Hunk Menu

Overview of the Naolla

Naolla is a novel which tells about life of Hucky Nagaray, Fiko Vocare and Zo Agif Ree. They are the ones who run away from Naolla to the Earth. But only one, their goal is to save Naolla from the destruction.

Book 1: Naolla, The Confidant Of God
Book 2: Naolla, The Angel Falls

Please read an exciting romance novel , suspenseful and full of struggle.
Happy reading...

Look

Untuk beberapa pembaca yang masih bingung dengan pengelompokan posting di blog ini, maka saya akan memberikan penjelasannya.
(1)Inserer untuk posting bertemakan polisi dan dikutip dari blog lain;(2)Intermezzo adalah posting yang dibuat oleh pemilik blog;(3)Insert untuk cerita bertema bebas yang dikutip dari blog lain;(4)Set digunakan untuk mengelompokan posting yang sudah diedit dan dikutip dari blog lain;(5)Posting tanpa pengelompokan adalah posting tentang novel Naolla

Jumat, 05 Juli 2013

Insert: MEMBAHAGIAKAN AYAH

Dikirim pada dimas_arbayu@yahoo.com oleh "Dree"

Terimakasih atas kiriman Emailnya



Perkenalkan, namaku Ari. Aku baru duduk di kelas satu SMP. Tiga bulan yang lalu aku berhasil lulus dari Sekolah Dasar dengan nilai yang cukup memuaskan, makannya aku bisa sekolah di SMP Negeri favorit sekarang. Kebetulan aku hanya tinggal berdua dengan ayahku, karena mama sudah meninggal dunia saat aku masih kelas 5 SD. Hal itu cukup membuatku sedih karena tidak bisa merasakan yang namanya kasih sayang seorang ibu, tapi aku bersyukur dengan kemampuan ayah yang bisa menjadi sosok panutan sebagai laki-laki dan juga sosok seorang Ibu.
Ayahku bekerja sebagai seorang sales keliling. Tugasnya mengantar produk-produk makanan ringan ke toko-toko kelontong atau warung. Setiap pagi beliau berangkat pukul tujuh dan pulang pukul enam sore. Saat ayah bekerja, di siang hari aku biasa mandiri di rumah. Biasanya aku membuat makan siang sendiri, dan terkadang membeli makanan di warung terdekat. Keperluan lain seperti berbelanja, mencuci pakaian, dan menyetrika, juga kami berdua kerjakan bersama-sama.
Entah kenapa di usia ayah yang sudah 50 tahun, ayah tidak berniat mencari istri penganti. Aku juga tak mau bertanya, padahal aku selalu memikirkannya. Aku takut dianggap kurang cukup umur apabila menyanyakan hal pribadi tersebut kepada ayah.
Kebetulan aku punya seorang teman yang bernasib sama sepertiku, namanya Wahyu. Wahyu bilang kalau ayahnya juga tidak mau menikah lagi karena terlalu mencintai mamanya. Aku berpikir kalau ayahku juga begitu. Terus Wahyu juga bercerita, kalau ayahnya ingin melakukan hubungan seks, beliau sering jajan di luar. Waktu itu aku belum tahu apa artinya, tapi setelah Wahyu menjelaskan, aku jadi paham. Ternyata jajan di luar itu menyewa jasa PSK untuk memuaskan napsu. Aku jadi berpikir apakah ayahku juga melakukan hal yang sama? Memikirkannya aku jadi penasaran.
Masa-masa mudaku ini sering kugunakan untuk mencari informasi-informasi baru tentang hal-hal yang belum pernah aku ketahui, termasuk masalah seks. Aku dan teman-teman sering mengobrolkan hal ini kalau sedang jam istirahat. Terkadang aku juga menjumpai seorang teman menunjukkan koleksi film porno di handphonenya. Saat itu adalah kali pertama aku melihat film porno. Aku begitu terpukau melihat aksi demi aksi pemain di dalamnya. Seperti itukah kalau berhubungan seks itu.
Suatu hari seperti biasanya aku pulang ke rumah dengan bersepeda. Kali ini aku mengajak Wahyu dan beberapa temanku untuk main ke rumah. Rencananya sih mau nonton film porno lewat VCD, kebetulan salah satu temanku membawanya saat sekolah tadi. Asyik, aku senang bukan main, karena kupikir, menonton bersama teman-teman memiliki kesenangan sendiri. Kita terkadang suka berdiskusi soal perempuan.
Sesampainya di rumah aku terkejut karena aku melihat sepeda motor ayah ada di halaman. Aku langsung kecewa dan meminta maaf kepada temanku, kalau hari ini kami tidak bisa menonton film porno bersama karena ada ayah di rumah. Tapi, hal itu tidak membuat kami putus asa. Wahyu menawarkan hal yang sama. Kebetulan ayahnya tidak ada di rumah karena sedang bekerja. Wahyu kan juga sama denganku, tinggal di rumah sendiri kalau ayahnya pergi bekerja.
Sebelum kami semua berangkat ke rumah Wahyu, aku berencana pamit ke ayah. Aku masuk ke dalam dan memanggil-manggil ayah. Ayah menjawab dari arah kamarnya. Aku menghampiri ayah yang sedang duduk di pinggiran tempat tidurnya sambil melepas kaus kaki.
“Lho, kenapa ayah pulang jam segini?” Tanyaku saat itu.
“Ayah cuman mampir mau mandi, terus berangkat lagi.”
“Oh...”
Kemudian aku melihat ayahku bangkit dan mulai melepas jaketnya.
“Yah, aku pamit main ke rumah Wahyu.”
“Nggak makan dulu? Tunggu ayah mandi, terus bareng kita makan di warung.” Jelas ayah.
“Nggak, deh. Udah ditungguin, paling nanti makan di rumah Wahyu.”
“Ya, sudah... hati-hati.”
Aku langsung pamit ke kamar untuk mengganti seragamku dengan baju biasa. Kamarku ada di lantai dua. Kebetulan rumah kami ini rumah sederhana. Di lantai satu cuman ada satu kamar yang di pakai ayah dan mama sewaktu beliau masih hidup, di lantai dua yang tak terlalu luas, cuman ada area menjemur pakaian dan kamar kecil sebagai kamarku. Dari kamarku aku bila melihat ke area menjemur pakaian dan juga kamar mandi rumahku yang tak beratap. Kamar mandiku berada di area luar rumah. Hanya sepetak tanah yang dikelilingi tembok setinggi 4 meter, dan dilengkapi dengan sumur. Di tempat itu kami sekeluarga biasa mandi dan mencuci pakaian. Untuk buang air, terdapat bilik kecil di bagian sudut.
Setelah mengganti pakaian aku langsung menghampiri teman-temanku. Kami bersepeda menuju rumah Wahyu. Tak sampai lima belas menit kami sampai di sana, dan dimulailah acara menonton film porno bersama. Belum selang lima menit, salah seorang temanku mengeluh bosan dan malah mengajak bermain game online di warent. Wahyu langsung menyetujuinya, padahal aku sendiri masih keenakan nonton. Tapi sayang aku kalah suara. Aku mengatakan kepada mereka kalau aku tidak membawa uang, tapi mereka malah menyuruhku pulang untuk mengambil uang. Aku sendiri baru ingat kalau aku masih menyimpan uang jajanku di laci meja belajar. Jadi aku pamit pulang ke rumah dan sepekat akan bertemu di warnet secepatnya.
Aku melajukan sepedaku pulang ke rumah. Sesampainya di rumah aku melihat motor ayah masih terparkir di halaman. Kok, ayah belum berangkat kerja lagi, katanya cuman mampir buat mandi? Aku pun segera membuka pintu. Klek! Pintunya dikunci. Aku buru-buru merogoh kunci rumah yang kukantongi. Setelah terbuka, aku masuk ke dalam. Tidak ada tanda-tanda ayah di dalam rumah. Sengaja aku tak memanggil namanya karena aku terburu-buru mengambil uang di kamar.
Aku segera naik ke lantai atas dan mendekati meja belajarku yang tepat berada di depan jendela kamarku yang menghadap ke arah belakang rumah. Saat aku mendekat aku bisa melihat ayah ada di kamar mandi sedang mencuci pakaian. Ayah memunggungiku, tampak punggung telanjangnya. Ayah sedang mencuci pakaian sambil duduk di sebuah bangku kecil masih dengan mengenakan celana pendek.
Entah kenapa aku tak segera beranjak pergi, aku malah menonton ayahku sedang mencuci. Tak lama kemudian ayahku tiba-tiba bangkit berdiri dan melepas celana pendek dan celana dalamnya sekaligus, lalu memasukkannya ke dalam bak cucian. Aku langsung terkejut karena melihat pemandangan punggung ayah dan bokongnya yang kencang. Aku tak pernah melihat ayahku telanjang sebelumnya.
Saat itu juga aku melihat ayah mandi dengan posisi menyamping. Tangannya dengan sigap mengangkat gayung dan menyirami tubuhnya dengan air. Wow! Aku terpana melihat kontol ayahku yang menggantung di antara kedua pahanya. Jembutnya lumayan lebat di area pubiknya. Tiba-tiba aku jadi terangsang. Kontolku sendiri juga mulai berkedut-kedut.
Aku melihat ayahku mulai menyabuni badannya dengan sabun. Dadanya, perutnya, punggungnya, sekarang penuh dengan busa. Kemudian aku melihat ayah menyabuni bagian intimnya. Tangannya bergerak lincah mengusap kontol dan buah zakarnya, dan tiba-tiba gerakan itu berubah. Aku melihat ayah malah mengurut-urut kontolnya, dan tak selang berapa lama kontol itu berdiri tegak. Kontol ayahku cukup besar. Panjangnya sekitar 15 cm dan agak bengkok ke atas. Ayah sedang mengurut kontolnya sambil sesekali kepalanya mendongah ke atas.
Aku jadi teringat adegan di film porno yang aku tonton. Pernah ada adegan aktor porno itu mengurut-urut kontolnya sampai pada akhirnya dia ejakulasi dan mengeluarkan sperma. Akankah ayah juga seperti itu? Mulutku menganga saat melihatnya. Aku jadi lupa janjiku dengan teman-teman untuk bermain game online di warnet. Ini baru pertama kalinya aku menyaksikan adegan porno secara live, yang sedang dilakukan ayahku sendiri.
Hampir lima menit berlalu. Aku melihat ayah mulai menggelinjang-gelinjang, kepalanya mengadah ke atas dan aku bisa melihat ujung kepala kontolnya menyemburkan sperma sampai empat kali. Wow! Ayah ejakulasi di depan mataku. Ayahku masih terlihat mengadahkan kepalanya, matanya terpejam, dan kemudian kontolnya mulai melemas, dan ayah melanjutkan mandinya.
Tak mau kepergok sedang mengintipnya berbuat porno, aku langsung keluar dari rumah dan menuju warnet untuk menemui teman-temanku. Sesampainya di sana kami bermain game online bersama, tapi pikiranku masih saja terpaku pada kejadian porno yang dilakukan ayahku tadi. Kemudian aku memberanikan diriku untuk menceritakan hal ini kepada Wahyu yang duduk di sebelahku. Selama ini aku sering curhat bersamanya, kadang soal ayah kami berdua.
Waktu aku bercerita Wahyu hanya tersenyum dan tertawa. “Kamu ini homo, ya? Ayahmu lagi onani kamu intip.”
Onani? Tanyaku dalam hati. “Onani itu apa?” Tanyaku dengan nada membisik.
“Onani itu kegiatan seksual yang dilakukan sendiri. Caranya dengan mengocok atau mengurut-urut kontol sampai muncrat!” Jelas Wahyu.
“Kamu tahu dari mana kalau itu onani?”
“Tahu dari temanku.”
“Kamu pernah onani?”
“Pernah. Sering malah. Aku biasa onani di kamar mandi kalau mandi sore. Pakai sabun.”
“Seperti ayahku?”
Wahyu mengangguk.
“Emang kalau nggak pakai sabun nggak bisa?”
“Bisa. Sabun itu cuman untuk pelumas saja biar licin, dan tanganmu bisa meluncur dengan mudah sewaktu onani. Kamu belum tahu apa-apa, ya?”
Aku mengangguk.
“Nanti di coba deh. Rasanya enak. Sebelum muncrat sperma, kamu bakal merasakan sensasi nikmat, menggelitik, pokoknya susah dijelaskan.”
Aku jadi memutar memori kejadian porno ayahku tadi. Ayahku terlihat sangat menikmatinya.
Sepulang dari warnet aku langsung beranjak ke kamar mandi. Ayahku sudah berangkat bekerja. Sesuai intruksi Wahyu tadi aku ingin mencoba bagaimana rasanya onani itu, jadi aku mulai menyabuni area selangkanganku, dan aku sudah telanjang bulat. Aku mulai urut kontolku dan Wow! Kontolku sudah berdiri, panjangnya cuman 12 cm, dan aku belum punya jembut. Aku langsung melakukan hal yang sama dengan yang ayah lakukan tadi. Kontolku rasanya geli-geli gimana gitu, sampai akhirnya tak terasa waktu berlalu. Sudah sepuluh menit tapi aku belum merasakan sensasi yang dikatakan Wahyu sangat nikmat itu. Tangaku mulai pegal dan kontolku mulai perih terkena sabun. Kepala kontolku memerah dan aku terkejut saat melihat cairan bening keluar dari ujungnya. Aku memerhatikan betul-betul cairan apa itu, tapi aku yakini itu bukan sperma. Aku tahu sperma itu berwarna putih kental, tapi cairan yang keluar ini berwarna putih bening tapi kental. Tak perduli dengan keanehan baru yang kurasakan aku terus mengocok-ngocok kontolku, sambil tak terasa aku memutar ulang memoriku di kepala saat ayah juga melakukan onani.
Tubuhku mulai memanas beberapa menit kemudian, dan aku merasakan kontolku berkedut-kedut. Seluruh ototku menegang. Aku bisa merasakannya. Rasanya menggelitik, sekujur tubuhku serasa bergetar karena tersengat aliran listrik, tak sadar aku mulai mendesah dan tanganku semakin cepat mengocok kontolku sendiri, dan tiba-tiba semuanya langsung meledak. Nikmat sekali!
“AGHHHHHH!” Aku menggerang dan aku melihat ujung kontolku mengeluarkan cairan putih kental. Wow! Aku ejakulasi seperti ayah. Bau spermaku seperti aroma pemutih pakaian.
Beginikah rasanya onani itu? Aku sampai takjub. Kupandangi kontolku yang berkedut-kedut itu. Punyaku tak segera tertidur, tidak seperti punya ayah yang langsung lemas begitu sudah ejakulasi. Punyaku masih berdiri tegak. Tak mau banyak pikir lagi, aku ingin merasakan sensasi nikmat itu lagi, jadi aku mulai mengurut-urut kontolku. Lama sekali, dan aku sampai pegal, kontolku juga mulai terasa sakit. Aku jadi ingat kata teman-temanku, kalau seorang laki-laki hanya bisa ejakulasi dan klimaks satu kali, tidak seperti perempuan yang bisa berkali-kali. Aku pun merasa kecewa, dan seiring perasaan jengah itu, kontolku langsung melemas.

Malam harinya aku terus saja terngiang-ngiang bagaimana nikmatnya onani itu, jadi sewaktu menjelang tengah malam, sekitar pukul sebelas malam, aku kembali mencoba untuk melakukan onani. Mula-mula kukunci pintu kamarku, dan setelah itu aku langsung melepas celana dan celana dalamku. Kali ini aku memilih untuk tetap berpakaian, hanya untuk berjaga-jaga siapa tahu ayah naik ke atas dan mengetuk pintu kamarku. Bisa gawat kalau ketahuan aku telanjang di kamar. Siang tadi setelah mengalami sensasi nikmatnya onani, aku langsung membahas kejadian itu bersama Wahyu lewat SMS, dan dia mengatakan kalau kegiatan itu tidak seharusnya dilakukan di tempat yang terbuka, takut ada yang mengintip, tapi aku tak memperdulikan itu.
Langsung saja aku mengurut-urut kontolku, kali ini tak pakai sabun atau pelumas apapun. Wahyu bilang bisa pakai handbody atau baby oil, tapi aku tidak punya. Nggak mungkin kan kalau pakai minyak angin, bisa-bisa panas kontolku.
“Ahhh...Ahh...Yeah...” Aku mendesah-desah menirukan suara-suara para aktor di film porno.
Dan tak selang berapa lama kenikmatan itu muncul. Aku makin bersemangat dalam mengurut-urut kontolku sendiri, dan akhirnya aku ejakulasi juga. Aku memejamkan mataku, menikmati bagaimana sensasinya yang luar biasa saat mencapai klimaks. Spermaku muncrat dua kali dan membasahi perutku yang rata. Setelah napasku mereda aku memakai celana dalam dan celanaku. Biarlah, celana dalamku terkena spermaku, toh aku berencana untuk turun ke kamar mandi dan membasuh spermaku serta mencuci celana dalamku sekalian.
Aku membuka pintu kamarku dan turun ke lantai satu. Sebelum menuju kamar mandi aku malah mendengar suara mendesah-mendesah dari arah kamar ayah. Suara perempuan dan lelaki bersahutan, mendesah-desah seperti di film porno. Aku jadi terkejut saat mendengarnya. Aku malah urung ke kamar mandi dan malah mendekati pintu kamar ayahku. Pintu kamar ayahku sepertinya tertutup. Aku penasaran apa yang sedang ayah lakukan di dalam kamarnya? Sepertinya ayah sedang menonton film porno. Aku mencoba mengintip lewat lubang kunci tapi aku tidak bisa melihat apa-apa, karena kuncinya tergantung di lubang kuncinya dari arah dalam. Aku tak mau kehabisan ide, jadi aku beranjak menuju kamar mandi. Di sana ada akses menuju lorong samping belakang rumah dan di sana ada jendela kamar ayah.
Lorong itu gelap, dan aku memberanikan diriku mendekati jendela kamar ayahku sambil mengendap-endap. Jendela kamar ayahku tidak tertutup korden, lampu di dalam kamarnya mati, tapi aku bisa melihat ada cahaya remang-remang dari arah dalam. Langkahku semakin dekat dan aku memberanikan diri untuk mengintip sedikit dari sudut jendela. Aku bisa melihat ayahku sedang nungging, telanjang bulat, dan sedang menindihi sebuah guling. Di depannya, ada laptop ayah yang menyala. Aku bisa melihat wajah ayahku yang sedang sibuk menyaksikan sesuatu dari layar laptopnya.
Dalam posisi itu aku bisa melihat pantat ayah bergerak-gerak, menggesek-gesekkan kontolnya ke guling yang beliau tindihi. Aku menganga dan takjub bukan main dengan pemandangan yang aku saksikan. Ayahku bersenggama dengan guling. Aku jadi merasa aneh, apakah ayahku punya kelainan.
“Oh, yeah.... Ahhh... Ahhh!” Ayahku mendesah sambil matanya terpejam-pejam dan pantatnya terus bergerak-gerak dan menggesek-gesekkan kontolnya ke guling.
Di balik celanaku kontolku mulai merajuk dan berkedut-kedut. Aku terangsang melihat ayahku bersenggama dengan gulingnya. Aku menggigit bibirku menahan gairah membara yang membakar tubuhku. Kenapa ayahku bisa seliar itu? Imajinasinya terlalu kaya sehingga beliau mau bersenggama dengan guling. Munkin ayah membayangkan guling itu sebagai tubuh seorang perempuan. Aku jadi merasa kasihan pada ayahku. Kenapa ayah tidak mencari istri baru, atau mencari PSK yang siap melayaninya seperti yang dilakukan ayah Wahyu.
Sibuk dengan pikiranku, aku terkejut saat ayah merubah posisinya. Sekarang ia berlutut, bersimpu di depan laptopnya yang sepertinya jelas-jelas sedang memutar film porno. Ayah menumpukan beban tubuhnya di antara kedua lututnya. Aku sekarang bisa melihat kontol ayah dengan jelas dari jarak yang dekat. Kontolnya hitam, berurat, di sekitarnya ditumbuhi jembut, dan buah zakarnya menggantung indah. Dengan sigap ayah menggenggam kontol 15cmnya itu dan mulai mengocoknya.
“Ahhh, Ahhh, Ahhh, Oooohhhh, Ohhhh, Yeahhhh.” Ayah mendesah-desah, dan kemudian spermanya keluar diiringi dengan erangan ayah yang macho.
Aku bisa melihat spermanya muncrat dan jatuh ke gulingnya. Setelah itu ayah segera melepas sarung gulingnya lalu membuka pintu kamarnya sambil telanjang. Aku sadar betul kalau ayah sedang menuju kamar mandi. Sial! Aku bisa ketahuan mengintip, karena aku membiarkan pintu kamar mandinya terbuka. Bisa gawat kalau aku muncul di kamar mandi lewat sisi samping rumah. Ayah pasti curiga.
Aku buru-buru lari ke kamar mandi dan beruntung setelah sampai di sana ayah belum masuk ke kamar mandi. Aku langsung pura-pura kencing di saluran yang menuju ke gorong-gorong, dan saat itulah ayah masuk masih sambil telanjang bulat.
“Lho, ada kamu!” Ayah terkejut dan buru-buru menutupi area pribadinya itu dengan sarung guling yang digenggamnya.
Aku menahan tawa dan pura-pura terkejut melihat ayahku muncul dalam kondisi telanjang bulat.
“Ayah kenapa bugil gitu?! Ayah porno, deh!” Aku terpaksa tertawa untuk meredakan gejolak jantungku yang berdegup kencang.
“Ayah mau mandi. Buruan keluar gih!”
“Lho, kok mandi malem-malem?”
“Gerah!”
“Masa? Padahal nggak panas udaranya. Kok, ayah keringatan. Ayah habis ngapain?” Aku sengaja membrondong ayahku dengan pertanyaan.
Ayah kelihatan salah tingkah. “Olahraga malam. Ayah habis olahraga malam.”
Oh, onani itu olahraga, ya? Begitu kataku dalam hati. “Lha, itu sarung guling kenapa?”
“Mau di cuci!”
“Oh!” Aku segera keluar dari kamar mandi. Aku jadi lupa dengan rencanaku sebelumnya yang ingin membasuh spermaku di perut dan yang sudah menempel basah di celana dalam.
Aku langsung masuk ke kamar dan mengecek kondisi celanaku. Ternyata spermaku sudah mulai mengering di bagian depan celana dalamku. Terlihat dari bentuk gambar-gambar rembesan seperti pulau di atas permukaanya.
Iseng-iseng aku mengintip ayahku dari balik korden kamarku yang tertutup. Ayah sedang mandi ternyata dan tidak sedang onani lagi. Hehehhehehe. Aku merasa ketagihan mengintip ayahku. Entah kenapa aku jadi terangsang. Apa aku ini homo, ya? Tiba-tiba terlintas di benakku, bagaimana jadinya kalau aku dan ayah onani bersama, atau paling tidak kita bisa saling membantu dalam mencapai klimaks. Aku tiba-tiba merasa ingin jadi guling yang di gesek-gesekkan dengan kontolnya tadi. Malam itu aku tidur pulas tanpa bermimpi apapun.

Saat jam istirahat aku sengaja mendekati temanku yang bernama Rahmat. Dia itu jagonya soal hal-hal porno. Koleksi filmnya di handphone tak terhitung jumlahnya. Dia seperti informan yang siap memberi penjelasan soal seksual kepada teman-temannya yang penasaran. Tidak seperti Wahyu, pengetahuan Rahmat soal seks lebih luas, dan aku berniat mencuri-curi kesempatan untuk bertanya soal pikiranku yang sempat terlintas kemarin malam.
“Mat, boleh tanya nggak?” Tanyaku sambil duduk di sebelahnya di dalam kelas.
“Apa?”
“Nggak istirahat?”
“Ogah. Lagi males jajan.”
“Boleh tanya soal-soal begituan nggak?”
“Wah, angin-anginan nih? Tumben? Biasanya sama Wahyu terus curhatnya.”
Aku memamerkan gigiku.
“Tanya apa?” Kejar Rahmat yang mulai penasaran.
“Seks itu cuman bisa dilakukan oleh laki-laki vs perempuan, ya?”
“Ya, iya. Emang sudah hukum alamnya begitu. Biar dapat bayi ya harus antara laki-laki dan perempuan. Kalau sesama jenis itu namanya kelainan.”
Penjelasan Rahmat mulai mendekati dengan apa yang aku maksudkan. “Lho, emang bisa sesama jenis berhubungan seks?”
“Bisa, dong! Kalau sesama laki-laki itu namanya sodomi. Tahu, kan yang kontolnya dimasukin ke dalam lubang anus?”
Aku mengangguk paham. “Kalau perempuan?”
“Pakai tangan. Jarinya di masukin ke lubang memeknya.”
“Ohhhhhhhh...”

Akhirnya setelah mendapatkan penjelasan dari Rahmat, aku memutuskan untuk pergi ke warnet setelah pulang sekolah. Aku langsung mengakses internet tentang gay atau homo seksual. Di situ aku menemukan artikel-artikel yang memberiku pengetahuan, dan aku juga bisa membaca cerita-cerita seks yang dilakukan sesama laki-laki. Sambil membaca cerita-cerita itu aku membayangkannya dan menggambarkan adegan demi adegan itu di dalam kepala, dan entah kenapa aku jadi membayangkan kalau aku dan ayah bisa berhubungan seks seperti kaum homo atau gay.
Kemudian aku membuka situs gay yang lain, dan aku mulai menonton film-film gay. Aku terpesona saat melihat seorang aktor bule memasukkan kontolnya ke dalam lubang anus, dan menggenjot-genjotnya seolah-olah lubang anus itu adalah vagina. Setelah cukup informasi aku pulang ke rumah, kebetulan aku lagi ada banyak PR.
Jam enam sore seperti biasa ayah pulang, tapi ayah tak sendiri. Beliau datang bersama teman-teman prianya. Mereka sibuk mengobrol di ruang tamu, dan sempat aku mengintip kalau mereka sedang menonton acara bola sambil meminum anggur. Aku terkejut dan merasa marah dengan ayah. Ayahku tak pernah mabuk, tapi kenapa sekarang ayah jadi minum-minuman haram itu.
Sekitar pukul sepuluh teman-teman ayah pamit, aku berencana membantu ayah untuk beres-beres ruang tamu yang penuh dengan sampah makanan dan kulit kacang. Saat itu aku bisa mencium bau anggur dari mulut ayah dan sepertinya ayah mabuk berat. Jalannya mulai limbung. Aku meminta ayah untuk segera mandi dan membersihkan diri dari bau anggur yang menyengat itu sementara aku membereskan ruang tamu. Ayahku menurut dan tak lama kemudian aku mendengar suara ayah sedang mandi.
Setelah ruang tamu beres aku beranjak pergi ke kamar karena mulai mengantuk. Saat itu juga aku melihat ayah keluar dari kamar mandi, sudah menggenakan sarung yang dililitkan di pinggangnya. Meskipun bagian bawahnya tertutup kain sarung, aku bisa menikmati bidangnya dada ayah, apalagi kedua putingnya yang hitam dan lebar itu. Perut ayah memang sedikit buncit, tapi menurutku itu cukup seksi.
Cara ayah berjalan masih limbung, aku terpaksa menuntunnya ke kamar, dan ayah langsung roboh ke atas tempat tidur. Tak sengaja kain sarung yang ayah kenakan tersingkap ke atas dan mempertontonkan pahanya yang kehitaman dan ditumbuhi bulu-bulu halus. Ayah tidak memakai celana dalam ternyata. Setelah memastikan ayah berbaring dengan nyaman, aku memutuskan untuk keluar tanpa menutup pintu kamar.
Pukul dua pagi aku terbangun karena merasa haus. Aku segera beranjak meninggalkan kamarku untuk turun ke lantai satu dan mengambil air minum. Setelah meneguk satu botol air mineral aku segera kembali naik ke atas, tapi tiba-tiba perhatianku teralih. Aku ingin mengecek kondisi ayah, jadi aku mengintipnya. Pintunya masih terbuka, jadi aku mengintip dari muka pintu. Ayah masih tertidur lelap, dan mendengkur. Dadanya yang seksi itu naik turun seiring tarikan napasnya.
Melihat itu aku jadi terangsang, apalagi mengingat ayahku tidak memakai apa-apa di balik kain sarung yang beliau kenakan. Jadi aku mengendap-endap mendekati tempat tidur dan berlutut tepat di antara kedua kaki ayahku. Pelan-pelan aku menyingkap kain sarung ayah. Mendapatkan perlakukan seperti itu ayahku tidak terbangun, jadi aku semakin berani menyingkapkan kain sarungnya. Dan WOW! Kain sarung itu tersingkap ke atas perutnya dengan sempurna dan aku bisa melihat kontolnya yang tertidur pulas.
Tanpa pikir panjang aku langsung menyentuh kontol ayah. Kupegang kontol yang tertidur itu dengan jari telunjuk dan ibu jariku, lalu dengan pasti kumasukkan kontol itu ke mulutku. Rasanya asin dan berbau aneh, tapi aku malah terus menghisap kontol ayah. Mendapatkan perlakukan seperti itu ayah tak juga terbangun, dan aku malah berani memerdalam hisapanku. Kali ini kumainkan ujung kepala kontol ayah dengan lidahku, dan tiba-tiba saja kontolku semakin membesar hingga ereksi sempurna. Aku jadi terpesona dan menghisap-hisap kontol ayahku dengan membabi buta.
Slurp! Slurp! Slurp! Begitu suaranya.
“Yeah, hisap terus Ari!”
Aku terkejut dan melepaskan hisapanku di kontol ayah. Aku kaget bukan main kalau ayahku ternyata sudah bangun, sepenuhnya sadar dan tengah memandangiku dengan tatapan heran. Ya, ampun! Aku bisa kena tampar karena bisa berbuat senonoh dengan ayahku. Ayah pasti marah.
“Kenapa berhenti?” Tanya ayah kemudian, tak kelihatan sedang marah.
“Maafin Ari, ayah...”
“Kamu kenapa bisa berbuat begitu? Kamu homo?”
Aku buru-buru menggeleng.
“Lantas?”
“Aku Cuma ingin memuaskan ayah.”
Ayah langsung bangkit berdiri, diturunkannya kain sarung itu hingga kontolnya tertutupi. Ayah kemudian memintaku untuk bangkit dan duduk di sebelahnya di atas tempat tidur.
“Jelaskan apa maksud kamu dengan ingin memuaskan ayah?”
“Maaf, yah. Aku pernah ngintip ayah onani.”
Ayah tampak terkejut. “Kapan?”
“Seminggu yang lalu. Pas ayah mandi dan sewaktu ayah di kamar.”
Ayah kemudian membuang muka, sepertinya malu. Kami sama-sama terdiam, jadi akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan ceritaku.
“Kenapa ayah nggak cari istri saja supaya bisa menyalurkan napsu ayah? Kenapa harus onani, sama guling lagi.” Aku sedikit menambahkan gelak tawa di belakang kalimatku agar suasana yang tegang mencair.
“Ayah masih belum nemu yang pas, saja.”
“Kan bisa sama PSK seperti ayahnya Wahyu.”
“Hah?! Mana bisa? Ayah nggak punya uang lebih untuk hal seperti itu. Kamu pikir itu semudah kamu membeli jajanan.”
Aku diam saja.
“Lalu kenapa kamu tiba-tiba oral kepunyaan ayah?”
“Ari cuman mau membantu ayah untuk memuaskan napsu birahi ayah. Ari tahu kalau hubungan sejenis bisa dilakukan untuk memuaskan napsu.”
“Tapi ayah bukan homo, Ari!”
“Ari tahu, tapi Ari ingin membantu saja. Lagi pula Ari suka terangsang melihat ayah.”
Ayah terkejut mendengar kata-kataku. “Kamu masih dalam masa pertumbuhan, masih ingin tahu banyak hal dan coba-coba. Kamu harus hati-hati nanti terjerumus.”
Aku diam saja dinasehati seperti itu. Kemudian hening lagi.
“Yah... ayah suka diemut seperti tadi? Ari emut lagi ya kontolnya?”
Ayah menoleh ke arahku. “Nggak bisa, Ari! Ini berdosa.”
“Tadi bilang kenapa berhenti?
Ayah diam saja.
“Rasanya enak, kan? Ayo, dong, yah, biarin saja. Izinkan Ari memuaskan ayah. Ari sudah belajar dari film-film gay. Dijamin enak.” Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut aku langsung berlutut dan menyingkapkan kain sarung ayah. Kontol Ayah sudah setengah tertidur.
Segera aku mengemut dan menghisap-hisapnya. Ayahku berusaha menolak dengan menutup kain sarungnya kembali yang tadi sudah kusingkapkan, tapi tanganku yang bebas mencegah perlawanan itu. Semakin ayah melawan semakin kuat pula hisapanku pada kontolnya.
“Santai, yah. Santai.”
Selang beberapa menit aku melihat ayahku sudah mulai relax dan menikmati setiap hisapanku. Kukocok-kocok kontolnya dengan tanganku dan aku melihat ayah memejamkan matanya.
“Enak, yah?”
Ayahku mengangguk. Aku semakin semangat lagi dalam memuaskan ayahku.
“Ahhhh... Ahhhh... Ahhhhh!” Ayah mulai mendesah-desah. “Ayah mau keluar Ari!”
Aku langsung menghentikan hisapanku. “Tunggu dulu, yah! Buru-buru amat.”
Aku bangkit berdiri dan melepaskan seluruh pakaianku. Ayah tampak binggung menyaksikan diriku telanjang di depannya, belum lagi matanya tiba-tiba melotot saat melihat kontolku sudah berdiri tegak.
Kemudian aku naik ke atas tempat tidur dan rebahan sambil menyangga kepalaku dengan bantal. “Ayo, yah! Aku ingin disodomi.”
“Ari?!”
“Di film gay yang Ari lihat, setelah kontolnya diemut-emut, langsung disodomi. Ayo, yah. Ari rela menyerahkan lubang anus Ari demi ayah. Nggak ada bedanya sama lubang memek, yah!”
Ayah tampak berpikir sejenak. “Baiklah. Sudah lama ayah nggak ngentot. Memek sama anus nggak ada bedanya.”
Aku langsung tersenyum sambil menyaksikan ayahku melepaskan ikatan sarung di pinggangnya. Sekarang ayah sama telanjangnya dengan diriku. Ayah langsung mengakangkan kedua kakiku. Di basahinya jarinya dengan air liur, lalu diusap-usapkannya jarinya yang basah itu ke lubang pantatku. Rasanya becek, tapi aku bisa menikmatinya. Kemudian ayah membasahi kontolnya sendiri dengan air liur, dan mulai mendekatkan kepala kontolnya ke lubang anusku. Ayah kemudian mendorong kepala kontolnya masuk.
“AWWWWW!” Aku menjerit. Rasanya lubang anusku dirobek dengan paksa.
Ayah terkejut dan ingin menarik kontolnya mundur, tapi aku mencegahnya. “Terusin, yah!”
Jadi ayahku kembali memasukkan kepala kontolnya. Dan blessss, kepala kontolnya masuk. Aku menjerit tertahan tapi aku berusaha menjauhkan rasa sakit yang menusuk-nusuk itu keluar dari kepalaku.
“Ahhh, sempit sekali lubangmu Ari. Seperti memek masih perawan. Lebih sempit malah.”
“Dorong, yah!” Aku memerintahkan.
“Oke! Kalau sakit bilang.”
“Ari bisa tahan, kok!”
Berlahan-lahan tapi pasti akhirnya kontol ayah masuk sampai bagian batangnya, tak sampai ke bagian pangkalnya.
“Gila! Enak banget. Sempit, anget. Nggak nyangka kalau lubang anus seenak ini.”
“Ayo, yah! Digenjot.”
Ayah langsung menggerakkan pinggulnya maju-mundur secara berlahan. Awalnya aku sering meringis kesakitan, tapi lama kelamaan aku bisa merasakan sensasi menggelitik yang menyodok-nyodok lubang anusku.
“Ahhh, Ahhh, Ahhh, Ahhh!” Aku mendesah bersahutan bersama ayah.
Ayah mendekap tubuhku, aku memeluk bahunya, dan aku terus bergerak bersama ayah. Buah zakar kami berdua saling beradu, saling memukul, dan jembut ayah menggelitik pantatku. Oh, nikmat sekali rasanya. Aku mendesah di telinga ayah, dan ayah mendesah di telingaku. Rasanya seperti melayang di surga.
“Ari, ayah mau keluar!”
“Terus genjot, yah!”
Ayah terus menggerakkan pantatnya, dan tiba-tiba aku merasakan kontol ayah menegang kuat di dalam lubang pantatku dan aku bisa merasakan semburan deras spermanya membasahi lubang pantatku.
“AGHHHHHHHHHH!” Ayahku mendesah, tubuhnya menegang, kepalanya terkulai lemas di bahuku. “Oh, Ari! Nikmat sekali.”
Kemudian ayah mencabut kontolnya dari lubang anusku, diikuti dengan keluarnya sebagian sperma ayah dari lubang anusku. Kemudian tiba-tiba ayah menggengam kontolku dan mengocoknya.
“Ini sebagai ucapan terima kasih dari ayah!”
Aku mengangguk sambil menikmati gerakan tangannya yang kasar itu di kontolku.
“Ahhh! Ahhh! Ahhh!” Aku mendesah-desah. “Aku mau keluar, yah!”
“Ya, ayah tahu. Ayah bisa merasakan kontol kamu berdenyut-denyut.”
Kocokan ayah semakin kencang, dan aku langsung ejakulasi. Sensasinya luar biasa apabila peran tanganmu digantikan orang lain. Aku sampai muncrat banyak. Sebagian spermaku sampai ke dada dan sebagian lagi membasahi tangan ayah.
Ayah kemudian berbaring di sebelahku dan langsung memelukku. “Kalau tahu berhubungan intim sesama laki-laki bisa seenak ini, ayah pasti mau melakukannya berkali-kali.”
“Katanya ayah bukan homo?” Aku memprotes.
“Ayah suka dua-duanya. Gimana Ari, ayah mau ronde ke dua. Kamu siap melayani?”
Aku mengangguk kegirangan. “Aku ingin membahagiakan ayah.”
Kemudian ayah mengecup bibirku sekali. Rasanya aneh. Tapi aku ingin lagi, jadi aku malah menekan bibirku ke bibir ayah. Ayah tertawa.
“Bukan begitu caranya. Begini ayah ajari.”
Kemudian ayah mengecup bibirku, aku membalas kecupannya. Bibir saling beradu, dan kemudian lidah ayah bermain dengan lidahku. Wow! Sepertinya ronde ke dua akan segera dimulai.

I love you, ayah!


Bagi teman-teman yang ingin mengirim Cerita Tentang POLISI silahkan kirimkan ke dimas_arbayu@yahoo.com 
Cerita Mengenai Polisi akan langsung masuk ke bagian Intermezzo yang merupakan bagian terbanyak dan terlaris dibaca di blog saya ini.
Ditunggu secepatnya Ya...
Terimakasih...


2 komentar: