Hunk Menu

Overview of the Naolla

Naolla is a novel which tells about life of Hucky Nagaray, Fiko Vocare and Zo Agif Ree. They are the ones who run away from Naolla to the Earth. But only one, their goal is to save Naolla from the destruction.

Book 1: Naolla, The Confidant Of God
Book 2: Naolla, The Angel Falls

Please read an exciting romance novel , suspenseful and full of struggle.
Happy reading...

Look

Untuk beberapa pembaca yang masih bingung dengan pengelompokan posting di blog ini, maka saya akan memberikan penjelasannya.
(1)Inserer untuk posting bertemakan polisi dan dikutip dari blog lain;(2)Intermezzo adalah posting yang dibuat oleh pemilik blog;(3)Insert untuk cerita bertema bebas yang dikutip dari blog lain;(4)Set digunakan untuk mengelompokan posting yang sudah diedit dan dikutip dari blog lain;(5)Posting tanpa pengelompokan adalah posting tentang novel Naolla

Selasa, 17 September 2013

Intermezzo: Polisi dan Minimarket

Butuh berapa banyak waktu untuk manusia bisa menyadari bahwa hidup itu terlalu berharga untuk disia-siakan. Mungkin hanya takdir bisa menjawabnya dengan lantang namun kita juga masih bisa menentukan nasib seperti apa yang akan kita ingin wujudkan dimasa depan. Seperti saat ini, aku berusaha untuk tidak menyia-nyiakan hidupku. Aku tidak tahu harus memulai cerita ini dari mana agar apa yang aku rasakan bisa diterima kalian. Tetapi mungkin aku akan memulainya dari awal kembali…
Namaku Bayu Antoni. Aku adalah anak semaata wayang dari ayah dan ibuku. Aku memang bukan orang kaya. Ayahku hanya seorang pegawai pabrik minyak goreng, sedangkan ibuku adalah salah satu staf tata usaha di SD dekat rumahku. Walaupun aku sudah merasa dimanjakan oleh orang tuaku, tetapi aku berfikir untuk apa aku bangga dengan apa yang aku dapat dari ayah dan ibuku. Itukan bukan sepenuhnya hasil keringatku. Apa hebatnya sih, seorang anak yang menadahkan tangan kepada orang tuanya setiap ingin membeli sesuatu? Tidak ada bukan? Bahkan untuk membeli pulsa pun aku harus meminta dengan ibuku. Menyedihkan kamu Bay!!!! Maka dari itu setelah lulus SMA, aku memutuskan untuk mencari kerja terlebih dahulu dan menunda kuliahku selama satu tahun.
Tuhan punya rencana dan kita hanya bisa bersyukur untuk apa yang telah Tuhan berikan pada kita. Baik ataupun buruk semua itu pasti tidak akan bernilai sia-sia jika kita cukup bijak untuk menyikapinya.
Setelah memasukkan lamaran ke beberapa perusahaan dan beberapa tempat yang sedang membuka lowongan pekerjaan, akhirnya aku diterima sebagai salah satu karyawan di Minimarket. Gajihnya sih, kecil yaitu Rp. 700.000,- / bulan. Namun itu sudah lebih dari cukup untuk keperluan bensin dan jajanku selama sebulan.
Ayah dan ibuku mendukung itu dan tentu saja tidak semua uangku aku habiskan. Sebagian aku tabung untuk nambah-nambah biaya kuliahku tahun depan.
Mungkin bagi teman-teman yang sudah baca ceritaku sebelumnya, pasti sudah kenal ciri-ciri tubuhku. Aku adalah seorang cowok manis dan menjadi idaman para cewek-cewek sewaktu SMA. Tinggiku 160 cm dan beratku ideal. Tubuhku mulai terbentuk berkat latihan kerasku untuk membentuk sedikit otot di bagian-bagian tertentu yang menurutku bisa menunjang penampilanku. Bibir tipisku agak merah dan kulitku kuning langsat. Menurut orang-orang sih aku ini cakep, bahkan kalau aku tidak ganteng kayak gini mana mungkin pacar-pacar Polisiku mau ama aku. Ya kan? Hahahahah… Pede banget ya aku ini?
Hubunganku dengan bang Wando tidak ada masalah, namun dia sekarang sudah memiliki anak dan itu menjadi sedikit penghalang jika kami ingin melepas rindu dengan tidur malam berdua. Bang Wando tidak sebebas dulu lagi. Kak Satria juga masih sering menelpon aku dan kalau dia tidak capek dia juga menemuiku dan menumpahkan semua pejuhnya didalam ususku.. Hahaha… Briptu Musa Hidayat juga kadang-kadang minta jatah padaku. Bahkan kadang aku bisa full service selama seminggu untuk para polisi-polisi selingkuhanku. Sebut saja Iptu Panji Arifin, Ipda Mahmud Septianto, Briptu Setya Anugrah, Briptu Januar Andhika, Briptu Agung Rifky Fitriandi dan Briptu Adit Gunawan mereka pernah meminta jatah yang hampir berdekatan waktunya. Seperti beberapa bulan lalu, Briptu Dhika memintaku bercinta dirumahnya lewat sms padahal saat itu aku sedang asik-asiknya di genjot gaya ayam panggang oleh Ipda Mahmud. Kontan saja, kontol pak Mahmud didiamkan di dalam anusku sementara aku mematikan hape-ku yang berbunyi di tengah-tengah acara persenggamaan panas kami. Untunglah saat pak Mahmud memuntahkan pejuh kentalnya, kontol gedenya sempat diarahkan kedalam mulutku sehingga selepas dari rumah pak Mahmud aku langsung menuju rumah Briptu Dhika dan disana aku di entot habis-habisan sampai setengah malam. Walaupun rasanya sangat letih tetapi aku bangga karena sungguh langka bagi cowok “sakit” seperti kaumku ini bisa menikmati kontol-kontol besar milik para Polisi gagah nan perkasa, bahkan bisa setiap hari, dan tentunya dengan polisi yang berbeda-beda gaya bercinta favoritnya.
Namun tanpa aku duga seorang Polisi muda lagi-lagi bisa aku nikmati kontol perkasanya. Kejadian ini berawal dari ketidak sengajaanku melayani tamu di minimarket tempatku bekerja.
***
Aku ingat betul kejadian pertama aku bertemu dengannya. Tepat pukul 4.30 Sore itu, suasana minimarket tampak seperti hari-hari biasanya dengan adanya para pembeli dan para karyawan. Aku yang saat itu sedang mengatur barang-barang untuk ditaruh di rak tiba-tiba dikejutkan oleh sesosok pria gagah yang berdiri di belakangku.
“Permisi mas. Maaf mengganggu, susu L-xxx (menyebutkan nama produk susu berprotein tinggi khusus pria dewasa beserta berat bersih susu tersebut) habis ya?”, tanya pria macho yang memang kelihatannya berotot kencang itu.
Aku menoleh dan menghentikan kesibukanku beberapa saat. “Bapak sudah cek di sebelah sana, di bagian produk susu?”.
“Saya sudah mengeceknya tadi tetapi kayaknya memang tidak ada susu yang saya cari”.
Wajah tampan pria berbaju coklat khas anggota kepolisian itu tampak begitu meneduhkan pandanganku. Sungguh jika aku tidak sedang berada di tempat umum seperti ini, ingin sekali rasanya aku mengelus mesra rahangnya yang gagah itu. “Tunggu ya Pak saya tanya dulu dengan teman saya. Bapak tidak keberatan bukan kalau saya minta untuk menunggu sebentar?”.
“Oh, iya silahkan”.
Aku pun permisi untuk beberapa saat dan tak lama kemudian aku kembali mendatanginya.
“Kayaknya kami kehabisan stok pak dan stok kami baru datang besok pagi. Maaf ya pak atas ketidak nyamanannya”. Sebenarnya aku tidak ingin memanggilnya bapak karena aku lihat wajahnya masih terlalu muda untuk aku panggil dengan sebutan bapak hanya saja tidak etis rasanya jika aku memangggil seorang polisi sepertinya dengan sebutan selain bapak apalagi aku belum mengenalnya.
“Baiklah kalau begitu. Terimakasih ya mas”.
“Terimakasih kembali pak”.
Pria gagah itu pun keluar minimarket. Jujur, sejak tatapan pertama tadi, aku benar-benar tidak bisa menghilangkan bayangannya dari dalam pikiranku. Entah mengapa rasanya aku pernah mengenal sosok pria gagah ber kaos biru ketat itu. Ada bagian didalam masa laluku yang seakan-akan membimbibngku untuk lebih mencari tahu siapa pelanggan yang datang padaku tadi. OMG! Aku benar-benar jadi tidak berkonsentrasi bekerja setelah itu. Semoga saja dia datang lagi ke minimarket tempatku bekerja dilain waktu.
Sepertinya doaku terkabul. Dengan pakaian khas polisi berpangkat Briptu dan name tag di dada kirinya yang bertuliskan Dedi Dwi Hartono, pria gagah yang kemarin bertanya padaku kembali datang ke minimarket di sore berikutnya. Seperti yang sudah aku janjikan kemarin kalau stok susu L-xxx yang dia cari akan tiba hari ini sehingga tanpa ragu lagi aku rasa dia pasti akan menuju rak bagian susu. Dengan perhitungan itu, aku bergegas mendahuluinya menuju rak susu untuk sekedar berusaha menarik perhatiannya.
“Permisi mas. Susu yang kemarin sudah datang?”, tanya Polisi itu ketika melihat aku sedang berada di rak dekat bagian susu.
Aku menoleh kepadanya mencoba mendramatisasi keadaan agar terlihat tidak dibuat-buat aku berada didekat rak tersebut. “Sepertinya sudah tersedia pak. Silahkan bapak kesebelah situ”. Sambil menunjukkan rak susu L-xxx.
“Terimakasih mas”, ucapnya sambil menuju rak yang aku maksud.
Setelah mendapatkan barang yang dia cari, dia langsung membawanya kebagian kasir dan membayarnya. Didalam hatiku, aku berharap bisa lebih mengenal Briptu Dedi di lain waktu. Mungkin kalian juga sependapat denganku jika kalian pernah melihat briptu Dedi secara langsung. Dia adalah pria yang sangat gagah dengan tinggi sekitar 180 cm dan berat yang proporsional. Kulitnya lumayan putih dengan senyuman yang agak misterius namun meneduhkan.
Semenjak pertemuan pertama kami, jujur aku tidak bisa melupakan semua tentang Briptu Dedi. Bahkan salah satu yang membuat aku penasaran adalah bagian selangkangan beliau yang terlihat agak tebal. Oleh karena itu, aku harus cari tahu sebesar apa pisang bulu yang ada di balik celana coklat ketatnya tersebut.
Hari telah berganti dan banyak hal yang membuat aku tidak bisa mengabulkan keinginan kontol para Polisi ku. Aku sering pulang malam dan tentu saja itu menjadi alasan terbaikku untuk tidak mau melayani mereka. Aku terlalu letih setelah seharian bekerja.
Kita memang tidak akan pernah tahu apa rencana Tuhan di hari berikutnya. Seperti di hari itu, di hari minggu. Aku kebagian libur minggu ini. Ingin rasanya aku berkencan dengan salah satu pacarku dan melepaskan hasrat yang sudah hampir sebulan aku pendam dalam-dalam. Namun cuaca berkehendak lain, semenjak pagi langit agak muram dengan deretan awan-awan kelabu menghiasi angkasa. Bahkan matahari tidak tampak batang hidungnya siang itu. Akhirnya aku putuskan untuk tidur dan beristirahat saja di kamarku.
Jam menunjukan pukul 11.08 am. Aku medengar ada suara orang mengetuk pintu rumahku. Aku pikir ibu akan membukakan pintu, namun sepertinya ibu tidak mendengar kalau ada tamu yang datang. Dengan agak malas-malasan, aku pun keluar kamar dan membukakan rumah.
BRUAKKKKK!!!! DUGG!!! PLAK! PLAK! PLAK! Ibarat petir menyambar ubun-ubunku. Di depan pintu rumahku telah berdiri seorang wanita paruh baya dengan seorang pria gagah yang beberapa waktu terakhir aku idam-idamkan, Briptu Dedi. Mungkinkan mas Dedi ingin melamarku? Hahaha… sinting lu Bay! Mana ada yang senekat itu!!!
“Maaf, ini betul rumahnya ibu Nunu?”, tanya wanita itu membuyarkan lamunanku.
“Eh, iya benar bu. Ada perlu apa ya?”.
“Ibu Nununya ada?”.
“Ada di dapur”.
“Bilang ke beliau kalau ada mama Dedi yang nyariin”. Wanita itu melempar senyum padaku.
“Oh, baik bu. Silahkan bu, mas, masuk dulu. saya mau panggilkan mama saya”. Aku pun bergegas menemui mamaku di dapur. Aku mulai bingung dengan situasi ini. Mungkinkah ibu adalah teman dari mamanya mas Dedi? Kalau begitu ada kemungkinan ibu juga kenal dengan mas Dedi ganteng itu?
“Bu, ada mama Dedi nyariin tuh?
Tampak ibuku sedang menata piring di raknya. “Mama Dedi siapa?”. Keliahatannya mamaku masih mengingat-ingat sosok dari nama yang aku sebutkan.
“Aku juga nggak tahu. Tadi katanya suruh bilang kayak gitu. Ibu temuin dia aja deh, mungkin dia teman lama ibu kali”, kataku.
Dengan segera ibu menghentikan aktivitasnya dan menemui tamu didepan. Setelah ibu pergi, aku berniat membuka tudung saji dan makan siang. Baru mengambil piring, tiba-tiba ibu memanggil aku.
“Bay, ke sini sebentar”.
“Iya bu…”. Aku taruh kembali pringku dan langsung menuju ruang tamu.
Di ruang tamu…
“Kamu tahu nggak ini siapa? Pasti dia lupa, Bu Sapti. Dia kan masih kecil waktu Dedi saya jagain”, kata ibuku.
“Ini Bayu yang dulu ya? Wah udah tambah ganteng ya sekarang… Masih ingat tante nggak Bay?”, tanay tante Sapti.
“Maaf tante, aku tidak ingat”.
“Ayo salaman dulu”, pinta ibuku.
Aku pun menyalami tante Sapti dan mas Dedi lalu setelah itu aku duduk di samping mas Dedi.
“Bayu ini kerja di Minimarket “x (nama minimarket)” kan?”, tanya mas Dedi membuka percakapan padaku.
“Iya mas, mas yang kemarin nyari susu itu kan?”.
“Wah, ternyata mereka sudah saling kenal bu”, celetuk tante Sapti sambil memandang ibuku.
“Iya mah, kebetulan beberapa waktu lalu saya pernah membeli susu di minimarket tempat Bayu bekerja”, jawab mas Dedi.
“Kamu pasti pernah lihat kan foto mas Dedi waktu kecil yang ada di album foto? Ya ini orangnya, Bay. Waktu kecil, dia 4 tahun ibu jagaain kalau bu Sapti dan Pak Thamrin lagi berangkat kerja. Sekarang mas Dedi sudah jadi anggota Polisi lho”.
Aku hanya tersenyum…
“Oh iya bu Nunu, tante Marti masih sehat?”.
“Beliau sudah tua, tapi masih sehat bu”.
“Kalau tidak keberatan bisa tidak ibu menemani saya menjenguk beliau. Mumpung saya di sini”, pinta bu Sapti.
“Tentu bisa. Mari saya antar. Rumah beliau di gang samping menuju sekolahan. Bayu temani mas Dedi sebentar ya”.
“Iya Dedi silahkan ngobrol-ngobrol sama Bayu disini. Ibu mau jenguk nenek Marti dulu”.
“Baik bu…”, jawab mas Dedi.
Akhirnya tinggal kami berduaan di dalam rumah. Mas Dedi orangnya dewasa dan ramah. Dalam waktu yang singkat, aku seperti telah mengenalnya cukup dekat setelah dia mengajakku berbincang-bincang. Aku baru tahu kalau ternyata dia ngekos di dekat minimarket X. Dia juga memiliki seorang adik perempuan yang sekarang sudah kelas XI SMA.
Setelah 10 menit berlalu, tiba-tiba hujan turun dengat intensitas yang sedang.
“Pintunya aku tutup dulu ya mas. Anginnya dingin”. Aku beranjak dari tempat duduk dan langsung mengunci pintu.
“Bay, aku bisa ikut nge-charge tidak? Baterai aku lowbat ini”.
“Bisa mas. Silahkan”.
“Kamu aja yang mengecharge-kan. Ini chargerannya”. Dia menyerahkan hape dan chargernya padaku.
Tanpa banyak bicara lagi, aku langsung menuju ke dalam kamar dan mencolok chargerannya. Tetapi aku lihat hape mas Dedi belum melakukan pengisian baterai. Aku coba otak-atik tempat mencharge-nya, tetapi tetap tidak bisa. “Mas, kesini sebentar”.
Mendengar aku memanggil namanya, mas Dedi beranjak dan mendatangiku. “Ada apa Bay?”.
“Kok tidak bisa ngisi?”.
“Mana, sini mas coba”. Mas Dedi mulai mencoba mengatur chargerannya tetapi tampaknya memang ada masalah dengan chargeran yang dibawa mas Dedi. “Waduh, kayaknya chargeran mas yang rusak. Kamu ada chargeran jepit gak Bay?”.
“Punya ayah ada sih mas. Mas tunggu sebentar ya, aku ambilkan dulu”. aku meninggalkan mas Dedi sebentar didalam kamar.
Mas Dedi menungguku dengan duduk di atas kasur. Mungkin memang sudah takdir kalau mas Dedi bakalan tahu aku ini adalah gay. Dengan tanpa aku duga sebelumnya, mas Dedi menyingkap selimut tempat aku menyembunyikan notebookku yang sedang memutar video gay asia yang durasinya lebih dari satu jam setelah tanpa sengaja dia menyenggol notebooku ketika ingin duduk. Ini memang keteledoranku yang lupa mematikan notebook ketika tadi keluar kamar untuk membukakan pintu rumah. Tentu saja aku kaget dan agak gugup ketika aku melihat mas Dedi sedang memperhatikan layar notebookku yang sedang menampilkan adegan seorang cowok Jepang kekar berkontol besar sedang mengentoti anus seorang cowok Jepang yang memiliki badan berotot juga. Di adegan itu tampak kedua pria sedang dalam hasrat birahi yang sama-sama tinggi. Gaya sodokan laki-laki yang berada dibawah terlihat sangat cepat menusuk anus pria yang sedang memunggunginya diatas. Mereka benar-benar menunjukan ekspresi yang sangat wow! Sedangkan mas Dedi hanya tampak agak bingung dan mengkerutkan dahinya.
Beberapa menit kemudian, aku yang baru datang dari mengambilkan chargeran untuk mas Dedi dan langsung masuk ke dalam kamarku menjadi pucat pasi karena menyaksikan mas Dedi sedang menatap layar notebookku. “M-ma-maaf mas. I-ini char-gernya”. Dengan agak gugup aku menyerahkan chargeran jepit pada mas Dedi.
Dia menatapku dengan tatapan yang menyelidik. Tanpa bicara dia mengambil chargeran di tanganku dan langsung melepas baterai hapenya dan mengechargenya.
Aku langsung meraih notebookku dan mematikannya.
“Kamu homo ya Bay?”, tudingnya secara langsung.
Aku tidak bisa berkata-kata dan memilih untuk tetap diam.
“Maaf, tadi mas tidak sengaja melihat notebook kamu. Kalau begitu mas mau permisi nyusul ibu dulu ya”.
Sepertinya mas Dedi tidak suka dengan ke-gay-an ku. Wajahnya kini terlihat dingin menatapku. Namun sebelum dia meninggalkan kamarku, aku buru-buru menarik tangannya. “Mas… Jangan kasih tahu siapa-siapa ya. Please…”.
Dia hanya menatapku lekat-lekat seperti ada ketidak sukaan didalam dirinya.
“Aku mohon mas… Jangan kasih tahu bu Sapti atau siapa pun tentang hal ini. Aku takut kalau ibu dan ayahku tahu kalau aku adalah seorang gay”. Aku memelas.
Mas Dedi masih diam menatapku. “Mas tidak akan bilang ke siapapun”. Mas Dedi melepaskan cengkramanku.
Jika kalian pernah lihat muka pocong, maka wajahku saat itu mungkin sepucat setan itu. Ibarat catur, aku sudah skakmat!!!
Aku tertunduk seperti seorang anak yang ketakutan.
Mas Dedi yang awalnya hendak keluar kamar tiba-tiba mengurungkan niatnya dan berbalik menghampiriku. Namun, yang membuat aku hampir mati kaget, entah setan dari mana tiba-tiba dia merunduk dan langsung mencium bibirku. Sungguh ini rasanya seperti bara api yang tiba-tiba di celupkan ke dalam air, sangat mengagetkanku. Mas Dedi menciumi bibirku dengan lembut dan seolah-olah ingin melepaskan beban di dalam diriku. Aku yang masih terkaget-kaget berusaha membuka sedikit mulutku untuk memberi jalan lidah mas Dedi menyapu bibirku yang merah. Antara tipuan atau kenyataan, aku berusaha sadar dan melepaskan ciumannya.
“Mas??? Kenap…”
Belum sempat bibir ini melanjutkan kata-kataku, mas Dedi langsung kembali mengecup bibirku dan melumatnya dia seolah-olah tahu pertanyaan apa yang akan keluar dari dalam mulutku dan berusaha memberikan jawabannya lewat sebuah ciuman.
Lidahnya terasa hangat menyentuh lidahku. Aku imbangi sesaat dan sesekali aku juga mencoba membalasnya dengan beradu lidah di rongga mulutku.
Tak terasa tanganku sudah semakin berani bergerak kedepan dan meraba tonjolan besar yang tersembunyi dibalik celana kain berwarna hitamnya. Wow!! Terasa sangat hangat dan keras sekali isi di dalam celana itu. Aku coba meraba bentuknya yang lonjong dan besar seperti gerakan mengocok kartu. Hanya saja ini gerakan mengocok kartu dengan satu tangan.
Mas Dedi melepas ciumannya. “AHHHH… AAAHHHH… SHHHIITTTT…. OOOHHHH…. OOOHHHHH….”
“MAS SUKA??”.
“SUKA BAY. KAMU JAGO BANGET BIKIN KONTOL MAS NGACENG. BARU KALI INI MAS BERANI BERBUAT SEPERTI INI SAMA COWOK. AHHHHH… AAAHHHHH… ENAKHHHHH… BAYYYY… OOOOOOOHHHHHHHHHHH”.
“KALAU MAS SUKA, AKU BISA KOK BIKIN MAS LEBIH KEENAKAN LAGI”.
“GIMANA CARANYA BAYYY… AUHHHH… GELI BAY…. AAAAHHHHH”.
“MAS PERNAH DI ISEP NGGAK?”.
“PERNAH BAY, SAMA PACARKU. TAPI UDAH LAMA NGGAK PERNAH LAGI. KAMU MAU NGISEP PUNYA MAS?”.
“JANGANKAN NGISEP PUNYA MAS. NUNGGANGI LANGSUNG JUGA AKU MAU. JUJUR, AKU UDAH JATUH HATI DENGAN MAS DEDI SEJAK PERTAMA AKU MELIHAT MAS”.
“AAAHHHH…. KAMU NANTANG YA??? AYO SINI ISEP PUNYAKU. KALAU NGGAK BISA BIKIN MAS PUAS, KAMU BAKALAN MAS LAPORIN KE ORANG TUA KAMU”. Ancam mas Dedi.
“JANGAN MAS… IYA DEH SINI AKU ISEPIN. POKOKNYA AKU JANJI BAKALAN BIKIN MAS DEDI PUAS. TAPI PINTUNYA DIKUNCI DULU MAS, BIAR KITA BISA BEBAS”.
Aku pun bergegas mengunci pintu dan langsung menerkam tubuh mas Dedi yang berotot hingga ambruk ketempat tidur. Kontol kami terasa saling bergesekan dalam keadaan tegang dan masih didalam celana masing-masing. aku maju mundurkan pinggulku dan dengan nakalnya aku langsung mencomot bibir mas Dedi yang sensual. Kami pun terlibat ciuman yang sangat dahsyat.
Tidak terasa, kami berdua sudah dalam keadaan bugil. Aku yang putih mulus, sudah tak bisa berlama-lama lagi menahan gejolak birahi dan langsung ambil posisi telentang sambil ngangkang di atas tempat tidurku seolah-olah mengisyaratkan bahwa aku siap di entot oleh mas Dedi yang gagah.
“Kamu udah pengen di entot ya Bay?”.
“IYA… MASHHHH…. CEPETAN… BAYU UDAH NGGAK TAHAN NIH….”.
“BENTAR YA SAYANG…”.
Mas Dedi langsung mengambil posisi berdiri di depanku terlebih dahulu lalu berlutut didepan selangkanganku. Dia sepertinya tertarik untuk mencicipi puting susuku. Dia menundukan badan, kemudian dia kenyot kedua putingku secara bergantian sambil sesekali kontolnya dia rojokkan kebelahan pantatku. Kalau aku tahu mas Dedi seperti ini dari awal, sudah sejak hari itu aku memberanikan diri untuk mendekatinya. Aku tidak menyangka ternyata dia juga sama seperti aku. Rezeki memang tak kan lari kemana!!! Hahahaha…
Kini bibirnya naik keleherku untuk menjilati bagian itu kemudian dia mulai menuju bibirku dan kami pun kembali berciuman seganas-ganasnya. Sambil berciuman, aku memeluk punggung kokoh milik Polisi gagah itu. Aku raba-raba punggung mas Dedi yang kekar. Mas Dedi juga tidak tinggal diam, dia seolah-olah mengentoti anusku walaupun hanya kepala kontolnya yang dia rojok-rojokan ke area sekitar lubangku. Gerakan pinggulnya turun naik mencoba memberikan sensasi yang sangat nikmat untukku. Membuat aku semakin kencang memeluk punggungnya. Sesekali aku juga meremas pantat gempal milik mas Dedi.
Dia mengangkat pinggulnya dan melepas ciumanku. Dia beranjak dan langsung mengangkangi wajahku. Aku tahu maksudnya. Dia pasti ingin aku mengisap kontolnya yang besar dan gemuk itu. Tanpa basa-basi lagi, aku pun langsung mengulum kontolnya dengan kuluman terbaikku.
“AHHHHH… AHHHHHH… YEEEAAAHHHH… AHHHHH… AAARGGGHHHHH… OOOOHHH…OHHHH….”, erangnya.
Aku maju mundurkan kepalaku mengisap kontol gede polisi itu. Dia juga sesekali merojokkan kontolnya sedalam mungkin di dalam mulutku hingga aku tersedak. Tetapi jujur, aku suka bentuk kontol mas Dedi yang agak hitam, berurat dan sangat gede itu.
Beberapa menit berlalu, mas Dedi sepertinya ingin kembali menciumku karena tiba-tiba dia menarik kontolnya dari dalam mulutku dan merunduk untuk mengecup bibirku. Aku pun kembali membalas ciumannya. Sungguh aku tidak bisa banyak bicara lagi selain rasa enak, nikmat dan menggairahkan sore itu. Aku terpejam sejenak dan berusaha menikmati  kehangatan tubuh mas Dedi. Rasanya aku tidak ingin ini berakhir dengan cepat bahkan didalam lubuk hati terdalamku aku berharap hujan semakin lebat sehingga ibunya mas Dedi dan ibuku menunda waktu mereka untuk balik kerumah ini. Tetapi kalian tentu percaya bahwa doa jelek itu tidak mungkin akan terkabul. Tiba-tiba terdengar suara klakson motor dari arah luar rumah mengagetkan kami yang sedang panas-panasnya beradu birahi.
“Mas, stop dulu. ada suara motor tuh…”. Aku mendorong dada berotot mas Dedi yang menempel didadaku.
“Siapa itu Bay?”. Dia agak kaget dan langsung berdiri.
“Sepertinya itu ayah. Lain kali saja kita sambung ya mas”. Aku pun bergegas bangkit dari tempat tidur setelah memastikan bahwa suara klakson motor yang kami dengar itu benar-benar klakson motor ayahku dan aku pun bergegas memasang semua pakaianku.
Wajah mas Dedi tampak kecewa dan walaupun begitu dia tampak menerimanya. Dia segera mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai dan memakainya sementara aku cepat-cepat keluar kamar untuk membukakan pintu rumah.
“Kamu dari mana Bay? Kok lama sekaali buka pintunya?”, tanya ayah yang masih mengenakan jas hujan.
“Maaf Yah, aku tadi di dapur jadi tidak terlalu terdengar suara motor ayah”, kelitku.
Ayah pun menaruh motornya di garasi kemudian dia melepaskan jas hujannya dan menggantungnya di pojokan garasi. Dengan menampakkan wajah bertanya-tanya, ayah keluar garasi sambil matanya memandangi motor gede yang terparkir rapi di dalam garasi rumah kami. Ayah pun masuk rumah.
“Bay, itu motor siapa?”.
Baru aku ingin menjawab, mas Dedi sudah keluar kamar dan tersenyum pada ayahku.
“Sore om… Baru pulang ya?”. Dengan gentle-nya mas Dedi keluar dari kamarku dan langsung menyalami ayahku yang baru masuk menuju ruang tengah.
Ayah menyambut uluran tangan dari mas Dedi dengan wajah yang masih agak bingung. “Sore. Iya nih, baru pulang kerja. Kamu siapa? Temannya Bayu ya?”.
“Om ingat aku nggak? Coba om ingat-ingat, kira-kira aku ini siapa?”. Sambil tersenyum.
Ayah mengernyitkan dahi. “Siapa ya? Sumpah om tidak ingat siapa kamu. Maklum, sudah tua…”.
“Aku Dedi om, anak bu Sapti dan pak Thamrin yang dulu pernah menjadi tetangganya om dan tante”.
Seketika wajah ayahku menjadi sumringah dan dia langsung menepuk punggung mas Dedi. “Masya Allah… Dedi? Pangling om sama kamu. Udah gede dan ganteng lagi. Walah-walah…  Ayo Ded, duduk dulu”. Ayah mengajak mas Dedi keruang tamu.
Aku mengekori mereka di belakang.
“Kamu sudah kerja ya sekarang? Dimana?”.
“Alhamdulillah aku sekarang jadi POLISI om”.
“Tugas dimana Ded?”.
“Di Polres ************ (nama kabupaten), om. Kalau om sendiri kerja dimana?”.
“Om kerja di pabrik minyak goreng di dekat perbatasan kecamatan yang menuju arah sini. Oh, iya sama siapa kamu kesini Ded? Kok bisa tahu rumah om disini?”.
“Aku dengan ibu, om. Kebetulan ibu lagi kerumah nek Marti sama tente juga tadi”.
“Bay, ambilin minuman hangat dong buat mas Dedi”, pinta ayah.
“Baik yah…”. Aku pun bergegas kedapur dan membuatkan dua gelas teh hangat untuk mereka berdua.
Ayah dan mas Dedi asik berbincang kesana kemari. Sementara aku memutuskan untuk menyalakan TV dan menonton acara kesukaanku. Tak lama kemudian, hujan reda dan bu Sapti serta mamaku kembali kerumah. Setelah berbincang-bincang sebentar, bu Sapti dan mas Dedi juga mohon pamit pulang pada keluargaku tetapi sebelum pulang, mas Dedi sempat meminta nomor kontakku pada ayah dengan alasan kosannya dekat dengan minimarket tempatku bekerja. Aku pun kegirangan luar biasa dan ingin rasanya aku lompat setinggi atas dan langsung mencium mas Dedi sekencang-kencangnya. Aku berharap ini baru di mulai.
“Kalau Bayu kemalaman pulang atau pengen nginap di kosan saya juga tidak apa-apa kok Om. Saya sendiri ngekos. Ya mungkin saja dia capek dan malas pulang malam-malam ke sini”, tawar mas Dedi pada ayahku.
“Iya nak Dedi, terimakasih sebelumnya”.
“Kalau begitu kami pamit pulang dulu ya Pak, Bu”. Bu Sapti menyalami ayah dan ibuku.
Begitu pula mas Dedi.
“Bay, mas Dedi dan tante Sapti mau pulang nih”, kata Ibuku.
Aku segera menyambangi mereka dan mengulurkan tangan untuk tamu kami tersebut. Namun ketika tanganku menyalami tangan mas Dedi dia sempat bilang, “Kalau kamu pengen main ke kosan mas silahkan Bay, nginap juga nggak apa-apa. Mas sendirian kok, ngekosnya”. Aku menjawab, “Iya mas pasti itu. Mas tidak perlu khawatir. hati-hati dijalan ya mas”.
Setelah itu, mereka pun berlalu pergi.

(Bersambung...)

3 komentar: