiko mencium pipi Ray.
“terimakasih Fiko. Tapi mengapa tatapan matamu kali ini sedikit berbeda. Sepertinya ada yang sedang dipikirkan”.
“Ayahku mau menghancurkan Naolla dua hari lagi dan itu harus terjadi. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku tidak bisa menghentikan semua ini sendiri. Inilah yang membuat aku bingung Ray”.
“Naolla akan dihancurkan? Bagaimana dengan kehidupan disana, Fiko? Apakah ini berarti akhir dari Naolla?”.
Tarikan nafas Fiko semakin berat. Dia kembali mencium pipi Ray lalu menganggukkan kepala tanda apa yang ditanyakan Ray memang benar adanya.
Dengan lesu, Ray terpaku kenatap wajah Fiko seakan tidak percaya dengan perkataan kekasihnya itu. Mungkinkah semuanya telah direncanakan raja Edka sejak dulu. Jika dia adalah bagian dari rencana ini, maka apa tujuan Raja Vocare X meminta Ray turun ke Naolla dan tidak dimiliki oleh siapapun.
“Aku mau bertemu Raja sekarang. Ada hal yang harus aku tanyakan”. Ucap Ray sambil menyibak selimutnya.
“Kamu jangan banyak bergerak dulu Ray. kesehatan kamu masih belum pulih seutuhnya. Jangan memaksakan diri sayang”. Fiko memegangi tangan Ray.
Walaupun Fiko menahannya, Ray berusaha melepaskan cengkraman tangan Fiko dan berdiri.
***
Disalah satu ruangan, dimenara putih itu, tampak tuan Edka sedang mengutak-atik sesuatu. Tampaknya itu semacam basoka.
Ray yang ditemani Fiko masuk menghampiri tuan Edka.
“Ada apa?”, tanya beliau ketus.
“Maaf saya menggangu sebentar. Ada hal yang saya ingin tanyakan pada tuan. Boleh?”, kata Ray.
Tuan Edka menoleh sebentar kearah Ray setelah itu kembai melanjutkan pekerjaanya.
“Ini tentang saya. Saya perlu kejelasan tuan. Mengapa saya ada? Untuk apa?”.
Fiko hanya terdiam dan berusaha tidak ikut campur dulu.
“Tuan meminta aku tetapi tuan sepertinya melupakan aku. Mungkinkah tuan memiliki rencana lain untuk saya?”.
Edka masih berkutat dengan pekerjaanya. Dia tampak mengacuhkan Ray.
“Jawab tuan!”, desak Ray.
Tuan Edka terlihat kesal dan berdiri. “Kamu mau tahu jawabannya? Hah!”. Dia menatap mata Ray. “Kamu memang aku ciptakan sebagai penyaring. Kamu adalah alat untuk menunjukan siapa saja orang yang pantas aku pilih untuk ke Anyarrai atau musnah  di Naolla. Dengan membiarkanmu bebas tanpa tuan, maka pasti banyak orang yang mengincarmu dan tentunya orang-orang itu adalah orang yang memiliki tujuan tertentu yang mungkin bisa menghancurkan Naolla. Aku sudah tahu siapa Sukaw dan orang-orang yang menginnginkanmu di Naolla. Sebenarnya kamu lebih baik musnah bersama orang Naolla, karena tugasmu sudah berakhir. Aku sudah memutuskan siapa saja orang yang berhak tinggal bersamaku di Anyarrai dan mereka yang tinggal menghadapi kehancuran di Naolla. puas?”.
Ray terdiam.
“Ayah! Aku baru tahu bahwa azzo dewa memiiki hati semenjak aku hidup bersama Ray. Dia bukan hanya sekedar azzo bagiku tetapi dia adalah hidupku. Dia berbeda ayah. Aku tidak menyangka ayah sekejam itu pada Ray. Aku tahu pasti bagaimana rasanya hidup dengan takdir yang terus membayangi namun apakah ayah mau membiarkan takdir dengan mudah mengatur kita?”. Fiko berusaha membela Ray.
“Maksud kamu apa?”.
“Ayah seorang Raja dan tentu tahu apa itu kata memimpin. Jika pada diri sendiri saja ayah tidak bisa memimpin, bagaimana dengan Naolla?”.
“Diam kamu!”, bentak tuan Edka.
“Tidak ayah! Ray sebenarnya juga ingin menjadi manusia Naolla sama seperti kita tetapi takdir mengekangnya sebagai azzo. Ketika ayah membiarkanya bebas, dia sangat menikmati hidup walau dia tahu itu hanya sementara. Dengan gampangnya ayah meminta azzo hanya sebagai alat dan ketika alat itu telah melakukan tugasnya ayah dengan mudah membuangnya? Tanpa Ray, rencana ayah tidak akan berhasil. Bisakah ayah memberinya sedikit penghargaan”.
“Penghargaan tertinggi manusia Naolla pada azzo adalah menjadikannya linggi. Ray tidak demikian. Berarti dia tidak pantas dihargai”.
“Ayah boleh menganggap Ray begitu, tetapi aku yang akan menghargai Ray dengan caraku sendiri, baik tanpa atau dengan ijin Ayah. Maaf aku tidak bisa menerima ajakan ayah untuk tinggal disini. Kami akan ke Naolla dan biarlah kami berdua musnah bersama disana. Ayo Ray!”. Fiko menarik tangan Ray dan meninggalkan tuan Edka.
“Pergilah pembangkang! Jangan panggil aku ayah jika kamu masih bersikap seperti itu”.
Mereka berdua terus melanjutkan langkah kakinya. Inilah kesiapan Fiko untuk Ray.
***
La Paz telah menjadi kota yang porak poranda. Sukaw berhasil kabur dan mundur ke Hrewa Kufe untuk sementara waktu. Tentu saja Sukaw tidak akan segampang itu untuk mundur dan menyerah. Mungkin ini adalah taktiknya agar bisa mencari cara lain yang lebih terencana lagi. Diikuti oleh Kamamuja dan Juyu, mereka berjalan tergesa-gesa menuju ruangan senjata.
Didalam ruangan senjata.
“Berapa banayak senjata yang bisa kita gunakan, Juyu?”, tanya Sukaw.
“Semua senjata masih berfungsi dengan baik tuan”.
Rak-rak yang menampung senjata berbagai jenis itu terlihat rapi dan terawat.
“Siapkan kekuatan dan para yuari yang masih tersisa. Kita akan menyerang Fugk habis-habisan. Kita akan memancing Fiko dan Ray kesana dan pada saat itulah rencana penangkapan terakhir kita jalankan. Segera lakukan tugas!”.
“Baik tuan!”, ucap Juyu.
“Kamamuja. Tolong kamu koordinasi semua yuari yang tertinggal di Hrewa Kufe. Aku tidak mau kalau Vocare diserang selagi kita melakukan penyerangan ke Fugk. Aku mempercayaimu”.
“Serahkan semuanya pada saya, tuan”. Kamamuja melakukan hormat yuari.
Tak berapa lama kemudian, suasana Hrewa Kufe menjadi semakin menegangkan. Warga Hrewa Kufe terlihat bingung dengan dikumpulkannya mereka untuk mendengarkan arahan dari Kamamuja. Sementara Juyu dan para yuari terpilih sudah bersiap untuk melakukan penyerangan ke Fugk. Penyerangan kali ini dipimpin langsung oleh raja Sukaw.
Persiapan penangkapan terkahir Raja Sukaw pun telah selesai dan mereka sudah bergerak menuju Fugk. Semua peralatan perang dan hewan-hewan perang mereka kerahkan untuk menyerang pulau Fugk. Sementara di Fugk, Diagta telah menyampaikan kabar bahwa Sukaw dan para Yuarinya sedang menuju Fugk untuk melakukan penyerangan.
 “Kita tidak punya pilihan. Aku akan mengumpulkan semua petinggi dan mengadakan rapat darurat di rumah pemerintahan. Tolong kamu bantu aku, Diagta. Tolong kamu datangi tuan Karveo dan minta dia menugaskan beberapa yuari untuk ikut denganmu dan segera evakuasi penduduk ketempat yang aman”, perintah Loka.
“Baik tuan. Beres…”. Diagta mengacungkan jempol dan tersenyum lalu pergi menjalankan tugasnya. Dari balik bahu kiri Diagta terlihat Jheibo duduk disana.
Situasi Fugk mulai mencekam dengan diungsikannya para warga kebalik sebuah bukit.
Dalam situasi biasa, perjalanan dari Vocare ke Fugk menggunakan kapal yaitu sekitar satu hari . Namun karena tuan Sukaw ingin mengatur strategi diperjalanan, maka perjalanan itupun ditempuh dalam waktu satu setengah hari.
Setelah beberapa waktu mengarungi lautan akhirnya Pasukan Vocare telah hampir sampai di perairan Fugk. Difu dan Aste tampak bermain di langit Naolla, mengawali perjalanan kapal Sukaw.
 Di atas seekor bican terlihat Juyu sedang memerintahkan ratusan Yuari yang mengendarai bican dibelakangnya agar bersiap-siap melakukan penyerangan pertama. “Kalian siap?! Sadio Iola!”.
Wush! Secepat angin para bican itu terbang menuju pulau Fugk yang sudah ada didepan mata. Diatas punggung mereka, para yuari sudah mempersiapkan linggi-linggi berbagai azzo untuk dilemparkan ke pasukan Fugk yang sudah berjaga di sepanjang bibir pantai.
“Hiattttt! Serang!!!”, perintah Juyu.
Para Yuari itupun melemparkan lingginya kearah Yuari Fugk. Dengan sigap para yuari Fugk membuat linggi besar untuk melindungi pulau mereka. Tidak hanya sampai disitu. Para yuari Fugk melancarkan linggi-linggi kecil yang diarahkan langsung kepada bican dan beberapa berhasil mengenai bican dan yuari-yuari diatasnya.
“Sial! Cre, lakukan tugasmu. Saatnya mundur dan bawa pasukan cehug untuk melakukan tugas bantuan. Aku tahu apa yang harus kita perbuat!”.
Para yuari Vocare mundur untuk sementara dan kembali kekapal induk mereka.
“Ada apa ini Juyu? Mengapa kalian banyak yang terluka seperti ini?”, tanya tuan Sukaw ketika melihat pasukannya kembali dalam keadaan terluka.
“Aku tahu sekarang tuan. Kita serang dari arah pantai dan pulau. Aku butuh pasukan cehug untuk menggantikan tugas kami”.
“Tunggu apalagi? Ayo semua, cepat hancurkan Fugk!”, perintah Sukaw.
Dikapal sebelah, ribuan cehug telah dilepas dan dilengkapi dengan baju baja. Mereka dipimpin oleh Creasa Fru. Sementara pasukan Juyu mulai terbang menanjak agar tidak terdeteksi pasukan Fugk.
Dipantai Fugk…
“Sudah aku duga mereka kembali dengan pasukan yang lebih besar”, ucap Karveo setelah melihat kerumunan cehug dikejauhan yang menyerupai kumpulan lebah sedang menuju pantai mereka. “Ubah strategi! Para yuari azzo air. Siap-siap dibarisan depan. Tahan mereka sebisa kalian! Ayo!”.
“Ayo!!!”, teriak mereka serempak sambil berbaris didepan pasukan yuari yang lain dan bersiap-siap membuat linggi.
Ketika para yuari cehug semakin dekat, para yuari Fugk sudah bersiap-siap dan kemudian membuat linggi dari azzo air lalu melemparkannya kearah para yuari cehug. Hujan linggi tersebut tidak dapat mereka hindari lagi namun berkat baju baja yang mereka kenakan akhirnya mereka bisa bertahan dan terus maju. Melihat itu, para yuari agak kaget dan meningkatkan frekuensi serangan mereka. Namun semua linggi tampak tidak mengenai tubuh para yuari cehug. Sesaat kemudian, para cehug berbaris menjadi satu garis lurus horizontal kemudian para yuari diatasnya mengeluarkan linggi roh,angin dan air untuk membalas serangan para yauri Fugk. Pertarungan antar linggipun tak terelakan.
Sementara kapal Sukaw telah mendekati pantai dan mulai bersiap-siap menembakkan meriam. Ada sepuluh kapal raksasa berbaris menuju pantai Fugk. Kapal-kapal kayu itu terlihat gagah dan tak tertandingi oleh armada laut manapun di Naolla.
“Kita perlu bantuan! Tahan sebentar… Ayo!”, kata Karveo menyemangati para yuarinya.
Mereka terus mengeluarkan linggi dan masih tidak tahu harus berbuat apalagi. Jujur Fugk kalah jika dilihat dari segi hewan petarung namun bukan berarti mereka tidak mempunyai hewan-hewan petarung. Diagta bersama ratusan yuari usketo telah datang dan mulai menyerang yuari cehug. Pasukan Karveo mundur untuk sementara waktu dan menunggu apa yang akan terjadi berikutnya.
Kemampuan usketo untuk membuat angin kencang dengan kepakan sayapnya yang cepat memang sangat membantu para yuari Fugk untuk mengalihkan atau mematahkan serangan linggi yuari Vocare. Terbukti setelah yuari usketo datang dan usketo mulai mengepakkan sayap, tidak ada satupun linggi yang dapat menyentuh para yuari Fugk. Namun para yuari cehug tidak menyerah begitu saja. Mereka segera mengalihkan strategi dengan tipe pertarungan jarak dekat. Para cehug diperintahkan untuk mengikat usketo dengan lidah panjangnya dan berhasil menghentikan pergerakan semua usketo petarung disana. Setelah itu pertarunganpun dilanjutkan dengan saling serang di atas pantai menggunakan linggi.
Trang! Trak! Syat! Bruak! Dug! Syat! Trak! Trak! Wush! Bruak! Begitulah bunyi pertarungan antar yuari ditepi pantai.
Duarrrr!!!! Tiba-tiba sebuah tembakan meriam diluncurkan dari atas kapal kearah Fugk dan menghantam bangunan dipulau tersebut. Duar! Duar! Duar!!!! Bangunan di Fugk porak-poranda dan para yuari tidak bisa menghentikan arah peluru tersebut.
Duar! Kreeekkkk…… Treeettt… Entah apa yang terjadi, sehingga sebuah peluru meriam tiba-tiba menghantam sisi kanan kapal yang ditumpangi Sukaw.
“Ada apa ini? Hah?! Mengapa kalian menembakku? Bodoh!”. Sukaw memarahi yuari penembak meriam dikapal sebelahnya.
“Tidak tuan! Kami tidak menembak kearah tuan”.
“Lalu siapa?!”.
Syuuutttt… Duar! Sebuah peluru meriam muncul secara tiba-tiba dari atas dan menghantam deck kapal Sukaw.
Ternyata dibagian belakang yuari Fugk telah bersiaga pasukan khusus yang memiliki pintu hajunba dan dipimpin oleh Siot.
“Hahaha… Bagaimana hebatkan ideku?”, kata Siot sambil mengendarai  dretaju. Ketika peluru itu hampir menyentuh bidikannya, para yuari yang mengendarai dretaju segera menyuruh tunggangannya untuk mengarahkan mereka ke peluru tersebut dan membuka hajunba yang sudah di atur mengarah ke kapal-kapal Sukaw didepan sana. Cara ini tampaknya efektif untuk melakukan serangan balik.
“Berhenti! Jangan tembak mereka dengan meriam lagi. Mereka punya hajunba untuk mengembalikan serangan kita”, perintah Sukaw pada anak buahnya.
“Baik tuan”.
Para yuari menghentikan tembakan mereka dan ketika itu terjadi mulailah strategi balasan dari Fugk. Dengan memanfaatkan teknologi hajunba Fugk yang sangat canggih, mereka mengirim linggi-linggi kearah kapal musuh. Sukaw dan para anak buah kapalnya terlihat kerepotan menghalau linggi-linggi yang terus berdatangan. Namun bukan Sukaw namanya jika tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan mengerahkan kekuatan azzo anginnya dia membuat linggi-linggi dan mematahkan serangan linggi musuh.
Sementara di atas rumah pemerintahan, Juyu dan pasukannya menyerang dan tengah berhadapan dengan yuari yang sudah bersiaga disana. Pertempuran itu menghancurkan banyak tempat dan membunuh nyawa-nyawa yuari dari kedua belah pihak.
Deru ombak disalah satu sudut pantai terdengar sendu. Hentakan kaki dari dua orang pemuda memecah kesunyian disana. Fiko dan Ray telah berhasil menuju Fugk.
“Kita segera menemui loka dan meminta bantuannya agar mau meminjamkan hajunba sebanyak mungkin untuk membawa bangsa Naolla mengungsi kebumi sementara waktu”.
“Tapi Ray, bagaimana dengan rencana menghentikan tembakan pemusnah?”.
“Kita ungsikan dulu penduduk sebanyak mungkin kebumi. Setelah selesai, baru kita pikirkan rencana untuk menghentikannya”.
Tetapi langkah kaki Ray terhenti ketika melihat kepulan asap tebal di kejauhan.
“Tampaknya ada pertempuran disana. Ayo Fiko kita bergegas”.
Mereka kemudian berlari menuju kepulan asap tersebut. Benar saja, ketika langkah kaki membawa mereka kekawasan pemerintahan dan kota tampaklah bangunan-bangunan yang rusak dan ribuan yuari bertarung dengan lingginya.
“Ini tidak bisa dibiarkan Fiko. Lakukan sesuatu!”, pinta Ray.
Fiko mengeluarkan linggi terbesarnya dan melemparkannya kearah para yuari. Syat! “Woy! Hentikan!”.
Para yuari menoleh kearah Fiko dan menghentikan pertarungan mereka. Dari arah langit, Sukaw yang mengendarai cehug mendekati Ray dan melilitnya dengan lidah binatang tersebut. Sungguh kejadian itu sangat cepat dan tidak bisa dicegah mengingat Sukaw mempunyai azzo angin.
“Hahahaha… Akhirnya kamu muncul juga. Jangan macam-macam denganku atau semua akan sia-sia”, ancam Sukaw sambil berdiam diri diudara.
“Ray!”. Fiko mengeluarkan lingginya namun karena mendengar perkataan Sukaw akhirnya dia mengurungkan niat untuk melempar linggi.
Loka yang tengah terluka mendekati Sukaw dan berkata, “Lepaskan azzo itu atau kamu akan aku bunuh, Sukaw!”.
“Omong besar! Kamu yang sudah sekarat itu masih bisa mengancamku? Cuh! Akulah pemenangnya…”, Sukaw membentangkan kedua tangannya karena merasa sudah menang.
“Hahahaha… hahahahaha…”, Ray tertawa.
Semua orang tampak aneh melihat Ray tertawa disaat situasi seperti ini.
“Mengapa kamu tertawa? Kamu senang jika menjadi azzoku?”, tanya Sukaw.
“Bersenang-senanglah selagi Naolla belum dihancurkan”.
Perkataan ray membuat Sukaw bingung.
“Dengar aku! Naolla beberapa jam lagi akan hancur. Raja Edka Higudasa yang selama ini menghilang telah membuat rencana penghancuran Naolla dari Anyarrai, sebuah dimensi baru yang tidak akan ada kegelapan”.
“Pembual! Raja Edka sudah mati! Azzo sialan!”.
Ketika Sukaw ingin mencengkram leher Ray, Fiko mencegahnya. “Tunggu! Semua yang dikatakan Ray memang benar. Terserah kalian mau mati sia-sia disini atau ingin mengungsi kebumi untuk sementara waktu. Jika kalian mendengarkan aku, maka segera kalian kumpulkan hajunba kalian dan buat jalan menuju bumi. Waktu kita, bangsa Naolla, tidak banyak lagi”.
Semua terdiam.
“Loka kau mempercayaiku, bukan? Segera selamatkan semua bangsa Naolla. Biar aku dan Ray yang akan mencoba menghentikan penghancur itu… jika kami bisa”.
“Mana buktinya? Jangan bicara yang aneh-aneh bodoh!”. Sukaw membawa Ray terbang meninggi.
“Kau ingin buktinya? Ini buktinya!!!!!!”, Ray mengeluarkan kekuatannya. Dia mengisap semua linggi yang betebaran di penjuru Fugk dan membuat Sukaw ketakutan melihat ribuan linggi menuju kearahnya.
“Hentikan! Stop! Hentikan ini Ray! Hentikannnn….!!!”.
Ketika semua linggi itu sudah hampir menuju tubuh Ray, dia menghentikan daya serapnya sehingga linggi-linggi itu jatuh kebawah.
Syat! Dengan sigap Fiko memanfaatkan situasi lengah Sukaw untuk memotong lidah cehug dan merebut Ray. setelah Ray terlepas dan berdiri ditanah. Dia segera menuju Loka dan merundingkan masalah ini.
“Arghhh! Sial!”,kata Sukaw.
“Terserah kalian saja sekarang. Kalau kalian mau musnah disini silahkan. Aku dan Ray saja yang akan mengungsi ke bumi”.
Loka dan Sukaw terdiam mendengar ucapan Fiko.
“Baiklah. Aku akan segera mengungsikan semua warga Vocare kebumi. Ayo semuanya mundur dan pergi ke kapal!”, perintah Sukaw.
“Tunggu Sukaw! Kalian mau apa kembali kekapal? Tidak ada waktu lagi untuk berlayar. Cepat kalian ke lembaga penelitian pulau kami. Disana ada cadangan hajunba. Ayo cepat!”, pinta Loka.
Seperti kerbau dicolok hidungnya, Sukaw menurut dan segera menginstruksikan anak buahnya menuju lokasi yang disebut Loka.
“Ayo semuanya!”, kata Sukaw.
Berbondong-bondonglah mereka semua mengungsi. Entah cukup atau tidak waktu yang tersisa untuk menyelamatkan bangsa Naolla tetapi di Anyarrai, sistem penghancuran telah diaktifkan dan hanya menunggu pengisian penuh untuk segera melakukan penghancuran.
“Ayo mah cepat…”, ajak seorang anak kecil di kota bersalju, wilayah Juop.
Semua orang tengah berbarismenuju beberapa pintu hajunba untuk kebumi. Derasnya salju yang menimpa wilayah Juop tidak dapat mendinginkan kegelisahan mereka. Penyelamatan bangsa Naolla dilakukan oleh Fugk melalui hajunba-hajunba yang saling terhubung kebumi.
“Tinggal sedikit lagi. Semua sampel tumbuhan dan binatang Naolla sudah diambil?”, tanya salah seorang yuari.
“Sudah tuan. Hanya menunggu beberapa spesies lagi”.
Hewan-hewan aneh khas Naolla juga dimasukan kedalam hajunba dan nantinya akan dikurung untuk sementara waktu dibumi.
***
“Pengisian azzo selesai tuan. Saatnya kita tembakkan”, kata Xano.
“Tunggu dulu Xano. Apakah orang-orang pilihanku sudah aman?”, tanya tuan Edka.
“Itu mereka disana tuan…”, tunjuk Xano pada puluhan orang yang tengah berdiri di atas bukit. Mereka adalah orang-orang terpilih yang menurut Edka pantas menemaninya disini.
“Tembaklah…”, pinta tuan Edka agak lesu.
Xano mengalirkan azzo kepisau ditangannya dan dengan sekejap angin kencang keluar dari menara yang semakin bercahaya.
DUUUUAAAARRRRR!!!!!
Tembakan telah dilepaskan dan langsung membidik Naolla.
Ray dan Fiko yang tertinggal di Naolla mempunyai rencana. Ray akan mencoba menyerap semua tembakan azzo itu walau dia tahu bahwa ini akan beresiko pada nyawanya. Fiko menangis menatap mata Ray dan dengan berat hati dia mencium kening Ray.
“Ray… Aku cinta kamu. Tolong jangan lakukan ini dan pergilah bersamaku kebumi. Aku mohon. Kita akan memulai hidup kita yang baru disana, di Toshirojima”, ajak Fiko.
Ray tersenyum sedih. “Semua tidak akan menyelesaikan masalah ini Fiko. Mungkin inilah takdirku dan jika Naolla hancur maka tidak adalagi tempat untuk jutaan warga Naolla yang mengungsi dibumi sana. Kemana mereka akan pergi? Aku cinta kamu Fiko. Terimakasih sudah menjadi bagian dari hidupku”. Ray mencium pipi Fiko.
Dari arah timur, tampak sebuah cahaya putih menuju ketempat Ray dan semakin dekat. Ray bersiap-siap mengerahkan semua kekuatannya untuk menyerap sinar itu.
Dan…
ZRRRUUUTTTTTTT…ZZRTTTTT…ZZRTTTTTTTT…ZZZZZRRRRTTTTT…SSRRRAAAKKKK….GUOOORRRRRRR…. KRRRAAAKK…..
“Arggggggghhhhhhhhhh!”. Ray berteriak kesakitan menerima sinar yang sangat menyilaukan mata tersebut.
Fiko berlindung dibalik sebuah batu.
Tubuh Ray mengelupas, kulitnya meleleh dan tulangnya hancur menjadi debu… Namun cahaya itu masih ada dan terus menyerang Ray hingga tak bersisa. Ray telah musnah dan cahaya itu tetap tak tertahankan menyerang lautan Naolla dibarat.
DUARRRR!!! BLUUURRR….
Cahaya itu ternyata berhasil diserap Ray sebagian dan dibelokan kearah lautan. Daya hancur cahaya itu mengecil cukup signifikan dan hanya membuat gelombang besar. Jika bukan karena Ray mungkin Naolla akan hancur menjadi debu dan tidak akan ada Naolla lagi.
Fiko yang terbawa gelombang akhirnya berhasil mencapai sebuah daratan. Dengan tertatih-tatih dia berdiri dan memandang Naolla. Walaupun Naolla sudah terguncang namun, Naolla masih ada dan segera Fiko mengambil hajunba yang telah dipersiapkannya menuju bumi.
***
Beberapa hari merasakan terombang-ombing dilaut Naolla membuat Fiko tidak ingin kembali ke Naolla lagi. Bangsa Naolla pun kembali ke Naolla melalui pintu hajunba dan mulai membenahi Naolla. Sukaw dipenjarakan oleh persatuan pemimpin Naolla dengan alasan tidak pantasnya seorang pemimpin berbuat seperti itu. Para Bangsa Naolla mulai berbenah dan memperbaiki wilayah mereka yang masih terlihat menyedihkan akibat daya hancur cahaya dari Anyarrai.
“Angkat! Hiatttt! Hiattt”. Puluhan lelaki mendirikan sebuah tiang penyangga besar untuk membuat rumah di Fugk.
Hrewa Kufe hancur dibeberapa bagian namun dengan segera para warganya memperbaiki bangunan megah itu. Anyarrai yang putih ternyata memiliki sisi gelap dibawahnya sehingga tuan Edka merasa tidak perlu lagi memilih-milih orang untuk berada disana. Siapapun yang ingin membuat Anyarrai menjadi tentram dan damai maka dia boleh ada ditempat itu.
Nama Hucky Nagaray sekarang menjadi pahlawan di seluruh dataran Naolla. Semua orang kini berbalik mencintainya. Patung Ray yang sedang meraut linggi terpahat megah di pulau Fugk sebagai penghormatan padanya.
***
Deburan ombak menemani aktifitas Fiko mengangkat jaring diperahu tuan Arashi. Teriknya matahari kian menguras keringatnya dipagi itu. Tubuh Fiko yang setengah telanjang semakin terlihat basah kuyup. Banyak ikan terjaring dan tuan Arashi sangat senang melihatnya.
Setelah matahari sudah berada cukup terik, mereka pulang. Sorenya, Fiko yang sekarang pindah ke daerah Ibaraki mulai melepas lelah dan merebahkan diri. Tiba-tiba terdengar suara orang berjalan dari arah dapur. Semakin dekat,dekat dan dekat lalu menghampiri Fiko.
“Capek ya? Ini ada teh silahkan diminum”.
Fiko terdiam sejenak. Dia seperti mengenal suara itu… Kemudian dia bangun dan menoleh kebearah suara tersebut.
Fiko tampak syok dan juga senang. Tanpa banyak bicara lagi dia berdiri dan memeluk orang itu. “Ray? Kau kah ini?”.
Pemuda tampan yang dipeluk Fiko segera mendorong tubuh berotot Fiko dan berkata,“Lapaskan!”.


(#######_______#######)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar