Hunk Menu

Overview of the Naolla

Naolla is a novel which tells about life of Hucky Nagaray, Fiko Vocare and Zo Agif Ree. They are the ones who run away from Naolla to the Earth. But only one, their goal is to save Naolla from the destruction.

Book 1: Naolla, The Confidant Of God
Book 2: Naolla, The Angel Falls

Please read an exciting romance novel , suspenseful and full of struggle.
Happy reading...

Look

Untuk beberapa pembaca yang masih bingung dengan pengelompokan posting di blog ini, maka saya akan memberikan penjelasannya.
(1)Inserer untuk posting bertemakan polisi dan dikutip dari blog lain;(2)Intermezzo adalah posting yang dibuat oleh pemilik blog;(3)Insert untuk cerita bertema bebas yang dikutip dari blog lain;(4)Set digunakan untuk mengelompokan posting yang sudah diedit dan dikutip dari blog lain;(5)Posting tanpa pengelompokan adalah posting tentang novel Naolla

Jumat, 05 April 2013

Intermezzo Briptu Setya Menusukku... (3)


Hari-hari berikutnya aku jalani seperti biasa. Meski tiap hari aku bisa dengan mudah mendapatkan kontol pacar-pacarku namun aku tetap rindu dengan hujaman dahsyat mas Setya. Di sisi lain dalam diriku sebenarnya merasakan sesal akibat hubungan persetubuhanku dengan mas Setya adalah terlarang dan tragis bagi kak Hesty, sepupuku. Biarlah semua ini akan aku simpan sendiri saja dan semoga kak Hesty tidak tahu hubungan kami berdua. Kalau ketahuan kan bisa gawat and skakmat!  Memangnya cewek mana sih yang bisa terima kalau pacarnya selingkuh apalagi dengan cowok sekaligus sepupunya sendiri. Bayu… Bayu… lu punya ajian apa sih kok kontol polisi sering banget nancep di lubang lu? Ajarin gua dong… Hahaha…
Tetapi,lama-lama aku merasa kangen juga dengan pistol daging Briptu Setya Anugrah. Aku sudah merindukan keliarannya, bau keringatnya dan juga kejantanannya.
Akhirnya kesempatan yang kutunggu-tunggu datang juga. Itulah yang namanya rezeki, tidak perlu dikejar dan tidak dapat pula ditolak. Kalau sudah waktunya pasti akan datang dengan sendirinya. Kontol is Rezeki? Yang bener aja Bay?
Hari itu hari minggu jadi aku libur. Karena suntuk di rumah, aku memberanikan diri mendatangi rumahnya. Toh aku sudah biasa datang ke sana. Setelah membeli makanan ringan, aku meluncur ke rumahnya yang kalau kutempuh dari rumahku kira-kira memakan waktu 10 menit.
Suasana tampak sepi saat motorku memasuki halaman rumah mas Setya yang sudah sangat aku kenal. Aku mengenal seluk beluk rumah itu dan tetangganya karena aku memang sering datang ke situ.
Setelah memarkir motorku di samping rumahnya, aku mencoba memanggil-manggil mas Setya. Kelihatannya mas Setya tidak kemana-mana karena motor CBR nya masih terparkir rapi di garasi.
“Mas… mas Setya… ini aku, Bayu…”
Berulang-ulang kupanggil nama Briptu itu, namun tidak ada jawaban. Rumah tidak terkunci namun tidak ada orang.
Aku lalu memutuskan untuk memutar ke belakang rumah siapa tahu dia berada di halaman belakang rumah. Tetapi tidak ada orang satu pun di sana.
Sayup-sayup kudengar suara berkecipak air di kamar mandi yang terletak di sudut belakang rumah mas Setya. Rumah mas Setya memang tidak terlalu besar karena rumah ini memang bekas rumah orang yang dibelinya. Aku dengar suara parau mendendangkan lagu pop yang tidak begitu aku suka. Aku memang tidak suka sama musik pop yang penyanyinya punya suara pas-pasan jadi kurang begitu kenal dengan lagu yang dinyanyikan mas Setya itu. Itu suara mas Setya yang sangat kukenal di telingaku.
Dengan rasa iseng kuintip mas Setya yang sedang mandi lewat celah-celah ventelasi udara. Kulihat tubuh mas Setya yang kekar nampak mengkilat terkena busa sabun. Batang kemaluannya yang besar tampak menggantung dipenuhi busa sabun dan kelihatan lucu, seperti badut. Batang kemaluannya bergoyang-goyang seperti jam dinding kuno seiring dengan gerakannya yang menyabuni tubuhnya.
Mas Setya yang hanya berbalut handuk tampak kaget melihatku sudah duduk di bangku panjang yang terletak di beranda belakang rumahnya.
“Lho… Bayu… Sudah lama datangnya?”
Dia melongo seolah tak percaya dengan kedatanganku.
“Engga. Baru saja sampai kok, mas”
“ Silahkan masuk, kedalam Bay…”
Aku pun masuk ke rumah melalui dapur dengan diiringi mas Setya. Begitu pintu ditutup, mas Setya langsung memeluk tubuhku dari belakang. Diciuminya tengkukku dengan ganas seperti biasanya.
“Mas.. kangen sama kamu Bay…” bisiknya di telingaku.
Aku sendiri juga kangen dengan mas Setya. Kangen dengan cumbuannya dan kangen denganpistolnya.
“Ahh… mas Setya bisa saja… “
“Benaran mas kangen sama kamu Sayang…”
Tangannya yang terampil segera melepas jaketku dan melemparkannya ke kursi. Mulutnya tak henti-hentinya menciumi tengkukku hingga membuatku menggerinjal karena geli. Dia tahu benar kelemahanku. Dijilatinya daerah belakang telingaku lalu tangannya melepas kancing baju atasanku satu demi satu dan dilemparkannya ke kursi tempat ia melempar jaketku tadi.
Begitu punggungku terbuka, dengan serta merta dicumbunya punggungku dengan jilatan-jilatan dan gigitan-gigitannya yang membuatku kangen. Tangannya yang kekar menyusup kedepan dan jari-jarinya dengan lincah memainkan kedua putingku.
Kini aku hanya mengenakan celana panjang sementara tubuh atasku sudah terbuka sama sekali.
Jilatan lidah mas Setya terus merangsek seluruh punggungku dengan ganas. Seolah-olah orang yang sedang kelaparan mendapatkan makanan lezat. Bibirnya yang lembut terasa geli menggesek-gesek kulit punggungku.
“Jangan di sini, mas…hhh…”
Aku yang sudah mulai terangsang masih mampu menahan diri untuk tidak disetubuhi di ruang tengah yang agak terbuka.
Tanpa banyak bicara didorongnya tubuhku masuk ke kamar satu-satunya yang ada di rumah itu. Di situ tidak ada tempat tidur seperti di rumahku. Yang ada hanya kasur yang terhampar di lantai yang dilapisi karpet serta lemari pakaian di dekatnya. Tubuhku didorong hingga punggungku memepet tembok di kamarnya. Kali ini bibirku langsung disosornya dengan ganas. Dilumatnya bibirku dan disisipkannya lidahnya masuk ke dalam mulutku mencari-cari lidahku.
Aku semakin gelagapan mendapatkan serangan-serangannya. Apalagi kedua pantatku diremas-remas dengan ganas oleh tangannya yang kasar. Bibirnya mulai merayap turun dari bibirku ke dagu lalu leherku dijilat-jilatnya dengan ganas. Aku semakin menggelinjang. Napasnya yang mendengus-dengus menerpa kulit leherku membuat seluruh bulu romaku berdiri. Dari leher bibirnya terus turun ke bawah dan berhenti di dadaku. Sekarang giliran putingku yang dijadikan bulan-bulanan serbuan bibirnya. Aku merasa semakin terangsang dengan ulahnya itu.
Dengan masih berdiri memepet tembok, celanaku dilucuti oleh tangan terampil mas Setya. Aku membantunya melepas celana panjangku dengan mengangkat kaki dan menendang jauh-jauh. Tanganku pun tak tinggal diam, kutarik handuk yang melilit di pinggang mas Setya hingga polisi itu telanjang bulat didepanku. Rupanya dia tidak mengenakan celana dalam!! Batang kemaluannya yang panjang, besar dan berwarna coklat gagah tampak tegak berdiri. Benar-benar jantan kelihatannya.
Tanpa disuruh, tanganku pun segera menggenggam batang kemaluannya dan meremas serta mengurutnya.
“Oughhh…terushh, Bayyyy…”
Mas Setya mendengus keenakan saat kuremas-remas batang kemaluannya yang membuat aku tergila-gila.
“Akhhh…ouchh….”
Kini giliranku yang mendesis kenikmatan saat kurasakan tangan mas Setya menyusup ke dalam celana dalamku dan meremas-remas kemaluanku yang sudah tegak. Tidak Cuma itu… jarinya juga mulai mengorek-ngorek ke dalam celah anusku. Aku semakin liar bergoyang saat jari-jari mas Setya semakin masuk ke dalam liang duburku.
Aku agak kecewa saat tiba-tiba ia menghentikan rangsangan di anusku. Tangannya kini bergerak dan meremas buah pantatku. Sementara itu mulutnya terus turun ke arah perutku dan lidahnya mengosek-ngosek pusarku membuat aku kembali terangsang hebat. Tiba-tiba dia melepaskan tanganku dari batang kemaluannya, membalikan tubuhku dan bersimpuh di depan pantatku yang masih berdiri. Serta-merta digigitnya celana dalamku dan ditarik dengan giginya ke bawah hingga teronggok di pergelangan kakiku. Aku membantunya melepaskan satu-satunya penutup tubuhku dan menendangnya jauh-jauh.
Kini mulut mas Setya sibuk menggigit dan menjilat daerah pantatku. Dikuakkannya pantatku lebar-lebar hingga ia lebih leluasa menggarap duburku. Dengan bersimpuh mas Setya mulai menjilati anusku sementara tangannya meremas pantatku dan menariknya ke belakang hingga wajahnya lebih ketat menyosor ke lubang pantatku.
“Akhh. Terushhh mashhh..ohhh..”
Aku hanya bisa merintih saat lidah mas Setya menyeruak ke dalam anusku yang sudah gatal. Ditekankannya wajahnya ke arah pantatku hingga lidahnya semakin dalam menyeruak ke dalam duburku. Aku semakin menggelinjang saat lidah mas Setya dengan nakalnya mempermainkan cincin anusku. Sesekali ia menyedot duburku dan menggesek-gesek bibir anusku dengan lidahnya. Gila… tubuhku mulai mengejang dan perutku seakan-akan diaduk-aduk karena harus menahan kenikmatan.
Mas Setya sudah tidak peduli dengan keadaanku yang kepayahan menahan nikmat. Lidahnya bahkan semakin liar mempermainkan duburku. Akhirnya aku tak mampu menahan gempuran badai birahi yang melandaku. Tubuhku berkelojotan. Mataku terpejam menahan nikmat yang amat sangat. Tubuhku melayang…
“Akhhh….terr..ushhhh…mashhhh”
Aku hanya bersandar ke dinding kamar tanpa mampu bergerak lagi. aku pasrah mau dia apakan tubuh ranumku ini.
Mas Setya lalu berdiri di hadapanku.
“Bagaimana, Bay..?” bisiknya di telingaku.
“Ohh..luar biasa.. Mas Setya memang hebbb …bathh,” desahku.
Masih dengan posisi berdiri dengan aku menyandar dinding, mas Setya menyergap bibirku lagi. mas Setya menempatkan dirinya di belakangku lalu dicucukkannya batang kemaluannya ke lubang anusku yang sudah sangat basah oleh ludahnya. Dengan tangannya mas Setya menggosok-gosokkan kepala kemaluannya ke lubang kemaluanku. Tubuhku kembali bergetar. Aku mulai terangsang hebat, saat kepala kemaluan mas Setya menggesek-gesek duburku.
Dengan perlahan mas Setya mendorong pantatnya ke depan hingga batang kemaluannya menyeruak ke dalam liang pembuanganku.
“Hmmhh…”
Hampir bersamaan kami mendengus saat batang kemaluan mas Setya menerobos anusku dan menggesek dinding anusku. Lidah kami saling bertaut, saling mendorong dan saling melumat. Tubuhku tersentak-sentak mengikuti hentakan dorongan pantat mas Setya. Dia terus menekan dan mendorong pantatnya menghunjamkan batang kemaluannya ke dalam anusku dengan posisi berdiri.
Entah karena kurang leluasa atau kurang nyaman, tiba-tiba mas Setya mencabut batang kemaluannya yang terjepit anusku. Dia memepetkan aku ke dinding dan dia masih berdiri di belakangku. Tubuhku sedikit ditunggingkan dengan kedua tangan menopang tembok. Lalu ditusukkannya batang kemaluannya ke lubang duburku. Kali ini gerakanku dan gerakannya agak lebih leluasa.
Kedua tangan mas Setya meremas dan memegang erat pantatku sambil mengayunkan pantatnya maju mundur. Batang kemaluannya semakin lancar keluar masuk liang kenikmatanku yang sudah gatal oleh tusukan kontol mas Setya.
“Ughh..ughhh…”
Kudengar mas Setya mendengus-dengus seperti kereta sedang menanjak.
Aku pun mengimbangi gerakan ayunan pantat mas Setya dengan sedikit memutar pantatku dengan gaya ngebor. Napas mas Setya semakin menderu saat kulakukan gaya ngeborku. Batang kemaluannya seperti kupilin dalam jepitan hangat duburku. Nafsuku yang sudah terbangkit semakin mengelora. Desakan-desakan kuat di dalam tubuh bagian belakangku semakin menekan. Kugoyang pantatku semakin liar menyongsong sodokan batang kemaluan mas Setya.
“Terusss.. Bayyy…terusshhh” Dia mendesis-desis dan tangannya semakin kuat mencengkeram pantatku membantuku bergoyang semakin kencang.
“Arghh..arghhh.. akhhh.. say..masss… keluarhhh, Bayy…”
Kudengar mas Setya menggeram saat batang kemaluannya mengedut-ngedut dalam jepitananusku. Kugoyangkan pantatku semakin liar dan akhirnya kuayunkan pantatku ke belakang menyongsong tusukan mas Setya hingga batang kemaluannya melesak sedalam-dalamnya seolah-olah menumbuk usus besarku. Aku rasakan ada semburan cairan hangat dari batang kemaluan mas Setya di dalam duburku.
Crat…crrtt..croooott…crttt..crott..!!
Banyak sekali cairan sperma mas Setya yang tersembur menyiram ususku, hingga sebagian menetes ke karpet kamar tidurnya.
Kami tetap terdiam sambil mengatur napas. Tangan mas Setya memeluk dadaku dan batang kemaluannya masih mengedut-ngedut menyemburkan sisa-sisa pejuh ke dalam anusku. Akhirnya kami berdua menggelosor ambruk ke kasur yang biasa ditiduri mas Setya.
Kami pun berbaring, dengan Briptu Setya masih memeluk tubuhku dari belakang. Batang kemaluan mas Setya yang sudah terkulai menempel di belahan pantatku. Kurasakan ada semacam cairan pekat yang menempel ke pantatku dari batang kemaluannya. Aku tak tahu dengan kain apa mas Setya menyeka lubangku untuk membersihkan cairan sperma yang menetes dari sana. Akhirnya aku tertidur kelelahan setelah digempur habis-habisan oleh Briptu Setya.
Aku tidak tahu berapa lama aku telah tertidur di kasur itu. Aku tersadar saat ada sesuatu benda lunak yang memukul-mukul bibirku. Saat kulirik aku terkejut ternyata benda yang memukul-mukul bibirku tadi adalah kontol besar milik mas Setya yang sudah setengah ereksi.
Ternyata dia sedang berjongkok dengan mengangkangi mukaku. Tangannya memegangi batang kemaluannya sambil dipukul-pukulkannya pelan-pelan ke bibirku. Begitu melihat aku terbangun, serta-merta mas Setya memegang bagian belakang kepalaku dan mencoba memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulutku. Aku menjadi gelagapan karena bangun-bangun sudah disodori batang kemaluan laki-laki macho!! Gila. Aku pun tak mempunyai pilihan lain kecuali menyambutnya dengan mulut terbuka…
Kurasakan ada sedikit asin-asin yang agak aneh saat bibirku mulai mengulum batang kemaluannya yang disodorkan padaku. Belakangan aku baru tahu bahwa mas Setya langsung kencing ke belakang begitu bangun. Sekembalinya ke kamar, dia langsung terangsang melihat diriku yang masih tertidur dalam keadaan bugil.
Demikianlah selanjutnya, dia membangunkanku dengan memukul-mukulkan penisnya ke mukaku supaya aku bisa segera memuaskan nafsunya kembali. Walaupun sedikit gelagapan, tentu saja aku melakukannya dengan setulus hati. Sedikit demi sedikit batang kemaluan itu semakin mengeras dalam kulumanku.
Beberapa saat kemudian mas Setya membalikkan posisinya. Batang kemaluannya masih kukulum dengan liar kemudian dia menundukkan tubuhnya dan wajahnya kini menghadap selangkanganku.
Dibentangkannya kedua pahaku kemudian lidahnya mulai bekerja mengulum kontolku. Aku semakin gelagapan karena merasa kegelian diselangkanganku sementara mulutku tersumpal batang kemaluan mas Setya. Ternyata dia rela mengulum kontolku yang mungkin di karenakan terdorong rasa ingin berterimakasih atas servis memuaskanku pada kontolnya.
Aku ikut menyedot batang kemaluannya saat mas Setya menyedot penisku. Kami saling menjilat dan menyedot kemaluan kami masing-masing dengan posisi wajah mas Setya menyeruak ke selangkanganku dan wajahku dikangkangi olehnya.
Aku semakin menggelinjang liar saat lidah mas Setya mengais-ngais lubang anusku dengan menekuk kedua pahaku ke atas. Aku sangat terangsang dengan perlakuannya itu. Apalagi saat lidahnya dimasukkan dalam-dalam ke lubang anusku. Aku tak mampu menjerit karena mulutku tersumpal batang kemaluannya.
Tubuhku bergetar hebat menahan kenikmatan yang menyergapku. Mas Setya dengan ganas menjilat-jilat lubang anusku dengan kedua tangannya membuka lebar-lebar pipi pantatku ke arah berlawanan.
Dia masih membiarkan batang kemaluannya menyumpal mulutku sambil sesekali lidahnya menyapu-nyapu dinding anusku. Setelah aku mulai dapat mengatur napasku, mas Setya menggulingkan tubuhnya ke samping dan menarik tubuhku agar naik ke perutnya. Dia bergeser ke arah dekat dinding dan menumpuk beberapa bantal di belakang punggungnya hingga posisinya kini setengah duduk.
Tubuhku ditariknya hingga menduduki perutnya lalu diangkatnya pantatku dan dicucukannya batang kemaluannya ke lubang anusku. Dengan pelan aku menurunkan pantatku hingga batang kemaluan mas Setya secara perlahan melesak ke dalam jepitan liang duburku. Aku menahan napas menikmati gesekan batang kemaluannya di dinding lubang anusku. Setelah beberapa kocokan yang kulakukan akhirnya amblaslah seluruh batang kemaluan polisi itu ke dalam anusku.
Kini aku duduk di atas perut mas Setya yang setengah duduk dengan punggung diganjal bantal. Dengan tangan bertumpu dinding tembok aku mulai bergerak menaik-turunkan pantatku secara perlahan. Sementara itu tangan mas Setya mencengkeram pantatku membantu menggerakkan pantatku naik turun, mulutnya sibuk menetek di putingku.
Posisi di atas merupakan salah satu posisi favoritku. Karena dengan posisi ini aku dapat mengontrol sentuhan-sentuhan pada daerah sensitifku dengan batang kemaluan laki-laki yang menancap di lubang anusku.
“Akhh… shhh… terushhh.. masshhh..hh”
Aku mendesis-desis saat mas Setya ikut mengimbangi goyanganku. Kedua putingku dijilat-jilat dan disedot secara bergantian hingga membuat nafsuku meningkat secara cepat. Aku semakin liar menggerakkan pantatku di pangkuan mas Setya. Tubuhku mengejat-ngejat dan seperti terhantam aliran listrik.
“Terusshhh..terusshhh … ouchhh….”. Aku semakin liar mendesis.
Tubuhku terasa terhempas ke tempat kosong lalu akhirnya aku ambruk di dada kekarnya.
Mas Setya lalu bangkit dan berganti menindihku dengan tanpa melepaskan batang kemaluannya dari jepitan lubang duburku. Bantal yang tadi mengganjal punggungku ditaruhnya untuk mengganjal pantatku hingga lubangku semakin menganga. Aku yang sudah mulai lemas kembali dijadikan bulan-bulanan genjotan batang kemaluannya.
Bibirnya tak henti-hentinya melumat bibirku dan pantatnya dengan mantap memompa batang kemaluannya menusuk-nusuk lubang anusku. Kedua tangan mas Setya mengganjal bongkahan pantatku hingga tusukannya kurasakan sangat dalam menumbuk perutku.
“Ughh..ughhh… putarrrhhh… Bayyy…putarrrhhh… ugghhh…”
Kudengar mas Setya mendengus memerintahku memutar pantatku.
Aku mematuhi perintahnya memutar pantatku dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada.
“Terushhh.. terushhh ter…oughhhh!!”
Akhirnya dengan diiringi dengusan panjang tubuh mas Setya berkelojotan. Tubuhnya tersentak-sentak dan hunjaman batang kemaluannya serasa menghantam sangat dalam karena didorong sekuat tenaga olehnya. Batang kemaluannya berdenyut-denyut dalam jepitan duburku.
Crottt…crott..crott…
Batang kemaluannya menyemburkan cairan kenikmatan ke dalam liang pembuanganku. Aku merasa ada desiran hangat menyembur beberapa kali dalam lubangku. Nikmat sekali rasanya. Tubuh polisi tampan itu masih berkelojotan untuk beberapa saat lalu akhirnya terdiam.
“Oughh… Bay.. kamu..hebattthhhh…” bisiknya di telingaku dengan napas yang masih ngos-ngosan.
Tubuh kekarnya ambruk menindih tubuh telanjangku. Batang kemaluannya dibiarkannya tertancap erat dalam jepitan anusku. Kami berdua sama-sama diam menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja kami raih.
Hari sudah menjelang sore saat aku bangun dari kasur mas Setya. Aku kaget saat mau kupakai celana dalamku ternyata sudah tercetak oleh pejuh kering. Rupanya tadi mas Setya menyeka lubang anusku dengan celana dalamku! Sialan juga terpaksa aku tidak memakai celana dalam. Wah, mudah-mudahan aja aku nggak turun dari motor, kalau sampai singgah kan bisa gawat. Gimana kalau ada yang lihat kontolku goyang-goyang. Tenang Bayu… tenang… semua akan baik-baik aja kok. Nyantai bro…
Dengan memakai celana dan bajuku aku keluar ke kamar mandi dan cebok membersihkan lubang anusku dari sisa-sisa pejuh sehabis persetubuhan tadi.
Aku baru saja mau berdiri dan menaikkan celanaku saat tiba-tiba mas Setya yang hanya dililit handuk ikut masuk ke kamar mandi. Belum selesai membanahi celanaku lagi-lagi mas Setya merangsekku di kamar mandinya yang terbuka.
Diturunkannya lagi celanaku hingga sebatas lutut lalu didekapnya aku dari belakang. Bibirnya dengan ganas dan rakus menjilat dan mencumbu daerah belakang telingaku hingga gairahku mulai terbangkit lagi.
Melihat aku sudah dalam genggamannya, dilepasnya lilitan handuknya hingga ia telanjang bulat. Batang kemaluannya yang sudah setengah keras menempel ketat di belahan pantatku. Aku sengaja menekan pantatku mundur hingga menggencet batang kemaluannya semakin terbenam di antara kedua belah buah pantatku. Kugeser-geser pantatku dengan lembut hingga lama-kelamaan batang itu mulai mengeras lagi.
Setelah keras, dicucukkannya batang kemaluannya ke lubang anusku lalu ditekan-tekan ujungnya ke alur sempit itu yang masih basah akibat aku cuci tadi.
Sekali lagi kami bersetubuh dengan hanya menurunkan celana panjangku sebatas lutut dan mas Setya menggenjotku lagi dengan posisi berdiri. Aku harus bertumpu pada bak mandi yang terbuat dari porselen sambil setengah nungging sementara mas Setya menggenjot dari belakang.
Gila. Polisi kekar  satu ini memang gila! Bagaimana tidak dia punya dua pistol satu dapat membuat orang mati sedangkan yang satunya dapat membuat orang merem-melek keenakan! Aku pun jadi ketagihan dibuatnya. Oh…. Pokoknya aku pulang malam hari itu. Karena setelah ML di kamar mandi, dia membeliku makanan agar aku tidak sempoyongan dijalan. Mas Setya juga meminjamkan aku jaketnya dan untuk memastikan aku sampai dengan selamat kerumah, dia mengiringiku dengan motor CBR-nya.
Namun, alangkah kagetnya aku saat melihat motor pak Nikki terparkir didepan rumahku.
“Wah, ada pak Nikki nih. Kalau sampai mas Setya  mampir atau pak Nikki tanya siapa mas Setya, aku jawab apa ya?”.
Pak Nikki keluar rumah dan sepertinya dia mau pulang.
“Akhirnya datang juga, kamu Bay. Hapemu nggak aktif-aktif kenapa?”, tanya pak Nikki ketika melihat aku baru mematian motor didepan rumah.
Aku mengecek hape-ku dan melihatnya. Ternyata baterainya drop. “Baterainya drop pak. Bapak udah lama?”.
“Udah dari habis magrib tadi. Ada sekitar sejam aku nungguin kamu”, jawabnya sambil memperhatikan mas Setya yang ada di atas motornya dibelakangku. “Kamu habis dari mana?”.
“Hmmppp.. dari main pak. Oh, iya. Itu mas Setya, pacar kakak Sepupuku. Dia nganterin aku tadi”.
Mas Setya hanya menunjukan senyum pada pak Nikki.
“Ohh…”. Tampaknya pak Nikki agak kurang senang.
“Ya sudah, aku pamit dulu ya Bay. Terimakasih udah nemenin mas main”. Mas Setya menghidupkan motornya. “Mari pak…”, ucap mas Setya pada pak Nikki yang dibalas pak Nikki dengan senyuman.
“Hati-hati kak”. Aku turun dari motor dan menghampiri pak Nikki.
“Main apa kamu sama dia, Bay?”, tanya pak Nikki.
“Main bulutangkis pak”, jawabku.
“Bulutangkis atau bulu isap?”.
Waduh, pak Nikki kayaknya curiga dengan gelagatku.
“Kalau bulu isap mah, main dengan bapak. Hehehe”.
Tiba-tiba raut wajah pak Nikki berubah menjadi ceria. “Mau dong nginep dirumah bapak malam ini?”. Pak Nikki menebar senyum mesum kearahku.
OMG!!!!! Ampun…. Aku nggak kuat lagi kalau harus 24 jam di hajar kontol, bisa-bisa gempor deh lubang duburku.
“Mau yah…”, bujuk pak Nikki.
Aku hanya senyum-senyum dan nggak tahu musti jawab apa. Menurut kalian aku harus terima ajakan pak Nikki atau menolaknya? Huh, nasib-nasib jadi idaman para cowok.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar