Hunk Menu

Overview of the Naolla

Naolla is a novel which tells about life of Hucky Nagaray, Fiko Vocare and Zo Agif Ree. They are the ones who run away from Naolla to the Earth. But only one, their goal is to save Naolla from the destruction.

Book 1: Naolla, The Confidant Of God
Book 2: Naolla, The Angel Falls

Please read an exciting romance novel , suspenseful and full of struggle.
Happy reading...

Look

Untuk beberapa pembaca yang masih bingung dengan pengelompokan posting di blog ini, maka saya akan memberikan penjelasannya.
(1)Inserer untuk posting bertemakan polisi dan dikutip dari blog lain;(2)Intermezzo adalah posting yang dibuat oleh pemilik blog;(3)Insert untuk cerita bertema bebas yang dikutip dari blog lain;(4)Set digunakan untuk mengelompokan posting yang sudah diedit dan dikutip dari blog lain;(5)Posting tanpa pengelompokan adalah posting tentang novel Naolla

Jumat, 05 April 2013

Intermezzo: Briptu Setya Menusukku... (2)


Aku masih mengepel cairan sisa-sisa perjuangan kami tadi yang masih menempel di lantai. Tanpa kusadari tiba-tiba mas Setya yang hanya mengenakan handuk memelukku lagi dari belakang.
Gila! Orang ini benar-benar bernafsu kuda!! Tubuhku diangkatnya dan hendak dibawa masuk ke kamar mandi.
“Jangan di situ, mas…” bisikku. “Aku tidak mau bersetubuh di lantai kamar mandi yang dingin! Bisa-bisa masuk angin nanti!”
“Ke kamar tidur depan aja, mas…”
Aku tahu tak mungkin aku menolak keinginan mas Setya! Apalagi aku juga menyukainya. Jadi aku menurut saja saat dia ingin menyetubuhiku lagi…
Akhirnya tubuhku dibopong ke kamar tidur depan yang memang khusus untuk tamu bila ada yang menginap. Setelah menutup pintu kamar dengan kakinya, mas Setya menurunkan tubuhku di lantai dan bibirnya mulai mencari-cari bibirku.
Aku diam saja saat bibirnya menyedot-nyedot bibirku.  Aku semakin geli saat lidahnya berusaha menyusup ke dalam mulutku dan mengais-ngasi didalamnya. Tanpa sadar lidahku ikut menyambut lidah mas Setya yang mendesak-desak dalam mulutku. Akhirnya kami saling pagut dengan liar dan menggelora.
Yang aku tahu sekarang adalah nafsuku mulai bangkit lagi. Apalagi tangan mas Setya mulai melepas handuk dan baju kaosku hingga aku telanjang bulat di depannya! Gila aku telah telanjang bulat di depan seorang Polisi!! Aku memang belum sempat memakai celana dalam setelah mandi tadi. Lalu dengan sekali tarik mas Setya melepas handuk yang melilit di pinggangnya hingga ia juga telanjang bulat di depanku!
Batang kemaluannya berwarna coklat dengan rambut yang sangat lebat. Topi bajanya tampak mengkilat dan mengacung ke atas dengan gagahnya! Mungkin bila dijajarkan dengan pisang ambon ukurannya sedikit lebih besar!! Makanya tadi kurasakan betapa sempitnya duburku menjepit benda itu!! Aku jadi tak merasa rugi menyerahkan tubuhku pada mas Setya…
Aku tidak sempat berlama-lama melihat pemandangan itu, karena sekali lagi mas Setya menyergapku. Mulutnya dengan ganas melumat bibirku sementara tangannya memeluk erat tubuh telanjangku. Aku merasa kegelian saat tangannya meremas-remas pantatku yang telanjang. Aku semakin menggelinjang saat bibirnya mulai turun ke leher dan terus ke putingku menjadi sasaran mulutnya yang bergairah!
Gila.. Liar dan panas! Itulah yang dapat kugambarkan. Betapa tidak! Mas setya mencumbuku dengan semangat yang begitu bergelora seolah-olah harimau lapar menemukan daging! Agak sakit tapi nikmat saat kedua putingku secara bergantian digigit dan disedot dengan liar oleh mulut mas Setya.
Tanganku pun dibimbingnya untuk dipegangkan ke batang kemaluannya yang tegak menjulang.
“Ouch… shhh… enakhhh..mashhh”
Mulutku tak sadar berbicara saat lidah mas Setya yang panas dengan liar mempermainkan putingku yang sudah mengeras. Sambil masih tetap memeluk tubuhku dan menciumi putingku, mas Setya duduk di pinggir tempat tidur.
Dilepaskannya mulutnya dari putingku dan kembali diciuminya bibirku dengan ganasnya. Aku jadi terjongkok didepan tubuh telanjangnya yang sudah duduk di pembaringan, aku jadi berdiri di atas kedua lututku.
Tiba-tiba tangan mas Setya yang kokoh menekan kepalaku ke bawah. Diarahkannya kepalaku ke arah kemaluannya, sementara tangan satunya memegang batang kemaluannya yang berdiri gagah di depan wajahku. Aku tahu dia menginginkan aku untuk mengulum batang kemaluannya.
Tanpa perasaan malu lagi kubuka mulutku dan kujilati batang kemaluan mas Setya yang mengkilat. Gila besar sekali!! Mulutku hampir tidak muat dimasuki benda itu.
“Arghh..ter..terushhh, Bayyy…”
Mulut mas Setya mengoceh tak karuan saat kumasukkan batang kemaluannya yang sangat besar itu ke dalam mulutku. Kujilati lubang di ujung kemaluannya hingga dia mendesis-desis seperti orang kepedasan. Sementara itu, kedua tangannya terus memegangi kepalaku seolah takut aku akan menarik kepalaku dari selangkangannya.
Setelah beberapa lama, dengan halus kubelai tangan mas Setya dan kulepaskan cengkeramannya dari kepalaku. Setelah itu, sambil mulut dan tanganku terus bekerja memanjakan penisnya, mataku senantiasa menatap mata Briptu itu. Sesekali aku pun melempar senyum manisku padanya jika mulutku sedang tak dipenuhi oleh kontolnya. Dengan begitu, aku seolah ingin mengatakan padanya.
“Jangan khawatir. Aku tak akan menjauhkan kepalaku dari selangkanganmu, mas. Aku akan terus memanjakan penismu yang besar dan indah ini dengan mulut dan kedua tanganku….”
Mas Setya pun jadi lebih santai dan menikmati pekerjaanku yang kulakukan dengan penuh ketulusan. Tidak puas bermain-main dengan batang kemaluannya saja, mulutku lalu bergeser ke bawah menyusuri guratan urat yang memanjang dari ujung kepala kemaluannya hingga ke pangkalnya. Dia semakin blingsatan menerima layananku! Tubuhnya semakin liar bergerak saat bibirku menyedot kedua buah zakarnya secara bergantian.
“Sayanghhh.. heb..bathh… ohhh… sssshh.. akhhh…”
Aku semakin nakal, bibirku tidak hanya menyedot kantung zakarnya melainkan lidahku sesekali mengais-ngais anus mas Setya yang ditumbuhi rambut. Mas Setya semakin membuka kakinya lebar-lebar agar aku lebih leluasa memuaskannya.
Aku tahu aku telah bertindak sangat gila. Aku yakin telah mengalahkan pelacur yang manapun saat memberikan layanan kepada pelanggannya. Seorang pelacur bahkan dibayar untuk melakukan itu semua. Sedangkan aku memberikannya secara gratis kepada Mas Setya! Aku yakin dia pun belum pernah mendapatkan layanan istimewa ini dari wanita manapun, termasuk dari kak Hesty… Pastilah ini karena rasa horny yang telah menyelimuti sekujur tubuhku!
Beberapa saat kemudian tubuhku ditarik mas Setya dan dilemparkannya ke tempat tidur. Aku masih tengkurap saat tubuh telanjangku ditindih tubuh telanjangnya. Kakiku dibentangkannya lebar-lebar dengan kakinya. Otomatis batang kemaluannya kini terjepit antara perutnya sendiri dan pantatku. Ditekannya pantatnya hingga batang kemaluannya semakin ketat menempel di belahan pantatku.
Tubuhku menggelinjang hebat saat lidahnya kembali menyusuri tulang belakangku dari leher terus turun ke punggung dan turun lagi ke arah pantatku.
Tanpa rasa jijik sedikitpun, lidah mas Setya kini mempermainkan lubang anusku. Aku merasakan kegelian yang amat sangat tetapi aku tidak dapat bergerak karena pantatku ditekannya kuat-kuat. Aku hanya pasrah dan menikmati gairahnya…
Aku tahu mas Setya melakukan itu karena aku pun telah melakukan hal yang sama padanya barusan. Aku sama sekali tak mengharapkan balas budi seperti itu, tapi tentu saja aku sangat berterima kasih padanya karena aku pun kini dapat menikmatinya.
Seluruh tubuhku dijilatinya tanpa terlewatkan seinci pun. Dari lubang anus, lidahnya menjalar ke bawah pahaku terus ke lutut dan akhirnya seluruh ujung jariku dikulumnya. Benar-benar gila!! Rasa geli dan nikmat berbaur menjadi satu.
Setelah puas melumat seluruh jari kakiku, dia membalikkan tubuh telanjangku hingga kini aku terlentang di tempat tidur. Kakiku dibentangkannya lebar-lebar dan diangkat keatas lalu dia sekali lagi menindihku. Kali ini posisi kami saling berhadap-hadapan dengan tubuhku ditindih tubuh kekarnya.
Lidahnya kembali bergerak liar menjilati tubuhku. Sasarannya kali ini adalah daerah sensitif di belakang leherku. Aku menggelinjang kegelian. Bibir mas Setya dengan ganasnya menyedot-nyedot daerah itu.
“Jang..jang..an dimerah ya, mas..…” erangku memohon padanya.
Tentu saja aku tidak mau disedot sampai merah soalnya besok pasti orang satu sekolah pada ribut. 
Tidak.. Bay…. Mas cuma gemasss!!” desisnya sambil tetap menjilati bagian belakang telingaku.
“Tapi kalo di sini boleh kan?” katanya nakal sambil tiba-tiba menyedot putingku.
“Aaaauuwwww…..” jeritku terkejut karena gerakannya yang tiba-tiba.
Rupanya mas Setya dengan sengaja meninggalkan cupangan merah yang banyak di seputar kedua dadaku. Tingkah lakunya seperti ingin menandai bahwa tubuhku sekarang telah jadi miliknya juga… Aku kegelian dan semakin bertambah horny karena aksinya itu. Aku hanya bisa berharap agar semua cupang itu telah hilang saat Bang Wando mencumbuku nanti.
 Aku semakin mendesis liar saat mulut mas Setya dengan liar dan gemas menyedot putingku bergantian. Kedua putingku dipermainkan oleh lidahnya yang panas sementara tangannya bergerak turun ke bawah dan mulai bermain-main dianusku. Duburku berdenyut-denyut karena terangsang hebat, saat jari-jari tangan mas Setya menguak bibir anusku dan menggesek-gesekkan jarinya di dinding lubang duburku.
Sensasi hebat kembali menderaku saat dengan liar mulutnya menggigit-gigit perut bagian bawahku yang rata.
“Akhh.. masss…ouchh..” Aku mendesis saat bibir mas Setya menelusuri pusarku.
Lidahnya menyapu-nyapu di selangkanganku hingga dekat lubang anusku. Lidahnya terus bergerak liar seolah tak ingin melewatkan apa yang ada di sana.
Tubuhku tersentak saat lidah mas Setya yang panas menyusup ke dalam anusku dan menyapu-nyapu dinding duburku.  Pantatku diangkatnya tinggi-tinggi hingga wajah mas Setya bebas memainkan lubang anusku. Rasa geli yang tak terhingga menderaku. Apalagi bibirnya yang tidak terlalu tebal kadang ikut menggesek dinding lubang anusku sehingga membuat aku semakin kelabakan.
Tubuhku serasa kejang karena kegelian saat wajah mas Setya dengan giat menggesek-gesek buah zakarku yang tergantung bebas. Perutku serasa kaku dan mataku terpejam. Kugigit bibirku sendiri karena menahan nikmat yang amat sangat.
“Akhhh mashhh…hhhh…ak..ku..ohhhh…”
Lidah mas Setya dengan liar menggesek-gesek duburku. Tubuhku seolah terhempas dalam nikmat. Aku tak bisa bergerak karena kedua pahaku ditekan lengan mas Setya yang kokoh. Pinggulku ditarik mas Setya hingga pantatku berada di tepi tempat tidur. Dia lalu memposisikan dirinya di tengah-tengahnya.
Sejenak dia tersenyum menatapku yang masih terengah-engah tak berdaya di bawahnya karena menahan gejolak birahi. Aku pun tentu saja sangat senang diperlakukan seperti itu oleh seorang laki-laki apalagi oleh seorang polisi muda nan gagah seperti mas Setya. Maka aku pasrah saja membiarkannya berbuat apa pun yang disukainya untuk melampiaskan nafsunya pada diriku sekarang.
Kemudian dia mencucukkan batang kemaluannya yang sudah sangat keras ke duburku. Aku menahan napas saat mas Setya mendorong pantatnya hingga ujung kemaluannya mulai menerobos masuk ke dalam jepitan dinding anusku. Seinci demi seinci, batang kemaluannya mulai melesak ke dalam jepitan anusku. Aku menggoyangkan pantatku untuk membantu memudahkan penetrasinya.
Rupanya dia sangat berpengalaman dalam hal seks. Hal ini terbukti bahwa dia tidak terburu-buru melesakkan seluruh batang kemaluannya tetapi dilakukannya secara bertahap dengan diselingi gesekan-gesekan kecil ditarik sedikit lalu didorong maju lagi hingga tanpa terasa seluruh batang kemaluannya sudah terbenam seluruhnya ke dalam lubang duburku.
Kami terdiam beberapa saat untuk menikmati kebersamaan menyatunya tubuh kami.
Kami bisa melihat saat-saat yang indah itu secara utuh melalui cermin besar yang ada di kamar tidur tamu. Tiba-tiba aku melihat bahwa kami adalah pasangan yang sangat serasi. Terlihat tubuh mas Setya yang bugil memiliki otot-otot yang keras dengan kulit yang berwarna coklat. Tubuhku yang bugil pun terlihat bagus dengan kulit yang kuning langsat dan otot-otot yang lumayan kencang. Kami betul-betul terlihat sangat serasi. Karena itu, kupikir mas Setya benar-benar berhak atas tubuhku dan demikian pula sebaliknya.
Mungkin hanya aturan di negeri ini yang tak memungkinkan kami untuk menjadi sepasang suami istri. Tapi sepanjang kami dapat menikmati persetubuhan ini dengan leluasa, rasanya tak ada masalah. Maafkan aku kak Hesty, aku merebut Mas Setya darimu.
Bibir mas Setya memagut bibirku dan akupun membalas tak kalah liarnya. Aku merasakan betapa batang kemaluan mas Setya yang terjepit dalam anusku mengedut-ngedut.
Kami saling berpandangan dan tersenyum mesra. Tubuhku tersentak saat tiba-tiba mas Setya menarik batang kemaluannya dari jepitan liang kemaluanku.
“Akhh..” aku menjerit tertahan. Rupanya mas Setya nakal juga!!
“Enak, Bay..?” bisiknya.
“Kamu nakal Mashhh…ohhh…”
Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, mas Setya mendorong kembali pantatnya kuat-kuat hingga seolah-olah ujung kemaluannya menumbuk ususku di dalam sana.
Aku tidak diberinya kesempatan untuk bicara. Bibirku kembali dilumatnya sementara kemaluanku digenjot lagi dengan tusukan-tusukan nikmat dari batang kemaluannya yang besar, sangat besar untuk ukuran orang Indonesia.
Setelah puas melumat bibirku, kini giliran putingku yang dijadikan sasaran lumatan bibirnya. Kedua putingku kembali dijadikan bulan-bulanan lidah dan mulut mas Setya. Pantas tubuhnya kekar begini habis neteknya sangat bernafsu sampai-sampai mengalahkan anak kecil!! Aku aja nggak pernah deh netek seperti dia dengan ibuku sewaktu kecil. Emangnya kamu ingat gimana kamu netek Bay? Hadehhhh….
Kulihat mas Setya masih belum apa-apa!! Aku paling suka kalau posisi di atas sehingga saat dia orgasme bisa full sensation. Lalu tanpa rasa malu lagi kubisikkan sesuatu di telinga mas Setya.
“Giliran aku di atas, Sayang….”, ujarku.
Mas Setya meluluskan permintaanku dan menghentikan tusukan-tusukannya. Lalu tanpa melepaskan batang kemaluannya dari jepitan anusku, dia menggulingkan tubuhnya ke samping. Kini aku sudah berada di atas tubuhnya.
Aku sedikit berjongkok dengan kedua kakiku di sisi pinggulnya. Kemudian perlahan-lahan aku mulai menggoyangkan pantatku. Mula-mula gerakanku maju mundur lalu berputar seperti layaknya bermain hula hop. Kulihat mata mas Setya mulai membeliak saat batang kemaluannya yang terjepit dalam duburku kuputar dan kugoyang. Pantat mas Setya pun ikut bergoyang mengikuti iramaku.
“Shhh… oughh… terushh.. Bayyy… arghhhh…!!!”
Dia mulai menggeram. Tangannya yang kokoh mencengkeram kedua pantatku dan ikut membantu menggoyangnya.
Gerakan kami semakin liar. Napas kami pun semakin menderu seolah menyaingi gemuruh hujan yang masih turun di luar sana. Cengkeraman mas Setya semakin kuat menekan pantatku hingga aku terduduk di atas kemaluannya. Dinding anusku semakin kuat tergesek batang kemaluannya.
 “Akhh… ohhh… ter..rushhh, mashhhh… ohhh…”
Aku meminta mas Setya untuk semakin kuat memutar pantatnya.Aku hanya pasrah saat mas Setya mengangkat tubuhku dan membalikkannya. Dia mengganjal perutku dengan bantal hingga aku seperti tengkurap di atas bantal. Kemudian mas Setya menempatkan diri di belakangku. Dicucukkannya batang kemaluannya di anusku. Rupanya ia paling menyukai posisi doggy style.
Setelah tepat sasaran, mas Setya mulai menekan pantatnya hingga batang kemaluannya amblas tertelan lubang anusku. Dia diam beberapa saat untuk menikmati sensasi indahnya jepitan duburku. Dengan bertumpu pada kedua lututnya, polisi kekar itu mulai menggenjot lubang duburku dari arah belakang.
Kembali terdengar suara tepukan beradunya pantatku dengan tulang kemaluan mas Setya yang semakin lama semakin cepat mengayunkan pantatnya maju mundur. Kurang puas dengan jepitan anusku, kedua pahaku yang terbuka dikatupkannya hingga kedua kakiku berada diantara kedua paha mas Setya.
Kembali dia mengayunkan pantatnya maju mundur. Aku merasakan betapa jepitan lubang duburku kian erat menjepit kemaluannya. Aku bermaksud menggerakkan pantatku mengikuti gerakannya, tetapi tekanan tangannya terlalu kuat untuk kulawan hingga aku pasrah saja.
Aku benar-benar dibawah penguasaannya secara total. Tempat tidurku ikut bergoyang seiring dengan ayunan batang kemaluan mas Setya yang menghunjam ke dalam liang anusku. Perlahan-lahan gairahku meningkat saat batang kemaluan mas Setya menggesek-gesek lubangku dengan liarnya.
“Ugh..ugh..uhhh…Ohhhhh… shiittt…. Enakhh….!!!”
Terdengar suaranya mendengus saat memacu menggerakkan pantatnya menghunjamkan kemaluannya.
“Terushhh… terushh, mashhh… terushhh… ahhh…”
Kepalaku terdongak ke belakang, sementara mas Setya tetap menggerakkan kemaluannya dalam jepitan anusku. Kini tubuhnya sepenuhnya menindihku. Kepalaku yang terdongak ke belakang didekapnya dan dilumatnya bibirku sambil tetap menggoyangkan pantatnya maju mundur. Aku yang sedikit terbebas dari tekanannya ikut memutar-mutar pantatku untuk meraih kenikmatan lebih banyak.
Kami terus bergerak sambil saling berpagutan bibir dan saling mendorong lidah kami. Hebatnya dia baru sekali mengalami ejakulasi saat persetubuhan pertama tadi. Aku sudah tidak mampu bergerak lagi. Mas Setya melepaskan batang kemaluannya dari jepitan anusku dan mengangkat tubuhku hingga posisi terlentang.
Aku sudah pasrah. Diangkatnya kedua pahaku tinggi-tinggi lalu kembali mas Setya menindihku.
Lubang kemaluanku yang sudah terkuak lebar meminta dimasuki lagi oleh kontol polisi itu. Kemudian dia kembali menusukkan batang kemaluannya ke anusku. Perlahan namun pasti, seperti gayanya tadi dikocoknya batang kemaluannya hingga sedikit demi sedikit kembali terbenam dalam kehangatan liang kemaluanku. Tubuh kami yang sudah basah oleh peluh kembali bergumul.
“Mas setya..hebatthhh..” bisikku.
“Biasa, Bay.. kalau ronde kedua mas suka susah keluarnya…” demikian kilahnya.
Namun kami tidak dapat berbicara lagi karena lagi-lagi bibir mas Setya sudah melumat bibirku dengan ganasnya. Lidah kami saling dorong-mendorong sementara pantat mas Setya kembali menggenjotku sekuat-kuatnya hingga tubuhku timbul tenggelam dalam busa springbed yang kami gunakan.
Kulihat tonjolan urat di kening mas Setya semakin jelas menunjukkan napsunya sudah mulai meningkat. Napasnya semakin mendengus seperti kerbau gila. Aku yang sudah lemas tak mampu lagi mengimbangi gerakan mas Setya.
“Ugh… ughh… uhhhh…”
Dengus napasnya semakin bergemuruh terdengar di telingaku. Bibirnya semakin ketat melumat bibirku. Lalu kedua tangan mas Setya menopang pantatku dan menggenjot lubang anusku dengan tusukan-tusukan batang kemaluannya. Aku tahu sebentar lagi dia akan sampai. Aku pun menggerakkan pantatku dengan sisa-sisa tenagaku. Benar saja, tiba-tiba dia menggigit bibirku dan menghunjamkan batang kemaluannya dalam-dalam ke dalam lubang duburku.
Crrt… crrooott.. cratt… crattt.. crrooot… Ada lima kali mungkin dia menyemprotkan spermanya ke dalam anusku. Dia masih bergerak beberapa saat seperti berkelojotan, lalu ambruk di atas perutku. Aku yang sudah kehabisan tenaga tak mampu bergerak lagi.
Kami tetap berpelukan menuntaskan rasa nikmat yang baru kami raih. Batang kemaluan mas Setya yang masih kencang tetap menancap ke dalam liang pembuanganku. Keringat kami melebur menjadi satu. Akhirnya kami tertidur sambil tetap berpelukan dengan batang kemaluan mas Setya tetap tertancap dalam anusku.
Paginya kami sempat bersetubuh lagi sebelum mas Setya pulang kembali ke rumahnya.


Gimana bro? Lanjut ceritanya???
Bersambung… *** 

6 komentar: