Hunk Menu

Overview of the Naolla

Naolla is a novel which tells about life of Hucky Nagaray, Fiko Vocare and Zo Agif Ree. They are the ones who run away from Naolla to the Earth. But only one, their goal is to save Naolla from the destruction.

Book 1: Naolla, The Confidant Of God
Book 2: Naolla, The Angel Falls

Please read an exciting romance novel , suspenseful and full of struggle.
Happy reading...

Look

Untuk beberapa pembaca yang masih bingung dengan pengelompokan posting di blog ini, maka saya akan memberikan penjelasannya.
(1)Inserer untuk posting bertemakan polisi dan dikutip dari blog lain;(2)Intermezzo adalah posting yang dibuat oleh pemilik blog;(3)Insert untuk cerita bertema bebas yang dikutip dari blog lain;(4)Set digunakan untuk mengelompokan posting yang sudah diedit dan dikutip dari blog lain;(5)Posting tanpa pengelompokan adalah posting tentang novel Naolla

Jumat, 30 November 2012

Intermezzo: Dua Polisi di Malam Itu


Aku adalah orang yang kurang pandai bergaul dilingkunganku. Entah mengapa aku rada nggak suka aja dengan orang-orang yang banyak bicara dan ngucapin hal-hal yang nggak penting. Namun semua itu berubah, setelah aku mengenal Bayu. Pertama kali aku kenal Bayu ketika kami satu sekolah di SMP. Bayu adalah cowok yang supel dan menyenangkan dimataku walau kadang-kadang dia menyebalkan juga. Oh Iya, aku hampir lupa, namaku Mahardhika Arjuno  atau bisa dipanggil Juno. Aku mimiliki tubuh yang cukup tinggi walau perawakanku agak kurus (kerempeng). Kembali ke Bayu, Bayu adalah teman yang mampu membuat aku kagum dan nyaman didekatnya. Entah mengapa aku bisa suka dengan sikapnya yang banyak bicara itu. Tapi aku yakin bahwa Bayu bukan orang yang banyak bicara seperti kebanyakan orang yang aku kenal. Dia sepertinya hanya banyak omong untuk menutupi sifat aslinya yang pendiam dan tidak banyak bicara. Itulah Bayu.
Pada waktu SMP, Bayu sama sekali tidak mengenal aku {(T,T), sedih banget rasanya…}. Sebagai salah satu cowok paling diencer cewek di SMP, tentu saja Bayu sangat terkenal di sekolah kami. Selain karena dia selalu mendapat peringkat dikelas, dia juga memiliki wajah yang cute dan cekep abis. Tetapi aku aneh aja, kenapa Bayu yang sekeren itu belum punya pacar? Apa mungkin dia…??? Emmmm… Ah! Mungkin itu hanya perasaanku saja. Yang jelas sekarang dia sudah menjadi sahabatku semenjak kami bersebelahan tempat duduk di Sekolah Menengah Utama.
Suatu hari aku bete dirumah sendirian dan akhirnya aku memutuskan untuk mengajak Bayu, sahabatku, untuk jalan-jalan. Bayu menerima ajakanku dan aku sudah berjanji untuk menjemputnya. Kenapa aku bisa senang banget ya? Aneh aku ini! Jangan-jangan aku udah ada hati dengan Bayu.
Setelah mandi dan berpakaian aku menjemput Bayu, untuk kemudian makan malam di sebuah rumah makan dipinggir jalan. Disana kami bercakap-cakap panjang lebar, setelah itu dilanjutkan sebuah diskotik untuk sedikit menggoyangkan tubuh dan minum (aku aja yang minum, Bayu nggak mau minum). Kami seperti orang pacaran saja kan? Hahaha… sayangnya aku tidak tahu kalau Bayu itu sakit “juga” atau tidak. Di tengah-tengah percakapan di diskotik, Bayu mengajakku untuk kembali ke rumahnya katanya dia sudah agak pusing, padahal dia nggak minum alkohol tadi. Dasar Bayu ini! Ya sudahlah apa mau dikata, aku akhirnya menuruti permintaan Bayu dan mengendarai mobilku untuk segera meninggalkan diskotik itu.
Menyusuri jalan yang mulai agak sepi, kami saling berbincang-bincang. Sepanjang perjalanan pulang Bayu berkata bahwa ia belum pernah mengalami hari yang menyenangkan seperti yang baru ia alami malam itu.
“Aku seneng banget Jun. Aku seumur-umur baru kali ini ke diskotik. Hehehe”.
 Bener kah yang aku dengar barusan? Berarti Bayu nggak pernah kediskotik sama sekali.
Langit malam tampak sangat gelap dan sepertinya mau ujan. Benar saja, ditengah jalan hujan gerimis mulai turun. Tanpa sadar aku mengendarai mobil melebihi batas maksimal kecepatan di jalan supaya cepet sampai dirumah Bayu. Tiba-tiba aku tersadar ketika di sebelah kanan sudah ada mobil Polantas yang berusaha menghentikan mobil ku. Akhhhhh… Sial! Akupun  meminggirkan mobil di tempat parkir sebuah toko dan menunggu Polantas tadi mendekati mobil kami. Ia bertanya hendak ke mana kami sampai-sampai kami membawa mobil itu melebihi batas kecepatan.
“Permisi. Mengapa anda mengendarai mobil melebihi batas kecepatan maksimum? Apakah kalian tidak tahu berapa batas maksimum kecepatan kendaraan disini? Kalian mabuk ya?”. Ups! Gawat, mulutku mengeluarkan bau alkohol.
“Ermmm…. Saya kebelet pipis pak”. Aku mencoba memberikan alasan. Rupanya alasanku tidak masuk akal sehingga Polantas tadi meminta STNK dan SIM-ku.
Setelah melihat surat-surat itu sang Polantas menjengukkan kepalanya ke dalam mobil kami dan lama sekali mengamati Bayu yang duduk terdiam. “Kenapa ya Polisi ganteng itu menatap Bayu?”, pikirku.
"Anda harus meninggalkan mobil Anda di sini dan ikut saya ke kantor", perintah Polantas tadi.
Akhirnya sepuluh menit kemudian kami sampai ke sebuah kantor polisi yang terpencil dipinggir kota. Waktu itu sudah lewat pukul 11 malam, dan dalam kantor polisi itu tidak terdapat siapa pun kecuali seorang Sersan yang bertugas jaga dan Polantas yang membawa kami. Ketika kami masuk, Sersan itu memandangi tubuh Bayu dari bawah hingga ke atas, kelihatan sekali ia seperti menyukai Bayu. Kami dimasukkan ke dalam sel terpisah, saling berseberangan. Aneh bukan? Masa sesama cowok selnya dipisah.
Sepuluh menit kemudian, Polantas yang berumur sekitar 27 tahun dan berbadan kekar serta Sersan yang tinggi besar berbadan hitam, dan umurnya kira-kira 30 tahun kembali ke ruang tahanan.
Polantas tadi berkata, "Kalian seharusnya jangan mengemudi sampai melebihi batas kecepatan yang ada. Tapi kita semua bener-benar kagum, soalnya dari semua yang kami tangkap baru kali ini kita dapat orang yang manis seperti kamu, itung-itung melepas penat", kata polantas sambil senyum mesum pada Bayu.
Sersan disebelahnya menimpali, "Betul sekali, dia bener-bener kualitas nomer satu! Aku sudah nggak sabar pengen mencicipinya".
Aku sangat takut mendengar nada bicara mereka, begitu juga Bayu yang terus-menerus ditatap oleh mereka berdua dengan tatapan seperti ingin memperkosanya. Mereka lalu membuka sel Bayu dan masuk ke dalam.
"Sekarang dengar anak manis, kalau kamu berkelakuan baik, kita akan lepasin kamu dan temen kamu itu. Mengerti!" Sersan tadi langsung memegangi kedua tangan Bayu sementara Polantas menarik kaos yang dikenakan Bayu ke atas. Dalam sekejap seluruh pakaian Bayu berhasil dilucuti tanpa perlawanan berarti dari Bayu yang terus dipegangi oleh Sersan. "Wow, lihat putingnya". Bayu terus meronta-ronta tanpa hasil, sementara Sersan yang tampaknya sudah bosan dengan perlawanan Bayu, melemparkan tubuh Bayu hingga jatuh telentang ke atas ranjang besi yang ada di sel Bayu. Dengan cepat diambilnya borgol dan diborgolnya tangan Bayu ke rangka di atas kepala Bayu.
Kemudian mereka dengan leluasa menggerayangi tubuh Bayu. Mereka meremas-remas dan menarik putting Bayu, kemudian memilin-milin puting susunya sehingga puting susu Bayu agak tegang dan mengacung ke atas. Kadang mereka mengigit puting susu Bayu, sedangkan Bayu hanya bisa meronta dan mengerang tak berdaya.
“Pak… auhhhh lepasin aku pak…!”.
Aku berdiri di dalam sel di seberang Bayu tak berdaya untuk menolong Bayu yang sedang dikerubuti oleh dua orang perkasa itu. Kedua polisi itu lalu melepaskan pakaian mereka dan terlihat jelas kedua batang kemaluan mereka sudah keras dan tegang dan siap untuk memperkosa Bayu. Polantas mempunyai batang kemaluan paling tidak sekitar 25 senti, dan Sersan mempunyai batang kemaluan yang lebih besar dan panjang. Bayu menjerit-jerit minta agar mereka berhenti, tapi kedua polisi itu tetap mendekatinya.
“Pergi kalian! Menjauh dari tubuhku!”.
"Lebih baik kamu tutup mulut kamu atau kita berdua bisa bikin ini lebih menyakitkan daripada yang kamu kira. Diam!" kata Polantas.
"Sekarang mendingan kamu siap-siap buat muasin kita dengan badan kamu yang enak itu! Kamu nggak kepengen dengan kontol kami yang gede-gede ini? Jangan munafik deh", kata sersan. "Dia pasti sempit sekali". Sersan berkata sambil memasukan jari-jarinya ke lubang anus Bayu. Dia menggerakkan jarinya keluar masuk, membuat Bayu menggelinjang kesakitan dan berusaha melepaskan diri.
“Pakkkkk! Arggghhh!”.
"Betul kan, masih sempit sekali."
Kemudian Polantas tadi naik ke atas ranjang di depan pantat Bayu yang sudah terkuak. Kemudian mereka menekan kaki Bayu kedadanya dan Polantas memasukkan batang kemaluannya ke dalam lubang senggama Bayu. Bayu mengeluarkan jeritan yang keras sekali, ketika perlahan batang kemaluan Polantas membuka bibir anusnya, dan masuk senti demi senti tanpa berhenti. Kadang ia menarik sedikit batang kemaluannya untuk kemudian didorongnya lebih dalam lagi ke lubang anus Bayu.
Sementara itu, Sersan naik dan mendekati wajah Bayu, mengelus-elus wajah Bayu dengan batang kemaluannya. Mulai dari dahi, pipi kemudian turun ke bibir. Bayu menggeleng-gelengkan kepalanya agar tidak bersentuhan dengan batang kemaluan Sersan yang hitam.
"Ayo dong manis, buka mulut kamu", kata Sersan sambil meletakkan batang kemaluannya di bibir Bayu. "Kamu belum pernah ngerasain punya polisi kan?".
Bayu tak bergeming.
"Buka!" bentak Sersan. "Buka mulut kamu, brengsek!" Perlahan mulut Bayu terbuka sedikit, dan Sersan langsung memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulut Bayu.
Mulut Bayu terbuka hingga sekitar 6 senti agar semua batang kemaluan Sersan bisa masuk ke dalam mulutnya. Batang kemaluan Sersan mulai bergerak keluar masuk di mulut Bayu, aku melihat tidak semua batang kemaluan Sersan dapat masuk ke mulut Bayu, batang kemaluan Sersan terlalu panjang dan besar untuk bisa masuk seluruhnya dalam mulut Bayu. Ketika Sersan menarik batang kemaluannya terlihat ada cairan yang keluar dari batang kemaluannya.
“Julurin lidah kamu!".
Bayu membuka mulutnya dan mengeluarkan lidahnya. Sersan kemudian memegang batang kemaluannya dan mengusapkan kepala batang kemaluannya ke lidah Bayu, membuat cairan kental yang keluar tadi menempel ke lidah Bayu.
"San, dia nggak mungkin bisa masukin punya Sersan ke mulutnya, biar saya coba. Gantian!"
Mereka kemudian bertukar tempat, Sersan sekarang ada di depan anus Bayu dan Polantas berjongkok di dekat wajah Bayu. Sersan mulai mendorong batang kemaluannya masuk ke liang senggama Bayu. Terlihat sekali dengan susah payah batang kemaluan Sersan yang besar itu membuka bibir anus Bayu yang masih sempit. Polantas, mengacungkan batang kemaluannya ke mulut Bayu.
"Kamu mungkin nggak bisa masukin punya Sersan ke mulut kamu, tapi kamu musti ngerasain punya saya ini, seluruhnya." Dengan kasar ia mendorong batang kemaluannya masuk ke mulut Bayu, sampai akhirnya batang kemaluan itu masuk seluruhnya hingga sekarang testis Polantas berada di wajah Bayu. Ia kemudian menarik batang kemaluannya sebentar untuk kemudian didorongnya kembali masuk ke tenggorokan Bayu. Setelah lima kali, keluar masuk, Polantas sudah tidak bisa lagi menahan orgasmenya.
"Saya keluuarrhh. Aaahh!" Ia tidak menarik batang kemaluannya keluar dari mulut Bayu, batang kemaluannya tampak bergetar berejakulasi di tenggorokan Bayu, menyemprotkan sperma masuk ke tenggorokannya. Aku mendengar Bayu berusaha menjerit, ketika sperma Sersan mengalir masuk ke perutnya. Terlihat sekali Sersan yang sedang mencapai puncak kenikmatan tidak menyadari Bayu meronta-ronta berusaha mencari udara.
"Iyya.. yaah! Telleen semuaa! Aaahh.. aahh.. nikhmaatt!"
Ketika selesai ia menarik keluar batang kemaluannya dan Bayu langsung megap-megap menghirup udara, dan terbatuk-batuk mengeluarkan sperma yang lengket dan berwarna putih. Bayu berusaha meludahkan sperma yang masih ada di mulutnya. Polantas tertawa melihat Bayu terbatuk-batuk.
"Kenapa? Nggak suka rasanya? Tenang aja, besok pagi, kamu pasti sudah terbiasa sama itu!"
Sementara Sersan yang masih mengerjai anus Bayu sekarang malah memegang pinggul Bayu dan membalik tubuh Bayu. Bayu dengan tubuh berkeringat dan sperma yang menempel di wajahnya tersadar apa yang akan dilakukan Sersan pada dirinya, ketika dirasanya batang kemaluan Sersan mulai kembali menempel di lubang anusnya.
"Jangan Pak, jangan! Ampun Pak, ampun, jangan.Aaahkk! Jangaan! Udah pakkkk!". Bayu menjerit-jerit ketika kepala batang kemaluan Sersan kembali memaksa masuk ke liang anusnya. Wajah Bayu pucat merasakan sakit yang amat sangat ketika batang kemaluan Sersan kembali mendorong masuk ke liang anusnya. Sersan mendengus-dengus berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam anus Bayu. Perlahan, senti demi senti batang kemaluan itu tenggelam masuk ke anus Bayu. Bayu terus menjerit-jerit minta ampun ketika perlahan batang kemaluan Sersan masuk kembali ke anusnya. Akhirnya ketika seluruh batang kemaluan Sersan masuk, Bayu hanya bisa merintih dan mengerang kesakitan merasakan benda besar yang masuk ke dalam anusnya.
Sersan beristirahat sejenak, sebelum mulai bergerak keluar masuk. Kembali Bayu menjerit-jerit. Sersan terus bergerak tanpa belas kasihan. Batang kemaluannya bergerak keluar masuk dengan cepat, membuat testisnya menampar-nampar pantat Bayu. Sersan tidak peduli mendengar Bayu berteriak kesakitan dan menjerit minta ampun ketika sodomi itu berlangsung. Aku melihat berulang kali batang kemaluan Sersan keluar masuk anus Bayu tanpa henti. Akhirnya Sersan mencapai orgasme ia menarik batang kemaluannya dan sperma menyemprot keluar menyembur ke punggung Bayu, kemudian menyembur ke pantat Bayu dan mengalir turun ke pahanya, dan terakhir Sersan kembali memasukkan batang kemaluannya ke anus Bayu lagi dan menyemprotkan sisa-sisa spermanya ke dalam anus Bayu. Sersan kemudian melepaskan pegangannya dari pinggul Bayu dan berdua dengan Polantas mereka keluar dari sel dan menguncinya. Aku masih dapat mendengar Sersan berkata pada Polantas, "Pantat paling hebat yang pernah ada. Dia bener-bener sempit!"
Dini hari, ketika Bayu kelelahan menangis dan merintih, mereka berdua dengan langkah sempoyongan dan dengan botol bir di tangan masuk kembali ke dalam sel Bayu. Mereka menendang tubuh Bayu agar terbangun dan mereka mulai memperkosanya lagi. Sekarang Polantas dan Sersan memasukkan batang kemaluan mereka secara bersamaan ke dalam lubang anus Bayu. Mereka juga menyiksa Bayu dengan memasukkan botol bir ke dalam liang anusnya sementara batang kemaluan mereka dimasukkan ke mulut Bayu. Mereka terus berganti posisi dan Bayu terus menerus menjerit dan menjerit hingga akhirnya ia kelelahan dan tak sadarkan diri. Melihat itu polisi-polisi tersebut hanya tertawa terbahak-bahak meninggalkan tubuh Bayu yang memar-memar dan belepotan sperma dan bir.
Keesokan paginya, Sersan masuk dan membuka sel kami.
"Kalian boleh pergi."
Aku membantu Bayu mengenakan pakaiannya. Tubuhnya lemah lunglai berbau bir dan sperma-sperma kering masih menempel di tubuhnya. Kami pergi dari kantor polisi itu dan akhirnya sampai ke rumah Bayu. Kemudian aku membersihkan tubuh Bayu dan menidurkannya. Ketika aku tinggal, aku mendengar ia merintih, "Jangan Pak, ampun Pak, sakit.. ampuunn.. sakiit.. auhhhhh".
Sungguh kasihan Bayu. Tetapi aku mulai aneh dengan Bayu. Secara tidak sadar aku menangkap kepasrahan di wajah Bayu dan tampaknya dia sedikit menikmati permainan tadi malam. Apakah Bayu pernah melakukan persetubuhan dengan polisi juga? Apakah Bayu sudah tidak perjaka sebelumnya? Aku meninggalkan Bayu dengan seribu satu macam pertanyaan di otakku.
Ku harap Bayu akan segera bisa menunjukan sisi sakitnya agar aku juga bisa mendekatinya sebagai seorang yang cinta padanya bukan sekedar teman saja.

3 komentar: