Hunk Menu

Overview of the Naolla

Naolla is a novel which tells about life of Hucky Nagaray, Fiko Vocare and Zo Agif Ree. They are the ones who run away from Naolla to the Earth. But only one, their goal is to save Naolla from the destruction.

Book 1: Naolla, The Confidant Of God
Book 2: Naolla, The Angel Falls

Please read an exciting romance novel , suspenseful and full of struggle.
Happy reading...

Look

Untuk beberapa pembaca yang masih bingung dengan pengelompokan posting di blog ini, maka saya akan memberikan penjelasannya.
(1)Inserer untuk posting bertemakan polisi dan dikutip dari blog lain;(2)Intermezzo adalah posting yang dibuat oleh pemilik blog;(3)Insert untuk cerita bertema bebas yang dikutip dari blog lain;(4)Set digunakan untuk mengelompokan posting yang sudah diedit dan dikutip dari blog lain;(5)Posting tanpa pengelompokan adalah posting tentang novel Naolla

Sabtu, 22 September 2012

Naolla, The Confidant of Gods : He Is the Hazardous Man



Waktu yang dinanti oleh Tuan Loka Fugk tiba. Jheibo sudah dibekali pelajaran untuk di sampaikan pada Ray dan juga telah dititipi dua buah hajunba untuk jaga-jaga kalau-kalau dibumi nanti Ray terpaksa harus cepat-cepat berpindah lokasi.
“Sekarang kamu harus jaga diri baik-baik ya Jhei. Jangan sampai kamu tertangkap manusia, makhluk bumi atau bahkan para Yuari. Kamu harus temukan Ray. Ini baju Ray sewaktu di Fugk. Silahkan kamu ingat baunya”, Loka menyuruh Jheibo mencium baju Ray sekali lagi dan kemudian Jheibo pun menurutinya.
“Sudah tuan”, kata Jheibo. Dia menjauhkan wajahnya dan bersiap-siap didepan pipa untuk segera menuju bumi.
“Kamu jangan sampai terpisah dengan Ray, Jheibo. Kamulah yang nanti akan kami datangi jika sudah berhasil membuat hajunba besar menuju bumi”, pesan tuan Qaza. “Segera pasang hajunba itu di pipa dan mulai menyesuaikan gelombangnya”, perintah tuan Qaza pada dua orang anak buahnya.
Anak buah tuan Qaza mulai memasang kedua buah hajunba kecil itu disisi bagian dalam pipa. Mereka mengatur kestabilan hajunba itu dan setelah merasa sudah selesai persiapannya salah seorang dari mereka memberitahu tuan Qaza. “ Stabil tuan”.
“Sekarang kamu harapan kami untuk menemukan Ray, Jheibo. Lakukan apa yang bisa kamu lakukan. Kami yakin kamu bukan makhluk yang ceroboh, jadi jangan sampai tertangkap para Yuari Vocare. Berangkatlah dan jaga Ray baik-baik”. Tuan Loka meletakkan Jheibo di telapak tangannya dan perlahan dia masukkan tubuh Jheibo kedalam pipa hajunba.
Jheibo hanya tersenyum dan menggerakkan tangannya seolah-olah dia berbicara bahwa dia bisa Loka andalkan.
Jheibo mulai memasuki dimensi ruang dan menuju bumi. Dibumi dia tidak tahu berada dimana dan untuk menemui Ray dia harus mengandalkan penciumannya yang sangat kuat itu. Sebagai informasi, Jheibo selalu menyembunyikan hidungnya untuk menekan kemampuan penciumannya yang tajam. Jika hidungnya selalu terbuka dan tidak terfokus pada satu bau, maka bisa dipastikan dia akan pusing karena dia dapat mencium bau apapun dengan jarak yang sangat jauh.
Setelah Jheibo berangkat, para peneliti pun menyimpan hajunba itu di sebuah kotak kaca khusus yang diletakkan di ruangan Loka.
“Siapkan pasukan Yuari terkuat kalian Karveo. Karena kita akan melindungi Ray seperti dulu lagi dan kita pastikan bahwa kali ini kita tidak lagi menjadi kerupuk di mata Vocare”, tegas tuan Loka.
“Kami sudah meningkatkan seleksi Yuari Perusak dan pertahanan tuan. Kami juga meningkatkan kemampuan para Yuari dengan melatih mereka menggunakan linggi-linggi khusus sebagai upaya melindungi Ray”, kata tuan Karveo.
“Tuan Qaza secepatnya membuat Hajunba kuat terbaik untuk melakukan perjalanan kebumi. Saya harap semua orang yang bertugas sebagai pembuat hajunba, menuangkan kemampuannya untuk ini. Kita harus bergerak cepat. Jangan sampai Vocare berhasil merebut kembali Ray”, tuan Loka benar-benar tak mau lagi kalah dengan Vocare seperti dulu.
“Tentu tuan. Anda akan segera mendapatkan hajunba itu. Kami sudah bertekat bahwa kami tidak akan pulang kerumah sebelum hajunba itu selesai kami buat”, janji Qaza.
“Selamat berjuang para Sayap Fugk. Naolla ada ditangan kita sekarang”. Loka berusaha mengingatkan para bawahannya mengenai nasib Naolla yang akan kacau dan semakin terpuruk jika dipimpin oleh Sukaw lebih lama lagi. Hal ini akan segera terwujud jika Sukaw berhasil mendapatkan tubuh Ray dan menjadi orang yang tak tertandingi di seluruh Naolla.
Beberapa burung berterbangan dari atas atap gedung pertemuan itu. Mereka melayang jauh meninggalkan daratan Fugk dan seakan menuju bulan merah yang tergantung dilangit gelap Naolla. Bulan ini sangat besar dan selalu sabit. Jika kita melihatnya malam-malam dan dalam keadaan sunyi, tentu kita akan merasa takut dengan warnanya yang merah layaknya darah segar itu. Tidak ada yang tahu mengapa bulan itu bisa berwarna merah namun bagi rakyat Naolla bulan itu merupakan keindahan dan kegagahan yang dibuat langit untuk menjaga Naolla.
Fugk merupakan kota padat penduduk yang terdiri atas gedung-gedung berbata merah yang tersusun rapi. sebagian warganya bekerja sebagai penambak ikan di danau buatan Fugk. Daratan Fugk seperti savana yang luas namun tampak indah dan mempesona. Semua itu tampak memukau dari atas langit. Jauh diseberang sana, seseorang sedang berjalan pincang ditepian pantai. Tubuhnya berlumuran darah dan bajunya sobek disana-sini. Dengan arudretajunya dia mencoba melangkahkan kaki sejauh mungkin dari Vocare. Dia berharap ada kapal yang lewat sehingga dia bisa melambaikan tangan untuk menumpang.
“grrrr”, Qwed menegakkan tubuh Xano yang hampir terjatuh menggunakan punggung tangannya.
“Terimakasih Qwed”, kata Xano sambil mengusap tangan Qwed. “Aku rasa para Yuari sudah kehilangan jejak kita”.
Qwed memang mengerti bahasa orang Naolla tetapi dia tidak bisa berbicara. Qwed sangat menyayangi Xano sebagai partner dan majikannya. Dia dulu bertemu dengan Xano sewaktu Xano berkunjung ke hutan Gpuvva. Saat itu Qwed terpisah dari induknya dan jatuh sakit ditengah hutan. Xano datang dengan rombongannya dan menolong Qwed. Sejak saat itu, Xano sering kehutan dan bermain bersama Qwed kecil. Karena mereka sudah sangat akrab, pemerintah Gpuvva akhirnya mengijinkan Qwed ikut dengan Xano ke Hrewa Kufe dan menjadi dretajunya.
Mereka telah melewati banyak medan perang bersama-sama, walaupun dretaju bukan hewan yang baik untuk pasukan perang namun Xano bisa mengendalikannya. Mereka sudah sangat dekat antara satu sama lain. Qwed memang kebal akan senjata, namun linggi yang bertubi-tubi akan melukainya. Tubuh besar Qwed terlalu mencolok jika berkeliaran didaerah dekat Hrewa Kufe. Untuk itu mereka bersembunyi jauh di pesisir pantai Vocare.
Deburan ombak sesekali menerpa kaki mereka yang tengah berjalan diatas hamparan pasir putih.
“Coba kamu liat ke arah laut Qwed, apakah ada kapal lewat?”.
Qwed mengarahkan pandangannya jauh kelaut dan tidak tampak ada kapal mendekat. Setelah memastikan bahwa tidak ada tanda-tanda kapal, Qwed memberitahu Xano dengan mimik cemberut.
“Kita duduk sebentar dibawah pohon itu ya Qwed. Aku capek berjalan terus”, ajak Xano.
Qwed pun menuju sebuah pohon dan duduk disana bersama Xano. Qwed menyandarkan punggunngnya pada pohon itu dengan hati-hati. Sepertinya Qwed takut kalau pohon itu tidak sanggup menopang tubuh besarnya. Setelah menemukan posisi sandaran yang nyaman, Qwed mulai memejamkan mata sebentar. Xano yang membelai bulu oranye ditangan Qwed tampak benar-benar senang bisa bersama-sama Qwed kembali. bulu-bulu lembut Qwed tersibak-sibak oleh angin yang menerpa yang kadang menimbulkan suara berisik karena membuat pepohonan bergoyang.
“Sekarang kakiku sudah sangat pegal sekali Qwed. Aku sepertinya kelelahan. Apakah kamu juga lelah Qwed?”, tanya Xano.
“Grrrrr.. “, Qwed menjawab dengan menganggukan kepalanya.
“Coba aku lihat luka di tanganmu akibat linggi para Yuari”. Xano bangkit dan menyibak bulu Qwed untuk melihat luka temannya itu. “Banyak juga luka di badanmu Qwed. Kita perlu mencari obat untukmu”.
Qwed menarik tangannya yang dipegang Xano sebagai tanda bahwa dia tidak mau ketempat pengobatan.
“Tenang Qwed. Nanti kamu akan merasa lebih baik kalau diobati. Sebagian lukamu perlu mendapat penanganan khusus”. Xano membujuk Qwed.
Arudretaju ini tetap tidak mau dan mulai bergerak dari peristirahatannya untuk melanjutkan perjalanan. Dia meninggalkan Xano di dekat pohon.
“Baiklah terserah kamu saja Qwed aku tidak akan memaksamu”. Xano mengejar Qwed dan melanjutkan perjalanan mereka.
Dilautan sana tampak sesuatu bergerak. Seperti sebuah kapal pengangkut barang yang tengah melintas. Setelah memastikan itu adalah kapal pengangkut barang, Xano menyuruh Qwed berteriak. “Panggil kapal itu Qwed. Cepat!”.
“Aaaakrrkkkkk.. Arrrkkkkk”. Qwed berusaha memberi tanda bahwa dia dan Xano sedang butuh pertolongan.
Mendengar suara dretaju dari arah pantai, para awak kapalpun melihat kearah datangnya suara untuk memastikan.
“Paman, sepertinya ada dretaju mengirimkan sinyal minta tolong pada kita”, kata pemuda itu pada nahkoda kapal.
“Diarah pantai Vocare itu?”, tanya sang paman.
“Sepertinya begitu paman. Kita datangi saja, kalau-kalau itu dretaju yang sedang terluka”.
Nahkoda kapal kecil itupun mulai membelokan haluannya dan menuju kearah pantai.
“Berhasil Qwed. Tampaknya kapal itu telah menuju kemari”, kata Xano kegirangan.
Suara dretaju yang nyaring bisa terdengar hingga ber mil-mil jauhnya dan inilah yang membuat pasukan yang dipimpin Zaren menjadi tahu keberadaan Xano dan Qwed. Suara Qwed terdengar sampai kehutan sehingga Zaren segera mempercepat laju Kagukanya untuk menuju sumber suara itu.
“Di pantai ternyata. Ayo lebih cepat lagi Yuari!”, perintah Zaren. Dia membawa lima orang Yuari untuk membantunya menangkap Xano dan Qwed. Mereka mulai bergerak cepat melewati hutan untuk mengejar suara yang diyakini mereka sebagai suara Qwed. Langkah kaki para kaguka semakin cepat menginjak tanah-tanah hutan dan kadang-kadang mematahkan ranting pohon yang jatuh di tanah.
“Suara Itu benar-benar dari Qwed”, kata Diagta memastikan sekali lagi setelah mendengar suara Qwed.
“Ternyata dia meminta bantuan pada perahu yang lewat”. Zaren tampak dingin sekali wajahnya.
Perahu itupun mendekat kepantai namun tidak bisa terlalu dekat dengan bibir pantai mengingat air sedang surut.
“Arudretaju tuan!”. Pemuda itu kaget sekali melihat Qwed yang ternyata seekor arudretaju.
“Benarkah?”, sang paman mencoba memperjelas penglihatannya dengan mengelap kaca depan ruang kendali. “Iya benar Hagu. Ini bisa mendatangkan kekayaan pada kita”, kata nahkoda.
Setelah sudah sampai pada batas maksimum menepi, nahkoda kapal itu pun keluar.
“Hai, kalian. Kami tidak bisa lebih dekat lagi. Kalau kalian perlu pertolongan dari kami, datanglah kesini”, teriak sang nahkoda.
“Terimakasih. Baiklah tuan. Tunggu kami”. Xano mulai berjalan memasukan kakinya kedalam air.
Qwed mengikuti Xano dari belakang. Karena air sudah mencapai pinggang Xano, maka Qwed menggapai  tubuh Xano dan menaruhnya di atai kepalanya yang seperti bentuk topi pesulap itu. Qwed terus menuju kapal yang memberikan tumpangan. Air laut sudah merambah perutnya.
Setelah Qwed sudah sampai dikapal itu, Hagu mengulurkan tali besar untuk dipanjat Qwed. Qwed memegang erat-erat tali dan naik keatas kapal.
“Akhirnya sampai juga”, kata Xano.
“Tuan sedang terluka ya?”, tanya Hagu yang melihat keadaan Xano yang berlumuran darah kering dibajunya.
“Iya Nak. Aku harus pergi dari Vocare secepatnya.
Langkah Kaguka telah sampai di tepi hutan dan keluar menuju pantai.
“Kurang ajar. Itu dia dikapal! Lari terus, kita harus menangkapnya!”, perintah tuan Zaren.
Kaguka-kaguka itupun menerobos air dan menuju kapal yang ditumpangi Xano. Air membuat lari kaguka agak terhambat.
“Rasakan ini!”, Zaren melempar linggi roh nya ke arah kapal tersebut.
Trak-trak-trak! Beberapa linggi menancap di sisi kapal.
“Jangan macam-macam denganku Zaren!”, dengan sisa tenaganya yang tidak banyak lagi, Xano mengeluarkan linggi air yang cukup besar untuk menciptakan gelombang yang nantinya akan menahan langkah Kaguka dan mendorong kapal itu menjauh dari bibir pantai. “Hiiaaattt”.
Bluuuuurrrr…. Linggi yang sangat besar Xano hantamkan kedekat kapal sehingga membuat kapal terdorong kelaut sedangkan gelombang itu menyapu para Yuari, kaguka dan Diagta ketepi pantai. Mereka tertelan ombak yang cukup besar itu.
“Uhuk! Uhuk!”, salah seorang Yuari tersedak air laut.
“Brengsek!”, sesal Zaren.
Mereka semua terdampar dipantai dan hanya bisa memandangi kapal tumpangan Xano dengan tubuh basah kuyup terbaring dipasir.
Xano tampak tersenyum puas melihat Zaren dan pasukannya tersapu ombak buatannya, dari atas kapal. Dia berjalan ke dekat tumpukan barang dan duduk disana dekat Qwed.
Nahkoda kapal mendatangi Xano. “Maaf tuan, mereka siapa?”, tanya nahkoda itu setelah mendekati Xano.
Xano meringis menahan sakit ditangannya. “Shhhtttt… Mereka orang suruhan Sukaw untuk menangkapku tuan”, jelas Xano.
“O iya, kenalkan saya Oam Culi dan ini Hagu. Anda siapa tuan?”, dia mengulurkan tangan.
Xano menyambut tangan Oam untuk bersalaman. “Saya Xano tuan dan ini Qwed, Arudretajuku”.
Nahkoda itu agak kaget dan mulai risau pikirannya setelah mendengar nama Xano. Dia melepaskan jabatan tangannya dan agak menampakkan wajah takut. “Jadi anda Tuan Xano, mantan penasehat kerajaan Vocare?”. Dia menjauh sedikit dari tubuh Xano.
“Benar tuan. Memangnya kenapa? Apa ada yang salah dengan saya?”, tanaya Xano yang tampak merasa ditakuti Oam.
“Anda tuan Xano? Berarti kami sedang membantu tahanan Hrewa Kufe melarikan diri?”, kata Hagu yang tampak takut juga.
“Tunggu dulu tuan. Saya memang Xano dan kabur dari tahanan kerajaan tetapi saya tidak ada maksud untuk menyusahkan anda. Tolong ijinkan kami menjauhi Hrewa Kufe tuan”. Xano berdiri meyakinkan Oam dan Hagu.
Oam berlari kedekat ruang kemudi kapal dan mengambil pedang. Tampaknya dia takut berurusan dengan Hrewa Kufe jikalau ketahuan membantu tahanan kabur. “Hiattt! Pergi dari kapalku!”.
Tarak, trak, trak… Beberapa tebasan pedang dapat dihindari Xano dan hanya mengenai barang-barang bawaan Oam. Xano mengambil sesuatu dari tumpukan barang dan ternyata itu adalah sekop. Xano melawan pedang Oam dengan sekopnya. Mereka bertarung untuk mempertahankan ego masing-masing.
“Saya dipenjara bukan karena kejahatan tuan, tapi karena tuan Sukaw membenci saya yang telah menghalangi tujuannya”. Xano menangkis pedang Oam.
“Alah! Apapun alasanmu aku tidak mau tahu. Aku tidak mau berhubungan dengan Sukaw dengan cara seperti ini!”. Kembali Oam berusaha membunuh Xano.
“Anda tahu siapa yang benar dan siapa yang salah tuan. Saya yakin anda bukan orang yang memihak pada Sukaw. Bukan begitu?”.
“Terserah saya mau berpihak pada siapa. Itu bukan urusan anda! Saya mau anda dan arudretaju anda terjun dari kapal ini sekarang juga!”. Trang… Kembali dia mengayunkan pedangnya.
“Saya mohon tuan membantu saya untuk mengembalikan Vocare ketangan Raja Fiko. Saya tahu tuan Sukaw pasti tidak memaafkan anda jika ketahuan menolong pelarian saya tetapi saya janji tidak akan menyebut-nyebut nama anda jika saya tertangkap tuan Sukaw”.
Oam menghentikan gerakan pedangnya sejenak. “Apakah anda bisa saya percaya?”.
Trak! Sekop tuan Xano berhasil terlempar dan sekarang tuan Xano tidak mempunyai senjata untuk menghadapi Oam.
“Mati kau!!!”, Oam mengayunkan pedangnya untuk menebas tubuh Xano yang tampaknya sudah pasrah.
Qwed yang melihat tuannya terdesak, mendekat kearah Xano dan berteriak didepan Oam. Oam menghentikan ayunan pedangnya. Qwed memukul Oam hingga dia terpental dan pedangnya terlempar kelaut.
Bruak! Hagu membantu tuan Oam bangkit.
“Tuan baik-baik saja?”.
“Arudretaju sialan! Awas kau!”. Oam melepaskan pegangan tangan Hagu dan masuk kedalam ruangan kapal lagi.
Hagu pun mengikuti tuan Oam dan meninggalkan Xano serta Qwed di luar. Xano terduduk dan menarik nafas panjang menahan sakit yang mendera sekujur tubuhnya. Matanya terpejam dan dahinya mengkerut tanda dia menahan sakit yang teramat sangat. Tubuhnya mungkin tak sanggup menahan luka-luka yang memenuhinya apalagi tadi dia mengeluarkan linggi besar untuk membuat ombak. Walau lelah, Xano merasa lebih tenang sedikit karena sekarang dia telah jauh dari Hrewa Kufe dan akan membuat strategi baru untuk merebut kembali kerajaan Vocare dari tangan Sukaw.
“Mengapa dia kita biarkan berada dikapal tuan? Dia itu tahanan”, kata Hagu.
“Diam! Jangan banyak tanya. Kita buang dia dipulau terdekat dari sini dan anggap saja kita tidak pernah mengenalnya. Paham kamu, Hagu?”. Mata Oam tampak kesal.
Hagu menganggukkan kepala tanda dia mengerti.
Lautan yang gelap menanyakan tentang kehidupan apa yang ada di ujung kapal. Kemana kapal itu berlayar membawa Xano dan Qwed, pasti akan merubah nasib mereka atau yang lebih jauh lagi akan merubah nasib Naolla. Semoga saja mereka bisa mengerti bahwa sebagai seorang Xano itu cukup sulit. Dia tahanan yang tak pernah melakukan salah. Dia ditahan hanya karena Sukaw menganggap dia tidak mendukung dirinya dan menentang keputusannya.
Hagu kembali keluar ruang kendali dan menghampiri Xano di belakang kapal.
“Tuan. Ini aku ada baju. Saya rasa anda memerlukannya untuk mengganti baju anda yang penuh darah itu. Tidak mungkin anda berkeliaran di wilayah orang dengan pakaian seperti itu”. Hagu menyerahkan sepotong baju usang miliknya yang masih bisa dipakai Xano.
“Terimakasih Hagu”. Xano mengambil baju itu. Dia kemudian melepaskan baju yang dia kenakan dan memakai baju yang diberikan Hagu.
Hagu duduk disamping Xano dan mengambil baju kotor yang dilepaskan Xano kemudian ia buang ketempat sampah disebelahnya.
Xano melihat baju yang dia kenakan sambil tersenyum bahagia. “Terimakasih… Hagu. Saya janji tidak akan merepotkan kalian”.
“Tuan Oam masih tidak menginginkan tuan ada dikapalnya. Namun beliau sebenarnya orang yang baik. Beliau mungkin akan menurunkan anda dipulau terdekat dari sini karena kami tidak mungkin membawa anda sampai ketempat tujuan kami. Saya harap anda memahami tuan Oam”.
“Sampaikan ucapan terimakasihku pada beliau”, ucap Xano tulus.
Hagu tesenyum pada Xano dan kemudian mengalihkan pandangan kebulan merah dilangit Naolla. “Saya mengira anda sudah dihukum mati. Bagaimana anda masih bisa bertahan selama ini di penjara Hrewa Kufe tuan?”. Hagu seperti ingin tahu mengenai Xano.
“Takdirlah yang masih mengijinkan aku untuk bisa membuat perubahan pada Vocare. Aku beberapa kali sempat putus asa namun entah mengapa aku selalu masih bisa selamat dari maut. Jika suatu saat kamu bertemu dengan Sukaw, jangan pernah kamu menyebut nama raja Fiko didepannya karena bisa jadi itu adalah hari terakhirmu di Naolla”. Xano menyandarkan diri ditumpukan barang.
“Sukaw benci  pada Raja Fiko?”.
“Dia sangat marah pada Tuan Fiko yang membawa kabur azzo langit dari pulau Fugk. Selain itu tuan Fiko adalah satu-satunya keturunan Raja Vocare yang masih tersisa sehingga jika dia ingin posisinya aman, maka dia harus menyingkirkan raja Fiko”.
Hagu mengangguk-angguk paham. “Disini sepertinya berangin tuan. Kita masuk saja kedalam”, ajak Hagu.
“Aku disini saja bersama Qwed. Kamu masuklah”, tolak Xano sopan.
“Tuan kan sedang sakit. Anda tidak perlu mengkhawatirkan arudretaju anda karena dia bisa berada disini, tuan. Dia memiliki tubuh yang kuat”.
“Aku khawatir dia akan terlihat kapal lain yang berpapasan nanti”.
“Nanti saya akan menutup tubuhnya dengan penutup barang milik kami. Tuan masuk saja untuk beristirahat didalam”.
Dengan melihat kearah Qwed sebentar, Xano akhirnya masuk kedalam ruangan kapal meninggalkan Qwed diluar.
Hagu mengeluarkan penutup barang yang masih rapi terlipat dan menutup tubuh Qwed yang besar. Qwed memebaringkan tubuhnya dan mulai memejamkan mata.
“Tidur ya Qwed”, Hagu membelai bahu Qwed dan meninggalkannya.
Didalam kapal ada tuan Oam yang sedang sesekali mengendalikan laju kapalnya. Didalam kapal kecil itu, hanya terdapat satu ruangan yang merangkap ruang kendali, dapur dan tempat istirahat.
“Terimakasih karena tuan mengijinkan saya untuk tetap berada dikapal ini”, ucap Xano sambil menuju tempat tidur tingkat di pojok ruangan.
“Anda jangan banyak bicara. Sekarang saya hanya tidak mau membunuh orang yang tidak menyakiti saya. Anda akan saya turunkan dipulau terdekat dari sini”. Oam masih agak judes.
“Walaupun begitu tuan telah membantu saya. Terimakasih tuan”.
Oam diam seolah-olah tak mendengarkan Xano sambil memperhatikan lautan di depannya.
Xano yang merasakan lelah ditubuhnya mulai merebahkan diri di atas tempat tidur sementara Hagu masuk dan menutup pintu. Angin bertiup cukup kencang diluar hingga membuat gelombang yang mulai membesar.
“Sepertinya ada badai tuan. Bagaimana ini?”, tanya Hagu.
“Ini hanya angin biasa. Kita tak akan apa-apa”, kata Oam.
Hagu duduk di kursi dekat tuan Oam dan memperhatikan lautan didepan mereka yang gelap. Memang bagi tuan Oam yang sudah berpengalaman cukup banyak, pasti tahu betul keadaan laut yang akan badai atau tidak. Angin kencang yang menerpa mereka itu hanya angin yang menandakan mereka telah meninggalkan kawasan Vocare.
“Tuan mau saya buatkan minuman hangat?”. Hagu beranjak dari tempat duduknya dan menuju dapur sederhana mereka.
“Mmmmm.. Boleh”.
Hagu mengambil dua buah gelas dan mengisinya dengan air hangat kemudian membuat sebuah minuman seperti teh namun berwarna merah.
 Dia menyerahkannya pada tuan Oam yang ada didekat kemudi kapal.
“Keselatan kan tuan?”. Hagu meminum teh hangatnya.
Tuaon Oam mengangguk dan meneguk minumannya. Mereka adalah kapal dari Wilayah Kahali yang jauh ditimur dan menuju Yung Ama di barat daya. Namun mereka tidak akan membawa Xano ke Yung Ama. Mereka akan menurunkan Xano dan Qwed di wilayah terdekat yaitu Oqaca.
Kapal barang yang tidak terlalu besar itu tampak bergoyang terhantam ombak laut yang tidak terlalu besar. Qwed tampak nyenyak tertidur dan agak mendengkur diluar. Dia merasa capek sekali. Mungkin pagi nanti mereka akan sampai di Oqaca sehingga mereka masih sempat memejamkan mata sebentar sebelum mencoba melarikan diri lagi atau bersembunyi.
 Kita tinggalkan Qwed sebentar untuk tidur. Dibumi sana, ada kehidupan lain yang sedang berlangsung. Deburan ombak siang itu terdengar merdu ditelinga Ray. Dia sedang mengayuh sepeda menuju penginapan tempatnya berkerja.
“Aku tak habis fikir dengan Fugk. Mereka benar-benar membuang kami atau sudah hancur ditangan Sukaw. Tak ada kabar mengenai kedatangan Yuari Vocare kemari atau penjelasan mengenai kedatangan para Yuari itu. Mungkinkah aku dan Fiko harus pergi untuk menghindari Yuari-yuari itu? Kemana?”. Tak terasa sambil memikirkan nasibnya dibumi, Ray akhirnya sampai di tempatnya bekerja dan memasuki penginapan.
“Ray, tungu sebentar. Sini ada yang aku mau tanyakan padamu”, panggil nyonya Aiko dibalik meja resepsionis.
“Tanya apa nyonya?”.
“Entah mengapa saya melihat ada ketidak cocokan antara kamu dengan tuan Adam. Apakah kalian ada masalah? Jangan sampai tuan Adam komplain mengenai ini ke saya ya”, kata nyonya Aiko.
“Emmmm… Itu. Eng-enggak kok nyonya Kami baik-baik saja. mungkin sikap saya yang memang seperti ini kali jadi nyonya menyangka saya kurang ramah pada tuan Adam”. Ray mencoba membela dirinya.
“Benar juga ya Ray. Mungkin ini hanya perasaan saya saja. tapi, tolong ya jangan sampai tamu kita menjadi tidak nyaman dengan pelayanaan kita”, nyonya Aiko mengingatkan Ray.
“Tentu nyonya. Saya mau ganti baju dulu”. Ray pamit menuju ruang pegawai.
Didalam kamar Adam tengah terlihat memegang handphonenya dan mengetik pesan. Dia rebahan di tempat tidur dengan hanya mengenakan baju kaos dan celana pendek.
“Sudahlah lupakan saja, aku kan disini mau liburan dan menikmati keindahan pulau ini yang jauh dari kota”. Adam meletakkan handphone hitamnya di meja dan kembali mencoba memejamkan matanya. Meski berusaha memejamkan mata, namun tetap tak bisa. Adam bangkit dari tempat tidurnya dan mengambil handphone. Dia bergegas mengenakan sandal dan keluar kamar menuju ruangan Ray.
Disana ada Ray yang sedang merapikan bajunya setelah berganti pakaian. Dia agak kaget melihat Adam dengan cueknya masuk kedalam ruangan itu.
“Adam? Ada apa kemari?”.
“Aku suntuk sendirian dikamar. Mau keluar masih terlalu panas. Aku bantu kamu saja ya Ray”, pinta Adam.
Ray tidak menjawab dan meninggalkan Adam diruangan dengan membawa pel dorong untuk mengepel lantai. Adam yang masih berusaha mengejar Ray terus mengikuti Ray sambil sesekali dia mencoba membujuk Ray agar dia bisa membantu pekerjaan Ray. Dia mengambil satu lagi pel di ruang karyawan dan mulai membantu Ray mengepel lantai.
“Tuan Adam… Aku mohon kamu jangan membantuku. Bukannya aku tidak mau dibantu, tetapi aku disini adalah pegawai dan kamu tamu disini. Sudah sepantasnya aku melakukan pekerjaan ini sedangkan kamu hanya terima beresnya saja. Sudah kesini kan alat pelnya”, Ray merampas alat pel yang dipegang Adam.
Adam menolaknya dan kembali mengambil alat pel yang direbut Ray.
“Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin membantu kamu Ray. Kamu tidak perlu khawatir ditegur nyonya Aiko. Aku yang mau kok”, kata Adam.
“Tapi ini tugasku Adam”. Ray mulai marah.
“Ya aku tahu itu. Makanya aku mau membantu kamu supaya kerjaan kamu cepat beres”.
Ray menyerah dan membiarkan Adam membantunya mengepel lantai.
Entah mengapa mereka sepertinya saling membisu. Adam mungkin masih merasa kurang enak mengenai sikapnya dirumah Ray kemarin. Kalau Ray yang diam, karena apa? Perangai Ray yang memang lebih suka diam pada orang yang tidak dia suka mungkin menjadi penyebabnya. Namun Ray sudah mencoba menganggap kejadian itu sudah hilang walau dia sangat marah pada Adam.
“Kalau tidak niat membantu aku jangan mengepel disitu terus Adam. Dari tadi aku lihat kamu tidak beranjak dari situ”, tegur Ray yang melihat Adam bolak balik mengepel bagian yang sama.
“O… Niat kok. Ini lagi ngepel”. Adam buru-buru membetulkan cara mengepelnya. Didalam hati Adam masih takut Ray jadi semakin marah padanya, padahal dia ingin meminta maaf pada Ray. “Ray… Aku…”.
“Apa?”, tanya Ray cuek.
“Aku minta maaf ya soal kejadian kemarin pagi. Aku menyesal. Aku bodoh sekali saat itu”.
Ray menghentikan gerakan pelnya dan membawa alat pel serta gayung pel kekamar mandi.
Adam berusaha menjelaskan kata-katanya dengan masih mengejar Ray. “Maafkan aku Ray. Aku mohon kamu jangan sampai membenciku. Aku benar-benar takut dibenci olehmu Ray. Ray…”, Adam memegang tangan Ray.
Ray melepaskan tangan Adam dan membungkuk untuk memebersihkan kain pel menggunakan air bersih.
“Maafkan aku ya Ray”. Adam masih berusaha meminta maaf ke Ray meski Ray bersikap dingin.
“Cuci kain pel mu kalau kamu masih mau membantu aku”. Ray mengganti air diember dengan air bersih dan meninggalkan Adam dikamar mandi.
Sekarang Adam mulai membersihkan kain pelnya dan menyusul Ray. Ray masih saja diam dan terus mengepel lantai tanpa menghiraukan Adam. Dia tidak tahu musti berbuat apa, memaafkan Adam atau tidak. Sebenarnya dia sangat marah dengan perlakuan Adam kemarin. Dia benar-benar ingin sekali melempar Adam seperti yang dilakukan Fiko sampai Adam mengalami patah tulang. Tapi sekali lagi Ray berfikir bahwa dia tak bisa berbuat banyak untuk itu. Dia tak punya cukup kekuatan untuk melukai orang lain jikalau tidak terpaksa. Ray terus melanjutkan acara mengepel tanpa mempedulikan Adam yang membantunya.
***
Langkah kaki seorang laki-laki yang tampan memasuki kamarnya. Dengan cuek dia melepas baju serta celana yang melekat dibadannya kemudian berganti pakaian. Dia lah Adam yang sepertinya akan keluar dari penginapan itu untuk kesuatu tempat. Dia mengenakan baju kaos panjang dengan celana kain panjang juga kemudian menyemprotkan minyak wangi ketubuhnya sebelum berangkat. Setelah semuanya terasa siap, Adam meninggalkan kamarnya. Sangat tampan sekali Adam malam ini. Dia terlihat berpamitan dengan nyonya Aiko dimeja resepsionis. Dengan gagahnya Adam menuju jalanan dan mulai menapaki jalan dibawah sinar bulan purnama. Terangnya rembulan membuat  bayangan tubuh besar Adam tampak mengikuti langkah kakinya. Ternyata dia menuju dermaga untuk duduk disana menikmati indahnya bulan seorang diri.
“Aku merasakan ketenangan disini. Aku ingin mencari apa yang bisa aku rasakan saat suasana sebagus ini. Ray… Orang itu seperti menghantui pikiranku. Aku sudah tidak waras. Mengapa aku bisa seperti ini. Aku begitu ingin memiliki Ray. Fiko pikir dia bisa membusungkan dada di depan aku seperti seorang pemenang? Dia itu tidak akan bisa berbuat apa-apa”. Adam merapatkan kakinya dengan ditekuk hingga meyentuh dadanya.
Tiupan angin malam di bawah jutaan bintang membuat Adam terhanyut dalam hitamnya langit. Deburan ombak semakin mengadu ketepi pantai. Sekarang Adam benar-benar merasakan indahnya malam tanpa ada pengganggu.
Dipantai Oqaca, kapal tuan Oam menepi untuk menurunkan Xano dan Qwed. Pagi ini mereka akan kembali kedaratan untuk memulai kehidupan baru.
“Terimakasih Tuan Oam. Terimakasih Hagu. Aku akan mengingat kalian”. Xano mengucapkan terimakasih kemudian terjun ketepi pantai bersama Qwed.
“Hati-hati ya Tuan Xano. Jaga tuan Xano ya Qwed”, kata Hagu sambil melambaikan tangan.
Perlahan-lahan kapal barang yang ditumpangi Xano mulai menjauhi pantai dan kembali berlayar. Xano dan Qwed memasuki wilayah Oqaca yang merupakan wilayah pembuatan barang dari kayu. Setelah memasuki gerbang, Xano telah disambut oleh bangunan-bangunan pabrik besar yang berjejer. Xano sangat takjub melihat ini. Sebelum ada yang curiga dengan Qwed, Xano segera menuju sebuah gudang yang sepi dan tampaknya kosong untuk menyembunyikan Qwed. Tentu saja Qwed terlalu mencolok jika keluar dengan bentuk seperti itu, maka Xano berniat untuk mencari cat rambut berwarna kuning untuk mewarnai Qwed. Tubuh Qwed yang oranye terlalu gampang untuk dikenali para Yuari.
“Tunggu sebentar disini ya Qwed. Aku mau mencari sesuatu dulu. Ingat, jangan keluar kecuali kamu terdesak”, perintah Xano.
Qwed berjalan bersembunyi kedalam gudang itu. Xano berjalan menuju pasar mencari makanan dan bojce untuk membeli pewarna. Tentu saja untuk mendapatkan bojce dia harus terlebih dahulu bekerja, maka Xano juga akan mencari kerjaan dipasar. Dia memasuki pasar dan mencari orang yang mungkin bisa memberinya upah. Keadaan pasar yang ramai dan dipenuhi orang-orang membuat Xano agak susah mencari orang-orang yang sekiranya memerlukan bantuan tenaganya.
“Ayo nyonya silahkan dipilih ikan segarnya…”. Penjual ikan mencoba menawarkan dagangannya pada perempuan yang lewat.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, tampaklah para kuli angkut barang sedang mengangkuti barang dibahunya. Xano mencoba mendekati kuli itu dan menanyakan apakah dia bisa bekerja sebagai kuli seperti mereka.
“Permisi tuan. Bolehkah saya membantu pekerjaan tuan?”, tanyanya pada seorang kuli dipasar yang tengah membawa barang besar dibahunya.
“Anda bisa mengangkat barang-barang besar seperti ini?”, tanya kuli itu sambil berjalan.
“Bisa. Saya sudah sering melakukannya”.
“Ikut aku ke tempat tuan Vede. Beliau kebetulan memerlukan kuli angkut untuk membawa barang-barang kekapal”.
“Baik tuan”. Xano mengikuti langkah kaki sang kuli dengan penuh harapan.
Dia tentu tak ingin menyia-nyiakan kesempatan baik ini. Walau hanya sebagai kuli angkut, dia sudah sangat bersyukur bisa mendapatkan bojce, setidaknya untuk membeli makanan. Bojce adalah pasir gurun yang hanya bisa didapat lewat pengolahan tingkat tinggi. Pasir ini diukur melalui takaran khusus yang berbentuk sendok kecil.
“Tuan. Ini ada kuli yang mau ikut mengangkat barang”. Kuli tadi memperkenalkan Xano pada tuan Vede.
Kuli yang bernama Saak itu menyuruh Xano mendekat.
“Saya Trop tuan. Mohon tuan memberikan saya pekerjaan”. Xano menyamarkan namanya agar tak ada yang curiga.
“Kebetulan saya sedang memerlukan kuli untuk mengangkut barang-barang ini. Silahkan kamu bisa bekerja dari sekarang dan upahmu akan aku hitung persepuluh barang ini. Sepuluh kali mengangkut, kamu akan aku beri satu anuk bojce. Bagaimana? Bersedia?”, tanya tuan Vede.
“Bersedia sekali tuan”, jawab Xano antusias.
“Ajak dia untuk mulai mengangkuti barang, Saak”.
“Iya tuan. Ayo Trop ikuti aku”.
Xano mengikuti langkah kaki Saak dan mulai mengangkut barang.
Bojce di takar berdasarkan sendok yang kecil sekali berbentuk segi empat. Dari takaran terkecil yaitu Nu, kemudian Anu yang beratnya dua kali lipat Nu, Anuk empat kali lipat Nu, Oanuk beratnya sepuluh kali lipat Nu, Poanuk memiliki berat dua kali Oanuk, Ukru yang beratnya empat kali lipat Oanuk, Poakru beratnya dua puluh lima kali lipat Anuk dan Urk yang beratnya satu kilogaram atau sepuluh kali lipat Poanuk.
Xano terlihat rajin dan semangat sekali mengangkuti satu persatu barang keatas kapal tuan Vede. Tuan Vede senang dengan hasil kerja Xano dan dia diberi dua anuk bojce sebagai upahnya karena telah mengangkat sembilan belas barang kekapal.
“Terimakasih tuan”, ucap Xano.
“Kalau kamu mau, besok aku akan menerima pesanan lagi Trop. Kamu bisa kesini lagi bekerja untuk ku”, kata tuan Vede.
“Saya pasti kesini lagi tuan. Saya akan bekerja lagi. Terimakasih ya tuan”. Xano pamit pergi.
Sebenarnya dua anuk bojce hanya bisa membeli makanan untuk Qwed. Makanan Qwed adalah daun Hfuju yaitu sejenis daun talas besar namun berdaging daun seperti lidah buaya.
“Permisi nyonya. Berapa buah daun yang saya dapat dengan dua anuk?”, tanya Xano pada penjual Hfuju.
“Oh… bagaimana kalau anda borong saja Hfuju ini. Sepuluh daun hanya Oanuk-anuk”. Wanita itu berusaha menawarkan Hfujunya.
“Saya hanya punya bojce dua anuk, nyonya. Saya pikir cukup dua anuk saja membeli Hfujunya”.
“Baiklah tuan. Empat buah saja kalau dua anuk”. Wanita itu membungkuskan Hfuju untuk Xano dan mengambil bojcenya.
“Terimakasih nyonya”, ucap Xano sebelum berlalu pergi.
Hfuju bisa memberikan asupan tenaga lebih besar ketimbang makanan lain untul Qwed. Walaupun Xano sendiri merasa lapar, tetapi dia bisa mencari bojce lagi nanti dan membeli makanan. Saat ini Qwed lebih penting untuk mendapatkan makanan.
Xano mulai memasuki halaman gudang kemudian menghampiri Qwed yang sedang menantinya. Qwed terlihat lemah karena lapar.
“Arrggghhh…”. Qwed melihat kearah Xano yang membawakannya makanan.
“Ini Qwed aku bawakan makanan untuk kamu”. Xano menyerahkan daun itu ke Qwed.
Dengan lahapnya Qwed memakan daun itu. Tampaknya Qwed sangat menyukai rasa dari Hfuju atau memang karena dia merasa lapar.
Xano sangat senang melihat Qwed yang lahap makan dan dia pun sudah merasa kenyang. Xano mengelus-elus kaki Qwed kemudian dia pamit pergi lagi. “Qwed , aku mau berangkat lagi. Kamu jaga diri baik-baik ya. Makan yang banyak”. Xano meninggalkan Qwed sendirian digudang dan mulai mencari pekerjaan lagi. Langkah kakinya masih menuju pasar namun kali ini dia mau mencari pekerjaan yang lain lagi. Apa yang ada dipikiran Xano, sehingga dia menahan lapar diperutnya dan kembali bekerja. Mungkin inilah yang disebut dengan energi ekstra yang timbul akibat dari kepuasan hatinya. Matanya menangkap peluang untuk mendapatkan bojce lagi dan kali ini dia melihat kearah toko pembelah Leat atau semacam buah enau namun sebesar mangga dan berwarna angu tua. Tampaknya beberapa orang ditoko itu kewalahan membelah dan memilah-milah leat untuk diolah. Melihat itu, Xano menghampiri seorang pekerja yang tengah menyortir ukuran leat sebelum dibelah.
“Permisi tuan. Bolehkah saya bekerja disini? Saya sedang mencari pekerjaan”, tanya Xano.
“Kamu bisa kerja seperti ini?”, tanya lelaki itu.
“Bisa… Saya oarngnya cepat belajar”, kata Xano.
“Baiklah. Tunggu disini sebentar, saya akan panggilkan bos saya dulu”. orang itu berdiri dan meninggalkan Xano.
Tak lama kemudian, dari arah dalam muncul sesosok tubuh gendut dan brewokan berjalan menghampiri Xano. Dia membawa keranjang besar ditangannya. “Kamu mau kerja, la? Apa kamu mau kerja menyortir, la? Bagaimana la?”. Tuan Argel memiliki cara bicara yang unik ternyata.
“Saya mau tuan. Yang penting saya bisa membeli makanan”. Xano antusias sekali menjawab pertanyaan tuan Argel.
“Ambil ini, la. Kamu akan diajari oleh Wyhh”, katanya sambil menyerahkan keranjang yang ada ditangannya.
Xano pun mengambil keranjang itu dan mulai duduk didekat tumpukkan leat. Tuan Argel berlalu meninggalkan Xano namun tak lama kemudian Wyhh datang dan duduk didekat Xano.
“Sekarang tuan pilih yang sebesar ini saja ya. Sisanya kita tinggalkan disini dan disortir sesudahnya”, kata Wyhh menjelaskan sambil memperlihatkan leat dengan ukuran besar ke Xano.
“Baik tuan. O iya, nama saya Trop”, Xano mengulurkan tangannya.
Wyhh menyambut tangan Xano dan bersalaman. “Saya Wyhh”.
Setelah berkenalan mereka mulai menyortir leat yang memenuhi ukuran standar. Cukup banyak leat yang harus mereka sortir untuk diberikan kebagian pembelahan. Xano bekerja dengan teliti dan tekun. Walau beberapa kali Wyhh membantunya memilih ukuran yang hampir mirip, namun itu bukanlah kendala yang berarti buat Xano. Beberapa keranjang leat yang telah memenuhi standar, Xano antar kebagian pembelahan. Xano sangat senang bekerja disini apalagi Wyhh orangnya lucu. Sesekali mereka terlihat bercanda ketika sedang memilah-milah leat.
“Jadi tuan pengembala Rean juga dulunya? Hahaha.. Pantas saja tuan tahu banyak mengenai Rean”, kata Wyhh.
Rean adalah babi sebesar kucing yang memeiliki hidung layaknya tapir dan berekor panjang. Tubuhnya gemuk berwarna abu-abu. Mereka adalah hewan ternak yang diambil hidungnya untuk makanan sedangkan bagian tubuh lainnya biasanya dimanfaatkan untuk membuat pakaian atau makanan ikan.
“Tahu tidak Wyhh, aku pernah dikejar para rean hingga terperosok kedalam selokan hanya karena aku membawa anak rean yang pincang. Aku kaget sekali dan lari tanpa memperdulikan langkah kakiku. Para rean marah dan memuntahkan lendirnya kebadanku yang tak bisa bergerak dari selokan. Untung aku segera melepas anak rean yang aku tangkap dan berusaha mengambilnya lain waktu”. Xano menceritakan kejadian masa kanak-kanaknya.
“Waduh, muntahan rean itu sangat lengket dan bau tuan. Saya saja harus mandi tiga kali supaya baunya hilang”, kata Wyhh sambil tangannya menyortir leat.
“Hahaha… Kamu punya berapa rean Wyhh?”, tanya Xano.
“Sedikit saja tuan. Lima belas ekor saja”.
Mereka semakin akrab dan dengan begitu rasa lapar diperut Xano juga sedikit berkurang.
Hari telah berganti dengan pesona difu-aste dilangit Naolla. Pergerakan aktif mereka melambangkan kekuatan yang bebas teratur dan cepat. Dari atas sebuah gedung muncul keindahan dua benda berputar itu menampakkan wajahnya di atas tanah Naolla. Xano dan Wyhh telah menyelesaikan tugas mereka menyortir leat.
“Ini ada sedikit bojce untuk kalian berdua, la. Nanti dibagi ya, la”. Tuan Argel memberi bojce sebanyak poanuk-anuk pada Wyhh dan Xano.
“Terimakasih tuan”, ucap Xano.
“Terimakasih juga tuan. Kalau begitu kami pamit mau pulang dulu. kalau tuan membutuhkan saya atau Trop lagi, silahkan tuan mencari kami ditempatku tinggal”, kata Wyhh sebelum berpamitan.
Xano telah menceritakan bahwa dia adalah warga pulau Fugk yang ingin mencari kerja di Oqaca, pada Wyhh. Karena dia tidak mempunyai tempat tinggal maka dia diijinkan Wyhh untuk tinggal dirumahnya. Kebetulan Wyhh tinggal sendirian dirumahnya yang sederhana didekat pasar. Sebenarnya Xano masih ragu untuk meninggalkan Qwed sendirian digudang namun dia pasti akan membawa Qwed untuk membantunya bekerja setelah dia mengecat bulu Qwed. Karena itulah sebelum ketempat Wyhh dia mampir terlebih dahulu kepasar untuk mencari pewarna rambut. Untunglah uang yang dia dapat dari Wyhh bisa memebeli pewarna rambut. Untungnya Xano makan ditraktir Wyhh sehingga uangnya cukup untuk membeli pewarna rambut.
“Akhirnya Qwed bisa keluar juga dari persembunyiannya”, Xano bernafas lega sambil melihat sebungkus pewarna ditangannya ketika menuju halaman gudang tempat Qwed bersembunyi. Perlahan Xano membuka pintu gudang itu dan masuk kedalamnya.
“Qwed, kamu akan segera keluar dari sini. Lihat aku bawa apa untukmu”,Xano mengangkat pewarna ditangannya untuk diperlihatkan pada Qwed.
“Errrmmmm..”, Qwed berjalan dengan keempat kakinya mendekati Xano.
“Tunggu sebentar disini ya. Aku mau mengambil ember dan air dahulu”, kata Xano. Dia meninggalkan pewarnanya didekat Qwed dan berlalu pergi.
Beberapa menit kemudian, Xano kembali ketempat Qwed lalu mengaduk pewarna bulu didalam ember sebelum dia oleskan menggunakan kuas besar keseluruh tubuh Qwed. Perlahan dan teliti dia mulai mengecat bulu Qwed dengan warna kuning. Tubuh Qwed yang besar membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk mengecatnya. Namun mereka tampak senang melakukan hal itu. Qwed tampak sangat menuruti kata-kata Xano ketika Xano menyuruhnya mengangkat tangan atau menunduk sedikit. Mereka berdua seperti ayah dan anaknya. Hampir beberapa jam mengecat bulu, akhirnya kegiatan itu pun selesai. Qwed sudah sekuning dretaju dan tinggal menunggu cat nya kering.
“Cat rambut ini sebentar saja Qwed keringnya. Jadi kita tidak perlu khawatir. Sebelum kita keluar, ada beberapa hal yang harus kamu ketahui agar tidak dicurigai orang diluar sana. Pertama kita harus merubah nama kita masing-masing. aku telah menyiapkan nama samaran untukmu yaitu Zowm sedangkan orang-orang memanggilku Trop. Pewarna rambutmu ini akan luntur apabila terkena minyak, jadi jaga diri baik-baik. Ketiga, kamu harus bersikap seperti dretaju dan jangan sekali-kali kamu menunjukan kekuatanmu sebagai arudretaju. Mengerti Qwed?”, tanya Xano.
“Grrrr host…”,Qwed menganggukan kepalanya.
“Untuk meyakinkan kamu adalah dretajuku maka kamu harus mengenakan tali leher ini”. Xano mengalungkan sebuah tali yang dia temukan digudang keleher Qwed. Kemudian mereka berjalan keluar gedung untuk menuju rumah Wyhh. Xano belum memberitahu Wyhh mengenai Qwed namun dia yakin Wyhh akan mengerti.
Sepanjang perjalanan, mata orang-orang tertuju pada Qwed yang memang besar dan tidak bisa menyembunyikan tubuh arudretajunya pada semua orang. Tubuh dan dagu arudretaju sangat berbeda dari dretaju. Hanya saja warna Qwed yang kuning seperti dretaju yang membuat orang-orang masih menyangka bahwa Qwed adalah dretaju khusus.
Tubuh besar Qwed mendekati rumah Wyhh. Xano mengetuk pintu tersebut dan dari arah dalam keluarlah Wyhh.
“Tu-tu-tuu-an… dretaju apa ini? Tuan dapat hewan ini dimana?”, tanyanya terpaku melihat Qwed setelah dia keluar rumah membukakan pintu.
“Ini dretaju. Dia temanku dan namanya Zowm. Ayo Zowm kamu sapa Wyhh”.
“Horsh-horsh-horsh”,Qwed menunduk dan menyentuh tubuh Wyhh dengan ujung jarinya.
“Wow… Menakjubkan! Tetapi perawakannya mirip arudretaju tuan. Bagaimana bisa?”.
“Bisa saja. Dia memang termutasi untuk memiliki tubuh seperti arudretaju. Namun dia adalah dretaju asli. Dia akan bekerja membantu kita nanti. Bukan begitu Zowm?”, tanya Xano meyakinkan Wyhh.
Qwed hanya diam seperti tidak bersikap apa-apa.
“Dia tidur dimana tuan? Jujur, aku tidak punya ruangan yang cukup untuk menampungnya”, kata Wyhh.
“Qwe… Maksudku Zowm cukup diberi alas jerami dan penutup tubuhnya saja. Disini juga bisa. Anggap saja dia penjaga rumahmu, Wyhh”.
“Baiklah tuan. Tunggu sebentar, aku mau mengambil jerami dibelakang terlebih dahulu”, kata Wyhh.
“Aku ikut Wyhh. Biar aku bantu”, Xano mengikuti langkah Wyhh untuk mempersiapkan tempat beristirahat Qwed.
Beberapa tumpuk jerami dan sebuah penutup barang yang besar digunakan untuk memberi fasilitas beristirahat Qwed. Qwed memang masih tampak canggung dengan identitas barunya sebagai dretaju namun apa boleh buat. Kalau dia mau memepertahankan kebebasannya bersama Xano maka dia harus bersikap kembali kesifatnya yang dulu yaitu sebagai dretaju.
Dretaju memang hanya digunakan sebagai hewan pengangkut barang karena pembawaannya yang penurut dan bertubuh besar sehingga mampu mengangkut atau menarik barang dengan jumlah yang banyak. Jika mereka dipergunakan sebagai pasukan perang, maka itu tidaklah mudah karena mereka memiliki mental yang labil dan kadang bisa lepas kontrol sehingga bisa berbalik membahayakan pasukannya sendiri.
Hari itu ditutup Xano dengan merebahkan tubuh lelahnya dirumah Wyhh. Walaupun kota Oqaca dikenal sebagai kota yang selalu terjaga, namun nyatanya orang-orang yang bekerja disana juga perlu istirahat agar mengisi kemabali tenaganya.
***
Malam yang cukup dingin bagi Ray. Setelah mengganti pakaian kerjanya, dia berniat untuk segera pulang dan beristirahat. Suasana penginapan sudah sangat sepi sekali mengingat semua tamu sudah tertidur dikamarnya masing-masing. Dengan santainya Ray melangkah keluar ruangan pegawai dan melewati gang kamar untuk segera keluar. Dia tidak ada pikiran macam-macam yang dapat mengganggu kelelahannya tetapi tiba-tiba dari arah belakang Ray, seseorang datang dan memukul bagian antara bahu dan leher Ray yang seketika membuatnya lemah tak berdaya lalu pingsan. Ray terjatuh tak sadarkan diri dilorong ruangan dan tampak tangan seseorang menariknya menuju suatu tempat.
Tampak pandangan seseorang yang telah memukul Ray hingga pingsan itu seperti menelusuri setiap lekuk tubuh Ray yang manis dan tampan sekali yang justru semakin menggairahkan hasrat tatapannya. Ray yang terbaring tak sadarkan diri kini telah dia ikat kaki dan tangannya sehingga Ray tak bisa kabur lagi apabila dia nanti terbangun dari pingsannya. Perlahan-lahan orang itu memulai aksinya dengan mendekatkan bibir  kemulut Ray dan berusaha menciumi dengan lembut setiap senti bibir Ray yang merah. Perlakuannya yang cukup tergesa-gesa karena sudah sangat nafsu menikmati bibir Ray sehingga dia tidak sadar bahwa ciumannya itu sudah sangat ganas dan membuat Ray tersadar. Ray kaget dengan bibirnya yang masih terus mendapat serangan dari orang yang memukulnya tadi. Ketika dia sudah sadar dan melepaskan ciuman sang pemuda itu, Ray kaget dan tak percaya bahwa dia telah terikat dalam keadaan mengangkang keatas yang mana kedua kaki dan tangannya telah terikat saling menyatu diranjang. Lutut Ray terasa menyentuh dadanya.
“Adam?!”.
Dengan segera Adam mengambil sepotong kain di dekatnya dan mengikatnya kemulut Ray agar dia tidak bisa berteriak atau pun meminta tolong. Ray benar-benar berguncang. Tubuhnya meronta-ronta berusaha melepaskan ikatan Adam pada dirinya.
Sekejap kemudian, Adam yang tinggi besar dan tampan itu mendekatkan wajahnya ketelinga Ray sambil berkata, “Ray, kamu milikku malam ini. Aku siap jika kamu mau membunuhku jika nanti kamu aku lepas kan tetapi sebelum itu aku mau menikmati tubuhmu yang selalu membuat aku bergairah. Kamu belum pernah di apa-apain Fiko bukan? Jadi sekarang aku yang lebih duluan dari Fiko”. Ray sangat takut mendengar nada bicara Adam, apalagi dia tahu bahwa Adam akan melakukan hal yang dia tidak harapkan.
Adam mulai melolosi baju dan celananya hingga hanya tertinggal celana dalamnya saja. dengan otot-otot tubuh nya yang terbentuk indah dipadu dengan wajahnya yang bule membuat penampilan telanjang Adam sangat memukau siapa saja. Ternyata hal itu tidak berlaku pada Ray. Ray yang sangat ketakutan berusaha meronta-ronta agar ikatan ditangan dan kakinya terlepas. Kepalanya menggeleng-geleng menolak, dan matanya mulai memerah menahan air mata yang akan menetes.
“Sekarang dengarkan aku Ray sayang, kalau kamu bersikap baik, aku tidak akan menyakitimu bahkan aku akan membuatmu merasa terbang ke surga”. Adam mulai menaiki ranjang dari arah bawah Ray dan mengangkangkan tangan dan kakinya pada tubuh Ray. Adam menggosok-gosokkan selangkangannya ke pantat Ray yang masih terbungkus celana.
Ray seakan berkata, “Jangaaaan Adammm… Jangan! Brengsek!”, namun kain itu membuat suaranya tertahan dan tangis Ray pun pecah. Ia terus berusaha berontak.
Ray terus meronta-ronta tanpa hasil,  sesaat kemudian Adam mengambil gunting dimeja kamarnya dan menggunting seluruh pakaian yang menempel ditubuh Ray hingga Ray telanjang tanpa sehelai benang ditubuhnya. Kini Ray menangis sesenggukan sambil terus memohon untuk dilepaskan. Bagian anusnya sudah terbuka, memperlihatkan celah yang sempit dan menyulut gairah Adam, dengan tubuh kecil putih yang menggairahkan milik Ray. Perlawanannya tak berarti karena kaki dan tangannya terikat kuat. Entah dengan simpul apa Adam mengikat anggota gerak Ray sehingga dia sangat sulit melepas tali-tali itu.
 “Wow, masih benar-benar belum tersentuh ya sayang?”, tanya Adam yang melihat lubang anus Ray.
Kemudian dia dengan leluasa menggerayangi tubuh Ray. Mereka milin-milin dan mengisap puting Ray, sehingga sekarang puting Ray merah dan basah dipenuhi liur Adam. Kadang Adam mengigit puting Ray seolah-olah menyedotnya, sedangkan Ray hanya bisa berusaha meronta dan menjerit tak berdaya. Bahkan sesaat terlihat Ray menggelinjang menahan sakit, saat lidah kasar Adam menyapu putingnya.
“Armmm..Mmmmmm!!!”, terdengar teriakan dari mulutnya yang ditutupi kain. Sungguh ia belum pernah diperlakukan seperti ini.
Sebuah pemandangan yang erotis, ironis, namun sangat menggairahkan. Seorang laki-laki manis sedang diperkosa oleh pria kekar nan tampan. Kini Ray terbaring tak berdaya dengan dengan keadaan terikat dan tanpa mengenakan apa-apa, penuh liur dari penyewa kamar yang memperkosanya. Dari mulutnya terdengar lenguhan dan erangan yang semakin meninggi, jeritan dan kata-kata penolakan yang dikatakan untuk menjaga kehormatannya sebagai seorang lelaki.
Adam lalu melepaskan pakaian terakhirnya dan terlihat jelas batang kemaluannya sudah keras dan tegang yang siap untuk memperjakai Ray. Adam mempunyai batang kemaluan paling tidak sekitar 25 cm. Ray berusaha meronta-ronta  minta agar Adam berhenti, tapi pria tampan itu tetap melanjutkan aksinya. Sungguh Ray takut, karena selama ini ia tidak pernah melihat kontol pria sebesar itu dan saat ia melihat kontol Adam yang besar, ia takut membayangkan seperti apa rasa sakit yang akan dideritanya nanti.
“Lebih baik kamu diam atau aku bisa saja menyerahkanmu pada para Yuari, Ray! Jangan buat ini lebih menyakitkan daripada apa yang kamu kira”. kata Adam mengancam agar Ray sedikit tidak berontak. “Sekarang kamu siap-siap untuk memuaskan aku dengan badan kamu yang bagus dan indah ini Ray. Pasti sempit sekali kalau masih perjaka”.kata Adam sambil memasukan jari-jarinya ke lubang anus Ray. Ia menggerakkan jarinya keluar masuk, membuat Ray menggelinjang kesakitan dan berusaha melepaskan diri. “Benar-benar  masih sempit sekali. Beruntung rasanya aku berani melakukan hal ini padamu Ray”.
Ray semakin takut. Jeritan dan isak tangisnya semakin keras. Rontaannya semakin kencang, namun tak ada apa-apanya dibanding kekuatan dari Adam dan ikatan tali di anggota geraknua. Kemudian Adam menekan kaki Ray dan mulai memasukkan batang kemaluannya yang terlebih dahulu dia lumuri menggunakan ludah ke dalam lubang anus Ray yang masih perjaka itu. Ray berusaha mengeluarkan jeritan yang keras sekali, ketika perlahan batang kemaluan Adam membuka cincin anus Ray dan masuk senti demi senti tanpa berhenti. Kadang ia menarik sedikit batang kemaluannya untuk kemudian didorongnya lebih dalam lagi ke lubang anus Ray. Tiba-tiba ia menghentakkan kontolnya dengan keras, dan Ray meronta merasakan seperti ada yang robek di anusnya. Terlihat darah segar mengalir sedikit keluar dan melumuri penis Adam. Adam menyeringai, “Ternyata beruntung sekali aku malam ini. Dapat perjaka, sempit, hangat lagi lubangnya!!”
Adam kembali mendorong batang kemaluannya masuk ke dalam anus Ray.
“eenggghhhh……mmmhhh…..Arrkkkkkkk… Hrkkkkk!!”, Ray mengerang. Terlihat tubuhnya menggelinjang kesakitan. Terlihat sekali dengan susah payah batang kemaluan Adam yang besar itu membuka cincin anus Ray yang masih sempit. Adam terus mengerjai anus Ray dan sekarang malah memegang pinggul Ray dan memiringkannya. Dengan posisi seperti itu, mungkin Adam akan merasakan pijatan lain dari anus sempit Ray. Ray kembali menjerit-jerit tertahan ketika kepala batang kemaluan Adam berhasil memaksa masuk lebih dalam ke liang anusnya. Wajah Ray tampak pucat merasakan sakit yang amat sangat ketika batang kemaluan Adam mendorong masuk ke liang anusnya yang kecil. Adam mendengus-dengus berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam anus Ray. Perlahan, senti demi senti batang kemaluan itu tenggelam masuk ke anus Ray. Ray masih terus menjerit-jerit minta ampun ketika perlahan batang kemaluan Adam masuk seluruhnya ke anusnya. Akhirnya ketika seluruh batang kemaluan Adam masuk, Ray hanya bisa merintih dan mengerang kesakitan merasakan benda besar yang sekarang masuk sempurna ke dalam anusnya.
Adam beristirahat sejenak untuk mengambil nafas, sebelum mulai bergerak keluar masuk. Kembali Ray menjerit-jerit. Adam terus bergerak tanpa belas kasihan. Batang kemaluannya bergerak keluar masuk dengan cepat, membuat testisnya menampar-nampar pantat Ray. Adam tidak peduli mendengar Ray yang berusaha berteriak kesakitan dan menjerit minta ampun ketika acara sodomi itu berlangsung. Terlihat berulang kali batang kemaluan Adam keluar masuk anus Ray tanpa henti. “Pantat paling hebat yang pernah ada. Kamu bener-bener sempit Sayang. Muach!”, Adam mencium pipi Ray.
Kemudian Adam menindih tubuh telanjang Ray yang sangat memukau dan menggairahkan dirinya.
“Ray, ijinkan aku membuatmu ketagihan yaa.. Nikmati penisku yang besar ini Ray. Enak Kan? Sakit ini cuma sebentar, tapi nanti kamu pasti ketagihan”. Begitulah suara pria yang sedang dilanda prahara birahi sambil tangannya meremasi pinggul kemudian pantat Ray yang indah itu sementara bibirnya berusaha mendekat kewajah Ray untuk menciumi pipi Ray. Ray berusaha menolaknya. Rasa jijik dan enggan masih tak bisa dia singkirkan dari pikirannya terhadap Adam. Adam kembali memainkan puting Ray. Dia gigiti perlahan-lahan. Entah berapa lama dia isep dan metinggalkan cupang-cupang kotor pada seluruh bidang dada Ray, leher Ray , bahu Ray maupun ketiak Ray. Adam ingin membuat Ray tidak meronta keras lagi dan kemudian dia mencabut perlahan-lahan batang kejantannannya dari dalan anus Ray. Setelah penisnya terlepas, Adam mulai mengganti kesibukannya dengan turun keperut, ke selangkangan serta ke paha Ray. Semua itu membuat Ray berusaha keras agar dia bisa melawan hasratnya karena ia menyadari bahwa saat itu ia sedang diperkosa.
Adam kembali naik merangsek dan menindih tubuh Ray. Ray merasakan penis Besar dan hitam Adam mulai menggosok-gosok paha dan lubang Ray.
“Tolong Adam hentikan penderitaan ini. Aku akan membunuhmu jika saja aku sekarang bisa melepaskan ikatan ditubuhku!”. Suara Ray yang tidak jelas akibat terhalang kain itu membuat Adam semakin terbakar nafsunya. Segera ia menuntun kontol besarnya untuk kembali menembusi lubang Ray yang sudah sangat pasrah.
Masih dalam upaya penetrasi, dimana ujung kontol dahsyat itu sedang berusaha menerpa bibir anus Ray. Ray menjerit tertahan. Ingin rasanya Ray merajam pundak Adam dengan cakarnya atau menghunjamkan kuku ke dagingnya namun tidak bisa. Rasanya lubang Ray demikian mencengkeram untuk mempersempit kepala kemaluan Adam menembusinya. Namun dengan begitu ternyata bukan membuat Adam menyerah namun semakin berusaha kuat memasukan batangnya lebih dalam lagi. Adam cepat menerkam dagu Ray sambil mendesakkan kontolnya dengan kuat ke lubang sempit Ray.
Lalu pelan-pelan Adam itu mulai memompa penisnya. Tubuh mereka bergoyang-goyang begitu pula dengan ranjang Adam. Keringat sudah membasahi tubuh mereka berdua. Sambil menggoyang, Adam memegang paha Ray dan sambil menjilati leher Ray yang basah. Tubuh Ray sedikit terguncang-guncang oleh goyangan pantat Adam  dilubangnya. Semakin kencang pompaan Adam membuat suara gaduh karena paha Adam yang menepuk keras pantat Ray. Ini manandakan bahwa Adam akan segera orgasme. Beberapa detik kemudian, “Auhhhhh Ohhhh Ahhh Yeahhhhh Ohhhhh Ahhhh Arrggggghhh…”. Adam menumpahkan spermanya yang sangat banyak kedalam anus Ray. Adan seperti menerima cairan hangat yang banyak dari penis Adam sehingga ketika Adam menarik keluar penis pasca orgasmenya yang masih belepotan sperma, cairan laki-laki Adam terlihat mengalir keluar dari lubang merah Ray. Ray benar-benar menangis dan tak tahu harus berbuat apa lagi.
Adam turun dari ranjang dan merebahkan tubuhnya dilantai. Jendela kamar yang sengaja Adam buka dari tadi agar memberi udara segar kedalam kamar tersebut. Jutaan bintang menjadi saksi bisu perlakuan Adam pada Ray yang sudah merenggut keperjakaan dari azzo dewa itu.
“Bagaimana Ray sayang, sudah menikmati penisku belum?”, tanya Adam disela-sela menarik nafasnya.
Ray terus menahan marah dan sesekali berusaha melepaskan ikatan ditangan dan kakinya. Air matanya telah mengering dan tak bisa lagi berkata-kata. Tubuhnya lemas karena mencoba melepaskan diri dari ikatan itu. Perih di lubang pengeluarannya masih sangat terasa dan ngilu hebat. Dia benar-benar merasakan terbakar pada lubangnya yang dihujami penis besar dan gagah dari Adam.
Adam ternyata tak mau menyia-nyiakan malam yang hampir pagi ini. Perlahan-lahan, penis besarnya mulai menegang lagi dan sepertinya ingin mengulangi kenikmatan mencicipi lubang Ray kembali. Ray berusaha meronta, namun perlawanannya yang telah lemah sudah tidak mampu menandingi gairah Adam yang kembali terbakar. Adam menciumi tengkuk hingga perut Ray dan tangannya meraba-raba paha Ray. Ray hanya kembali bisa pasrah dan memerah air matanya.
Adam mulai menciumi wajah Ray dengan liar. Ray sudah tak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa pasrah.. Tangan Adam meremas kedua pipi pantat Ray dengan gemas. Adam terus menciumi wajah manis Ray, Adam menciumi pangkal leher Ray juga sambil tangannya masuk ke lubang Ray yang sudah memiliki pelicin yaitu spermanya tadi. Puting susu Ray dijilat dan dihisapnya. Mulutnya mendesah-desah semakin keras sementara tangannya terus keluar masuk lubang Ray. Adam semakin ganas manciumi Ray dan terus turun ke selangkangannya. Adam melahap penis Ray sambil tangannya mengobok-obok lubang Ray yang licin. Ray seperti bingung dengan dirinya, dia benar-benar ingin menikmati ini namun karena kekuatan hatinya dia bisa menolak rayuan hasrat yang semakin mengikis perlawanannya.
Adam lalu membimbing penis besarnya yang sudah tegang kembali mencelupkan diri kelubang anus Ray. Lalu kangkangkan kaki Ray yang putih bersih, memang tak bisa berbuat bayak untuk melawan tusukan Adam. Adam menunjukkan keperkasaan penisnya yang hitam besar. Adam mencoba menusukkan penisnya kelubang Ray yang sudah tidak perjaka lagi. Ray tetap merasa takut pada hujaman kasar Adam.
Secara perlahan Adam mulai menyodokkan penisnya pelan. Penis Adam masuk dengan ganasnya kelubang Ray. Ray sudah benar-benar pasrah karena putus asa sehingga ia sudah tidak memberontak lagi.
Dengan posisi saling berhadap-hadapan, Adam mulai menggoyang-goyangkan pantatnya maju mundur. Adam menambahinya dengan menjilati puting  Ray yang merah akibat gigitannya tadi. Tangan Adam menyelinap dipunggung Ray dan mengangkatnya. Ray terus merasakan kocokan ganas dianusnya oleh penis Adam. Goyangan Adam semakin kecang dan membuat Ray melenguh keras dan memejamkan mata akibat sakit disodomi Adam. Adam lalu mengangkat tubuh Ray lebih tinggi agar dia bisa menusuk tepat pada titik kenikmatan Ray. Sodokan-sodokan kontol besar di lubang Ray membuatnya merasa terbakar hebat.
Melihat kegelisahan Ray, Adam langsung memperdalam tusukan kontolnya yang keras, tegak dan kaku itu ke lubang anus Ray. Ray hanya bisa terpejam dan menangis hingga mukanya merah. Sekalipun sudah basah akibat sperma Adam yang keluar tadi, tapi tetap saja Penis Adam yang berdiameter 5 cm itu tidak dapat keluar masuk dengan mudah mengingat lubang Ray yang baru hilang keperjakaanya. Setelah beberapa kali kepala penis Adam mengorek lubang anus Ray, akhirnya Adam bisa mengatur ritme sodokan yang membuatnya tahan lama menusuk Ray.
“Sshh aaaaaahh.. Kamu memang sempit Ray”, erang Adam ketika penisnya dia putar-putar didalam anus Ray. Ia menusukkan kontolnya sedalam mungkin sehingga kadang dia merasakan ada sesuatu yang mengganjal diujung penisnya yang mungkin tulang kemaluan Ray.
Adam memposisikan tubunya seperti katak yang siap melompat sehingga  ketika dia menusukan penisnya cepat-cepat, dia bisa mengatur kapan dia mau orgasme. Ray yang tampan itu semakin mengerang karena terasa sangat mengganjal dengan penis Adam yang seperti menusuk-nusuk berusaha mendobrak lobang pembuangannya hingga serobek-robeknya. Kani Ray semakin kuat menjepit anusnya.
 “Ahh.. aauuughhh…aaakkghhh.. Ennakk.. Rayyyyy.. HH..”,erang Adam sambil menengadahkan kepalanya ke atas.
Lobang Ray semakin terasa sangat sempit, membuat Adam membor penisnya dan memaksakan benda besar itu masuk lebih dalam. Adam terus menusukkan penisnya dengan membabi buta ke dalam lubang Ray, sementara tangannya memilin-milin puting Ray  dan sesekali dia remas dengan keras hingga meninggalkan bekas merah.
“Auuuuuh.... SsSSHH..mmmhhh.. Hangat….. nikmathhh….!!.”, racau Adam dengan nafsu yang sudah hampir tidak dapat ditahan lagi. Adam semakin cepat menusukan penisnya kelubang anus Ray. Ray berusaha berontak, namun ikatan itu membuatnya seolah tidak berdaya. Ray hanya menggerakan badannya ketika tangan Adam mengelus penisnya, biji dan seluruh bagian tubuhnya. Adam semakin ganas menusuk lubang Ray karena ia melihat Ray yang manis dan tidak berdaya.
Air mata Ray kembali mengambang di pelupuk matanya yang indah. Ray semakin ketakutan saat dipaksa oleh Adam untuk menyelinapkan satu jari lagi kedalam anusnya, namun tidak berhasil. Saat Ray berontak, tangan Adam melayang ke pipi Ray yang putih, membuatnya semakin tak berdaya. Adam mencopot penisnya dan mendekatkan lidahnya kelubang Ray. Dia menjilati anus Ray dan menusuk-nusuknya dengan lidah. Airmata Ray terus meleleh.
Setelah puas dengan jilatannya pada lubang Ray, dia kembali mengarahkan penisnya ke anus dan terus memaksanya untuk masuk. Adam kembali memasukkan kontolnya ke lubang Ray. Dia memaksa langsung menindih badan Ray maka dengan begitu masuklah kontolnya ke anus Ray. Ray langsung menronta kesakitan  dan anusnya langsung terasa berdenyut-denyut. Adam memaju-mundurkan kontolnya sambil terus mendesah dan meracau. Adam lalu menghisap puting Ray sambil tangannya mengusap-ngusap ketiak Ray. Penis Adam semakin mudah menusuk anus Ray. Kening Ray berkerut, menahan pedih yang masih tersisa. Adam terus menggoyangkan pantatnya maju mundur. Penisnya seakan-akan menyodok-nyodok anus Ray tanpa ampun.
Adam tampaknya akan kembali memuntahkan lahar kejantanannya untuk yang kedua kali. Sebelum penisnya mencapai orgasme, dia mengangkangi wajah Ray dan membuka penutup mulut Ray.
“Tollll…”. Belum habis Ray mengucapkan kata itu, tangan kiri Adam telah mencengkram pipi Ray hingga suaranya kembali tertahan.
“Sabar sayang… Kamu akan merasakan kenikmatan ini… sshhhtttt Ahhhhh ohhhh yeahhhh”. Adam dengan cepat mengocok penisnya didepan mulut Ray dan tak lama setelah itu memancarlah sperma putih yang kental dan banyak kedalam mulut Ray dan sebagian menyemprot mengenai wajah Ray. Adam langsung menjrpit hidung Ray menggunakan tangannya agar dia mau meminum sperma Adam yang tampak memenuhi mulut manis Ray. Dengan berlinang air mata Ray menelan secara paksa cairan kenikmatan Adam karena dia tidak bisa bernafas.
“Terimakasih sayang… muachhh”. Adam kembali mendaratkan ciumannya dipipi Ray.
Kemudian dia memasang kembali penutup mulut Ray dan Adam tidur kecapekan di atas tubuh Ray yang masih terikat.
Ray benar mengutuk perbuatan Adam padanya. Dengan masih berderaian tangis dia berusaha tenang dan berharap ada seseorang yang menolongnya. Tubuhnya yang basah kuyup akibat keringat perlawanan tadi sekarang sudah menyatu dengan keringat tubuh Adam. Lumuran sperma yang tercecer diwajahnya juga cukup banyak dan menimbulkan aroma khas.
Adam mulai tertidur dengan menelungkupkan tubuh kekarnya pada Ray yang terikat kuat. Kepalanya dia letakkan disamping kepala Ray dan tangannya tampak memeluk Ray erat seperti sebuah guling.
Cahaya mentari mulai menyinari tanah Toshirojima yang basah akibat embun pagi. Udara yang asri dan hangatnya sapaan mentari menuntun kesadaran Fiko untuk segera datang. Dengan malas Fiko membuka matanya. Fiko ternyata menunggu Ray datang hingga dia tertidur dimeja makan. Dia mulai mengucek-ngucek matanya dan bangkit berdiri melihat kedalam kamar. “Apakah Ray datang tadi malam?”. Melihat kearah kamar yang masih bersih dan tampak rapi tak tersentuh, Fiko mulai khawatir. dia melihat kearah dapur dan kamar mandi, namun tak ada tanda-tanda kedatangan Ray tadi malam. Fiko semakin bertanya-tanya tentang keberadaan Ray. Ini baru kali pertamanya Ray tidak pulang kerumah dan dia tidak memberitahu Fiko terlebih dahulu. Dengan hanya mengenakan pakaian tidurnya, Fiko segera mengambil sepeda dan mengayuhnya menuju penginapan Nyonya Aiko. Sepanjang perjalanan, dia terus mengkhawatirkan Ray. Dia sungguh tidak tenang sebelum melihat Ray baik-baik saja apalagi dia tahu bahwa Yuari sedang mengincar Ray.
Ban sepeda telah direm Fiko setelah dia sampai didepan penginapan nyonya Aiko. Didepan pintu tampak berjaga tuan Agashi.
“Fiko? Ada apa?”, tanya tuan Agashi setelah melihat Fiko agak tergesa-gesa dan cemas.
“Saya mau mencari Ray, tuan. Mungkin dia ketiduran disini tadi malam. Dia tidak pulang kerumah”, kata Fiko menjelaskan.
“Mungkin juga. Aku melihat sepeda Ray masih ada sejak tadi malam dan aku pikir dia ketiduran disini. Kamu silahkan cek saja didalam”.
“Baik tuan. Saya masuk dulu”. Fiko memasuki penginapan itu dengan tergesa-gesa. Ruangan yang dia tuju pertama adalah ruangan karyawan. Tak ada Ray disana. Fiko melihat baju seragam kerja Ray yang terlipat rapi di rak. Ini kebiasaan Rae sebelum pulang. Kalau dia ketiduran, tentu dia masih mengenakan baju seragamnya. Fiko mencari Ray keseluruh bagian ruangan dan terlintaslah dipikirannya tentang kejadian dirumahnya ketika Adam berusaha mencium Ray.
“Adam”. Fiko bergegas menuju kamar Adam. Entah mengapa perasaannya kuat sekali.
Fiko mengetuk pintu kamar pria itu beberapa kali namun tak ada sahutan atau gerakan orang. Dia mulai cemas dan mencoba sekali lagi mengetuk pintu kamar Adam.
“Adam… apakah kamu melihat Ray?”, tanya Fiko yang tetap tak ada jawaban dari Adam,
“Hmmmpppppp….hmpppppp!”, terdengar suara orang yang tengah dibekap mulutnya dari arah dalam kamar Adam yang Fiko yakini sebagai suara Ray.
Fiko mulai agak penasaran dan dengan sigap dia mendobrak pintu kamar Adam yang terkunci dari dalam. Alangkah terkejutnya Fiko melihat pacarnya tengah terikat diranjang dalam keadaan telanjang bulat dan ditindih oleh pria lain yang juga telanjang. Fiko yakin bahwa Adam telah melakukan hal tidak terpuji pada Ray. Dengan geram dia seret tubuh telanjang Adam yang masih tertidur pulas dan dibantingnya cukup keras didinding. Tanpa ampun lagi, Fiko langsung mendekati tubuh Adam yang sudah tersadar dan kesakitan akaibat dia lempar kedinding.
“Brengsekkkkk! Adammm!”. Fiko raih bahu Adam dan dia lemparkan seperti buku kedinding diseberangnya.
Adam terluka dan kesakitan. “Awwww… ampu Fi-ko”. Hidung Adam berdarah dan lengannya juga sakit akibat lemparan Fiko. Fiko benar-benar marah, dia mencengkram kuat leher Adam dan menjunjungnya tinggi-tinggi sebelum akhirnya dia lempar kedekat jendela hingga kepala Adam mengeluarkan darah segar dan pingsan.
Fiko melihat tubuh kekasihnya yang mengenaskan. Tubuh Ray teah dipenuhi bekas gigitan dari Adam dan tangan dan kaki Ray berdarah akibat dia meronta untuk melepaskan ikatan dialat geraknya. Bau sperma tercium sangat menyengat setelah Fiko melepas tutup mulut Ray. Fiko menangis melihat keadaan kekasihnya. Setelah Ray terlepas dari ikatan dan tutup mulutnya, dia menangis memeluk tubuh Fiko. Dia seperti orang yang benar-benar kehilangan sesuatu. Fiko membelai mesra kepala kekasihnya dan merasa seperti orang bodoh karena membiarkan Ray sendirian didekat manusia seperti Adam.
“Fiko… Aku … Huuuuu…huuuu”, Ray menangis dipelukan Fiko.
Dengan penuh kasih sayang dia belai punggung Ray. “Dia harus menerima ganjaran yang setimpal dengan kepedihan ini Ray. Dia harus mati!”, ucap Fiko.
Ray hanya bisa menangis dan memeluk erat tubuh Fiko. Dia begitu hina sekarang. Tubuhnya telah dimasuki sperma Adam, orang yang sangat dia benci seumur hidup. Ray benar-benar merasakan kesedihan yang teramat sangat dalam. Dia seperti tidak ada gunanya lagi mendekap Fiko erat-erat dan mendampingi Fiko menghadapi masalah Naolla. Dia lepas pelukannya dan berusaha berdiri.
“Awwww… Sakit”, kata Ray yang merasakan sakit diderah anusnya.
“Adam keparat!”, Fiko masih sangat marah pada Adam dan dia benar-benar ingin membunuh Adam yang sedang pingsan.
Segera Ray menangkap tangan Fiko dan memeluk tubuh tampan Fiko. “Membunuh Adam bukan berarti mengembalikan keadaanku, Fiko”.
Fiko terdiam menahan marah yang sudah seperti memecahkan kepalanya. “Dia benar-benar bajingan! Aku ingin membunuhnya Ray”, kata Fiko geram.
Ray tidak bisa berkata-kata lagi. Didalam lubuk hatinya, dia benar-benar ingin mengiyakan Fiko untuk membunuh Adam namun disisi lain dia tahu bahwa membunuh Adam berarti sama dengan Adam. Fiko melepaskan rangkulan Ray dan berjalan mendekati tubuh Adam yang pingsan. Fiko benar-benar menunjukan cahaya mata kemarahan yang teramat sangat pada sosok Adam. Dia kembali meraih tubuh Adam dan dia lemparkan kelantai sekencang-kencangnya. Walau Adam sudah tidak berdaya namun Fiko tidak peduli lagi. Dia sudah benar-benar memunculkan sifat teganya yang pernah dia miliki selagi mejabat sebagai Raja Vocare.
Perlahan Fiko mendatangi Ray yang masih telanjang tanpa busana dan memberikannya selimut Adam lalau mereka keruang karyawan. Ray mengenakan baju gantinya yang selalu dia siapkan diruang karyawan setelah dia membersihkan tubuh dikamar mandi.
“Mengapa ini bisa terjadi pada kekasihku. Aku benar-benar tak berguna! Adam sialan!”. Fiko menampar dinding dengan tangannya hingga berdarah.
Melihat itu, Ray yang sudah rapi menangkap tangan Fiko. “Hukum aku Fiko. Aku lebih baik menyerahkan diriku padamu. Aku sudah tidak berharga lagi. Ijinkan aku menebus semua ini dengan menjadi azzomu selamanya”. Ray berusaha menenangkan Fiko.
Fiko menatap mata Ray yang tampak sedih. Ray baru saja kehilangan keperjakaannya dan sekarang melihat Fiko meratapi nasib yang telah terjadi. Fiko benar-benar tak mampu berbuat apa-apa. Dia sangat benci akan Adam namun disatu sisi Ray telah menjadikan emosinya padam.
“Salah Ray. Aku akan membuatmu berharga. Aku akan menjadi tanganmu. Diatas kita berdiri ini, akan aku kubur semua kenangan pahit kita dibumi.  Aku sangat mencintaimu Ray”. Fiko menyandarkan kepala dipundak Ray.
Ray merasakan ketulusan Fiko jauh lebih dalam dari biasanya.
“Jika tanganku putus, aku tidak perlu takut lagi karena kamu sudah lebih dari tanganku Fiko. Bawa aku menjadi sesuatu yang berharga di Naolla. Bimbing aku”.
“Waktunya kita menjadi lebih kuat dari yang sekarang, sebagai seorang kekasih”.
Matahari telah bersinar dengan indahnya di timur. Perahu-perahu nelayan yang ingin berangkat melaut telah berjejer didermaga. Di belahan bumi lain, sebuah anomali dimensi mulai terlihat dan tak lama kemudian menjadi lorong dimensi. Dari dalam lubang kecil itu munculah seekor hewan aneh berwarna biru keunguan. Dia terlempar ketanah yang gersang berwarna kemerah-merahan. Tampaknya dia agak kesakitan. Tubuh kecilnya mulai bangkit dan siap untuk terbang. Di depan matanya, dia melihat sebuah batu besar yang sangat besar berwarna kemerah-merahan . batu sebesar bukit itu membuatnya takut. Jheibo mangepakkan sayapnya dengan cepat sekali dan menjauhi batu itu. Entahlah dia berada dimana namun suasana disekitar batu tersebut kering dan hanya sedikit ditumbuhi rumput-rumput. Jheibo belum pernah melihat batu sebesar itu di Naolla. Dia membuka hidungnya dan mulai mencari bau Ray. Dari atas awan dia melihat pulau yang tak lain adalah benua Australia. Deretan pulau-pulau dibawah sana membuat Jheibo bingung dan diapun turun kesalah satu pulau di Indonesia.
Dia terpukau melihat birunya laut disana dengan beberapa tumpukan batu yang seperti menyembul dari air. Karena penasaran Jheibo pun turun dan melihat sekelompok orang berkulit hitam yang tengah merapatkan kapalnya.
Jheibo kembali melanjutkan perjalanan menyusuri pantai dan terbang cepat diatara deburan ombak, dia melintasi sungai, hutan yang dipenuhi tumbuhan anggrek, bertemu dengan burung rangkong, melewati gunung-gunung dan kota-kota besar dengan aktifitas sibuknya. Jheibo beberapa kali berhenti untuk beristirahat sambil kebingungan dan terheran-heran dengan keadaan bumi. Bumi dipenuhi benda-benada logam berjalan yang sangat membuat Jhebo takut. Beberapa kali Jheibo hampir tertabrak mobil ketika melintasi jalan raya dan dia juga sempat dikejar kucing jalanan ketika beristirahat didekat tong sampah. Untung hidung Jheibo ia tutup agar tidak menerima bau-bau yang tidak perlu.
Jheibo melanjutkan perjalanannya lewat atas saja agar mengindari kejadian seperti tadi. Melintasi awan-awan putih, Jheibo tampak seperti berenang-renang. Tentu di Naolla tak pernah ada awan seperti dibumi dan Jheibo pun seakan bermain-main dengan awan-awan diangkasa. Sifatnya yang senang bermain-main membuat Jheibo menikmati perjalanannya kali ini. Kepakan sayap Jheibo yang cepat membuatnya terbang secepat pesawat jet dan itupun bisa lebih cepat lagi.
Sementara jauh di Toshirojima sana, Adam tengah kesakitan dilantai. Dia merasakan tangan kirinya terkilir. Dengan perlahan dia bangkit dan menuju kamar mandi untuk membersihkan darah dan sperma yang ada ditubuhnya. Wajah tampannya tampak meringis kesakitan dengan langkah yang agak tertatih-tatih.
Dia merasa benar-benar beruntung bisa hidup kali ini. Walau dia sudah berbuat kurang ajar terhadap Ray, tetapi Fiko masih membiarkannya hidup. Dia sudah tahu apa yang akan dia dapat apabila nanti bertemu dengan Fiko kembali. Adam sudah gelap mata tadi malam. Hasrat ingin menikmati tubuh Ray semakin tak bisa dia bendung dan membuatnya gelap mata. Entah mengapa dalam ringisannya, Adam tampak tersenyum puas.
“Aku ingin mengulangi lagi kejadian tadi malam. Mungkin dengan begitu, kamu akan mau menikmati permainanku Ray”. Adam mulai membasahi tubuhnya.
Langkah kaki Ray tampak tak tegap memasuki rumahnya. Mungkin disebabkan lubangnya yang masih perih dan ngilu. Melihat itu, Fiko merangkul bahu Ray dan menuntunnya.
“Benar-benar memuakkan Adam itu! Dia hanya mementingkan nafsunya dan tega menyiksamu seperti ini Ray”, kata Fiko.
“Sudah Fiko. Aku mau kekamar saja. aku sangat capek sekali. Aku mau menenangkan diriku dulu”.
Fiko menuntun Ray memasuki kamar mereka dan mengambilkan bantal untuk Ray.
Ray berbaring di batal itu dan mencoba memejamkan mata. Sakit di lubang anusnya masih sangat menyiksa Ray. Rasa ngilu itu menghambatnya untuk tidur sebentar. Ray bolak-balik kiri kanan dengan mata terpejam.
Fiko yang masih duduk termenung didekat jendela sesekali memandangi Ray. Dia merasakan kesedihan Ray yang tak tampak itu. Fiko mendekatkan dirinya pada Ray dan mengelus-elus kepala Ray.
“Kenapa sayang? Ada yang sakit?”, tanya Fiko.
Ray menggelengkan kepalanya untuk menutupi apa yang dia rasakan agar Fiko tidak khawatir.
“Ya sudah. Kamu tidur saja. Aku mau membuatkan makanan untuk kita. Muacchh”. Sebuah ciuman mendarat dikening Ray. Fiko meninggalkan Ray dikamar agar Ray bisa beristirahat melepas lelahnya. Fiko tahu bahwa semalaman tadi dia disetubuhi oleh Adam.
Sesosok tubuh tinggi dan cantik memasuki ruangan Sukaw. Langkah tegapnya sangat berbeda dengan tampilannya yang menawan. Juyu Ahega mendapat panggilan dari Sukaw. Setelah berada dihadapan Sukaw, dia mengepalkan tangannya dan dia taruh didahi sebagai tanda hormat pada Raja Vocare.
“Silahkan duduk Juyu”. Sukaw memepersilahkan Juyu duduk di barisan para tamunya.
Tampak Zaren, Diagta, Kamamuja dan Juyu di ruangan Sukaw. Mereka ingin membahas perkembangan pencarian Ray dan masalah kaburnya Xano.
“Dengan berkumpulnya kalian disini, aku ingin kalian siap untuk melakukan pekerjaan berikutnya. Pertama-tama kau Juyu. Pasukan Yuari yang kita tugaskan, sudah mengetahui keberadaan Ray atau belum?”, tanya Sukaw.
“Sesuai kabar terbaru, mereka ternyata belum menemukan keberadaan Ray dipulau itu. Tetapi sebenarnya mereka sudah memastikan bahwa Ray masih dipulau tersebut. Ada kendala yang bisa dibilang tidak harus menjadi kendala bagi mereka, yaitu penyesuaian diri dengan penduduk sekitar. Tetapi tuan tak perlu khawatir karena Ray sudah diketahui tempat persembunyiannya. Mereka tinggal menangkap Ray jika kita menyiapkan lokasi pembukaan Hajunba ke Naolla”, terang Juyu.
“Berarti ini tergantung dari kita saja?”.
“Betul tuan. Secepatnya kami akan mempersiapkan hajunba khusus yang bisa terbuka lebih lama untuk mengangkut Ray kemari”.
“Hahaha… Aku sebentar lagi akan menguasai Naolla!”. Sukaw tertawa senang mendengar kata-kata Juyu.
“Kalau masalah Ray sudah hampir tertangani semudah ini, apakah kalian tidak mengecek kemungkinan Yuari Fugk akan mengacaukan rencana kita?”. Kamamuja menyampaikan pendapatnya yang sontak dapat membuat Sukaw diam.
“Fugk? Bagaimana mungkin ini Juyu? Bukankah kau bilang Fugk tidak bisa membuat Hajunba seperti itu dalam waktu dekat?”, tanya Sukaw.
“Benar tuan, namun kita harus perhitungkan juga kemampuan pulau itu dalam hasil penelitiannya yang sangat hebat. Mungkin mereka menemukan cara lain untuk mengacaukan rencana kita”, Juyu menjelaskan.
“Bukannya saya mau meledek ya tuan tetapi lembaga penelitian Fugk adalah salah satu yang terbaik di Naolla jadi wajar saja jika mereka bisa mentertawakan kemampuan senjata Juyu yang hanya bisa dor-dor-dor itu”, kata Diagta seperti meledek Juyu.
“Saya pikir Diagta ada benarnya juga tuan Sukaw. Pulau itu memiliki lembaga penelitian yang hebat dalam menciptakan alat-alat baru. Bukan tidak mungkin mereka bisa membuat hajunba baru dengan cepat”, Zaren ikut bicara.
“Kalau begitu adanya, apakah kamu sudah merencanakan hal lain, Juyu?”, tanya Sukaw.
“Kita sudah membekali pasukan khusus itu dengan Eratoh untuk mengikuti jejak Ray atau Fiko jika mereka berhasil kabur menggunakan hajunba”, kata Juyu.
Eratoh adalah sebuah alat seperti koin yang bisa memunculkan benang putih semu untuk mengikuti pergerakan orang yang melakukan perjalanan menggunakan hajunba.
“Kamu sudah memberitahu mereka bukan, kalau prioritas pertama untuk dibawa ke Naolla itu adalah Ray?”.
“Sudah Tuan”, jawab Juyu.
“Mungkiin Sukaw harus menyekolahkan Juyu agar bisa lebih pandai lagi. Sejak tadi dia setuju dengan kepandaian orang-orang Fugk. Coba tuan fikir sebentar, jika eratoh sudah jelas fungsinya, apakah Fugk tidak bertindak untuk  mengacau atau mencari cara agar eratoh tidak membuntuti Ray dan Fiko?”. Diagta yang tidak pernah memikirkan perasaan orang dengan ucapannya yang agak kasar ikut memberi penilaian pada kerja Juyu.
“Diagta……”, Juyu mulai geram dengan Diagta.
“Hahaha… Tenang saja Juyu. Sabar ya cantik… Mengenai masalah ini, saya punya usul agar kita meminjam hajunba baru yang katanya sedang diperdagangkan pulau Fugk untuk Naolla. Mungkin mereka tidak akan menjual hajunba itu pada kita. Tetapi tuan Sukaw kan punya banyak wilayah dan kerajaan sahabat yang mau meminjamkan hajunba mereka untuk kita. Mestinya eratoh bukan digunakan untuk mengikuti orang-orang yang berhubungan dengan lembaga penelitian Fugk yang memiliki kemampuan hebat itu”. Diagta mulai menunjukan kepintarannya.
“Aku masih belum paham dengan ocehan mu diagta”, kata Sukaw.
“Aduhhhh… Dasar tuan ini. Hajunba dilawan dengan hajunba tuan. Itu lebih efektif ketimbang menggunakan eratoh”. Diagta mulai sewot.
“Begini maksud Diagta, Tuan. Jika kita mengandalkan eratoh, tentu kita tidak bisa bernafas lega mengingat Fugk pasti bisa membacanya. Namun kalau kita menggunakan hajunba terbaru yang katanya sangat kecil itu, kita bisa lebih efektif mengejar Ray dan Fiko. Kita sebaiknya mempersiapkan hajunba itu sebagai jaga-jaga saja. bukan begitu Diagta?”. Tuan Zaren berusaha menjelaskan kata-kata Diagta pada Sukaw.
“Pintar! Hahaha tuan Zaren memang bisa diandalkan. Untung ada penterjemah ucapanku yang berkelas ini”, Diagta cengar-cengir.
“Otakmu memang kadang-kadang ada isinya juga Diagta. Aku akan meminta para sahabatku meminjamkan hajunba itu untuk kita. Lalu apakah yang membuat kita bisa berhasil menjalankan rencana ini? Bagaimana Juyu?”, tanya Sukaw lagi.
“Pertama, kita baru saja mencuri hajunba terbaik Fugk. Untuk membuat hajunba semacam itu perlu waktu yang lumayan lama tuan jadi ini bisa kita manfaatkan untuk menangkap Ray. Kedua, mereka masih tidak akan sempat menghalangi kita untuk membantu Fiko melindungi Ray. Tuan tahu bukan bahwa Ray tidak bisa apa-apa? Jika kita melumpuhkan Fiko, sudah pasti kita bisa mambawa Ray kemari dan saya yakin dengan kemampuan keempat orang itu. Mereka akan mampu melampaui Fiko”.
Sukaw mulai tersenyum dan kemudian tertawa puas. “Hahahahaha. Hebat! Aku merasa senang mendengarnya, Juyu”.
“Bukannya menganggu kesenangan tuan, saya masih tidak yakin akan kemampuan mereka berempat itu. Apalagi Vehu yang agak susah paham”. Kamamuja angkat bicara.
Sukaw menghentikan tertawanya dan mengernyitkan dahi.
“Walau begitu, mereka adalah kelompok solid, tuan Kamamuja. Anda harus melihat prestasi mereka berempat dalam beberapa misi pengintaian”. Juyu membela diri.
“Iya aku tahu, tetapi yang mereka hadapi itu Fiko Vocare yang merupakan Yuari terbaik saat berada di Hrewa Kufe”. Tuan Komamuja semakin meragukan tim khusus itu.
Juyu tak bisa berkata-kata. Dalam hatinya dia membenarkan apa yang diragukan tuan Kamamuja.
“Bagaimana ini Juyu? Jangan sampai kita mengutus orang yang salah”, kata Sukaw.
“Tidak tuan. Walaupun mereka berhadapan dengan Fiko, tetapi disana ada pengatur strategi hebat, Alian. Tuan tak perlu khawatir akan masalah ini. Kelemahan Fiko adalah pada emosinya dan saya rasa Alian tahu itu”.
Semua orang diruangan itu mengangguk yakin akan kata-kata Juyu barusan. Mungkin mereka yang telah melihat watak dan kebiasaan Fiko selama di Hrewa Kufe juga tahu itu. Fiko dulu dikenal dengan orang yang kejam dan mudah tersulut emosinya.
“Fiko memang seperti itu tetapi kadang dia mendengarkan nasehat tuan Xano untuk mengendalikan tindakannya. Maka dari itulah tuan Xano kadang bisa dianggap otak Fiko dalam memimpin kerajaan ini dan Xano sakarang telah bebas diluar sana”, kata Zaren.
“Pusing aku. Pusing! Yang satu belum tuntas dan sebentar lagi ada komplikasi kasus. Juyu tidak becus sih menangkap Xano. Hahaha”,ejek Diagta.
“Jangan menyalahkan aku begitu ya Diagta. Kamu pikir melawan orang ber Azzo air itu gampang. Mereka bisa membuat linggi-linggi kecil hanya dalam satu serangan. Dasar ya, otakmu hanya bisa menyalahkan orang”. Juyu mengacung-acungkan jari telunjuknya ke arah Diagta.
“Marah nih? Ih marah-marah saja bisanya. Kalau orang lemah ya lemah saja”, kata Diagta.
“Aku sampai terluka. Aku juga sudah berjuang Diagta. Jangan mentang-mentang kamu bisa merubah linggi menjadi azzo kamu bisa merasa hebat ya Diagta! Sebenarnya kamu tidak senangkan kalau Sukaw memerintahmu? Jawab!”.
Diagta membela dirinya. “Siapapun mana suka di perintah dengan nada mengancam begitu. Ups! Hehehe maaf tuan Sukaw”, Diagta tampak malu.
“Nah kan. Kamu memang sangaja membiarkan Xano kabur karena sebenarnya kamu berharap Xano lekas membentuk kekuatan untuk meruntuhkan Hrewa Kufe. Kamu sengaja mengalah dari Xano. Bukan begitu Diagta yang hebat?!”. Juyu memalingkan wajahnya dari Diagta.
“Lho kok kamu menuduhku mengalah. Mana mungkin aku mengalah. Aku tersedak air laut tahu! Aku tidak bisa berkonsentrasi lagi saat itu”.
“ Alah… Alasan saja. mungkin kalian memang bersekongkol untuk menjatuhkan Sukaw”.
“Kamu ja…”.
“Sudah! Diam kalian berdua! Aku nikahkan kalian baru tahu”. Sukaw memotong ucapan Diagta dan berusaha melerai. “Yang aku tidak habis pikir, bisa-bisanya kalian bertengkar dihadapanku. Apa kalian sudah merasa hebat, hah?! Kamu juga Juyu. Kamu itu panglima perang Vocare tetapi kamu masih saja sering memperdebatkan masalah tidak penting dan termakan omongannya orang sinting seperti Diagta. Tunjukan bahwa aku tidak salah memilihmu Juyu”, tegas Sukaw.
Juyu hanya terdiam dan membisu. Dia tidak bisa membantah ucapan Sukaw.
“Ada apa sebenarnya dengan kejadian di pantai itu tuan Zaren? Tolong anda jelaskan”, kata Sukaw.
“Kami terlambat sedikit untuk menangkap Xano tuan. Dia sudah masuk kedalam kapal barang  yang sedang lewat itu. Kami berusaha mengejarnya namun, karena azzo airnyalah dia menang melawan kami. Dia membuat linggi besar dan mengentakkannya ke air sehingga menimbulkan gelombang yang cukup besar. Kami tergulung ombak dan tak bisa berbuat banyak”, terang Zaren.
“Kamu tahu kemana dia akan turun?”, tanya Sukaw pada Zaren.
“Mereka tampaknya pelayar dari timur dan akan menuju kearah selatan atau barat Vocare. Dengan analisa itu kita harus memberitakan untuk menangkap Xano dimana saja berada. Terutama pada wilayah-wilayah barat dan selatan”, kata Zaren.
“Sebaiknya aku akan mengadakan rapat khusus antara wilayah di daerah itu. Ini membahas mengenai hajunba dan penangkapan Xano”.
“Mengapa Xano harus ditangkap tuan?”, tanya Diagta.
“Xano adalah orang yang menentang kekuasaan Raja Sukaw. Bisa diartikan bahwa Xano sama dengan Fiko. Dia akan melakukan apa saja agar Sukaw bisa turun tahta. Selain itu dia memiliki Qwed yang hebat. Kita akan mengalami kendala jika dia berhasil menyusun rencana pengambilan tahta kerajaan”, Kamamuja berusaha menjelaskan.
“Ternyata arudretaju itu hebat ya. Aku baru tahu”, kata Diagta.
“Sebenarnya yang aneh dari pelarian ini, kami tidak menemukan ada bekas linggi atau senjata lain yang digunakan Xano untuk membantunya kabur”. Zaren memegang dagunya.
“Benar itu. Saya juga sudah mengecek tuan. Kami tidak menemukan  alat bantu untuk melarikan diri”, sambung Juyu.
“Seberapa aneh jika aku mekatakan bahwa pelarian Xano dibantu oleh pasukan penjaga?”, tanya Sukaw lagi.
“Tidak tuan. Para tahanan sudah menjadi saksi dan tak ada satupun yuari membantunya”, ucap Juyu.
“Cukup membuat aku bingung. Xano akan menjadi ancaman bagi Hrewa Kufe nantinya. Cepat kamu atur pertemuan aku dengan pemimpin wilayah-wilayah itu Juyu dan untuk sekarang silahkan kalian keluar untuk melakukan tugas masing-masing. umumkan keseluruh Naolla bahwa Xano adalah buronan penting kita”.
Para tamu Sukaw itupun satu persatu memberi hormat padanya dan meninggalkan ruangan Sukaw. Langkah kaki mereka terus menjauh dan kaluar meninggalkan Sukaw sendiri. Di atas tanah Fugk, para pasukan peneliti dan Yuari tengah mempersiapkan diri. Tampak sebuah kayu yang cukup besar telah mereka persiapkan dan dibuat pintu hajunba menuju bumi. Kayu berwarna hitam itu adalah hajunba alami yang terdapat dipulau Cedarotu. Kayu yang berwarna coklat kehitam-hitaman itu adalah kayu hajunba yang dimanfaatkan oleh Xaxxiate Tona untuk berimigrasi ke tenggara. Xaxxiate Tona memiliki tubuh panjang seperti cacing dan sayap seperti kupu-kupu. Sekujur tubuhnya adalah berwarna putih. Jika mereka sedang bersiap imigrasi, maka mereka akan mengerubuti sekujur pohon zokle sehingga tampak seperti pohon yang diselimuti salju. Pohon zokle akan dibuat hajunbanya dengan bentuk pintu dan akan dijaga kestabilannya. Perlu ketepatan pembuatan hajunba oleh para peneliti pulau. Jika mereka salah dan tidak bisa menemukan kestabilan yang kuat, maka hajunba kebumi tidak bisa dibuka oleh para peneliti.
Alis-alis mereka yang tampak teliti mengukur kestabilan hajunba itu semakin membuat serius ruangan itu. Beberapa orang tampak meraut sedikit demi sedikit batang kayu hingga menjadi pintu. Ini merupakan pekerjaan yang sangat tidak mudah dan memakan waktu pengerjaan.
Di halaman gedung Yuari, tampak para Yuari tengah berlatih menggunakan linggi. Mereka secara serempak melakukan percobaan menahan lingginya lebih lama ditangan agar mampu memberikan senjata lebih lama dalam sebuah pertarungan.
“Hiatttt!”.
“Pertahankan linggi kalian ini. Ayo pertahankan! Konsentrasi Noko, lihat depan dan terus memusatkan pikiranmu”, tegur pelatih Yuari itu. Tubuhnya yang kekar tercetak jelas di baju Yuarinya.
Yuari Fugk mencoba  mengukur seberapa lama kekuatan linggi mereka bertahan agar bisa memperkirakan strategi apa ang harus mereka buat jika berhadapan dengan pasukan Yuari Vocare. Para pemuda tidak berbaju itu sudah sangat basah oleh keringat yang mengalir disekujur tubuh berotot mereka. Tetesan peluh itu sesekali menetes ketanah. Ratusan Yuari dengan kemampuan bertarung linggi sudah dipersiapkan agar bisa membantu melindungi Ray dari tangan Sukaw. Fugk memang tidak mau kalau sampai Hucky Nagaray jatuh ketangan Sukaw. Mereka akan mempertahankan titipan Raja Vocare X itu dari tangan kotor Sukaw.
“Pegang linggimu kuat-kuat! Rasakan linggi itu menjadi bagian dari tangan kalian dan bukan hanya sebagai senjata. Linggi itu bentuk perwujudan azzo yang kalian miliki, jadi usahakan azzo kalian mengalir dengan bagus dan biarkan linggi itu mengeraskan keberadaannya lalu pertahankan bentuk itu”,kata sang pelatih.
Memang tak semua Yuari bisa mempertahankan lingginya ditangan dalam waktu yang lama. Paling lama mereka hanya bisa melakukan itu dalam waktu tujuh menit. Para yuari masih terus berusaha untuk memperkuat lingginya.
“Jangan lengah Waopja. Perhatikan linggimu. Jika kamu mau bentuk linggi yang sempurna, usahakan linggi ini keluar dari ujung jarimu lalu rasakan kemunculannya hingga menjadi linggi yang kuat”, kata sang pelatih pada salah seorang yuari. “Jika kalian sudah tahu batas maksimal linggi kalian masing-masing, usahakan kalian tidak memiliki jeda antara satu linggi dengan linggi ditangan lain jika sedang melakukan pertarungan duel linggi atau kalian mau mati ditebas pengguna linggi lain. Mengerti?”.
“Mengerti tuan!”, jawab para Yuari serempak.
Ditangan tuan Qaza ada sebuah sisik kecil berwarna biru yang tak lain adalah sisik Jheibo. Benda itulah yang nantinya akan digunakan para yuari untuk menemukan titik keberadaan Ray.
“Sisik kecil yang bisa merubah nasib Naolla”. Tuan Qaza tersenyum menatap sisik itu.
Sisik ungu yang ada ditangannya tampak kecil namun sangat besar artinya bagi Fugk. Sisik ungu itu milik sang pencari Ray dibumi yaitu, Jheibo. Jheibo yang sekarang tengah berada dalam perjalanan melintasi laut menuju Jepang semakin mencium bau Ray diudara Jepang. Jheibo mempercepat laju kepakan sayapnya agar dia bisa segera menemui Ray dan memberikan dua hajunba kecil yang tersimpan dikain kecil yang terikat ditubuhnya. Warnanya yang biru ungu terpancar cantik oleh sinar matahari yang menerpanya. Jheibo semakin menikmati acara terbangnya walau dia sudah merasa sangat lelah akibat menempuh jarak ribuan kilometer.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar