Hunk Menu

Overview of the Naolla

Naolla is a novel which tells about life of Hucky Nagaray, Fiko Vocare and Zo Agif Ree. They are the ones who run away from Naolla to the Earth. But only one, their goal is to save Naolla from the destruction.

Book 1: Naolla, The Confidant Of God
Book 2: Naolla, The Angel Falls

Please read an exciting romance novel , suspenseful and full of struggle.
Happy reading...

Look

Untuk beberapa pembaca yang masih bingung dengan pengelompokan posting di blog ini, maka saya akan memberikan penjelasannya.
(1)Inserer untuk posting bertemakan polisi dan dikutip dari blog lain;(2)Intermezzo adalah posting yang dibuat oleh pemilik blog;(3)Insert untuk cerita bertema bebas yang dikutip dari blog lain;(4)Set digunakan untuk mengelompokan posting yang sudah diedit dan dikutip dari blog lain;(5)Posting tanpa pengelompokan adalah posting tentang novel Naolla

Selasa, 11 September 2012

Naolla, The Confidant of Gods : The Fools King


Juyu sedang berusaha untuk membuka Hajunba kebumi. Beberapa kali dia coba membuka Hajunba itu namun masih tidak bisa. Hajunba itu memang tidak seperti Hajunba lain yang mudah dikendalikan apalagi pintu itu sudah lama tertutup dan tidak pernah dibuka.
“Brello, tolong kamu ambil beberapa batu Hajunba dan dekatkan kemari. Aku mau tahu apa kah hajunba ini sudah berfungsi atau tidak”.
“Dengan senang hati, cantik”, goda Brello. Dia meraih sebuah batu kecil pecahan dari batu hajunba besar untuk diberikan pada Juyu.
“Tanganmu kemana?”. Juyu rampas batu itu dari Brello karena tangan lelaki itu tak sampai ketangan Juyu.
Juyu mulai mendekatkan batu itu ke depan pintu perlahan-lahan. Tampaknya tidak ada tanda-tanda pintu itu bereaksi.
“Huh. Sudahlah aku mau istirahat dulu sambil memikirkan cara terbaik untuk membukanya nanti”. Juyu meletakkan batu itu di meja dan melepaskan sarung tangannya kemudian melangkah keluar ruangan.
Brello yang melihat Juyu, hanya bisa tersenyum berdiam diri. Ruangan itu berada disalah satu markas Yuari sehingga ketika Juyu melalui beberapa pintu tampaklah Yuari-yuari sedang berlatih.
“Kakimu Togo! Pasang Kuda-kuda yang kuat!”, perintah pelatih mereka.
Puluhan Yuari sedang latihan mengendalikan Linggi besar yang berfungsi sebagai mesin penghancur. Linggi memiliki kesulitan lebih rumit ketimbang memiliki azzo saja. Azzo yang tidak pernah dikeluarkan akan menjadi Linggi untuk diri sendiri yang bisa merusak organ tubuh. Sehingga bagi orang biasa yang ingin memiliki azzo sebaiknya mempelajari cara mengendalikan dan membuat linggi terlebih dulu sebelum memiliki azzo.
Hiruk pikuk ruangan yang penuh semangat seakan tertuang dalam ketatnya baju para Yuari itu. Sebagai informasi, di Yuari sendiri ada bagian-bagian khusus seperti bagian perusak atau eksekutor dan perang, Yuari pengintai yang berkaitan dengan misi rahasia dan pencari data, Yuari pendata yang mengurus bagian pengitungan anggota, penduduk dan lain sebagainya, serta Yuari pertahanan yang memiliki tugas untuk menjaga keamanan warga Hrewa Kufe. Dengan pembagian-pembagian itu, terdapat beberapa Yuari yang beranggotakan perempuan namun kebanyakan dari mereka masuk kebagian Yuari pendata dan ada sedikit yang berhasil masuk Yuari Pengintai. Dari Yuari pengintailah Juyu berasal sebelum dia diberi kepercayaan sebagai panglima perang.
Dibagian bawah Hrewa Kufe selalu ramai dengan aktifitas perdaganggan dan rumah-rumah makan. Dari tingkat satu hingga tingkat dua, seluruh warga Hrewa Kufe tinggal dan beraktifitas. Hrewa kufe itu luas sekali. Bangunan yang terbuat dari batu itu memang sangat cukup untuk menampung ribuan warganya. Bahkan di Hrewa Kufe terdapat kolam yang luas bagaikan danau.
“Minggir sebentar…”, teriak salah seorang wanita paruh baya yang tengah berada diatas kereta tak beratap yang ditarik oleh dretaju nya. Maka kerumunan orang yang tengah lalu lalang menyingkir sebentar jika tidak ingin terinjak atau terkena kaki dretaju yang besar itu.
“Paman boleh aku lihat Pasor itu?”, pinta seorang ibu muda pada salah seorang penjual pasor atau piring kayu yang biasanya diberi sekat sebanyak dua atau tiga sekat.
Lelaki itu menyerahkan pasor yang diminta. “Ini buatan Manzo nyonya, asli dari kayu Jajeko”. Tuan penjual pasor berusaha menawarkan dagangannya.
“Bagaimana saya yakin anda tidak mengada-ada?”.
“Benar nyonya. Anda boleh menggoresnya kalau bisa”, tantang penjual pasor itu.
Sementara beberapa petak dari sang penjual Pasor terdapat bermacam bahan makanan unik asli Naolla seperti biji Sunku yang mirip beras raksasa berwarna oranye, ada juga buah-buahan unik yang tidak bisa ditemukan di bumi.
Keramaian di bagian bawah istana ini semakin tampak bertambah ramai saja. Orang-orang sibuk lalu lalang, penjual dan pembeli sibuk bertransaksi dan hewan-hewan pekerja juga sibuk membawa barang-barang majikannya.
Angin yang meniup  puncak Hrewa Kufe dimanfaatkan oleh Diagta untuk mengajak Geoma atau Laba-laba terbang liar membawanya turun ke dasar Hrewa Kufe seperti paralayang.
“Cihuyyyyy!!!”. Diagta memegang erat-erat kaki geoma yang telah merentangkan membran antara kakinya untuk melayang-layang diudara. “Hallo paman tanpa gigi, lagi mencabuti ubanmu ya? Hahaha”, ejek Diagta pada salah seorang lelaki tua yang sedang meraut kayu.
“ Awas kau anak muda!”. Dia marah sambil mengacung-acungkan pisau.
Diagta yang melihat itu hanya tersenyum cengengesan. “Wow, wow… wawwww”. Diagta tertiup angin kencang sehingga dia agak oleng namun segera dia berusaha menyeimbangkan diri dan terus menikmati acara terbangnya. Diagta mengelilingi Hrewa Kufe, terbang melintasi danau dan jembatan lalu mendarat ditepi danau Opgareca dan setelah sampai, Geoma yang membawa Diagta kembali ke hutan dengan cepat.
“Ingin lagi. Aku mau lagi. Huhuy!!”, Diagta kegirangan setelah terbang dari puncak Hrewa Kufe ke tepi danau. Dengan tersenyum dia menuju jembatan untuk kembali ke Hrewa Kufe. Langkah kakinya yang santai sambil sesekali senyum-senyum sendiri memandang Hrewa Kufe dari sudut ini semakin menggambarkan bahwa Diagta memang orang aneh. Perawakannya memang bisa dikatagorikan lumayan dan bersih, kadang dia juga tampak pemikir dan bijaksana. Diagta memang memiliki kemampuan khusus yang belum banyak diketahui orang, dia bisa mengubah linggi jenis apapun menjadi azzo kembali makanya Sukaw tidak bisa membunuh Diagta karena di Naolla hanya keluarga Diagta yang bisa melakukan hal itu.
Seekor burung terbang melintasi hadapan Diagta sehingga membuat dia kaget. “Waduh! Sialan! Hampir aku mati kaget. Eh, mana mungkin aku mati kaget. Hahaha”.
Burung itu terbang menanjak melewati tingkat demi tingkat Hrewa Kufe kemudian bertengger dikaca ruangan Sukaw.
Diruangan itu tampak orang misterius menghadap Sukaw seorang diri.
“Jadi anda bisa memperbaiki Hajunba itu?”.
“Bisa tuan karena itu adalah pekerjaan saya”, jawabnya.
“Berapa hari sekiranya kamu bisa memperbaikinya?”.
“Paling lama seminggu tuan”.
“Lama sekali, apa tidak bisa tiga hari saja?”.
“Nanti saya lihat dulu seberapa parah rusaknya. Jika kerusakan Hajunba semacam ini, biasanya saya perlu melakukan persiapan dulu tuan apalagi Hajunba yang akan saya tangani ini macet karena tidak pernah digunakan”.
“Baiklah kalau begitu. Kamu akan tinggal disini beberapa hari sampai Hajunba itu selesai diperbaiki”.
“Terimakasih tuan”.
Hampasan gelombang di tepian Toshirojima terus berlomba-lomba. Sementara itu kehidupan para nelayan masih seperti biasanya. Sore itu cahaya senja mengatakan kehidupan yang sebenarnya tentang bumi. Kehidupan laut yang tenang dengan masih ada beberapa burung hilir mudik mencari ikan. Sementara di balik jendela rumah Ray, Fiko sedang menyuapi Ray. Fiko tidak bekerja hari ini karena dia khawatir dengan keadaan Ray yang masih sakit. Untunglah tuan Takeshi paham akan keadaan Fiko dan mengijinkan Fiko untuk menjaga Ray. Fiko menyuapkan sup hangat ke Ray perlahan-lahan. Ray memakan sup buatan Fiko sedikit demi sedikit.
“Bagaimana Ray, enak?”, tanya Fiko setelah menyuapkan sup ke Ray.
“Iya, enak”.
“Makan lagi dong yang banyak”. Fiko menyuapkan sup lagi ke mulut Ray.
Ray memandangi mata Fiko dengan tatapan kosong. Dia seperti tidak tahu harus berkata apa untuk mengungkapkan rasa terimakasihnya pada Fiko yang telah menjaganya sepenuh hati.
“Sudah ya Fiko, aku sudah kenyang”, tolak Ray.
“Sedikit lagi nih, tanggung”, bujuk Fiko.
Mendengar itu Ray kembali membuka mulutnya dan memakan sup yang disuapkan Fiko. Keadaan Ray memang membaik setelah dia istirahat dan meminum obat dari dokter. Selain itu dia sebenarnya merasa lebih baik karena Fiko merawatnya dengan baik pula. Ray sebenarnya bingung dengan sikap Fiko. Tidak sewajarnya Fiko memperhatikan dirinya sampai seperti ini, tetapi dia berfikir bahwa Fiko merasa bersalah akibat lingginya yang telah membuat dia sakit.
“Aku mengantar mangkuk kedapur dulu ya”, Fiko pamit sebentar yang dibalas dengan anggukan Ray.
Mata Ray menatap langit senja yang mulai ditaburi beberapa bintang. Tubuhnya yang mengenakan sweater dan celana panjang tampak sedikit lebih berseri ketimbang kemarin. Ingatannya melayang jauh pada saat dia masih di Fugk. Ayah angkatnya selalu mengajak Ray untuk berlatih azzo namun setiap berlatih pasti dia sakit dan semenjak itulah ayahnya tahu bahwa Ray berbeda. Hingga suatu ketika terdengar kabar bahwa Vocare sedang mencari anak laki-laki yang dititipkan pada pengrajin pedang di barat pulau. Mendengar itu maka ayah Ray segera meminta bantuan pada Loka untuk melindungi dia dan keluarganya dari Vocare. Dengan perdebatan panjang akhirnya Vocare berusaha melunak. Mereka akan mengambil azzo dewa setidaknya sampai Ray lebih dewasa. Semenjak itulah banyak orang awam membenci Ray karena dianggap sebagai anak pembawa petaka untuk Fugk. Dia sering menyendiri dan menjauhi anak-anak lain yang membencinya.
“Ray kamu tidak kedinginan didepan jendela?”, tanya Fiko membuyarkan lamunan Ray.
“Mmmm… aku masih mau memandang langit yang cerah Fiko”.
“Ya sudah”. Fiko membawa gyudon di piringnya dan mulai makan didekat Ray. “Mau ini Ray?”, tanya Fiko.
Ray menjawabnya dengan gelengan kepala.
Fiko makan dengan lahapnya sambil sesekali mengarahkan sumpitnya kemulut Ray mencoba menawarkan makanannya. Namun dengan sopan Ray menolaknya. Ray tersenyum melihat Fiko makan. Di pikirannya, dia membayangkan Fiko menjadi gendut karena kebanyakan makan.
“Kenapa Ray?”.
“Tidak apa-apa”.
Setelah meneyelesaikan makanannya dan menaruh piring kedapur Fiko gosok gigi dan berkumur lalu mendatangi Ray di kamar.
“Kamu kalau mau istirahat, silahkan Ray. Jangan larut malam tidurnya. O iya, Kamu sudah minum obat?”.
“Belum”.
“Aku ambilkan sebentar ya air untuk kamu minum obat”.
“Tidak usah Fiko, aku mau kedapur juga sekalian mau gosok gigi”.
“O.. Pelan-pelan jalannya ya”.
Ray bangkit dan berjalan menuju dapur. Disana dia menuangkan air dari botol kedalam gelas untuk membantunya meminum obat. Setelah selesai minum obat, dia kekamar mandi untuk sikat gigi dan berkumur-kumur. Ray kembali kekamar mereka setelah itu dan duduk disamping Fiko.
Rumah yang mereka tempati memang kecil dan sederhana, dengan satu kamar tidur, satu dapur, kamar mandi dan ruang tamu. Rumah ini sendiri di diami mereka secara cuma-cuma karena sang pemilik rumah hanya ingin rumah ini dijagakan selagi mereka tinggal dikota lain.
“Maafkan aku ya Ray. Aku tidak tahu kamu bisa seperti ini. Kamu bisa jelaskan padaku mengapa tubuhmu menolak azzo”. Fiko memulai pembicaraan.
“Jika aku bertanya mengapa kamu tidak memiliki azzo lain selain api, apa yang akan kamu jawab?”, Ray balik bertanya.
“Karena jika tubuhku tidak sanggup mengontrol azzo lain yang berbeda, aku akan membunuh diriku sendiri Ray. Azzo itu akan saling menyerang dan merusak organku secara perlahan atau secara langsung”.
“Itulah aku. Secara gambaran tadi aku bisa diibaratkan demikian Fiko. Tubuhku menolak azzo yang menyentuhnya”.
“Tapi mengapa kamu bisa sakit Ray? Padahal antara azzo yang satu dan yang lain akan saling menyerang”, kata Fiko.
“Aku azzo dewa, bukan azzo biasa Fiko. Aku perlu tubuh tuanku untuk mengendalikan azzo lain. Aku azzo kosong. Untuk memiliki azzo aku perlu wadah sebagai pengatur pembagian atau sebagai penyatu antara aku dan azzo lain”. Ray merapatkan kakinya dengan cara ditekuk.
“Ray, aku benar-benar menyesal telah membuat kamu sakit seperti kemarin. Seandainya kamu memberitahuku tentang hal ini, maka aku tidak akan mengeluarkan linggi”.
“Itu salahku karena aku tidak pernah memberi tahumu Fiko dan lagi aku yang memintamu mengeluarkan linggi, bukan? Jadi ini bukanlah salahmu Fiko”.
“Maafkan aku ya Ray”. Fiko merangkul pundak Ray.
“iya Fiko”. Ray tersenyum.
“Kamu manis kalau tersenyum begini Ray. Aku suka melihatnya”, puji Fiko.
“Wah, aneh kamu Fiko. Kamu suka melihat senyum orang lain padahal senyum kamu lebih memukau daripada aku”.
Fiko akhir-akhir ini merasakan perubahan Ray yang mulai bisa hangat padanya. Fiko menganggap ini suatu yang baik kedepannya untuk mereka berdua apalagi mereka sekarang tinggal satu rumah jadi rada canggung saja kalau tidak saling tegur sapa seperti dulu saat Ray masih agak dingin.
“Cerah sekali langit malam ini ya”, kata Ray sambil menatap langit dari balik jendela.
“Indah sekali bintang-bintangnya Ray. Sayang Naolla tidak tampak dari sini”.
Ray menunduk dan merasa bersalah pada Fiko. “Kamu melindungiku dari Sukaw tapi sekarang Naolla memerlukanmu Fiko. Kamu harus kembali ke Naolla secepatnya. Aku tidak ingin rakyatmu menganggap kamu ingin menguasaiku dan memiliki seluruh Naolla”.
Fiko mengangkat dagu Ray dan mengarahkan ke arahnya. “ Lihat aku Ray. Apakah aku tampak menginginkan rakyatku menderita? Aku memikirkan mereka, sangat mengkhawatirkan mereka. Tetapi Hrewa Kufe pasti berpesta pora menikmati kekayaan alam dari seluruh Naolla tanpa memikirkan penderitaan diluar Vocare. Aku bingung Ray”. Kini Fiko yang tertunduk.
 Ray memeluk tangan kiri Fiko yang besar sambil bersandar di bahu Fiko. “ Aku juga ingin melihat Naolla seperti dulu Fiko. Namun tampaknya semua orang telah melupakan kita. Terbukti dengan tak ada orang Naolla yang pernah menjenguk kita sekalipun disini”.
Fiko merangkul bahu Ray dan mendekatkan kepalanya ke rambut Ray. “ Aku senang kok, bisa bersama kamu disini dan hidup seperti manusia”.
“Terimakasih ya Fiko. Kamu sudah lebih dari sekedar kakak buatku”.
Ray menengadahkan wajahnya ke atas dan Fiko menatap mata Ray hingga entah apa yang membuat suasana jadi berbeda dengan tiba-tiba tatapan mereka berubah menjadi sesuatu yang tak biasa antara dua pria. Tatapan yang penuh dengan cinta. Tatapan mereka bertemu dan menuntun Fiko mendekatkan bibirnya ke bibir Ray. Nafas Fiko kian terasa berhembus didekat wajah Ray. Perlahan-lahan Ray sedikit membuka bibir dan menyambut bibir Fiko. Terjadilah sesuatu yang tak pernah terlintas sebelumnya oleh mereka berdua. Fiko mengigit pelan bibir Ray yang agak kemerahan. Mata mereka saling memandang penuh hasrat. Ray membalas ciuman Fiko seindah mungkin. Bibirnya kian pasrah menerima gigitan dari pria tampan itu. Ray membalas ciuman Fiko seperti dia yakin dengan perasaan ini. Lembutnya sapuan lidah dan bibir Fiko mengantarkannya lupa akan Naolla dan bumi untuk sejenak. Fiko memilin bibir Ray dengan penuh perasaan sehingga Ray benar-benar seperti terbang ke langit malam yang indah.
Masih menyatukah bibirnya dan bibir Ray, perlahan tapi pasti, Fiko merebahkan tubuh Ray dilantai dengan ia di atasnya. Bibir mereka menyatukan hasrat yang ternyata sudah mereka saling rasakan ketika mulai akrab. Fiko dan Ray menarik nafas sejenak kemudian melanjutkan ciuman mereka kembali. di celana mereka berdua telah berdiri dengan tegaknya senjata kebanggan masing-masing. Fiko menukarkan ludahnya dengan Ray berkali-kali tanda mereka menikmati kehangatan ini. Dada bidang Fiko tak luput dari belaian tangan Ray apalagi ketika tangan itu menyusup masuk dan memilin kedua puting Fiko yang mulai mengeras. Bibir Fiko dan lidahnya semakin liar beradu dengan lembutnya bibir Ray.
“Aw! Fiko sakitttt”, protes Ray saat Fiko menggit bibirnya. Namun secara cepat Fiko kembali menyambar bibir Ray dan memasukkan ludahnya.
“Ahhhh”, desah Fiko.
Suara cipokan mereka terdengar cukup menggoda.
 “Fiko. Sudah”. Ray ternyata masih takut akan hal ini dan terkurung dalam dasar keraguannya. Dia pun bangkit berdiri sambil mengambil kantung tidurnya.
Fiko paham dengan apa yang ada dipikiran Ray maka dia pun mencoba mengerti apa yang Ray rasakan dan mendekati Ray yang berbaring dikantung tidurnya sambil dia berbaring juga.
“Ray maafkan aku ya. Aku tidak bisa menguasai diriku. Aku benar-benar bingung dengan perasaan ini”. Fiko memeluk Ray dan menempelkan kepala Ray  kedada bidangnya. Untuk ini Ray tidak menolak bahkan Ray melingkarkan tangannya keperut Fiko yang kotak-kotak.
“Maafkan aku juga Fiko. Aku belum bisa”.
Fiko akhirnya lega setelah dia tahu bahwa Ray tidak marah padanya dan merekapun tertidur dengan saling berpelukan.
Hamparan awan abu-abu tersisih oleh indahnya mentari pagi.
Diantara keheningan pagi di Toshirojima. Tampak beberapa orang penduduk sedang memberi makanan pada kucing-kucing di sekitar rumahnya. Disisi lain ada dua sosok tubuh sedang berpelukan mesra. Apakah ini yang dinamakan cinta atau hanya sebatas pelampiasan saja? Yang harus diperhatikan disini siapa orang yang sedang berpelukan itu? Mereka adalah penghuni Naolla yang disembunyikan dibumi. Fiko terbangun menatap Ray yang tampak pulas tidur didadanya.
“Aku tidak tahu apakah aku baik-baik saja atau tidak?”, Fiko bertanya pada dirinya sendiri. Namun dia sangat ingin melindungi Ray dan selalu ada Ray disampingnya. Dengan pelan-pelan ia eratkan pelukannya dan menciumi kepala Ray.
Penginapan tempat Ray bekerja sedang kedatangan tamu dari Tokyo. Meski agak repot namun nyonya Aiko masih bisa melayani tamunya. Yang musti mengeluarkan tenaga ekstra sebetulnya adalah tuan Yamamoto karena dia masuk lebih awal. Untunglah tamu di penginapan itu baru dua orang dan mereka tidak cerewet.
Salah seorang tamu penginapan itu keluar kamar dan berniat lari pagi sambil menikmati suasana Toshirojima. Tamu ini pria tampan dan gagah sekali yang tampaknya bukan seperti orang Jepang dan lebih mirip seperti orang Amerika. Apakah dia turis yang sedang berkunjung ke Toshirojima? Dengan mengenakan baju kaos dan celana pendek, dia berlari-lari menyusuri jalanan Toshirojima. Sesekali dia menyapa orang-orang yang ia temui dijalan.
Sementara di Naolla, siang ini terasa agak berbeda karena posisi batu-batu kristal sedang agak jauh dari Naolla.
“Siapkan beberapa buah batu Hajunba lagi kita perlu untuk memancing pintu ini”, pinta Gete yaitu orang yang diminta Sukaw untuk memperbaiki Hajunba, pada Brello.
“Memangnya tuan sudah sering memperbaiki Hajunba?”, tanya Brello sambil menyerahkan serpihan batu.
“Sangat sering. Kamu tahu tidak, aku punya rahasia dalam memperbaiki setiap Hajunba”.
“Apa itu tuan?”.
“Aku selalu mengenakan cincin biru milik istriku. Lihat ini. Hahaha… Lucu kan?”, dia memperlihatkan cincin di jari kanannya.
Brello hanya tersenyum menanggapi tuan Gete.
“Oh ada satu lagi anak muda, aku takut pada bulan merah. Aku tidak ingin keluar pada saat bulan merah, kata nenekku dulu bulan merah adalah otak dari seluruh kecelakaan kerja”, kata Gete agak berbisik seperti takut didengar orang. “Jangan khawatir Brello aku tidak percaya kata-kata nenekku itu, cuma aku takut melihat bulan merah yang menggantung seperti mau jatuh itu”. Gete menempelkan batu-batu itu berseberangan agar memancing Hajunba terbuka.
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Setelah beberapa hari terus mereka coba untuk mengaktifkan kembali Hajunba itu dan akhirnya Hajunba itu bisa terpancing dan aktif kembali. Sukaw sudah tidak sabaran untuk mengirim beberapa orang pilihannya ke tempat Ray. Orang-orang itu memiliki kemampuan khusus dibidang penangkapan. Maka Sukaw menunjuk Creasa Fru, Koloji, Alian dan Vehu Te. Mereka semua berasal dari Yuari pengintai terlatih dan telah beradaptasi untuk kasus Ray dan Fiko.
“Ketua. Apakah kita harus menyamar dahulu?”, tanya Creasa pada Alian.
“Kita akan menyamar terlebih dahulu di bumi sebelum menangkap mereka. Kita akan menyusun strategi penangkapan yang sempurna terlebih dahulu”.
“Kalian bersiap-siap ya. Pintu ini hanya terbuka dalam beberapa  detik saja”, terang Gete.
“Baik tuan”, jawab Cre diikuti anggukan dari yang lain.
Disaksikan Sukaw, mereka pun telah bersiap-siap didepan Hajunba itu.
Gete mulai menempelkan beberapa batu untuk memancing Hajunba terbuka. Secara perlahan namun pasti Hajunba itu terbuka dan ketika pintu Itu terbuka sempurna dengan segera Creasa dan Alian masuk kemudian dilanjutkan Koloji dan Vehu dan setelah itu pintu tertutup kembali.
Ray telah sembuh dan kembali bekerja di penginapannya seperti biasa. Siang itu dia sedang mengantarkan makanan untuk tamu berwajah bule yang belakangan diketahui bernama Adam. Adam ternyata sudah sejak kecil tinggal di Tokyo mengikuti orang tuanya yang bekerja di kota itu. Dia seorang mahasiswa yang tengah liburan musim panas di Toshirojima.
Langkah kaki Ray tampak bersemangat mendorong meja pengangkut makanan ke kamar Adam. Setelah sampai didepan pintu kamar, dia mengetuknya. “Permisi tuan. Makan siang anda sudah siap”.
Ray menunggu kamar dibuka oleh Adam. Terdengar ganggang pintu dibuka dan dari balik pintu muncullah sosok tampan Adam menyambut Ray.
“Silahkan bawa masuk kedalam”, kata Adam.
Ray tersenyum ramah dan membawa makanan itu masuk. Sementara mata Adam tampak memperhatikan sekujur tubuh Ray.
“Saya taruh dimana tuan?”.
“Taruh saja di sini”, tunjuk Adam kedekat meja sambil ia duduk di pinggir tempat tidur.
“Kalau begitu saya permisi dulu tuan”, kata Ray sambil membungkukkan badan.
“Tunggu. Saya rasa, saya perlu teman makan sebentar. Apakah anda keberatan?”, tanyanya.
“Dengan senang hati tuan”. Ray tak jadi keluar dan duduk di salah satu bangku di samping meja.
Adam beranjak dari tempat tidur dan duduk di kursi depan meja. Dia membuka tudung saji dan mengambil makanan di dalamnya. Ray membantu Adam mengambilkan alat makan. Ini sudah sewajarnya bagi Ray untuk melayani tamu. Ray sebenarnya sosok yang baik hanya saja dia sering menyendiri akibat banyak orang di Naolla yang tidak senang dengannya.
“Oh iya, bolehkah saya kenal anda?”, tanya Adam sambil makan.
“Saya Hucky Nagaray dan sering dipanggil Ray, tuan”. Ray menjulurkan tangannya dan disambut oleh Adam untuk berjabat tangan tanda perkenalan.
“Saya Patrick Adam “.
Adam memiliki wajah yang macho dan tampan. Setelah berkenalan, Adam kembali melanjutkan makannya.
“Bagaimana makanannya tuan? Enak?”.
“Enak sekali, tapi jangan panggil aku tuan. Aku terlalu muda untuk itu. Panggil saja aku Adam”.
“Baik Adam”.
Setelah selesai dengan makanannya, dia berbincang-bincang dengan Ray.
“Disini tidak ada sinyal handphone ya?”.
“Sebenarnya sinyal disini masih ada cuma lemah saja”.
“Kamu kelihatannya bukan orang sini”, selidik Adam sambil memperhatikan wajah dan perawakan Ray.
“Ermmm… Begitulah”.
“Kamu berasal dari mana Ray?”.
Ray sempat bingung menjawab pertanyaan Adam karena dia tidak tahu pasti tentang bumi dan penghuninya bisa jadi dia salah sebut dan membuat Adam curiga.
“Aku berasal dari…”. Ray berfikir sejenak. Dia teringat akan sebuah  masakan bernama Pizza dari Itali maka dia pun menyebutkan negara itu walau dia sendiri tidak tahu pasti bagaimana wajah orang Itali. “Italia”.
Adam memperhatikan Ray lekat-lekat. Tak sedikitpun wajah Itali atau perawakan Ray menggambarkan asalnya. Dia pun bertanya dimana keluarganya tinggal. “Keluargamu dimana?”.
“Ayah dan ibuku sudah tidak ada. Sekarang aku hanya tinggal bersama kakak lelakiku”.
Adam berusaha percaya dengan Ray.
“Kamu kerjanya sampai malam Ya?”.
“Sebenarnya aku kebagian ship siang, tetapi untuk beberapa saat kedepan aku akan kerja ship malam”.
“Kapan-kapan kamu ajak aku mengelilingi pulau ya Ray”, pinta Adam.
“Hmmmppp.. Nanti ya aku cari waktu yang tepat dulu. aku permisi dulu Adam. Aku harus mengantar piring-piring ini kedapur”. Ray mengambil piring-piring bekas makanan Adam dan mendorongnya dengan meja dorong kedapur.
Didapur ada nyonya Etsuko yang bertugas memasak makanan untuk tamu dan tugas lainnya didapur seperti menyuci piring dan perkakas dapur.
“Ini nyonya ada piring kotor”. Ray memindahkan piring itu keatas tempat cuci piring.
“Taruh saja di situ Ray. Terimakasih ya”. Nyonya Etsu masih memotongi gurita yang nantinya entahlah mau dimasak apa.
Ray menaruh meja dorongnya di pojokan dapur kemudian kembali melakukan tugasnya.
Ray selalu bertanya-tanya mengenai kehidupan manusia diluar sana. Dia ingin melihat bumi yang luas dan berjumpa dengan orang-orang baru. Ray yakin banyak orang-orang menarik diluar sana. Tetapi Ray belum tahu bahwa keadaan bumi juga sedang memprihatinkan karena sebagian wilayah dibumi sedang di rusak habis-habisan oleh manusia. Bumi di kuras habis sesadis-sadisnya demi kepentingan manusia yang semakin bertambah banyak. Makanan, tempat tinggal dan pendidikan manjadi barang langka disebagian wilayah dibumi. Ray memang belum tahu menahu mengenai bumi.
“Nyonya saya mau protes”, kata salah seorang penyewa kamar di penginapan nyonya Aiko.
“Iya silahkan”. Nyonya Aiko terlihat ramah.
“Saya menemukan botol bekas minuman mineral di dalam laci meja saya yang tampaknya bekas botol minuman dari penyewa kamar sebelumnya”, protes seorang wanita muda berwajah oriental.
“Maafkan kami atas ketidak nyamanan ini nona. Kami akan membersihkan kamar anda segera. Ray….”, panggil nyonya Aiko.
“Bukan itu yang saya permasalahkan. Ini menyangkut kerja pegawai anda nyonya. Kalau soal membuang  botol minuman saya juga bisa”.
“Sekali lagi saya mohon maaf nona”.
Ray menghampiri nyonya Aiko dimeja resepsionis.
“Ada yang bisa saya bantu nyonya?”.
“Tolong kamu bersihkan sampah dilaci yang kelupaan dibuang dikamar nona Ino”.
“Baik nyonya”. Ray membungkukan badan  dan menuju kamar nona Ino.
Setelah sampai dikamar, Ray mengecek keadaan kamar itu dan membuka laci meja kemudian menyedot debu ditempat tidur maupun lantai. Ketika dia yakin bahwa semuanya sudah beres, Ray membawa botol bekas itu dan membuangnya ketempat sampah. Melihat tempat sampah yang penuh, Ray berniat membakar sampah-sampah itu. Dia angkat tempat sampah itu untuk dibawa ke bagian pembakaran sampah di belakang. Setelah sampai ditempat yang ia tuju, dia tumpahkan seluruh isi tempat sampah dan menyalakan api untuk membakarnya. Dari balik jendela di penginapan, ternyata Adam sedang melihat kegiatan Ray. Tampaknya dia akan menghampiri Ray yang sedang membakar sampah. Benar saja, tak lama kemudian Adam yang mengenakan celana jeans panjang berwarna hitam dan kaos singlet putih menghampiri Ray.
“Siang-siang begini bakar sampah. Rajin sekali kamu Ray”.
“Mumpung lagi ada waktu luang Adam”. Ray terus merapikan beberapa sampah yang tidak terkena api.
“Pasti takut dimarahi nyonya Aiko ya?”, tanya Adam sambil tersenyum bercanda.
“Nyonya Aiko tidak pernah marah pada kami. Beliau orangnya ramah dan baik. Tetapi kalau ada komplain dari tamu kan aku dapat teguran juga dari nyonya Aiko”.
“Benar juga sih. Di sekitar sini aku bisa ikut memancing ikan tidak Ray?”.
“Kamu mau memancing?”.
“Iya nih aku mau coba memancing”.
“Ada kok, tapi jika kamu dapat ikan nanti dibagi ke para kucing ya”.
“Mengapa begitu Ray?”. Adam ingin tahu.
“Kalau kamu mau kaya dan beruntung maka harus memberi kucing-kucing itu. Para nelayan pun sering memberikan beberapa ikan hasil tangkapannya pada kucing”. Ray menjelaskan pada Adam sambil dia duduk di dekat Adam.
“Tentang kucing di pulau ini, apakah mereka memang dikembang biakan Ray? Banyak sekali kucing hidup bebas dipulau ini”.
“Aku tidak tahu pasti, namun berkat kucing-kucing itulah pulau ini jadi tujuan wisata”.
“Lalu dari mana kucing sebanyak itu berasal?”.
“Aku pernah di ceritakan oleh tetangga ku, kata beliau, dahulu kala penduduk pulau mengembang biakan ulat sutera. Namun karena ulat-ulat sutera tersebut selalu dimakan para tikus maka di peliharalah beberapa kucing untuk menanggulanginya. Selain sutera, pemberat jaring juga sangat populer di pulau ini setelah Periode Edo dan membuat para nelayan dari daerah-daerah lain akan datang kepulau ini serta tinggal untuk beberapa waktu. Seiring dengan datangnya para nelayan, maka para kucing yang lapar akan pergi ke penginapan untuk mengais sisa-sisa makanan. Para nelayan yang melihat tingkah laku kucing itu, sangat senang sehingga mereka mengamati tingkah laku para kucing dan bisa menafsirkan tindakan mereka itu sebagai cara untuk memprediksi cuaca. Suatu hari, ketika para nelayan sedang mengumpulkan batu untuk digunakan dengan pemberat jaring, batu tersebut  jatuh dan membunuh salah satu kucing. Para nelayan, merasa menyesal atas kehilangan kucing sehingga dikuburkan dan diabadikan di pulau. Semenjak itulah kucing berkembang biak dengan baik di sini”.
Adam tersenyum melihat Ray berbicara.
“Kamu lucu dan menggemaskan Ray”.
Ray bingung mendengar ucapan Adam yang tidak ada sangkut pautnya dengan pembicaraan ini.
“Terimakasih. Aku mau kembali ke dalam dulu ya”. Ray bangkit dan mengambil tempat sampah kosong tadi.
“Lho kok buru-buru. Biar aku bantu untuk membawa tempat sampah itu Ray”. Pinta Adam sambil mencegah tangan Ray untuk mengangkat tempat sampah itu.
“Jangan Adam nanti dilihat nyonya Aiko”.
“Tidak apa-apa. Sini”. Adam membawa tong sampah dan berjalan mengikuti Ray.
“Taruh disini Adam”, tunjuk Ray pada sisi dinding dilorong menuju kamar.”Terimakasih atas bantuannya ya”. Ray tersenyum dan berniat meninggalkan Adam.
“Tunggu Ray”, Adam memegang tangan Ray dan “Muachhh”. Sebuah ciuman mendarat dipipi Ray.
Ray tampak marah, dengan cepat dia mencengkram leher Adam dan mendorongnya kedinding.
“Anda jangan melecehkan saya tuan Adam! Saya bisa bertindak kasar sama anda”. Tangannya mencengkram erat-erat leher Adam.
Dengan berusaha menarik nafas yang tertahan cengkraman Ray, Adam meminta maaf. “ Maaf kan aku Ray. Aku tidak bermaksud…”.
Ray melepaskan cengkraman tangannya dan bergegas meninggalkan Adam.
Dilautan lepas yang biru Fiko sedang membuat sashimi untuk makan siangnya bersama tuan Takeshi. Di terpa angin laut yang sedikit kencang membuat kapal mereka bergoyang namun tetap terasa asik sambil menikmati segarnya daging ikan.
Disela-sela makan mereka tampak bercanda. “Pernahkah kamu melihat ikan sebesar rumah kamu Fiko?”.
“Hah? Sebesar itu? Mana ada yang begitu tuan. Ikan obesitas kali. Hahaha”, canda Fiko. Memang selama dibumi dia masih belum tahu dan belum pernah melihat ikan lebih besar dari ikan tuna atau hiu.
“Bukan. Ini hiu paus. Ikan terbesar dari semua ikan”. Tuan Takeshi sambil memakan sashiminya.
“Bagaimana kalau dia muncul di sini tuan? Kita bisa ditelan dengan perahunya sekalian”, tanya Fiko dengan wajah resah.
“Tenang Fiko, ikan itu tidak punya gigi jadi kita aman”.
“Ternyata Tuhan itu maha adil ya. Kalau ikan sebesar itu punya gigi bisa gawat kita para nelayan”.
“Benar sekali Fiko aku setuju”.
Mereka melanjutkan acara makannya dan kemudian bersiap-siap untuk mencari lokasi dengan banyak ikan yang bisa ditangkap.
Setidaknya Fiko benar-benar merasa hidup ketika dibumi. Dia menikmati apapun yang dia kerjakan tidak seperti saat dia menjadi Raja di Vocare. Segala sesuatu yang serba ada dan memiliki kekuasaan kadang membuatnya lupa akan kehidupan di dasar Hrewa Kufe. Mungkin sebagian alur takdir ini memang rencana yang sengaja di perlihatkan untuk diambil hikmahnya oleh Fiko. Dia memang berbeda jauh sekali di kehidupannya yang sekarang.
***
Fugk yang damai terlihat lengang sekali. Di gang antara dinding rumah susun padat penduduk di pulau Fugk tampak segerombolan brandalan memeras remaja lelaki.
“Mana uang mu? Hah! Cepat…”, pinta salah seorang yang megenakan penutup kepala.
“Saya tidak punya tuan”, rengek remaja itu.
“Bohong!”. Tanpa basa-basi dia memukul remaja itu hingga tersungkur ke tanah.
“Sudahlah kak, langsung aja kita bunuh dia”, kata lelaki berbaju hitam.
“Jangan tuan… tolong biarkan saya lewat”.
“Bodoh sekali kami mendapatkan mangsa sepertimu di lepaskan begitu saja. Periksa kantong celananya!”, pinta lelaki bertutup kepala pada temannya.
Dengan segera lelaki berbaju hitam merogoh saku celana orang itu dan tidak menemukan apa-apa.
“Dibawah sepatunya!”.
“Jangan tuan…”.
“Diam!”, bentak lelaki baju hitam sambil jongkok memeriksa sepatunya.
Melihat peluang untuk kabur, akhirnya pemuda itu nekat untuk berlari sekencang-kencangnya.
“Hai! Awas kau ya. Mati kau!!!”. Para berandalan itu mengejar remaja tadi.
Aksi saling kejar-kejaran pun akhirnya tak terelakkan. Namun nasib sial sedang melanda sang remaja, dia terjebak di jalan buntu.
“Mau lari kemana kamu? Bodoh!”, kata pria bertutup kepala.
“Hiat!”, pemuda itu melemparkan tutup tong sampah ke arah para berandalan. Karena tidak ada jalan, maka dia merentangkan kedua kakinya untuk memberi tekanan pada kedua dinding dan mengangkat tubuhnya ke atas gedung. Melihat itu para berandalan mengikutinya dan mengejar pemuda itu hingga atap gedung. Aksi kejar-kejaran antar berandalan dan pemuda diatap gedung tak terhindarkan. Pemuda itu terus berlari melompati gedung satu kegedung lainnya hingga sampai pada gedung yang dipisahkan jalan.
“Wah.. gimana ini?”. Tentu saja dia tidak bisa melompati gedung itu karena jaraknya yang jauh.
“Mau lari kemana kamu? Hahaha”, tanya lelaki berpenutup kepala.
Pemuda yang terdesak tampak tak bisa berbuat apa-apa lagi. Para berandalan itu pun menghantamkan beberapa pukulan ke wajah dan tubuhnya, walau dia berusaha melawan sebisa mungkin namun karena dia hanya sendiri akhirnya pukulan-pukulan itu pun mengenainya.
Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk lari ke sisi gedung. Dia lihat kearah bawah yang tampak kecil karena tingginya gedung ini. “Aku tak mau mati sia-sia”. Tanpa pikir panjang dia terjun kebawah dan…
“Kamu mau mati?!”. Ternyata seorang Yuari yang sempat menolongnya dengan mengendarai burung mesin.
“Terimakasih tuan”.
Melihat ada Yuari yang mengejarnya, para berandalan itupun lari agar tidak tertangkap. Jatuhan serpihan batu yang terkena kaki para berandalan mengenai seorang anak kecil di bawah gedung. Si anak menoleh ke atas dan tampak Yuari sedang kejar-kejaran dengan para berandalan.
“Penjahat!”. Dia lari masuk rumah sambil matanya menahan tangis akibat tubuhnya terkena serpihan batu.
Sementara di sebuah ruangan tertutup, beberapa orang yang ahli dalam bidang Hajunba sedang berusaha mencari cara agar bisa menggunakan batu karang kecil itu untuk ke bumi.
“Harus mencari cara lain lagi,Somba”, kata Are pada rekan wanitanya.
“Somba tidak tahu harus bagaimana lagi tuan Are”, sahut Somba.
“Diantara batu sebanyak ini tak ada satu pun yang berhasil membuka jalan ke bumi. Apakah batu ini tidak mampu menuju bumi?”. Wqo menaruh sebuah batu ke atas meja.
“Batu ini sebenarnya bisa kita gunakan, tetapi untuk efektifitas nya kita harus menemukan media yang tepat untuk membuka dimensi ke bumi”. Tuan Are bicara sambil memebetulkan kacamatanya.
“Bagaimana kalau kita menggunakan benda lain yang bisa dibuka seperti jendela atau laci?”, saran Wqo. Pria brewokan ini beranjak dari tempat duduknya.
“Ide bagus itu, kita bisa mencobanya. Kita harus segera menyuruh para Yuari untuk mengumpulkan beberapa barang yang bisa di buka”. Kata Somba.
“Biar saya saja yang mendatangi tuan Karveo untuk bisa menyiapkan para Yuarinya. Kalian disini saja sambil mempersiapkan beberapa batu yang tersisa untuk percobaan berikutnya”, kata Wqo. Dia pun melangkahkan kaki keluar ruangan dan menuju gedung Yuari.
Gedung Yuari, gedung pemerintahan dan gedung-gedung penting lainnya memang terletak disatu komplek. Deretan bangunan besar ini berdiri kokoh di tengah pulau Fugk.
Setelah mendatangi tuan Karveo dan mengutarakan maksudnya pada beliau, Wqo segera menuju ruang latihan Yuari dan menceritakan tujuannya meminta bantuan para Yuari. Segera saja para Yuari itu membubarkan barisan untuk mencari barang-barang yang dimaksud. Satu per satu para Yuari mengumpulkan barangnya diruangan kerja para ahli Hajunba. Ada yang membawa gelas, ada yang membawa tas, dan barang-barang penting yang memiliki ruangan berongga.
“Apakah masih kurang tuan Are?”, tanya Karveo.
“Untuk sementara kita coba barang-barang ini terlebih dahulu tuan karena saya khawatir dengan persediaan Hajunba yang tinggal sedikit lagi”.
“Baiklah kalau begitu tuan, anda tahu dimana saya berada apabila anda perlu bantuan Yuari lagi”. Tuan Karveo segera meninggalkan ruangan itu.
“Segera kita pelajari setiap perkembangan terkecil. Untuk itu siapkan seluruh kemampuan otak kalian agar tak luput dari tanda sekecil apapun”, kata tuan Are. “Pertama-tama kita bagi batu ini menjadi tiga. Karena yang tersisa hanya 74 buah, maka kalian akan aku beri masing-masing 25 biah sedangkan aku sisanya. Siap?”.
“Siap tuan”, sahut Wqo.
“Segera laksanakan”, kata Somba.
Merekapun mengambil barang-barang yang diperlukan dan meletakkan batu Hajunba dibagian tertentu dari barang yang dipilih.
Setiap barang yang selesai di coba, tidak akan diulang lagi sebab Hajunba itu perlu menunggu waktu semalaman Naolla untuk berfungsi kembali. mereka bertiga sangat serius merasakan keberadaan Hajunba menuju bumi.
Hari yang sangat melelahkan namun mereka berhasil mengidentifikasi sepuluh barang yang memiliki kekuatan Hajunba lebih dari yang lain.
“Kita bawa barang ini untuk dilaporkan pada tuan Qaza”, kata tuan Are pada para asistennya.
Merekapun membawa barang itu dalam sebuah tas hitam. Dari ukuran tas dan banyaknya tas yang dibawa, tampaknya Hajunba yang bisa digunakan itu memiliki ukuran kecil-kecil.
Di ruang Qaza, tuan Are membuka tasnya dan memperlihatkan isi dari tas tersebut.
Tuan Qaza berkomentar,”Apakah kalian serius? Ini ada sepuluh barang yang ukurannya kecil aku yakin kaki kalian pun tak bisa masuk ke benda ini”. Tuan Qaza mengangkat gelas kaca.
Di tas tersebut terdapat vas bunga, gelas, mangkuk, kotak perhiasan, botol, pipa, cangkir, tempat tisu, kaleng dan sepuluh dengan tas yang mereka bawa.
“Saya tidak tahu mengapa tuan tetapi alangkah terkejutnya kami saat mengetahui bahwa Hajunba ini memiliki kestabilan didalam pipa kecil ini. Saking stabilnya kami bisa melihat secara samar manusia dibumi. Kami yakin pipa inilah satu-satunya barang yang bisa membuka jalan ke bumi”, terang tuan Are.
“Kalau hanya pipa ini, bagaimana kita menolong Ray?”.
“Kami harus memikirkan cara terbaik untuk itu. Kami tadi yakin sekali bahwa bayangan yang kami lihat adalah manusia bumi, hanya saja Hajunba yang kami pergunakan adalah Hajunba yang kurang bagus kualitasnya”.
“Kita juga harus membicarakan hal ini dengan Loka. Ini sangat aneh Are. Aku tak bisa berbuat banyak kalau begini. Strategi baru harus kita bentuk sekarang”. Tuan Qaza duduk sambil tampak berfikir.
***
Matahari sudah terbenam dibarat mengisayaratkan malam akan segera datang. Fiko yang baru sampai rumahnya, memarkir sepeda dan segera masuk kedalam rumah. Rumah tampak gelap dan tidak ada orang. Kali ini bukan karena Ray ketempat tetangga tapi karena Ray sekarang pulang malam. Fiko benar-benar merasa kangen akan makan bersama dengan Ray seperti beberapa hari yang lalu. Walau Ray baru menjalani shif malamnya namun Fiko merasa kesepian kalau makan sendirian.
“Ray sekarang hanya bisa aku pandang saat tidur sebelum berangkat melaut. Kami akan kembali merasa jauh  seperti dulu padahal baru saja kami akrab”.
Fiko masuk kamarnya dan mengambil handuk kemudian mandi membersihkan tubuh yang penuh dengan bau ikan. Setelah dia telanjang bulat perlahan air mulai mengguyuri tubuh kekarnya. Otot-otot itu tidak menyembul dengan sendiri melainkan hasil bentukan selama dia berlatih sebagai pasukan Yuari.
Setelah bersih, dia keluar kamar mandi dengan melilitkan handuk di pinggangnya. Tak berapa lama kemudian Fiko telah berada didapur dan mencari bahan makanan di lemari pendingin. Ternyata tak ada makanan atau sayur yang bisa dia makan. Untunglah di lemari penyimpanan makanan terdapat beberapa ramen instan yang siap untuk dimasak. Fiko mulai memasak makanan itu karena dia sudah sangat lapar sekali. Sebentar saja dia sudah menyelesaikan makannya dan duduk sendiri dimeja makan.
“Aku mau ketempat Ray saja ah. Mungkin nyonya Aiko mengijinkan aku membantu pekerjaan Ray yang belum selesai”. Fiko bergegas berdiri. Dia akan menuju penginapan tempat Ray bekerja dan meminta nyonya Aiko mengijinkannya bertemu Ray atau jikalau tidak bisa dia akan menunggu Ray sampai pulang. Wajahnya yang tampan tampak semakin ceria karena secara tidak langsung matanya tampak memancarkan rona bahagia dan penuh semangat ingin menemani Ray disana. Dia ambil sepedanya dan mengayuhnya dengan cepat. Udara dingin diluar seakan tak menyentuh kulitnya sama sekali mungkin dikarenakan saking dia bahagianya menuju penginapan milik nyonya Aiko. Tak terasa setelah beberapa menit bersepeda sampailah dia didepan penginapan nyonya Aiko. Langkah kaki menuntunnya masuk ke meja resepsionis.
“Selamat malam nyonya”, sapa Fiko sambil membungkukan badan.
“Selamat malam. Fiko? Ada apa nih? Tumben sekali berkunjung kemari. Ray  pulang malam, jadi sekarang dia masih kerja”.
“Saya sudah tahu itu nyonya. Maksud saya kemari ingin menunggu Ray pulang sekalian kalau nyonya mengijinkan saya akan bersedia membantu Ray. Bagaimana nyonya? Itung-itung karyawan gratis”, rayu Fiko agar membuat nyonya Aiko mengijinkannya bertemu Ray.
Setelah berfikir sebentar dia bertanya pada Fiko,”Memangnya kamu bisa bantu apa Fiko?”.
“Apa saja nyonya saya bisa. Saya sudah sering melakukan tugas rumah kok,  jadi nyonya tenang aja”.
“Baiklah kamu silahkan masuk menemui Ray. Ingat, jangan mengganggu Ray yang bekerja kecuali  jika kerjaan Ray sudah beres”.
“Sip nyonya. Saya masuk ya. Terimakasih banyak nyonya”. Wajahnya tampak senang sekali. Dengan semangat dia menuju Ruangan karyawan namun disana tidak ada Ray. Fiko menuju dapur dan menanyakannya pada nyonya Etsuko. “Nyonya, Ray dimana? Kok tidak kelihatan”.
“Tadi aku lihat dia sedang beristirahat diteras belakang”.
“Saya akan cek kesana”. Fiko menuju teras belakang.
Decitan langkah kakinya berirama diatas hamparan lantai yang terbuat dari kayu. Tampaklah Ray sedang duduk dengan seorang pria diteras belakang. Fiko bertanya-tanya didalam hati, apakah pria itu tuan Yamamoto namun dari postur tubuhnya yang tinggi dia bukanlah tuan Yamamoto. Fiko semakin penasaran dan menghampiri Ray.
“Hai Ray”, Fiko tersenyum.
“Fiko? Sedang apa?”.
“Aku merasa tidak betah sendirian dirumah jadi aku meminta ijin pada yonya Aiko untuk membantu mu disini. Hehehe… Kaget ya?”. Fiko duduk di samping Ray.
Ray yang terapit dua pemuda tampan ini menjawab, “Kaget sih, tapi tidak apa-apa karena nyonya Aiko sendiri sudah mengijinkanmu masuk. O iya, perkenalkan ini Adam penyewa kamar dipenginapan ini”. Ray menyuruh Fiko berkenalan dengan Adam.
Fiko yang agak menebar senyum palsu pada Adam mengulurkan tangan untuk berjabatan dengan Adam.
“Saya Adam. Kamu kakaknya Ray?”, tanya Adam.
“Fiko. Ermmmm… Bisa dibilang begitulah”. Fiko menjawab sambil melepaskan jabat tangannya.
“Tapi kok kalian tidak mirip ya?”.
“Kami memang berasal dari satu ayah namun berbeda ibu”, jawab Fiko.
Ray berfikir sejenak dan didalam pikirannya dia membenarkan perkataan  Fiko barusan yang menyebutkan mereka satu ayah. Fiko adalah anak biologis dari Raja Vocare sedangkan dia adalah anak Azzonya.
“Benar Adam”, kata Ray menimpali perkataan Fiko.
Tatapan mata Fiko terlihat kesal memandang gelagat Adam yang memiliki tujuan tertentu dengan Ray. Sesekali tangan Adam terlihat menyentuh tubuh Ray. Entah mengapa Fiko agak marah melihat ini karena dia sendiri bingung dengan perasaanya sendiri. Dengan mengumpulkan keberaniannya, dia menegur Adam.
“Kamu bisa kan tidak merangkul-rangkul Ray seperti itu? Disinikan tempat umum”.
Ray yang memang risih dengan tingkah Adam sehingga  dia juga tampak sesekali menghindar. Namun karena dia terhimpit ditengah-tengah maka dia tidak bisa berbuat banyak.
“Oh, ini kan tanda aku ingin bersahabat. Tidak apa-apa kan Ray?”.
“Kami memiliki cara tersendiri untuk menunjukan persahabata, Adam”, jawab Ray.
“Aku paham. Maaf Ray aku tidak tahu”. Dia melepaskan rangkulannya. Dahi Adam tampak terangkat tanda dia tidak senang dengan Fiko.
“Ray masuk saja yuk. Disinikan dingin, nanti demammu kembali lagi”. Fiko menarik tangan Ray.
“Karena didalam suntuklah kami disini. Nanti saja masuknya, kasian Ray sudah bekerja seharian dan sekarang dia baru mau santai eh di ajak masuk kedalam lagi”, perotes Adam menarik tangan Ray satunya.
Fiko mengalah dan kembali melepaskan tangan Ray.
“Kamu tahu California Ray?”. Adam menyambung pembicaraanya yang sempat terpotong dangan hadirnya Fiko.
“Tidak tahu”. Ray melepaskan pegangan tangan Adam.
“Aku tanya kok kamu selalu  tidak tahu. Kalau di Itali orang tua kamu tinggal di bagian mananya Ray?”.
Ray bingung mau jawab apa. Dia menoleh ke Fiko seolah-olah memberi isyarat  bahwa dia sedang mengarang-ngarang cerita untuk meyakinkan Adam.
“Aku sajak kecil sudah di adopsi di oleh salah seorang warga disini jadi aku tidak tahu mengenai asli orang tuaku”.
“Mungkin kamu tidak tahu tapi kakakmu tahu kan? Kamu tahu Fiko?”.
Fiko terdiam dan sedikit berfikir untuk menutupi identitas mereka. “ Kamu siapa sih? Tampaknya kamu mau tahu semua tentang kami. Urus saja masalahmu sendiri”. Fiko menjawabnya dengan nada yang agak judes. Sebenarnya dia sangat kesal pada Adam namun sebagian lagi dimaksudkan untuk menghindari pertanyaan Adam berikutnya.
“Yah, marah deh. Maaf ya”.
Tanpa memperdulikan Adam, Fiko berdiri dan meninggalkan Ray bersama Adam. Melihat itu Ray menyusul Fiko untuk menjelaskan apa saja yang sudah ia katakan pada Adam. Ray berfikir bahwa Fiko marah akibat Adam yang kurang sopan padanya.
“Fiko tunggu”.
Fiko menghentikan langkah kakinya. “Biarkan aku pergi Ray. Silahkan kamu santai bersama Adam”.
“Tidak. Aku rasa sebaiknya aku melanjutkan pekerjaan saja ketimbang santai ditemani Adam”.
Fiko menarik tangan Ray dan membawanya ke toilet.
“Fiko? Ada apa?”. Ray bingung dengan sikap Fiko.
Fiko menutup pintu toilet dan mendorong tubuh Ray kedinding. Tangannya yang berotot ia rentangkan dengan bertumpu pada dinding agar Ray tidak bisa pergi. “ Aku tidak suka kamu bergaul dengan orang itu Ray. Dia sepertinya tidak bisa dijadikan temanmu”.
“Aku dan dia sebatas penyewa kamar dan pegawai penginapan saja, Fiko”.
“Aku mau tanya ke kamu, adakah penyewa kamar berani merangkul-rangkul seperti tadi?”. Mata Fiko tampak kesal sekali.
Ray mencoba menterjemkan cahaya mata Fiko. “Kamu kenapa Fiko?”. Ray mengelus wajah Fiko. Dia mencoba memahami apa yang Fiko mau.
“Ray… Kita bukan orang bumi. Sadarkah kamu tadi dia curiga pada kita? Mungkin untuk saat ini dia hanya curiga pada kita, kalau suatu saat semua orang Toshirijima tahu kita adalah penghuni Naolla, bagaimana?”. Fiko berusaha menahan rasa yang berkecamuk di dalam dirinya. “Aku menyayangi mu Ray. Aku tidak mau kamu kenapa-napa”.
Ray memegang wajah Fiko dan mengarahkannya untuk menatap matanya.
“Ijinkan aku menjaga diriku Fiko. Kita tidak selamanya bersama dan aku juga harus tahu, cara menjaga orang-orang yang aku sayang agar aku tidak menjadi beban”.
Fiko terdiam, dia mulai tenang. Tatapan matanya seolah menyampaikan isi hatinya pada Ray. Kini Ray menemukan maksud dari ucapan Fiko. Tatapan mata mereka bertemu pada satu titik yang menarik wajah Fiko mendekat ke wajah Ray. Karena Ray lebih pendek dari Fiko maka Fiko menundukkan kepalanya dan perlahan-lahan meminta Ray membuka bibir untuk segera menerima kecupan darinya.
Bibir mereka mulai saling menyentuh dan ciuman hangat itupun terjadi. Fiko menggigit bibir atas Ray dan Ray mengigit bibir bawah Fiko. Fiko merasakan setiap mili bibir Ray. Lidahnya meminta untuk segera bertemu dengan lidah Ray. Lidah Fiko menyeruak masuk ke mulut Ray dan menyentuh Lidah Ray. Ray berusaha membalas perlakuan lidah Fiko. Lidah Fiko tahu pasti bahwa lidah Ray memang sangat lembut untuk dimainkan. Ray juga lihai sekali mempermainkan tempo gerakan lidahnya agar Fiko bisa menikmati kecupannya.
Fiko mulai menggigit bibir bawah Ray dengan bibirnya. Ray mulai menikmati kecupan Fiko tanpa berfikir lagi seperti pertama mereka melakukannya di malam itu. Liur Fiko memasuki mulut Ray dengan pelan namun pasti. Ray tahu bahwa rasa air ludah ini bukan miliknya namun dia menerima liur Fiko dan meneguknya. Fiko pun tak mau kalah, dia menyedot lidah Ray selembut mungkin agar Ray tidak gelabakan. Selagi asik berciuman, tiba-tiba secara mengejutkan seseorang membuka pintu.
“Ray?”. Dengan tampang wajah bertanya-tanya, Adam agak kaget juga melihat Ray dan Fiko berciuman dengan panasnya sementara mereka mengaku kakak beradik.
Tampaknya Fiko tidak menyadari bahwa Adam sedang melihatnya menciumi bibir Ray dengan mesra. Fiko terus saja menikmati sapuan lidah Ray pada lidahnya. Namun Ray tampak menyadari  kehadiran Adam sehingga membuatnya buru-buru melepaskan sedotan Fiko pada lidahnya.
“Kenapa Ray? Sakit ya”. Fiko mengarahkan jempolnya untuk menyeka air liur yang sedikit membasahi tepian bibir Ray.
Ray menatap kaget ke arah Adam yang berdiri didepan pintu toilet. Melihat Ray memandangi sesuatu dari arah belakangnya, Fiko juga ingin tahu apa yang membuat Ray menghentikan ciuman mereka. Dia menoleh kebelakang dan kagetlah dia setelah melihat sesosok tubuh yang tak lain adalah Adam berdiri menyaksikan ciuman mereka.
Ray menyingkirkan tangan Fiko yang membentang mengapit tubuhnya dan buru-buru mendorong Fiko menjauhi tubuhnya.
Fiko dan Ray terdiam mematung. Ray agak gugup pada Adam karena Adam melihat dia berciuman dengan Fiko. Untuk menghilangkan kegugupannya, dia akhirnya berjalan meninggalkan Fiko serta Adam keluar dari toilet kemudian menuju ke arah depan. Fiko pun menyusul Ray dan ketika berpapasan dengan Adam yang berdiri didepan pintu, dia menatap Adam dengan tatapan sinis. Adam membalas tatapan mata Fiko sambil tersenyum seribu arti. Fiko tahu bahwa ini akan membuat Ray kurang nyaman bekerja nantinya. Fiko merasa ini semua salah dia  yang tidak mampu menahan rasa aneh didalam dirinya untuk Ray. Mungkin saat ini Ray benar-benar marah padanya.
Saatnya untuk Ray pulang kerumah setelah bekerja hampir dua belas jam. Dia terlebuh dahulu mengunci pintu-pintu yang harus dia kunci dan meninggalkan penginapan itu. Nyonya Aiko dan tukang jaga sebenarnya masih ada di penginapan itu jadi sebagian pintu masih tidak dikunci Ray. Dia melangkah kan kaki ke tempat parkir sepedanya sementara disana telah menunggu Fiko yang tampak memejamkan mata dengan beralaskan tangannya di stang sepeda. Ray tampak acuh pada Fiko.
Fiko yang terkejut akibat bunyi Ray mengambil sepeda tersentak dan mengucek matanya. “Ray, tunggu!”.
Ray terus saja menggiring sepedanya ke jalan dan menaikinya tanpa memperdulikan Fiko. Di dalam sebagian dirinya, Ray merasa Fiko tidak salah. Kejadian tadi sebetulnya bisa dihentikan apabila dia tidak menerima ciuman Fiko. Heningnya malam seakan mengeraskan suara gerakan mereka.
Fiko mengejar Ray sambil mengayuh sepedanya. Diatas sepeda Fiko masih berusaha meminta maaf pada Ray. “Ray jangan diamin aku lagi dong. Aku memang salah tadi karena… “, Fiko menghetikan ucapannya karena dia bingung akan perasaannya sendiri. Sekuat tenaga dia berusaha menterjemahkan apa yang dia rasakan pada Ray dan ketika keberanian itu menjadi kekuatan, dia potong jalan Ray sekingga Ray berhenti. Langsung Fiko turun dari sepedanya dan mendatangi Ray. Sepeda Fiko ia letakan begitu saja di jalan. “Ray… Aku… Aku cinta padamu! Aku tahu ini aneh namun aku juga tidak tahan jika terus membohongi diriku. Maafkan aku Ray”, ucap Fiko serius sambil memegang bahu Ray erat-erat.
Ray terdiam, matanya berkaca-kaca menahan air mata marah. “Dasar Raja bodoh! Bodoh! Lepaskan aku sekarang!”, pinta Ray sambil berusaha melepas cengkraman Fiko. Setelah lepas dia turun dari sepeda dan berusaha meninggalkan Fiko dengan berjalan kaki saja.
Suasana dipinggiran laut itu sangat mendukung untuk sepasang kekasih. Rembulan yang cantik di atas langit bersama ribuan gemerlap bintang terpantul manis diatas air laut bergelombang kecil. Sesekali terdengar nyanyian ombak ditepi pantai yang sangat lengang dari aktifitas manusia. Sapuan angin menerpa tubuh mereka berdua.
Fiko tak mau kehilangan momen ini, dia raih tangan Ray agar dia mau mendengarkan isi hati yang sebenar-benarnya dari seorang raja bodoh. Fiko benar-benar bingung pada perasaannya hingga dia meneteskan air mata dan memeluk Ray erat. “ Ray… Aku memang bodoh! Tapi aku tidak munafik bahwa aku hanya ingin bersamamu. Aku sadar bahwa aku salah dan aku sadar bahwa rasa sayangku selama ini untukmu ternyata sebuah cinta yang terkubur di ruang keraguanku. Ray aku sayang dengan mu. Aku cinta kamu Ray. Maafkan perasaan raja bodoh ini”. Fiko menangis sambil memeluk Ray.
Ray benar-benar kaku lidahnya sehingga tak bisa berbicara apa-apa. Dia berusaha agar menahan air matanya supaya tidak menetes.
“Aku harus katakan ini padamu Ray, sekarang atau aku akan terus dalam kebingungan perasaanku sendiri”.
Dengan berusaha memahami apa yang Fiko rasakan saat ini Ray mencoba mengatakan apa yang dia juga rasakan untuk Fiko. “Bodoh… Dungu… Otak udang. Raja bodoh! Bodoh,bodoh,bodoh…”. Nada suaranya terdengar  menahan marah. “Aku juga tak mau munafik Fiko. Aku juga menyukai sifatmu yang selalu menyayangi dan melindungiku. Aku tahu kamu tulus melakukan itu. Tapi ternyata rasa sayangku juga tak hanya sebatas kakak padamu. Aku tak bisa menolak dirimu Fiko. Karena nyatanya aku juga jatuh cinta dengan mu”. Ray memeluk tubuh kekar Fiko.
“Siap atau tidak aku akan menerima resiko jika aku harus bersamamu Ray. Kamu pernah menginginkan aku untuk menjadi tanganmu. Sekarang aku ingin menjadi tanganmu selama aku bisa, sampai takdir menghapus nya. Maukah kamu menjadi bagian dari raja bodoh ini Ray?”. Fiko menatap mata Ray.
Ray mengangguk pelan.
Fiko yang melihat ini merasa sangat senang sekali. Tetesan air yang turun dari kelopak matanya kini mengering seketika karena melihat anggukan Ray. Dia memeluk erat tubuh Ray kembali sehangat-hangatnya. Membuat Ray tenang merasakan dada bidang Fiko yang memperdengarkan detak jantungnya.
Semua ini memang baru awal dari kenyataan pahit berikutnya. Sadar atau tidak cinta mereka adalah cinta yang mustahil dan terlarang. Mereka bukan hanya tidak diijinkan bersama tetapi status dan asal mereka benar-benar jauh beda. Fiko seorang raja Vocare dan Ray adalah rakyat biasa. Dilihat dari siapa mereka, Ray adalah Azzo yang sebenarnya tidak ada dan Fiko adalah manusia Naolla. Ini bukan perkara mudah bagi mereka kedepannya. Selagi  ada Naolla dan Vocare, cinta mereka akan menemui kendala sulit yang sangat-sangat sulit. Sekarang Ray telah menjadi otak Fiko dan Fiko adalah tangan Ray. Mereka akan berjalan bersama-sama melewati sisa-sisa hidup di bumi namun mereka juga harus siap jika suatu saat mereka harus pulang ke Naolla.
Embun mulai turun mendatangi malam yang sudah menuju pagi itu. Disana waktu telah menunjukkan pukul 00.54. Dengan berangkulan mereka menuju sepeda. Mereka mengambil sepeda masing-masing dan menuju rumah dengan perasaan lega. Disaksikan rembulan, cinta mereka baru dimulai dari jalan ini.
***
Melihat pemandangan pagi di Toshirojima yang dingin semakin membuat Adam tertarik untuk berlari lebih jauh. Pagi ini Adam memang sedang jogging di sekitaran jalan Toshirojima. Keadaan desa yang tenang membuat Adam betah untuk tinggal beberapa saat disini. Disalah satu sudut jalan, tampak seorang nelayan sedang memberi makan beberapa kucing. Karena penasaran, Adam mendatangi orang itu.
“Pagi tuan. Sedang memberi makan kucingnya ya?”, tanya Adam.
“Pagi nak. Ini kucing liar yang kami sering beri makan”, jawabnya ramah.
“Bolehkah saya ikut memberi makan kucing ini tuan?”.
“Silahkan. Ini ada ikan yang telah saya persiapkan. Tinggal di berikan pada mereka saja”. Tuan itu menyerahkan beberapa ikan segar didalam sebuah mangkuk pada Adam.
Adam mengambil mangkuk tersebut dan mulai memberi makan kucing-kucing itu. Beberapa kucing tampak tak sabaran menunggu makanan dari Adam sehingga mereka mencakar mangkuk yang dipegang Adam.
“Lucu sekali mereka ini ya tuan. Tuan belum melaut?”.
“Saya melaut malam sampai subuh saja”.
“Wah sudah habis nih, ikan dimangkuk saya. Kalau begitu saya mau jogging lagi tuan. Terimakasih ya sudah mengajak saya memberi makan kucing”. Adam berdiri.
“Selamat bersenang-senang anak muda”.
Adam melanjutkan lari-lari kecilnya.
Sementara dirumah Fiko, Fiko sedang tampak bahagia memeluk Ray. Dia terbangun karena dibawah sana sesuatu beregerak-gerak karena tegang. Benda kejantanan Fiko mengacung tinggi seperti kerucut pada celananya. Dia sangat terangsang pagi ini, maklumlah kalau pagi-pagi benda pria sejati akan mengacung tegak seperti ini. Dia benar-benar pusing menahan hasratnya apalagi didepannya telah tidur pulas Ray yang tampan. Pelan-pelan dia lepaskan pelukannya dan meraih benda yang masih terbungkus celana itu dengan tangannya. Fiko mulai mengurut penisnya sedramatis mungkin. Dia sesekali memandangi wajah Ray sambil mengurut penisnya yang besar itu. Fiko tak tahu lagi harus seperti apa, dia tak sanggup menahan hasratnya. Dengan nekat, dia raih tangan Ray dan mengarahkannya ke penis terbungkus itu. Karena dirasa Ray masih tidur, dia pun berani memelorotkan celananya hingga mencuatlah batang besar yang indah itu. Batang kejantanan Fiko besar dan panjang dengan bentuk yang indah pula. Ternyata Fiko tidak mengenakan celana dalam sehingga ketika celananya diturunkan mencuatlah benda indah itu. Saking besarnya, tangan Ray tidak sanggup menggenggam penuh batang Fiko. Fiko benar-benar terangsang berat kali ini. Tangan Ray dia gerakkan turun naik mengocok penisnya. Fiko terpejam merasakan lembutnya tangan Ray yang menyentuh bendanya. Namun karena Ray bergerak, dia buru-buru melepas tangan Ray dan memasukan penisnya kedalam celana kemudian bangun dari tempat tidur. Dia segera kekamar mandi sebelum berangkat melaut.
Setelah rapi mengenakan baju, Fiko kembali kekamarnya mendatangi Ray yang masih tetidur pulas.
“Ray, aku berangkat dulu ya sayang. Jangan nakal di tempat kerja”. Sebuah kecupan lembut mendarat di pipi Ray. Segera Fiko bangkit meninggalkan Ray dikamar dan menuju ketempat tuan Takeshi.
Mengayuh sepeda menyusuri jalan memang sudah biasa bagi Fiko. Wajah tampannya tampak bersemangat sekali pagi ini. Di ujung pandangannya tampak seseorang sedang berjalan. Semakin dekat, wajah orang itu semakin jelas dan ketika mereka sudah dekat, orang itu menghalangi jalan Fiko.
“Maaf Fiko. Aku mau tanya sesuatu denganmu”. Orang itu adalah Adam.
Tanpa turun dari sepedanya, Fiko tampak tidak senang dengan adanya Adam.
“Pasang wajah biasa saja dong nelayan. Jangan sinis begitu. Hahaha… Bagaimana ciuman tadi malam? Tampaknya kamu tidak rela aku ganggu”. Adam mengejek Fiko.
“Mau kamu apa Adam? Mau mengancam Ray? Atau mau mengancam aku?”, tanya Fiko.
“Hrrmmmm … Aku berfikir, dari pada aku mengancam Ray lebih baik aku menikmati Ray. Aku penasaran dengan bibirnya yang membuat kamu tampak sangat menikmatinya tadi malam”.
Fiko akhirnya turun dari sepeda dan menjambak baju Adam. “Kamu mau mati Adam? Mau ku penggal kepalamu?”.
“Mengancam? Aku tidak takut!!!”. Adam memukul perut Fiko hingga Fiko mundur kesakitan dan melepaskan tangannya.
Fiko menyerang balik dan dengan cepat sekali dia telah berada di belakang Adam lalu ditarik baju pemuda itu kemudian dia lemparkan kepinggir jalan seperti sebuah mainan kecil.
Adam kaget bukan kepalang melihat kecepatan dan kekuatan Fiko.
Fiko mendekati Adam yang terduduk ditanah.  Fiko melihat kesekitar daerah itu seperti memeriksa apakah keadaan disana aman dari orang yang melihat. Sejenak kemudian, Fiko mengeluarkan lingginya.
“Fi-Fi…Ko? K..Ka..Kau. Si-si-a-pa?”. Adam tampak gugup melihat Fiko yang bisa mengeluarkan kapak berapi dari tangannya.
“Jangan macam-macam denganku Makhluk bumi!”. Fiko menodongkan lingginya ke wajah Adam. Matanya sangat marah sekali. “Ini baru awal”. Blap! Linggi itu lenyap dari tangannya. Fiko sebenarnya tidak mau melukai siapapun kecuali dia memiliki linggi sama seperti dia. Karena ia rasa tidak terlalu penting membunuh Adam maka diapun mengambil sepedanya dan meninggalkan Adam yang masih tebengong-bengong memandanginya hingga jauh menghilang dibelokan jalan.
Dibalik bukit Toshirojima ada empat orang aneh berpakaian hitam tampak duduk berbincang-bincang di bawah sebuah pohon.
“Akhirnya kita sampai dibumi. Dimana orang-orang ya?”, tanya Creasa.
“Jangan pedulikan manusia, sebaiknya kita segera menangani Fiko dan Ray”, kata Alian.
“Aduh capek sekali tubuhku. Tadi jatuh bebas sih”. Koloji memegang pinggangnya yang tampak sakit.
“Sudah aku bilang kita akan sampai tetapi kamu masih duduk tadi. Seharusnya kan kamu pasang kuda-kuda. Untung kita tidak mendarat di pinggir jurang kalau tidak, bisa mati kamu”, Vehu menyahut perkataan Koloji.
“Mataku mengantuk nih, aku mau tidur sebentar ya”. Alian merebahkan tubuhnya dan menggunakan kedua tangannya yang dilipat kebelakang sebagai bantal.
“Jangan terlalu nyenyak tidurnya”, tegur Koloji.
“Kita akan mulai mencari Ray setelah memulihkan tenaga sebentar. Ingat Ray, bukan Fiko”,tegas Creasa.
“Sebenarnya aku tidak begitu mengerti mengenai strategi penangkapan kita kali ini Cre. Bagaimana dengan Fiko? Apakah Ray sudah cukup?”, tanya Vehu.
“Mungkin kamu bisa jelaskan pada Vehu, Koloji”.
“Baiklah. Sejak awal kita tahu bahwa Fiko membenci tuan Sukaw. Dia akan berusaha merebut kembali Hrewa Kufe suatu saat nanti. Fiko bersedia menjadi pelindung Ray untuk Naolla agar tuan Sukaw yang menginginkan tubuh Ray tidak mudah mengambilnya begitu saja. Selain itu Fiko juga orang yang tepat karena dia adalah Yuari eksekutor terlatih maka dari itu Loka Fugk memilihnya bersama Ray dipersembunyian”, Koloji menjelaskan.
“Kalau Fiko berbahaya bagi kedudukan tuan Sukaw mengapa kita fokuskan pada Ray saja? Bukankah kita sebaiknya membunuh Fiko dan merebut Ray?”. Vehu tampak masih bingung.
Cre mengambil ulat yang tampak meniti daun disampingnya, kemudian dia putus tubuh ulat itu menjadi dua. Perlahan dia arah kan kebarisan semut ditanah dan tampaklah beberapa semut berusaha mengangkat tubuh ulat itu untuk di bawa kesarang. Cre langsung mengambil tubuh ulat itu yang telah di penuhi semut kemudian membunuh satu persatu semut itu hingga tak bersisa dan mengambil tubuh ulat kembali sambil memeperlihatkannya pada Vehu. “Fiko adalah semut dan Ray adalah ulat. Sekarang kamu mengerti kan Vehu?”, tanyanya.
Vehu mengangguk-angguk paham.
Bunyi dedaunan kering tertiup angin terdengar merdu. Sesekali terlihat dedaunan itu baru jatuh dari dahan atau rantingnya.
Hari semakin meninggi yang akan membawa semangat Ray tertuju pada penginapan nyonya Aiko untuk bekerja. Setelah makan, diapun mengayuh sepedanya menyusuri jalan menuju tempat kerja dibawah sinar matahari yang berada diatas kepalanya. Sebenarnya dia masih agak takut untuk kepenginapan itu karena insiden tadi malam yang seakan membuat wajahnya hilang ketika nanti bertemu dengan Adam. Tetapi dia sudah siap untuk menghadapi Adam jikalau dia macam-macam dengannya. Tak berapa lama dia sampai di penginapan nyonya Aiko. Dia masuk keruang kerja untuk berganti baju terlebih dahulu kemudian mengambil penyedot debu. Sesekali dia menoleh kearah kamar Adam yang nampak tertutup rapat. Baru Ray memperhatikan kamar itu, munculah Adam dengan mengenakan singlet putih keluar dari kamar sambil membawa tas punggungnya.
“Hai Ray. Baru datang ya?”, tanya nya Ramah. Adam mengenakan kacamata hitam. Sepertinya dia mau keluar.
Ray tidak menjawab pertanyaan Adam dan berharap agar Adam lekas meninggalkannya.
Adam hanya tersenyum nakal sambil mengerakkan bibirnya seperti mengecup kepada Ray. Benar saja, Adam ternyata mau keluar entah kemana yang jelas sepertinya dia mau jalan-jalan.
“Ray… kemari sebentar”, panggil nyonya Aiko dari arah luar.
Segera Ray meletakkan penyedot debunya dan menghampiri nyonya Aiko. Tampak dengan senyum mesum Adam berdiri didepan meja resepsionis memandang Ray. Ray agak aneh dengan tatapan Adam. Apakah Adam sudah menceritakan kejadian tadi malam pada nyonya Aiko?
“Ya nyonya ada apa?”, tanya Ray.
“Tuan Adam ingin kamu menemaninya berkeliling disekitar sini jadi kamu tidak usah membereskan kamar-kamar terlebih dahulu”.
“Tapi saya…”. Ray berusaha mencari alasan.
“Saya rasa nyonya Etsuko bisa menggantikan mu untuk sementara waktu. Pergilah Ray”.
“Baiklah nyonya”. Ray tidak berani membantah perintah atasannya dan tampaknya nyonya Aiko telah menerima uang dari Adam sehingga apabila dia menolak mungkin nyonya Aiko akan bersikap kurang ramah padanya. Dengan segera Ray mengambil jaketnya dan menemani Adam berjalan-jalan disekitar pulau.
“Ray, kok diam? Aku tidak membayarmu untuk diam kan?”.
“Siapa yang menyuruh kamu memberi uang pada nyonya Aiko?”, tanya Ray ketus.
“Bukan siapa-siapa sih tapi aku kan mau ditemani sama kamu Ray”.
Ray berjalan agak cepat seolah-olah akan meninggalkan Adam.
“Sewot nih…”, goda Adam. “Tunggu dong Ray”.
“Badan aja kekar, tapi jalan kaya keong!”.
Adam berlari kecil mengejar Ray dan kemudian memegang tangan Ray. “Ray, kamu mengapa begini? Apa aku salah denganmu?”.
Ray berhenti sejenak. “ Aku tidak suka dengan sikapmu yang tidak sopan Adam”.
“Maafkan aku Ray. Aku tidak bermaksud apa-apa kok. Aku hanya ingin menjadi pacar mu Ray. Aku sakit! Aku suka dengan pria sepertimu”.
Ray terdiam menata mata Adam. Didalam pancaran mata Adam dia temukan sesuatu yang berbeda dari sekedar cinta. Tentu saja ini bukan perkara mudah untuk membaca mata orang lain namun ternyata Ray bisa melakukannya.“Aku sudah punya kekasih”, tolak Ray.
“Fiko? Dia kah orangnya? Apa kamu tidak tahu bahwa Fiko itu iblis? Dia bisa mengeluarkan kapak berapi dari tangannya”, kata Adam.
Ray terdiam kaget karena dari mana Adam tahu kalau Fiko bisa mengeluarkan linggi dari tangannya. “Kamu sebenarnya mau kemana?”. Ray berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Kebukit itu Ray”, tunjuk Adam.
“Jalan sini saja”. Ray melepaskan pegangan tangan Adam dan mengajaknya mengikuti langkah kakinya.
Sebenarnya bukit yang dimaksud hampir mirip gundukan tanah yang ditumbuhi pohon saja. Namun dari atas sana bisa memandang lautan luas dengan suasana yang teduh dan nyaman.
Setelah menaiki jalannan yang agak menanjak, sampailah mereka diatas bukit tersebut.
“Akhirnya sampai juga. Wah indah sekali pemandangan dari sini Ray”. Adam berdiri memandang takjub lautan luas yang terhampar didepannya.
Sementara Ray duduk di tanah dengan kaki diluruskan dan bertumpu pada tangannya.
“Ray foto aku dong”. Adam mengeluarkan sebuah kamera digital dari tasnya dan menyuruh Ray mengambil beberapa gambar untuk kenang-kenangan. “Sekarang aku yang fotoin kamu Ray”. Adam mengambil kameranya untuk gantian memoto Ray yang tengah duduk. “Ih, kamu cakep sekali Ray”, puji Adam.
“Tidak juga”.
Adam duduk disamping Ray dan merangkulnya, dia bermaksud mengambil foto mereka sedang berngkulan.
“Jangan kurang ajar ya Adam. Lepaskan tangan kamu dari pundakku”.
“Aku mau kita berdua foto bareng Ray”.
“Tapi nggak usah pakai rangkul aku gitu dong”. Ray mulai tidak nyaman dengan sikap Adam.
“Baiklah”. Adam melepas rangkulannya dan mulai mengambil beberapa foto mereka berdua.
“Coba kamu lihat Ray, baguskan foto-foto kita?”, tanya Adam sambil melihat hasil foto-foto mereka dikamera digital.
Cuaca memang cerah dan bersahabat.  Diatas bukit ini suasana sepi dari orang-orang namun entah mengapa dari tadi Ray mendengar ada orang yang sedang berbincang. Ray bangkit dari duduknya dan mencoba mencari asal suara itu. Dia perhatikan sekeliling bawah bukit dan tampak disamping sebuah pohon, empat orang mengenakan pakaian hitam sedang duduk berbincang-bincang. Mereka adalah Yuari Vocare yang mengincarnya.
“Ayo kita segera melaksanakan tugas. Lebih cepat lebih baik”, kata Alian.
Ketiga temannya pun bangkit mengikuti langkah kaki Alian.
“Ada apa Ray kok terlihat bersembunyi begitu?”, tanya Adam yang menghampiri Ray.
“Stttt… Diam Adam. Ikuti aku”. Ray mengendap-endap menjauh dari orang-orang itu.
“Siapa mereka Ray? Mereka tampak seperti penjahat?”.
“Sudah jangan banyak bicara. Kamu mau dipenggal kepalamu?”.
“Mereka temannya Fiko?”. Adam ingat omongan Fiko tadi pagi yang sama dengan apa yang diucapkan Ray dan dia berfikir bahwa orang-orang berbaju hitam itu adalah teman Fiko.
Kaca mata Adam yang dia taruh di kerah bajunya terjatuh maka dengan segera Adam mengambil kacamata itu. Namun nasib sial menghampiri Adam, tanpa sengaja dia terpeleset setelah menginjak sebuah batang kayu. “Wawww!!!”. Buru-buru dia menutup mulutnya agar ai berhenti besuara.
“Ada orang yang mengintai kita. Disana!”, tunjuk Vehu pada Adam yang masih terjatuh.
Melihat orang-orang itu mengejarnya, Adam tak lagi memperdulikan kacamatanya dan lari menjauh.
“Ray kabur….”. Adam lari cepat sekali.
Melihat Adam berlari ketakutan, Ray akhirnya lari sekuat tenaga dan sejauh mungkin agar tidak terkejar. Dibelakangnya tampak Adam dan para Yuari yang berlari mengejar mereka.
Ray terus berlari menerobos lebatnya pepohonan didepan matanya. Trak! Sebuah linggi batu hampir mengenai kepalanya namun meleset dan tertancap di batang pohon.
“Adam kesini!”, Ray berbelok kekanan mengikuti nalurinya.
Dengan cepat Adam mengikuti Ray. Dia nampak tegang dan tak tahu harus bagaimana? Kondisi tanah yang bergelombang dan dipenuhi akar-akar pohon memerlukan konsentrasi untuk berlari agar tidak terjatuh. Jikalau mereka sampai terjatuh, maka habislah riwayat Ray. Adam sekarang sudah tahu siapa Fiko dan sebaiknya dia juga tahu siapa Ray agar nantinya dia tidak menyesal pernah menyukai Ray. Ray memeperlambat larinya. Setelah cukup lama berlari akhirnya para Yuari tak terlihat lagi mengejar. Nafas mereka terengah-engah dan sejenak mereka berhenti untuk menarik nafas.
“Si-apa mereka Ray?”, tanya Adam sambil menarik nafas.
“Adam… tolong kamu rahasiakan ini pada orang-orang diluar sana ya. Mereka, aku dan Fiko adalah orang dari luar bumi. Kami berdua bersembunyi dibumi dari kejaran orang-orang tadi. Fiko adalah raja yang tahtanya direbut oleh tuan dari orang berpakaian hitam tadi. Jadi jangan heran kalau mereka berniat menangkapku karena kami adalah buronan mereka”. Ray menerangkan permasalahnanya pada Adam sambil duduk.
“Kalian penjahat Ray?”, tanya Adam.
“Aku adalah orang yang dicari mereka karena aku bisa memberi mereka jutaan kapak seperti tadi. Aku dilindungi Fiko agar dunia kami tidak dikuasai oleh si jahat tuan Sukaw, pemberontak kerajaan yang dipimpin Fiko. Namun sangat disayangkan, aku tidak bisa membuat kapak untuk diriku sendiri. Jadi ini sebenarnya situasi gawat Adam. Namun jangan khawatir, kita harus tetap fokus dan mencari rumah penduduk dan jika aku tertangkap aku sarankan kamu segera menemui Fiko”.
“Lalu bagaimana nasib kita Ray? Aku benar-benar syok berat kali ini. Aku seperti bermimpi”.
Matahari mulai condong kebarat yang menandakan hari telah sore dan sebentar lagi senja.  Di antara lebatnya pepohonan, tampak bayangan para Yuari. Dengan segera Ray memberi kode pada Adam aagar mengendap-endap manjauhi mereka. Ketika sedang berusaha kabur sebuah kapak batu kembali melayang kearah meraka dan kini mengenai dada kanan Adam walau tidak terlalu dalam namun membuat dada Adam mengeluarkan darah segar dan bajunya sobek.
“Arggghhh, aku terkena Ray”. Adam memegang dadanya dan tetap berlari.
“Kejar mereka!!!”, teriak Cre.
Trak,trak,trak,trak! Bertubi-tubi linggi mereka melayang menuju Adam dan Ray namun masih sempat dihindari. Keberuntungan yang dimiliki Ray adalah karena sekarang berada dihutan yang dipenuhi kayu sehingga sangat sulit terkena linggi itu.
Para Yuari Vocare itu tampak sulit untuk dikalahkan. Mereka adalah Yuari terlatih dibidangnya.
Tiba-tiba Adam terjatuh sehingga Ray menghentikan larinya dan menghampiri Adam.” Adam ayo”.
“Tidak Ray, mereka mengincarmu dan sebaiknya kamu cepat lari tak usah menghiraukan aku. Aku baik-baik saja. Cepat Ray!”.
“Tidak Adam! Aku harus membawamu hidup-hidup”.
“Hahahaha.. ulat kita datang kesarang burung sendirinya”, kata Koloji.
“Benar-benar tepat sekali Hajunba itu”. Alian mendekati tubuh Ray yang tampak melindungi Adam yang terjatuh.
“Aku bisa saja memberikan tubuhku pada orang ini jadi jangan coba-coba mendekatiku atau kalian pulang dengan tangan hampa”, ancam Ray.
“Kamu kira kami bodoh Ray? Dia itu manusia bumi jadi mana mungkin kamu bisa memberikan tubuhmu padanya”, kata Alian.
Ray benar-benar terdesak.
“Orang asing! Jangan ganggu Ray! Hadapi aku dengan tangan hampa sekarang juga”. Adam bangkit dan menantang para Yuari.
“Gila kamu Adam. Jangan bertindak seenakmu. Mereka ini pasukan kerajaan terlatih mana mungkin kamu menang”. Ray mencegah Adam.
“Kalau dibiarkan mereka akan dengan mudah mengambilmu Ray”.
“Hiaaattt”, tanpa banyak bicara lagi Vehu mengacungkan pukulan kearah Adam.
Adam menangkap tangan Vehu dan terjadilah pertarungan antara satu melawan empat orang. Adam kewalahan dan nyaris jadi balan-bulanan mereka. Ray mengalihkan perhatian mereka dengan melemparkan beberapa batu. Sebagian batu itu mengenai kepala Yuari-yuari itu.
“Sialan!”. Cre berniat mengeluarkan linggi dan melemparkannya pada Ray namun dengan sigap Adam yang meilhat kelengahan mereka berempat menendang kaki mereka kuat-kuat hingga terjatuh dan dia akhirnya lari menghampiri Ray. Mereka kembali berlari menghindari para Yuari.
“Kamu lari didepan aku Adam”.
“Tapi Ray…”.
“Lari cepat!!!”, Ray tampak marah dengan Adam yang tidak menurutinya.
Hal terbaik yang harus mereka lakukan adalah terus berlari menerobos pepohonan dan sesekali menghindari linggi para Yuari itu. Walau kaki mereka sudah jauh menerobos rimbunan pohon namun tak tampak jalan keluar. Mereka terus berlari sejauh mungkin. Beruntung mereka menemukan jalan dan rumah penduduk. Segera Ray bersembunyi disalah satu rumah penduduk itu.
“Ayo cepat!”, terdengar para Yuari itu melewati tempat persembunyian mereka berdua.
Setelah tak terdengarlagi suara para Yuari tersebut, mereka keluar dari persembunyian.
“Aduh perih Ray…”. Luka adam terbuka dan mengeluarkan darah.
“Tahan Adam. Aku tahu jalan terdekat kepenginapan dari sini. Ayo cepat”. Ray merangkul badan Adam untuk membantunya berdiri dan segera kembali kepenginapan sebelum senja.
Suara burung-burung laut terdengar ditelinga mereka, secara perlahan Ray menuntun langkah kaki Adam menuju penginapan.
Hari yang melelahkan untuk Ray karena ternyata pasukan Hrewa Kufe telah tahu bahwa dia dan Fiko berada ditempat ini. Dia benar-benar khawatir sekarang karena dia dan Fiko terpisah untuk sementara waktu akibat pekerjaan masing-masing dan jika mereka tahu ini pasti mereka akan mengintai saat-saat dimana Ray sedang sendiri dan jauh dari Fiko untuk menangkapnya. Ray tahu bahwa hari ini dia masih beruntung bisa kabur dari pasukan Yuari itu namun dilain waktu dia tidak bisa memastikan itu.
Tepat senja menjelang Adam dan Ray sampai dipenginapan nyonya Aiko. Adam sudah bisa berjalan sendiri seperti biasa hanya saja luka didada kanannya sulit untuk tidak terlihat.
“Kenapa dadamu tuan Adam?”, tanya nyonya Aiko menghampiri Adam yang terluka.
“Tadi terjatuh lalu tekena serpihan batu nyonya”. Adam berbohong pada nyonya Aiko. “Saya mau kekamar dulu ya nyonya”.
“Hati-hati ya Adam”.
Adam masuk kedalam menuju kamarnya. Didepan pintu berdiri Ray yang membawakan tas Adam.
“Ada apa sebenarnya Ray? Mengapa Adam bisa terluka begitu? Seperti disayat pisau”, selidik nyonya Aiko.
“Dia tadi lari-lari nyonya makanya jatuh dan terkena batu yang tajam”. Ray menutupi kejadian yang sebenarnya. “Kalau begitu saya pamit mau mengantar ini dulu nyonya”. Ray mengangkat tas Adam.
Ray menyusul Adam kekamarnya. Ray membuka pintu kamar Adam dan menaruh tas itu didekat tempat tidur. Adam melepas bajunya sambil membersihkan luka didadanya dengan bajunya yang sobek.
“Awwww… shhhttt”. Tampak Adam meringis menahan perih.
“Adam, itu kotor!  Tunggu sebentar, aku ambilkan pembersih luka dan perban dulu diruanganku”. Ray pergi sebentar untuk mengambil perban.
Adam masih saja membersihkan lukanya menggunakan baju. Dia masih ingat kejadian dihutan tadi. Dia tak habis pikir mengenai cerita Ray. Mungkin dia tidak pernah menyangka bahwa Ray adalah makhluk di dunia lain.
Ray kembali kekamar Adam sambil membawakan kotak pertolongan pertama. Ray duduk disamping Adam dan mengeluarkan alkohol kemudian meneteskannya pada kapas dan mulai mengusapkan pada luka Adam yang cukup panjang itu. Selagi Ray mengusapkan kapas itu, Adam memandangi lekat-lekat wajah Ray dari dekat. Tanpa terasa tangan Adam bergerak menggenggam tangan Ray. Ray bingung dengan sikap Adam dan menarik tangannya sampai terlepas dari pegangan Adam. Kembali dia menyeka darah yang sebagian mulai mengering dan sebagian masih menetes.
“Pelan-pelan Ray”.
“Iya… kamu tahan bentar”.
“Aku udah gak tahan Ray…”. Adam tersenyum mesum pada Ray.
“Jangan macam-macam Adam… Aku bisa menusuk lukamu ini dengan jariku”, ancam Ray.
Setelah lukanya bersih, Ray mengambil perban dan melilitkannya pada luka Adam.
“Sekarang lukamu sudah selesai aku perban. Sebaiknya kamu makan dulu,nanti aku antar kemari. Jangan lupa juga bersihkan tubuhmu Adam”. Ray merapikan kotak pertolongan lukanya dan meninggalkan Adam sendiri dikamar.
Adam membelai lukanya yang terperban rapi. Dia merasakan kehangatan sentuhan Ray pada dadanya yang terluka tadi. Dia beranjak dari tempat tidur dan mengambil handuknya untuk segera membersihkan tubuh yang tidak terperban selagi Ray menyiapkan makan malam untuknya.
Ray telah membawa makan malam untuk Adam di atas meja dorong. “Adam kayaknya sedang mandi. Adam… aku taruh disini ya makanannya. Nanti kalau sudah selesai kamu bisa panggil aku”. Ray meninggalkan makanan Adam dikamar.
Sementara Adam masih mandi membersihkan tubuhnya yang agak kotor akibat jatuh bangun dihutan tadi.
Gelap talah memanggil senja untuk segera bertukar tempat, lampu-lampu dirumah-rumah pendudukpun telah menyala. Sejenak Adam melamun memikirkan Ray yang bukan makhluk bumi. Sambil memakan makanan yang telah disiapkan untuknya, Adam membayangkan Ray memeluknya dan mau dia cumbui dengan mesra diranjang ini. Dia melampiaskan hasratnya untuk meyetubuhi Ray dengan segera dan mencapai puncak kenikmatan yang sangat langka selama hidupnya. Memikirkan ini kontan saja membuat penisnya berdiri dan dengan cepat dia menghentikan lamunannya.
Dia sebuah penginapan lain, para Yuari itu telah menyamar sebagai tamu dan berpenampilan layaknya manusia bumi. Mereka tampak lebih segar dengan penampilan barunya. Walau wajah sangar mereka tetap tidak bisa disembunyikan dari penampilannya. Mereka menyewa dua kamar untuk mempermudah pengaturan kelompok pencarian dan pengaturan strategi. Di kamar pertama di tempati oleh Vehu dan Alian sementara dikamar seberangnya ada Cre dan Koloji. Udara dan pemandangan langit bumi membuat Vehu ingin memendang bulan yang indah itu.
“Coba kamu lihat bulan bumi itu Al, tampak seperti kue berbentuk sabit ya”, kata Vehu sambil memandang bulan dari balik jendela.
“Itu memang bentuknya tapi ukuran bulan bumi lebih kecil dari bulan kita dan di sekitar bulan itu ada permata berwarna ternyata”. Alian memandangi langit dari lantai. Dia duduk terpukau.
Sementara Vehu duduk dijendela kamar. “Coba kamu lihat Al, ada asap hitam bergerak!”, Vehu menunjuk ke langit yang tak lain adalah awan.
Alian bangkit dan menghampiri Vehu untuk melihat benda yang ditunjuk temannya itu. “Apakah asap itu mau memakan kue langit?”.
“Benar Al dia bergerak mendekati kue langit itu! Apakah makhluk bumi tidak apa-apa?”. Vehu sangat khawatir.
“Biarlah dia memakannya. Manusia saja tidak peduli mengapa kita yang repot?”. Alian cuek saja.
Awan hitam itu akhirnya melintasi bulan dan tidak terjadi apa-apa.
“Tidak Al, dia tidak memakan kue itu. Dia hanya lewat saja. Mungkinkah itu kendaraan manusia bumi?”.
“Bumi memang masih asing bagi kita. Selain kita harus waspada, kita juga harus menjaga diri”.
Alian beranjak menjauh dari jendela dan merebahkan tubuhnya ketempat tidur.
“Permata itu banyak sekali ya Al. Aku tak habis pikir melihatnya. Sangat banyak sekali”, kata Vehu yang memandangi bintang dilangit.
Merekapun kembali diam dan memandangi langit malam dari balik jendela. Bintang-bintang diatas sana masih berkedip manja pada siapa saja yang melihatnya malam ini. Memang Naolla berbeda dengan bumi namun tak sepenuhnya mereka tahu bahwa bumi itu sekarang sudah renta dan akan segera hancur.
Dimalam yang kian meninggi hanya dinginlah yang menemani Toshirojima melepaskan lelahnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar