Hunk Menu

Overview of the Naolla

Naolla is a novel which tells about life of Hucky Nagaray, Fiko Vocare and Zo Agif Ree. They are the ones who run away from Naolla to the Earth. But only one, their goal is to save Naolla from the destruction.

Book 1: Naolla, The Confidant Of God
Book 2: Naolla, The Angel Falls

Please read an exciting romance novel , suspenseful and full of struggle.
Happy reading...

Look

Untuk beberapa pembaca yang masih bingung dengan pengelompokan posting di blog ini, maka saya akan memberikan penjelasannya.
(1)Inserer untuk posting bertemakan polisi dan dikutip dari blog lain;(2)Intermezzo adalah posting yang dibuat oleh pemilik blog;(3)Insert untuk cerita bertema bebas yang dikutip dari blog lain;(4)Set digunakan untuk mengelompokan posting yang sudah diedit dan dikutip dari blog lain;(5)Posting tanpa pengelompokan adalah posting tentang novel Naolla

Rabu, 17 April 2013

Naolla, The Angel Falls: The Charred Crystal



DUARRR…. TRAK-TRAK-TRAK… SRAKKKKK… PLAK! ZRRRSSSSS… … … … … WUSHHHHH… HHHH… SYUUUTTTTT….. DASH! SYUUUUTTTTT….”.
Sebuah kristal mirip pulau terapung itu hancur berkeping-keping. Padahal tidak mudah bagi orang Naolla untuk memecahkan kristal langit. Malah bisa dibilang mustahil. Namun itulah yang terjadi. Bebatuannya terpencar kesegala arah dan jatuh bebas kebawah. Langit yang berwarna jingga menjadi saksi bisu pertarungan antara seorang Coleo dengan Gemun Y54. Coleo adalah sebutan untuk makhluk utusan Dewa di Naolla. Tubuh kecil sang Coleo terlempar jauh ke angkasa dengan keadaan yang sudah sangat lemah dan babak belur. Luka-luka di tubuhnya mengeluarkan darah segar dan sesekali menetes kemudian tersapu angin. Sayap besar berwarna birunya berlumuran darah sampai basah. Meskipun dia memeiliki kemampuan meregenerasi helaian bulunya secara cepat, tetapi dengan keadaan seperti itu rasanya sungguh mustahil. Dia mengerahkan semua tenaga yang tersisa untuk merontokkan helaian bulu yang tumbuh disayap punggungnya lalu kemudian meregenerasinya secara cepat namun karena tenaganya telah habis, Coleo itu tidak sanggup lagi untuk mengepakkan sayapnya. Dia pun pasrah jatuh dari angkasa dan mungkin akan mendarat di Naolla.
Langit Naolla memang sangat unik. Angkasa di Naolla memang sangat tinggi dan sulit terjangkau oleh orang biasa. Orang Naolla percaya kalau di ujung langit Naolla tersebut terdapat pintu rumah para dewa sehingga mereka percaya jika ada orang yang bisa mencapai ujung langit Naolla dan kembali dengan selamat, maka dia adalah orang yang bisa lebih dekat dengan dewa dan semua orang Naolla akan sangat menghormatinya. Namun selama ini tidak ada satu orang pun yang mampu mencapai batas angkasa Naolla dan kembali dengan selamat kecuali satu orang yaitu Gemun Y54.
Wajah tampan Coleo itu memang sudah sangat kotor oleh debu, luka maupun lebam disana sini. Tubuhnya terus turun kebawah dengan perlahan namun pasti. Tangannya sudah lemas dan terlalu sakit untuk digerakkan. Sayapnya tidak sanggup lagi untuk berkepak sehingga dia hanya bisa pasrah jatuh kebawah.
Coleo itu bukan tidak mempunyai nama. Namanya adalah Zo Agif Ree dan merupakan Coleo Arbi, sebutan untuk Coleo besayap, pertama yang di turunkan ke Naolla. Zo, orang biasa memanggilnya. Pada awalnya, dia diutus dewa untuk menggagalkan rencana salah seorang keturunan suku Kkukje yang ingin mencoba menuju ujung angkasa Naolla. Para dewa di langit Naolla sepakat untuk tidak memperbolehkan seorang makhluk pun mengetuk pintu rumah para dewa di angkasa. Mereka takut, kalau itu di biarkan maka akan membuat orang itu congkak dan menimbulkan kesalah pahaman dalam anggapan orang-orang Naolla.
Kuping Zo terlihat lecet dan merah. Kuping itu seolah-olah mendengar sesuatu yang entah apakah itu. Didalam pikiran Zo dia menerawang jauh pada saat dimana dia diutus dewa untuk turun ke Naolla pertama kalinya.
“Kami para dewa sepakat untuk mengutusmu ke Naolla. Ingat! Misimu adalah menghentikan Gemun Y54 sebelum sampai di ujung angkasa Naolla. Jika kamu berhasil, maka aku akan mengabulkan satu permintaanmu”, kata salah seorang dewa.
Zo membungkukkan badan untuk menghormati keputusan dewa lalu dia berkata, “Baik dewa. Hamba akan melaksanakan tugas sebaik mungkin. Percayakan semuanya pada hamba. Jika misi ini gagal, biarlah hamba selamanya tinggal di Naolla”.
“Berangkatlah Coleo. Kamu sekarang kami beri nama Zo Agif Ree untuk mepermudahkanmu menjalankan misi di Naolla”, kata salah seorang dewa lain.
Dengan segera pintu rumah para dewa terbuka dan tampaklah pancaran langit putih diluar sana. Zo mundur perlahan lalu setelah dirasa sudah cukup dekat dengan pintu, dia keluarkan sayap birunya kemudian mengepakkannya untuk turun ke Naolla. Dari atas sana, tidak tampak bentuk Naolla. Letak ujung angkasa yang sangat jauh ditambah lagi Naolla yang kecil tidak begitu terlihat disini. Namun ada sebuah bintik kecil didepan Zo yang dia yakini sebagai Naolla. Dia mulai mengepakkan sayapnya sesekali untuk mengatur laju meluncur ke Naolla. seperti burung falcon, Zo menukik cepat menuju Naolla. Beberapa menit kemudian, dia akhirnya sampai disalah satu tempat di Naolla.
Srakkkk…. Bunyi tanah yang terinjak kaki Coleo itu. Bulu-bulu sayapnya ada beberapa yang rontok dan beterbangan. Dari posisi jongkok, Zo mulai bangkit dan berdiri. Dia amati suasana tempat dia mendarat dan hanya tampak kayu-kayu mati dan rumput-rumput berdaun panjang yang tumbuh. Di hadapannya terlihat sebuah bukit kecil. Wilayah yang diinjaknya kali ini adalah padang savana sehingga keadaan alamnya cukup gersang Dengan tatapan bingung, dia mulai berjalan menuju atas bukit tersebut. Sayapnya dia hilangkan agar menghindari kecurigaan orang-orang. Diatas bukit, matanya yang indah langsung menangkap sebuah kota yang tampaknya cukup ramai ditinggali.
“Sepertinya disana aku akan menemukan informasi”.
Segera Zo mulai mengembangkan sayapnya dan kembali terbang menuju kota itu. Kota yang bangunannya didominasi oleh dinding bata merah dan cukup mecolok dilihat dari atas bukit itu menjadi tujuan pertama Zo di Naolla.
Zo terbang melintasi padang savana dan ini benar-benar wilayah baru baginya. Hewan-hewan aneh banyak menghuni daratan itu. Pepohonan yang sebagian mati juga menyapa kehadirannya. Zo benar-benar kagum dengan keindahan di Naolla terutama daerah yang dilihatnya kali ini.
“Aku harus segera menemukan Gemun Y54 untuk menghentikannya menuju ujung angkasa Naolla”.
Zo masih terus terbang rendah dan setelah dekat dengan perkotaan yang dia tuju, Zo turun dan menghilangkan sayapnya. Dengan santai dia berjalan memasuki gerbang kota dan tampaklah deretan bangunan besar nan megah yang begitu mempesona pandangannya.
“Arrrrrrrhhhh!!!”. Seekor Dretaju sedang sibuk menarik sebuah gerobak besar berisi bahan makanan.
Aktifitas warga disana terlihat sibuk. Tampaknya ada transaksi jual-beli yang terjadi. Orang-orang hilir mudik di kawasan tersebut. Meski agak kurang mengerti dengan kehidupan orang-orang disana, Zo berusaha terlihat membaur dengan orang Naolla.
“Bu, aku ambil sekarung Rungk ya”, pinta salah seorang wanita paruh baya pada penjual makanan.
Rungk adalah telur Jolet, sejenis ular bersisik duri dan berkepala kotak, yang biasanya dijadikan bumbu masakan di Naolla.
“Mau diantarkan kerumah?”, tanya wanita penjual rungk.
“Boleh. Alamat saya sudah tahu, bukan?”.
“Sudah tahu dong. Nanti saya suruh anak buah saya mengantarkannya kerumah ibu”.
“Terimakasih bu. Ini Bojce-nya. Saya tunggu ya”.
“Terimakasih kembali. Ibu tinggal terima beresnya saja”.
Wanita pembeli rungk akhirnya pergi meninggalkan kedai bahan makanan itu setelah membeli sekarung rungk.
Di Naolla, dretaju adalah hewan yang paling sering digunakan untuk mengangkut barang. Dretaju sendiri adalah gorila besar berwarna kuning dan berdagu panjang. Kesetian dretaju memang sudah tidak perlu diragukan lagi. Sekali mereka menganggap majikannya itu adalah orang yang tepat untuk mereka maka mereka akan setia sampai mati. Maka dari itu para warga Naolla memilih dretaju sebagai pengangkut barang dan rekan kerja.
Sementara itu, mata Zo menatap bangunan tinggi di depannya. Bangunan berdinding bata merah di depan simpang tiga itu tampaknya diperuntukkan sebagai rumah makan. Terbesitlah sebuah keinginan di benak Zo untuk mencoba makanan asli Naolla.
“Hmppp.. Kayaknya boleh juga nih. Kira-kira seperti apa ya makanan di Naolla? Aku mau mencicipinya”, kata Zo.
Dengan langkah pasti dia masuk kedalam salah satu kedai makanan dan duduk di salah satu meja kosong disana. Tidak berapa lama, Zo di datangi oleh salah seorang pelayan wanita yang masih muda.
“Mau pesan apa?”, tanya pealayan itu.
“Makanan Naolla yang enak. Semuanya”, jawab Zo.
Wanita muda itu agak kurang paham dengan permintaan Zo. “Maaf tuan. Disini ada banyak jenis makanan. Anda mau memesan yang mana?”. Dia menyerahkan sebuah buku menu kepada Zo.
Zo melihat buku menu itu dan menunjuk sebuah gambar makanan yang menggoda seleranya. “Ini. Aku mau makanan yang ini. Cepat ya”.
“Baik tuan. Silahkan tunggu sebentar. Kalau minumannya, anda mau minuman apa?”.
“Apa saja yang penting enak”.
“Tunggu ya tuan”. Wanita muda itu mengambil buku menu dan kemudian meninggalkan Zo sendiri di mejanya.
Wajah Zo cukup manis dan memiliki hidung mancung. Alis dan bulu matanya agak lebat dan memiliki bentuk wajah yang oval. Tubuhnya tidak besar dengan tinggi yang hanya sekitar 160 cm. kulitnya putih dan bibirnya agak merah. Apabila dia tersenyum, tampak manis kelihatannya. Tetapi sebagai seorang Coleo dia memang belum terlalu mengerti kehidupan di Naolla. Sesekali dia masih memperhatikan tingkah laku para pelanggan yang asik makan di rumah makan itu dan dia juga mengamati sebagian isi ruangan yang tampak klasik. Pernak-pernik lampu  penerangan di dalam ruangan juga tak luput dari pengamatan mata keingin tahuan Zo.
“Permisi tuan. Ini makanan anda”.
Zo menghentikan acara memantaunya dan langsung menatap kearah makanan yang dihidangkan oleh pelayan tadi.
“Silahkan dinikmati”. Pelayan itu berlalu pergi.
Melihat makanan yang begitu  menggoda, Zo langsung menyantapnya tanpa menggunakan sendok makan. Tentu saja ini membuat orang-orang disekitarnya agak aneh melihat kelakuan Zo. Tetapi si orang yang sedang makan tidak menyadari hal itu dan terus saja melahap makanan yang terhidang dimeja makannya. Dalam beberapa menit saja, sepiring makanan dan segelas minuman telah habis kedalam perut Zo. Dia tampak kekenyangan dan tanpa membayar, Zo langsung berdiri dari tempat duduknya dan ingin meninggalkan rumah makan itu.
Ketika sudah berada didekat pintu keluar. “Tunggu!”, cegah salah seorang pria dewasa dari arah belakang Zo.
Zo  menengok ke sumber suara.
“Maaf tuan. Anda belum membayar makanan. Silahkan serahkan pada saya beberapa poanuk bojce untuk membayar makanan anda”, pinta lelaki itu.
“Bayar? Saya harus membayar? Menggunakan apa?”, tanya Zo agak bingung.
“Ya tuan. Anda harus membayar. Anda punya bojce, bukan?.
“Bojce?”. Zo menggelengkan kepala.
Dengan segera lelaki itu mengeluarkan chip berbentuk segitiga untuk di tempelkan di tangan Zo.
“Apa ini?”, tanya Zo.
“Silahkan anda ikut saya kedalam”.
Zo yang masih bingung akhirnya menurut saja dan langsung membuntuti langkah kaki pria itu. Sesampainya diruangan pria tersebut, dia disuruh membuat pernyataan tertulis diatas kertas bahwa dia akan bekerja selama tiga hari dirumah makan itu untuk mengganti semua makanan yang dia sudah makan. Terpaksa Zo menuruti semua perintah dari lelaki itu karena jika tidak, dia akan di masukan kedalam penjara.
Akhirnya selama tiga hari. dia menjadi tahanan rumah makan tersebut dan disuruh mencuci pasor-pasor, piring terbuat dari kayu yang terbagi menjadi dua atau tiga sekat, dan mengepel lantai rumah makan.
Siang dan malam Zo harus bekerja disana. Ketika rumah makan itu tutup dia harus mengumpulkan sisa-sisa galas dan pasor untuk segera dicuci didapur. Walaupun agak lelah melakukan pekerjaan ini, namun beberapa hari disana dia akhirnya tahu bahwa dia sekarang berada didaerah Fugk. Fugk adalah sebuah pulau yang dipimpin oleh Loka. Saat itu pulau Fugk sedang dipimpin oleh seorang Loka bernama Ole Olbu yang berusia sekitar 57 tahun. Meski sudah berumur, tuan Ole masih tampak gagah dan berotot. Sebagai seorang Loka dia memang terkenal dengan sikapnya yang sangat dermawan dan bergerak cepat. Di bawah kepemimpinannya, Fugk mulai berkembang dan menjadi pulau tercepat perkembangannya di Naolla. Maka dari itu, Zo berniat untuk menuju perpustakaan pulau dan mencari tahu dimana dia bisa menemukan Gemun Y54.
Sebagai Coleo, Zo memang tidak diberitahu oleh dewa tentang siapakah orang bernama Gemun Y54. Maka dari itu, dia harus bergerak cepat untuk mencari orang bernama itu di Naolla. Naolla adalah wilayah yang luas dan sangat mustahil bagi Zo untuk cepat menemukan orang yang dia cari tersebut tetapi tentu saja dia harus mencari tahu semua hal mengenai apa saja yang berhubungan dengan Naolla dan mungkin di perpustakaan Fugk dia bisa menemukan jawabannya.
Selesai mengerjakan tugasnya dihari terakhir, Zo menutup semua pintu dan jendela rumah makan menggunakan chip yang tiga hari lalu ditempelkan padanya. Secara otomatis chip tersebut tidak berfungsi setelah Zo menutup seluruh pintu. Sungguh canggih teknologi Fugk ini.
Suasana malam yang dingin sangat membuat tubuh kecil Zo menggigil. Dia menuju kolong sebuah jembatan dipinggiran kota dan dengan beralaskan karton, tidurlah Zo diatasnya. Kedua sayap birunya dia munculkan dan berfungsi sebagai selimut tubuhnya. Untunglah bulu-bulu Arbinya bisa berfungsi disaat yang tepat.
“Huh… Capek sekali. Ternyata di Naolla harus memiliki bojce untuk makan. Aku harus mencari pekerjaan dulu untuk bertahan hidup disini sambil aku mencari informasi mengenai orang itu”. Perlahan-lahan matanya mulai terpejam dan akhirnya terlelaplah Zo diantara keheningan cahaya bulan merah Naolla.
Zo sebenarnya sudah ada sejak 40 tahun sebelum Hucky Nagaray diturunkan kepada raja Edka Higudasa. Wajah Ray dan Zo sangat lah mirip dan yang membedakannya hanya status mereka. Ray adalah azzo sedangkan Zo adalah Coleo. Mereka memang memiliki keabadian yang sama tetapi keabadian Ray tidaklah mutlak karena jika dia dimiliki oleh orang lain dan orang tersebut meninggal maka Ray akan musnah bersama tuannya. Lain halnya dengan Zo, dia hanya bisa mati jika dewa mencabut keabadiannya.
Tubuh Zo terus turun kebawah menuju dataran Naolla. Di bibirya tergambar sebuah senyum kerelaan yang membuatnya semakin tenang. Dia memang tidak bisa mati tetapi dewa sudah mencabut keabadiannya beberapa waktu lalu setelah Zo tergoda untuk berhubungan badan dengan Fiko Vocare. Meskipun tubuhnya menolak keras pada saat itu tetapi entah mengapa hatinya tidak bisa menolak keinginan Fiko. Semua kenangan manisnya di bumi dan di Naolla seakan berdatangan silih berganti hinggap di ingatannya sebelum jatuh ke daratan Naolla. Gaya gravitasi Naolla memang kecil diatas sana sehingga tubuh Zo turun perlahan-lahan saja tetapi ketika memasuki zona terdekat dengan dataran Noalla, maka gaya gravitasinya akan meningkat tajam.
Cahaya jingga dan kristal-kristal bening yang bergelantungan di langit Naolla menyilaukan mata Zo. Aliran sungai membawa riak-riak kecil dan terus mengalir. Jernihnya air sungai dibawah jembatan itu menggoda Zo untuk bangun dan mencuci muka di aliran air tersebut.
“Huahhhmmm….”. Dia menguap. “Sudah pagi ya? Aku mau cuci muka dulu ah…”. Blap! Sayapnya dia lenyapkan.
Zo berdiri menuju tepi sungai lalu menundukkan badan untuk mengambil air yang jernih.
“Brrr.. dingin sekali air sungai ini”.
Coleo itu mencuci tangan, wajah, kaki dan berkumur-kumur. Air sungai itu memang jernih dan tampak beberapa makhluk air kecil sedang asyik berenang didalamnya. Zo melihat keatas jembatan diatas kepalanya dan tampaklah tanaman-tanaman merambat tumbuh subur dibawah jembatan tersebut.
“Oookkkkkk.. Ngokkkk… ngokkkk… ngokkkk…”. Suara melengking dari rean, babi kecil berwarna abu-abu yang memiliki hidung seperti tapir dan ekor yang panjang seperti ular.
“Suara apa itu?”, tanya Zo pada dirinya sendiri. Dia bergegas berdiri dan menengok keseberang sungai yang ditumbuhi rerumputan, makanan rean-rean tersebut. Karena penasaran, maka Zo berjalan menaiki anak tangga untuk sampai keatas jembatan lalu menyeberangi jembatan tersebut dan menghampiri pengembala rean.
Suara rumput terinjak kaki Zo menemani langkahnya. Puluhan rean terlihat sedang asyik menikmati sarapan pagi ditemani seorang pria muda yang terlihat sedang asyik memotong-motong rumput untuk dibawa ke kandang rean nanti.
“Pagi… Bisa mengganggu sebentar?”, tanya Zo.
Pemuda tinggi berperawakan sedang itu menoleh kesamping, kearah Zo. “Pagi. Ada apa ya?”. Dia menghentikan pekerjaannya sebentar.
“Aku mau tanya. Kalau mau ke perpustakaan pulau, arahnya kemana?”.
Pemuda itu berdiri dan ternyata tubuhnya sangat tinggi, mungkin sekitar 185 cm. “Kamu bukan orang sini ya? Kamu tanya saja pada orang-orang di kota tentang letak rumah pemerintahan Fugk. Di sini, semua gedung penting terpusat di komplek rumah pemerintahan Fugk”.
“Oh begitu. Terimakasih ya… Aku permisi dulu. silahkan lanjutkan pekerjaanya. Aku baru lihat ada hewan seperti itu”. Zo pun meninggalkan pemuda dan rean-reannya untuk segera menuju komplek gedung pemerintahan Fugk.
Tetapi baru hendak menyeberang jembatan, pemuda itu kembali memanggilnya.
“Hei! Tunggu!!”. Pemuda itu berlari kecil menghampiri Zo. “Oh, iya. Kamu lihat ke sana”, pinta pemuda itu sambil menunjuk kearah tenggara.
Zo mengikuti arah ujung telunjuk pemuda itu dan tampaklah sebuah gedung tinggi di kawasan kota. “Itu gedung apa?”.
“Itu rumah pemerintahan. Nah jika kamu berpatokan pada gedung itu maka kamu pasti menemukan perpustakaan Fugk. Mengerti?”.
Zo mengangguk. “Ya… aku paham. Terimakasih… emmmmm”, Zo ingin menyebut nama pemuda itu.
“Enma, namaku Enma. Kamu?”.
“Aku Zo. Kalau begitu aku mau menuju perpustakaan Fugk. Terimakasih Enma. Selamat bekerja ya”.
Zo meninggalkan Enma dan buru-buru menuju lokasi yang dimaksud pemuda itu. Dia melewati jalanan di kota dan memasuki gang-gang besar sambil sesekali melihat gedung patokannya. Kota pemerintahan Fugk ternyata cukup besar dan luas. Setelah hampir satu jam berjalan menuju rumah pemerintahan Fugk akhirnya Zo sampai di komplek pemerintahan tersebut. Deretan gedung-gedung besar dan memiliki fungsi tersendiri menyambut kedatangannya. Di kawasan komplek itu banyak orang berlalu lalang. Mungkin mereka para Yuari Fugk, pengunjung atau staf pemerintah lain yang jelas suasana disana sangat ramai. Zo menengok kekiri dan kanan untuk mencari gedung perpustakaan.
“Aduh yang dimana ya?”. Zo agak bingun juga. Akhirnya dia memutuskan untuk bertanya pada sorang wanita yang sedang duduk diatas anak tangga didepan sebuah gedung.
“Maaf bu saya mau tanya. Letak perpustakaan dimana ya?”.
Wanita itu menoleh kearah Zo. “Oh… Kamu masuk saja kedalam gedung ini. Didalam ada perpustakaan, gedung olah raga dan lain-lain”, kata wanita itu.
“Terimakasih bu”. Setelah meninggalkan wanita tersebut, Zo menaiki anak tangga dan masuk kedalam gedung yang cukup besar.
Banyak orang terlihat berada didalam gedung. Jejeran ruangan yang terbagi kedalam beberapa fungsi sudah terlihat disana. Sepertinya gedung itu diperuntukkan bagi para pelajar yang ingin mendalami ilmu atau bidang tertentu. Setelah melewati gang didalam ruangan yang sudah semakin menjauh dari pintu masuk, suasaan berubah menjadi hening dan tidak banyak orang berlalu-lalang disana. Zo berfikir bahwa disitulah letak ruangan khusus ilmu pengetahuan. Dengan segera Zo mencari ruang perpustakaan dan akhirnya dia menemukannya. Dia masuk kedalam perpustakaan yang hening dan ada beberapa orang sedang membaca didalamnya. Zo mulai mencari buku-buku yang dia butuhkan di rak-rak yang sudah tertata rapi dan setelah dapat, dia meminjamnya untuk beberapa hari pada penjaga perpustakaan. Coleo itu keluar dan memutuskan untuk kembali menuju bawah jembatan yang dia gunakan untuk tidur tadi malam.
Perutnya terasa lapar namun dia tidak tahu harus kemana mencari makanan. Untunglah alam menyediakan pengganjal perutnya untuk sementara waktu. Beberapa ikan yang berenang di sungai menarik perhatian Zo. Dengan kemampuan merubah bulu menjadi besi, dia hujamkan beberapa helai bulunya ke air dan akhirnya berhasil mengenai beberapa ikan. Zo turun ke sungai itu dan mengambil ikan-ikan yang sudah tidak beryawa disana. Sayapnya kembali dia lenyapkan. Dia membawa ikan-ikan itu ke atas tanah dipinggir sungai dan berniat membakarnya. Zo mulai menyalakan api dan tak berapa lama kemudian ikan-ikan bakarnya sudah matang dan siap disantap. Tanpa menunggu lama lagi, Zo akhirnya menyantap makanannya dan ketika selagi asyik makan, tiba-tiba terdengar seseorang memanggilnya dari arah tangga yang menuju bawah jembatan.
“Hei! Sedang apa?”.
Zo menoleh dan tampaklah Enma si pengembala rean menuju ke arahnya. “Eh kamu. Lagi makan ikan bakar. Kamu mau?”. Zo menawari pemuda itu.
“Wow, kelihatannya enak. Tidak apa-apa kalau aku ikut makan?”. Enma duduk disamping Zo.
“Ambil ini! Makanlah… Santai saja…”. Zo memberikan Enma seekor ikan bakar.
Enma mengambil ikan itu dan mulai menyantapnya. “Bagaimana tadi? Sudah ke perpustakaan?”.
“Tuh!”, Zo menunjuk beberapa buku yang baru saja dia pinjam dari perpustakaan. “Ternyata susah sekali menemukan perpustakaan Fugk. Terlalu banyak ruangan di sana”.
“Mmmm… Itu karena kamu belum pernah kesana saja. Buku-buku apa itu?”, tanya Enma.
“Buku-buku pelajaran”.
“Untuk apa memangnya? Kamu mau masuk sekolah?”.
“Tidak. Ada hal yang aku ingin cari”.
Mereka akhirnya menyelesaikan acara makannya. Mereka berdua juga terlihat mulai akrab dan terlibat perbincangan menarik.
“Gila kamu Enma! Hahaha… Memangnya kamu pernah sekolah?”.
Mereka tampaknya mulai menceritakan kehidupan masing-masing walaupun Zo harus berbohong mengenai asal-usulnya pada pengembala rean tersebut.
“Yah… Kamu tidak percaya aku pernah sekolah pemula di usiaku setua ini?”.
Zo terlihat menahan tawanya. “Terlalu tua untuk kamu. Tapi itu bagus juga sih hitung-hitung merasa lebih muda lagi. Hahaha”.
“Aku memang agak minder juga masuk sekolah pemula tetapi mau masuk sekolah senior aku juga tidak memenuhi syarat. Terima nasib saja… Oh iya, kamu tidak mempunyai rumah ya?”.
“Iya aku tidak punya. Aku juga bingung harus mendapatkan bojce dari mana? Aku harus bertahan hidup disini”.
“Ikut aku saja. Tuanku sedang mencari pekerja untuk mengembalakan rean-reannya. Kamu mau?”.
“Mau. Dimana?”, tanya Zo semangat.
“Nanti ikut aku. Kamu diberi makan sekali sehari, tempat tinggal dan juga upah. Kamu bersedia? Tapi kamu harus tinggal disana selama bekerja bersama beliau”.
Zo tampak berfikir sebentar sebelum mengiyakan tawaran Enma. “Baiklah, aku mau. Yang penting aku punya tempat tinggal”.
“Bagaimana kalau kita langsung menemui tuanku?”, ajak Enma.
“Ayo!”.
Merekapun berdiri dan berniat menuju rumah tuan pemilik para rean. Ditangan Zo terdapat beberapa buku yang dia bawa dari perpustakaan.
Tidak lama kemudian sampailah mereka di rumah tuan Fiim Boju, sang juragan rean. Enma langsung memperkenalkan Zo pada tuan Fiim dan akhirnya Zo diterima menjadi pengembala rean. Zo sekamar dengan Enma. Mereka akan memulai pekerjaannya besok pagi karena semua makanan untuk rean hari ini sudah selesai dipersiapkan semuanya. Pagi-pagi sekali mereka ditugaskan untuk mengajak rean mencari makanan dipadang rumput kemudian membawa para rean kembali ketika dirasa mereka sudah cukup kenyang.
Hari itu pun berganti dengan ditandai hilangnya para kristal dilangit jingga Naolla dan munculnya Difu dan Aste yang terus saling mengejar dalam pola lingkaran dilangit putih Naolla. Sekali lagi hari ini terlewatkan oleh Zo tanpa tahu siapa Gemun Y54. Apa mau dikata? Tugas ini memang tidak mudah dan tidak akan sebentar tetapi mungkin semua ini akan menjadi hikmah tersendiri bagi Coleo Arbi itu. Jika dia berhasil, maka dia bisa meminta satu permintaan pada dewa dan itu sudah lebih dari cukup bagi Zo. Apakah permintaan itu berguna atau tidak? Lalu jika berguna, untuk siapakah? Semua itu masih belum terpikirkan oleh Zo karena dia masih fokus mencari siapakah Gemun, orang yang dimaksud oleh para dewa di ujung angkasa Naolla sana.
Zo masih sibuk membolak-balik halaman demi halaman buku yang dia pinjam dari perpustakaan Fugk. Dia sudah masuk ke buku kedua dan sepertinya masih bisa bertambah lagi mengingat Zo ternyata memiliki kemampuan membaca sangat cepat. Mungkin itulah alasan para dewa mengutusnya untuk menjalankan tugas kali ini.
Treeettt… Bunyi pintu kamar dibuka seseorang.
“Wow, kamu masih membaca Zo? Tidak keluar?”, tanya Enma yang baru masuk kekamar.
“Tanggung”, jawab Zo singkat.
“Ya sudah. Aku mau tidur saja. Capek juga seharian mengurus rean”. Enma langsung menuju kasurnya dan ambruk diatasnya. Sepertinya dia memang sangat lelah setelah seharian bekerja.
“Ternyata ada banyak suku di Naolla. Aku harus memulai dari mana? Jujur aku tidak tahu harus mengawali pencarianku dari mana. Aku bingung! Arghhh!!!”. Zo memijit dahinya yang tampaknya sedang pusing.
Karena terlalu lelah membaca akhirnya Zo tertidur sambil duduk diatas kasurnya dengan tangan yang masih memegang sebuah buku terbuka. Kasihan Coleo itu.
***
Di suatu desa yang jauh didalam sebuah hutan lebat sedang berkumpul puluhan lelaki tanpa baju, mengenakan shal dileher dan hanya mengenakan celana terbuat dari kulit pohon. Mereka sedang duduk diluar goa besar dan beberapa lelaki diantara mereka terlihat gelisah dan mondar-mandir bolak-balik. Sementara salah seorang pria tua sedang mengucap doa-doa didepan sebuah batu besar didepan mulut goa itu.
Rimbunnya tumbuhan kayu itu dihutan menyembunyikan lokasi tersebut dari kehidupan manusia diluar sana. Pepohonan yang tumbuh lebat dan menjulang tinggi seolah-olah menjadi pasukan pelindung bagi suku Kkukje. Suku ini adalah suku terpencil di pedalaman wilayah Be dan mereka tinggal didalam goa Xun Axi. Sebuah goa luas yang belum pernah ada orang yang bisa menuju ujungnya.
Bulan merah menyala yang selalu sabit di Naolla menampakkan wajahnya. Hanya dengan mengandalkan api unggun, para lelaki itu duduk didepan goa Xun Axi. Ada apa ya? Mengapa para lelaki berkumpul diluar goa seperti itu? Apakah mereka sedang melakukan tradisi nenek moyang atau memang hanya wanita saja yang diperbolehkan masuk ke dalam goa saat malam.
“Tenang sedikit dong Wooh. Istrimu pasti akan baik-baik saja”, kata salah seorang pria yang sedang duduk diatas sebuah batu.
“Tenang bagaimana? Saat istriku mau melahirkan, kamu suruh aku tenang?”. Wooh masih saja berjalan bolak-balik didepan pria itu.
“Kamu duduk saja disini! Aku pusing melihat kamu mondar mandir seperti itu”, protes lelaki itu.
“Kalau pusing jangan dilihat!”.
“Baiklah…”.
“Lama sekali… Anakku sudah lahir atau belum?”. Wooh sesekali menengok kedalam goa yang gelap.
Tiba-tiba munculah seorang wanita paruh baya dari dalam goa dengan agak berlari kecil.
 “Wooh… Anakmu sudah lahir. Silahkan kamu masuk kedalam”, ucap wanita itu.
“Hei dengar! Anakku sudah lahir… Hahahaha”. Seperti angin, kegelisahan Wooh lenyap begitu saja setelah mendengar kabar kalau anaknya telah lahir. Maka bergegaslah dia masuk kedalam goa dan langsung menuju ketempat istrinya terbaring lemas setelah melakukan persalinan.
Sesampainya disana. “Akhirnya kita punya anak juga. Wah, tampan sekali anak kita bu?”. Wooh duduk didekat istrinya.
Anak Wooh berjenis kelamin laki-laki yang sudah terbalut rapi oleh kain yang terbuat dari daun. Bayi itu sedang berada disamping ibunya yang masih terbaring lemas dengan wajah yang terlihat bahagia.
“Ibu senang Yah. Semoga dia menjadi anak yang hebat suatu saat nanti”, kata istri Wooh yang bernama Pertc itu.
“Kita beri nama siapa dia bu? Ada usul?”.
Pertc terdiam sejenak lalu wajahnya kemudian tersenyum lebar sambil menyebutkan sebuah nama, “Wooh Anm…”.
“Wooh Anm? Wooh anak langit… Arti nama itu cukup bagus. Semoga dia akan hebat seperti Anm”.
Semua pria yang tadinya berada diluar goa mulai masuk dan mengucapkan selamat kepada Wooh dan istrinya. Tanpa mereka, para orang suku Kkukje sadari Wooh Anm-lah yang nantinya menjadi orang pertama yang bisa menuju ujung angkasa Naolla karena dialah anak yang akan bergelar Gemun Y54.
Pagi pun tiba dan di balik salah satu bukit di Fugk, ratusan rean sedang menikmati makanannya. Rean-rean itu digembalakan oleh Zo dan Enma. Sambil mengembala rean, mereka mencari rumput untuk dibawa kekandang rean ketika pulang ke peternakan. Rumput-rumput itulah yang nantinya akan menjadi makanan para rean. Tangan Zo mulai terbiasa memegang pisau pemotong dan dengan cekatan dia memotong rumput-rumput itu dan setelah banyak, dia kumpulkan lalu kemudian diikat untuk mempermudah mereka membawanya.
“Ngoookkk…ngokkk… ngokkkk”. Beberapa rean terlihat bermain kejar-kejaran.
“Zo…!!! Sudah banyak? Kalau sudah, ditinggal saja disitu. Kita istirahat dulu”, ajak Enma.
“Boleh. Kebetulan rumputku sudah banyak”. Zo berdiri dan langsung mengumpulkan rumput yang telah dia potong kemudian diikatnya menjadi satu. Dia berjalan menghampiri Enma yang sedang duduk dibawah pohon.
“Sebanyak itu sudah cukup belum?”. Zo menunjuk kearah tumpukan rumputnya.
“Sudah itu. Kalau kebanyakan juga tidak habis. Rean itu proses pencernaannya lama jadi kalau kekenyangan mereka bisa muntah. Muntah rean sangat bau lho”.
“Sebau apa?”.
“Bau…..uuuuu…. banget! Pokoknya kalau kamu sampai kena muntahan rean, aku sarankan kamu cepat-cepat mengasingkan diri ketempat sunyi dan mandi selama mungkin yang kamu bisa sampai baunya hilang”.
“Masa sih? Waduh… gawat juga ya. Kecil-kecil ternyata punya senjata hebat!”, ucap Zo.
“Makanya jangan sampai mereka kekenyangan. Beri makan mereka seperlunya saja karena itu akan lebih baik bagi kita dan mereka juga”. Enma bersandar dibatang pohon.
“Setelah mengurus rean, kamu mau tidak menemani aku menuju rumah pemerintahan. Aku mau menemui Loka”.
“Apa katamu?! Untuk apa? Tidak semudah itu menemui beliau. Kamu harus mengajukan surat permohonan terlebih dahulu”.
“Lalu pada siapa aku harus meminta bantuan untuk mencari…”. Hampir saja Zo mengucapkan misi rahasianya pada Enma.
“Mencari apa?”.
“Oh, tidak jadi. Aku bisa mencarinya sendiri. Aku mau tanya. Kamu pernah dengar nama Gemun, tidak?”.
“Belum pernah aku dengar nama semacam itu. Memangnya ada apa Zo? Aku perhatikan, tingkahmu ini seperti seorang mata-mata. Apakah kamu ada misi rahasia? Jangan-jangan…”. Enma mulai menaruh curiga pada Zo.
“Jangan-jangan apa?”. Zo berusaha tenang.
“Kamu ini pembunuh bayaran…”, tebak Enma.
“Wah… Sungguh tega kamu Enma. Memangnya aku terlihat seperti pembunuh bayaran? Mana ada seorang pembunuh berbadan sekecil aku ini”.
“Siapa tahu kamu orang hebat yang menyamar menjadi orang biasa. Aku kan masih belum tahu siapa kamu, Zo”.
“Sudah ah. Kita bahas yang lain saja. Aku ini orang biasa. Aku mencari Gemun karena aku penasaran saja dengan nama itu”. Zo mencoba meyakinkan Enma.
“Ohhh..”. Enma memandang Zo dengan tatapan curiga.
Zo memalingkan wajahnya lalu bangkit berdiri dan menuju kearah sungai untuk mencuci kakinya. Aliran air jerning menyentuh kulit kakinya. Didalam hati Zo, dia merasakan kecurigaan teman barunya itu terhadap dirinya. Tetapi Zo harus menyimpan rahasia ini rapat-rapat agar misinya bisa berjalan lancar.
Srakkk!!!! Sebuah benda silinder berguling dari atas bukit dan terus turun kebawah sampai ke padang rumput didekat para rean. Benda sebesar guling itu mengagetkan Zo, Enma dan rean-rean.
“Ngokkkk… ngokkk… ngokk…. Ngokkkkk…!!!”. Para rean berlari menjauhi benda itu.
Enma dan Zo berjalan menghampiri benda yang baru saja mengagetkan mereka. Terlihat jelas jejak bekas silinder itu turun dari atas bukit ke rerumputan yang terlindas.
“Apa itu En?”, tanya Zo.
Enma menundukkan badan  dan menyentuh benda silinder tersebut. “Batu berbentuk silinder? Dari mana datangnya ini?”. Enma melihat ke arah atas bukit kemudian dia berlari kesana.
Zo mengikuti Enma.
Alangkah terkujutnya Zo dan Enma melihat sebuah  batu besar berbentuk pulau yang mungkin sebesar rumah mendarat di tanah Fugk. Batu itu berwarna hitam pekat dan tampak berasap. Namun batu itu bukan meteor atau asteroid karena batu itu tidak mengalami tumbukan dengan tanah Naolla. Bentuknya runcing dibawah dan melayang diatas tanah.
“Kita dekati?”, tanya Enma.
“Tidak mau. Benda apa itu aku juga tidak tahu. Jangan mengantar  nyawa sia-sia deh”, tolak Zo.
Tanpa menghiraukan Zo, Enma menuruni bukit dan mendekati batu melayang itu. Ketika dia sudah dekat dengan batu besar itu, dia perhatikan dengan serius dan tampaknya batu besar itu tidak asing lagi baginya.
“Inikan kristal langit? Aneh… Baru kali ini aku melihat kristal langit berwarna hitam seperti terbakar dan jatuh ke Naolla. Aku harus memberi tahu yuari secepatnya”. Enma bergegas meninggalkan batu itu dan menuju kota.
“Kemana En?”, tanya Zo dengan teriakan dari atas bukit sana.
“Jaga rean-reanku sebentar. Aku mau menemui yuari. Darurat!”. Enma terus berlari menuju kota pemerintahan Fugk. Dia mencari yuari Fugk yang sedang berjaga didalam kota. Yuari bagian apapun yang cepat dia temui akan dia kasih tahu, yang penting dia menyampaikan temuannya itu secepat mungkin. Dia melihat beberapa orang yuari sedang duduk di posnya, dipinggir kota. Itu yuari pertahanan.
“Maaf pak… anu… huh!”. Nafas Enma masih terengah-engah ketika sampai di pos jaga para yuari.
“Ya ada apa?”, tanya salah seorang yuari.
“Ada kristal langit jatuh!”.
“Apa?! Jangan mengada-ngada kamu ya”.
“Tidak pak. Saya dan teman saya melihatnya dibalik bukit diseberang sungai”.
Tak lama kemudian, beberapa yuari yang mengendarai bican, maleo besar berkaki empat, menuju lokasi yang dimaksud oleh Enma. Mereka menerbangkan para bican dengan cepat sekali untuk menuju lokasi yang dimaksud Enma. Namun sesampainya disana, mereka tidak melihat ada kristal langit yang jatuh.
“Dimana kristal langitnya?! Kamu mengigau ya?”, tanya salah seorang yuari.
Enma turun dari bican yang dikendarai oleh yuari. “Tidak pak. Tadi aku lihat kristal langit seperti habis terbakar ada disini. Bentuknya besar”. Enma mencoba menerangkan apa yang baru saja dia lihat pada para yuari itu. “Tunggu pak. Temanku juga melihatnya tadi. Itu dia. Zo, kemari!”, pinta Enma.
Zo yang berada di bawah pohon berlari mendatangi Enma diatas bukit. Setelah sampai, “Batu itu naik ke langit lagi. Kalian terlambat”.
“Benar kan pak? Tadi ada kristal langit disini”, kata Enma dengan wajah meyakinkan.
“Aneh… Ada apa ini ya? Tidak biasanya”, kata salah seorang yuari.
“Zo, batu silinder yang jatuh tadi tidak ikut naik kan?”, tanya Enma setelah dia ingat dengan bagian dari batu langit besar yang jatuh kedekat mereka.
“Tidak. Disana masih ada. Tetapi tersangkut didahan pohon”, kata Zo.
Maka bergegaslah mereka menuju lokasi yang dimaksud oleh Zo. Tepat dibawah sebuah pohon, diatas sana ada batu berbentuk silinder tersangkut didahan. Batu itu seperti balon yang tersangkut didahan.
“Ambil batu itu!”, suruh yuari yang lebih tua kepada yuari yang lebih muda.
Maka yuari muda segera menerbangkan bicannya dan mengambil batu itu. Batu itu ternyata cukup berat tetapi dia bisa terbang layaknya sebuah balon. Agar tidak terbang, yuari itu memeluknya kemudian mereka langsung kembali menuju gedung pemerintahan.
“Terimakasih anak muda”, yuari tua pun meninggalkan mereka berdua di padang rumput.
Sepeninggalnya para yuari itu. Enma dan Zo mengumpulkan para rean mereka, mengikatkan rumput yang sudah dicari tadi pada beberapa rean kemudian menggiring para rean itu pulang kekandang. Sambil menuju kandang, mereka berbincang.
“Itu tadi batu apa En?”.
“Batu langit. Tapi yang aku aneh, mengapa batu  itu bisa jatuh dan terbakar. Seumur hidupku  aku belum pernah menemukan hal seaneh itu”, jawab Enma sambil mengarahkan rean-rean berjalan.
“Berarti kejadian tadi belum pernah terjadi sebelumnya?”.
“Iya Zo. Aku jadi penasaran. Kira-kira itu berhubungan dengan apa ya?”.
Zo terdiam sejenak. Dia berfikir kalau dewa sedang merencanakan sesuatu karena hanya dewa yang bisa membuat kejadian itu bisa terjadi.
“Kok, diam Zo?”.
“Tidak… Aku hanya berfikir kalau gugurnya kristal itu adalah sebuah pertanda dari dewa. Bukan begitu En?”.
“Bisa jadi…”.
Mereka pun melanjutkan pekerjaanya menggiring rean-rean pulang ke kandang.
Beberapa hari setelah kejadian dibukit itu, Enma mendengar kabar kalau jatuhnya kristal langit memang langka dan jarang terjadi. Bahkan beberapa orang pencari berita Fugk mulai mendatangi Enma dan Zo untuk mencari tahu kronologi dari kejadian tersebut. Semua berita tulis membicarakan kejadian langka yang baru Zo dan Enma alami. Belakangan, tidak hanya pencari berita dari Fugk tetapi dari berbagai pulau dan wilayah juga ingin tahu kejadian langka tersebut sehingga berbondong-bondong datang ke pulau Fugk. Enma dan Zo kemudian juga sempat diundang ke Lembaga Penelitian Pulau Fugk untuk ditanya lebih lanjut. Zo dan Enma menjadi orang yang sangat sibuk akhir-akhir ini. Mereka menjadi pembicaraan umum dan menjadi dua orang beruntung yang pernah melihat kristal langit jatuh.
Siang itu di lembaga penelitian pulau, diruangan penelitian fenomena alam, Enma dan Zo dipanggil menghadap para peneliti Fugk.
“Selamat siang anak muda. Wah, kayaknya foto kalian berdua ada dimana-mana nih”, kata wanita dewasa berambut lurus bernama Kadfe., sambil tersenyum. Dia duduk didepan Enma dan Zo.”Bagaimana rasanya terkenal? Enak bukan?”.
“Siang bu…”, jawab mereka serempak.
“Tidak enak. Kami diburu terus”, jawab Enma.
“Bagaimana keadaan kalian? Sehat?”, tanya Kadfe lagi.
“Sehat bu. Tetapi kami sedikit tidak bebas saja akhir-akhir ini”, jawab Zo.
“Bisa kita mulai rapatnya?”, tanya tuan Conpal.
Diruangan itu ada enam orang. Enma, Zo, tuan Conpal, Kadfe, Hergd dan Aluiso. Mereka sedang melakukan rapat tindakan dan penjelasan mengenai fenomena apa yang terjadi di Fugk. Enma dan Zo di undang untuk dimintai keterangan dan juga sebagai wakil warga Fugk.
“Berdasarkan batu yang kami selidiki itu, kami menarik kesimpulan bahwa batu itu alami jatuh kebumi karena terbakar diudara. Keadaan batu yang hitam akibat terbakar itu awalnya kami kira akibat terkena senjata dari orang yang tidak bertanggung jawab namun setelah kami lakukan pengamatan diangkasa, ternyata kami tidak menemukan kristal yang terbakar. Semua kristal terlihat dalam keadaan baik-baik saja”, kata Aluiso.
“Aneh juga ya? Selama ini, kristal-kristal Naolla tidak akan mudah terbakar bahkan oleh api terpanas sekalipun. Beberapa kali memang sempat terlihat beberapa kristal mendekati puncak gunung namun hanya beberapa kali dalam sejarah kristal itu jatuh. Mungkin tuan Conpal bisa menjelaskannya nanti. Dengan kata lain, kristal terbakar memang merupakan kejadian langka dan aneh. Apakah ini merupakan pertanda?”, kata Ibu Kadfe.
Aluiso membuka buku tebal yang berada didepannya. “Ini dihalaman 249, Bab 23 tentang Struktur kristal Naolla, di jelaskan bahwa kristal-kristal itu memang mustahil rasanya bisa terbakar seperti itu. Disini tertulis jelas kristal itu sangat kuat dan anti api. Kristal-kristal itu memang bisa tampak agak kusam tetapi tidak sehitam itu”.
Mulut tuan Conpal akhirnya ikut bicara. “Ada banyak bukti sejarah yang menguatkan pendapatku tentang munculnya Gemun baru di Naolla dan hubungannya dengan jatuhnya kristal. Aku percaya kalau jatuhnya kristal kali ini berhubungan erat dengan lahirnya seorang Gemun baru yang akan mampu menuju ujung angkasa Naolla”.
Deg! Zo kaget dan benar-benar tidak tahu menahu mengenai hal ini. Sebagai seorang Coleo, memang semua urusan langit tidak pernah diberitahukan. Dia hanya melayani para dewa dan menuruti perintah mereka. “Gemun? Jadi dimana Gemun itu tuan? Dimana dia sekarang?”, tanya Zo.
“Aku tidak tahu pasti dimana orang itu berada. Dimanapun dia, suatu saat nanti dia akan menjadi orang paling hebat di Naolla ini jika berhasil menuju ujung langit dengan selamat. Ini merupakan kabar gembira dan sekaligus kabar buruk bagi kita orang Naolla”, kata tuan Conpal.
“Oh iya Zo, kamu kok tahu tentang Gemun?”, tanya Hergd.
“Ermmm.. Aku pernah mendengar saja. Aku juga tidak tahu Gemun itu siapa?”, kelit Zo.
“Maaf tuan, tetapi saya sebenarnya tidak begitu mengerti dengan Gemun. Tolong tuan jelaskan”, pinta Ibu Kadfe.
“Dengarkan aku baik-baik. Sepanjang sejarah ini, hanya ada 2 orang Gemun terdahulu yang kedua-duanya tidak berhasil mencapai ujung angkasa dengan selamat. Di catatan kuno Naolla, kedua Gemun itu bernama Trew Go yang bisa mengendalikan kristal 7I dan Gemun 01197 yang bernama asli Lel Ai. Gemun adalah sebutan untuk oarng-orang khusus yang bisa mengendalikan kristal langit. Untuk mempermudah pemberian gelar, setiap Gemun diikuti dengan nama kristal yang bisa dia kendalikan. Pada dasarnya kristal Naolla bisa dikendalikan oleh siapa saja yang ingin mengendalikannya tetapi hanya orang Gemun alami lah yang bisa mengendalikan salah satunya. Beberapa kali sejarah pernah mencatat para Gemun buatan tetapi tidak ada satupun yang mampu mengendalikan kristal Naolla. Nah, kemunculan Gemun alami inilah yang ditandai oleh jatuhnya kristal langit. Jika dilihat dari pandangan sejarah, maka saat ini Gemun alami telah lahir disuatu tempat di Naolla. Kalau dia memiliki tujuan baik, maka Naolla akan selamat tetapi jika tidak maka Naolla akan kembali menderita”. Tuan Conpal menjelaskan.
“Berarti Gemun itu bisa siapa saja asalkan dia adalah orang yang ditakdirkan untuk menjadi Gemun alami?”, tanya Aluiso.
“Benar sekali. Kita tidak akan tahu siapakah Gemun itu kecuali kita melihat kemampuan pengendalian kristalnya”, jawab tuan Conpal.
Zo berfikir sejenak seperti paham dengan sesuatu. “Berarti Gemun Y54 adalah julukan untuk pengendali kristal langit dengan kode Y54”, pikirnya. “Aluiso. Kalau kristal Y54 yang mana? Aku ingin tahu”.
“Y54? Sepertinya belum ada kristal dengan nama itu. Untuk pemberian nama, dibuku ini dijelaskan hanya sampai Y053 dan langsung ke Z”.
“Jadi kristal yang jatuh tempo hari kodenya apa?”, tanya Zo.
“Belum punya nama…”, jawab Aluiso.
Zo mulai paham dan sepertinya itulah kristal yang akan dikendalikan oleh Gemun Y54 si Gemun alami yang ada disuatu tempat di Naolla ini.
“Bagaimana kalau kristal itu kita berinama Y54 saja”, usul Ibu Kadfe.
“Boleh juga. Aku setuju itu”, kata Aluiso. “Tetapi kalau kejadian ini berkaitan dengan munculnya Gemun, lalu apa yang harus kita perbuat?”.
Hergd menjelaskan, “Orang Naolla adalah orang yang memandang Gemun sebagai wakil dewa di Naolla. Kemunculan Gemun bisa membuat Naolla menjadi semakin baik atau semakin terpuruk. Keadaan masyarakat yang seperti inilah yang menjadi pendorong Gemun untuk menuju ujung angkasa. Gemun hanya akan dianggap menjadi wakil dewa ketika dia berhasil sampai diujung langit dan kembali ke Naolla dengan selamat. Orang-orang diluar sana masih belum mengetahui ini dan mereka masih terus berspekulasi sesuai dengan apa yang mereka anggap benar. Bukan begitu Enma? Kamu selalu ditanya mengenai kristal jatuh dan akhirnya semua keterangan Enma maupun Zo akan ditulis dan disebar luaskan. Ada yang beranggapan itu khayalan, benda dari dimensi lain atau petunjuk kematian. Mereka bebas menuangkan pandangan mereka tetapi ini tidak bisa dibiarkan. Maka dari itu saya selaku pengamat sosial masyarakat Naolla ingin sesegera mungkin menjelaskan kejadian ini pada seluruh orang Naolla agar isu ini tidak merambat semakin luas”.
“Saya juga sependapat denganmu, Hergd. Jika tidak secepatnya kejadian ini dijelaskan kemasyarakat, tentu akan menjadi semakin meluas permasalahannya”, kata Kadfe.
“Sebagai orang Fugk yang sedang dicari para pemburu berita, kalian tentu merasa menjadi kurang bebas bukan? Untuk itu saya mengundang kalian kemari agar kita melakukan klarifikasi dan penjelasan kepada masyarakat Naolla  tentang kejadian ini. Jika tidak ada halangan, kami akan melakukan pertemuan dengan para pencari berita besok malam di gedung pemerintahan dihadiri oleh Loka dan juga ketua Yuari Fugk. Kalian siap?”, tanya Hergd pada Zo dan Enma.
“Kami akan usahakan”, jawab Zo.
“Baiklah. Kami akan berusaha datang”, timpal Enma.
“Saya rasa cukup untuk pertemuan kita kali ini. Saya harap kalian bisa hadir semua di acara besok malam. Terimakasih”, ucap tuan Conpal sambil beranjak dari tempat duduknya dan menyalami satu per satu orang didalam ruangan itu.
***
Mata seorang lelaki terlihat mulai mengeluarkan air mata. Tetapi wajahnya yang terluka masih berusaha tersenyum sambil sesekali berusaha mengepakkan sayap birunya yang terus merontokkan bulu-bulu. Air matanya mulai mengalir membasahi pipi dan menyisakan bekas. Tangannya masih berjuang untuk digerakkan dan meskipun sudah berusaha namun tetap tidak bisa. Coleo Arbi yang sudah tidak mampu bergerak lagi kini sedang jatuh bebas melewati kristal-kristal langit Naolla.
Zo masih tidak tahu harus berbuat apa lagi selain pasrah. Matanya masih melihat lurus ke ujung angkasa yang semakin menjauhinya. Pandangannya mulai kabur.
Druakkk!! Terasa tubuhnya menyenggol kristal langit dibagian bahu kiri sehingga membuatnya meringis kesakitan. “Arghhhh….”. Zo menutup mata karena saking sakitnya.
***
Malam pertemuan membahas kristal jatuh di Fugk akhirnya tiba. Para tamu undangan dan beberapa pencari berita sudah memenuhi ruangan aula Fugk. Didepan sana sudah tersedia meja dan beberapa kursi untuk para tamu penting dan beberapa petinggi Fugk.
“Kiri, kiri! Ya disana”, kata salah seorang wanita mengarahkan seorang laki-laki yang membawa kursi untuk tempat duduk para tamu.
Beberapa pencari berita juga sudah mulai berdatangan dan ada pula beberapa yang sedang asyik berbincang-bincang di dalam ruangan itu. Disisi lain tampak beberapa pria sedang mengatur kursi dan juga perlengkapan lainnya.
“Dimana Verp sekarang? Tidak kelihatan akhir-akhir ini”, tanya pria bertopi.
“Biasa lah… Dia kan selalu banyak urusan. Urusan pribadi…”, jawab pria berjaket sambil tersenyum.
“Kamu sendiri masih di Tu Daslo?”.
“Masih. Disana upahku sebagai pencari berita lumayan besar. Kenapa kamu tidak pindah ke Tu Daslo saja? Ikut denganku”.
“Jangan meledek. Kamu sih enak bisa pindah ke sana. Kalau aku kayaknya belum bisa nih. Soalnya kontrakku dengan Nonjow masih lama jadi tidak bisa secepat itu pindah tugas”.
Dari arah pintu samping, telah masuk tuan Loka Ole Olbu dan diikuti oleh para tamu penting lainnya. Terlihat ada tuan Dbehuku si ketua pasukan yuari Fugk, tuan Conpal, Aluiso dan Zo. Enma tidak bisa hadir ke acara tersebut karena tidak diijinkan oleh tuan Fiim. Maka dari itu cukup Zo yang hadir sebagai narasumber saksi mata kejadian.
“Selamat malam para tamu undangan dan pencari berita semua. Sehat?”, tanya tuan Olbu dengan senyum khasnya yang ramah. “Wah, heboh ya akhir-akhir ini. Fugk jadi terkenal”, ucap beliau sambil duduk dan bercanda sedikit. Meskipun diusiannya yang sudah menginjak 57 tahun tetapi beliau masih terlihat bugar. “Kita langsung mulai saja acara kita kali ini. Pertama-tama saya selaku Loka Fugk ingin mengucapkan terimakasih atas kedatangan kalian pada hari ini. Saya sudah mengamati perkembangan Fugk dan wilayah-wilayah lainnya  beberapa waktu belakangan dan hampir semua berita yang beredar memuat tulisan tentang jatuhnya kristal langit. Saksi mata kejadian tersebut juga menjadi terkenal, ya?”. Beliau menoleh kearah Zo sambil tersenyum. “Butuh waktu untuk menyimpulkan kejadian itu dan saya percaya lembaga penelitian Fugk sudah mendapatkan jawabannya. Maka dari itu pada kesempatan kali ini saya mengumpulkan semua pencari berita agar tidak semakin bebas mengemukakan pendapat orang lain yang belum pasti kebenarannya. Walaupun maksud dari pemberitaan itu hanya sebagai menyampaikan opini masyarakat tetapi alangkah baikknya jika kita tidak memperkeruh situasi ini. Saya rasa tuan Conpal bisa memberikan penjelasan mengenai kejadian ini. Silahkan tuan”.
“Terimakasih Loka. Baiklah para tamu sekalian. Sebagai pengamat sejarah Naolla, ada sebuah catatan kuno yang menjelaskan bahwa jatuhnya kristal langit merupakan sebuah pertanda telah hadir ditengah-tengah kita seorang pengendali kristal yang bergelar Gemun. Jika kalian ingin mendapatkan info lebih akurat mengenai Gemun itu, silahkan mencari data di perpustakaan Fugk. Di beberapa buku sejarah ada yang menyertakan data-data salinan data kuno yang menjelaskan ini. Jadi, kalian tidak perlu lagi membeberkan opini samar yang mungkin saja menimbulkan opini baru di masyrakat”, kata tuan Conpal.
Seorang laki-laki muda mengacungkan tangan untuk bertanya.
“Ya silahkan”, kata tuan Conpal.
“Benarkah kristal itu hanya pengalihan isu dari ketegangan pembentukan sila baru di Fugk barat?”.
“Mungkin Loka lebih berhak menjawab ini”. Tuan Conpal kembali diam.
“Hahaha… Itulah mengapa saya tidak mau menyuruh anak saya menjadi pencari berita. Bukan karena mereka selalu sibuk dilapangan melainkan karena kebanyakan berfikiran terlalu negatif. Maaf ya. Sila 45 yang akan saya bagi menjadi dua dikarenakan sila itu sudah memenuhi syarat untuk menjadi sila baru dan populasinya sudah terlalu padat. Tidak ada hubungannya dengan kejadian ini. Kalian sudah mencari tahu langsung ke lokasi jatuhnya kristal bukan? Sudah bertanya dengan Zo atau Enma? Kalau kami ingin mengalihkan isu, tentunya kami tidak memiliki pecahan kristal yang terikat di ruangan khusus lembaga penelitian pulau. Yang bisa mengendalikan kristal hanya Gemun dan kami bukan Gemun. Jangan membuat fitnah semacam itu kalau tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Jelas ya?”, jawab Loka.
“Kami memang sudah mengambil foto batu terikat di ruangan itu, tetapi mengapa bagian kristal langit tersebut seperti terbakar?”, tanya pria itu lagi.
“Baik, saya akan terangkan sedikit. Kristal Naolla sebenarnya memang tidak bisa terbakar tetapi kejadian kali ini berbeda dan sangat aneh bagi kita semua. Tidak ada orang yang mampu membakar kristal seperti itu. Kristal itu adalah jenis kristal baru yang kami beri nama Y54. Jadi kami masih tidak bisa memberi penjelasan mengapa kristal itu bisa terbakar”, kata Aluiso menjelaskan.
Para pencari berita terus mencecar pertanyaan-pertanyaan kepada semua narasumber yang duduk di depan mereka. Walaupun agak a lot tetapi akhirnya acara itu pun selesai juga.
Zo dengan santainya berjalan menuju asrama tuan Fiim. Gelapnya malam menyembunyikan bentuk-bentuk benda yang berada di kejauhan. Zo masih terus menjejakan kakinya di tanah Fugk yang agak tandus. Namun langkah kaki Zo terhenti di atas bukit tempat mereka melihat kristal Y54. Walau gelap dan hanya ditemani bulan sabit merah di langit sana, Zo terduduk diatas bukit. Dia memunculkan sayapnya kemudian menyelimuti tubuh kecilnya. Zo agak bingung saat itu. Dia benar-benar pusing menjawab teka-teki dari dewa untuknya. Karena kelelahan, akhirnya dia tertidur sambil duduk dengan tangan memeluk lutut yang ditekuk dan kepala mencium lututnya. Sayapnya menyelimuti tubuh dan berakhirlah kesibukan Zo dihari itu. Coleo Arbi itu benar-benar merasa lelah sekali dan semoga saja tidak ada orang yang melihatnya tertidur dengan wujud Arbi-nya.
Beberapa tahun tinggal di asrama tuan Fiim membuat identitasnya semakin mencolok. Bagaimana tidak? Perawakan dan wajah Zo yang masih tetap muda membuat dia berbeda dari orang manapun di Naolla. Keabadiannya yang membuat dia tetap seperti itu. Enma yang sudah lama keluar dari peternakan rean itu sangat kaget melihat wajah Zo yang masih seperti dulu, ketika suatu hari mereka tidak sengaja bertemu di sebuah rumah makan.
“Sumpah! Aku tidak melihat satu keriput pun di wajahmu Zo. Aku tadi mau menegurmu tetapi aku tidak percaya bahwa kamu masih semuda dulu, saat pertama kita bertemu. Kamu Zo Agif Ree, bukan?”, tanya Enma lagi.
“Iya… Aku Zo, temanmu sekamar di peternakan rean tuan Fiim. Kamu sekarang sudah tua ya”. Zo sambil meminum minumannya.
Mereka sedang duduk disebuah rumah makan kecil dikota.
“Kamu semuda anakku Zo. Aku punya anak laki-laki dan aku rasa kalian sama mudanya”. Enma masih menatap wajah Zo seperti tidak percaya bahwa itu temannya yang dia kenal 40 tahun lalu. Yup, emapat puluh tahun sudah mereka kenal dan 40 tahun juga Zo tinggal di Fugk.
“Wah, aku awet muda ya? Kamu sudah punya anak berapa?”, tanya Zo.
“Baru satu. Kami tinggal di sila 25. Kamu mau mampir?”.
“Kapan-kapan aku mampir kerumahmu”.
“Kamu masih di peternakan? Kamu sudah berkeluarga?”, tanya Enma.
“Iya aku masih disana dan sekarang tugasku hanya membantu anak tuan Fiim mengelola peternakan rean. Tetapi aku masih belum berkeluarga. Masih terlalu muda. Hahahaha”, canda Zo.
Enma yang sudah beruban dan tua hanya tersenyum sambil meneguk minumannya. Walau sebenarnya dia agak aneh melihat Zo semuda itu tetapi dia berfikiran positif saja pada sahabatnya tersebut. Mereka sudah banyak melewati waktu bersama-sama dipeternakan dan itu sudah lebih dari cukup untuk saling mengenal. Walaupun usia Enma sudah tidak muda lagi tetapi dia merasa beberapa tahun lebih muda ketika melihat Zo. Teringatlah kenangannya di peternakan bersama Zo. Mereka terlihat tertawa saat mengulang cerita lama ketika menjadi pengembala rean. Ada banyak cerita yang tidak bisa Zo jelaskan pada Enma mengenai keawet mudaanya ini. Padahal Zo juga mulai risih tinggal di Fugk karena hanya dia yang berbeda dan tidak pernah tua. Zo berniat untuk pindah dari Fugk dan mencari Gemun Y54.
Selama berpuluh-puluh tahun mencari, dia masih belum menemukan Gemun Y54. Hampir setiap malam Zo melakukan perjalanan menggunakan hajunba yang dia beli dari gerai hajunba di Fugk untuk mencari Gemun Y54 namun belum juga membuahkan hasil. Hampir semua wilayah telah dia datangi tetapi tidak ada satu orangpun yang pernah kenal atau bertemu dengan Gemun Y54. Zo hanya khawatir kalau dia sampai terlambat mencegah Gemun itu menuju keujung langit.
Zo tampak berjalan mengikuti jalan berbatu menuju kawasan kota Luthide di pulau Volise yang jauh ditenggara Naolla. Heningnya perkebunan buah merambat menghanyutkan suasana di bawah langit putih. Dengan berbekal beberapa bojce untuk berdiam diri beberapa hari disana, dia mencoba mencari informasi mengenai Gemun baru.
Situasi Naolla saat itu sebenarnya kurang baik karena terjadi kekacauan di Hrewa Kufe akibat raja Edka Higudasa yang tiba-tiba menghilang dari Naolla sehingga kekuasaan untuk sementara di pimpin oleh Sukaw Torana bersama Xano. Banyak dampak yang tidak mengenakkan yang ditimbulkan dari menghilangnya raja Vocare ke-10. Sistem pemerintahan menjadi sedikit kacau dan mungkin akan bertambah kacau lagi jika Sukaw yang memimpinnya. Anak raja Edka yang masih berumur delapan tahun rasanya masih belum siap untuk memimpin kerajaan besar seperti Hrewa Kufe.
Tidak terkecuali dengan pulau Volise. Sebagai pemasok buah Mrebaq yaitu buah anggur yang tersusun seperti kalung mutiara dan berwarna merah seperti cherry, Volise terbebani dengan rendahnya harga beli yang ditawar oleh Hrewa Kufe dan negara-negara besar lainnya. Pajak pengiriman pun tidak sebanding dengan untung yang sedikit. Untuk itulah orang Volase mengganti komuditas ekspornya dengan Kotun dari Mrebaq. Pembuatan kotun sangatlah gampang. Buah mrebaq yang sudah masak, tengahnya diisi dengan selai manis kemudian dipanggang hingga kering. Setelah itu mrebaq tadi digoreng dengan terlebih dahulu dibaluri tepung dan setelah matang maka siap dikemas sebagai makanan ringan. Selain tahan lebih lama, kotun mrebaq juga banyak disukai di wilayah-wilayah tetangga Volase. Itulah yang membuat warga Volase dapat bertahan hidup.
“Permisi… “. Zo masuk kedalam sebuah toko yang menjual banyak kotun mrebaq.
Seseorang dari arah dalam toko keluar dan wanita itu langsung melayani Zo. “Mau beli apa nak?”.
“Kotun ini berapa harganya bu?”, tanya Zo sambil mengambil sebungkus kotun mrebaq.
“Itu satu ukru kalau beli yang bungkus agak kecil itu satu oanuk”, jawab wanita itu.
Zo masih memilih-milih kotun di rak itu. Setelah didapatnya bungkusan yang tepat, dia mengambilnya. “Saya ambil yang kecil saja dua bungkus. Ini bojcenya”. Zo menyerahkan sedikit takaran bojce pada wanita itu.
“Terimakasih nak”.
Zo kemudian pamit dan melanjutkan perjalanannya. Ditengah jalan yang kiri-kanannya terhampar luas kebun mrebaq, Zo berhenti dan duduk dibawah pohon. Dia membuka bungkus kotunnya dan kemudian menyantap makanan tersebut.
“Hmpppp… enak sekali. Manis”.
Zo terlihat menikmati makanannya sambil mengagumi keindahan perkebunan mrebaq disana. Zo sedang menjalankan sebuah tugas rahasia dari Loka Ole Olbu untuk menemukan Gemun Y54. Meskipun Loka Olbu telah wafat, tetapi tugas yang dia berikan terus dipantau oleh loka-loka setelahnya. Sudah tiga orang loka yang menjabat setelah Loka Olbu, tetapi Gemun Y54 masih belum berhasil dia temukan keberadaannya. Untuk tugas ini, dia dibekali sebuah kartu pengenal yang membuatnya bisa meminta informasi di wilayah manapun di Naolla atas nama pulau Fugk. Zo bersyukur bisa diberi kesempatan itu karena sebenarnya hanya Loka Olbu yang tahu kalau dia adalah Coleo Arbi. Tuan Olbu hanya ingin memastikan kalau Gemun baru yang ada di Naolla kali ini adalah seorang yang memiliki tujuan baik bagi Naolla. Karena tujuan Zo dan tuan Olbu agak mirip maka Loka Fugk itu pun akhirnya diajak bekerjasama oleh Zo dengan harapan dia bisa lebih cepat menemukan keberadaan sang Gemun.
“Wah ternyata makananku sudah habis”. Karena keasyikan menikmati pemandangan alam, dia tidak sadar kalau makanannya sudah habis. Setelah itu dia berdiri dan kembali melanjutkan perjalanan menuju kota untuk mencari informasi di pusat ilmu pengetahuan Volise. Zo mengenakan jaket hitam berbahan kulit, tas punggung dan celana panjang berwarna hitam juga. Sesampainya di gedung ilmu pengetahuan Volise, dia dengan mudah masuk ke dalam dan langsung menemui kepala gedung tersebut.
“Selamat datang. Silahkan duduk”. Pria dewasa itu menjabat tangan Zo.
“Terimakasih pak”. Setelah bersalaman, Zo melepaskan jabatan tangannya dan duduk.
“Ada perlu apa anak muda?”.
“Hanya ada sedikit hal yang harus saya tanyakan pada anda. Kenalkan nama saya Zo Agif Ree asal dari Fugk”.
“Saya Gunda Lopu. Kamu mau bertanya apa?”.
“Begini pak. Kami perlu banyak data mengenai Gemun dari bapak. Apakah bapak tahu tentang Gemun?”.
Setelah terlibat perbincangan antara Zo dan Gunda akhirnya Coleo itu mohon undur diri dan meninggalkan gedung itu. Dia masih belum mendapatkan dimana Gemun Y54 berada. Mencari sorang Gemun memang sama seperti mencari jarum didalam tumpukan jerami. Sangat sulit. Namun Zo masih belum menyerah. Berkat Gunda dia tahu kalau di seberang laut Volise ada wilayah Be yang masih terpencil dan memiliki suku-suku pedalaman. Be adalah wilayah yang sangat luas di benua Haztag dan cukup tertinggal dari wilayah lain di Naolla. Penduduknya sangat miskin dan keadaan alamnya masih sangat terjaga. Meskipun Zo ingin mengunjungi daerah itu, tetapi dia harus mengurungkan niatnya untuk sementara waktu karena hajunbanya masih dalam keadaan reload. Butuh waktu semalaman agar hajunba itu bisa digunakan kembali. itulah kelemahan hajunba kecil. Hajunba adalah dimensi ruang yang bertujuan untuk mempermudah perpindahan benda dalam kapasitas kecil dan terbatas. Meskipun Zo memiliki dua buah hajunba, tetapi kedua hajunba itu sama-sama masih dalam keadaan reload. Jadi lah Zo hanya bisa pasrah dan bermalam disalah satu penginapan di Luthide.
Bulu-bulu berwarna biru rontok dari sayap Zo. Meskipun dia berusaha meregenerasinya tetapi kekuatan tubuhnya yang semakin terkuras habis mengakibatkan bulunya mudah sekali rontok. Bulu-bulu lembut itu beterbangan diangkasa Naolla seperti salju yang jatuh dari langit. Perlahan-lahan bulu itu jatuh kebawah mengikuti pemiliknya. Bulu-bulu itu jatuh dengan gerakan zig-zag lembut dan berayun. Ribuan bulu yang rontok dan jatuh kebawah mengingatkan kita pada dedaunan yang jatuh dari pohon-pohon ketika musim gugur. Mata Zo melihat jelas hujan bulu yang dibuat olehnya. Bulu-bulu indahnya itu sangat banyak dan jatuh perlahan kebawah.
“Fiko… maafkan aku. Aku gagal…”. Air mata Zo tidak bisa terbendung lagi.
Diantara tangisnya dia mengingat wajah ceria Fiko ketika pertama kali mereka bertemu.
Beberapa tahun setelah tidak menemukan titik terang tentang keberadaan Gemun Y54, Zo berniat menyusun rencana baru. Selain karena hampir putus asa, Zo juga mulai tidak nyaman tinggal di Fugk. Semua orang kini membicarakannya karena dia adalah orang tertua yang tidak bisa mati dan menua. Tentu identitasnya semakin dipertanyakan dan wajahnya sering menghiasi berita tulis di Fugk.
Langkah kaki seorang laki-laki perlahan-lahan masuk kedalam ruangan penyimpan hajunba. Dia memasuki lorong yang gelap dengan hati-hati. Tampak disebelah sana dua orang yuari sedang berjaga didekat pintu masuk ruangan penyimpanan hajunba tersebut.
“Aku harus masuk”, kata orang itu.
Dengan memunculkan sayapnya dia ubah beberapa bulu menjadi besi dan dia tembakkan kesalah satu sudut gelap diluar ruang penyimpanan untuk mengalihkan perhatian kedua yuari penjaga.
Trak-trak-trak!
“Woy! Siapa itu? Ayo kita lihat!”, ajak salah seorang yuari.
Kedua yuari itu pun menuju lokasi sumber bunyi dan meninggalkan pintu. Orang yang membuat senjata bulu tadi langsung bergegas membuka pintu dan masuk kedalamnya. Dia langsung menuju lemari penyimpan hajunba dan mengambil enam buah hajunba didalamnya.
“Ini sudah cukup”.
Segera orang itu langsung mengatur salah satu hajunba itu ditepi pintu lemari kemudian muncullah ruang dimensi. “Ke hajunba Zokle”, perintahnya.
Hajunba itu langsung membuka dimensi ruang dan menuju sebuah hutan lebat yang tidak dikenal oleh orang itu. Sebuah hutan lebat dan tampak tidak terjamah orang.
Semenjak kejadian di hari penghancuran Naolla oleh raja Edka gagal, dengan mengorbankan tubuh Ray dan menciptakan tsunami dahsyat, pintu hajunba zokle tersapu ombak dan terbawa kesebuah hutan di wilayah Tu Daslo. Entahlah pintu itu masih aktif atau tidak tetapi Zo sudah mengetahui cara membuka hajunba itu walau tanpa kuncinya. Zo membersihkan sedkit pintu zokle dari akar-akar dan tanah. Lalu setelah cukup bersih, dia bergegas menyiapkan empat buah hajunba sebesar biji kopi itu untuk ditaruh di keempat sudut pintu. Setelah menunggu beberapa saat dimensi ruang mulai muncul dan stabil. Zo langsung mengambil salah satu biji hajunba untuk membuat wilayah segitiga hitam bekas pengaruh ruang dimensi. Meskipun hanya tiga detik waktunya tetapi Zo harus bisa memanfaatkan itu. Maka dia bergegas masuk kedalam dimensi gelap dan setelah berada disana dia mengaktifkan sebuah hajun lagi sehingga tiba-tiba tubuhnya berada disebuah rumah kayu yang sepi sekali.
“Hah? Dimana ini? Sudah di luar Fugk kah?” Zo mengambil hajunbanya kemudian bergegas menuju pintu depan rumah tersebut dan ketika melewati ruang tamu, terpajang jelas dua buah foto yang digantung didinding. Zo berhenti sejenak memperhatikan wajah dua orang didalam foto itu.
“Aku kenal dengan pria yang satu ini. Ini Ray. Ternyata memang benar kata orang-orang kalau aku ini sangat mirip dengan Ray si azzo dewa itu. Berarti ini rumah mereka? Tapi Ray kan sudah lenyap. Siapa yang tinggal dirumah ini?”.
Tanpa banyak bicara lagi, dia kembali menuju pintu depan. Namun ketika hendak membuka pintu rumah tersebut ternyata pintunya terkunci dari luar. “Arghh! Terkunci”. Dari pada bingung, Zo akhirnya masuk kedapur dan mencari makanan saja. Dia membuka lemari makanan yang berada disana. Dia seperti sudah menganggap rumah itu adalah rumahnya sendiri.
“Wah, ada makanan. Tapi bagaimana cara memakannya?”.
Zo mengambil sebungkus ramen instan. Dia baca petunjuk penyajian dibalik kemasan lalu mulai menyiapkan panci dan air untuk memasak ramen.
Zo mencoba menghidupkan kompor. “Waduh, bagaimana cara memakai alat ini?”. Zo masih memperhatikan alat yang sangat aneh baginya. “Huh… Lapar sekali!”. Karena belum bisa menggidupkan api di kompor, akhirnya Zo mengurungkan niatnya memasak ramen. Dia bergerak mengambil minuman didalam lemari pendingin dan meminumnya. Zo membawa minumannya duduk lesehan dimeja makan dapur sambil menopang pipi kirinya menggunakan tangan.
“Ternyata ini di bumi. Ini dirumah Fiko Vocare”. Zo melamun sambil memainkan kaleng minumannya. “Mungkin disini aku bisa meminta bantuan anak itu untuk membantuku menemukan Gemun. Siapa tahu dia punya cara yang tepat”.
Setelah menghabiskan minuman kalengnya, Zo kembali bergegas menuju kulkas. Dia mencari minuman yang mungkin bisa dia taruhnya didalam gelas.
Crek! Tampaknya ada orang yang membuka pintu rumah depan. Zo menengok ke arah pintu dan tampaklah tubuh berotot dan tampan milik seorang laki-laki bernama Fiko Vocare masuk kedalam rumah.
“Wah, dia sudah datang. Aku beri minuman ini saja. T-t-ti..teh”, dia membaca nama minuman itu dengan terbata-bata. Kemudian dia tuang kedalam gelas dan membawanya keluar dapur untuk diserahkan pada Fiko yang tampaknya sedang kelelahan dan berbaring dilantai ruang tengah.
Zo langsung saja menghampiri Fiko dan menegurnya. “Capek ya? Ini ada teh silahkan diminum”, ucap Zo.
Fiko menoleh ke arah Zo yang sedang memegang segelas teh. Wajah Fiko tiba-tiba menjadi ceria dan sepertinya senang dengan kemunculan Zo. Fiko bangkit dari posisi tidurnya dan langsung berdiri lalu memeluk tubuh Zo. “Ray? Kau kah ini?, tanya Fiko.
Teh digelas Zo tumpah sedikit kelantai akibat goncangan dipeluk tubuh berotot Fiko.
“Wah… Kenapa dia memeluk aku?”, pikir Zo. Karena tidak senang maka Zo meminta Fiko melepaskan pelukannya. “Lepaskan!”. Zo mendorong perut Fiko hingga tubuhnya menjauh dari Fiko. “Apa-apaan kamu ini. Main peluk saja. Tuh kan, tehnya tumpah”.
“Kamu Ray? Bukan ya? Kok…”. Fiko tampaknya kebingungan melihat orang yang sangat mirip Ray sedang berada dihadapannya. “Dari mana kamu masuk? Jangan-jangan kamu ini pencuri”.
“Bukan, aku bukan pencuri. Aku orang Naolla. Namaku bukan Ray tapi Zo! Kamu main peluk saja. Untung teh ini tidak aku siram ke badanmu yang besar itu”, kata Zo.
“Kamu dari Naolla? Bagaimana bisa? Siapa yang mengirimmu kemari?”.
Zo berjalan kembali menuju dapur untuk mengganti tehnya yang tumpah. “Aku sengaja kabur dari Naolla”.
“Kamu berasal dari wilayah apa?”. Fiko mengikuti langkah Zo.
Zo meletakkan gelas di tempat pencuci piring kemudian mengambil minuman kaleng dari dalam kulkas dan menyerahkannya pada Fiko. Dia begitu santainya seperti dirumah sendiri. “Ini minum dulu. Kamu Fiko Vocare, bukan? Aku berasal dari Fugk. Nanti akan aku ceritakan padamu mengapa aku bisa sampai kemari. Yang jelas aku bukan penjahat atau pun pencuri. Maaf aku masuk rumahmu seenaknya saja. Tadi aku mau keluar dari rumah ini, tapi karena aku lapar jadi aku cari makanan dulu didapur”. Zo tersenyum.
Gluk-gluk-gluk! Fiko meneguk air dinginnya. “Ah… segarnya. Maaf tadi aku memelukmu. Wajahmu itu sangat mirip dengan Ray”.
“Iya aku sering dibilang begitu tetapi aku bukan Ray. Hmppp… Kamu sendirian di rumah ini?”.
“Begitulah. Setelah Ray tidak ada, aku tinggal sendirian di negara ini”. Fiko kembali meneguk airnya.
“Boleh tidak aku tinggal untuk sementara waktu disini? Aku janji tidak akan merepotkanmu. Soal makan, aku bisa mencari bojce sendiri”. Zo tidak tahu harus kemana lagi. bumi masih sangat asing baginya.
“Uhuk!”, Fiko tersedak sambil tertawa. “Hahahahaha…”
Zo bingung melihat pria yang lebih tinggi darinya itu. “Kenapa kamu tertawa?”.
“Ini di bumi bukan di Naolla. Bojce tidak berlaku disini. Kamu harus mencari ini…”. Fiko mengambil beberapa lembar uang yen dari saku celananya kemudian dia perlihatkan kepada Zo.
“Oh, jadi dibumi ini kita harus mencari kertas?”.
“Yup, begitulah. Kalau mau tinggal disini silahkan. Aku senang ada teman. Tapi kamu harus segera beradaptasi dengan bumi. Jangan seperti orang bodoh ya”, pinta Fiko.
“Baiklah. Terimakasih”.
“Silahkan ambil di kulkas kalau kamu mau minum. Ambil saja tidak perlu sungkan. Aku mau mandi terlebih dahulu”. Fiko meletakkan kaleng minumannya diatas kulkas dan kemudian langsung bergegas menuju kamar mandi. Mungkin jika tadi Zo tidak memiliki wajah mirip Ray, Fiko tidak akan banyak kompromi lagi untuk segera menghajar Zo yang lancang masuk kedalam rumahnya. Beruntunglah wajah Zo menyelamatkannya dari pukulan Fiko Vocare.

1 komentar: