Hunk Menu

Overview of the Naolla

Naolla is a novel which tells about life of Hucky Nagaray, Fiko Vocare and Zo Agif Ree. They are the ones who run away from Naolla to the Earth. But only one, their goal is to save Naolla from the destruction.

Book 1: Naolla, The Confidant Of God
Book 2: Naolla, The Angel Falls

Please read an exciting romance novel , suspenseful and full of struggle.
Happy reading...

Look

Untuk beberapa pembaca yang masih bingung dengan pengelompokan posting di blog ini, maka saya akan memberikan penjelasannya.
(1)Inserer untuk posting bertemakan polisi dan dikutip dari blog lain;(2)Intermezzo adalah posting yang dibuat oleh pemilik blog;(3)Insert untuk cerita bertema bebas yang dikutip dari blog lain;(4)Set digunakan untuk mengelompokan posting yang sudah diedit dan dikutip dari blog lain;(5)Posting tanpa pengelompokan adalah posting tentang novel Naolla

Minggu, 21 April 2013

Naolla, The Angel Falls: Old But Young



Dua orang wanita berkaki jenjang dan berbadan ramping terlihat berjalan menuju sebuah ruangan di rumah pemerintahan Fugk. Mereka mengenakan kacamata hitam, rambut terurai panjang, mengenakan baju dan celana ketat panjang berwarna merah marun dan sepatu boot hitam hak tinggi. Kulit mereka terlihat putih dan cantik. Salah seorang wanita tampak sedang mengigit batang rumput dan menjinjing koper hitam.
“Benar ini ruangannya?”, wanita yang menggigit batang rumput itu mengangkat kaca mata hitamnya sebatas alis agar memperjelas pandangannya.
“Benar. Ayo masuk saja. Cepat…”, desak wanita cantik satunya.
“Hehehe… Takut ya...???”, goda wanita pembawa koper itu. “Let’s go!”.
Tok-tok-tok! Wanita cantik pembawa koper mengetuk pintu ruang kerja loka Fugk. Tok-tok-tok! Sekali lagi dia mengetuk pintu ruangan Loka.
“Ya… Silahkan masuk saja…”. Terdengar perintah masuk dari dalam ruangan Loka. Tampaknya itu adalah suara dari Loka Dega Yoka.
Wanita pembawa koper membuka pintu. Lalu mereka berdua pun masuk dan langsung berjalan kedepan meja Loka.
Loka agak kaget didatangi oleh dua orang gadis cantik yang berpenampilan menarik, siang itu. Dia memperhatikan perawakan kedua gadis yang menghampiri mejanya tersebut untuk beberapa saat.
Wanita tanpa membawa koper menjulurkan tangannya pada Loka untuk memperkenalkan diri. “Kenalkan kami dari Yuet. Saya Einsuar”.
“Oh iya. Saya Dega Yoka”, ucap tuan Loka.
Wanita yang menggigit batang rumput terlihat melepas kacamata hitamnya kemudian menaruhnya di saku baju ketatnya . Dia menjulurkan tangan kepada Loka dan memperkenalkan namanya, “Saya Lhun Angde. Tapi kalau tuan mau memanggil saya dengan sebutan nama khusus juga tidak masalah”, canda Lhun.
“Terimakasih, nona. Silahkan duduk”.
Yuet adalah perusahaan jasa yang melayani permintaan penyelidikan tertentu. Ada apa ya orang Yuet mendatangi Loka? Mungkinkah mereka sedang memburu buronan atau pelanggar hukum di Fugk? Tetapi kalian pasti setuju bahwa kedua gadis tinggi dan cantik itu tidaklah pantas secara fisik jika menjadi sebagai agen penyelidikan namun itulah kenyataanya. Setelah dipersilahkan oleh Loka untuk duduk mereka mulai menjelaskan secara singkat siapa diri mereka sebenarnya.
Einsuar yang bicara. “Langsung saja ya tuan. Kami adalah tim yang mendapat perintah dari seseorang untuk mencari tahu siapakah orang bernama Zo Agif Ree yang tinggal di pulau ini. Kami menaruh curiga pada orang itu kalau dia adalah orang dari dimensi lain yang sedang menjadi mata-mata untuk Naolla. Bukankah pemuda itu berasal dari Fugk?”.
Loka menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi lalu menarik nafas panjang. “Aku juga tidak terlalu mengenal orang itu. Tetapi yang aku semakin menaruh keanehan padanya, dia adalah orang asing pertama yang mendapatkan kartu akses bebas dari Loka Olbu. Mengenai asal dari Zo itu sendiri pun kami tidak tahu. Mungkin kita juga sama-sama bingung pada orang misterius itu. Ada banyak kejanggalan yang mungkin sudah menjadi rahasia umum di Fugk”. Loka menyampaikan pendapatnya kepada kedua gadis cantik itu.
Crek! Lhun membuka koper yang dari tadi dia bawa dan mengambil sebuah berkas untuk diserahkan kepada Loka. “Tuan lihat ini dulu. Ada banyak keanehan yang tidak aku mengerti dari orang itu”.
Loka mengambil berkas yang disodorkan oleh Lhun dan membacanya.
“Seperti data yang sudah kami kumpulkan, ada beberapa fakta ganjil yang harus kami selidiki lebih lanjut. Pertama adalah mengenai data di wilayah, pulau atau kerajaan manapun di Naolla yang tidak pernah mencatat asal usul orang itu. Dia muncul begitu saja di Fugk dan menjadi pengembala rean di peternakan tuan Fiim. Dia juga tidak menjadi lebih tua meskipun sudah ada di Fugk selama 60 tahun lebih. Kami perkirakan usianya sudah sekitar 81 tahunan namun melihat keadaan fisiknya, dia tidak terlihat di usia itu. Fakta berikutnya adalah tentang kemiripan wajah Zo dengan Hucky Nagaray yang bagaikan pinang dibelah dua. Seperti yang kita tahu kalau Hucky Nagaray adalah azzo dewa dan jika mereka memiliki hubungan kekerabatan tentu ini akan menjadi sebuah fakta baru bagi kami. Bukannya kami mau mencampuri kehidupan Zo tetapi orang yang menyuruh kami menyelidikinya menaruh curiga kalau dia adalah seorang azzo langit sama seperti Ray”, kata Lhun menjelaskan.
“Kalian ingin aku melakukan apa?”, tanya Loka.
“Kami hanya ingin meminta kerjasama anda untuk membantu kami, agen Yuet. Kami butuh wewenang lebih untuk menjalankan cara penyelidikan kami di Fugk. Apakah anda bersedia?”, tanya Einsuar.
Loka meletakkan berkas yang ada ditangannya keatas meja. “Baiklah. Aku juga ingin tahu siapa Zo itu sebenarnya. Tetapi jika kalian ingin menemuinya, dia beberapa hari ini tidak berada di Fugk. Kami juga tidak tahu keberadaannya dimana. Karena sudah kebiasaannya, hampir setiap hari menjelajah Naolla dengan menggunakan hajunba. Entahlah apa yang dia ingin cari dengan kartu akses data dan hajunba-hajunba itu”.
“Jadi dia sekarang sedang tidak berada di Fugk?”, tanya Einsuar.
Loka mengangguk.
“Bagaimana ini Lhun?”.
“Terserah kamu. Aku sih ikut-ikut saja. Susah juga ternyata mencari orang itu, ya? Huh, menyebalkan!”.
“Kita sebaiknya mencari data lebih banyak lagi mengenai dia di Fugk ini. Oh iya tuan. Bagaimana kalau kita membuat surat perjanjian pelaksanaan kerja kami di Fugk. Anda tinggal buatkan saja sebuah surat perjanjian penyelidikan selama kami di Fugk, nanti biar anda tanda tangani. Kami harap surat itu bisa dibubuhi tanda tangan anda secepatnya agar kani bisa memulai penyelidikan ini”, pinta Einsuar.
“Besok silahkan kalian kemari untuk mengambil surat perjanjian itu. Saya akan membuatnya secepat mungkin sesuai yang kalian inginkan”.
“Terimakasih Loka. Kami rasa sudah cukup sampai disini dulu. Maaf sudah mengganggu kesibukan anda. Selamat bekerja kembali”. Einsuar berdiri dan menyalami Loka begitu juga dengan Lhun. Kemudian mereka meninggalkan ruangan tersebut.
Sepeninggal dua wanita itu, Loka mulai menuju lemari berkas dan mencari dakumen tentang Loka Ole Olbu. Dia berfikir kalau Loka Olbu sebenarnya sudah tahu siapa Zo atau mungkin rahasia terbesar Zo. Mana mungkin seorang Loka Olbu berani memberikan kartu akses data bebas di Naolla kalau dia tidak mengenal siapa Zo. Kartu sejenis itu tidak boleh diberikan kesembarang orang kecuali pada pasukan yuari pengintai. Tumpukan arsip lama mulai di buka kembali oleh Loka Dega Yoka
“Mungkin aku bisa mendapatkan sedikit gambaran mengenai Zo di arsip dokumen lama ini”. Dia mengambil sebuah tumpukan berkas usang lalu meletakkan semua itu di meja kerjanya. “Nevala, tolong kamu buatkan surat perjanjian untuk agen Yuet yang akan melakukan penyelidikan di pulau Fugk. Beri mereka jangka waktu satu bulan”, perintah Loka pada asistennya yang sedang sibuk memilah-milah berkas dimeja kerjanya sendiri.
“Baik tuan. Sebentar lagi akan saya kerjakan setelah saya menyelesaikan pekerjaan saya ini terlebih dahulu”. Dia masih sibuk melakukan tugasnya.
Loka membuka-buka tumpukan berkas lama dan mulai membacanya. Cukup lama dia mencari data-data yang berkaitan dengan Zo hingga ada sebuah data tentang catatan pembuatan kartu akses data bebas pertama yang dikeluarkan oleh Loka Olbu. Disana tertulis kalau Zo adalah orang Fugk dan berusia 24 tahun. Berarti usia anak itu memang benar sudah tua dan bahkan lebih tua dari Loka Dega Yoka. Loka pun terlihat menggaruk-garuk belakang telinganya lalu kemudian keluar ruangan dengan membawa sebuah buku arsip.
Beberapa ekor Gamanjuu terlihat terbang menjauhi atas gedung pemerintahan Fugk. Mereka terus mengepakkan sayap daun berwarna hijau mereka untuk memberikan mereka dorongan terbang. Gamanjuu adalah kucing kecil merah muda yang memiliki sayap daun. Mereka bebas ditemui di wilayah-wilayah sekitar pulau Fugk. Mereka yang lincah mulai turun menukik dan singgah di tanah dekat aliran sungai. Mereka berjalan medekati air dan terlihat mulai minum. Selagi asik meneguk minuman mereka, “Srakkkk!!!!”. Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan para gamanjuu sehingga membuat mereka langsung berhamburan terbang.
Tubuh seorang laki-laki tersungkur ditanah. Dengan keadaan penuh luka, dia masih berusaha berdiri dan melakukan perlawanan. “Hiattttt…..”. Dia berusaha menonjok lelaki berbadan besar walaupun secara fisik dia tentu kalah postur tubuh dan tenaga.
Plak! Lelaki berbadan kekar itu menangkap genggaman tangan si lelaki bertubuh kecil. Wajahnya yang sangar langsung terlihat menyeramkan. Dia pelintir ke belakang tangan si pria kecil agar pria itu tidak bisa melakukan perlawanan lagi. “Cepat bayar hutang-hutangmu atau aku buat kamu babak belur?! Kamu belum tahu siapa aku? Jngan macam-macam kamu ya!”, ancam si pria besar.
“Argghhhh!!!”, ringis lelaki berbadan kecil. “Tidak! Aku merasa tidak berhutang dengan tuanmu itu. Dia yang memberikan aku bantuan. Ini penipuan! Argghhhh…”.
Pria besar menarik rambut si pria kecil sehingga kepalanya tertarik kebelakang. “Kamu bayar saja. Jangan macam-macam denganku!”. Bruak!!! Lelaki itu mendorong si pria kecil hingga tersungkur ke tanah. Belum sempat si pria kecil bangkit, si pria besar langsung menginjak punggungnya dengan keras. “Inilah akibat dari keberanianmu menantangku”.
“Ampun tuan… “. Pria kecil akhirnya menyerah.
“Hahaha… Bayar saja semua hutang-hutangmu. Cepat!”.
“Baiklah tuan. Tetapi lepaskan dulu kakimu dari punggungku”.
Si pria besar menarik tangan si pria kecil lalu menariknya berdiri. “Ayo ikut aku!”.
Mereka berdua terlihat berjalan meninggalkan lokasi itu dan menuju rumah si pria kecil di kota. Ketika memasuki sebuah gang, tampaklah seorang yuari sedang berjalan menuju arah mereka. Tentu saja si pria besar telihat takut. Dia tidak mau kalau yuari itu mengetahui bahwa dia adalah penagih hutang yang baru saja menghajar si pria kecil. Maka segera dia belok arah dan masuk kesebuah teras rumah penduduk.
“Kamu jangan berani-berani berteriak minta bantuan. Awas kamu!”.
Tetapi lelaki berbadan kecil tidak bodoh dan juga takut dengan ancaman si pria kekar. Dia nekat mengambil resiko dan berteriak meminta tolong. “Tolong! Aku di sekap... Tolong! Yuari!!!”.
Bruagh! Sebuah tonjokan dari tangan pria besar mendarat di perut lelaki kecil. “Bangsat!”.
Yuari yang mendengar teriakan itu akhirnya berbalik arah dan langsung menuju sumber suara orang minta tolong. Ketika sudah dekat, sia melihat seorang pria besar sedang berlari menjauhinya. “Woi! Tunggu!”.
Si pria besar ternyata kabur dan meninggalkan si pria kecil yang terlihat meringis kesakitan di teras rumah salah seorang penduduk.
Yuari itu terus mengejar pria berbadan kekar yang lari kearah gang-gang kecil. Dia membuat linggi dan melemparnya keatas langit untuk memberi tanda kepada yuari-yuari lain bahwa ada penjahat sedang kabur. Linggi batu itu terlempar tinggi dan ketika sudah habis jangkauan tingginya, linggi itu hancur dengan dua tahap. Pertama ganggangnya yang hancur kemudian mata kapaknya.
“Lihat itu! Ada tanda dari yuari lain. Tanda pengejaran. Ayo!!!”, kata salah seorang yuari yang sedang berjaga di pos.
Para yuari yang melihat tanda pun akhirnya menuju ke tempat linggi itu berasal. Sementara yuari yang masih mengejar si pria kekar kembali melemparkan linggi keduanya untuk menunjukan arah pengejaran. Untuk pengejaran seperti ini, yuari cahug tampaknya lebih efektif. Maka dengan segera beberapa yuari cehug mulai mendatangi arah asal linggi kedua di lemparkan dan ketika sudah mendapatkan lokasi yang dicari, mereka langsung mengejar pria berbadan kekar.
Pria berbadan kekar terdesak dan kalang kabut menghadapi situasi ini. “Brengsek! Aku terkepung. Arhhhh!!! Aku harus kemana lagi sekarang??”.
Paea yuari cehug sudah berhasil mengejar pria itu dan dengan segera salah satu yuari yang berada di depan menginstruksikan cehugnya untuk menangkap pria tersebut. Crak!!! Lidah lengket seekor cehug tepat mengenai punggung pria kekar sehingga membuatnya tidak bisa kabur lagi. Dengan sigap beberapa cehug lain menjulurkan lidahnya dan melilit tubuh pria kekar itu. Si pria kekar tak bisa berbuat banyak, selain pasrah dan rela dipasangi chip pengekang oleh salah satu yuari agar dia tidak bisa kabur lagi.
“Kita bawa dia ke markas”, perintah salah seorang yuari.
Para cehug melepaskan lilitan lidahnya lalu terbang dengan yuari diatasnya. Sementara si pria kekar di giring ke markas oleh salah seorang yuari.
“Ayo jalan!”, perintah yuari itu pada si pria kekar.
Begitulah cara para yuari untuk mempermudah pengejaran. Mereka akan mengendarai cahug yang sudah terlatih dan fit untuk efektivitas. Cehug adalah ulat terbang berlidah panjang yang digunakan yuari untuk kendaraan. Lidah cehug memiliki kemampuan perekat yang hebat tetapi bisa dilepas sesuai perintah otak cehug.
Pria kekar itu terus berjalan dan tidak bisa melawan karena di kedua tangannya telah terpasang chip pengekang. Chip ini masih berbentuk segitiga hanya saja jika orang dipasangi chip ini maka tangannya tidak bisa bergerak atau kaku.
“Sepertinya aku harus segera mencari cara untuk kabur dari yuari ini. Tapi… Arhhh.. chip sialan!”. Pria besar itu sempat berfikir untuk kabur namun kerena dia ingat bahwa di kedua tangannya terpasang chip pengekang maka dia mengurungkan niatnya tersebut. Walaupun dia bisa lari dari yuari itu, namun chip ditangannya tidak mudah untuk dilepaskan bahkan jika di amputasi sekalipun. Sistem kerja chip tersebut adalah deteksi DNA. Jika seseorang telah ditempeli chip pengekang, maka secara otomastis chip akan mempelajari DNA-nya dan mengambil sampel dari DNA tersebut lalu dikirim ke markas pusat. DNA akan dipelajari dengan terperinci dan jika orang itu kabur maka yuari tinggal mengirim salinan DNA-nya kedalam sebuah alat atau robot khusus untuk mencari keberadaan orang itu. Chip pengekang juga mampu menghalangi aktifnya syaraf di sekitar lokasi chip terpasang sehingga membuat orang itu tidak bisa menggerakan bagian tubuh yang ditempeli chip.
Akhirnya si pria kekar hanya bisa menuruti perintah yuari itu dan menuju markas yuari Fugk.
Sedangkan pria kecil yang pingsan akibat di pukul si pria besar tadi terlihat sedang dibantu oleh beberapa yuari. Dia diangkat keatas tandu dan digotong menuju rumah pengobatan. Untunglah si pria kecil berani mengambil resiko dengan meminta tolong kepada yuari yang lewat sehingga dia selamat dari pemerasan itu. Dia tidak tahu mengapa dia bisa berhutang kepada tuan dari si pria kekar. Padahal pada awalnya tuan itu sendiri yang memberikan bojcenya padanya untuk sekedar menolong dari kerugian yang mungkin lebih banyak lagi.
*** 
Syuuuuttt… Tubuh kecil Coleo Arbi itu masih terus turun kebawah. Mata kirinya terpejam dan tiba-tiba dari hidungnya keluar darah. Tampaknya dia menderita luka cukup serius setelah pertarungan sengit dengan Gemun Y54 tadi. Darah segar mengucur dari lubang hidungnya dan turun ke pipi. Ingin rasanya Zo menyeka darah itu jika tangannya mampu digerakkan. Akhirnya kedua matanya terpejam menahan sakit disekujur tubuh kecilnya. Dia mencoba menarik nafas dari dalam mulut supaya merasa lebih tenang.
“Fuhhhhhhh”. Zo menghembuskan nafasnya.
Beberapa saat kemudian, posisi jatuhnya berubah. Kepalanya berada dibawah seperti hendak menukik turun. Zo membuka matanya dan tampaklah sebuah bintik kecil di ujung sana yang dia yakini sebagai Naolla. Kristal-kristal langit juga tampak berhamburan di angkasa seolah-olah sedang menonton Zo yang sudah tidak berdaya jatuh bebas ke Naolla.
Angin lembut di senja itu bertiup menyapu dedaunan kering di pinggir sebuah jalan di kota Mito, Ibaraki, Jepang. Fiko sedang duduk di bangku kayu yang ada di tepi sebuah sungai jernih bersama Zo. Di tangan mereka masing-masing terdapat sekotak takoyaki yang diletakkan didalam wadah berbentuk perahu.
Zo menusuk sebuah takoyaki menggunakan tusuk gigi yang sudah disediakan lalu memasukannya kedalam mulut. “Hmmmmmmm.. Enak Sekali…”. Kembali dia menusuk sebuah takoyaki dan memakannya.
Fiko yang melihat Zo hanya tersenyum lalu kemudian mulai memakan takoyakinya. Mata Fiko seperti tidak mau berpaling dari wajah Zo. Dia merasa seperti bersama Ray ketika berada di dekat Coleo Arbi itu. Mungkin karena rasa rindunya pada Ray dan ditambah lagi dengan tampilan Zo yang sangat mirip Ray membuat Fiko seperti sedang bersama Ray. Ingin rasanya Fiko memeluk Zo atau menyuapkan takoyaki itu untuk Zo. Namun semua itu hanya bisa dia tahan agar Zo tidak curiga padanya. Dia tahu kalau Zo belum menyadari kalau sebenarnya Fiko sudah mulai menyukainya.
Angin kembali meniup dedaunan yang jatuh dari pohon di belakang tempat duduk mereka. Suasana damai menghanyutkan Fiko di sore itu. Di depan mereka sedang mengalir jernihnya air yang tenang.
“Zo… Kamu suka dengan bumi?”, tanya Fiko tiba-tiba.
Zo tampak kaget di tengah-tengah acara makannya. “Hah?! Oh.. iya suka”. Tak terasa takoyaki di dalam wadah Zo sudah habis hanya dalam beberapa menit.
Fiko melihat ke arah kotak takoyaki Zo yang kosong. “Wah, sudah habis tuh. Kamu mau punyaku?”, tawar Fiko.
“Sungguh? Kamu memberikan makananmu untukku? Ah.. jangan bercanda Fiko”. Zo agak sungkan.
“Ambil saja. Aku sudah sering memakannya kok. Nih…”. Fiko menyerahkan sekotak takoyaki ditangannya pada Zo.
“Terimakasih Fiko”. Tanpa banyak bicara lagi, Zo langsung melahap takoyaki-takoyaki itu. “Kalau aku tahu bumi senyaman ini, dari dulu aku sudah kesini. Memangnya kamu sudah lama tinggal di bumi?”. Zo memasukan takoyaki terakhirnya kemulut.
Fiko mengambil minuman botol disebelahnya lalu dia buka tutupnya. “Aku sudah tinggal dibumi selama kurang lebih dua tahun”. Gluk! Fiko meminum airnya.
Zo tampak kekenyangan dan langsung meminum air yang sudah dia beli tadi. Beberapa teguk air sudah masuk kedalam kerongkongannya. Setelah itu dia masukkan kotak-kotak bekas takoyaki kedalam kantung plastik dan nanti akan dia buang ke tempat sampah. Zo duduk lemas di kursi kayu tersebut karena kekenyangan. “Berarti kamu sudah lama menjadi orang bumi. Kalau aku boleh tahu mengapa kamu bisa pergi ke bumi?”.
Fiko menatap mata Zo untuk beberapa saat.Setelah itu kembali memandangi kota di seberang sungai. “Aku ke bumi karena melindungi Ray dari tangan Sukaw. Jujur Zo. Aku selalu mengingat Ray jika memandangmu. Kami berdua sangat dekat dan saling melengkapi. Aku bahagia bisa mengenal Ray walaupun dia hanya seorang azzo”.
Zo menolehkan kepalanya kearah Fiko seolah-olah ingin mendengarkan curahan hati pria tampan itu.
“Banyak cerita yang tidak ingin aku lupakan bersama Ray. Dia adalah orang yang baik dan tidak pernah menyusahkan aku”. Fiko menghela nafas sejenak. “Di bumi kami menjalani hidup layaknya manusia dan jauh dari hingar bingar kota. Awalnya aku tinggal di sebuah pulau bernama Toshirojima. Di sanalah ada banyak hal yang tidak bisa aku lupakan tentangnya. Kenangan bersama Ray dan semua yang berhubungan dengannya selalu membayangi pikiranku. Untuk itulah aku memutuskan pindah ke kota ini dan berharap aku bisa memulai hidupku yang baru. Aku yang dulunya bekerja sebagai nelayan memutuskan untuk mengadu nasib menjadi pelayan rumah makan”. Wajah Fiko tiba-tiba tersenyum. “Hampir saja aku berhasil mengubur sebagian ingatanku tentang Ray tetapi semuanya seolah-olah kembali lagi ketika sore itu kamu muncul dihadapanku”. Fiko memandangi wajah Zo.
Mereka saling memandang.
Zo menatap cahaya mata Fiko yang seolah-olah menunjukkan sebuah kerinduan yang dalam padanya. Dia benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa selain diam mematung. Andai saja Ray benar-benar dia, maka mungkin semuanya akan berbeda.
“Oh begitu…”. Zo mencoba membuyarkan tatapan Fiko dan kembali duduk tegap.
Fiko terlihat salah tingkah. “Maaf Zo. Aku terbawa suasana”.
“Terkadang ada beberapa hal yang tidak bisa kita terima begitu saja. Kamu mungkin bisa hidup layaknya manusia di bumi tetapi aku tidak. Ada banyak perbedaan diantara kita dan juga dengan mereka”. Zo menampakkan tatapan mata yang menerawang.
“Oh iya Zo. Kalau kamu, mengapa memutuskan kabur kebumi?”.
Glek! Zo bingung mau menjawab apa. Lidahnya terasa kelu dan sulit untuk digerakkan.
“Zo? Kamu kenapa?”, tanya Fiko yang menangkap keanehan dari diri Zo.
“Kapan-kapan aku akan cerita… Kita pulang, yuk! Kelihatannya hari sudah semakin senja”, ajak Zo.
Dengan segera Fiko berdiri dan  merangkul bahu Zo untuk mengajaknya berdiri. “Ayo…”, ucap Fiko dengan semangat.
Zo agak heran dengan perlakuan Fiko padanya tetapi dia tidak melupakan untuk membawa kantung plastik dan botol minumannya sambil berdiri. Dia di rangkul Fiko sepanjang jalan menuju rumah.
Matahari senja terlihat semakin redup di barat. Cahaya jingganya mulai memudar tertelan gelap dan digantikan oleh lampu-lampu jalanan di kota Mito. Garis cakrawala seolah-olah mengucapkan selamat tinggal dan sampai berjumpa lagi esok hari. Di jalan, mobil-mobil masih sibuk berlalu lalang. Di kota inilah Fiko berusaha melupakan Ray, kekasihnya yang sudah lenyap tersapu cahaya penghancur.
Crek! Pintu ruang kerja Loka dibuka. Tak lama kemudian masuklah sebuah kaki mengenakan sepatu hak tinggi ke ruangan Loka. Tidak hanya satu tetapi dua pasang kaki jenjang terlihat melangkah maju dan masuk kedalam ruangan tersebut. Dua orang wanita berpakaian ngepas mendatangi meja Loka untuk menagih janji pemimpin Fugk itu. Mereka terlihat sinis dengan kacamata hitamnya.
“Permisi tuan. Kami ingin mengambil surat perjanjian yang kami minta kemarin. Sudah selesai bukan?”, kata Einsuar sambil duduk.
“Sebentar ya. Neva… Tolong beikan surat yang aku minta kemarin”, panggil Loka pada asistennya itu.
“Baik tuan”. Nevala beranjak dari tempat duduknya dan menyerahkan surat itu pada Loka.
Loka mengambil surat tersebut dan langsung meyodorkannya pada Einsuar. “Tanda tangan dulu”.
Einsuar mengambil pena yang ada diatas meja Loka dan langsung menanda tangani surat itu. Loka juga ikut membubuhkan tanda tangannya setelah itu di cap. Sebuah surat perjanjian penyelidikan di Fugk sudah sah dan siap dipergunakan sebaik-baiknya oleh agen Yuet. Semua batas-batas penyelidikan sudah tertera disitu sehingga tidak ada lagi alasan untuk melakukan penyelidikan yang beresiko membocorkan dakumen rahasia.
Einsuar mengambil surat itu dan menyerahkannya pada Lhun. “Terimakasih tuan”. Einsuar menjabat tangan Loka.
“Ingat. Surat itu hanya berlaku satu bulan saja”.
“Kami akan berusaha mencari fakta dan data Zo di Fugk dalam jangka waktu kurang dari satu bulan. Kami permisi dulu, tuan”. Einsuar beranjak dari tempat duduknya kemudian di ikuti Lhun. Mereka berdua pergi dan siap menjalankan tugas.
Di gang ruangan.
“Kita langsung menemui bos. Ayu Lhun”, ajak Einsuar.
“Hei… Santai saja. Tidak usah terburu-buru begitu”, protes Lhun.
“Cepat dong Lhun”, desak Einsuar lagi.
“Iya, iya! Bawel!”. Lhun membuang batang rumput yang ada dimulutnya kemudian segera mengikuti Einsuar menuruni tangga.
Srreeekkkk…. Einsuar dan Lhun terlihat memasang sebuah alat di telinga mereka dan mulai menghidupkan alat tersebut. Sepertinya itu alat untuk sambungan suara jarak jauh.
“Yuet Ensu masuk. Bos? Kami harus kemana?”. Einsuar mendapat arahan dari bos mereka di Yuet. “Baik bos. Selamat siang”.
“Apa katanya Ein?”, tanya Lhun.
“Ke Gedung Pusat Chip Fugk”.
Lhun memasukan surat perjanjian yang dari tadi ada ditangannya kedalam koper. Kemudian mereka kembali melangkahkan kaki menuju Gedung pusat chip. Untuk menuju lokasi itu, mereka harus terlebih dahulu keluar dari rumah pemerintahan Fugk, kemudian menuju jalan yang terletak di samping gedung itu dan belok kekanan. Mereka menyeberangi jalan kemudian masuk kedalam sebuah gang dan tampaklah gedung pusat chip. Mereka berdua masuk kedalam gedung tersebut dan langsung disambut dengan deteksi fisik oleh cahaya khusus. Mereka kemudian menuju meja penerima tamu.
“Maaf nona, ada tanda pengenal?”, tanya wanita petugas penerima tamu.
Lhun dan Ein mengeluarkan tanda pengenal mereka dan juga surat dari Loka Fugk.
Wanita penjaga mengecek keaslian tanda pengenal dan setelah terbukti asli, dia mempersilahkan mereka berdua masuk. “Silahkan masuk kedalam nona”.
Mereka masuk kedalam dan bertemu dengan seorang pria staf umum gedung itu.
“Ada yang bisa saya bantu nona?”, tanya pria itu.
“Kami dari Yuet. Kalau kami mau mencari data-data chip lama di bagian apa ya, ganteng?”. Lhun merayu pemuda itu.
Gluk! Tiba-tiba pria itu terlihat sulit untuk menelan ludahnya. “Ikut s-saya”.
Kedua wanita tersebut mengikuti langkah kaki staf umum itu dan setelah melewati beberapa gang ruangan, sampailah mereka didepan ruangan arsip data chip rahasia.
“Terimakasih …”, kata Ein.
“Sama-sama. Silahkan masuk saja. Di dalam ada petugas yang bisa kalian temui”. Pria itu meninggalkan Lhun dan Ein didepan pintu.
“Ayo Lhun, kita masuk!”.
Ein membuka pintu ruangan tersebut dan alangkah terkejutnya mereka melihat isi didalam ruangan yang luas dan dipenuhi dengan rak-rak tinggi seperti sebuah labirin itu.
“Wow… Banyak sekali arsip-arsipnya. Menakjubkan!”, ucap Lhun sambil mengangkat kacamata hitamnya sedikit ke arah dahi.
Mereka berdua benar-benar takjub melihat ruangan itu. Ruangan yang luas dan di penuhi rak-rak besar dan tinggi menjulang seolah-olah surga bagi para chip di Fugk. Saking tingginya, rak-rak tersebut menyentuh langit-langit ruangan. Lantai dan langit-langit ruangan terbuat dari kayu. Pencahayaan di ruangan itu cukup terang dan udara didalam sana sangat dingin. Ada beberapa orang petugas yang kelihatannya sedang bekerja didalam ruangan tersebut. Mereka mengenakan mantel biru muda dan dipunggung mereka terdapat sebuah lambang segitiga berwarna putih.
Ein menghampiri seorang wanita yang terlihat mengutak-atik sebuah chip di meja kerjanya. “Permisi bu. Kami boleh meminta bantuan anda sebentar?”, tanya Ein.
Wanita itu menghentikan pekerjaanya sejenak. “Perlu apa ya nona?”.
“Kami perlu data chip lama atas nama Zo Agif Ree. Kami dari Yuet dan ini surat dari Loka Fugk sebagai bahan pertimbangan anda mengijinkan kami meminta salinan dokumen rahasia”. Ein memperlihatkan tanda pengenalnya dan surat dari Loka kepada wanita tersebut.
“Silahkan ikuti saya. Tetapi sebelum itu tempelkan chip ini di leher kamu dan temanmu itu”, pinta wanita berambut pendek tersebut sambil menyerahkan dua buah chip seperti pin sekecil koin kepada Ein.
Lhun yang terlihat sedang mengamati bagan pengurus gedung di salah satu sisi dinding diruangan itu, langsung di panggil Ein. “Lhun. Pakai chip ini”.
Wanita yang membawa koper itu mendatangi Ein dan mengambil chip ditangan temannya itu. “Di pasang dimana?”.
Ein memasang chip itu di lehernya yang kemudian di ikuti oleh Lhun.
“Kalau tidak keberatan, koper itu di tinggal saja di meja saya”, pinta wanita petugas itu.
Lhun menatap wajah Ein seolah-olah meminta persetujuan yang di balas dengan kedipan dan anggukan kecil dari Ein. Lhun meletakkan kopernya di atas meja wanita tersebut.
“Ayo silahkan ikut saya. Perlu pemandu khusus untuk menemukan data di ribuan rak arsip. Kalau tidak, kalain bisa tersesat diantara rak-rak yang menjulang tinggi ini”.
Lhun dan Ein mengikuti langkah wanita tersebut. Tit! Sebuah sensor berbunyi tanda mereka berdua sudah terdeteksi oleh sistem chip pengawas ruangan tersebut. Sangat ketat sekali pengamanan di ruangan itu. Tentunya itu masih dalam keadaan wajar mengingat ruangan tersebut merupakan ruangan arsip chip-chip yang mungkin merupakan data penting dan rahasia di Fugk. Beruntung Yuet adalah salah satu organisasi Internasional yang diperbolehkan mengetahui rahasia-rahasia wilayah di Naolla. Organisasi Yuet tentu bukanlah organisasi sembarangan. Mereka semua memiliki penyamaran yang sangat baik dan tidak tertandingi untuk menjaga ke rahasiaan data yang mereka kumpulkan. Bahkan ID mereka satu pun tidak ada yang benar, namun mereka bisa dikenali lewat ID yang diberikan khusus oleh Yuet. Semua orang Yuet adalah rahasia.
Di kiri dan kanan mereka tersusun rapi kotak-kotak chip berbagai fungsi, jenis dan bentuk di rak-rak yang menjulang tinggi. Lhun yang berjalan paling belakang sesekali memperhatikan chip-chip tersebut. Hingga tanpa dia sadari kalau dia sudah kehilangan jejak Ein dan wanita pemandu mereka.
“Ein?! Dimana kamu? Woy!”. Lhun berlari menuju ujung blok susunan rak tersebut tetapi tidak dia temukan Ein. Lhun berlari masuk ke blok kanan, masuk lagi ke kiri dan lurus kedepan tetapi tidak dia temukan  keberadaan temannya itu. Lhun mulai takut. “Aduhhh… bagaimana ini? Jalan masuknya saja aku lupa. Semua blok tampak sama!”. Dia mencoba mengingat-ingat jalan masuk ke blok itu, sambil berjalan, namun tidak berhasil juga. Lhun mencoba menghubungi Ein lewat alat ditelinganya tetapi tetap tidak bisa. Kemudian dia coba menghubungi bos nya. “Bos. Aku tersesat di antara rak-rak arsip…”.
Sahutan dari bos.
“Aku sudah mencoba menghubunginya tetapi tidak bisa. Bagaimana ini bos? Aku sungguh tidak tahu harus berbuat apa”, jawab Lhun yang agak gelisah.
Bos Yuet memberikan pendapatnya.
“Ruangan steril? Jadi sekarang Ein berada diruangan steril? Lalu bagaimana aku bisa menghubuginya? Aku juga tidak ingat jalan masuk ke blok ini bos. Aku tersesat. Ruangan ini seperti labirin besar”.
Bos berusaha menenangkan Lhun.
“Baik bos”. Lhun mematikan sambungan suaranya dan memutuskan untuk masuk ke blok kiri. Tiba-tiba terdengar suara dari arah chip di lehernya. “Ada apa lagi ini?”.
“Tuuuuuuuwww.. Tuw-tuw…. Tuwww…..”. Seekor hewan mirip udang berwarna kuning sebesar kucing, kakinya mirip kepiting namun hanya dua buah, matanya mirip barbel dan terhubung di kepalanya seperti huruf ‘T’ tiba-tiba menghampiri Lhun yang sedang dalam kebingungan. Matanya sedih permanen dan dia terbang. “Tuw-tuw-tuw!”. Hewan itu mendatangi Lhun.
“Wah lucu sekali…”.
“Tuw! Tuw-tuw!”.
Tampaknya hewan itu ingin menunjukan jalan pada Lhun.
“Aku mengikuti kamu?”.
“Tuw! Tuw-tuw-tuw!!!”. Dia terbang perlahan meninggalkan Lhun untuk menunjukan arah.
Lhun mengikuti hewan tersebut. Masuk blok-blok, belok kiri, kanan, lurus, kanan, kanan, kiti, kiri dan belokan-belokan lain hingga akhirnya tiba di tempat Ein dan petugas wanita.
“Tuwww…..”. Hewan itu terbang cepat lalu kemudian hinggap di bahu wanita petugas.
“Ein?!”. Lhun mendatangi temannya itu.
Ein yang sedang sibuk melihat kertas salinan data yang diberikan petugas wanita menoleh kearah Lhun. “Kemana saja sih kamu? Di sini jangan sampai terpisah dari pemandu. Tapi kalau mau tersesat, silahkan saja”.
“Iya maaf, Ein… Hehehe…”. Lhun cengengesan menunjukan deretan giginya yang rapi dan kecil-kecil.
“Kami juga baru sadar belakangan ini kalau pemuda itu berbeda. Itu cetakan data dari chip pendeteksi di rumah makan Fugho Aruh, 61 tahun lalu. Kami bahkan tidak percaya kalau Zo sudah ada sejak pemerintahan Loka Olbu. Fisiknya terlalu muda untuk umurnya”, kata wanita pemandu sambil menonaktifkan layar pencetaknya.
“Itulah yang menjadi tugas kami kali ini. Kami di suruh oleh seseorang untuk menyelidiki Zo”, kata Ein.
“Sudah cukup kah data itu?”, tanya wanita pemandu.
“Saya rasa sudah cukup. Kalau tidak keberatan, bisakah ibu mengantar kami keluar ruangan ini sekalian mengambil koper kami?”, tanya Ein.
“Baiklah. Mari saya antar. Terimakasih ya Tuw-ruw. Kamu masuk sana”, pinta petugas wanita itu pada hewan yang masih berada di bahunya.
“Tuw-tuw!”. Hewan itu langsung terbang dan pergi.
Sang wanita pemandu kemudian mengajak Lhun dan Einsuar mengikutinya untuk meninggalkan tempat itu dan menuju kearah depan.
.*** 
Angin lembut bertiup ke utara Naolla. Halaian bulu-bulu berwarna biru ikut tertiup dan sebagian singgah di atas kristal langit. Namun sebuah bulu terlihat menempel di sisi sebuah kristal kecil. Bulu itu diam terdorong ke sisi kristal dan setelah angin berlalu, secara perlahan bulu itu turun ke bawah. Bulu itu memang memiliki berat yang sangat kecil sehingga terlihat turun lemah berayun-ayun. Ribuan bulu diatas langit Naolla seakan-akan seperti sebuah hujan yang datang dari langit. Bulu-bulu tersebut berserakan di angkasa sehingga menambah indahnya langit jingga yang bertabur kristal tersebut.
*** 
Sunyinya hutan yang ditumbuhi pepohonan tinggi membuat semua suara terdengar jelas ditelinga. Entahlah suara-suara apa itu karena saking banyaknya suara hewan di hutan lebat tersebut. Ada suara auman, lenguhan atau suara-suara dedaunan yang tergesek sesuatu. Gelapnya langit karena malam membuat suasana semakin tidak menyenangkan. Semua itu di perburuk dengan merahnya bulan sabit yang tergantung di langit Naolla. beberapa hewan terlihat terbang melintasi bulan besar itu.
Dari arah hutan terlihat setitik cahaya muncul. Oh, tidak. Ada dua cahaya muncul dari dalam gelapnya hutan. Semakin lama semakin dekat cahaya itu. Tampaknya itu adalah obor yang sedang di bawa oleh dua orang Naolla. Untuk apa ada orang malam-malam begini berkeliaran di hutan yang lebat dan gelap? Suara gesekkan langkah kaki mereka dengan dedaunan  kering terdengar konstan dan jelas.
“Anm, aku mengantarmu sampai sini saja ya. Aku takut kembali ke gua kalau mengantarmu lebih dari sini”, kata seorang anak laki-laki berambut keriting pada temannya yang berhidung mancung.
“Ya sudah. Hati-hati ya Buggu. Terimakasih kamu bersedia mengantarku sampai sini”, kata Wooh Anm.
Buggu mulai berbalik badan dan meninggalkan Anm. Dia menoleh sebentar. “Anm! Hati-hati!”, teriak  Buggu.
Anm yang sudah jauh menyahuti sahabatnya itu. “Tolong sampaikan pesanku pada ayah dan ibuku. Aku janji akan kembali lagi ke gua jika aku sudah hebat nanti”.
“Kamu jaga diri baik-baik di Mele. Cepat kembali ya”, pinta Buggu.
Kedua sahabat itu pun kembali melangkahkan kaki berlainan arah.
Wooh Anm saat itu masih berusia sembilan tahun. Dia yang selalu tinggal dan menjalani hidup di sekitar gua Xun Axi merasa harus segera pergi dan membuat perubahan pada nasib sukunya. Sebagai suku terpencil, suku Kkukje memang perlu mengejar ketertinggalannya dari suku lain di Naolla. Oleh sebab itulah Anm kecil berniat untuk mencoba menggali ilmu di wilayah kerajaan tetangga bernama kerajaan Mele.
Dia adalah anak yang akan menjadi Gemun Y54. Walaupun Anm masih belum menyadarinya tetapi di beberapa kesempatan dia pernah merasakan bahwa ada yang aneh dalam dirinya. Seolah-olah ada suara atau bisikan yang menyuruhnya untuk terbang ke langit. Anm adalah Anak kecil yang terlihat biasa-biasa saja dan malah terkesan sangat biasa. Tidak ada hal yang menonjol dari diri Anm ketika berada di lingkungan tempat tinggalnya. Perawakannya kecil dan kulitnya coklat terbakar matahari. Dia sama seperti anak yang lainnya yaitu senang bermain dan sedikit usil. Namun cerita yang sebenarnya bukanlah berawal dari gua Xun Axi melainkan dari kerajaan Mele.
Gelapnya hutan tak menyurutkan telapak kaki Anm menginjak tanah lembab di pinggiran sungai. Dengan menyisiri sungai itu, dia akan tiba di sebuah desa dan bisa melanjutkan perjalanan dengan menaiki hewan darat khusus transportasi. Biasanya orang Be memanfaatkan Hrite untuk menjadi binatang transfortasi. Hrite merupakan berang-berang berbulu jingga dan memiliki kantung suara yang bisa mengembang seperti balon. Ukuran tubuhnya sebesar kuda dan jalannya cepat sekali sehingga efektif untuk tunggangan. Kembali ke Anm. Anak itu terus menahan dingin ditubuhnya yang hanya terbalut sebuah syal di leher dan celana pendek dari kulit kayu. Meskipun udara malam yang dingin seolah-olah menghantui tubuhnya namun Anm tidak sedikit pun berniat untuk mambatalkan rencananya tersebut. Ada harapan besar yang dia bawa di pundaknya. Harapan yang mungkin bisa merubah nasib suku Kkukje di kemudian hari.
Beberapa saat berjalan, akhirnya sampailah Anm di sebuah desa di kaki gunung. Hari sudah berganti dengan jingganya langit dan taburan kristal yang menandakan malam telah usai. Anm mematikan obor dan meletakkannya di pinggir jalan.
“Aku harap ada pengendali hrite yang mau mengantarku ke perbatasan desa”, kata Anm.
Anak itu menunggu pembawa hrite lewat. Dengan penuh harap dia duduk manis di tepi jalan dan sesekali menoleh ke arah jalanan kalau-kalau ada pembawa hrite yang lewat. Setelah sekian lama menunggu akhirnya terdengar suara nyaring dari seekor hrite.
“Itu sepertinya suara hrite”. Anm berdiri lalu menengok ke arah jalanan dan memang benar ada pengendali hrite sedang menunggangi hritenya menuju ke arah Anm.
“Kuk-kuk-kuuukkkk!!!!.
Anm melambaikan tangannya untuk memberi tanda kalau dia ingin menumpang hrite itu.
Si pembawa hrite menanggapi lambaian tangan Anm dan menghentikan hritenya. “Ada apa nak?”, tanya pria dewasa itu.
“Maaf paman. Bolehkah saya ikut ke batas desa?”, tanya Anm.
Lelaki bertopi anyaman daun itu tampaknya iba pada Anm. “Orang tuamu dimana nak?”.
“Tadi aku terpisah dari orang tuaku. Mereka tidak sadar kalau aku terjatuh dari hrite yang kami tumpangi. Paman mau kan menolongku?”.
“Baiklah. Silahkan naik”.
“Terimakasih paman”, Anm naik ke pelana hrite. Dia duduk di depan lelaki dewasa itu.
Lelaki itu mulai mengendalikan hritenya dan mereka berdua pun mulai menuruni jalanan bukit.
Sementara itu di dalam gua Xun Axi, Pertc dan suaminya tidak menyadari kalau Anm sudah tidak berada di tempat tidurnya yang terbuat dari susunan jerami.
“Ermmm…. Huahmmmmmm”. Wooh mulai bangun dari tidurnya dan dengan agak malas duduk di tempat tidur. Dia mengucek mata menggunakan tangannya. Dia memandang istrinya yang masih terlelap tidur lalu langsung mengarahkan pandangan ke tempat tidur Anm. “Kok? Kemana Anm? Tumben sekali sudah bangun”. Wooh berdiri dan langsung menuju keluar gua. Dia mencari Anm ke arah sekitar gua namun Wooh tidak menemukan anaknya. “Anm…!!! Anm…!!!”, panggil Wooh. Tidak ada sahutan.
“Ada apa Wooh? Kok kamu terlihat sedang mencari sesuatu begitu”, tanya seorang lelaki tua yang berpapasan dengan Wooh di luar gua.
“Aku mencari Anm, paman. Kamu melihatnya?”. Wooh masih memperhatikan kawasan di sekitar gua Xun Axi.
“Aku tidak melihatnya. Mungkin dia mandi ke sungai”.
“Bisa jadi itu. Aku mau ke sungai dulu, paman”. Wooh melangkahkan kakinya dengan agak tergesa-gesa. Ketika telah sampai di sungai, tetap tidak dia temukan anaknya. Pria itu mulai gelisah dan memutuskan untuk kembali ke gua. Dia membangunkan istrinya. “Bu… Bangun… Anm kemana?”.
Dengan malas Pertc bangun dan membuka mata. “Mungkin lagi main sama Buggu…”.
“Tidak ada bu. Aku melihat Buggu tidak bersama Anm”.
Pertc bangun dari tidurnya dan langsung mendatangi Buggu yang terlihat sedang bermain di luar gua bersama temannya.
“Buggu, kamu melihat Anm tidak?”, tanya Pertc.
Buggu tidak langsung menjawab pertanyaan dari bibi Pertc. Dia terlihat agak gugup dan diam membisu.
“Buggu? Kamu tahu di mana Anm?”, tanya Wooh mencoba mengulangi pertanyaan istrinya.
Buggu semakin gugup dan tiba-tiba dia berlari masuk kedalam gua. Wooh dan istrinya menaruh curiga pada Buggu dan langsung mengikuti anak itu kedalam gua. Sahabat Anm itu mendatangi ibunya dan langsung memeluknya. Dia kelihatan ketakutan.
“Ada apa nak?”, tanya ibu Buggu. Dia bingung melihat tingkah anaknya pagi itu.
Pertc dan Wooh mendatangi Buggu.
“Buggu tolong kamu jawab pertanyaan paman. Kamu tahu dimana Anm berada?”, desak Wooh yang semakin yakin kalau anak itu menyimpan sesuatu.
Buggu tiba-tiba menangis sambil memeluk ibunya. “Ibu… Huuuuuu….”.
Ibu Buggu semakin heran melihat tingkah anaknya “Ada apa ini Wooh? Kalian apakan anakku?”, tanya ibu Buggu.
“Kami hanya menanyakan keberadaan Anm pada Buggu, Lezl. Kami tidak berbuat macam-macam padanya”, jawab Wooh.
“Nak… Tolong kamu ceritakan pada ibu. Ada apa sebenarnya ini?”.
Buggu masih saja menangis sambil memeluk ibunya.
“Buggu?! Ada apa ini? Tolong jawab pertanyaan bibi!”. Pertc mulai semakin khawatir melihat reaksi Buggu yang aneh ketika ditanya mengenai keberadaan Anm.
Ibu Buggu memegang bahu anaknya tersebut dan melepaskan pelukan Buggu pada tubuhnya. “Ada apa ini Buggu? Kemana Anm?!”, tanya ibu Buggu.
“Huuu… A-Anm.. S-se-ss-sudah pergi. Huuuuuu”. Kembali Buggu memeluk ibunya.
Ibu Buggu kembali melepaskan pelukan Buggu. “Apa maksud kamu Buggu? Ibu tidak mengerti”.
“Aku membantu Anm pergi. Aku mengantar Anm pergi keluar hutan, bu…”. Buggu kembali memeluk ibunya.
Mendengar pengakuan Buggu, Pertc langsung mendatangi Buggu dan menarik tangan anak itu dari ibunya. “Apa kamu bilang? Kamu membantu Anm pergi? Jadi Anm sekarang keluar hutan sendiri? Hah?!”. Pertc tidak mampu menahan rasa marah, gelisah, takut dan khawatirnya. Dia menangis.
“Ibu…. Huuuu….”. Buggu mencoba melepas cengkraman tangan Pertc.
“Lepaskan tangan anakku!”. Ibu Buggu mendorong tubuh Pertc.
“Hei, Lezl! Anakmu ini sudah membahayakan nyawa anakku!! Dimana Anm????!!!”. Pertc mengguncang bahu Buggu.
Ibu Buggu tidak terima dengan perlakuan Pertc kemudian mendorong istri Wooh itu hingga terduduk di lantai gua. “Jangan salahkan anakku, Pertc. Anakmu saja yang ingin pergi. Buggu hanya mengantarkannya”.
“Anm… Huuuu.. Dimana Anm? Dimana?? Buggu!!”, bentak Pertc.
“Ibu…. Huuuu… Ibu…”, Buggu seolah-olah meminta perlindungan dari ibunya.
“Sudah Pertc! Buggu tidak tahu apa-apa!”, bela ibu Buggu.
“Kemana Anm pergi Buggu….???”. Derai air mata semakin deras membasahi pipi Pertc.
Buggu ingat kalau dia sudah berjanji kalau dia tidak akan memberitahu lokasi Anm pada orang tuanya. “Ke k-k-kota… Huuuu”.
Wooh memeluk istrinya yang sedang menangis. “Kita cari Anm di kota”.
“Anm…. Huuuuuu”. Pertc masih menangis tersedu-sedu. Dia khawatir pada nasib anaknya di kota.
Wooh mengajak istrinya ke sekat tempat tinggal mereka. Dia tahu istrinya pasti sedang gelisah memikirkan putra mereka yang masih kecil. Dia, sebagai ayah, juga merasakan hal yang sama. Dia takut Anm kenapa-kenapa di kota sana. Namun dia tidak ingin memperburuk suasana sehingga dia hanya berusaha menenangkan istrinya.
“Kita akan mencari Anm di kota. Tenang bu…”.
“Bagaimana aku bisa tenang, kalau Anm sedang berada di luar sana dan kita tidak tahu dia dimana? Pokoknya aku mau menyusul Anm sekarang juga!”. Pertc menyeka air matanya dan buru-buru menuju luar gua. Dia hanya mengenakan pakaian khas wanita suku Kkukje yaitu baju rompi dan rok panjang terbuat dari daun.
Wooh berusaha menahan Pertc dengan menarik tangannya. “Jangan tergesa-gesa seperti itu Pertc. Tenangkan dirimu dulu”.
“Lepaskan aku!”. Pertc menarik tangannya dari pegangan Wooh dan tetap bersikukuh untuk pergi menyusul Anm.
Wooh berlari kecil menyusul istrinya. “Kamu mau cari kemana?”.
“Ke kota! Kamu tidak dengar kata Buggu? Anm pergi ke kota”.
“Iya. Tapi memangnya kamu tahu kota itu seperti apa? Kamu tahu, hah?!”.
Pertc menghentikan langkahnya dan langsung memeluk suaminya. “Anak kita Yah… Anm masih kecil…”.
“Kita pasti menemukannya. Kamu tenang sebentar Pertc”.
Pertc mulai agak tenang dan melepas pelukannya pada Wooh. Dia menyeka air matanya dan kembali masuk ke dalam gua. Dia mendatangi Buggu. “Maafkan bibi Buggu. Bibi sudah memarahimu…”.
Buggu yang sedang duduk membalas ucapan Pertc, “Aku yang salah bi. Aku yang membiarkan Anm pergi. Seharusnya aku membangunkan bibi dan paman”.
Pertc memeluk Buggu. Dia tampak menyesal telah memarahi anak itu.
Sementara di salah satu wilayah di Be, Anm baru saja sampai di salah satu pertigaan batas desa. Dari situ rencananya dia akan mencoba berjalan ke pelabuhan untuk menumpang ke wilayah kerajaan Mele.
“Terimakasih paman…”, ucap Anm pada lelaki yang mengantarnya menggunakan Hrite.
“Sama-sama. Semoga cepat bertemu dengan orang tua mu, ya Anm”. Pria baik itu melanjutkan perjalanannya.
“Iya paman”. Anm langsung berlari menuju salah satu belokan jalan di pertigaan tersebut.
“Kuuuuuuukkkkk… kukkkkkkk”, suara Hrite terdengar semakin menjauh dari pertigaan.
Kerumunan orang mulai terlihat di depan mata Anm. Kesibukan para penumpang kapal terlihat memadati pelabuhan kecil tersebut. Anm tentu tidak punya pilihan selain berpura-pura menjadi anak dari salah seorang penumpang kapal agar bisa masuk kedalam kapal penyeberangan. Untuk memuluskan rencananya, terpaksa Anm mencuri baju anak-anak dari dalam sebuah tas yang tidak terlalu di perhatikan oleh pemiliknya di tempat menunggu keberangkatan kapal. Sebuah baju berwarna hijau berhasil dia dapatkan dan Anm langsung pergi ke kamar mandi untuk memasang baju tersebut. Dia terlihat cocok dengan baju yang dia kenakan.
“Tuuuuuttttttt….”, suara peluit kapal berbunyi untuk memberitahukan bahwa kapal akan segera berangkat.
Anm mulai memikirkan cara terbaik agar bisa melewati pengecek tiket yang berjaga di depan pintu masuk kapal. Mata cerdasnya melihat seorang wanita dewasa yang sedang membawa tas besar. Dengan segera Anm berlari mengikuti wanita itu dan memegang tas si wanita. Di dekat pintu masuk, Anm yang berada disamping wanita itu di sangka petugas pengecek tiket adalah anak dari si wanita pembawa tas besar sehingga dia membiarkan Anm masuk. Pada umumnya anak-anak penumpang tidak dipunguti tiket atau gratis.
“Silahkan masuk bu”, kata petugas peminta tiket setelah mengecek ke valid-an tiket wanita itu.
Si wanita tidak menyadari dengan keberadaan Anm yang mengikutinya di belakang. Dengan acuh dia terus saja masuk dan menuju arah dalam kapal. Anm yang sudah merasa aman, akhirnya mulai berlari mendahului wanita tersebut yang tampaknya tidak begitu memperhatikan Anm.
Inilah awal dari penemuan jati diri Anm sebagai seorang Gemun. Semua terasa begitu saja mengalir damai di kehidupan Anm. Di kerajaan Mele, dia bertemu dengan seorang laki-laki dewasa berumur sekitar 40 tahun bernama tuan Aiju. Secara tidak sengaja, Anm yang sedang tertidur di dekat sebuah tembok rumah warga berjumpa dengan tuan Aiju yang saat itu menjadi pasukan yuari Mele. Karena iba pada Anm, dia mengajak Anm kerumahnya dan tinggal bersama. Anm sangat senang dengan ajakan tuan Aiju dan mau tinggal bersama pria itu.
Anm sudah di anggap seperti anak sendiri oleh tuan Aiju. Setiap hari Anm di latih mempelajari linggi dan menemukan azzo untuk dirinya sendiri. Tuan Aiju kemudian memasukkan Anm kesekolah dan dia benar-benar sudah mengangkat Anm menjadi anaknya. Namun karena tuan Aiju pula, Anm menjadi pribadi yang berbeda dan memiliki sikap kasar. Tuan Aiju ternyata merupakan salah seorang yuari yang tidak suka dengan pemerintahan raja Mele. Dia dan beberapa yuari khusus mencoba menyampaikan pengaruh mereka tentang kerajaan yang dianggap hanya sebagai tempat pengekang. Mereka ingin Mele menjadi sebuah wilayah saja bukan kerajaan. Dengan begitu kekuasaan raja akan di gantikan oleh Cekai.
Anm kecil telah tumbuh menjadi pemuda tinggi, gagah, hebat dan sangat ambisius. Otot tubuhnya semakin terbentuk berkat latihan yuari. Anm sudah menjadi seorang yuari Mele yang hebat. Semenjak lulus dari sekolah bidang keahlian azzo angin, Anm langsung diterima di pasukan yuari pertahanan. Umurnya saat diterima menjadi pasukan yuari yaitu 15 tahun. Dengan kegigihan dan kehebatannya, dia berhasil menjadi ketua yuari pertahanan di usia yang sangat muda yaitu 22 tahun.
Pada walanya kerajaan Mele tidak berhasil di rubah menjadi wilayah karena pengaruh yang ditanamkan Aiju sudah memudar sesudah kematiannya. Namun ternyata di benak Anm sudah tertancap sempurna pengaruh tuan Aiju sehingga dia mulai menyusun kekuatan tempur untuk menyerang raja Mele. Beberapa tahun dia berjuang mewujudkan ambisinya menjadi Cekai dan akhirnya pada usia 35 tahun dia berhasil meruntuhkan kerajaan Mele dan menjadi Cekai pertama Mele.
Sinag itu, Cekai Wooh Anm sedang berjalan melakukan inspeksi ke sebuah pelatihan yuari. Dia didampingi oleh beberapa yuari berbadan tegap dibelakangnya. Cekai memasuki gerbang tempat pelatihan itu yang di sambut dengan ramah oleh penunggu pintu gerbang.
“Silahkan masuk tuan”, kata salah seorang penjaga pintu.
Anm dengan gagahnya masuk kedalam tempat pelatihan tersebut dan langsung mendatangi calon-calon yuari yang sedang berlatih fisik di lapangan terbuka.
“Hormat yuari!”, perintah pelatih pada anak didiknya ketika melihat kehadiran Cekai Anm.
Maka serempak semua yuari menghentikan kegiatannya, membentuk barisan rapi dan langsung mengepalkan tangan kanan mereka dan menempelkannya di dahi masing-masing.
Cekai pun melakukan hal yang sama, kemudian berkata, “Sadio iola!”.
“Sadio iola!”, sahut para calon yuari serempak.
“Maaf mengganggu kegiatan kalian sebentar. Bagaimana kesiapan fisik dan mental kalian untuk menjadi yuari Mele? Siap?!”, tanya Anm bersemangat.
“Siap tuan!”, jawab para yuari serempak.
Anm tersenyum bangga. “Bagus… Tingkatkan latihan kalian dan teruslah mempelajari hal baru. Jangan pernah takut bermimpi bahkan untuk mimpi terburuk sekalipun. Bermimpilah selagi kalian bisa bermimpi. Saya lihat kalian sudah memiliki kemampuan yang memadai untuk segera menjadi yuari. Kalian semua akan menjadi yuari terkuat di Naolla. Saya berani menjanjikan itu. Saya dan lembaga teknologi Mele sedang mengembangkan alat untuk merubah azzo menjadi senjata selain linggi. Linggi itu kuno dan tidak efektif untuk beberapa penggunaan. Kita akan melampaui Fugk yang terkenal dengan penemuan-penemuannya. Kita besar! Sudah cukup kita menjadi wilayah yang tertinggal. Siap atau tidak, kalian harus siap menjadi yuari pertama dalam sejarah Naolla yang bisa merubah azzo menjadi berbagai macam senjata tajam. Maka dari itu, pada kesempatan kali ini saya sebenarnya ingin menyampaikan hasil rapat petinggi Mele bahwa minggu depan sistem pengajaran penguasaan linggi akan diperketat untuk menyaring orang-orang pilihan yang bisa di masukkan kedalam pasukan elit, Truw Azzo. Kalian paham?!”.
“Paham tuan!”.
“Baiklah. Saya mau mengecek ruangan terlebih dahulu. Silahkan kalian lanjutkan latihan”. Cekai meninggalkan lapangan itu setelah melakukan hormat yuari dan di balas oleh para yuari.
Cekai berjalan menuju ruang kelas dan terlihat mengamati keadaan ruangan belajar.
*** 
Seorang laki-laki pendek dan berbadan gemuk sedang berada didalam sebuah ruangan yang gelap. Dari asap yang mengepul di udara, tampaknya lelaki itu sedang mengisap rokok sambil duduk di bangkunya.
Treeetttt… Pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka dan masuklah dua orang gadis cantik yang tak lain adalah Einsuar dan Lhun Angde. Mereka menyerahkan data-data mengenai Zo yang telah dikumpulkan dari beberapa sumber.
“Ini bos, data yang bisa kami kumpulkan sampai saat ini?”. Ein menyerahkan beberapa lembar kertas pada lelaki itu.
Dia mengambil berkas tersebut dan langsung menyimpannya didalam laci meja. “Fuuhhhhh…”. Dia menghembuskan asap rokoknya. “Silahkan keluar. Tugas kalian sudah selesai untuk hari ini”.
Lhun terlihat cengar-cengir seperti ingin meminta sesuatu.
“Apa Lhun?”, tanya lelaki itu.
“Bos pura-pura tidak tahu saja. Bojce untuk kami mana bos? Hehehe… Mau makan ini”, pinta Lhun.
“Besok saja ya?”.
“Yah… Bakalan kelaparan deh”. Lhun agak lesu.
“Ya sudah. Kamu minta dengan Dreve. Bilang aku yang suruh”.
“Sungguh bos? Terimakasih bos ganteng… Kami pergi dulu… Selamat membaca berkas”. Lhun menarik tangan Ein untuk segera meninggalkan ruangan itu.
“Permisi bos…”, kata Ein.
Setelah keluar, mereka kembali menutup pintu ruangan itu.
Jauh di kota Mito, Fiko sedang bekerja ship malam. Disana dia bekerja sebagai pelayan restoran di sebuah rumah makan. Ada banyak orang asing yang berkunjung ke restoran di malam itu. Fiko yang tinggi, gagah, berotot dan memiliki senyuman yang manis terlihat sibuk melayani para pembeli.
“Tunggu sebentar ya Nona”, kata Fiko dan segera pergi mengambilkan pesanan nona berkebangsaan Inggris itu.
Beberapa pengunjung terlihat sedang menikmati makanannya sedangkan beberapa orang lainnya masih menunggu pesanan sambil mendengarkan alunan musik.
Sejenak kita biarkan Fiko bekerja dan mari kita tengok kegiatan Zo di rumah Fiko. Zo agak bosan dan suntuk ketika tinggal sendiri dirumah sehingga Zo memutuskan untuk keluar dan berjalan-jalan di sekitar kawasan rumah Fiko. Zo melihat ada seorang pria sedang bermain basket di lapangan yang disediakan untuk umum tersebut.
“Permainan apa itu? Sepertinya menarik”. Zo menghampiri pria yang sedang menghentak-hentakkan bola basket di lapangan.
Pria berperawakan tinggi, badannya bagus, tampan, berhidung mancung dan sepertinya keturunan orang Jerman itu kemudian melempar bola yang dia hentak-hentakkan kedalam keranjang yang tinggi. Bola itu akhirnya masuk kemudian jatuh ke bawah karena keranjangnya bolong.
“Wow! Kelihatannya asyik tuh. Boleh aku mencobanya?”, tanya Zo.
Pria tampan itu menoleh ke samping dan langsung tersenyum. “Boleh. Silahkan saja. Ini bolanya”, pria itu menyerahkan bola basket pada Zo.
Zo agak bingung dan tidak tahu harus seperti apa memasukkan bola itu ke dalam keranjang yang tinggi. “Apa yang harus aku lakukan pada bola ini?”.
Pria tampan itu mengernyitkan dahi. “Kamu belum pernah bermain basket ya?”.
Zo menggelengkan kepalanya.
“Ya sudah, sini aku ajari. Kamu berdiri disini”, pinta pria itu sambil menunjuk tempatnya berdiri. “Kamu posisikan kaki seperti ini dan lempar saja bola itu ke sana”.
“Aku coba dulu”. Zo melakukan seperti apa yang di contohkan pria itu lalu dia lemparkan bola basketnya kearah keranjang. Syut! Bola itu melenceng jauh dari target.
Pria itu mengambilkan bola untuk Zo. “Coba lagi…”.
Zo kembali mencoba memasukkan bola kedalam keranjang namun masih gagal. Beberapa kali dia mencoba dan hasilnya tetap sama.
“Lihat aku ya”. Pria tinggi itu mencontohkan cara melempar bola yang benar dan dengan sekali lempar saja, dia berhasil memasukkan bola itu kedalam keranjang.
“Wah hebat. Kamu memasukkan bola hanya dengan satu kali lemparan”, puji Zo. “Kamu punya tubuh tinggi sih, makanya gampang”.
“Memang sih pemain basket pada umumnya memiliki postur tubuh tinggi”.
“Aku lihat kamu main saja ah…”. Zo menyingkir ke pinggir lapangan dan duduk lesehan.
Mungkin karena sudah capek, pria tampan itu pun menghentikan permainannya dan duduk di sebelah Zo. “Oh iya, kita belum kenalan. Namaku Marcel. Nama kamu siapa?”. Dia menjulurkan tangan.
Zo menjabat tangan Marcel. “Namaku Zo. Kamu hebat sekali main bola itu. Apa nama permainan yang kita mainkan tadi?”.
“Itu namanya basket. Basket adalah salah satu olahraga kesukaanku karena menurutku olahraga basket adalah olahraga yang keren”.
“Sekeren kamu. Hahaha”, canda Zo. “Kamu tinggal dimana?”.
“Itu di apartemen yang ada dibelakang kita”.
Zo menoleh kearah belakang untuk melihat apartemen yang dimaksud Marcel.
“Ternyata dekat ya”.
“Kalau kamu?”.
“Aku tinggal dengan temanku di rumah dekat toko roti di depan jalan ini”.
“Kapan-kapan aku bisa main dong?”.
“Boleh. Silahkan saja”.
Mereka berdua  terlihat saling bercerita dan mulai akrab. Di antara terangnya kota Mito yang terlihat indah dan memukau mata siapa saja, mereka mulai berbagi kisah. Kejenuhan Zo akhirnya sedikit bisa terobati malam itu. Marcel adalah orang bumi pertama yang dia kenal dan mungkin pertemanan mereka bisa berlanjut.
Bulan sabit terlihat cukup indah dilangit malam itu. Milyaran Bintang berwarna-warni berkedip-kedip manja pada siapa saja yang melihatnya. Sementara itu udara kota Mito yang dingin terasa mulai menusuk tulang. Sungguh indah dunia ini…

1 komentar:

  1. up date lagi dongk min naollanya...
    terlanjur seru nih...

    novel aslinya di jual nggak???
    pengen punya novelnya..
    haha

    BalasHapus