Hunk Menu

Overview of the Naolla

Naolla is a novel which tells about life of Hucky Nagaray, Fiko Vocare and Zo Agif Ree. They are the ones who run away from Naolla to the Earth. But only one, their goal is to save Naolla from the destruction.

Book 1: Naolla, The Confidant Of God
Book 2: Naolla, The Angel Falls

Please read an exciting romance novel , suspenseful and full of struggle.
Happy reading...

Look

Untuk beberapa pembaca yang masih bingung dengan pengelompokan posting di blog ini, maka saya akan memberikan penjelasannya.
(1)Inserer untuk posting bertemakan polisi dan dikutip dari blog lain;(2)Intermezzo adalah posting yang dibuat oleh pemilik blog;(3)Insert untuk cerita bertema bebas yang dikutip dari blog lain;(4)Set digunakan untuk mengelompokan posting yang sudah diedit dan dikutip dari blog lain;(5)Posting tanpa pengelompokan adalah posting tentang novel Naolla

Sabtu, 17 November 2012

Naolla, The Confidant of Gods : Three Dick


Beberapa hari kemudian Sukaw, melalui Yuari, berhasil menemukan persembunyian baru Ray dan Fiko. Sukaw yang sudah sangat marah, menginginkan Ray segera dibawa kehadapannya untuk menjadi azzonya. Juyu Ahega dan para yuari ditugaskan untuk membawa Ray hidup-hidup ke hadapan Raja Sukaw. Dengan hajunba modifikasi yang baru, mereka berhasil mengirim puluhan yuari untuk menangkap Ray dibumi. Siapa yang akan merubah nasib Naolla? Tidak ada yang bisa memastikan jawaban dari pertanyaan itu. Sekarang Ray dan Fiko harus berjuang sendiri di La Paz agar tidak tertangkap para yuari Vocare. Setidaknya sampai bantuan datang dari Fugk.
Angin bertiup sangat kencang. Gelapnya malam semakin kelam dengan deretan awan hitam yang menutupi langit La Paz. Suara dedaunan kering yang tertiup angin mencoba ikut berbunyi di antara suara hembusan angin. Diujung jalan sana tampak sesosok tubuh berotot Fiko yang sedang mengenakan kaos berlengan panjang tampak terburu-buru menerobos angin. Trotoar malam itu cukup lengang dari orang berlalu lalang. Mungkin ini disebabkan cuaca yang sedang kurang bersahabat.
Dijalanan yang cukup ramai oleh kendaraan bermotor, sesekali cahaya lampunya menyorot Fiko. Jam disana menunjukkan pukul 07.12 pm. Fiko baru saja pulang dari tempat kerja barunya. Rasa lelah akibat bekerja seharian, mulai terkikis ketika Fiko mengingat Ray yang selalu mencintainya. Malam ini Fiko berulang tahun. Untuk merayakan hari kelahirannya tersebut, Fiko ingin malam ini bisa makan berdua dengan Ray. Ditangan kanannya sudah terdapat sebuah benda terbungkus kantong kresek.
“Aku sudah tidak sabar ingin memakan kue ini bersama Ray”, ujar Fiko sambil tersenyum sendiri memandang bungkusan ditangannya.
Suara gesekan antara kaki dan trotoar menemani Fiko menuju rumah Alva. Langkah yang menggambarkan semangat. Memang inilah cinta Fiko untuk Ray. Dia selalu ingin menjadi bagian dari diri Ray dan tak ingin Ray merasa jauh darinya. Setiap saat ditempat kerja, Fiko selalu memikirkan Ray. Ray begitu berarti bagi Fiko dan tak akan tergantikan. Sekarang Fiko sudah sampai dipersimpangan jalan. Diseberang sanalah letak apartemen Alva yang mereka tumpangi di La Paz. Sebelum menyeberang, Fiko mengisyaratkan pada pengendara untuk memeberinya kesempatan menyeberang. Tak berapa lama kemudian sampailah Fiko di apartemen Alva. Langkah kakinya semakin cepat menuju ruangan yang mereka tempati selama berada di La Paz.
Fiko mengetuk pintu kamar. “Ray… Aku pulang…”.
Dari arah dalam, seseorang membukakan pintu dan menyambut Fiko dengan senyum bahagia. “Aku hampir saja menyusul kamu Fiko. Aku pikir hari akan hujan, jadi aku mau menjemputmu sambil membawakan payung”, kata Ray.
Fiko masuk kedalam dan menutup pintu kembali.
“Apa itu ditanganmu?”, tanya Ray.
“Hmmmppp… Aku ada sesuatu untuk kamu Ray. Kamu tahu tidak ini hari apa?”. Fiko seolah-olah memberi sebuah tebakan ke Ray.
Dengan wajah bertanya-tanya, Ray mencoba menjawab. “Hari kamu gajihan? Tidak, tidak. Hari kita jadian?”, tanya Ray balik.
“Salah… Tapi, benar juga ya sayang, hari ini memang hari yang sama saat kita jadian”. Fiko mendekati Ray dan menarik tangannya. Dia membawa Ray ke dapur, ke meja makan.
“Ada apa Fiko?”. Ray masih kebingunggan.
Tanpa menjawab, Fiko mendudukan tubuh Ray dikursi makan dan dia pun duduk di samping Ray. Fiko meletakkan kantong kresek ditangannya di atas meja. Lalu dia keluarkan kotak didalam kresek tersebut dan dia buka penutupnya. “Ini kue khusus untuk kita, sayang. Aku hari ini berulang tahun”, terang Fiko.
“Apa?! Sungguh?”, tanya Ray tak percaya.
Fiko mengangguk.
Ray bangkit dari tempat duduknya dan memeluk Fiko. “Selamat ya sayang. Kamu sekarang semakin dewasa dan semoga semakin baik lagi. Kok kamu tidak memberi tahuku sebelumnya. Aku bisa menyiapkan sesuatu untuk merayakan ini”.
“Aku ingin memberi kejutan untukmu, sayang. Ayo kita makan kuenya. Aku mau kamu yang suapi aku, ya?”, pinta Fiko manja.
Ray melepas pelukannya dan lalu menuju meja masak untuk mengambil pisau dari dalam laci. Setelah  itu, Ray memotong kue tersebut menjadi beberapa bagian dan sepotong kue dia taruh diatas piring untuk disuapi ke Fiko.
Malam kian larut, mengubur semua kesunyian dan hiruk-pikuk keramaian kota. Disalah satu ruang peristirahatan, sedang berpelukkan mesra dua orang pria tampan tanpa mengenakan sehelai benang pun. Fiko yang tampan dan berotot sempurna memeluk Ray yang kecil dan manis itu dari arah belakng.  Fiko mengigit lembut bahu Ray dan menimbulkan bercak merah di sana. Ray terpejam menikmati cumbuan Fiko. Sementara penis sang raja sudah tegak mengacung keatas dan tampaknya sudah tak sabar ingin merasakan kehangatan lubang anus Ray yang ditumbuhi bulu. Fiko menggesek-gesekan penis besarnya kemulut anus Ray. Sesekali Fiko juga tampak memilin puting susu Ray dengan lembut. Ray benar-benar terangsang hebat dan benar-benar menginginkan hal ini terjadi padanya. Apalagi malam ini dia melakukan hubungan intim dengan pacarnya sendiri. Ray menolehkan kepalanya kebelakang dan mencari bibir Fiko. Fiko paham akan hal itu dan diapun mengangkat kepalanya sedikit kemudian mereka berciuman mesra, saling memilin lidah dan mengigit bibir pasangan masing-masing. Bibir ray memang manis dan bibir Fiko pun juga tak kalah memukau, bibir mereka berdua menyatu dengan mesranya. Sambil berciuman, Fiko berusaha menelungkupkan tubuh Ray ke tempat tidur dengan Fiko diatasnya. Fiko sekarang menciumi Ray sambil menindih tubuh Ray. Tubuh kecil Ray kini mulai mengangkat pinggul seperti mengisyaratkan pada Fiko untuk segera memasukkan penisnya kelubang Ray. Fiko paham dan melepaskan ciumannya pada bibir Ray. Fiko melumuri penisnya dengan ludah yang banyak begitu pula dengan lubang anus Ray.
“Sayang, kamu tahanya. Ini akan sedikit sakit”, kata Fiko.
“Cepet Yank… Aku sudah tidak tahan nih. Ahhh shhhttt… ahhhh”, Ray benar-benar sudah begitu menahan hasrat.
“Argghhh.. Ohh… Su-sah!”. Fiko berusaha meletakkan kepala penisnya ke bibir anus Ray dan terus berusaha memasukkan benda bulat, berurat dan besar itu. Penis Fiko sepertinya lebih besar dari milik Adam yang beberapa waktu lalu pernah mencoba kehangatan anus Ray.
Walaupun susah, akhirnya kepala penis Fiko yang berwarna merah muda dan besar seperti helm tentara mulai masuk kelubang anus Ray.
“Awhhhh.. Aw… shhhttt argghhhh… Pel-an. Pelann… Yank”, pinta Ray.
Fiko menundukkan kepalanya dan mencari bibir Ray. Untunglah postur tubuh Fiko yang lebih tinggi dari pada Ray cukup membantu untuk melakukan penetrasi sambil berciuman. Fiko menciumi bibir Ray kembali sambil perlahan-lahan menekankan penis sebesar mentimunnya ke anus Ray yang nikmat.
“Hmmppp.. rmmmm”, suara Fiko tertahan karena sedang melumat bibir Ray.
Melesat lah seluruh batang penis Fiko kedalam anus Ray. Dia diamkan beberapa saat agar cincin anus Ray tebiasa menerima benda kenikmatan Fiko. Penis hangat sepanjang lebih dari 20 cm itu benar-benar tertancap sempurna. perlahan Fiko mulai menarik penisnya keluar untuk merileks-kan lubang Ray. Lalu dia tancapkan kembali dengan gerakan hati-hati kedalam anus Ray. Fiko tak ingin Ray merasakan sakit namun dia ingin Ray menikmati persenggamaan ini.
Ray melepaskan ciuman Fiko dan menggigit bibirnya dengan mata terpejam. Ray masih belum terlalu rileks dengan sodokan Fiko di anusnya, namun dia berusaha merubah rasa terbakar tersebut menjadi rasa nikmat yang teramat sangat nikmat apalagi ini adalah hari ulang tahun Fiko. Dia harus membuat Fiko bahagia dan senang.
“Arggg…. OOOOHHHHHHH… Masih sempit juga punya mu, sayang. Aduhhhhh… shhhiiiitttt…”. Fiko melihat kearah penisnya yang mulai pelan-pelan menyodok anus Ray. Fiko tahu bahwa Ray pasti sedang kesakitan namun dia juga  mau membiasakan anus Ray dengan penisnya yang gemuk itu.
“”Awww, aw aw awhhuhhhhh… Fikhoo! Aw…”.
“Tahan sayang, tahan! Oh no! enak sekali, oh yeah!! Oh yeah.. oh oh oh ohhh owhhh!”.
Plop-clok-plop-clok-plop-clok-plop-clok-plop-clok-plop-clok! Fiko mengeluar masukkan penisnya kelubang anus Ray yang sudah terkuak lebar. Anus Ray yang tadinya susah untuk dimasuki penis perkasa Fiko. Turun naik, pantat Fiko menyodok anus Ray.
Tubuh kecil Ray menungging dengan kepala masih terbaring ditempat tidur. Fiko sekarang memposisikan badannya diatas Ray dengan bertumpu pada kedua tangan dan kakinya. Dia melalukan penetrasi dari arah belakang. Penis basarnya semakin cepat menusuk anus Ray hingga tubuh Ray tergoncang-goncang. Fiko menengadahkan kepalanya sambil menutup mata dan meracau tak karuan. Fiko seperti seekor srigala yang sedang menyetubuhi betinanya. Jheibo yang sedang kelelahan akibat banyak berbicara, tidak akan terganggu dengan acara persenggamaan Ray dan Fiko di malam yang dingin akibat hujan turun dengan lebatnya.
Penis Fiko berurat disana-sini, mengkilap menusuk lubang anus Ray. Sodokannya yang semakin cepat seperti menguras seisi anus Ray dengan perkasanya. Ray sangat menikmati disodomi oleh Fiko karena penis kekasihnya itu menyentuh bagian tersensitif di tubuhnya yang mempu membuat Ray terbang ke langit ketujuh. Peluh Fiko mulai menetes melembabkan kulitnya yang memanas karena acara persetubuhan ini. Plok-Plok-Plok-Plok! Suara selangkangan Fiko yang menyentuh pantat Ray, terdengar nyaring didalam ruangan tersebut.
“Aaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrggggggggggggggg!!!!!!!!!!”, teriak Fiko ketika membenamkan seluruh penisnya kedalam liang senggama Ray.
“Aw!!!!!!!!! Enakhhh bangetsss … shhiiittt “, racau Ray.
Fiko menghentak-hentakan penisnya dengan getaran-getaran dahsyat. Dia benar-benar menyukai Ray. Fiko berhenti memaju mundurkan pantatnya lalu kemudian menggendong Ray kedekat jendela kamar dengan penis yang masih menancap sempurna dianus Ray.
“Kita main berdiri ya, sayang…”.
“Iyah, sayang… terserah kamu saja. ohhh”.
Kaki Ray di angkat Fiko lalu dia gendong kedekat jendela. Fiko melakukan penetrasi sambil berdiri sedangkan Ray mengangkang sambil kakinya dipegangi Fiko. Tubuh Fiko yang berotot sangat gampang melakukan gaya bersenggama seperti ini apalagi tubuh Ray cukup kecil sehingga gampang di angkat. Maka terjadilah persenggamaan dahsyat didekat jendela apartemen Alva. Fiko yang mengendalikan gerakkan pinggul Ray turun naik meremas penisnya. Lubang anus Ray seakan-akan tertarik saat Fiko menaikan tubuh Ray keatas.  Turun naik Fiko mengendalaikan lubang anus Ray memuaskan penis jantannya yang semakin menantang. Fiko sesekali menggigit leher Ray dan menjilati daun telinga kekasihnya tersebut. Peluh Ray menetes membasahi tubuhnya. Benar-benar pergumulan yang sangat dahsyat.
“Terus Fiko! Terus! Ahhh.. bua aku hamil Fiko, hamili aku. Penuhi lubangku dengan hangatnya air surgamu! Ah ah ahhhh”.
“Rasakan batangku yang besar ini! Aku kan membuat kamu hamil dan meminta ampun karena telah mau aku hamili. Aku ingin punya anak dari mu sayang. Aku mau lubangmu banjir oleh air spermaku!”, kata Fiko sambil terus mempercepat sodokannya.
“Ahhh ahhhaooohhhhh ohhhhh ohhhhhh ohhhhhh ohhhhhhhhhhhooooooooooooooohhhhhhhhhhhhhh ooooohhhhhhhhh ooooooooooohhhhhhhhhh!”.
Fiko semakin membabi buta menggerakkan tubuh Ray. ray tergoncang-goncang. Fiko tampaknya akan keluar dan dia buru-buru mencabut lubang Ray dari penisnya kemudian membaringkan Ray ditempat tidur. Setelah itu, Fiko naik keatas Ray dan mengangkangi wajah Ray.
“Isap Ray! Aku mau kamu hamil karenaku! Oooohhhhhhhhhhh”. Fiko menyodorkan penis tegaknya kemulut Ray.
Tanpa berfikir panjang lagi, Ray langsung memasukan penis Fiko kedalam mulutnya dan blow job-pun dimulai. Dengan cepat Ray mengeyot, mengisap dan menyeruput penis indah milik Fiko yang sudah hampir orgasme itu. Kepala Ray yang maju mundur semakin cepat melayani penis Fiko kini hampir kehabisan nafas akibat Fiko membenamkan seluruh penisnya kerongga mulut Ray. penis Fiko berkedut dan spermanya sudah tak bisa ditahan lagi. Fiko akhirnya mengeluarkan seluruh spermanya didalam mulut Ray. Cccccccccccccccccccccrrrrrrrrrrrrrrrrrrrooooooooooooooooooottttttttttttttt … Crrrrrrrrrrooooooottttttttt.. Ccccccccccccccccrrrrrrrrooootttttttt… Ccrrrotttttttttt ccccccccrrrootttttttttt ccccccrrrrrrrrrrrrooooooooooooooootttttttttt cccrrrrooottt cccrooottt ccrroott crot crot crot crot crroottt… croott!
“AAAAAAARRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGG AAAAHHHHHHHHHHHHH AARRRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!”, teriak Fiko ketika spermanya keluar dari dalam penisnya.
Sperma kental Fiko yang sangat banyak kini tertampung dimulut Ray. Fiko mencanut penisnya dari mulut Ray. plop! Ray mengeluarkan sperma Fiko dari mulutnya sehingga cairan kental, puntih dan anyir itu meleleh menuruni dagu dan pipi Ray hingga jatuh ketempat tidur.
“Kenapa sayang? Makan dong…”. Fiko menyapukan spermanya yang dimuntahkan Ray dengan penisnya yang masih tegak, lalu dia masukkan kedalam mulut Ray. dia lakukan kegiatan itu berulang-ulang sampai semua spermanya yang dimuntahkan Ray masuk kembali kemulut Ray dan menjadi darah daging Ray. Ray mengenyot penis Fiko supaya semua sperma yang ada dibatang kekasihnya itu bersih dan masuk ketubuhnya.
Setelah tidak ada lagi sperma yang terbuang, Fiko tidur disamping Ray dan meletakan kepala Ray didada bidangnya dalam keadaan masih telanjang. Mereka menghabiskan sisa malam dengan tidur berpelukkan.
Pagi hari yang cerah, Fiko yang masih memeluk Ray perlahan-lahan melepaskan pelukannya lalu bangkit dan bangun dari tidurnya. Dia memang masih agak lelah namun dia tidak boleh berdiam diri saja dirumah, dia harus segera berangkat kerja. Setelah mandi dan berpakaian, dia menghampiri Ray yang masih tertidur pulas kemudian dia cium kening Ray mesra sebelum berangkat.
Fiko menyelimuti Ray dan meninggalkan Ray ditempat tidur. Tak lama setelah Fiko berangkat, entah mengapa Alva yang biasanya agak siangan datang kini pulang pagi. Padahal dikamar, Ray masih dalam keadaan telanjang bulat.
Alva yang pulang dari tempat kerja langsung masuk kedalam kamarnya seperti biasa. Dia tidak menyangka kalau dikamar mereka, Ray sedang tidur dalam keadaan telanjang bulat. Awalnya Alva tidak begitu memperhatikan Ray yang sedang tertidur namun ketika dia melihat celana dalam dan pakaian Ray tergeletak dilantai, Alva mulai curiga. Dengan hati-hati sekali dia membuka selimut Ray dan benar dugaannya bahwa Ray sedang dalam keadaan polos tanpa sehelai benang di balik selimut tersebut. Entah apa yang Alvaro rasakan, melihat Ray yang begitu menggoda dia jadi bergairah dan penisnya mulai bangun dan mengeras.
“Aduh… Kok aku bisa terangsang hebat begini. Mudah-mudahan Ray tidak menyadarinya”. Alva melepas sabuk dan membuka bajunya. Kemudian dia merangkak naik keatas ranjang memposisikan tubuhnya dibelakang Ray yang sedang tidur miring. Penis Alva semakin berontak dan sekarang telah tegang sempurna. Tanpa basa-basi lagi, Alva mulepas seluruh kain yang tersisa ditubuhnya dan menyibak selimut Ray. Dengan hati-hati, Alva melumuri penisnya yang besar itu menggunakan ludah dan bles. Cukup mudah Alva menembus anus Ray. mungkin ini dikarenakan anus Ray yang sudah terbuka lebar akibat penis Fiko tadi malam. Alva terpejam menikmati sensasi hangat yang ditimbulkan oleh liang senggama Ray. Ray masih tertidur pulas. Melihat itu, Alva memulai aksinya menyodomi anus Ray dengan menggerakan pinggulnya maju mundur dengan ritme sedang agar Ray tidak terbangun.
Tubuh Alvaro memang cukup kekar namun perutnya tidak six pack seperti Fiko. Alva masih terlihat seksi dengan wajahnya yang jantan. Tusukan penis besar Alva semakin cepat dan dalam sehingga Ray terbangun dari tidurnya karena merasakan benda tumpul dan kenyal milik Alva menguak anusnya cukup lebar. Namun Ray mengira bahwa yag menusuk anusnya adalah Fiko sehingga dia hanya diam dan menikmati sodokan Alva. Tentu saja hal itu tidak disia-sia kan Alva sehingga dia menggendong Ray dan meletakkannya diatas tubuhya. Ray kini berbaring ditubuh Alva. Alva melakukan penetrasi dari bawah agar Ray tidak menyadari dirinya bukanlah Fiko.
“Sayang… ahhhh”, dasah Ray menikmati ssodokan Alva.
Alva hanya diam dan mempercepat sodokannya di anus Ray. Penis Alva memang tidak sampai 20 cm tetapi ukurannya hampir sama dengan milik Fiko. Penuh urat yang keluar dan benar-benar nikmat untuk dicicipi. Ray benar-benar sudah sangat terangsang dan menikamati tusukan penis Alva yang semakin mengganas.
Suara berisik pertemuan antara selangkangan Alva dengan pantat Ray kembali memenuhi ruangan tersebut. Meskipun Ray tidak menyadari bahwa yang sedang menusuk anusnya senikmat itu adalah Alva tetapi dia merasa aneh juga karena sejak tadi Fiko tidak bersuara maka Ray menoleh kebelakang dan alangkah terkejutnya dia ketika melihat orang yang sedang menusuk anusnya sedahsyat itu adalah Alvaro. Dia terdiam kaget. Namun, Alvaro dengan santainya tersenyum pada Ray dan terus menggenjotkan pinggulnya menyodomi anus Ray. Entah apa yang sedang Ray pikirkan, dia seperti kalah dengan birahinya dan seakan tanpa melawan membiarkan Alvaro melanjutkan aksi menusuk anusnya. Dia tidak percaya bahwa dia akan seperti ini. Dia menikmati tusukan Alva dan tidak peduli lagi dengan Fiko. Yang Ray inginkan hanya nikmat, nikmat dan nimat.
“Ray, oooohhhhhhhh enakkhhhh… bangetsss!”, racau Alvaro pada Ray.
Ray benar-benar menikmati sodokan penis Alva pada anusnya dan seperti tak ingin penis itu lepas dari anusnya.
“Alvahhhh ooohhhhh terusin… ah aha ahahahahah!”. Ray semakin menggila karena nafsunya. Dia menghentak-hentakan pantatnya lebih cepat mengocok penis Alva menggunakan lubang senggamanya.
Alva menyuruh Ray membalikan badan menghadap kearahnya. Ray menuruti permintaan alva dan langsung memutar tubuh menghadap Alva. Ray memposisikan tubuhnya duduk mengangkang menghadap alva. Ray membungkukkan tubuh dan menuruti permintaan Alva untuk melakukan ciuman padanya. Ray dan Alva kini menyatukan bibir mereka dan mulai saling menyeruput, memilin, menyedot dan mengigit bibir satu sama lain. Mereka seperti sepasang suami istri yang baru saja menikah. Sementara pingggul Ray masih sibuk turun naik diatas penis Alva yang tagak mengkilap menjejal lubang anus Ray. Ray merasakan keanehan pada dirinya namun dia menikmati itu seperti dia menikmati saat melakukan persenggamaannya dengan Fiko.
Ray membuat Alva sangat senang dan semakin bringas. Kini Alva yang mengambil alih gerakan menyodok anus Ray dengan cepat. Alva mengeluarkan seluruh kemampuan menusuknya pada Ray. tentu saja hal ini membuat Ray terangsang sampai keubun-ubun dan benar-benar terbuai surga dunia.
“AAAARRRGGGGG AKU MAU KELUAR RAY!”,kata Alva.
“Keluarin didalam saja Alva…”, pinta Ray.
CCCCCCCCCCCCCRRRRRRRRRRRROOOOOOOOOOOOOTTTTTTTT CCCCCCCRRRROOOTTT CCCRRROOOTTT CCCRRROOOTTT CCCRRROOOTTT CROT CROT CCROOTT….
Tumpahlah seluruh cairan kelelakian Alvaro didalam anus Ray. semprotan hangat sperma Alva terasa masuk hingga kerongga perut Ray.
Dari arah pintu, masuklah sesosok pria macho berusia sekitar 30 tahun berambut cepak dan berbadan besar berotot. Dia ternyata paman Alva yang pernah Alva ceritakan pada Ray dan Fiko, Simon namanya. Memang beda umur Alva dan pamannya ini tidak beda jauh, karena Alva merupakan anak sulung dari kakak tertua Simon sedangkan Simon adalah anak bungsu dari nenek Alva. Dia tercengang melihat, Alva dan Ray yang sedang bersenggama diatas tempat tidur. Penis Alva masih jelas tertancap dianus Ray dan terlihat sedang menghentak-hentakkan cairan orgasmenya keliang senggama Ray.
“Alvaro?”.
Alvaro kaget begitu pula Ray.
“Paman? Pa-paman se-sedang a-apa?”, tanya Alva terbata-bata. Alva hampir saja mencabut penisnya dari annus Ray namun buru-buru dicegah Simon.
“Eitttsss, tidak usah dicabut. Paman boleh gabung?”, tanya Simon.
Tentu saja Alva tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Namun Simon menyadari itu lalu buru-buru dia melepas seluruh pakaiannya dan naik keatas tempat tidur. Penis Simon sangat panjang sekitar 25 cm namun diameternya berkisar antara 3-4 cm saja. Penis itu mengacung lurus kedepan dan Simon mulai mengocok-ngocok penisnya didepan anus Ray.
“Paman mau apa?”, tanya Ray.
“Tenang manis, kamu akan senang dengan paman”,jawab Simon.
Dia mencoba memasukan penisnya kedalam anus Ray padahal anus Ray sedang ditempati oleh penis Alva. Namun karena Alva baru saja mengeluarkan sperma, maka Simon mendapat sedikit pelumas untuk memasuki anus Ray.
“Arggggghhhhh sakit paman! Awww!”, teriak Ray ketika penis Simon menjejal paksa anusnya.
“Tahan sayang. Ini double nikmatnya”, kata Simon. Perlahan-lahan penis Simon yang panjang tersebut masuk kedalam anus Ray. tanpa banyak bicara lagi, Simon langsung mengenjotkan penis hitamnya kedalam lubang kenikmatan Ray. Walau Ray benar-benar merasa sakit, namun Simon tak peduli akan hal itu yang dia tahu hanya nikmat dan nikmyat. Inilah yang dianamakan Double penetrasi. Ray merasa sakit yang teramat sangat dan luar biasa ngilunya. Untuk menenangkan Ray, Alva meraih kepala Ray dan menciuminya mesra sementara Simon sibuk menusuk anus Ray dengan ganasnya. Tanpa ampun anus Ray mendapat serangan dari dua orang pria gagah dan tampan. Namun entah mengapa Ray sangat terangsang mendapat perlakuan seperti ini. Dia sangat bergairah meskipun dia sakit pada awalnya. Sekarang Ray malah mendesah nikmat dan benar-benar menjadi ratu untuk dua orang raja yang sedang menikmati anusnya. Alva berinisiatif untuk mencicipi mulut Ray. Diapun melepaskan penisnya dianus Ray dan membiarkan Simon yang memuaskan anus Ray sementara Alva memilih untuk merasakan isapan mulut Ray pada penisnya. Alva duduk didepan wajah Ray dan menyodorkan penisnya kemulut Ray. Ray langsung memasukana benda berurat tumpul itu kedalam mulutnya dan dengan gerakan maju mundur dia menyedot penis Alva. Ray merasakan kenikmatan yang lain, dia disodok didepan dan juga dibelakang. Tubuh Ray berguncang hebat akibat ganasnya Simon menyodok lubang pelepasannya. Sementara mulutnya semakin kaku akibat Alva memegangi kepalanya dan dengan ganas memperkosa mulut Ray seperti menusuk anus Ray. Penis Alva mulai tegak sempurna kembali. Ray hampir tak bernafas namun Alva sesekali membenamkan penisnya sedalam mungkin untuk membiarkan Ray menarik nafas.
“Auhhh… Shit! Pacar kamu enakh sekali Lubangnya, Alva. Ah… Mengapa paman tidak pernah dikenalkan dengan dia?”. Simon bertanya pada Alva dengan mata tertutup dan wajah menengadah keatas.
Alva tak menjawab pertanyaan pamannya tetapi dia lebih berkonsentrasi untuk merasakan kelembutan lidah Ray pada batang penisnya. Setiap senti kulit penis Alva tak luput dari isapan mulut Ray.  Batang kejantanan Alva yang hampir sempurna itu benar-benar merasakan kenikmatan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Alava menatap Ray dengan penuh cinta sambil dia usap lembut Rambut hitam Ray.
Ray menengadahkan kepalanya keatas untuk menatap wajah Alva. Lidahnya menjulur dan menjilati kepala penis Alva. Tetesan precum yang mulai keluar, sangat menggoda indra pengecap Ray melalui rasanya yang sensasional.
Simon membungkukkan badannya dan menciumi leher belakang Ray. Tangan kekarnya meremas-remas dada Ray sambil dia terus menggenjotkan penis kudanya didalam anus Ray.
Plak-plak-plak…
“Kamu suka, sayang? Aaaahhhh… Bagaimana sodokan paman? Berasa atau masih kurang?”, tanya Simon di telinga Ray.
“Enak paman. Tambah kencang lagi. Ahhhhh… Buat aku hamil paman. Aku mau dihamili oleh paman. Hajar lubangku sekuat paman bisa. Sepuas-puasnya!!! Argggghhhh Awwww!”.
“Seperti ini Yeah? Ah Ah ah ah ah argghhh Shit ah ah ah”. Simon semakin memepercepat tusukan penisnya didalam lubang kenikmatan Ray. Dia tampak seperti seekor kuda yang sedang berhubungan sex dengan betinanya.
Remasan tangan kokoh Simon pada dada Ray semakin membuat Ray mendesah hebat. Gesekan yang ditimbulkan antara penis Simon dan dinding anus Ray mampu membakar lebih banyak kenikmatan.
“Aohhhh ohhh Yeah! Suck it baby!”, racau Alva. Dia mulai mengendalikan permainan dimulut Ray. Tusukan penis besarnya pada mulut Ray semakin membuat Ray susah untuk bernafas.
Aroma sperma yang tercium dihidung Ray dan pukulan buah zakar Alva pada dagunya ibarat jamu ditambah madu, sungguh nikmat. Ray benar-benar merasa puas pagi ini. Penis Simon yang panjang, mampu menyentuh usus besarnya dan inilah rasa yang Ray tak pernah bayangkan sebelumnya. Simon membenamkan seluruh ‘pisang tanduknya’ kedalam anus Ray yang sangat menggoda itu dengan sekali hentakan. Perlahan-lahan dia tarik lalu dia masukan kembali secara perlahan, keluarkan kembali, tusuk lagi dan crok! Amblaslah seluruh penis Simon didalam anus Ray.
Hampir sejam sudah mereka melakukan pesta sex pagi. Baik Simon ataupun Alva sudah tidak sanggup lagi menahan desakan sperma mereka yang sudah ada diujung penis.
“Sayank… Paman mau keluar! Argghhh….”.
“Aku juga say-ang!! Auhhhh”.
Plop! Ray melepaskan penis Alva dan Simon dari tubuhnya.
“Kenapa Sayang?”, protes Simon.
“Aku mau mencicipi air surga kalian… Ayo Beib… Ahhhh ah ah”. Ray menelentangkan tubuhnya dan membuka mulut sambil menjulurkan lidah.
Simon dan Alva paham apa yang Ray inginkan. Maka merekapun mendekatkan penis mereka kewajah Ray dan mengocoknya dengan ritme cepat.
“OOOHHHHHHHHH… ARGGGGGG… AKU… MUNCRAT!”,kata Simon.
“Rasakan ini Ray! Telan!! Telan seluruh air surgaku! Ohhhhh”, racau Alva.
CCCCRRROOOOTTTTT… CCRRROOOTTT…CRRROOOTTT…CCRROOTT…CCCRRROOOTTT…CCCRRRROOOOOTTTT…CCCRRROOOOTT …CCRRRROOOOTTT … CRRROOOTTT… CROT –CROTT… CRROOOTTT CCRRROOOTT CCCRRROOOTTTT!! CCRRROOOTTT….
Sperma mereka masuk kedalam mulut Ray. Sperma kental,berwarna putih, dan hangat itu memenuhi rongga mulut Ray.
“Telan beib… Kamu yang minta, bukan?”, kata Alva. Melihat rongga mulut Ray yang penuh dengan sperma mereka berdua. Alva memasukan penisnya kedalam mulut Ray secara paksa agar Ray langsung meneguk sperma yang ada dimulutnya.
Ray kaget dan dengan dua kali tegukan dia telan seluruh sperma yang ada dimulutnya. Sementara Alva masih menggenjotkan penisnya kerongga mulut Ray untuk memaksa Ray meneguk sperma mereka. Ketika dirasa sudah diteguk oleh Ray, Alva mencabut penisnya dan mencium kening Ray.
Simon yang terengah-engah berbaring disamping Ray dan tidur sambil memeluk tubuh telanjang Ray. Aroma tubuh Simon yang dipenuhi butiran peluh tampak begitu maskulin. Perlahan-lahan penisnya mulai menciut dan melemas. Alva beranjak kekamar mandi untuk membersihkan diri. Meninggalkan pamannya dan Ray yang tampak kelelahan diranjang.
***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar