Hunk Menu

Overview of the Naolla

Naolla is a novel which tells about life of Hucky Nagaray, Fiko Vocare and Zo Agif Ree. They are the ones who run away from Naolla to the Earth. But only one, their goal is to save Naolla from the destruction.

Book 1: Naolla, The Confidant Of God
Book 2: Naolla, The Angel Falls

Please read an exciting romance novel , suspenseful and full of struggle.
Happy reading...

Look

Untuk beberapa pembaca yang masih bingung dengan pengelompokan posting di blog ini, maka saya akan memberikan penjelasannya.
(1)Inserer untuk posting bertemakan polisi dan dikutip dari blog lain;(2)Intermezzo adalah posting yang dibuat oleh pemilik blog;(3)Insert untuk cerita bertema bebas yang dikutip dari blog lain;(4)Set digunakan untuk mengelompokan posting yang sudah diedit dan dikutip dari blog lain;(5)Posting tanpa pengelompokan adalah posting tentang novel Naolla

Jumat, 12 Oktober 2012

Naolla, The Confidant of Gods : Me, Difu and Aste


“Cepat cari mereka! Kepung seluruh wilayah ini dan periksa setiap pendatang baru. Jangan buang-buang waktu lagi!”, perintah Wsehg pada anak buahnya. Dia diperintahkan Cekai Oqaca untuk mencari buronan Hrewa Kufe yang bernama Xano dan Qwed, arudretajunya.
Para yuari menyebar keseluruh bagian wilayah untuk mencari mereka berdua. Sekarang situasi sedang tidak menguntungkan bagi Xano dan Qwed. Walau Xano bisa melakukan penyamaran dengan baik, tetapi penampilan Qwed yang berbeda dari dretaju kebanyakan memang sangat menyita perhatian orang-orang Oqaca sehingga bisa jadi mereka langsung dicurigai sebagai buronan yang dicari.
Cekai wilayah Oqaca telah mengetahui bahwa Vocare sedang mencari buronan kerajaan yang dicurigai ada di wilayah Oqaca. Dengan kabar itu, Cekai segera memerintahkan semua Yuari pertahanan untuk mencari Xano dan Qwed. Ratusan kertas bergambar wajah Xano dan Qwed berjatuhan dari angkasa. Kertas-kertas itu dihamburkan oleh yuari cehug. Kertas-kertas yang jatuh ketanah dipunguti oleh orang-orang yang ingin tahu mengenai wajah siapa yang ada didalam kertas. Beberapa orang tarlihat mengernyitkan dahi tanda mereka mulai mengingat-ingat wajah siapa gerangan.
“Zowm? I-ini terlihat seperti Zowm dan tuan Trop. Ini gawat sekali”. Wyhh tergesa-gesa berlari mencari keberadaan Xano setelah dia mendapatkan selebaran itu. Dia berlari menuju beberapa tempat yang biasa digunakan oleh Xano dan Qwed untuk bersantai. “Tuan Xano? Trop? Arhhh! Siapa mereka itu? Buronan Vocare?”. Wyhh menggerakkan kakinya secepat mungkin mencari Xano. Beberapa tempat yang biasa didatangi tuan Xano, telah dia singgahi namun tidak tampak ada tanda-tanda dari mereka berdua. “Dimana tuan Trop berada?”, Wyhh berhenti dan berfikir sejenak. “Disana! Aku yakin”. Dia kembali masuk kedalam sebuah gang dan melanjutkan larinya.
Tatapan mata Qwed, melihat lurus keatas langit Naolla yang cantik dengan Difu dan Aste. Qwed berbaring didekat jendela di salah satu gedung tua yang kotor besama Xano.
“Aku jadi mengantuk , Qwed. Huaahhhmmmm…. Aku mau tidur sebentar ya. Kamu jangan kemana-mana selagi aku tidur. Ingat pesanku ya, Qwed”, ucap Xano kepada Qwed.
Qwed menatap kearah Xano.
“Capek sekali badanku”. Xano menepuk-nepuk dan menyapu lantai dengan tangannya agar debu-debu diatas lantai tersebut agak berkurang. Setelah dirasa cukup, Xano mulai mengambil posisi untuk merebahkan badannya. Mata Xano mulai terpejam menikmati keheningan sila yang tampak seperti bangunan kota hantu.
“Tuan Trop… … “, panggil Wyhh dibawah sana.
Mendengar nama Trop, Qwed melihat kebawah gedung itu untuk memastikan siapakah orang yang memanggil nama tuannya itu. “Ngggkkk?”,Qwed bangun dari posisi rebahannya.
“Zowm! Kau kah itu? Lihat ini! Lihat!”. Wyhh mengacung-acungkan selebaran ditangannya. Dia ingin menunjukkan selebaran itu pada tuan Trop.
Qwed bangun dan menyentuh tubuh Xano.
“Hrmmmm… Ada apa Qwed?”, tanya Xano yang masih terpejam.
“Grrrr!”. Kembali Qwed mendorong tubuh Xano dengan ujung jarinya.
Xano akhirnya membuka matanya. “Kenapa Qwed? Kamu lapar?”.
“Arggg… Grrr!”, Qwed melihat kebawah gedung lagi seperti memberitahu Xano bahwa dibawah sana ada Wyhh menunggu.
“Tuan… Lihat ini! Kerajaan Vocare mencari Xano dan arudretajunya”. Wyhh masih berusaha memberitahu Xano.
“Wyhh? Itu suara Wyhh. Dia menyebut Vocare? Jangan-jangan…”. Xano bangkit berdiri dan menuju tepi gedung untuk menunjukkan diri pada Wyhh. “Aku disini Wyhh! Naiklah kemari”. Xano melambaikan tangannya.
Melihat Trop disana, Wyhh segera masuk kedalam gedung dan menaiki tangga. Beberapa saat kemudian, sampailah dia ditempat Xano dan Qwed berada.
“Lihat ini tuan! Orang ini mirip dengan anda dan arudretaju ini juga mirip dengan Zowm”. Wyhh menyerahkan selebaran itu kepada Xano. Nafas Wyhh masih terengah-engah karena berlari.
Xano terdiam dan hanya bisa memandang waspada kearah bawah gedung.
“Apakah benar pikiran saya ini, bahwa kalian adalah…”.
Belum sempat Wyhh menyelesaikan kalimatnya, Xano langsung memotong. “Aku memang buronan Hrewa Kufe, Wyhh. Inilah Arudretaju yang kamu lihat dikertas ini”, Xano menunjuk ke arah Qwed.
“Jadi benar? Itu foto tuan dan Zowm?”. Wyhh mulai ketakutan dan terlihat menjauh dari tubuh tuan Xano.
“Tunggu dulu Wyhh”, Xano menangkap bahu Wyhh. “Kamu pasti kenal aku. Aku tidak sejahat yang kamu pikir. Tolong Wyhh, aku mohon bantu aku untuk kabur. Aku punya misi penting untuk Naolla. Aku tidak mau melihat Naolla dibawah aturan Sukaw. Kamulah orang yang bisa aku percaya Wyhh”, Xano memelas.
“Sekali buronan tetap buronan. Lepaskan tanganmu!”. Wyhh berlari menuju tangga.
Dari arah bawah gedung, terlihat puluhan yuari mengendarai bican mulai mengepung Xano. Tak ada pilihan lagi kali ini, bagi Xano untuk kabur. Walaupun dia bisa kabur dari tempat itu tetapi dia tak tahu harus kemana lagi bersembunyi. Xano benar-benar terdesak.
“Sudahlah. Ikut aku!”, ajak Wyhh.
Xano melihat keseriusan dimata Wyhh, sehingga dia percaya pada orang itu.
“Keluar kalian! Aku tahu kalian ada disini”,kata Wsehg dari atas bican. “Runtuhkan semua bangunan!”.
Para yuari mulai menerbangkan bican masing-masing dan menembakkan linggi api mereka kegedung tersebut. Duarrr!Trak! Bruakk! Seketika tiang-tiang penyangga gedung-gedung itu patah dan mulai membuat gedung tua itu tidak stabil.
Xano, Wyhh dan Qwed yang berada didalam mencoba mencari jalan keluar dengan naik keatap gedung.
“Kita harus melompat. Ayo!”, kata Wyhh.
Xano dan Wyhh melompat dari gedung itu untuk sampai kegedung disebelahnya yang lebih rendah. Kerena tubuh besar Qwed, dia tidak sampai melompat kegedung diseberang sana dan akhirnya tergantung disisi gedung yang lebih rendah itu. Qwed berusaha mencapai atap gedung yang telah dilompati Xano dan Wyhh.
“Tunggu Wyhh! Qwed belum. Ayo Qwed, kamu bisa!”,kata Xano.
Para yuari yang terbang mengendarai bican melemparkan lingginya kearah Qwed. Bertubi-tubi puluhan linggi api itu menuju Qwed.
“Hiatt!”, Xano mengeluarkan linggi berjumlah banyak untuk menyerang linggi para yuari tersebut.
Crsss! Crss! Crsss… Crak! Linggi-linggi Xano mampu mematahkan serangan linggi para yuari.
“Lebih banyak linggi lagi!”,perintah Wsehg pada anak buahnya.
Gempuran linggi berikutnya, mengenai tubuh Qwed dan sebagian menancap didinding gedung.
“Argggg!!!”. Qwed marah dan mematah tempat air diatap gedung kemudian dia lemparkan kearah yuari. Lemparan Qwed berhasil membuat beberapa yuari terjatuh namun tetap ada yuari yang menuju arahnya dengan melemparkan puluhan linggi api.
“Ayo tuan. Anda lebih penting!”, teriak Wyhh diujung sana.
Xano melihat kearah Qwed.
Qwed mengangguk, tanda dia mengijinkan Xano pergi.
Dengan berat hati, Xano langsung berlari secepat angin mendatangi Wyhh. Xano memang tak bisa menentukan lagi yang mana harus dia utamakan terlebih dahulu. Dia berlari sekencang-kencangnya dan meninggalkan Qwed yang kemudian dijaring oleh yuari-yuari itu.
“Arggkkkk! Arggghh!”,teriak Qwed kesakitan. Qwed tertangkap dan tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia jatuh bebas dari atas gedung yang tinggi ketanah.
Sementara beberapa yuari masih berusaha mengejar Xano dan Wyhh.
“Masuk kesini tuan!”, perintah Wyhh ketika menuju sebuah ruangan gelap.
Xano mengikuti kemana saja Wyhh melangkah. Dia percaya pada Wyhh.
Mereka masuk kedalam sebuah lobang pembuangan tua yang sudah tidak digunakan sejak lama. Suasana didalam sana sangat gelap, sumpek dan lembab. Tetapi itulah jalan yang aman jika mereka ingin melarikan diri dari yuari-yuari diluar sana.
“Kemana ini Wyhh?”.
“Ini menuju laut. Hati-hati dengan tangan anda tuan. Tumbuhan gelap didinding lorong ini bisa melukai tangan kita”, kata Wyhh.
“Sudah berapa lama sila ini tidak digunakan Wyhh?”, tanya Xano.
“Hampir seabad”.
“Mengapa kota sebesar ini dibiarkan terbengkalai?”.
“Serangan penyakit. Dalu aku dengar, bahwa disila ini terserang penyakit langka yang membuat kulit orang-orang mencair tanpa sebab. Agar wabah tidak meluas kekota lain, Cekai Oqaca saat itu mengambil keputusan untuk mengisolasi kawasan ini dan melarang siapa saja mengunjunginya. Penduduk kota ini dikurung didalam rumah mereka dan jika mereka keluar, meraka akan segera dibunuh oleh para Yuari yang selalu siaga dijalanan disekitar gedung. Namun beberapa tahun lalu, sudah diumumkan bahwa penyakit aneh tersebut sudah tidak ada lagi disila ini sehingga orang-orang diperbolehkan untuk mengunjungi sila hantu ini. Namun karena pembantaian itu, konon sila ini dihuni arwah-arwah penasaran, sehingga orang-orang yang tadinya ingin memanfaatkan sila ini kembali menjadi takut”. Wyhh menunduk untuk menghindari pipa diatas kepalanya.
Xano terdiam dan melangkah dengan hati-hati. Ada sesuatu melilit kakinya. “Tunggu Wyhh! Ada sesuatu melilit kakiku”. Xano mengecek kakinya yang terendam air hingga lutut itu dan tampak seekor Tupai air berekor sangat panjang melilit kakinya. Hewan itu juga menggigit sepatu Xano. Xano segera menyingkirkan hewan itu dari kakinya.
“Kita tidak akan menuju laut karena saya yakin para yuari pasti akan menemukan kita kalau kita menuju sana. Sebaiknya kita keluar lewat jalan pembuangan menuju sungai saja”
“Aku percaya padamu Wyhh. Tapi aku harus menyelamatkan Qwed”.
“Tuan tenang saja. Qwed pasti akan tetap hidup. Dia pasti dikirim ke Hrewa Kufe”.
Menyusuri lorong gelap yang panjang itu, membuat kaki Xano sakit dan tangannya juga berdarah akibat terkena tumbuhan disisi lorong. Namun tak lama kemudian, sampailah mereka di tempat tujuan yaitu sungai Mesyuto. Xano dan Wyhh keluar dan menuju kedalam hutan lebat yang dipenuhi tumbuhan bunga-bunga cantik berpohon besar. Oqaca menyebut pohon-pohon itu dengan nama Retwa scerapt. Ada yang berwarna biru, ungu, jingga dan coklat muda.
“Wow, hutan yang indah”, ucap Xano takjub.
“Sebelum kita masuk kehutan, saya peringatkan bahwa anda jangan sekali-kali menyebutkan nama pohon ini secara lengkap karena ada pantangan yang menyebutkan jika pohon itu mendengar kita memanggil namanya maka roh pohon akan terbangun dan menelan kita bulat-bulat”.
“Baik Wyhh”, ucap Xano paham.
Mereka mulai memasuki kawasan hutan tersebut dengan hati-hati.
“Arggkkkk! Arggkkk.. grrrrr…. “, Qwed berusaha berontak didalam kerangkeng yang membawanya. Qwed ditarik menggunakan kaguka diatas sebuah kereta khusus dretaju yang dimiliki Oqaca. Qwed dibawa kegedung pemerintahan dan akan segera dikirim ke Hrewa Kufe.
Orang-orang tampak takjub melihat arudretaju itu.
“Hewan langka itu mengamuk. Aku baru kali ini melihat arudretaju secara langsung. Dagunya memang ada dua”, kata salah seorang pria pada pria disebelahnya.
Gelindingan roda kereta yang menarik Qwed terus bergulir menuju kegedung Cekai. Para kaguka berusaha menarik Qwed dengan sepenuh tenaga. Walau Qwed sudah diikat, tetapi ketika Qwed bergerak-gerak berontak maka sesekali membuat kereta goyah.
***
Beberapa waktu tinggal dibumi memang membuat Ray sedikit mengenal kondisi planet ini. Dibumi Ray mendapatkan cinta Fiko. Waktu telah begitu banyak dia habiskan berdua bersama Fiko. Saat tak ada orang yang menyayanginya di Naolla, Fiko datang dengan kesan yang kurang baik pada awalnya. Sejalan dengan berjalannya waktu, Ray menjadi tahu sifat Fiko yang sebenarnya. Fiko memiliki sifat baik yang Ray butuhkan. Kehidupan dibumi menurut Ray adalah hidup yang sebenarnya. Disini memang hanya ada kata kuat atau lemah. Kuat tak selalu harus berbadan kekar atau berdiri kokoh, terkadang kuat menahan diri dan mengatur keseimbangan sikap juga bisa dikatakan kuat. Lemah tidak selalu harus mudah rapuh namun jika kita lemah karena ketulusan kasih sayang tentu itu menjadi tolak ukur tersendiri bagi kita. Lemah itu perlu kekuatan dan kuat tak bisa kuat jika tidak ada lemah. Keseimbangan itu perlu, hidup tak selamanya hitam atau putih tetapi diantara hitam atau putih masih ada abu-abu. Jika suatu saat ingin menjadi lebih baik maka berubahlah menjadi putih.
Jika jalan kehidupan hanya ada dua saja, maka sudah dipastikan bumi ini akan terpecah menjadi dua kubu. Tetapi pada kenyataanya tidak demikian. Setiap orang pernah kebingungan mencari jati dirinya ketika beranjak dewasa. Disaat seperti inilah warna abu-abu menjadi primadona dan siap masuk kesisi hitam atau putih. Namun bagaimanakah jika selamanya orang itu tetap dibagian abu-abu? Tidak bisa. Dunia perlu kejelasan, memilih hitam atau putih? Hitam maupun putih semua itu relatif bagi setiap orang. Jika dia senang melakukan perbuatan baik maka putih baginya adalah kebaikan tetapi jika dia senang melakukan kejahatan maka yang baik bagi dirinya adalah kejahatan dan menurut dia itulah warna putihnya. Namun dibumi ini kita hidup sesuai sudut pandang orang banyak yang melihat kebaikan itu sebagai putih dan kejahatan itu sebagai hitam. Tinggal kita yang memilih penyelesaiannya, apakah ingin menuruti diri sendiri, orang lain atau memadukan keduanya. Hidup ini masih diijinkan Tuhan untuk kita campur tangan, jika kita menyerah begitu saja maka hanya sampai disitulah jalan hidup kita. Jangan pernah menyerah pada kondisi tubuh atau fisik. Karena semua itu tergantung hati dan pikiran kita yang mengendalikannya. Bukankah manusia dikenal karena pikirannya?
Inilah yang menjadi kebenaran Ray. Hucky Nagaray kecil tidak pernah tahu bahwa ternyata tidak melakukan apa-apa tetap salah dimata orang lain. Dia tidak menginginkan ada di Naolla sebagai azzo dewa. Tuhan telah mengijinkan Ray untuk menjadi azzo istimewa yang berhak menentukan pada siapa dia akan memilih tubuh. Takdir Ray dia sendiri yang menentukan. Kemauan kuatlah yang mampu merubah hidupnya.
“Tuan Hoslo! Tunggu dulu sebentar. Ini ada titipan dari Loka”, panggil salah seorang Yuari.
“Apa ini Fo?”, tanya pembuat pedang itu.
“Ada sedikit upah tambahan untuk tuan. Mohon diterima”. Orang itu berlalu pergi setelah menyerahkan bingkisan dari Loka.
Sambil berjalan meninggalkan gedung pemerintahan, dia terus memandangi kotak terbungkus yang diberikan Loka. Hoslo sangat penasaran dengan barang itu. Sesampainya dirumah, dia membuka barang tersebut dan ternyata itu batu permata hitam yang indah. Hoslo sangat senang dan memberikan barang itu pada istrinya. Sang istri juga sangat senang menerima pemberian Loka tersebut. Hadiah itu diberikan Loka Fugk karena tuan Hoslo memenuhi permintaan pedang khususnya sebelum jatuh tempo. Tetapi kebahagian mereka berdua terasa kurang lengkap tanpa adanya tangisan bayi ditengah-tengah sepasang suami istri itu. Mereka sudah lama menikah namun tak juga dikaruniai anak.
Kadang istri tuan Hoslo murung sendiri memikirkan nasibnya. Untunglah tuan Hoslo selalu tidak mempermasalahkan keadaan istrinya dan terus menjadi penyemangat. Pekerjaan Hoslo yang setiap harinya menempa besi untuk dijadikan pedang, membuat pria itu sedikit lupa akan kesedihan keluarganya.
Hingga suatu sore ketika pulang dari mencari besi untuk membuat pedang.
“Suara tangisan bayi?”. Hoslo memasang telinganya lekat-lekat untuk mencari sumber suara itu. “Sepertinya dari balik gedung”. Hoslo mendatangi suara yang semakin jelas terdengar ditelinganya.
Benarkah apa yang dia lihat itu? Seekor belut terbang besar melilit bayi kecil yang tergeletak begitu saja ditanah. Hoslo menghampirinya dan mengusir belut itu. Belut itu terbang dan sebelum jauh dia tiba-tiba bisa bicara dan mengatakan sesuatu pada Hoslo.
“Aku utusan Edka Higudasa, menitipkan Hucky Nagaray padamu untuk sementara waktu. jaga dia baik-baik, dia azzo langit”, kata belut terbang itu pada Hoslo. Kemudian dia terbang tinggi meninggalkan Hoslo yang masih terdiam tak percaya.
Istri tuan Hoslo sangat gembira menerima kehadiran Ray. Mereka begitu sayang kepada Ray. Pada awalnya tidak ada orang yang tahu dari mana Ray berasal, hingga tak lama kemudian belut yang menyerahkan Ray ke Hoslo berhasil ditangkap dan dipaksa untuk memberitahu keberadaan azzo dewa milik Raja Edka Higudasa.
Saat itu Sukaw masih menjabat sebagai penasehat kerajaan tetapi karena Raja Vocare telah menghilang entah kemana, akhirnya kerajaan dipimpin sementara oleh Sukaw sampai Pangeran berumur delapan belas tahun. Sukaw beserta anak buahnya mendatangi Loka di gedung pemerintahan.
“Aku tidak mau membiarkan azzo dewa itu berada diluar Vocare, tuan Loka. Atas nama Hrewa Kufe, maka saya berniat untuk membawanya”, kata Sukaw.
Mereka mengadakan pertemuan terbatas.
“Tetapi Raja Vocare sendiri yang menitipkan azzo itu disini tuan. Kami hanya menuruti permintaan Raja Vocare. Anda tidak bisa begitu saja menetapkan pada siapa azzo itu dititipkan”. Loka berusaha mempertahankan Ray di pulau Fugk.
“Kamu berani denganku? Saya adalah Raja pengganti di kerajaan Vocare yang sah. Saya berhak atas azzo itu karena dia adalah hak milik Raja Vocare”. Sukaw mulai marah.
“Tidak bisa. Walaupun anda raja pengganti tetapi tuan Edka, melalui utusannya, sendiri yang menitipkan Ray kepulau saya dan dengan begitu berarti Raja Edka sudah mempercayai azzo itu disini”.
“Bukankah raja hanya menitipkan azzo itu untuk sementara waktu ditempat ini? Jadi kami bisa kapan saja mengambilnya”. Sukaw bersikeras.
“Baiklah. Jika bayi azzo itu sudah dewasa, maka saya sendiri yang akan menanyakan padanya kemana dia akan memilih. Bagaimana?”.
“Kamu kira aku akan menyetujui pemikiran seperti itu? Kalau dia sampai diculik atau pergi kedaerah lain, bagaimana? Kamu mau menjamin itu?”. Sukaw memang orang yang tidak mudah untuk diajak berunding.
Loka menghela nafas sebentar. “Saya sebagai Loka Fugk akan menjamin itu tuan”.
“aku masih meragukanmu. Aku akan memeliharanya sendiri di Hrewa Kufe. Bukankah disana kesejahteraan hidup akan lebih baik? Disini mana mungkin begitu”.
“Percayalah pada saya tuan. Azzo itu aman dan terjaga disini”. Loka meyakinkan Sukaw.
“Kalau bicara itu gampang saja Loka, yang terhormat. Hidup ini tidak bisa ditebak kemana arahnya. Aku tidak akan mudah begitu saja mempercayaimu. Kamu adalah manusia bukan seorang dewa. Segala sesuatu bisa saja terjadi nanti”.
“Saya masih percaya pada belut itu. Sekarang anda memang raja pengganti tetapi apakah anda sudah memastikan dimana Raja Edka berada? Sebelum beliau ditemukan, saya akan terus menjaga azzo itu”. Loka terus mempertahankan Ray. Dia tahu tujuan sebenarnya dari seorang Sukaw yang hanya mengincar kekuasaan.
Sukaw mulai bingung. Sepertinya dia memang masih belum cukup kuat untuk membawa Ray ke Hrewa Kufe. “Apa yang bisa kamu jaminkan untuk keselamatan azzo itu disini?”.
“Nyawa saya. Bagaimana?”.
Sukaw tersenyum licik lalu mulai melunak. “Kalau begitu, baiklah. Tetapi ingat jika sampai terjadi sesuatu yang tidak diharapkan pada azzo itu maka siap-siap saja nyawamu akan menjadi taruhannya”.
“Iya, silahkan”, jawab Loka.
“Aku tidak akan tinggal diam saja memepercayakan semuanya padamu. Aku akan membuat tim khusus untuk memata-matai azzo itu”. Sukaw bangun dari tempat duduknya. “Aku permisi, Loka”.
“Silahkan tuan”. Loka berdiri dan mengantarkan Sukaw hingga depan pintu.
Setelah menempuh perdebatan panjang akhirnya, Sukaw setuju pada kesepakatan bahwa mereka akan menunggu azzo itu hingga dewasa dan baru setelah itu mereka bisa mengambil Ray untuk dibawa ke Hrewa Kufe.
Semenjak itu Sukaw juga menyebarkan isu bahwa Ray lah penyebab kematian Raja Vocare X. Sukaw juga mulai memusuhi Fugk akibat tidak mau menyerahkan azzo itu dengan mudah.
Ray tumbuh menjadi anak yang baik di bawah asuhan Hoslo dan istrinya. Ray sudah berusia delapan tahun tetapi karena hasutan Sukaw, banyak orang diluar sana yang menjauhi Ray. Mereka menyalahkan Ray akibat kesengsaraan di Naolla. Ray menjadi pribadi yang penyendiri dan menjauh dari lingkungannya. Ray sering berada didekat danau indah yang dikelilingi bukit dan pepohonan  untuk sekedar berdiam diri dan menjauh dari orang-orang.  Rumput-rumput pendek ditanah sering dijadikannya alas tidur sambil memandang Difu dan Aste yang terbit dari selatan.
Danau cantik itu mengubur semua kepedihan Ray atas perlakuan orang-orang terhadapnya. Air yang jernih dan suasana yang sejuk menjadikan danau itu tempat kesukaan Ray ketika sedang sedih.
“Ray… Pulang yuk, sebentar lagi Difu dan Aste akan tenggelam”, ajak istri tuan Hoslo sambil mendatangi Ray yang tengah duduk dibatang kayu mati yang terendam ditepi danau.
“Sebentar lagi bu. Aku mau melihat Difu dan Aste tenggelam”, tolak Ray kecil.
Nyonya Hoslo meniti batang pohon mati yang diduduki Ray. Dia ikut duduk disamping Ray dan merangkul Ray. “Difu dan Aste itu cantik bukan? Mereka seperti tak pernah lelah untuk bermain sepanjang hari”. dia membelai rambut Ray.
Ray kecil membuat teropong menggunakan kedua tangannya kemudian mengarahkannya pada Difu dan Aste. Sikapnya yang lugu dan masih ingin selalu tahu, mendorong Ray untuk bertanya, “Mereka pasti tidak punya orang tua yang melarang mereka, ya bu?”.
“Hahaha… Maksud Ray, ibu suka melarang kamu bermain ya? Ayo ngaku…”, canda nyonya Hoslo sambil mencolek hidung Ray.
“Bukan bu… Aku cuma bercanda kok. Tapi ibu kan juga sering melarang aku main diatas pohon”.
“Ibu tidak melarangmu Ray, namun ibu takut kalau kamu memanjat pohon sendirian dan jatuh bagaimana? Kalau ada ayah atau ibu didekatmu, tentu boleh”.
Hubungan keduanya sangat harmonis. Entah mengapa kesenangan Ray saat itu dapat membuat nyonya Hoslo menitikkan air mata.
“Ibu kenapa? Ibu menangis ya?”, tanya Ray polos sambil memeluk tangan ibunya.
Nyonya Hoslo menyeka air matanya. “Mana mungkin ibu menangis. Tuh, Difu dan Aste sudah turun kebalik bukit”. Nyonya Hoslo mengalihkan pembicaraan.
Ray berdiri dan buru-buru meninggalkan pohon mati itu.
“Kemana Ray? Hati-hati!”.
“Aku mau lihat Difu dan Aste dari atas bukit bu. Ayo bu cepat…”. Ray yang manis berlari menuju bukit disebelah danau. Langkah kaki kecilnya terus berlari menuju puncak bukit.
“Pelan-pelan larinya Ray. Lihat langkah kakimu”. Nyonya Hoslo mengikuti Ray keatas bukit.
Cahaya langit putih yang terus memudar sekarang mulai digantikan oleh gelapnya langit bulan merah. Pemandangan indah yang sangat memukau mata dari atas bukit itu membuat Ray kegirangan sambil melompat-lompat dan melambaikan tangan pada Difu dan Aste.
“Dadah Difu… Dadah Aste… Hahahah… Yeyeyeyey…Dah…”.
Tingkah Ray yang menggemaskan membuat nyonya Hoslo tersenyum sambil memperhatikan Ray. Dia berdiri disamping anaknya. “Sini Ray, ibu gendong dipunggung ibu. Supaya kamu bisa melihat Difu dan Aste tenggelam”.
Ray kecil langsung naik kepunggung ibunya dan tertawa kegirangan sambil melambaikan tangan pada Difu dan Aste diutara sana. “Ibu dadahkan tangan juga dong…”.
“Iya ini, ibu melambaikan tangan”. Nyonya Hoslo menuruti kata Ray dan melambaikan tangannya.
Mereka tampak senang sekali dan dengan menggendong Ray, nyonya Hoslo menuruni bukit menuju rumah mereka.
Satu lagi masa kecil di Naolla yang tidak bisa Ray lupakan seumur hidupnya.
“Ray… Ibu… Kalian dimana?”, panggil Hoslo dari arah danau. Tampaknya dia khawatir karena istri dan anaknya belum pulang-pulang juga.
“Ayahhhh…. Hahaha “, Ray melambaikan tanganya pada Hoslo dan tertawa senang.
“Anak ayah kemana saja? Kasihan ibu menggendong badanmu yang berat itu. Sini duduk dibahu ayah”, pinta Hoslo.
Ray menuruti kata-kata ayahnya dan mau saja ketika Hoslo mengambil Ray dari tubuh ibunya kemudian dia junjung diatas pundak kokohnya yang kekar.
“Lari ayah… Hahaha.. Cihuy…”, Ray sangat senang sekali sore itu.
Hoslo mulai berlari kecil agar anaknya semakin gembira sementara istri Hoslo hanya senyum sambil berjalan mengikuti langkah suaminya.
“Anak bandel. Ayo kita lari seperti kaguka… Hahaha”, kata Hoslo.
“Lebih kencang, Yah. Ayo…”.
Dilangit telah muncul bulan merah yang masih redup. Cahayanya yang suram sedikit mengaburkan penglihatan siapa saja yang berjalan di Naolla. Bulan yang seperti mengabarkan kepedihan itu memang sangat menakutkan. Cahaya merah tua menyalanya membuat setiap anak di Naolla takut. Hari ini Ray mengerti akan satu hal bahwa dia masih memiliki orang tua angkat yang selalu menyayanginya. Ray bersyukur akan kesempatan itu.
Waktu berlalu cepat dan Ray telah tumbuh menjadi anak yang pandai membantu ayahnya memilih besi. Hoslo mengakui bahwa anaknya itu sangat telaten dalam memilih besi untuk membuat pedang. Ray juga sering menjual pedang-pedang ayahnya kepasar Fugk atau mengantarkan pesanan pedang pada pelanggan.
Selain itu, Hoslo juga mengajari Ray untuk mendapatkan azzo dan membuat linggi untuk berjaga-jaga jika Ray diserang oleh orang-orang yang berniat jahat.
“Perhatikan linggi ayah, Ray”, kata Hoslo sambil memperlihatkan linggi roh yang berwarna hijau. “Untuk mendapatkan azzo, kamu harus terlebih dahulu memahami linggi. Karena jika azzo tidak diubah menjadi linggi maka tubuhmu akan hancur”.
“Wow… Linggi ayah bercahaya hijau. Mengapa bisa begini Yah?”, tanya Ray sambil menyentuh linggi itu.
“Ini adalah jenis linggi berazzo roh. Linggi jenis azzo roh adalah linggi langka yang sulit untuk dikendalikan. Linggi jenis ini memiliki bentuk yang beragam dan sangat unik. Ayah harap jika kamu nanti memiliki azzo seperti ayah, maka buatlah linggi yang paling sesuai dengan karaktermu”. Hoslo melemparkan lingginya kedalam danau yang seketika membuat danau mengeluarkan cahaya hijau.
Ray terdiam kagum.
“Mulailah dari mencoba mengenal linggi secara detail lalu setelah itu baru ayah akan mengajarkan kamu cara untuk mendapatkan azzo”.
Latihan mereka akhirnya selesai tetapi dampak setelah itu, Ray sakit. Hoslo sangat bingung pada tubuh Ray dan khawatir juga. Dia tidak tahu mengapa Ray bisa sakit seperti itu. Awalnya Hoslo mengira Ray terserang demam biasa tetapi karena setiap kali Ray berinteraksi dengan linggi pasti setelahnya Ray akan demam. Semenjak itu Hoslo tahu bahwa tubuh Ray tidak tolerir pada linggi dan mulai memikirkan kemampuan apa yang sebaiknya Ray kembangkan.
Hari yang cerah diawali Ray pagi itu. Hiruk pikuk kegiatan orang dikota Fugk menemani langkah kaki Ray. Dari sudut lain dipinggiran Kota, Hoslo mendapatkan undangan rahasia dari orang misterius.
“Jika ingin istrimu selamat, segera datang keteluk Das”. Itulah bunyi surat singkat tersebut.
Tanpa banyak berfikir lagi, Hoslo langsung menuju teluk Das yang sepi untuk memenuhi permintaan dari sang pembuat surat misterius. Langkah kakinya tampak terburu-buru. Diteluk yang tenang tidak tampak ada orang yang berada disitu. Semua tampak lengang dengan deburan ombak laut yang menyapu pantai. Perlahan-lahan dan tampak waspada, Hoslo menapakkan kaki dipantai. Dia melihat kesekitar kawasan diteluk Das namun tak ada tanda-tanda orang didekat situ.
“Dimana orang itu?”, Hoslo mulai cemas.
Dari arah laut munculah sesosok tubuh tak bergerak terbawa ombak hingga tepi pantai. Hoslo kaget dan langsung menyambangi tubuh itu. Sangat terkejutlah dia melihat istrinya sudah tidak bernyawa dengan luka linggi dikepala. Tubuh Hoslo bergetar hebat, matanya marah besar.
“Tidak mungkin. Brengsek! Sialan! Aku terlambat. Siapa kamu brengsek? Sayang… bangun…”. Air matanya meluncur deras dari kelopak mata. Tangis sesal yang tak terbendung lagi mengubur kebahagiannya. Hati Hoslo sangat terpukul karena ini. Tubuhnya lemas tak bisa berdiri dan hanya mampu memeluk tubuh istrinya yang telah terbujur kaku diterpa ombak.
Beberapa hari setelah itu kesedihan Hoslo membuat pekerjaannya sedikit terganggu. Meski Ray berusaha menghiburnya namun raut wajah kesediahan Ray juga tidak bisa disembunyikan. Anak sepuluh tahun itu hanya bisa berusaha membantu semampunya.
“Ayah sudah makan?”, tanya Ray memecah keheningan diruang tengah.
Hoslo hanya melamun sambil mengusap-usap pedangnya. Tatapan matanya seolah-olah memandang kosong pedang tersebut.
“Ayah? Apakah ayah baik-baik saja?”, tanya Ray.
Hoslo tersadar dari lamunannya dan tanpa menjawab pertanyaan dari Ray dia meninggalkan ruangan tersebut.
Ray bingung pada sikap ayahnya.
Malam yang suram terdengar sunyi menenggelamkan setiap kebisingan di Naolla. Kehidupan seperti tak terlihat ditanah tersebut. Seseorang yang sedang  mengendap-endap membawa anaknya menuju kesuatu tempat terlihat berhati-hati. Entah mengapa dia melakukan itu, yang jelas orang tersebut sepertinya tidak ingin lagi berada dipulau Fugk.
Dari arah gelapnya hutan mendekatlah delapan orang berpakaian yuari mendatangi pria itu.
“Berhenti Hoslo! Aku tahu kamu mau pergi dari Fugk. Jangan menghindar dari kami, jika kamu ingin hidup”, tegur Yauri berhidung mancung tersebut.
Hoslo terdiam sejenak sambil memikirkan cara yang tepat untuk menghindari para yuari dari Vocare itu.
Tanpa diduga oleh Hoslo ternyata Yuari Vocare lah yang telah membunuh istrinya beberapa waktu lalu mereka menginginkan Hoslo menyerahkan Ray kepada Vocare tanpa diketahui Loka Fugk. Sukaw memang tidak mungkin membiarkan Ray berada di Fugk begitu saja. Keinginannya untuk mendapatkan Ray sebagai azzonya memang tak bisa dia tahan lagi maka dengan segala cara dia berusaha untuk membawa Ray ke Hrewa Kufe dengan atau tanpa persetujuan dari Loka. Dia mengutus beberapa Yuari rahasia untuk menjalankan misi jahatnya tersebut namun Hoslo menyadari tujuan jahat Sukaw setelah dia mendapatkan surat kedua beberapa hari lalu.
Untunglah saat hal yang dikhawatirkan Hoslo terjadi Ray telah dia titipkan ke tuan Loka dengan alasan dia akan pergi keluar pulau untuk sementara waktu. Ketika dititipkan pada Loka, Ray masih dalam keadaan tidur. Hoslo takut jika Ray bangun maka dia akan menangis dan ingin ikut.
“Kalian fikir aku akan menyerahkan anakku begitu saja pada kalian? Cuih! Mimpi saja dulu”. Hoslo mengeluarkan lingginya sebagai perlawanan.
“Hahahaha… Lihat teman-teman, ada orang yang berani menantang kita. Kita cincang?”, tanya yuari berhidung mancung pada teman-temannya dibelakang.
Secara serempak ketujuh pria kekar itu menyahut, “Cincang dia!”.
Semua yuari didepan Hoslo sekarang mengeluarkan linggi mereka masing-masing. Nafsu membunuh mereka seperti berlimpah keluar dari cangkirnya. Pertarungan adu linggi sengit pun terjadi. Pertarungan malam itu memang tidak seimbang tetapi Hoslo terus berusaha melawan kedelapan yuari tersebut. Darah Hoslo menetes di tanah Fugk. Salah seorang yuari berhasil mengenai lengannya. Meski begitu, Hoslo masih sanggup meladeni gerakkan linggi para yuari yang ingin menebasnya. Hoslo hanya ingin mengelabui para yuari dengan boneka di punggungnya. Para yuari pasti tidak tahu kalau yang mereka sangka sebagai Ray adalah sebuah boneka. Karena merasa terdesak, Hoslo berlari menghindar. Hoslo berlari menerobos pepohonan dan rumput. Segenap kekuatannya dia kerahkan untuk mengulur waktu.
Syat! Sebuah linggi melintas disamping Hoslo. Sepertinya para yuari sudah sangat marah pada Hoslo. Para yuari itu terus mengejar pria itu sambil berusaha mengenai tubuhnya dengan linggi.
“Awas kau ya!!! Linggi!!!!”. Salah seorang yuari yang memiliki kalung dilehernya mengeluarkan linggi besar. Mata lingginya muncul dari dalam tanah. Linggi-linggi batu sebesar tugu itu muncul secara tiba-tiba menghadang Hoslo. Bentuknya yang segitiga menjulang tinggi membuat Hoslo tidak bisa melompatinya sehingga dia menghindar dengan cara berbelok arah lari. Tetapi linggi-linggi panjang itu terus bertambah dan akhirnya Hoslo tarkepung dideretan linggi tersebut. Wajah ketakutan mulai tergambar diraut mukanya. Hoslo lagi-lagi mengeluarkan linggi azzo.
“Kalian yang yang memaksaku! Mati kalian!”. Hoslo marah besar dan mengeluarkan linggi roh secara berlebihan. Sebuah linggi yang mirip seperti tanduk besar bercahaya hijau teracung kehadapan para yuari.
“Linggi apa itu?”. Salah seorang yuari tercengang.
Linggi ditangan Hoslo memiliki kemampuan yang hebat, linggi itu menghancurkan linggi-linggi batu milik yuari yang menjulang, hingga seperti debu, hanya dengan menyentuhnya. Sekejap kemudian, area itu dipenuhi debu-debu linggi. Para yuari terlihat kaget dan tercengang namun itu tak akan menghalangi mereka untuk merebut Ray. Untuk mengimbangi kekuatan linggi aneh milik Hoslo, para yuari melakukan sebuah ritual dengan menggabungkan kekuatan sehingga mampu membuat linggi azzo besi. Linggi khusus itu bermata tipis dan lebar. Dari penampilannya, linggi tersebut memang tidak meyakinkan namun ternyata setelah yuari berhidung mancung menggunakan linggi itu untuk menyerang Hoslo, linggi milik Hoslo tidak bisa menghancurkannya. Maka terjadilah pertarungan sengit satu lawan satu. Kemampuan menggunakan linggi Hoslo ternyata cukup hebat sehingga yuari itu kewalahan menghadapi Hoslo yang telah mengeluarkan kemampuan iblisnya.
“Ini tentang harga diri. Seberapa kuat kamu bertahan, tentu tak ada gunanya. Jika kamu ingin tetap hidup, serahkan azzo itu sekarang! Jangan banyak tingkah kamu, pengrajin pedang! Hiat!!!”.
Syat! Trang! Trak! Trak! Trak! Syat…
Hoslo terengah-engah melawan yuari itu. “A-ku.. pengrajin pedang yang punya tanggung jawab! Siapa yang menitipkan azzo ini maka dialah yang harus mengambilnya. Kamu tidak berhak sama sekali! Bahkan Naolla pun tidak berhak mengakui azzo ini!”.
Trak! Syat-syat! Crrkkkk…crkkk… Trak!
“Kalau itu mau mu. Aku akan segera memepertemukan kamu dengan istrimu!”. Yuari itu melompat mundur lalu melenyapkan linggi ditangannya. “Yuari. Tunjukkan siapa kita pada orang bodoh itu”.
Para yuari mulai mengeluarkan linggi tanah biasa milik mereka masing-masing. Dengan beruntun, mereka mengeroyok Hoslo sendirian. Hoslo memang memiliki linggi hebat tetapi apabila diserang secara bertubi-tubi dan bersama-sama maka diapun tak bisa berbuat banyak. Seluruh tenaganya terkuras dan pada akhirnya membuat Hoslo kelelahan sehingga konsentrasinya menurun. Kesempatan itu tidak di sia-siakan para yuari. Mereka terus mencerca Hoslo dan akhirnya beberapa linggi mengenai dada dan perutnya sehingga Hoslo terluka parah dan sekarat. Para yuari menghentikan serangannya dan tertawa senang melihat Hoslo terkapar. Salah seorang yuari mengambil Ray dari tangan Hoslo. Dengan wajah sumbringah dia buka kain penutup wajah Ray dan alangkah terkejutnya dia setelah tahu bahwa itu bukanlah azzo yang mereka cari. Yuari itu langsung mencampakkan boneka tersebut ketanah dan tanpa berfikir lagi dia keluarkan linggi untuk menebas tubuh Hoslo. Crakkkk!!! Darah segar memancar keatas sebagai tanda akhir dari hidup Hoslo. Didalam kematiannya, Hoslo tampak tersenyum bahagia. Mungkin dia berfikir bahwa sebagai ayah Ray, dia telah melakukan hal yang benar. Selain itu hidup yang abadi akan dia jalani di alam lain bersama mendiang istrinya.
***
Pagi hari yang indah di La Paz. Tiupan angin lembut menyentuh dinding apartemen Alvaro. Sentuhan apik indahnya langit pagi mencuri decak kagum dari Jheibo. Dia terbang  bolak-balik didekat jendela sambil sesekali bertepuk tangan gembira.
Alvaro yang baru selesai mencuci muka langsung mendatangi Jheibo. Dia tertarik dengan tingkah lucu Jhei sambil melihat mentari pagi.
“Hahaha.. Kamu suka cahaya matahari pagi ya?”, tanya Alva.
Jheibo mengangguk dan menjulurkan lidahnya. Tampaknya dia ingin menyampaikan bahwa cahaya dapat membuat dia kenyang.
“Kamu lapar?”.
Jhei menggelengkan kepala lalu duduk di jendela sambil mengusap perut kecilnya.
“Hmmppp… Kenyang?”, tebak Alva lagi.
Jheibo langsung mengiyakan dan terbang kembali. Mimik wajah Jhei yang lucu membuat Alva tersenyum sendiri.
Sementara diatas tempat tidur, Ray juga tersenyum melihat ulah Jheibo. Ray sudah merasa lebih baik pagi ini. Dia duduk dan bersandar diatas tempat tidur sambil memperhatikan Jheibo dan Alvaro.
Alvaro menolehkan kepalanya kearah Ray.
“Eh, Ray. Sudah bangun? Hewan peliharaan kalian lucu sekali ya. Aku jadi mau pelihara juga”. Alva mendekat kearah Ray dan duduk ditempat tidur, disamping Ray.
“Jheibo memang lucu. Mereka langka lho. Mungkin sudah terancam punah dihabitat aslinya”, jawab Ray.
Mata Alva memandang Ray lekat-lekat. Kebetulan saat itu Fiko sedang mencuci pakaian dikamar mandi sehingga Ray dan Alva bisa ngobrol berduaan saja.
“Kita belum kenalan, bukan? Aku Hucky Nagaray. Panggil saja aku Ray. Kalau kamu?”. Ray mengulurkan tangannya.
“Oh, aku Alvaro. Aku biasa di panggil Alva. Aku tinggal disini karena mengikuti pamanku yang pindah kesini beberapa tahun lalu. Kalau boleh tahu, kamu semalam kenapa Ray?”, tanya Alva.
“Aku… ermmmm… Sepertinya hanya kelelahan saja”, jawab Ray sekenanya. “Kamu tinggal disini sendirian?”.
“Begitulah. Biar lebih mandiri saja. Kadang pamanku suka ketempat ini sewaktu-waktu hanya sekedar menjenguk keadaanku. Tidak perlu khawatir Ray, anggap saja ini rumahmu sendiri”.
“Terimakasih ya Alva, kamu mengijinkan aku dan Fiko untuk tinggal disini. Ngomong-ngomong, Fiko dimana?”. Ray melihat seluruh penjuru ruangan.
“Fiko? Tadi katanya mau mandi terus mencuci baju”.
Jheibo mendatangi Ray dan mencuim hidung Ray. Benar-benar menggemaskan Jheibo ini.
“Hahaha… Jhei? Kamu suka suasana di bumi ya?”. Sepertinya Ray salah bicara.
“Bumi? Memangnya Jheibo belum pernah kebumi Ray?”. Alva sepertinya curiga.
“Maksudku, Jheibo. Suasana kota ini. Ya, maksudku suasana kota ini. Bukan begitu Jhei?”, ralat Ray segera.
Jheibo menganggukkan kepalanya kearah Alva.
Alva tersenyum melihat Jheibo.
Jheibo terbang keatas rambut Ray. Dia bermain-main diantara rambut hitam Ray. Tiba-tiba, Jhei terjatuh keleher baju Ray dan kakinya terikat benang baju. Ray berusaha menolongnya tetapi karena dia tidak bisa melihat kebelakang, akhirnya Alva membantu Jheibo melepaskan diri. Untunglah Jheibo tidak apa-apa.
Ketika Alva hendak menjauhkan badannya dari tubuh Ray, kakinya tergelincir kerena salah bertumpu dan jatuh ketubuh Ray. Hidung Alva menyentuh pipi Ray dan seketika membuat Alva terdiam sesaat. Mata Alva menatap kemata Ray. Hidung mereka kini bersentuhan. Dari arah pintu muncul Fiko yang baru selesai mandi. Melihat Alva dan Ray diatas ranjang dengan wajah sedekat itu, Fiko agak sewot dan tidak senang. Dia menyelonong masuk dan menegur Jheibo.
“Jhei, sedang apa kamu disitu?”.
Alva keget dan menjauhkan wajahnya dari wajah Ray. “Fiko. Aku tadi tergelincir”. Alva berdiri disamping tempat tidur.
“Oh… Jadi tidak kita mencari kerjaan buatku?”, tanya Fiko jutek.
Dengan agak takut Alva menjawab, “Jadi dong. Ayo siap-siap. Aku akan kenalkan kamu pada salah seorang kenalanku. Mungkin kamu bisa kerja ditempatnya”.
“Ya sudah”.
Ray tahu bahwa Fiko pasti salah paham mengenai kejadian yang baru saja dia lihat. Tetapi, Ray juga tidak bisa menjelaskan apa-apa saat ini. Dia takut Alva curiga terhadap hubungannya dengan Fiko.
Setelah berpakaian rapi, Fiko diajak Alva kesalah satu toko bahan makanan yang sedang memerlukan pegawai. Disepanjang perjalanan mereka hanya terdiam membisu. Tampaknya Fiko marah pada Alva. Namun karena Alva merasa tidak enak, akhirnya dia membuka pembicaraan.
“Maafkan aku Fiko. Aku tahu kamu pasti marah melihat kejadian tadi. Itu hanya kecelakaan. Aku tidak mencium Ray sama sekali”.
Fiko menghentikan langkahnya. “Aku mungkin percaya pada Ray, tetapi aku tidak percaya denganmu! Kamu sepertinya punya tujuan pada Ray. Tatapan matamu pada Ray yang mengatakan itu”. Fiko marah dan menunjuk-nunjuk wajah Alva.
“Tidak Fiko. Aku tidak ada maksud apa-apa”.
Fiko melanjutkan langkahnya. “Mungkin kalau aku tidak masuk, tadi kamu sudah mencium Ray”.
Alva tak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya membuntuti langkah kaki Fiko.
“Kemana ini?”, tanya Fiko setelah berada dipertigaan jalan.
“Kanan”, jawab Alva.
Tanpa menoleh, Fiko berjalan kekanan. Tampaknya Fiko masih agak kesal dengan Alva. Fiko teringat akan kejadian di penginapan waktu itu. Ketika Adam memperjakai Ray. Dia tak mau kejadian itu terulang kembali pada Ray. Memang tak bisa dipungkiri kalau Ray memiliki wajah yang sangat menggoda untuk pria-pria sakit. Bibir Ray yang sensual sangat mungkin menggelapkan mata siapa saja untuk segera mencicipinya, tak terkecuali dengan Fiko. Langkah kaki Fiko seakan tahu kemana dia harus melangkah. Fiko sama sekali tak memperdulikan Alva dibelakangnya.
Tak berapa lama kemudian sampailah Fiko disalah satu toko dipasar yang menjual makanan kebutuhan pokok. Rencananya Fiko ingin bekerja disitu. Toko yang berukuran tidak terlalu besar itu dijaga oleh beberapa orang pegawai dan pemilik toko. Alva mengaku mengenal pemilik toko tersebut sehingga dia ingin memasukkan Fiko untuk bekerja disana.
Alva mengenalkan Fiko pada sang pemilik toko dan akhirnya Fiko bisa kerja ditoko tersebut. Fiko sangat berterimakasih pada pemilik toko yang bernama tuan Juan.
***
Dipulau indah bernama Toshirojima, Diagta sedang bermain dengan para kucing. Ditangannya telah ada semangkuk ikan segar yang dia dapat dari menangkap dilaut.
“Waduh hewan berbulu ini rakus sekali. Kewalahan aku memberi mereka makan. Ampun deh!”, kata Diagta. Karena kesal, seluruh ikan yang tersisa didalam mangkuknya dia tumpahkan ketanah sehingga para kucing itu tidak mengerubunginya. “Makan tuh! Aku mau jalan saja lagi”. Diagta bangkit dari posisi duduknya dan mulai berjalan kedepan. Entah dia mau kemana lagi setelah itu.
“Bosan di Naolla terus, mending disini lebih hangat dan berangin. Aku kayaknya betah disini. Biarkan saja Sukaw tua itu marah-marah diistana. Hahaha”. Diagta merasa seperti benar-benar bebas sekarang.
Dari arah atas turun Cre. Dia jatuh seperti melompat dari ketinggian. Diagta kaget dengan kemunculan tiba-tiba Cre.
“Huh! Hampir saja aku pingsan karena kaget. Ada apa Cre?”.
“Raja Sukaw marah-marah. Ini semua gara-gara kamu!”, kata Cre.
Tidak terima dengan tuduhan Cre, Diagta membalas ucapan Cre. “Lho, kok karena aku? Apa hubungannya? Kalian pasti mejelek-jelekkan aku ya?”.
“Sukaw marah karena kita tidak bisa melacak keberadaan Ray. Makanya aku kembali lagi kesini untuk mencari sedikit informasi yang mungkin masih tertinggal di desa ini”.
“Cari saja kalau bisa. Tapi nanti saja. Bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu. Hahaha”, ajak Diagta seperti ingin mempengaruhi Cre.
“Aku tidak tertarik dengan bumi. Aku mau ketempat itu lagi. Kamu mau ikut aku atau tidak?”, tanya Cre jutek.
“Kamu tahu dimana aku berada jika ingin melakukan kegiatan yang tidak berhubungan dengan azzo itu”. Diagta berjalan meninggalkan Cre.
“Mana aku tahu. Aneh kamu ini”.
“Aku di pantai”.
Mereka akhirnya berpisah kearah tujuan masing-masing. Dengan begitu mereka bergerak sendiri-sendiri. Diagta sibuk dengan kegiatannya yang dia anggap liburan sedangkan Cre ingin kembali mencari sedikit petunjuk dipuing-puing reruntuhan rumah Ray.
Toshirojima memang sedang berantakkan dan beberapa orang relawan sudah datang untuk membantu merapikan pulau itu lagi. Diketahui bahwa Adam dan nyonya Aiko telah meninggal dunia. Meskipun masih banyak warga yang selamat dari malam penyerangan itu tetapi kejadian aneh yang mereka alami membuat pukulan tersendiri bagi orang-orang di Toshirojima. Selain karena kehilangan rumah, harta benda dan nyawa, penyebab kejadian yang tidak diketahui pasti juga menjadi tanda tanya besar bagi warga pulau kucing dan Jepang. Kunci dari semua ini adalah Fiko dan Ray yang telah meninggalkan Toshirojima.
Hampir seharian Cre mencari petunjuk di sekitar Toshirojima namun tidak dia temukan satupun barang atau petunjuk yang mampu memberi tahunya tentang keberadaan Ray maupun Fiko. Dengan langkah malas dia menuju pantai untuk menghampiri Diagta.
Diagta hanya duduk didekat pohon. Entah apa yang dia pikirkan sehingga terlihat senyum-senyum sendiri.
“Diagta! Kamu ini benar tidak mau pulang?”. Cre berdiri disamping Diagta.
Diagta menoleh kearah Cre. “Buat apa aku bohong. Disini lebih nyaman dan santai. Kalau di Hrewa Kufe aku selalu dimarahi Sukaw tua terus. Huh! Bagaimana sudah dapat petunjuknya”.
“Belum. Aku kehabisan cara untuk menemukan azzo itu. Mungkin kita harus memikirkan cara yang lebih efektif lagi ketimbang harus memanfaatkan hajunba”.
“Hihihihi… Kita? Kenapa harus kita?”.
“Lho, kan kamu ketua kami. Kamu harus bertanggung jawab dengan masalah ini”.
Diagta bangkit dari duduknya dan berdiri. “Kalian saja. Aku sudah tahu kemana Ray dan Fiko pergi”.
“Sungguh? Kamu ini jangan kebanyakan bercanda Diagta”.
“Nah, aku serius. Buat apa aku bertahan disini tanpa melakukan sesuatu. Kamu kira aku bodoh?”.
Cre terdiam sambil memandang Diagta dengan penuh tanda tanya.
“Sudahlah, sepertinya tidak ada gunanya aku bersusah payah mencari petunjuk”. Diagta berniat pergi meninggalkan Cre.
“Tunggu. Apa petunjuknya?”, cegah Cre.
“Kamu mau tahu? Hmpppp.. Nanti saja ya..”. Diagta tetap melangkahkan kakinya menjauhi Cre.
Cre mengikuti langkah Diagta dan memastikan kebenaran dari ucapan ketua mereka tersebut. “Tolong beritahu aku Diagta”.
“Baiklah, jika kamu memaksa. Kamu lupa dengan kemampuanku yang mampu merubah linggi menjadi azzo? Aku juga bisa melakukan kebalikannya”.
“Maksud kamu, kamu juga bisa merubah azzo menjadi linggi? Setiap yuari bisa melakukan itu. Jangan bercanda Diagta!”.
“Ya sudah”. Blap! Diagta mengeluarkan lingginya kemudian dia lemparkan kearah Cre.
Cre menyambutnya. “Untuk apa linggi ini?”.
“Lenyap!”. Linggi kristal Diagta berubah kembali menjadi debu kristal.
“Mengapa dijadikan azzo lagi?”, tanya Cre heran.
“Sekarang kamu ubah lagi menjadi linggi”, pinta Diagta.
“Apa?! Yang benar saja Diagta. Aku tidak bisa. Kamu tahu bukan bahwa aku dan kamu tidak mempunyai bentuk perubahan linggi yang sama”.
“Keluarkan linggi batumu dan ubah menjadi azzo didepanku. Cepat!”.
Cre masih agak bingung tetapi dia keluarkan linggi batunya sesuai permintaan Diagta setelah itu diberikan pada Diagta dan dia rubah menjadi asap debu azzo kembali.
Setiap azzo yang telah dibuat linggi pada dasarnya bisa dibuat lagi menjadi azzo atau mempengaruhi benda lain sehingga benda itu menjadi jejak azzo. Linggi berazzo tanah akan bisa kembali kebentuk debu. Linggi air akan berubah kembali menjadi azzo embun dan azzo api akan menjadi asap atau jika mempengaruhi benda lain linggi api akan membuat bendanya menjadi abu dan arang. Namun untuk linggi berazzo angin dan roh mereka akan lenyap begitu saja berbaur dengan alam sehingga azzo jenis angin dan roh dianggap azzo yang paling hebat karena bagi penggunanya bisa membuat linggi dari atau tidak dari tubuh tuannya jika berhasil merubah linggi menjadi azzo lagi.
Kembali kepada Diagta. Dia mendekat kearah Cre lalu mulai memperlihatkan debu ditangan kanannya. Tanpa banyak bicara lagi, Diagta mulai merubah azzo itu menjadi linggi dengan mudah.
Cre tampak kaget melihat itu. “Diagta? Kamu… “.
“Biasa aja dong, Cre. Jangan memasang tampang seperti orang bodoh begitu. Hahaha… Aku kan sudah bilah bahwa aku bisa merubah azzo menjadi linggi kembali”, jelas Diagta.
“Lalu apa hubungannya dengan azzo dewa itu?”.
Diagta melenyapkan linggi yang ada ditangannya. “Aku yakin, sedikit abu atau apapun masih bisa kita temukan disekitar sini. Dengan sedikit petunjuk itu, aku bisa merubahnya menjadi linggi lagi dan meminta hajunba mencari penggunanya. Bagaimana? Hebat bukan?”.
Cre tersenyum lalu mereka tertawa lebar.
Sekarang didepan Raja Sukaw, Diagta menyampaikan caranya. Diruangan tersebut ada Juyu, Vehu, Koloji dan Juga Cre.
“Jadi tujuan kita sekarang adalah menemukan jejak linggi Fiko dan memanfaatkannya untuk mencari azzo dewa?”, tanya Juyu.
“Ya. Tepat sekali nona cantik”, jawab Diagta.
“Ih… Jijik aku dengan kamu Diagta”. Juyu mencemooh Diagta.
“Hahaha… Siapa juga yang mau dengan cewek macho seperti kamu. Dasar”, sahut Diagta.
Sukaw memotong pembicaraan mereka. “Baiklah Diagta. Aku akan menuruti permintaanmu untuk mencari jejak linggi Fiko. Berapa banyak yuari yang kamu perlukan? Seratus? Dua ratus?”.
“Maaf tuan. Sebelum tuan memerintahkan beberapa yuari untuk mengikuti kami, ada yang harus tuan pikirkan terlebih dulu. Apakah dengan semakin banyaknya yuari dibumi tidak akan menimbulkan kecurigaan pada kita?”, tanya Cre.
Raja Sukaw berfikir sebentar. “Aku sudah tidak peduli. Kalau ada manusia yang melarang atau macam-macam dengan kalian, langsung dipenggal saja. Mengerti?”.
“Mengerti tuan”, jawab Cre.
“Juyu. Segera kamu pilih yuari-yuari untuk mengikuti mereka kebumi”.
“Baik tuan. Saya mohon pamit dulu”. Juyu beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan ruangan tersebut.
“Kami juga mau pergi tuan. Akan segera kami temukan azzo itu. Percayakan semuanya dengan kami”, ucap Cre.
Keempat pria itu melakukan hormat yuari dan setelah itu berlalu pergi untuk menjalankan tugas.
Juyu terkenal dengan orang yang bergerak cepat. Dia kini mengumpulkan para yuari Hrewa Kufe untuk mempersiapkan diri kebumi. Tidak semua yuari dia tunjuk untuk menjalankan misi ini. Hanya yuari-yuari yang memiliki kemampuan linggi anginlah yang dia tugaskan. Sekitar dua ratus yuari berbadan tegap itu kini telah siap untuk menuju bumi. Secara berkelompok, yuari itu masuk kedalam hajunba khusus mengikuti regu yang dipimpin Diagta.
Sepertinya peperangan kedua antara Fugk dan Vocare akan segera dimulai. Peperangan yang hanya bertujuan untuk mempertahankan ego masing-masing. Disatu sisi peperangan kali ini bertujuan untuk melindungi Ray dari Sukaw dan dikubu lain ini bertujuan untuk mendapatkan kekuatan abadi. Jika Ray bisa memilih untuk tidak diturunkan maka dia akan memilih itu. Namun ini semua sudah menjadi perjanjiannya dengan dewa dan Raja Vocare X. Siapapun orang yang berhasil mengendalikan kelima azzo dan perubahannya maka dia bisa meminta azzo dewa untuk melengkapai kekuatannya. Terlepas dari perjanjian itu, sebenarnya tujuan dari diturunkannya Ray itu sendiri masih misterius dan sulit untuk dipecahkan. Apakah Raja Vocare X ingin menunjukkan kebenaran atau menimbulkan kekacauan besar di Naolla? Bahkan sampai saat ini keberadaan Raja Vocare X masih tidak diketahui. Apakah beliau sudah mati atau masih hidup? Inilah pekerjaan besar bagi Naolla untuk segera diselesaikan. Diatas tanah Naolla masih ada hutang kedamaian yang harus ditegakkan. Dibawah langit Difu dan Aste masih banyak orang yang berjanji untuk melihat keadilan. Ini semua tak akan terwujud dengan sendirinya tanpa ada orang yang bersedia mengorbankan sebagian atau seluruh hidupnya untuk tujuan itu. Melihat ke siapa lagi mata kebenaran? Kepada Ray? Fiko? Loka? Tak ada yang tahu siapa orang yang bisa menjanjikan kedamaian. Hanya saja kebenaran itu tahu siapa orang yang tepat untuk mengendongnya diatas hamparan tanah Naolla.
Keheningan malam yang dingin menyingkap kegaduhan langkah kaki ratusan orang yuari Vocare. Mereka tanpa membuang-buang waktu lagi langsung menuju lokasi pertempuran yuari-yuari tempo hari dengan Fiko. Harapan mereka hanya satu, yaitu menemukan jejak azzo Fiko yang mungkin masih tersisa. Para yuari itu mengambil tanah-tanah yang mereka yakini berisi jejak azzo Fiko dan diserahkan pada Diagta.
“Ayo cepat! Aku tidak mau menunggu terlalu lama begini. Kalian kira aku punya banyak waktu apa?”. Lagak Diagta memang sudah seperti seorang raja.
Terlihat beberapa yuari menatapnya dengan pandangan tidak suka. Siapa yang terima kalau disuruh oleh orang yang lagaknya selangit seperti Diagta. Juyu yang berdiri disamping Diagta pun mencibirnya. Mungkin jika Juyu tidak sedang membutuhkan kemampuan Diagta, dia sudah memukul kepala Diagta menggunakan lingginya. Namun seluruh Hrewa Kufe sudah tahu bagaimana sifat Diagta sehingga mereka terkadang sudah menganggap omongan Diagta sebagai omongan dari orang tidak waras.
“Belum? Ini tidak ada jejak azzonya. Aduh… lama sekali. Huahhhmmmm ..”, Diagta menguap. Dia kembali menyuruh yuari yang membawakan tanah kehadapannya untuk mencari tanah lain karena tanah itu tidak memiliki jejak azzo.
Hanya dengan berbekal cahaya dari lampu stik yang mereka bawa dari Naolla, para yuari itu terus mencari jejak azzo.
“Mau aku lempar tanah saja wajah Diagta itu”, kata salah seorang yuari pada temannya yang sambil mencongkel tanah dengan menggunakan linggi.
“Nih ambil tanahku. Lempar saja kewajahnya yang tidak rata itu”. Yuari itu menunjuk kearah tanah yang sedang dia congkel. “Ckckck… Kalau kamu berani silahkan saja”.
Yuari yang berdiri itu terdiam lalu kemudian melakukan kembali pekerjaanya untuk mencari jejak azzo.
Diagta yang mulai jenuh mendatangi para yuari. Tampaknya dia mau melakukan sesuatu. “Cepat hentikan pekerjaan kalian siput Naolla. Terlalu lambat! Sudahlah. Sekarang kalian merapat kepadaku. Aku butuh azzo kalian unutk mendukungku. Ayo!”.
Ratusan yuari itu mulai mendekat kearah Diagta. Walaupun wajah mereka masih tampak bertanya-tanya mengenai perintah Diagta tersebut akan tetapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa.
“Ada apa Diagta? Mengapa pencarian ini dihentikan?”, tanya Juyu.
“Stttt.. Kamu diam saja. Lihat apa yang bisa kamu kagumi dari aku. Hehe”. Diagta mengedipkan mata kearah Juyu.
“Cuih! Dasar otak udang”.
“Ayo kesini cepat! Cepat!”, perintah Diagta lagi. Tampaknya Diagta memang sengaja memanfaatkan kesempatan untuk memerintah para yuari sesuka hatinya.
Ketika semua yuari telah berkumpul didepannya, Diagta memerintahkan para yuari untuk meminjamkan dia tenaga agar dengan tangannya sendiri dia akan mengubah apa saja yang berhubungan dengan jejak azzo diarea yang luas. Ini semacam transfer kekuatan sebab Diagta sadar kalau kekuatannya tidak akan mampu menyebarkan azzo angin atau tanah dalam wilayah yang luas. Cara ini sama seperti ketika keempat yuari yang menyerang Ray dan Fiko menggunakan linggi bertangkai panjang malam itu.
“Mulai!”, perintah Diagta.
Para yuari mulai menunduk menyentuh tanah dan berkonsentrasi mengeluarkan azzo masing-masing untuk mempengaruhi tanah dan udara Toshirojima. Diagta pun mulai menyerap azzo itu untuk  mulai mempengaruhi udara dan tanah pulau itu. Ini seperti membuat linggi dalam jumlah besar. Tentu kekuatan Diagta akan terkuras habis untuk jurus ini. Dihadapan Diagta dan para Yuari, tepatnya ditengah-tengah mereka, sekarang terbentuk pusaran angin yang besar perwujudan dari azzo yang keluar dari dalam tanah. Angin itu mengisap jejak-jejak azzo yang masuk kedalam radiusnya kemudian tugas Diagta merubah azzo-azzo itu menjadi linggi. Ratusan Linggi berbagai bentuk dan ukuran kini jatuh ketanah sampai angin itu hilang dan lenyap karena berhasil diubah oleh Diagta menjadi linggi semuanya.
Setelah semuanya selesai, kedua tangan Diagta mengelupas dan berasap. Mungkin inilah efek samping dari jurus dahsyatnya.
Juyu dan semua yuari tercengang melihat kemampuan Diagta kali ini. Tak ada kata-kata protes yang keluar dari mulut mereka karena sudah melihat dengan mata kepala sendiri kehebatan jurus Diagta. mungkin inilah yang membuat Raja Sukaw memepertahankan pria menyebalkan itu di Hrewa Kufe.
“Aduh… Juyu… Aduh… Bagaimana ini? Fuhhhh ffuuuhhh”, Diagta meniup-niup tangannya yang melepuh.
“Sampai melepuh begini? Jurus apa itu tadi?”. Juyu mendekati Diagta.
“Hehehe… Sudah aku bilang, kamu akan kaget. Itu jurus keluarga kami, tetapi sudah aku modifikasi sedikit. Tapi baru kali ini tanganku sampai melepuh begini”.
“Sekarang apa yang harus kami lakukan Diagta?”, tanya Koloji.
“Cari linggi Fiko. Lingginya pasti ada ditumpukkan linggi-linggi itu”.
Para yuari mulai memilah-milah ratusan linggi tersebut. Ternyata Diagta memang bukan orang sembarangan.
“Pantas saja Tuan Sukaw mempertahankan orang itu. Ternyata , kekuatannya sungguh luar biasa”, kata Cre pada Vehu.
“Itu tadi apa Cre? Kok dia bisa membuat azzo kita menjadi linggi. Mustahil”. Vehu mengais-ngais linggi didepannya.
“Aku juga baru tahu kemampuan Diagta. Dia memang bukan orang sembarangan. Dia istimewa. Pantas saja sejak dulu dia tetap dibiarkan Sukaw ada di Hrewa Kufe. Padahal kalau kita sampai melakukan hal yang biasa Diagta lakukan dihadapan Sukaw, kita sudah mati dipenggal”, ucap Cre.
“Dia hebat ya, Cre? Apakah kamu kalah hebat?”, tanya Vehu.
“Mana mungkin aku kalah hebat oleh orang gila seperti Diagta. Dia itu tidak terlatih seperti kita. Ayo cepat cari linggi Fiko dan cepat kita selesaikan tugas ini. Aku sudah muak diperintah oleh Diagta terus”.
Merekapun melanjutkan pekerjaan mereka. Setelah terus mencari linggi Fiko ditumpukkan linggi-linggi itu, akhirnya beberapa linggi api ditemukan diantara ratusan linggi itu. Mereka mengumpulkan beberapa linggi Fiko ditempat tersendiri. Ditumpukkan linggi tersebut juga ada serpihan linggi batu yang tampaknya berukuran besar. Mungkin itu linggi yang dikeluarkan oleh yuari-yuari yang bertarung melawan Fiko dan Ray sebelumnya.
“Aduh tanganku melepuh. Bagaiman ini? Sudahlah. Kalian urus saja selanjutnya, aku mau mengobati tanganku terlebih dahulu”. Diagta meninggalkan para yuari.
Sekarang Juyu mengambil alih untuk mengatur para yuari. Dengan wajah seriusnya Juyu berjalan ketengah kerumunan para yuari.
“Kalian harus segera kembali ke Naolla. Aku rasa kita sebaiknya kembali untuk sementara waktu agar bisa memepersiapkan diri dan tenaga. Ayo! Sadio iola!”. Juyu menepuk lutut kanannya tiga kali.
Seluruh yuari menyahuti ucapan Juyu sambil menepuk lutut, “Sadio iola!”. Setelah itu, seluruh yuari bergegas menuju pintu hajunba yang sudah dipersiapkan.
Gesekan kaki seseorang terdengar teratur diatas tumpukkan daun kering. Sesekali jatuhan kelopak bunga juga mengiringi langkah kaki mereka. Didepan mereka terlihat air berwarna agak kehijauan mengalir. Mereka yang berjalan itu adalah Wyhh dan Xano yang sedang menyusuri hutan Retwa scerapt  untuk keluar dari dalamnya. Hari kali ini terasa tidak terlalu terang karena langit Naolla sedang dikuasai Difu dan Aste. Langit putih itu agak sedikit kusam hari ini. Jika mereka beruntung, mereka akan keluar dari hutan itu sebentar lagi dan mencari jalan menuju daerah sila lain di Oqaca. Memang mereka belum bisa bernafas lega untuk sementara ini mengingat diluar sana pasti banyak para yuari sedang bersiaga diseluruh penjuru Oqaca  sedang mencari Xano dan Wyhh. Tatapan kekhawatiran pikiran Xano pada Qwed yang tertangkap juga tak bisa disembunyikan. Sekarang Xano berfikir keras bagaimana harus membebaskan Qwed. Dia tidak mau Qwed disiksa dan diperlakukan kurang menyenangkan. Dia tentu harus bertanggung jawab. Walau bagaimana pun Qwed tetap teman Xano.
“Sudah lama kita menyusuri hutan ini namun tak ada tanda-tanda kita akan kesila lain diluar hutan, Wyhh” kata Xano sambil berjalan.
“Mungkin kita harus bersabar sedikit tuan. Tuan masih kuat kan?”,tanya Wyhh memastikan.
“Walaupun sudah berumur seperti ini aku masih sanggup bertarung Wyhh. Jangan remehkan otot-otot ku ini”, sombong Xano sambil menunjukkan otot lengannya pada Wyhh yang berada dibelakangnya.
Wyhh tertawa, “Hahahaha… Iya aku percaya dengan tuan”.
Mereka terus berjalan sambil mengagumi keindahan hutan itu. Tampak hewan-hewan unik dan cantik mendiami hutan lebat dan tenang ini.
“Itu Neehe, bukan?”, tunjuk Xano pada seekor kelelawar kecil bersisik biru muda dan memiliki kantung didadanya serta memiliki ekor yang sangat panjang.
Wyhh melihat kehewan yang ditunjuk Xano. “Oh, iya tuan. Itu disana juga ada. Sepertinya Neehe menyukai hutan yang tenang dan rimbun seperti ini”.
“Hutan ini memang sangat nyaman untuk tempat tinggal sebagian hewan langka. Kamu berapa kali kesini, Wyhh?”.
“Apa? Tuan bertanya apa? Jangankan kehutan ini, mendengarnya saja aku tidak pernah mau kesini tuan”, Wyhh sedikit takut.
“Hahaha… Ya sudah. Kamu akan ikut aku saja kan Wyhh?”.
“Ikut tuan kemana?”.
“Kemana saja. Kamu tidak akan kembali kesana lagi bukan?”, tanya Xano.
Wyhh terdiam sejenak.
“Bagaimana Wyhh?”.
“Bukannya aku menolak, tetapi bagaiman dengan kehidupanku di Oqaca tuan? Aku masih perlu menjalani hidup sebagai orang Oqaca kembali”.
“Kamu kan sudah terlihat membantuku melarikan diri dari Oqaca, tentu ini akan berbahaya”, terang Xano lagi.
Wyhh kembali membisu. Tatapannya terlihat memikirkan sesuatu.
“Wyhh. Kamu ikut saja denganku. Percuma kamu tinggal disini. Kamu pasti ditangkap dan dipenjara oleh Cekai”. Xano terus mencoba membujuk Wyhh untuk ikut bersamanya saja.
“Saya memang salah tuan. Saya sudah membantu seorang buronan kabur. Tetapi apakah saya tidak merepotkan tuan? Kalau saya kabur dan melarikan diri bersama tuan, saya akan mendapat hukuman yang lebih berat nantinya.”, tolak Wyhh.
Xano menghentikan langkah kakinya sejenak lalu dia memalingkan badan kearah Wyhh. “Kamu mau dihukum begitu saja? Jujur Wyhh, aku merasa tidak enak membiarkanmu ditangkap. Kamu sudah membantuku untuk kabur dari para yuari. Setidaknya aku akan menjagamu diluar sana. Aku tahu dimana tempat yang sesuai untuk persembunyian kita dan lagi menyerahkan diri sekarang atau ditangkap nanti tetap akan dipenjara juga. Tetapi, kita harus segera keluar dari hutan ini terlebih dahulu dan menemukan jalan kesila terdekat. Aku tidak mau berada di antara pohon Retwa scerapt ini terus”, ucap Xano.
Wyhh terdiam dan matanya tampak kaget. “Tuan? Tuan baru saja mengucapkannya! Tuan…”.
Xano tersadar bahwa dia telah menyebut nama tumbuhan hutan itu secara lengkap. Ini memang merupakan pantangan dan sebenarnya ini tak boleh dilakukan. Apakah yang akan terjadi dengan hutan ini?
Xano menoleh kebelakangnya dan pohon-pohon tampak menggeliat seperti hidup dan terbangun dari tidur panjangnya. Para serangga dan hewan-hewan hutan berhamburan. Dari arah belakang Wyhh, terlihat puluhan  Jingwa, hewan berkaki satu dan memiliki wujud menyerupai landak sebesar banteng, yang tampak sangat marah.
Xano dan Wyhh mulai panik dan tampa pikir panjang lagi mereka segera berlari menerobos rimbunnya hutan dan pohon-pohon monster tersebut. Terpaksa Xano beberapa kali harus mengeluarkan lingginya agar mereka berdua tidak termakan pohon-pohon tersebut.
Semua pohon seperti bisa memanjangkan akar, batang atau rantingnya untuk menangkap Wyhh dan Xano. Sementara itu, bermacam-macam hewan buas juga terus mengerubungi mereka berdua. air mulai meluap dan merendam kawasan  hutan. Ini memang sebuah kutukkan.
“Tuan? Airnya bertambah dalam. Bagaimana ini? Kita akan semakin sulit melarikan diri. Aku tidak mau mati dihutan ini tuan”. Wyhh sangat panik. Dia berusaha menyingkirkan ranting-ranting pohon yang ingin melilitnya.
Sebenarnya ini memang situasi yang sangat sulit bagi Xano dan Wyhh untuk bisa kabur dengan selamat dari dalam hutan. Selain akar tanaman yang tidak terlihat pergerakkannya akibat terendam air, mereka juga mengalami kendala untuk melarikan diri karena air menghambat laju langkah mereka. Hampir saja Xano pasrah namun dengan sedikit mengerahkan kekuatannya, di berusaha merubah air disekitar mereka terpengaruhi azzo dan bisa dia kendalikan. Cara ini berhasil sehingga sekitar raduis satu meter, air disekitar kaki mereka mengering dan tanah terlihat.
“Ayo Wyhh. Ikut aku dan jangan sampai tertinggal”.
Wyhh mengikuti langkah kaki Xano. Mereka terus berlari sambil Xano mengeluarkan lingginya untuk mencoba menghindari ranting-ranting pohon Retwa scerapt. Disekitar mereka juga tampak hewan-hewan buas menunggu untuk menerkam mereka salah satunya adalah hewan berkaki panjang, berbulu merah lebat dan berbadan ceper  yang mirip seperti katak berbulu sebesar singa yang dikenal dengan Henje Terezse. Puluhan Henje menunjukkan taringnya yang basah akibat tetesan liurnya.
“Wyhh, aku tidak tahu lagi harus kemana? Aku sudah kelelahan Wyhh. Kita tidak akan selamat dari sini kalau kita tidak secepatnya menemukan jalan keluar”. Tampaknya Xano mulai mengalami keputus asaan akibat tenaganya sudah terkuras habis.
“Bertahan tuan! Kita pasti akan selamat karena tuan adalah salah satu orang terbaik Hrewa Kufe. Tuan…”, Wyhh berusaha menyemangati Xano.
Xano mulai berusaha berhenti mengeluarkan linggi dan berkonsentrasi membuat jalan dengan mengendalikan air berazzo disekitarnya untuk mempermudah langkah kaki mereka.
Kaki Wyhh berhasil tertangkap akar pohon sehingga dia terjatuh dan tertinggal. Tubuh Wyhh tenggelam kedalam air.
Xano menghentikan langkahnya dan berusaha menolong Wyhh. Dari kiri dan kanan mereka, Henje mulai bersiap-siap menerkam Wyhh. Xano benar-benar khawatir dan sedikit panik. Dengan mengeluarkan seluruh kekuatan azzonya dia buat area azzo lebih luas sekitar lima meter sehingga akhirnya Wyhh tidak tenggelam dan dengan kemampuan lingginya, Xano memotong akar yang melilit kaki Wyhh lalu mereka kembali berusaha lari dari tempat itu.
“Wyhh, kemana lagi ini? Kita tidak tahu jalan keluar dari hutan ini”.
“Aku juga tidak pernah masuk kehutan ini tuan. Aku tidak tahu jalan keluar. Kita berharap saja didepan sana ada jalan keluarnya”, kata Wyhh.
Wajah mereka berdua sudah sangat kotor dan dekil. Disalah satu sisi hutan memang ada tebing namun kemana arahnya, Wyhh juga tidak tahu. Sehingga kini mereka hanya bisa terus bertahan menghadapi serangan dari pohon-pohon yang hidup dan sesekali terkaman dari hewan-hewan buas penghuni hutan.
“Kamu dengar itu Wyhh?”, tanya Xano ketika mendengar ada air yang jatuh. Sepertinya itu suara air terjun.
Wyhh memasang telinganya baik-baik. “Iya tuan. Sepertinya itu suara air yang jatuh. Tidak salah lagi, kita sudah dekat dengan sisi hutan”,kata Wyhh.
Mereka pun bergegas menuju sumber suara itu. Ternyata benar bahwa itu berasal dari suara air terjun yang jatuh kedasar tebing yang tinggi sekali.
“Gawat ini. Kita bisa terseret kebibir tebing dan jatuh kebawah tuan”.
Xano berfikir sejenak. “Aku punya ide. Sekarang kamu pegangan denganku dan jangan sampai lepas”, ucap Xano sambil mempersiapkan linggi ditangannya.
Wyhh mengangguk paham.
Dibelakang mereka akar-akar dan ranting semakin banyak dan panjang ingin menangkap Xano dan Wyhh. Selain itu ancaman juga datang dati ratusan Henje yang mulai menerjang mereka berdua. melihat itu, Xano langsung terjun kedasar tebing. Pilihannya adalah mati dengan penuh perlawanan atau mati sia-sia? Sekarang Xano dan Wyhh sudah terjun kedasar tebing dan berharap antara hidup atau mati.
Dengan segera Xano merubah cadangan lingginya menjadi azzo dan mulai berusaha mempengaruhi air terjun tersebut. Walau kesempatan yang tercipta hanya beberapa detik tetapi dia harus mencobanya agar bisa jatuh dengan selamat. Untunglah dia berhasil mempengaruhi air tersebut dan membuat air ditangannya seolah-olah setengah linggi dan setengah air murni sehingga dia mendapat sedikit hambatan agar tidak terlalu sakit jatuh kebawah.
Blurrrr!! Mereka jatuh dengan selamat.
Wyhh dan Xano berenang sebentar lalu merelakan tubuh mereka terbawa air hingga jauh untuk melewati tingginya tebing. Kalau mereka memanjat, itu tidak akan mungkin dalam kondisi tenaga seperti ini jadi mereka hanya diam dan terbawa arus. Hitung-hitung mengumpulkan tenaga yang terkuras habis saat berusaha melawan pohon-pohon dan para hewan buas tadi.
Mungkin jika yang terjebak bukan Xano, orang didalam hutan itu pasti sudah mati. Untunglah Xano memiliki azzo air sehingga bisa mempengaruhi genangan air yang merendam tubuh mereka. Hutan itu kembali tertidur setelah tak berhasil mendapatkan tubuh Xano dan Wyhh. Benar-benar hutan yang bisa dikatakan sangat berbahaya bahkan untuk orang sehebat Xano. Dia memang bukan orang yang hebat, namun dia adalah orang yang tepat untuk bisa melarikan diri dari hutan tersebut. Untung Xano memiliki tenaga yang cukup disaat-saat terakhirnya tadi kalau tidak, sudah dijadikan santapan akar-akar pohon atau para binatang buas mereka berdua. Disinilah sekali lagi Xano membuktikan bahwa dia bukan orang sembarangan dan harus diperhitungkan oleh Sukaw Torana jika suatu saat nanti Xano kembali untuk menyerang kerajaan Vocare.
Riak air sungai telah membawa tubuh kotor mereka menjauh dari hutan namun disudut lain di Hrewa Kufe, sedang berdiri seorang gadis cantik mengenakan topi merah dan baju putih. Wajahnya yang menunduk memperhatikan kedua tangannya yang sedang terkepal seperti orang yang berdoa. Dia berdiri dilantai dasar, sebenarnya lantai tambahan, Hrewa Kufe yang berada dibagian luar bangunan tersebut. Lantai bagian ini mirip seperti dermaga yang tentunya masih terbuat dari batu yang sama dengan Hrewa Kufe. Orang-orang biasanya memanfaatkan bagian itu untuk memancing, rekreasi, atau tempat memberi makan para Sorze dan kegiatan lainnya yang berhubungan dengan Hrewa Kufe.
Gadis manis itu memiliki rambut hitam lebat dan lurus sepunggung. Entah mengapa air matanya menetes hingga jatuh kedanau Opgareca. Dia sedang menangisi sesuatu.
“Ayah aku ingin menemuimu didasar danau. Aku mau kamu tahu bahwa hidup di Hrewa Kufe tidak seindah kelihatannya. Aku mau menjadi orang yang baik dan tidak bahagia diatas kesedihan orang lain. Jika aku masih berada di Hrewa Kufe maka aku akan terus membiarkan tangis pilu dan menjatuh kan darah tak berdosa di Naolla. Aku mau ayah mendengarkan aku”. Gadis cantik yang berusia sekitar enam tahunan itu menangis seolah-olah sedang berbicara dengan ayahnya yang sudah meninggal.
Air matanya yang  jatuh terus membuat wajahnya terlihat basah dan sembab.
Dari arah ujung sana tampak seorang wanita paruh baya dengan anak lelakinya menatap ke anak gadis itu. Dia sepertinya ingin tahu apa yang dilakukan anak itu disana.
“Sepertinya itu Cville, Oep. Ayo kita datangi. Dia bisa terjatuh kalau tidak hati-hati”, kata wanita itu pada anaknya yang dia pegang tangannya.
Setelah dia menghapiri Cville, dia menundukkan badan dan mengusap punggung anak itu. “Cville… Kenapa kamu nak? Jangan terlalu dekat dengan bibir lantai. Nanti kamu terjatuh. Ayo mundur sedikit, bibi mau bicara dengan Cville”, kata wanita itu ramah.
Cville menoleh kearah wanita itu dan mau melangkahkan kakinya mundur.
“Kenapa kamu nak, kok menangis? Anak cantik tidak baik menangis. Nanti danau Opgareca marah lho”. Wanita itu menjongkokan badan didekat Cville.
Cville masih diam membisu sambil mengusap-usap hingus akibat dia menangis tadi.
“Ini ambil”. Oep menyerahkan sapu tangannya untuk Cville.
Cville mengambil sapu tangan tersebut dengan agak malu-malu lalu mengusap air mata dan hingusnya.
“Sekarang kamu tolong jelaskan pada bibi, apa yang membuatmu menangis didekat danau ini?”, pinta wanita itu lagi.
“Aku rindu dengan ayah, Bi… Aku ingin menyusul ayah”. Dia kembali menangis.
Wanita itu sedikit kaget. Dia sedikit paham dengan apa yang dirasakan anak gadis itu. Ayahnya meninggal beberapa waktu lalu akibat terjatuh saat memanjat pohon. Sekarang anak itu hanya tinggal dengan neneknya karena ibu anak itu juga sudah pergi dengan lelaki lain entah kemana. Semenjak itu Cville sedikit sedih jika melihat teman-temannya  yang masih memiliki keluarga yang lengkap. Wanita itu memeluk Cville dan meletakkan kepala gadis itu dipundaknya. “Cville, sayang… Jangan sedih ya. Kamu masih beruntung bisa hidup tenang di Hrewa Kufe. Banyak orang-orang diluar sana yang hidup kesusahan. Kamu jangan menangis ya”, pinta wanita itu.
Cville merasa agak tenang sekarang. “Tetapi disini hidupku diatas kesidihan orang lain Bi. Aku tidak ingin begini”.
Wanita itu terdiam sejenak. “Kamu tidak boleh berfikiran begitu. Ini sudah kehendak dewa. Jika kamu mau membantu orang-orang yang sedang kesusahan diluar sana, kamu harus cepat besar dan jadi orang yang kuat agar bisa menolong siapa saja yang membutuhkan. Jangan sedih lagi ya, Cville. Kasihan nenekmu yang selalu menyayangi Cville. Cville juga sayang nenek, bukan?”.
Cville mengangguk.
Wanita itu menegakkan Cville berdiri lalau mereka mulai meninggalkan tempat itu.
“Kita pulang kerumah ya. Kasihan nenek Cville pasti khawatir dengan keadaan Cville”, bujuk wanita itu.
Cville mulai sedikit tenang.
Indahnya Hrewa Kufe terpantul didanau Opgareca yang tenang dan dalam. Sambil berjalan, Oep sesekali terlihat menggoda Cville dengan memegang tangannya namun Cville menyingkirkan pegangan tangan Oep.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar