Hunk Menu

Overview of the Naolla

Naolla is a novel which tells about life of Hucky Nagaray, Fiko Vocare and Zo Agif Ree. They are the ones who run away from Naolla to the Earth. But only one, their goal is to save Naolla from the destruction.

Book 1: Naolla, The Confidant Of God
Book 2: Naolla, The Angel Falls

Please read an exciting romance novel , suspenseful and full of struggle.
Happy reading...

Look

Untuk beberapa pembaca yang masih bingung dengan pengelompokan posting di blog ini, maka saya akan memberikan penjelasannya.
(1)Inserer untuk posting bertemakan polisi dan dikutip dari blog lain;(2)Intermezzo adalah posting yang dibuat oleh pemilik blog;(3)Insert untuk cerita bertema bebas yang dikutip dari blog lain;(4)Set digunakan untuk mengelompokan posting yang sudah diedit dan dikutip dari blog lain;(5)Posting tanpa pengelompokan adalah posting tentang novel Naolla

Kamis, 06 September 2012

Naolla, The Confidant of Gods : Early Feellings


Mata kecoklatan dengan bulu mata yang cukup lebat untuk seorang pria itu menatap tetesan hujan yang masih lebat di luar. Pancaran matanya seolah-olah sedang bercerita tentang kehidupan masa lalu sang pemiliknya.
***
Asap mengepul disetiap sudut gang. Api menyala mebakar kayu-kayu bangunan. Dijalanan tampak ratusan orang yang merupakan Yuari terkapar antara hidup dan mati berlumuran darah. Linggi (Kapak Azzo) berbagai ukuran, bentuk serta terbuat dari bermacam-macam azzo tampak berserakan menutupi sebagian luas jalan. Disinilah semua terkuak. Saat masalah diselesaikan dengan jalan peperangan besar adalah hal yang harus ditempuh oleh pasukan keamanan wilayah-wilayah yang bertikai. Demi satu tubuh yaitu…Hucky Nagaray.
Wilayah Vocare turun dengan kekuatan penuhnya sehingga membuat Loka Fugk harus menyusun strategi spontan terbaik untuk melindungi Ray. Semua orang melindungi Pria ini dengan sepenuh tenaga dan kemampuan mereka. Mengapa Ray begitu penting bagi Pulau Fugk?
Hucky Nagaray adalah Azzo Langit yang bisa diibaratkan sebagai hadiah dari Dewa. Dia memang tampak seperti manusia pada umumnya dengan tubuh kecil, berwajah tampan dan bermata hitam agak kecoklatan. Tetapi dia bukanlah manusia. Dia merupakan Azzo Langit yang diturunkan untuk Raja Vocare X karena dia berhasil menguasai lima Azzo(Tanah,Air,Api,Angin,Roh) dan Percampurannya. Semenjak itu Raja Vocare X tidak pernah diketahui keberadaanya. Banyak yang berpendapat bahwa Ray merupakan reinkarnasi dari Raja Vocare X namun tak sedikit pula yang membenci Ray karena dianggap sebagai penyebab hilangnya Raja Vocare X. Terlepas dari itu semua, Ray sebenarnya adalah Azzo Kosong karena sampai sekarang dia masih tidak mampu memiliki satu Azzo-pun. Oleh sebab itu banyak orang-orang berniat jahat ingin memiliki tubuhnya. Ray tetap bingung mengenai hal ini, dia  Hak Kerajaan Vocare namun semenjak bayi dia sudah dititipkan di Pulau Fugk pada seorang pembuat pedang yang tidak memiliki anak.
“Loka! Sekarang Anda berhak memilih. Fuhk yang Hancur atau Ray kembali ketangan kami?”. Pangeran Fiko Vocare mengeluarkan Linggi Azzo Api yang panjang di kedua tangannya. Tubuh kokohnya yang tampan tak tampak lagi. Luka sudah memenuhi tubuhnya. Perlahan-lahan dengan tatapan mata dingin dia mendekati Loka fugk yang setengah duduk melindungi Ray yang tak sadarkan diri.
“Arghhh!”. Loka mengeluarkan Linggi Azzo Rohnya yang berbentuk bulan Tengkorak. “Pangeran… Ini bukan perkara pada siapa Azzo Langit ini diserahkan. Ta-pi… untuk apa Azzo ini digunakan?”. Loka memegangi dada kanannya yang terluka parah.
“Ini cukup mudah! Ray adalah milik kami. Kami hanya menitipkannya pada kalian untuk sementara. Anda tidak bisa menahan Ray untuk terus disini. Dia harus pulang ketempatku. Untuk apa tujuan aku mengambil Ray, cukup aku yang tahu. Anda hanya perlu menyerahkan Ray padaku”. Didekat Loka, Fiko menodongkan Lingginya dileher Loka.
Loka hanya bisa diam dan Lingginya tiba-tiba lenyap.
***
Treeetttt… Suara pintu dibuka membuyarkan ingatan Ray. Dia menoleh ke asal suara itu. Tampaklah sesosok tubuh berisi nan gagah milik pria tampan yang basah kuyup kehujanan.
“Brrrr… Ray? Kamu tidak jadi ke tempat tuan Lian?”. Fiko menggigil sambil berjalan lewat di hadapan Ray. Otot-otot tubuhnya yang menonjol tampak tercetak jelas di baju dan celananya yang basah kuyup. “Ya sudahlah, terserah kamu mau jawab atau tidak. Memang susah punya Adik pendiam seperti kamu”. Fiko masuk kekamarnya dan mengambil handuk. Dia bergegas kekamar mandi dan melucuti semua pakaian yang melekat ditubuhnya hingga tak bersisa sehelai benang pun. Dengan wajah santai dia menikmati usapan demi usapan tangan pada punggung lehernya. Pancaran air terus membersihkan sekujur tubuh bugilnya yang hampir sempurna.
Waktu sudah menunjukan pukul 06.00 sore. Hujan deras masih saja mengguyur tanah Tashirojima. Segelas teh hijau hangat menemani Ray yang tengah duduk rapat dilantai ruang tengah sambil mengenakan jaket. Ray begitu menikmati air teh tersebut disetiap teguknya. Cahaya lampu yang terang membuat suasana tampak hangat. Rumah gaya Jepang yang mereka tempati ini memang tampak bersih dan tertata rapi. Sudah setahun rumah ini menjadi saksi bisu pelarian Ray dan Fiko dari Dunia mereka. Semenjak Ray berhasil di bawa kembali ke Vocare, di istana terjadi pemberontakan oleh kelompok Sukaw. Mereka kemudian berhasil merebut kerajaan dan juga menginginkan Ray. Akhirnya Fiko sadar bahwa dia harus menyelamatkan Ray dari Sukaw dan dengan bantuan Pulau Fugk akhirnya Fiko dan Ray dapat disembunyikan sementara menggunakan pintu Hujunba ke bumi. Fiko bekerja sebagai nelayan bersama tuan Takeshi sedangkan Ray bekerja disalah satu penginapan di pulau Tashirojima.
“Nih Ray, aku bawakan makanan untuk kamu”. Fiko duduk di samping Ray sambil menyodorkan sebungkus Tempura Udang
“Terimakasih Fiko”.
“Ayo silahkan dimakan. Kamu sakit Ray?”,tanya Fiko sambil memperhatikan wajah Ray.
“Tidak kok”. Ray mengambil makanan itu dan melihatnya. Beberapa tempura yang masih hangat begitu menggugah selera makannya. Ray pun mencicipi makanan tersebut.
“Ray. Kamu pendiam atau pemalu sih? Hampir setahun lebih kita bersama-sama dalam satu rumah namun kita tampak seperti tidak akrab. Aneh kamu ini Ray”. Protes Fiko.
“Apa aku harus membicarakan hal yang tidak penting?”.
“Bukan begitu, tapi aku merasa kita kurang akrab saja. Entah ucapanku ini penting atau tidak yang pasti kita ini adalah orang dari dimensi lain yang bersembunyi disini. Kita orang asing. Hanya aku dan kamu yang bisa menyelamatkan dunia kita dari Sukaw. Tetapi, kita seperti tidak akrab. Jujur aku memikirkan tanggung jawabku pada Kerajaan Vocare dan harapanku hanya ada padamu”. Fiko serius memandang Ray.
Ray tertunduk,”Jadi kamu menginginkan tubuhku? Ambillah jika ini yang kamu mau. Aku bukan makhluk sepertimu. Aku sebenarnya tidak ada”. Ray tampak dingin.
“Bukan Ray, kamu sudah aku anggap sebagai adikku, reinkarnasi dari ayahku. Aku hanya ingin melindungimu dan menyelesaikan tanggung jawabku. Tugasku adalah melindungimu agar tidak jatuh ketangan orang-orang jahat. Itu janjiku pada tuan Dega Yoka”. Fiko memegang pundak Ray. “Anggap aku ini Kakak mu dan berjuanglah bersamaku untuk menyelamatkan dunia kita. Jika kamu sampai jatuh ketangan Sukaw maka kematianmu adalah akhir dari kedamaian dunia kita”.
Ray terdiam. Didalam hatinya dia berfikir bahwa apa yang dikatakan Fiko memeng benar. Dia berdiri dan pergi kekamarnya meninggalkan Fiko sendiri.
“Ray!!”. Fiko berusaha mencegah agar dia bisa menceritakan semua keinginannya pada Ray. “Dasar Aneh! Serba salah aku jadinya”. Dia  meminum teh hijau sisa Ray.
Tetesan air hujan terus menimpa atap rumah dan menimbulkan suara gaduh. Dirumah ini mereka terus bersembunyi dari mata-mata Sukaw yang terus mengincar mereka suatu saat nanti. Fiko tak bisa memejamkan mata, dia tak henti-hentinya memandang wajah Ray yang telah terlelap di kantung tidur. Cahaya lampu tidur seperti tak bisa menyembunyikan kegelisahan Fiko. Ada banyak hal yang membayangi pikirannya akhir-akhir ini yang berkaitan dengan kerajaannya dan Naolla. Naolla akan kacau dikuasai oleh Sukaw. Dia memikirkan nasib seluruh orang Noalla. Di dalam hati dia bertanya,”Apakah Ray tidak peduli dengan Naolla? Aku pikir itu pertanyaan terbodoh didalam hidupku. Ray adalah Azzo dan Azzo hanyalah kekuatan yang dapat membantu warga Naolla. Dia bukan manusia. Mana mungkin dia peduli dengan nasibku, nasib kerajaan dan nasib Naolla”. Fiko menatap wajah Ray dengan teliti. “Ray begitu polos. Dia juga tidak bisa berbuat banyak untuk melawan takdirnya. Mungkin inilah yang membuat dia sering melamun dan berdiam diri karena dia yakin bahwa cepat atau lambat dia akan lenyap sebagai Azzo milik orang lain”.
Tak terasa Fiko tertidur sambil menghadapkan badan ke arah Ray.
***
Pagi hari yang cerah. Puluhan kucing berkeliaran di jalan. Langit tampak tersenyum manis. Daun-daun pohon dan rumah-rumah penduduk masih terlihat basah. Beberapa orang nelayan sudah siap melaut kembali.
Ada sesuatu yang aneh. Ray merasakan pelukan hangat dari seseorang. Karena penasaran, dia perlahan-lahan membuka matanya. “Fiko?!”. Dia kaget dan spontan saja mendorong dada Fiko agar menjauh dari tubuhnya.
“Hrmmmm… Huahmmm.. Ada apa Ray?”. Dengan setengah membuka mata dan masih berada di kantung tidurnya.
“Tidak apa-apa”,jawab Ray sambil bangkit dan merapikan kantung tidurnya.
“A-nehhhh…”.Dia terlelap lagi.
Dengan agak tergesa-gesa Ray mengayuh sepedanya kearah penginapan tempat dia bekerja. Disana dia bertugas untuk menjadi tukang bersih-bersih. Gajihnya tidak begitu besar namun cukup untuk mencukupi kebutuhannya selama sebulan.
“Mengapa kamu terlambat Ray? Tidak biasanya”,tanya nyonya Aiko yang berada di balik meja resepsionis.
“Maaf nyonya. Saya terlambat bangun”. Cepat-cepat dia menuju ruangan ganti pakaian dan mengambil penyedot debu. Disinilah Ray menjalani hari-harinya sebagai tukang bersih-bersih. Ray tidak sendiri, dia memiliki teman yaitu tuan Yamamoto. Beliau bekerja dari sore sampai pukul 12.00 malam. Ray libur satu kali seminggu yaitu pada hari minggu dan tuan Yamamoto libur pada hari senin.
Ray menyedot debu-debu menempel dilantai dengan menggunakan penyedot debu yang dan merapikan tempat tidur. Gorden kamar di buka agar cahaya matahari pagi masuk keruangan tersebut. Suasana heningnya desa yang dipenuhi oleh orang-orang tua dan kucing ini memang begitu cocok untuk rekreasi warga dari kota yang jenuh dengan rutinitas mereka.
“Ray… Kemari sebentar”, panggil nyonya Aiko.
Dengan segera Ray menaruh Penyedot debunya dan menuju meja resepsionis. “Ya nyonya, ada apa?”.
“Kamu tolong bersihkan kamar 20 juga. Tiga hari lagi ada pengunjung dari Tokyo”.
“Baiklah nyonya”. Ray melangkah dengan semangat untuk segera melaksanakan tugasnya.
Langkah kaki bersepatu militer berwarna  hitam tampak gagah dengan paduan celana coklat tuanya melewati lorong gelap dengan penerangan minim lampu obor yang tertancap didinding. Bangunan itu terbuat dari batu andesit. Bulan sabit merah memancarkan cahaya redup di Naolla. Naolla adalah sebutan untuk dunia di demensi yang tak pernah dilihat manusia. Dunia ini terletak di ruang hitam pemisah antara langit. Selama ini manusia hanya mengenal langit dan tak tahu ujungnya. Jika manusia bisa menembus langit, disanalah Naolla ada. Naolla tidak terlalu luas dan hampir seluruh Naolla terdiri dari kepulauan. Pulau-pulau di Naolla bersepakat untuk menjadikan kerajaan Vocare sebagai pemersatu pulau,wilayah dan kerajaan di Naolla. Vocare adalah kerajaan besar dipulau Vocare, sebelah selatan Fugk, yang semua warga dan kerajaannya terletak di satu bangunan megah berbentuk piramid besar bertingkat terbuat dari batu andesit. Piramid batu tersebut dibuat tujuh tingkat yang mana tingkat teratas adalah Istana Kerajaan. Saking besarnya bangunan ini hampir mirip gunung buatan di tengah danau Opgareca yang besar. Orang-orang Naolla menyebut piramid itu Hrewa Kufe. Disekitar bangunan itu,tepatnya di antara danau dan bangunan, di buat beberapa pulau buatan sebagai tempat pemantau kerajaan. Akses untuk ke Hrewa Kufe melalui jembatan di keempat sisinya.
 Pantulan bulan dipermukaan air begitu memukau mata. Blurrrr… Ikan arwana merah raksasa bertanduk paus yang banyak hidup di danau Opgareca sedang latihan beradu tanduk. Para warga Vocare menyaksikan pertunjukan itu sebagai suatu hiburan dari Hrewa Kufe. Arwana sebesar gajah itu dilatih sebagai pasukan pertahanan air untuk melindungi Hrewa Kufe dari ancaman musuh.
“Ayoooo!!! Kalahkan tanduk besar!”, teriak salah seorang warga dari atas.
“Bantai tanduk kecil! Jangan takut”, timpal salah seorang pria di sebelahnya.
“Hahahaha… Tidak mungkin si tanduk kecil kalah.Lihatlah gaya bertarungnya yang sangat gesit”.
“Jangan pandang dari besar atau kecil tanduknya tapi dari siap atau tidaknya dia melindungi kita”.
“Alah…. Ayo terus!”, kembali dia meneriakan dukungan pada arwana jagoannya.
Para Minsha yang mendidik arwana itu menyuruh para arwana berhenti berlatih dan dilanjutkan dengan latihan lain.
Kembali ke orang bersepatu militer hitam yang mulai memasuki ruangan Sukaw.
“Dimana Diagta?”, tanya pria tua yang duduk di singgasana, pada orang itu.
“Tunggu sebentar tuan. Dia akan membawakan sesuatu untuk anda”. Jawab perempuan itu.
Perempuan ini tampak tomboy dengan penampilan mirip tentaranya. Dia lah Juyu Ahega kepala Yuari bagian pertahanan wilayah kerajaan dan panglima perang.
Dari balik lorong munculah sesosok tubuh berbalut jubah beraksen jaring ikan.
“Apakah aku terlambat? Hehehe”.
“Belum. Kemana saja kamu Diagta?”, tanya tuan Sukaw.
“Maaf tuan, maaf. Ini lihat. Hap! Batu sungai bisa mengapung yang aku temukan di sungai Guasa”. Diagta menunjukan sebuah batu sebesar kepalan tangannya dari balik jubahnya.
Tanpa basa-basi lagi tuan Sukaw mengeluarkan Linggi anginnya dan melemparkan kapak itu kearah batu Diagta hingga batu itu terbelah dua. “Mau kepalamu ku buat seperti itu?”.
“Ti-ti…dak tuan…”. Jawab Diagta yang tercengang takut.
“Makanya jangan cengengesan terus…”,tegur Juyu.
“Apa yang ingin kamu perlihatkan padaku?”.
“Hanya batu itu tuan…”.
“Aku serius Diagta!!!!”. Sukaw membuat dua kapak Azzo dari kedua belah tangannya.
Diagta berlindung di belakang Juyu dengan raut wajah ketakutan.
“Diagta! Tolong jangan bermain-main didepan tuan Sukaw!”. Juyu mencengkram bagian leher jubah Diagta yang bersembunyi di belakangnya dan menyeret pria itu kesinggasana Sukaw.
“Ampun tuan…. Ampun..”.
Sukaw mengangkat dagu Diagta dengan kapaknya. “ Berapa kali kamu melihatku bercanda disaat seperti ini? Hah?! Aku sedang serius Diagta. Jangan barmain-main denganku!”.
Juyu melepaskan cengkramannya.
“Aku serius tuan. Batu itu penting”.
“Penting? Batu itu menurutmu penting?????!!!”. Sukaw sangat marah.
“Lihat batu itu tuan”. Diagta bergegas mengambil batu yang terbelah dan menyatukannya kembali.
“Aku tak butuh orang sepertimu!!!”. Sukaw melemparkan kapak nya kearah Diagta.
Hampir saja kapak itu membelah kepalanya menjadi dua namun Diagta beruntung, Juyu berhasil membelokan kapak Azzo Sukaw dengan kapak Azzo tanahnya.
“Tunggu tuan. Saya pikir tidak ada salahnya kita beri dia kesempatan untuk menjelaskan tentang batu itu terlebih dulu dan jika dia terbukti hanya mempermainkan kita, saya sendiri yang akan membelah kepalanya”.
Sukaw menarik nafas. “Kalau kau cuma bermain-main maka setelah ini aku perintahkan Yuari untuk mengadakan pemajangan kepala di halaman istana. Kepalamu Diagta! Cepat kamu jelaskan ada apa dengan batu itu”.
Diagta berkeringat dingin karena takut. “Be-begi-ni tuan. Batu ini adalah Hajunba pendek untuk beberapa ikan. Batu ini akan terbuka sebagian jika diletakkan di aliran sungai atau air tawar. Jika kita ingin menemukan Azzo langit maka inilah jalannya. Dengan memanipulasi gelombang dimensinya maka kita akan leluasa menuju seluruh tempat di Naolla. Kita tidak mungkin mengarahkan Hajunba batu ini ke tempat Azzo itu tetapi kita bisa menggunakan ini untuk menyusup ke Rumah Pemerintahan tuan Dega Yoka di Fugk dan mencari Hajunbu tempat Azzo itu diungsikan”, jelas Diagta.
“Bagaimana kita bisa masuk ke dalam batu sekecil itu?”, tanya Sukaw.
“Di sungai ada beberapa batu seperti ini dengan ukuran yang lebih besar. Aku rasa kita akan bisa masuk kesalah satu batu tersebut”.
“Hahahahaha!!! Kamu kadang berguna juga Diagta. Juyu! Lakukan apa yang harus kamu perbuat sekarang”. Sukaw bangkit dari singgasananya dan tertawa senang.
“Baik tuan. Segera saya laksanakan. Ikut aku Diagta”. Juyu meninggalkan ruangan Sukaw diikuti Diagta di belakangnya.
“Huh! Selamat … Aku masih hidup”. Diagta tersenyum cengengesan.
Diruangan Yuari Utama Hrewa Kufe, telah berkumpul pasukan Vocare berpakaian khusus Yuari Vocare berwarna hitam. Mereka berbaris rapi menanti kedatangan Juyu.
“Selamat malam Yuari Vocare. Sadio iola!”, sapa Juyu setelah keluar dari belakang podium dan berdiri di atas podium utama bersama Diagta dan tuan Kamamuja, Patner Juyu yang merangkap sebagai wakilnya.
Serempak ratusan Yuari nan gagah perkasa itu menjawab, “Sadio iola!”.
“Terimakasih. Ada tugas yang harus kalian kerjakan secepatnya. Raja Sukaw meminta kita untuk mengangkut beberapa batu mengapung besar disungai Guasa malam ini juga, karena lebih cepat lebih baik. Bersama kalian akan aku ajak Diagta. Dia akan memberi tahu kita batu mana yang akan kalian bawa ke Hrewa Kufe. Kalian diijinkan untuk membawa lima ekor Kaguka agar mempermudah mengangkut batu tersebut. Mengerti? Sadio iola!”. Juyu menepuk lutut kanan nya tiga kali sebagai pertanda tugas dimulai.
“Sadio iola!”jawab para Yuari sambil menepuk lutut kanan mereka seperti Juyu dan bergegas keluar ruangan.
“Ayo kita juga berangkat”, ajak Juyu pada kedua temannya.
Puluhan orang Yuari terlatih menggiring Kaguka atau kerbau yang berbadan kura-kura berjalan melewati jembatan Hrewa Kufe. Kaguka tidak berjalan pelan seperti kura-kura pada umumnya, mereka bahkan dapat berlari secepat kuda serta memiliki kemampuan khusus yaitu dapat bertahan dan merenang didalam air.
Juyu, Diagta dan tuan Kamamuja masing-masing menaiki Bican yang mirip burung Maleo raksasa berkaki empat. Mereka bertiga berada ditengah barisan diapit oleh pasukan Yuari. Melewati perbukitan yang mengelilingi Hrewa Kufe memerlukan waktu yang lama apalagi Vocare adalah pulau yang cukup luas dengan kebanyakan daratannya hanya perbukitan , gunung dan hutan cemara. Di Naolla tidak seperti dibumi yang hanya terjadi siang dan malam. Disini bulan Merah yang selalu sabit akan digantikan oleh langit Jingga bertabur batu-batu kristal dan kemudian setelah itu akan berganti dengan langit putih berbulan dua yang mereka sebut Difu dan Aste. Difu berwarna hijau dan Aste berwarna biru. Mereka tampak memutari sesuatu dengan cepat sampai mereka kembali tenggelam di utara dan di gantikan oleh Bulan merah yang muncul di selatan dan begitulah siklus itu terjadi sehingga mereka memiliki dua malam satu siang dalam satu hari. siang adalah sebutan saat langit bertabur batu kristal.
“Ikuti anak sungai ini!”, perintah Diagta.
Perjalanan pun kembali dilanjutkan menyusuri anak sungai menuju sungai Guasa yang besar. Cahaya bulan merah tampak menyelinap diantara dedaunan cemara yang tertiup angin. Hentakan kaki Yuari dan para binatang menimbulkan irama tersendiri di sunyinya belantara hutan. Di depan sana, mereka telah melihat gunung berapi yang dekat dengan sungai Guasa. Berarti mereka sudah melalui jalan yang benar dan sekarang gunung itu sebagai patokan perjalanan mereka. Sementara itu bulan sabit telah redup dan perlahan-lahan berganti dengan jingganya langit berhiaskan kristal.
“Huahmmm… Melelahkan saja! Tapi apa kamu tidak lapar Juyu?”, tanya Diagta.
“Tidak”.
“Ketus sekali! Jelek!”. Diagta mejulurkan lidahnya tanda mengejek kepada Juyu.
Juyu hanya berusaha menenangkan diri dan memandang kearah hamparan batu langit yang indah.
“Hahahaha... Juyu kamu kok tidak seperti wanita lain di Hrewa Kufe? Kamu macho sekali. Jadi takut. Kalau-kalau kamu…”.
“Diagta!!!!!”. Juyu akhirnya terpancing dan berusaha menyuruh Bican yang ditungganginya mematuk tubuh Diagta.
“Eits, nggak kena”. Diagta mengisyaratkan pada Bicannya untuk menghindar dengan cara terbang. “Hu…Huy!!! Wanita macho! Hahaha”.
“Awas kau. Bican kejar dia!”. Juyu yang marah mengejar Diagta dan merekapun akhirnya terlibat acara kejar-kejaran diudara.
Tak berapa lama, sampailah pasukan Vocare di sungai Guasa. Disana memang banyak terdapat batu-batu besar. Namun tidak semua batu itu adalah Hajunba.
“Diagta, yang mana?”, tanya tuan Kamamuja.
“Sabar… Tuan tidak lapar? Aku lapar sekali… Aduhhhh”. Diagta memegang perutnya kencang-kencang.
“Kamu mau makan?”.
“Mau tuan…”, jawab Diagta sumbringah.
Dengan agak geram tuan Kamamuja mengambil sebongkah batu sungai dan melemparkannya ke arah Diagta. “Azzo!”. Namun beberapa senti sebelum sampai tubuh Diagta, batu itu hancur menjadi debu berasap yang kemudian dengan cepat menjadi Linggi.
Spontan saja Diagta menghindari kapak tersebut dengan menunduk. “Yah.. Marah! Kayanya Cuma aku saja yang lapar disini. Baiklah aku mau makan dahulu. Sampai nanti ya…”.
Ketika Diagta ingin berlalu pergi. “Tunggu Otak udang! Ini makanan mu!”, cegah tuan Kamamuja sambil memperlihatkan segerombolan ikan di dalam sungai.
“Itu mentah Tuan…”.
Dengan sigap tuan Kamamuja menyuruh Bicannya mengambil ikan-ikan tersebut dengan menggunakan paruh. Beberapa ikan besar menggelepar di tepi sungai dan siap untuk di masak.
Melihat itu, Juyu mendekati tuan Kamamuja. “Aku rasa kita sebaiknya mencari makanan terlebih dahulu tuan. Mengingat batu yang kita angkat nanti cukup besar dan memang kita harus mengisi tenaga terlebih dahulu setelah menempuh perjalanan jauh”.
Menimbang perintah ketuanya, Kamamuja akhirnya setuju. “Baiklah Juyu”.
“Para Bican sekarang cari ikan yang banyak!”, perintah Juyu.
Mendengar perintah pemimpin mereka ketiga bican itu dengan cepat terbang dan mencari ikan disungai Guasa.
“Ayo kita istirahat dulu sebentar”, kata Juyu pada para Yuari.
Sekejap saja ratusan ikan segar mengelepar di hadapan mereka. Para Yuari membuat  api unggun dan mulai membakar ikan-ikan segar untuk menu sarapan mereka. Para Bicanpun dapat bagian.  Sedangkan Kaguka mereka pemakan tumbuhan jadi mereka memakan tanaman yang berada tak jauh dari tepian sungai.
“Kamu baik sekali Juyu.. hehe”. Diagta menepuk Punggung Juyu sambil mengingit ikan panggangnya.
“Cepat makan dan setelah ini cepat tunjukkan batu itu!”. Juyu menangkis tangan Diagta.
“Kalau kenyang kan aku bisa tenang… Boleh nambah?”. Diagta mengambil satu ikan bakar lagi.
“Sudah cukup!”. Juyu melotot pada Diagta.
“Santai Ketua… Marah-marah terus. Oh, mungkin ini ikan bagianmu ya?”.
“Sudah Diagta! Kamu ini sukanya bikin orang marah terus. Ayo cepat di habiskan makananmu”, tegur tuan Kamamuja.
“Baik tuan… Baiklah!”. Diagta melanjutkan acara makannya.
Setelah sarapan selesai, mereka kembali bergegas melanjutkan tugas.
“Yang mana Diagta?”, tanya Juyu.
“Aku masih kekenyangan. Tunggu sebentar.. ya..”, Diagta rebahan di tanah.
“Bangun!!!”. Juyu yang sangat kesal dengan ulah Diagta akhirnya mengeluarkan Azzonya dan melemparkannya kearah Diagta. Kali ini kapak Azzo Juyu mengenai jubah diagta tepat dikedua bahunya sehingga mengekang pergerakan Diagta.
“Ampun Juyu… Jangan potong aku”. Diagta merengek.
“Cepat beri tahu kami!”.
“Kalian telah melihatnya dari tadi. Batu Hajunbu itu , setidaknya, selalu memiliki satu ikan untuk menjaganya disungai. Jadi jika kalian menemukan ikan-ikan yang bergerombol didekat batu dan selalu ada ikan yang tersisa dari gerombolan itu maka itulah batunya”.
Mendengar itu Juyu segera memandangi para Yuari dan berkata, “Kalian dengar? Laksanakan!”.
Dengan segera para Yuari mencari batu yang dimaksud dan memilih-milihnya untuk dibawa ke Hrewa Kufu.
“Otak Udang!”, kata Juyu sambil melenyapkan Azzonya yang mengekang Diagta.
“Halahhh… Yang otak udang itu sebenarnya kamu Juyu. Di ruang  Sukaw telah aku jelaskan bahwa batu itu Hajunba untuk ikan, kamunya saja yang susah berfikir. Bukan begitu?”, ejek Diagta.
Juyu merasa bahwa Diagta ada benarnya juga. Karena merasa di bodohi oleh orang bodoh maka Juyu menyingkir dan ikut mencari batu Hajunba bersama Yuari lain.
Beberapa batu berukuran besar sudah di temukan dan dengan kekuatan otot tubuh para Yuari, mereka mengangkat batu tersebut keatas Kaguka. “Ayo. Satu-dua-tiga!”, serempak mereka mengangkat batu itu kepunggung Kaguka.
Cahaya kilauan batu kristal dilangit sangat menkjubkan mata. Mungkin ini tak akan ditemukan di langit manapun di alam semesta ini. Kristal-kristal itu seperti permata terindah yang pernah ada.
“Sekarang saatnya kembali ke Hrewa Kufe. Sadio iola!”, perintah Juyu.
“Sadio iola!”.
Perjalanan ke Hrewa Kufe kali ini bertambah berat dengan membawa batu Hujunba.
***
Tepian langit memberi warna jingga lautan luas. Di sana sebuah pandangan pria tertuju dari balik kaca gedung. Pria itu adalah Dega Yoka, Loka pulau Fugk yang sedang melepaskan lelah sejenak sambil menikmati indahnya langit Naolla. Dengan mengenakan baju merah hati dan dilindungi plat baja dari leher hingga dadanya, pria ini masih tampak segar diusianya yang sudah kepala empat. Tangannya mengenggam sebuah surat  yang entah berisi apa. Ruangan kerja Loka tampak berantakan dipenuhi berkas-berkas yang harus diselesaikan. Loka berbeda dengan raja, Loka adalah pemimpin sebuah pulau setara raja dan mungkin bisa disebut kepala pulau setingkat presiden. Apabila yang dipimpin adalah wilayah maka sebutan untuk pemimpinnya adalah Cekai. Memang wilayah atau pulau sama saja yang membedakan hanya sebutan untuk pemimpinnya. Loka terdiam diri memandang langit yang indah diluar sana surat yang dia baca ternyata surat permintaan pengujian Hujunba baru oleh Lembaga penelitian pulau pada Loka. Mereka menginginkan Loka untuk segera meluangkan waktu untuk pengenalan teknologi terbaru ini yang nantinya akan bermanfaat sekali untuk warga Naolla. Hanjunba  bukanlah dimensi ruang dan waktu. Hajunba hanya dimensi ruang yang tujuannnya untuk mempermudah pemindahan benda dalam kapasitas kecil dan terbatas. Hajunba kadang digunakan untuk menyelamatkan warga yang terjebak dalam kebakaran atau memindahkan hewan ke tempat yang lebih aman.
“Nevala… Kemari sebentar”, panggil Loka pada bawahannya.
“Ada apa tuan? “, tanya Nevala setelah mendatangi Loka.
“Tolong kau urus jadwalku untuk menghadiri undangan ini dan kirim surat balasan jika kau sudah mengatur jadwalnya”. Dia menyerahkan surat itu pada Nevala.
“Saya mengerti tuan. Akan saya laksanakan”. Nevala kembali ke mejanya dan mengerjakan tugasnya.
Loka menatap langit indah itu sambil berbicara dalam hatinya, “ Sudah lama Ray dan Fiko bersembunyi di dunia sana. Apakah mereka masih baik-baik saja? Tapi tidak ada mereka di Naolla juga semakin memperburuk keadaan disini. Rakyat menderita, barang-barang unggulan hanya bisa di nikmati sekutu Vocare dan wilayah-wilayah yang dulunya damai kini jadi terpecah belah. Aku sadar ternyata Fiko tidak sekejam itu, dia hanya dipengaruhi oleh Sukaw. Aku percayakan Naolla padamu Fiko”. Loka meneteskan air mata mengingat keadaan warganya dan wilayah-wilayah sahabatnya yang semakin memprihatinkan.
Di laut yang cerah Fiko bersama tuan Takeshi sedang memasang jaring ikan. Tuan Takeshi sangat baik pada Fiko dan Ray. Dia sudah menganggap mereka sebagai anak nya sendiri.
“Tampaknya ada yang kurang baik hari ini. Bukan begitu Fiko?”, tegur tuan Takeshi yang melihat Fiko melamun.
“Ya tuan, Cerah sekali. Benar-benar indah pagi ini”. Fiko terbuyar dari lamunannya.
“Melamunkan para gadis ya?”. Goda tuan Takeshi.
“Tidak tuan saya sedang menikmati pemandangan laut yang cerah saja”, elak Fiko.
“Jangan malu nak. Aku juga pernah muda seperti mu”. Wajah tuan Takeshi begitu berseri-seri menunjukkan raut yang ramah.
“Bukan tuan. Hrmmm, aku boleh bertanya sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan nelayan atau laut pada tuan?”.
“Tentu boleh”.
“Ini cuma misalkan saja tuan. Misalkan tuan adalah raja, tetapi tuan bersembunyi dari wilayah kerajaanya yang sedang dilanda pemberontakan. Anda bersembunyi jauh dari kerajaan dan membiarkan rakyat menderita dibawah pemberontakan yang mengambil alih kekuasaan. Apa yang akan tuan lakukan?”. Fiko tampak serius sekali.
“Pertanyaan yang mudah Fiko. Aku tak akan pergi dan akan menderita bersama-sama rakyatku kemudian berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan kerajaanku walaupun jika  Aku harus mati. Aku kan seorang raja, jadi dimana harga diriku kalau aku pergi begitu saja dan membiarkan rakyat menderita”.
“Apabila tuan pergi untuk melindungi hal yang lebih penting, misalkan jika tuan tidak pergi menyembunyikan seseorang yang bisa memperburuk keadaan selamanya maka tak adalagi kedamaian di dunia. Bagaimana?”.
“Disini bararti saya hanya menunda hal buruk akan terjadi bukan menghilangkan keburukan itu. Suatu saat cepat atau lambat, maka apa yang saya sembunyikan itu akan ketahuan juga dan pada saat itulah apa yang saya hindari tak bisa dihindari lagi. Malah dengan saya bersembunyi akan membuat rakyat saya semakin menderita. Saya akan tetap melindungi rakyat saya, karena saya adalah raja”.
Fiko mendengarkan kata-kata tuan Takeshi yang sangat tepat itu. Dia merasa semua kata tuan Takeshi benar. “Terimakasih tuan”.
“Ya. Memangnya ada apa Fiko? Apa kamu seorang raja?”, tanya tuan Takeshi heran.
“O… Ti-tidak… Cuma iseng aja tuan. Jaring kita kayanya sudah dapat ikan”, berusaha mengalihkan pembicaraan.
Fiko dan tuan Takeshi mengangkat jaringnya. Beberapa ekor ikan seukuran tiga jari berhasil didapat. Deburan angin yang kencang, di temani lautan yang biru membuat Fiko agak tenang.
Tubuhnya yang berisi tampak dikucuri keringat. Fiko tak bisa berkata-kata pada tuan Takeshi, dia merasa sebagai raja yang paling bodoh dialam semesta karena membiarkan rakyatnya menderita sedangkan disini dia hidup tenang dan damai.
Sore hari kali ini, Ray telah membuat okonomiyaki dan sashimi untuk makan malam mereka. Fiko yang telah rapi berbalut baju kaosnya segera menghampiri Ray dimeja makan.
“Wah… Enak sekali. Ada perkembangan nih”. Fiko seolah-olah memuji yang tujuannya mengejek Ray karena biasanya menu mereka berdua kebanyakan dimasak oleh Fiko. Fiko mengambil sumpit dan segera menjepit sashimi kemudian ia celupkan ke kecap asin. Tampak dia menikmati setiap gigitan makannannya.
Ray hanya diam tanpa berkata-kata sedikitpun saat makan. Wajahnya hanya memandang Fiko sambil sesekali agak senyum sedikit melihat tingkah lucu Fiko.
Setelah Fiko membereskan meja makan, diapun duduk kembali di meja makan sambil menikmati minuman hangat nya.
“Kamu manis Ray kalau senyum seperti tadi”. Fiko memandangi wajah Ray.
“Itu bukan senyum. Aku Cuma aneh aja liat kamu makan seperti tadi”.
Baru kali ini Ray berbicara dengan raut wajah tersenyum. Fiko yang sudah setahun bersamanya merasakan bahwa ini pertanda baik.
“Apa? Memangnya aku makan seperti apa?”, tanya Fiko sambil menghirup minumannya.
“Seperti belum pernah makan saja”.
“Kan jarang-jarang kamu masak buat aku Ray. Wajarlah aku senang sekali”.
Ray merasa bahwa ternyata Fiko adalah orang yang baik sekali dan memang sungguh keterlaluan bagi Ray yang selalu dingin pada Fiko. Ray bersikap begitu karena dia tahu bahwa Fiko dan orang-orang tertentu menginginkan tubuhnya sebagai Azzo.
“Fiko. Ammmm… Kamu mengapa baik kepadaku?”, tanya Ray.
“Baik? Memangnya selama ini aku tidak jahat dimatamu Ray? Aku kan telah menganggapmu sabagai adikku yang harus aku lindungi. Selama menghabiskan waktu dibumi bersamamu, aku semakin yakin alasan Raja Vocare X meminta mu menggantikan keberadaannya memang bukan main-main”, terang Fiko.
“Kamu tidak membenciku?”.
“Hahaha… Untuk apa? Raja Edka Higudasa pasti punya rencana tertentu untuk ini dan kamu bukanlah yang menyebabkan dia menghilang. Dia sudah menginginkan hal ini terjadi dan berarti ini bukan salahmu Ray”.
“Apakah aku harus hidup sebagai Azzo? Aku mau hidup seperti kalian di Naolla,Fiko. Bisa memiliki Azzo dan membuat Linggi. Hidup bebas mengelilingi indahnya Naolla tanpa takut ditangkap oleh orang lain”. Ray tertunduk.
Fiko merasakan apa yang dirasakan Ray selama ini. Ray selalu tinggal di pulau dan tidak boleh kemana-mana agar keamanannya terjaga. Di pulau pun dia selalu dibenci sebagian orang yang menganggapnya sebagai penyebab kekacauan Naolla. Fiko bangkit dan duduk di samping Ray kemudian dia mengambil kepala Ray dan memeluknya didada.
“Aku tahu perasaanmu. Sejak kecil aku juga selalu merasa terkekang dengan takdirku sebagai pangeran Vocare. Aku dilatih sebagai Yuari dan diajari Azzo api. Aku tidak seperti anak-anak lain yang bisa bermain di luar istana. Aku merasa sendirian di Hrewa Kufe yang besar. Tetapi aku menerima takdirku Ray dan aku sadar hanya aku yang bisa menggantikan ayah. Aku seorang raja Ray”. Mata Fiko tampak menerawang jauh. “Aku raja bodoh yang membiarkan rakyat Naolla menderita dibawah Sukaw”.
Ray merasakan detak jantung Fiko. Fiko ternyata sama seperti dirinya yang merasa terkekang. “Ambillah aku Fiko. Aku siap jadi Azzo mu. Aku rela lenyap di tubuhmu dan kita akan berjuang bersama-sama mengembalikan Naolla yang damai”. Ray memandangi wajah Fiko.
Fikopun menoleh kewajah Ray. Mereka bertatapan menyatukan perasaan yang sama untuk membuat Naolla seperti dahulu lagi. “Apakah kamu yakin ingin menyerahkan tubuhmu padaku?”. Fiko mengusap kepala Ray.
“Jika itu berarti Naolla akan damai aku akan siap Fiko. Aku yakin bahwa kamu bisa menjadi Raja yang besar”.
“Terimakasih Ray kamu bersedia melakukan itu untukku. Aku sebenarnya tak ingin membuatmu lenyap. Aku sudah merasa punya teman yang bisa mengerti siapa aku. Aku tak ingin kehilanganmu Ray”.
“Kamu tidak bisa menolak takdir Fiko. Kamu tidak bisa memintaku untuk terus menemanimu. Aku tidak yakin apakah aku tidak akan dimiliki siapapun. Aku akan terus hidup sampai aku menemukan siapa tuanku”.
“Ray, aku tidak mau mengambil tubuhmu. Aku ingin kamu tetap hidup dan merasakan kebebasan sebagai bagian dari Naolla”. Fiko mendekap erat tubuh Ray hingga lehernya menyentuh wajah Ray.
Ray yang merasakan ketakutan Fiko semakin tak bisa berucap kata-kata, lidahnya kelu dan pikirannya kosong. Perlahan Ray menggerakkan tangannya melingkari punggung Fiko. Tubuh mungil Ray kian tampak berbeda dibandingkan tubuh Fiko yang besar dan berotot.
“Aku ingin kita menjadi rekan yang akan merubah Naolla. Bukankah berdua lebih baik dari pada sendiri?”.
“Aku merasa benar-benar hidup sekarang Fiko”.
Fiko merenggangkan pelukannya dan menatap wajah Ray. “Ray aku punya ide. Kita akan mengasah kemampuan individu kita dan kemudian menyatukan kekuatan untuk melawan Sukaw”.
“Kamu bercanda Fiko?”.
“Tidak. Aku tahu kamu tidak bisa memiliki Azzo dan aku memiliki Azzo. Tapi jika aku adalah tanganmu dan kamu adalah otakku maka kita akan menjadi kuat dan saling melengkapi satu dan lainnya”.
“Bersediakah kamu menjadi tanganku, Raja Fiko?”.
“Bersedia Ray”. Fiko mendekap tubuh Ray kembali dengan tenang.
Gerimis diluar merontokan debu-debu yang melekat di atap rumah. Tiupan angin lembut terdengar mengalun-alun menerpa benda-benda yang dilaluinya. Suasana hening Tashirojima menjadi kian hening karena orang-orang malas keluar rumah saat hujan. Tetapi sebentar lagi musim panas akan tiba dan membuat semua orang ingin menikmati indahnya alam disaat musim panas. Hari yang menyita perhatian alam kali ini ditutup dengan segenap mimpi dipulau kucing.
***
“Nyonya Aiko menaruh ini di meja?”, tanya Ray pada nyonya Aiko ketika dia keluar sambil membawa kotak kecil.
“Oh, itu kado pernikahan saya Ray tadi saya lupa menyimpannya”.
Ray menyerahkannya pada nyonya Aiko. “Nyonya baru ulang tahun pernikahan?”.
“Tidak. Ini gelang kado pernikahan beberapa tahun lalu dari suamiku. Talinya putus jadi aku betulkan dan tadi pagi aku ambil. Terimakasih Ray”.
“Sama-sama nyonya. Kalau begitu saya permisi nyonya”. Ray berlalu pergi.
“Ray tunggu sebentar”.
“Ada apa nyonya?”.
“Kemaren aku memesan ikan pada Tuan Furusawa jadi tolong kamu ambilkan sebentar ya”.
“Baik nyonya”. Ray keluar penginapan dan menghampiri sepedanya yang terparkir disamping penginapan tersebut. Mengayuh sepeda memang hal yang masih sangat familiar di sini. Kendaraan ini lebih efektif untuk kondisi jalanan di Toshirojima. Ray mengayuh sepedanya melewati tepian pantai menuju rumah tuan Furusawa. Dia ingat bahwa didaerah inilah Fiko setiap hari bekerja membantu tuan  Takeshi. Dia berbicara dalam hati,”Fiko mungkin sekarang sedang melaut”, sambil menatap mentari indah yang tengah meninggi di timur. Tak lama kemudian tampaklah rumah tuan Furusawa yang sederhana. Ray memarkir sepedanya terlebih dahulu lalu kemudian menuju rumah nelayan itu.
“Permisi…”.
Tak berapa lama kemudian dari dalam rumah muncul lah seorang wanita tua yang tak lain adalah nyonya Furusawa. “ Oh, Ray suruhan nyonya Aiko kan?”, tanyanya ramah.
“Betul nyonya. Saya mau mengambil ikan pesanan nyonya Aiko”.
“Tunggu sebentar ya”. Beliau pergi mengambilkan ikan yang di maksud Ray. Tak lama kemudian beliaupun telah keluar dengan sebungkus ikan segar. “Ini Ray”.
“Terimakasih nyonya. Kalau begitu saya pamit dulu”, Ray membungkukkan badan sebelum pamit. Ini adalah ciri khas orang Jepang.
“Sama-sama…”. Nyonya Furusawa juga membungkukkan badan.
Ray kembali mengayuh sepedanya.
Di lain tempat di Naolla,Difu dan Aste telah menampakan wajahnya. Mereka berputar-putar diatas langit yang putih.
“Sudah selesai?”, tanya pria itu pada temannya.
“Sudah Brello”, jawab pria kurus tinggi ini pada temannya yang tampan berambut lurus dan panjang sepunggung.
Mereka tampak mengenakan pakaian Yuari Vocare. Mengendap-endap masuk kedalam sebuah ruangan didalam gedung pemerintahan Fugk. Mereka berdua adalah Andnut dan Brello yang menjadi orang pilihan untuk dikirim mencuri pintu Hajunba tempat Ray dan Fiko bersembunyi. Para penjaga telah mereka lumpuhkan sehingga mereka dengan leluasa mengangkat pintu itu dan membawanya keruang dimensi alami terbuat dari batu Hajunba ikan milik Vocare.
Sekejap saja mereka telah sampai di ruang khusus untuk menaruh Hajunba yang dicuri.
“Bagus! Hahahaha …”. Sukaw tertawa senang ketika Hajunba itu telah berdiri rapi dihadapannya.
Ini sebenarnya situasi yang gawat untuk Naolla karena pintu itu terhubung dengan pulau Toshirojima. Jika Yuari Vocare berhasil menangkap Ray maka nyawa Ray bisa terancam dan ini tidak mustahil akan mengancam bagaimana nasib Naolla selanjutnya.
Disudut lain Hrewa Kufe sedang duduk membisu seorang lelaki paruh baya di dalam penjara. Kakinya di rantai dan penampilannya sangat kotor memprihatinkan. Dia adalah Xano sang penasehat kerajaan semasa Fiko Vocare memimpin. Dia dianggap mengahalangi tujuan Sukaw untuk mempengaruhi Fiko dan inilah yang membuatnya terkurung di penjara Hrewa Kufe. Tikus yang mirip armadilo menemaninya didalam penjara memakan sisa-sisa makanan yang diberikan oleh penjaga penjara. Ruangan yang minim cahaya itu dipenuhi jerami dan debu.
“Bagaimana kabarmu Raja Fiko? Masih hidup atau sudah mati ditangan Sukaw? Naolla sedang merintih dibawah Sukaw. Jika anda masih hidup, kembalilah dan rebut Hrewa Kufe dari Sukaw”. Xano berbicara sendiri. Dia sudah beberapa kali mencoba bunuh diri tetapi ternyata dia masih diijinkan untuk tetap hidup. Dari dalam penjara ini dia hanya bisa memandangi gelapnya lorong dan sunyinya kehidupan.
Sekarang waktunya penjaga tahanan memberi dia makanan dan minuman.  Dari arah lorong yang gelap sesosok tubuh tinggi besar tampak menjinjing kotak bersekat berisi makanan dan minuman botol menghampiri sel penjara tuan Xano.
“Makanlah! Pastikan kali ini makanan yang kau makan tidak habis dimakan Ranton”. Dia meletakkan kotak itu di luar sel dan kemudian meninggalkan Xano sendiri.
“Persetan!!!!”, teriak Xano. “Bilang pada Sukaw Brengsek itu bahwa aku pasti akan memenggal kepalanya dengan linggi”.
Seekor tikus mirip armadilo kecil atau disebut ranton mendekati kotak makanan dan mengambil makanan didalamnya. Tak berapa lama datang lagi seekor ranton ikut memakan makanan Xano. Xano hanya terdiam dan seakan membiarkan ranton-ranton itu kenyang terlebih dahulu.
“Makanlah sepuas kalian ranton sahabatku karena aku akan kenyang kalau kalian merasa kenyang”. Tiba-tiba dia mengambil batang jerami dan melemparkannya kearah ranton itu. Crakkk! Ranton itu mati tertusuk batang jerami. “Hahahaha! Ranton sialan! Aku benci melihat kalian semua!”, Xano tampak marah sekali melihat tingkah ranton itu. Sekarang dengan segera ranton yang satunya lari menghindar. Xano mendekati kotak makanannya dan buru-buru makan seperti orang yang tak pernah melihat makanan. Setelah makan, sambil menangis dia ambil jasad ranton itu dan menggantungnya didinding. Ternyata dinding itu telah dipenuhi kulit-kulit rantun dan dipojok penjara itu menumpuk tulang ranton. “ Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana pada kalian ranton. Aku kadang membiarkan kalian makan bersamaku namun kalian tidak bisa diberi hati. Kalian akan terus menghabiskan makananku tanpa peduli makanan itu untuk siapa dan aku sedang apa. Kalian sama seperti Sukaw yang tak punya hati. Raja Edka Higudasa mengangkatmu dari bawah Hware Kufe untuk menjadi penasehatnya namun kini kau yang berkhianat dan merubah wajah Naolla! Keparat!! Iblis berbaju malaikat kau Sukaw!”. Dia lemparkan kotak makanannya ke jeruji besi hingga hancur berkeping-keping.
Druag!!! Sebuah getaran terjadi membuat Xano sedikit kaget.
“Apa itu tadi?”. Dia menoleh ke atas berusaha menebak-nebak apakah gerangan yang sedang terjadi diatas sana.
Ternyata sebuah Dretaju yang bisa dibilang Gorila kuning berdagu sangat panjang yang biasanya digunakan warga Hrewa Kufe sebagai penarik barang sedang mengamuk dibagian atas bangunan.  Dia sedang membanting-banting barang bawaannya kesana kemari. ”Grrrrrrr. Host-host-host!”.
Yuari dengan Cehug nya mencoba menangkap Dretaju. Cehug adalah  semacam ulat besar yang bisa terbang dan memiliki lidah panjang. Yuari memerintahkan cehug menangkap anggota gerak dretaju dengan menggunakan lidahnya. “Tangkap tangannya!”.
Salah satu cehug menjulurkan lidahnya dan menangkap tangan dretaju itu kemudian diikuti oleh para cehug lain untuk menangkap tangan satunya lalu kaki dretaju. Dretaju yang marah memutar tangannya dan melempar kedua cehug itu ke dinding Hrewa Kufe. Cehug yang terlempar tak bisa bangkit lagi namun segera datang cehug lain untuk membantu Yuari. Puluhan cehug secara serempak menangkap tangan, kaki dan badan dretaju sehingga dia benar-benar tidak bisa berbuat banyak untuk melawan.
Akhirnya, walau dretaju sulit untuk ditakhlukkan akhirnya para Yuari dan tunggangannya berhasil melumpuhkan dretaju itu. “Bius dia!”, perintahnya pada seorang Yuari lain.
“Siap tuan!”,sambil menyiapkan tongkat pembius. Tongkat itu memiliki duri-duri tajam dan dengan sekali pukul ketubuh dretaju, dia sudah lemas dan kemudian tak sadarkan diri.
“Cehug, bawa dretaju itu ke markas”, perintah pria yang menyuruh membius dretaju tadi.
Maka segera empat cehug dan ditambah dua cehug lagi untuk mengikat tubuh dretaju menggunakan lidahnya, terbang naik ke tingkat atas tempat markas mereka.
Para warga mulai memunguti barang-barang mereka yang masih bisa diselamatkan dan beberapa dretaju yang masih baik-baik saja kembali menarik barang bawaannya.
Di sebuah pulau yang dipimpin Dega Yoka sekarang akan diadakan percobaan Hajunba oleh Lembaga Penelitian Pulau. Semua orang yang diundang rencananya akan hadir termasuk Loka Fugk. Beberapa orang diatas panggung aula pertemuan pulau sedang sibuk mempersiapkan barang-barang yang akan digunakan pada acara nanti. Sebagian tamu sudah hadir dan menempati bangkunya masing-masing.
Di balik panggung, “Loka, perlukah kita mandiskusikan masalah Ray dan Fiko?”, tanya Vala saat berada bersama Loka di belakang panggung.
“Nanti kita lihat Nevala. O iya, kamu sudah siapkan naskah sambutanku?”.
“Sudah tuan”.
“Tuan Loka apa kabar?”, sapa Cetai wilayah Brundte yang lebih tua dari Loka.
“Baik Tuan Cekai”, sambil menepuk bahu Cekai.
“Katanya pembudidayaan ikan di pulau anda sedang ada kendala ya?”.
“Begitulah Cekai. Ada sedikit masalah dengan air di tempat kami. O, kenalkan ini asisten ku Nevala”, dia memperkenalkan Nevala pada Cetai.
“Nevala , tuan”, sambil menyodorkan bahu.
Cekai kemudian menepuk bahu Nevala tanda dia menyapa atau menghormati Nevala. “Saya Asuido Ogan. Senang mengenal anda”.
“Sayapun demikian”.
“Kembali kepembahasan kita tadi Loka. Kalau ada masalah dengan pengairan untuk ikan, mengapa anda tidak meminta bantuan pada negara sahabat seperti  Sandara yang memiliki air yang cocok untuk budidaya ikan ditempat anda?”.
“Itulah masalah kami tuan. Sandara menganggap kami dengan sengaja menyimpan Ray untuk kepentingan pulau kami sendiri yang membuat Sukaw marah besar sehingga membatasi pengelolaan perikanan hanya untuk daerah tertentu saja. Mereka ingin Ray diberikan saja pada Vocare dan kita bisa hidup damai seperti yang dijanjikan Sukaw pada seantero Naolla”.
“Apakah anda mulai berfikir bahwa hanya Ray yang bisa mengubah sikap Sukaw pada kita?”, tanya Cekai sambil mengerutkan dahi.
“Anda tahu sendiri orang seperti apa Raja Sukaw itu dan anda pasti punya pemikiran yang sama dengan saya jika Ray saya serahkan ke Sukaw maka apa yang akan terjadi pada Naolla?”.
Cekai manggut-manggut tanda dia paham dengan perkataan Loka.
“Para hadirin sekalian dipersilahkan memasuki ruangan aula”, kata penyelenggara.
“Wah sudah dimulai tuan”, kata Nevala.
“Ayo kita masuk”, ajak Loka pada Nevala dan Cekai.
Dengan menaiki anak tangga, mereka bertiga memasuki aula dan duduk dibelakang meja diatas panggung. Didepan mereka, para tamu telah duduk rapi ditempatnya masing-masing.
“Selamat malam semuanya. Untuk mempersingkat waktu saya akan mulai dengan memperkenalkan diri saya sendiri. Nama saya Qaza Nuwa kepala Lembaga penelitian pulau. Disamping saya ada Ketua pengamat perkembangan Naolla, tuan Ij Akder. Disebelahnya pemimpin wilayah Brundte, Asuido Ogan dan Loka Fugk, tuan Dega Yoka beserta asistennya Nevala. Sebelum peragaan Hajunba baru ini, kami persilahkan tuan Dega Yoka untuk memberikan sambutan beliau”.
“Terimakasih Tuan. Baiklah selamat malam para tamu yang terhormat. Senang saya bisa menghadiri acara yang sangat ditunggu-tunggu Naolla ini karena selama beberapa abad lamanya kita masih belum menemukan solusi lebih efektif selain menggunakan media pintu sebagai penyeimbang Hajunba. Berkat dukungan dari Lembaga Perkembangan Naolla dan partisipasi Wilayah-wilayah lain, maka terwujudlah penemuan yang sangat luar biasa ini. Sebagai tuan rumah, saya sangat bangga pada hasil kerja Lembaga penelitian pulau yang terus bekerja keras untuk menciptakan Hanjunba ini. Semoga dengan ditemukannya Hajunba ini, para Lembaga penelitian lain akan semakin giat membuat penemuan-penemuan baru dibidangnya masing-masing agar terwujudnya Naolla yang aman,damai dan makmur. Terimakasih”. Loka menyelesaikan sambutannya dengan iringan tepuk tangan para tamu undangan.
“Demikianlah sambutan dari Loka dan sekarang saya akan memperkenalkan Hajunba baru ini pada hadirin sekalian”. Tuan Qaza beranjak dari tempat duduknya dan menuju sebuah benda yang ditutupi kain berwarna merah. Dia membuka penutup itu. “ inilah Hajunba baru kita”.
Semua orang bingung dengan benda itu. Hajunba itu tampak seperti pintu Hajunba terdahulu.
“Tenang saudara-saudara ini memang pintu tetapi bukan ini Hajunbanya. Benda inilah Hajunba baru kita”. Beliau menunjuk sesuatu yang kecil di pojok kiri atas yang mirip seperti mata ikan kecil.
“Wow…”, ucap salah seorang pengunjung terpukau.
“Hajunba ini adalah bagian dari batu karang laut Gtuca dibarat yang jauh. Selama beberapa tahun kami berhasil menemukan jawaban apa yang membuat ikan Auih berimigrasi sangat jauh keselatan. Mereka ternyata memanfaatkan Hajunba ini untuk membawa mereka keselatan dalam masa bertelur. Hajunba ini bisa diatur kemanapun kita akan membawa barang yang kita masukkan kehajunba dengan menggunakan sidik jari, deteksi suara atau benda yang berkaitan dengan daerah tujuan. Selain itu Hajunba kecil ini bisa ditaruh di mana saja termasuk dicincin tangan anda. Namun kabar buruknya, Hajunba ini hanya berfungsi sekali dalam semalam dan kami hanya membuat Hajunba ini kurang dari tujuh ratus buah jadi bagi anda yang berminat silahkan hubungi bagian lembaga penelitian pulau secepatnya”.
Setelah acara bubar. “Sangat mengesankan tuan. Kami akan membuat tim pengawas untuk penggunaan Hajunba ini diluar pulau kita”, kata tuan Qaza pada Loka.
“Lanjutkan Qaza dan aku berharap semoga ini akan lancar-lancar saja sehingga nantinya akan berpengaruh besar pada keadaan pulau kita”.
Mereka berbincang sambil berjalan di lorong untuk menuju keluar ruangan.
Tiba-tiba dari arah samping datanglah salah seorang anggota penelitian menghampiri Qaza dengan tergesa-gesa tampaknya dia tidak menyadari bahwa ada Loka disitu. Setelah dia melihat Loka maka tampak raut wajahnya yang kaget. Qaza yang tidak menginginkan kehadirannya, segera memberi isyarat agar dia menyingkir. Orang yang datang tadi akhirnya berbalik arah meninggalkan tempat tersebut.
“Maaf Loka, saya ada yang harus dikerjakan dahulu. Terimakasih saya ucapkan atas kehadiran anda pada acara ini”, sambil menepuk bahu Loka.
“Sama-sama tuan Qaza”. Merekapun berpisah.
Tuan Qaza bergegas mengejar orang tersebut. “Siot! Tunggu!”.
Siot menghentikan jalannya dan menoleh ke arah tuan Qaza.
“Ada masalah apa?”.
“Maaf tuan. Kami penjaga Hajunba Ray tak bisa berbuat apa-apa. Hajunba itu telah dicuri dari dalam ruangan penyimpanan. Tampaknya Yuari Vocare dalang dari semua ini”.
“Mengapa bisa begini? Padahal ruangan itu telah dinetralkan dari masuknya Hajunba. Tolong kamu rahasiakan ini untuk sementara waktu dari umum. Masalah ini biar aku saja yang akan memberi tahu Loka”.
“Baik tuan”.
Tanpa diketahui mereka berdua bahwa Nevala yang keluar belakangan tak sengaja mendengar perbincangan mereka berdua.
Di luar ruangan, Nevala yang mendengar hal tersebut langsung memberi tahukannya pada Loka.
“Ini hal yang gawat! Bisa-bisanya mereka merahasiakan ini. Ayo kita keruangan Qaza sekarang juga”. Dengan wajah yang agak kesal, Loka berjalan menuju ruangan Qaza.
Sesampainya diruangan itu, Loka dipersilahkan masuk dan langsung memarahi Qaza.
“Mengapa anda merahasiakan masalah ini pada saya tuan? Ini adalah masalah serius dan bukan masalah pulau saja. Ini menyangkut Naolla”, kata tuan Loka.
“Saya paham tuan tetapi saya tidak bermaksud menunda untuk memberi tahu tuan, saya hanya ingin memikirkan cara terbaik untuk menemukan atau mengantisipasi hal buruk terjadi. Saya tidak ingin di cap sebagai orang yang tidak bertanggung jawab tuan. Saya harap anda bisa mengerti saya”.
Mendengar itu Loka bisa menerima alasan Qaza. “ Baiklah kalau begitu. Segera ke gedung pemerintahan dan buat pengumuman rapat terbatas membahas masalah ini. Beri tahukan ini pada pasukan Yuari dan anggota anda”, pinta Loka.
“Siap tuan”.
Loka akhirnya pamit pergi diikuti oleh Nevala.
Langkah tegap ketua pasukan Yuari Fugk yang mengenakan baju merah khas Yuari Fugk berjalan menuju ruang rapat. Didalam ruangan telah berkumpul beberapa anggota Lembaga penelitian pulau bersama Loka dan Nevala.
Rapat pun segera dimulai setibanya tuan Karveo. Mereka membahas mengenai masalah hilangnya pintu Hajunba Ray yang diduga dicuri Vocare.
“Ini bukan menyangkut siapa yang mencuri tapi kita harus mencari tahu tujuan mereka terlebih dahulu”, kata Tuan Loka.
“Bukan rahasia lagi kalau sejak dulu Sukaw menginginkan tubuh Azzo itu. Dia ingin memiliki kekuatan yang tidak bisa dikalahkan oleh siapapun”. Tuan Qaza menyampaikan pendapatnya.
“Saya setuju. Dengan kata lain, tujuan mereka mencuri Hajunba adalah untuk mencari keberadaan Ray dibumi sana dan berniat mengambilnya dan andai saja mereka bisa membawa Ray maka saya yakin Naolla akan segera berada dalam ambang kesengsaraan”, timpal tuan Karveo.
“Maaf semuanya, saya rasa ini memerlukan penanganan serius. Fiko tidak sanggup melawan Vocare sendirian untuk melindungi Ray. Saya pikir kita harus segera menemukan cara lain untuk kebumi dan membantu Fiko melindungi Ray atau kita buat Hajunba lain untuk menuju bumi”. Bwaze, anggota peneliti Fugk, mengemukakan pendapatnya.
“Tidak mudah Bwaze. Kita tahu bahwa untuk menuju bumi perlu Hajunba kuat dan yang paling sulit adalah menemukan tempat mereka berada. Ini memang salah kita karena tidak menengok mereka disana sehingga kita kesulitan untuk menemukan lokasi mereka secara pasti”. Tuan Qaza berpendapat.
“Tidak salahnya kita mencoba dan mengerahkan semua Hajunba terbaik kita untuk kebumi tuan. Bagaimana kalau kita menggunakan baju Ray untuk menemukan lokasi mereka”, usul Bwaze.
“Baju Ray adalah baju Naolla jadi tidak berkaitan dengan bumi. Hajunba baru kita hanya bisa digunakan satu kali semalam sehingga kita perlu perkiraan lokasi terbaik sebelum membuka Hajunba ini karena jika tidak kita harus menunggu satu malam lagi agar Hajunba bisa berfungsi”. Qaza berusaha memberi masukan.
“Anda benar tuan Qaza. Sepertinya jalan terbaik yaitu kita harus melakukan banyak percobaan dengan tujan lokasi bumi untuk menemukan Ray dan Fiko. Kami akan mengerahkan semua yang kami bisa”, kata Karveo.
“Persiapan yang harus kita lakukan adalah menyiapkan Hajunba untuk menuju bumi. Kita mungkin akan gagal namun kemungkinan berhasil masih ada. Kita masih belum pernah menguji coba Hajunba baru ini dengan jarak sejauh bumi. Mungkin kita memerlukan waktu yang lama dalam setiap perjalanan menuju bumi yang jauh”. Tuan Qaza mengambil bukunya dan menulis apa saja yang harus dipersiapkan.
“Sekarang saya mau tahu mengenai kemampuan maksimum Hanjunba baru kita”,pinta tuan Loka.
“Hajunba baru itu memiliki kemampuan khusus yang berbeda dari Hajunba terdahulu. Dengan arahan kita, mereka bisa membawa beberapa orang dalam waktu bersamaan. Hajunba yang dimiliki oleh Fugk hanya tersisa 102 buah karena para pemesan telah membeli Hajunba tersebut. Namun kita tak perlu khawatir akan hal ini, sebab kami akan meminta pada mereka untuk meminjamkan Hajunbanya. Meraka pasti akan meminjamkan kita untuk menemukan Ray”, kata tuan Qaza.
“Siapkan semuanya dan segera bentuk tim khusus Yuari terlatih, tuan Karveo”, perintah tuan Loka.
Dibumi Ray dan Fiko tengah berada di sebuah hutan untuk berlatih. Suasana sore yang indah membuat mereka keasyikan mengasah kemampuan diri.
“Kamu fokus pada kekuatan kamu saja Ray ada banyak cara untuk menemukan kemampuan kita”, kata Fiko sambil melakukan push-up. Peluh yang berkucuran ditubuhnya yang tidak mengenakan baju semakin membuat dia tampak berotot.  Suasana hening dan  sejuknya hutan memang sangat cocok untuk melakukan latihan.
Ray dengan cekatan melakukan Sit-up didekat sebuah pohon. Dia melatih kekuatan fisiknya untuk memulai latihan yang lebih keras nantinya. Beberapa saat melakukan latihan menghindari serangan, mengefektifkan arah linggi dan membaca pergerakan lawan membuat mereka kecapekan. Untuk memulihkan tenaga, meraka sekarang istirahat sebentar sebelum melanjutkan latihan.
“Kamu memang tidak memiliki Azzo tetapi itu bukanlah masalah besar Ray. Azzo hanya membuat orang merasa kuat dan jika mereka tanpa Azzo, mereka hanyalah orang biasa”.
Ray memandang tangan Fiko dan memintanya untuk mengeluarkan linggi. “ Fiko, tolong kamu keluarkan Linggi untukku. Aku ingin menyentuhnya. Sebentar saja”.
Fiko menuruti kemauan Ray dan mengeluarkan Linggi Azzo apinya. Linggi itu merupakan kapak bertangkai panjang yang pernah digunakan Fiko untuk melawan Loka. “Lihatlah Ray, ini adalah kekuatan yang diciptakan Naolla untuk memenggal lawan. Kekuatan yang sangat sadis bukan?”.
Dengan sedikit ragu Ray mencoba memegang Linggi itu dan mengamatinya secara detail. Sesekali dia juga mengusap mata kapak tersebut. Perlahan-lahan dia belai tangkai Linggi Fiko yang kelihatannya panas karena mengeluarkan api. Dia seperti membaca kemampuan linggi Fiko dengan memperhatikan bentuknya. Secara bentuk memang linggi ini lebih baik digunakan untuk pertarungan jarak yang tidak terlalu jauh karena linggi ini meiliki titik keseimbangan yang sulit jika diserang dari jarak dekat.
“Ini sungguh menakjubkan…”, puji Ray.
Fiko memandangi wajah Ray yang penuh dengan keingin tahuan. “Di Naolla, kamu harus berhati-hati dengan Azzo yang berada disekitarmu. Jika dia berazzo api, sepertiku, maka kamu harus menghindari api untuk menghadapinya. Sesekali, mungkin saja dia menyerangmu dengan linggi yang keluar dari api. Jadi itulah yang membuat aku dan pengguna azzo lain bisa memanipulasi pertarungan. Jika kita memiliki kekuatan fisik yang mumpuni, kita bisa saja membuat barang-barang disekitar kita terbakar oleh azzo dan pada akhirnya bisa dimanfaatkan untuk senjata cadangan”, terang Fiko.
Blap! Linggi Fiko lenyap dan membuat tangannya mengeluarkan asap.
“Terimakasih Fiko”, Ray bangkit dan berjalan kearah luar hutan untuk segera pulang kerumah mereka.
“Ray tunggu!”. Fiko bergegas mengambil baju kaosnya dan dengan segera ia kenakan sambil berlari kecil mengejar Ray.
Ray melewati rerumputan yang hijau ketika keluar dari dalam hutan. Ayunan langkah kakinya kian gemetaran tetapi sesungguhnya Ray tidak ingin Fiko tahu itu.
“Kita seperti dibuang ya Ray? Tak ada kabar dari Naolla dan sudah cukup lama kita terdampar dipulau orang-orang tua ini. Apakah kamu menikmati kehidupanmu yang sekarang Ray?”, tanya Fiko sambil berjalan disamping Ray menyusuri jalan pulang.
“Apapun takdirku aku akan berusaha menjalaninya”. Ray menjawab tanpa menoleh.
“Kamu pernah memikirkan Naolla Ray?”.
“Sering. Bahkan setiap saat”.
“Adakah keinginan untuk kembali ke Naolla?”.
Ray sepertinya paham dengan apa yang ada dipikiran Fiko. Dia sepertinya rindu sekali dengan Naolla.
“Keinginanku hanya satu, melihat Naolla damai seperti dahulu”.
“Jadi kamu ingin ke Naolla juga?”.
“Juga?  Ermmm… Tentu,karena aku untuk Naolla”.
“Kamu sepertinya sakit ya Ray? Kelihatannya wajahmu pucat”. Fiko memperhatikan wajah Ray.
“Mungkin aku kecapekan saja, Fiko”, jawab Ray sekenanya.
“Mau aku gendong?”.
“Tidak usah. Aku masih punya kaki untuk berjalan”.
“Ya sudah. Tapi kalau pingsan jangan jatuh ke kiri ya nanti aku tidak sempat menangkapmu”. Fiko sangat menjaga Ray. Dia merasakan ada yang aneh dengan dirinya saat berada didekat Ray. Sesuatu yang tak bisa dia dapatkan dengan siapapun di Naolla atau dibumi.
Sambil berjalan, sekali-sekali Fiko menggoda Ray yang memang tampak kecapekan.
Senja mulai merayap di barat Toshirojima. Burung-burung laut sesekali melintasi langit melengkapi keindahan senja. Semua orang pasti akan segera bersuka cita menyambut musim panas yang tinggal beberapa hari lagi.
***
Dirumah mereka berdua yang tampak hening ditelan gelapnya malam, Ray sakit dan badannya demam lalu mukanya tampak pucat. Fiko memeras kain basah dan menempelkannya di dahi Ray. Fiko tampak sangat khawatir dengan keadaan Ray. Ini tergambar jelas dari tatapan matanya. Entah mengapa dia bisa sangat menyayangi Ray dan tak ingin jauh dari Ray. Ini memang aneh bagi Fiko tetapi dia seakan sadar bahwa Ray sangat membutuhkannya untuk bisa menikmati hidup seperti orang lain, setidaknya selama Fiko bisa menjaga Ray dari tangan orang-orang jahat.
“Ray kamu kenapa? Kalau kamu tidak kuat dengan latihan keras tadi seharusnya kamu bilang kepadaku. Aku tidak akan memaksamu”, tanya Fiko sambil mengenggam tangan Ray dengan kedua tangannya.
“Ada hal yang harus kamu tahu Fiko. Aku sudah lama menyembunyikan ini. Aku tidak bisa mempunyai Azzo karena tubuhku tidak bisa toleransi pada Azzo. Seperti yang sudah-sudah, aku akan sakit apabila  terkena Azzo”, jawab Ray sambil memandangi wajah Fiko. Sebagai azzo dia memang tidak mudah untuk menerima azzo lain secara spontan maupun terlatih, dia baru bisa memiliki azzo setelah dia mempunyai tuan.
“Mengapa kamu tidak mengatakannya? Bararti ini dikarenakan kamu memegang Linggiku tadi? Maaf ya Ray, aku telah membuatmu sakit”.
“Tidurlah Fiko. Kamu juga perlu istirahat. Aku baik-baik saja dan mungkin besok pagi sudah sembuh”.
“Aku akan menjagamu Ray”.
Ray tersenyum dan memejamkan matanya. Dia merasakan ketenangan bersama Fiko yang membuatnya sedikit membaik. Dia benar-benar telah merepotkan Fiko kali ini.
Pagi hari yang cerah, cahaya mentari membangunkan Ray dari tidurnya. Ternyata Fiko tertidur disampingnya sambil melingkarkan tangan kokohnya pada perut Ray.
“Kasihan Fiko”. Dia membangunkan Fiko, “Fiko bangun, sudah pagi. Kamu tidak melaut?”.
Fiko terbangun sambil menutup mulutnya yang sedang menguap. “Huahhhmmmm… Aku tidak usah melaut saja ya Ray. Siapa yang menemanimu disini?”.
“Aku sudah lebih baik. Kamu jangan terlalu menjaga aku Fiko. Aku kuat kok”, Ray berusaha meyakinkan Fiko.
Fiko mengambil kain yang tengah mengering didahi Ray kemudian tangannya mengusap lembut dikening Ray. “Benar kah kamu sudah lebih baik?”.
“Tenang Fiko aku akan segera sembuh. Tuan Takeshi pasti sudah menunggumu dari tadi”. Ray meneyentuh tangan Fiko yang berada didahinya dan menjauhkannya, tanda ia menyuruh Fiko untuk segera berangkat.
Berat rasanya Fiko meninggalkan Ray seorang diri dirumah. Setelah mandi dia bersiap-siap untuk melaut. “Ray, jaga diri baik-baik ya. Jangan macam-macam dulu hari ini”, pesan Fiko sebelum dia berangkat. Dengan sebuah senyuman Fiko berusaha meyakinkan pada Ray bahwa dia akan segera pulang.
Sesampainya di pelabuhan, tuan Takeshi sudah menunggu Fiko di dekat kapalnya.
“Kemana saja kamu Fiko? Sejak tadi saya sudah menunggu kamu”. Tuan Takeshi nampak kurang ramah pagi ini.
“Maaf tuan. Ray sedang sakit, jadi saya tadi malam kurang tidur dan kesiangan bangun. Maaf ya tuan”.
“Ayo kita berangkat”.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Fiko naik ke atas kapal dengan tuan Takeshi yang mengendarai kapal tersebut. Perlahan-lahan kapal mulai berputar haluan dan meninggalkan pelabuhan menuju tempat yang sekiranya ada banyak ikan. Fiko mempersiapkan jaring yang akan digunakan menangkap ikan nanti. Angin kencang menerpa tubuhnya yang tengah sibuk dibawah sinar matahari pagi. Lautan luas yang tak tahu ujungnya menjadi pemandangan indah dipagi ini. Hempasan gelombang-gelombang kecil membuat kapal bergoyang-goyang kesana kemari dan dilautan inilah setiap hari mereka berdua menghabiskan waktu untuk mencari ikan.
“Lihat kumpulan burung di utara sana tuan”. Fiko menunjuk jauh ke utara supaya tuan Takeshi melihatnya.
“Ayo kita serbu!!!”. Tuan Takeshi bersemangat sekali menuju lokasi itu.
Baurung-burung laut berkumpul menandakan ada segerombolah ikan. Sesampainya disekitar area tersebut, dengan segera tuan Takeshi dan Fiko menebar jaring kemudian mengangkatnya. Tampaklah ikan-ikan lance tersangkut jaring mereka.
“Wah lumayan juga tuan”, kata Fiko sambil terus menarik jaringnya ke atas perahu.
Setelah jaring terangkat, satu persatu ikan diambil dan dikumpulkan.
Tak terasa mereka terus berperahu menyusuri laut hampir seharian. Fiko sangat khawatir dengan keadaan Ray dirumah dan kadang dia gelisah sendiri diatas perahu maka ketika senja itu Fiko dan tuan Takeshi kembali kepelabuhan, dia segera mengangkat hasil tangkapannya turun dari perahu.
“Sudah semua tuan. Kalau begitu saya mau pamit pulang dulu ya”.
“Semoga Ray sepat sembuh dan sampaikan salamku padanya”.
Fiko mengangguk dan buru-buru mengambil sepeda kemudian bergegas mengayuhnya agar segera sampai rumah. Dengan agak terburu-buru dia mengendarai sepeda itu. Rumah kayu yang mereka tinggali tampak gelap dan sunyi. Berkecamuklah pikiran Fiko melihat hal itu. Dia memarkir sepedanya dan berlari masuk kedalam rumah.
“Ray! Ray! Dimana kamu?”, Fiko masuk kekamar mereka namun tak ada Ray disana. sambil menyalakan lampu, dia berlari kekamar mandi dan ke dapur namun sama saja hasilnya. “Ray, kamu dimana? Ray kau mendengarku?”. Fiko benar-benar cemas dan hatinya tak tenang.
Dia kemudian berlari keluar dan menuju rumah tuan Shibasawa, tetangga mereka. Fiko mencoba menenangkan diri dengan menarik nafas dalam-dalam. Ketika hatinya mulai agak tenang dia kemudian memanggil tuan Shiba didalam rumah tersebut. “Selamat sore. Tuan Shiba… Tuan… Ini saya Fiko”.
Beberapa saat menunggu akhirnya pintu rumah dibuka oleh tuan Shiba. “ Syukurlah kamu datang Fiko. Ray ada didalam. Tadi dia kemari karena dia merasa tubuhnya sangat lemah”.
“Bolehkah saya masuk tuan?”, pinta Fiko dengan wajah cemas.
“Silahkan. Ray dikamar tamu bersama istriku”.
Fiko masuk bersama tuan Shiba menuju kamar tamu. Disana terbaring lemah Ray didampingi nyonya Shiba.
“Ini Fiko sudah tiba bu”, kata tuan Shiba.
“Untunglah kamu sudah kembali nak. Ray lemah kondisinya”.
Dengan mata berkaca-kaca Fiko menggenggam tangan Ray yang terbaring lemas ditempat tidur. Dia tidak menyangka efek Azzo nya sampai sejauh ini.
“Tadi pamanmu telah memanggil dokter untuk  memeriksa keadaan Ray. Mungkin sebentar lagi dia akan kemari”, kata nyonya Shiba.
Benar saja tak berapa lama tibalah dokter Arashi untuk memeriksa Ray. Setelah dia melakukan pengecekan pada mulut, mata, suhu tubuh dan detak jantung Ray, dia pun bertanya kepada Fiko ,” Apakah Ray terlalu kecapean bekerja?”.
“Mungkin begitu tuan karena saya juga tidak tahu persis kegiatan Ray di penginapan”, jawab Fiko menutupi apa yang terjadi agar orang-orang tidak curiga pada mereka.
“Baiklah. Saya akan meberikan obat untuk Ray agar panasnya turun”. Dokter Arashi menyiapkan alat suntik dan mengisinya dengan obat cair kemudian menyuntikannya ketubuh Ray. Selain itu dia juga memberikan beberapa obat berbentuk tablet pada Fiko.
“Tolong beritahu Ray agar selalu menjaga kondisi tubuhnya. kalau begitu  saya mau permisi. Jangan lupa obatnya diberikan padanya apabila sudah terbangun, Fiko”. Dokter beranjak dari tempat duduknya dan membungkukkan badan pada kami kemudian kamipun demikian.
“Kalian menginap saja disini Fiko sampai keadaan Ray membaik”, kata tuan Shiba.
“Terimakasih tuan, kami merepotkan tuan dan nyonya”.
“Kalian sudah kami anggap sebagai anak sendiri, jadi jangan sungkan ya. Kamu sudah makan Fiko? Kalau belum, kita tinggalkan Ray untuk beristirahat sebentar dan kita makan terlebih dahulu”, tawar nyonya Shiba.
Fiko, Nyonya Shiba dan Tuan Shiba beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Ray dikamar sendirian.
Nyonya Shiba telah menyediakan shabu-shabu dimeja makannya dan ada juga sushi. Mereka bertigapun makan dengan lahapnya layaknya sebuah keluarga. Tuan Shiba dan nyonya Shiba memiliki dua orang anak yang tinggal di Gunma. Mereka sesekali menjenguk orangtuanya apabila sedang libur kerja. Keluarga inilah yang sering membantu Ray dan Fiko apabila mereka sedang memerlukan pertolongan dan begitu juga sebaliknya.
Pintu kamar Ray dibuka oleh Fiko dan diapun masuk setelah menutup kembali pintu kamar. Dengan mata yang terus memandangi wajah Ray dia duduk di samping Ray sambil mengusap-usap dahi Ray yang panas.
“Aku tidak tahu lagi dengan keadaan hatiku saat ini. Aku begitu sakit melihat kamu terbaring seperti ini Ray karena aku membutuhkanmu untuk berada disini dan juga memimpin Vocare lagi”.
Ray yang tampak pulas tertidur,  tak mendengar kata-kata Fiko disampingnya. Banyak waktu telah mereka habiskan berdua walau kadang-kadang Ray dan Fiko saling berselisih paham namun tak sedikit waktu pula meraka saling bekerja sama. Fiko tahu bahwa Ray bukan siapa-siapanya tetapi ikatan yang terjalin selama tinggal di bumi membuat keduanya saling memerlukan  satu sama lain. Fiko ingat ketika musim semi lalu dimana Ray menolongnya saat dia memerlukan uang untuk mengganti barang-barang tuan Fuji yang tak sengaja ia pecahkan. Ray bekerja siang dan malam untuk mengumpulkan uang demi membantunya walau sikap Ray yang kadang dingin pada Fiko tetapi dia sebetulnya perhatian pada Fiko. Waktu Fiko terluka akibat tertusuk kawat besi, Ray yang membantu Fiko dan saat Fiko kadang sakit badannya akibat kelelahan, Ray sering memijitkan badannya atau yang menyediakan minuman hangat untuk Fiko. Fiko mendekatkan wajahnya kewajah Ray sambil mengusap kepal Ray.
“Aku membutuhkanmu Ray bangunlah untukku, aku tidak tahu bahwa kamu ternyata menolak Azzo. Mungkin ini dikarenakan kamu adalah azzo terhormat dan tidak mudah untuk menyentuh azzo yang bukan jenismu”. Wajah Fiko sangat dekat bahkan hampir menyentuh pipi Ray. Tiba-tiba Fiko mengarahkan bibirnya ke bibir Ray perlahan-lahan hingga tinggal sedikit lagi bibir mereka bersentuhan. Fiko memang mulai memiliki keanehan didirinya. Dia begitu sayang pada Ray. Bibir Ray yang agak merah telah tersentuh bibir Fiko, tetapi tiba-tiba dia tersadar dan buru-buru menegakkan badannya. “Maafkan aku Ray”. Seperti sadar dari sesuatu yang merasukinya Fiko mundur agak menjauh sedikit dari posisi semula dan mengambil bantal untuk berbaring disamping Ray dengan terus menatap wajah Ray yang polos.
Embun pagi membuat Fiko kedinginan meski dia telah merapatkan kaki dan tangan namun dinginnya pagi terus menusuk tulangnya.
“Fiko… Kamu menindih tanganku”, tegur Ray dengar suara pelannya sambil mendorong bahu Fiko.
“O.. Maaf Ray. Ray?!”. Seketika  Fiko terjaga dan memandangi wajah Ray. “Kamu sudah baikkan?”.
“Sudah Fiko”. Ray tersenyum lemas.
“Kamu jangan banyak gerak dulu Ray”. Fiko memeluk tubuh Ray.
Agak bingung juga Ray diperlakukan Fiko begini tetapi dia juga tidak bisa menolak pelukan Fiko.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar