Hunk Menu

Overview of the Naolla

Naolla is a novel which tells about life of Hucky Nagaray, Fiko Vocare and Zo Agif Ree. They are the ones who run away from Naolla to the Earth. But only one, their goal is to save Naolla from the destruction.

Book 1: Naolla, The Confidant Of God
Book 2: Naolla, The Angel Falls

Please read an exciting romance novel , suspenseful and full of struggle.
Happy reading...

Look

Untuk beberapa pembaca yang masih bingung dengan pengelompokan posting di blog ini, maka saya akan memberikan penjelasannya.
(1)Inserer untuk posting bertemakan polisi dan dikutip dari blog lain;(2)Intermezzo adalah posting yang dibuat oleh pemilik blog;(3)Insert untuk cerita bertema bebas yang dikutip dari blog lain;(4)Set digunakan untuk mengelompokan posting yang sudah diedit dan dikutip dari blog lain;(5)Posting tanpa pengelompokan adalah posting tentang novel Naolla

Minggu, 16 September 2012

Naolla, The Confidant of Gods : My Life Isn't Just in Prison



Detak jantung seorang lelaki kini mulai berpacu kencang. Dadanya terlihat bergetar. Bebatuan mulai jatuh kebawah karena terinjak kakinya. Ini memang agak sulit kelihatannya, meniti tebing bangunan sebesar Hrewa Kufe tanpa terlihat pasukan Yuari penjaga. Perlahan namun pasti lelaki itu memanfaatkan dua potong besi tajam yang berguna sebagai pijakan kaki untuk naik ke tingkat atas. Dia benar-benar tak mau kesempatan ini melayang begitu saja akibat salah perhitungan. Memang cukup aneh keadaan Hrewa Kufe malam ini karena tampak penjagaan Yuari yang mengendarai cehug tidak terlalu ketat. Sesekali memang terlihat mereka lewat di puncak Hrewa Kufe namun tidak menyadari bahwa lelaki itu sedang kabur dari penjaranya. Lelaki yang pernah menjadi penasehat raja Fiko yang kemudian dipenjarakan oleh Sukaw. Dialah Xano nama lelaki yang berpenampilan kucel itu. Kesempatan untuk kabur dari penjara dimulai saat dia menemukan seekor  ranton mengigit batu ketika ranton itu kesakitan akibat ekornya terjepit. Ranton yang sakit itu memiliki gigi tersembunyi yang ternyata mampu menggigit batu keras sekalipun. Dengan memanfaatkan gigitan ranton, dia membuat lobang ditembok agar bisa keluar dari penjara Hrewa Kufe. Memang tidak sebentar membuat lubang yang besar. Dia memerlukan waktu beberapa hari agar lubang yang ia buat dapat meloloskan dirinya dari penjara itu. Setelah berhasil membuat lobang, ranton itu dilepaskan dan ia pun keluar dari penjara gelap Hrewa Kufe.
Sekelebat bayangan yang terpantul akibat bulan merah besar dilangit Naolla menyiagakan Xano. Bayangan yang tak lain berasal dari Yuari cehug yang lewat memantau keadaan sekitar. Tanpa membuat gerakan, lelaki itu merapat kedinding batu. Dia melihat kearah bawah yang cukup membuat tubuhnya remuk jika terjatuh. Matanya bergerak-gerak waspada melihat kesegala penjuru kalau-kalau Yuari melihatnya. Pelan-pelan dia mendaki dinding batu itu hingga sampailah pada tingkat pertama yang merupakan desa di Hrewa Kufe. Desa mulai sepi karena orang-orang kebanyakan sudah beristirahat dirumahnya masing-masing dan hanya sebagian pria bermabuk-mabukan dikedai minuman. Hembusan angin meniup tubuh Xano yang menapaki jalanan batu menuju sebuah gang masuk kedalam Hrewa Kufe. Dia mengambil sebuah mantel berpenutup kepala milik salah seorang warga Hrewa Kufe yang tergantung diluar rumah untuk menutupi tubuh dan menyembunyikan penampilannya kalau-kalau nanti dia berpapasan dengan para Yuari yang berpatroli keliling. Udara dingin menusuk tulang Xano. Langkah kalinya diatas jalan batu terdengar lebih kencang karena udara malam. Dia mengendap-endap memasuki gang didalam Hrewa Kufe yang besar dan sesekali mengingat-ingat arah jalannya agar tidak tersesat.
Hrewa Kufe memiliki bagian luar dan dalam bangunan. Didalam Hrewa Kufe tampak seperti gedung dengan banyak bangunan bertingkat dan fasilitas lengkap. Didalam Hrewa Kufe kita seperti melihat kota indah nan megah. Inilah Hrewa Kufe yang mempesona dimata Naolla. Kota didalam bangunan memang sangat luar biasa sekali. Dikota inilah Xano mencari tempat yang memiliki sesuatu untuk bisa membawanya kabur lebih jauh dari Hrewa Kufe dan sesuatu merupakan hal yang dia sayangi semenjak dulu.
“Perasaan tempat tingggal Frae di daerah sila tujuh sini tetapi mengapa sejak tadi tidak aku temukan orang memiliki kandang dretaju atau sejenisnya?”, Xano bingung sendiri.
Dari balik gang muncul dua orang Yuari sedang berjalan kearahnya. Cepat-cepat dia belok arah dan masuk kesalah satu gang agar terhindar dari Yuari itu. Setelah para Yuari lewat, dia kembali mencari rumah Frae sang penjual dretaju. Sebenarnya dia bukan mau membeli dretaju tetapi ingin mencari dretaju miliknya yang dijual ke Frae oleh Sukaw. Setelah dia ditangkap, dretaju Xano tampak tidak bisa diandalkan lagi. Dretaju itu seperti mengerti akan keadaan majikannya dan menolak perintah Sukaw. Dretaju Xano bukan dretaju sembarangan karena dretaju ini sudah berevolusi menjadi Arudretaju yang merupakan gorila berdagu dua, berwarna oranye dan berkulit keras sehingga tak mudah terluka. Selain itu tubuh arudretaju akan lebih besar dari dretaju sehingga Xano dengan mudah mencari dretajunya itu. Terakhir dia bersama dretajunya setahun yang lalu dan pada saat itu dia sudah mau berevolusi. Tentu saja tidak semua dretaju akan berevolusi ini dikarenakan dretaju milik Xano berjenis langka asal Gpuvva yang bisa menjadi arudretaju dan di Vocare hanya ada satu.
Dia terus mengingat-ingat rumah Frae namun tetap tak ditemukannya rumah itu.
“Apa mungkin dia sudah pindah sila ya? Coba aku tanyakan pada pemuda disana”. Xano menuju pemuda yang sedang duduk didepan sebuah kedai minuman dan tampaknya pemuda itu agak mabuk. “Tuan… Maaf mengganggu sebentar”.
Pemuda itu menoleh dengan mata sempoyongan. “Apa, Hah?! Mau nagih hutang? Nanti saja, aku lagi mencari bojce sekarang ini. Kamu buta ya? Aku sedang kerja sekarang. Pergi sana! Jangan ganggu aku”. Sahut pria itu asal saja.
Bojce adalah pasir gurun sebagai alat tukar di Hrewa Kufe.
“Bukan tuan. Saya mau menanyakan rumah tuan Frae,pembeli dretaju”, kata Xano.
“Siapa? Dretaju? Ahahahaha mereka dikandangnya bodoh! Mana aku sempat urus mereka”. Laki-laki itu semakin asal.
“Bukan tuan.. Rumah Frae”, tegas Xano.
“Mana aku tahu,aneh kamu!! Pergi sana! Dasar pengemis”. Dia kembali meminum air digelasnya.
Melihat tingkah orang itu yang mengesalkan, Xano mencoba menanyakan keberadaan Frae kepada salah seorang penunggu kedai yang tengah menyiapkan minuman.
“Mau pesan minuman apa tuan?”, tanya pria paruh baya itu.
Xano duduk dan mendekatkan kepalanya kearah orang yang menawarinya minuman seperti takut didengar orang. “Saya cuma mau menemui tuan Frae si penjual dan pembeli dretaju. Bukan kah dulu rumahnya disila tujuh sini?”.
“Frae? Ermmmm… dia mengalami patah tulang akibat seekor dretaju yang mengamuk, kira-kira sekitar empat bulan lalu, sehingga dia beralih profesi menjadi penjual makanan disila tiga puluh satu”. Orang itu tampak agak curiga dengan penampilan Xano. Dia seperti kenal dengan Xano namun masih ragu.
“Kalau begitu saya permisi dulu. Terimakasih”. Xano beranjak dari tempat duduknya dan menuju jalanan untuk segera menuju tempat Frae disila tiga puluh Satu. Cukup jauh juga jalan menuju sila tempat tinggal Frae. Sila adalah wilayah-wilayah kecil yang terdiri dari beberapa rumah atau gang. Namun apa boleh buat, Xano memerlukan arudretaju itu untuk membawanya pergi dengan selamat dari Hrewa Kufe.
Senyapnya malam beradu dengan dinginnya Hrewa Kufe. Meski dengan berbalut mantel, dia masih merasa agak dingin. Namun semua itu tak sebanding dengan gelapnya sel tahanan yang sumpek dan tanpa membuat perubahan apapun didalam sana. Xano sadar bahwa dia harus segera bertindak untuk menolong Vocare dari Sukaw yang semakin kelewatan itu. Dia tidak boleh berdiam diri saja menunggu Fiko yang tidak tahu nasibnya dibumi sana, walau bagaimanapun dia masih tidak rela bila Naolla dipimpin oleh Sukaw yang serakah dan sombong itu. Namun bodohnya Xano, dia baru sadar bahwa berdiam diri saja tidak akan merubah nasib orang banyak apalagi setelah hanya terkurung lama dipenjara dan tampak seperti orang tidak waras. Selain itu dia teringat dengan arudretajunya yang hebat dan mungkin bisa membantunya merebut Hrewa Kufe kembali suatu saat nanti. Dengan memikirkan kemungkinan terbaik yang akan dia dapatkan jika kabur dari penjara, Xano mulai melangkahkan kaki dengan hati-hati dan pasti ke rumah Frae. Waktu Xano sebenarnya tidak banyak karena sebentar lagi hari akan siang dan tentunya pasukan Yuari akan mengecek keadaannya di penjara dan jika ternyata mereka sadar bahwa dia sudah tidak ada disana maka ini bisa gawat.
Menempuh jarak sekitar dua kilometer ke sila tigapuluh satu tidak terasa oleh Xano. Di sila ini tampak sebagian rumah di permak menjadi toko makanan dan pakaian.
“Yang mana ya rumah Frae?”. Xano mendatangi sebuah toko makanan dan masuk kedalamnya. Didalam toko itu tampak beberapa pekerja sedang mengatur makanan di rak-rak. “Permisi nona, apakah disini kedai makanan tuan Frae?”, tanya Xano pada salah seorang wanita muda yang tengah meletakkan makanan kemasan di raknya.
“O, bukan tuan. Toko tuan Frae didekat belokan jalan sekitar delapan rumah dari sini”, jawab wanita itu sambil menghentikan pekerjaannya sejenak.
“Baiklah nona, terimakasih atas informasinya”. Xano keluar toko itu.
Diperhatikannya keadaan rumah-rumah penduduk yang mulai terbuka yang menandakan hari telah siang diluar sana. Didalam Hrewa Kufe kita tidak akan merasakan siang atau malam jikalau tanpa melihat kearah luarnya sebab disini  tidak tembus cahaya dan udara didapat dari saluran-saluran udara kecil yang sangat banyak disetiap sisi bangunan.
“Sebentar lagi penjaga tahanan akan mengecekku. Aku harus segera menemui Frae”. Langkah kaki Xano semakin tergesa-gesa menuju toko makanan tuan Frae. Tampaklah dibelokan jalan sila tiga puluh satu, sebuah toko makanan yang dia yakini milik tuan Frae. Dia arah kan langkah kakinya untuk memasuki toko itu. Tampak didalam toko seorang anak muda sedang duduk dibalik meja kasir.
“Ada yang bisa kami bantu tuan bermantel?” tanya pemuda itu ramah.
“Saya mau bertemu dengan tuan Frae. Beliau ada?”.
“Siapa anda tuan? Apakah anda ini keluarga beliau?”. Dia agak curiga pada Xano.
“Tolong anak muda, cepat kamu panggil tuan Frae untuk saya. Saya ingin bertemu dengan beliau”.
“Tidak bisa tuan. Tuan Frae sedang istirahat, baliau tidak bisa diganggu”.
“Pokoknya saya harus bertemu beliau sekarang juga atau anda akan saya buat bernasib sama dengan tuan Frae?”, ancam Xano yang kehabisan cara dan tampak tidak sabaran untuk menemuai tuan Frae. Dia mencengkram baju pemuda itu.
Pemuda penjaga toko tidak terima dan menantang Xano. “Anda tidak bisa begini pada saya tuan. Ini kewajiban saya untuk menjaga toko ini. Saya bisa saja memanggil Yuari darurat agar anda ditahan”.
“Asal kamu tahu anak muda saya adalah tahanan yang kabur dari penjara bawah Hrewa Kufe, jadi tidak ada gunanya kamu melaporkan saya ke para Yuari sialan itu. Ketika saya nanti dipenjara kembali, saya akan bisa kabur lagi”. Xano memukul wajah pemuda itu hingga sang pemuda terjatuh kelantai. Xano menerobos masuk keruangan dalam yang dia yakini sebagai tempat kerja Frae.
Pemuda itu bangkit dan berusaha mengejarnya, namun Xano tak terkejar dan sampailah dia diruangan bertuliskan ‘Ruangan Pribadi’. Dia masuk secara tiba-tiba yang sontak membuat orang didalamnya kaget dan marah.
“Hai!!! Siapa kamu! Pencuri… Puso! Tahan orang ini. Puso!!”, orang tua itu tampak gugup di balik mejanya.
Pemuda yang bernama Puso itu berhasil mengejar Xano dan menangkapnya. “Saya harap anda cepat keluar dari sini!”, pintanya.
Sementara di luar penjara yang gelap, seorang penjaga tahanan tengah mengecek keadaan ruang tahanan itu. Dia memasuki gang penjara dengan sangarnya sambil membawa tombak. Para tahanan tampak takut dengan kehadirannya.
“Kelihatannya baik-baik saja”. Dia melihat keruangan tempat menahan Xano. Dipojok ruangan itu tampak sesuatu berselimut yang dia sangka sebagai tubuh Xano sedang kedinginan. “ Hai Xano! Kamu sakit atau pura-pura sakit?!”, tegurnya. Namun tak ada tanda-tanda kehidupan pada tubuh itu.
“Kamu mati ya Xano! Jangan berlagak tuli didepanku”.
Tetap tak ada gerakkan. Karena curiga, dia mengambil kunci penjara disakunya dan membuka sel itu untuk mengecek Xano. Alangkah terkejutnya dia setelah membuka penutup kain itu yang hanya tumpukan jerami dan sebuah lobang didinding. “Xano!!!!!!”.
Cepat-cepat dia berlari keluar dan menyampaikan ini pada Sukaw diistana.
“Sialan bagaimana bisa? Azzonya kan tidak bisa digunakan didalam penjara. Cepat tangkap orang itu dan hukum mati dia untuk makanan Sorze”. Sukaw sangat marah sekali. Sorze atau arwana penghuni danau akan dapat sarapan daging segar pagi ini jika para Yuari berhasil menangkap Xano.
“Segera kami laksanakan tuan”, kata Juyu.
Pasukan Yuari tengah berangkat dengan mengendarai cehug dan ada pula yang mengendarai bican untuk mencari Xano keseluruh Hrewa Kufe.
“Cepat! Jangan buang waktu lagi para Yuari! Tangkap Xeno hidup atau mati dan bawa kehadapanku!”, perintah Juyu sambil mengendarai bican.
Puluhan Yuari berpencar mencari keberadaan Xano. Selama Xano ditahan, baru kali ini dia mencoba kabur dan tanpa diketahui para penjaga tahanan.
Yuari-yuari tampak menggeledah setiap rumah dan lokasi-lokasi yang dicurigai sebagai tempat persembunyian Xano.
“Gawat ayah, banyak Yuari diluar”, kata seorang anak kecil yang tengah ketakutan sambil memeluk ayahnya erat-erat.
“Jangan takut nak, mereka tidak akan macam-macam dengan kita”. Sang ayah berusaha menenangkan putri kecilnya itu.
Beberapa Yuari masuk dan menggeledah rumah pria itu. Beberapa saat mencari tak mereka temukan Xano, maka merekapun keluar dan mencari ditempat lain.
“Aku Xano, Frae. Penasehat Raja Fiko. Kau masih ingat?”. Xano melepaskan tutup kepalanya dan mendekati Frae dengan membawa linggi airnya.
Wajah Frae agak takut dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena Puso sudah tak bisa bergerak. Puso kesakitan didekat tembok karena baru saja terkena tendangan Xano.
“Apa mau… mu Tu-tu-tuan?”, tanya Frae terbata-bata akibat dia gemetar ketakutan.
“Aku dengar kamu membeli Qwed dari Sukaw dipelelangan. Dimana dia? Hah?!”. Xano marah dan membelah meja kerja dihadapan Frae hingga menjadi dua bagian.
“Bu-bbuukan dengan saya Tu-an. Arudretaju i-tu lah yang membuat saya seperti ini”. Dia menunjuk kakinya yang patah. “Saya ti-dak tahu tuan”.
“Jangan bohong kamu! Saya tidak memiliki banyak waktu lagi Frae… Kamu mau mengatakannya atau kepalamu yang aku buat patah?”. Xano mengancam Frae dengan lingginya.
“Ampun tuan. Tolong jangan sakiti saya. Saya memang tidak tahu pasti namun saya pernah dengar kalau arudretaju milik tuan diambil oleh Yuari untuk direhabilitasi. Dia berada di….”.
Keadaan semakin menjadi tidak kondusif untuk Xano. Para Yuari sudah tampak lalu lalang memeriksa sudut-sudut bangunan untuk mencarinya. Seluruh Hrewa Kufe tengah digeledah oleh para Yuari. Xano menuju bagian atas Hrewa Kufe tepatnya tingkat keenam untuk mencari Qwed. Untuk ketingkat sana dalam situasi seperti ini tentu tidak bisa dilakukannya dengan mudah. Selain banyak Yuari yang mencarinya, jarak kepuncak Hrewa Kufe sangat menanjak walau jaraknya hanya beda 200 meter tetapi jika masuk dan mencari kedalam yang luas bangunan tingkat keenam mencapai satu kilometer persegi tentu bukan wilayah yang kecil untuk dirinya.
“Aku harus mencari cara. Jika aku sudah sampai disini, aku pantang untuk mundur dan aku yakin kepalaku akan dipenggal oleh Sukaw jika kali ini aku tertangkap lagi. Aku buronan Hrewa Kufe sekarang”. Xano bersembunyi dilantai tingkat dua sebuah gedung kosong yang dulu digunakan untuk arena permainan.
Dibawah sana para Yuari tengah lalu lalang mencarinya. Muncullah sebuah ide cemerlang dari Xano. Dia kebalkon gedung itu secara sengaja agar pasukan Yuari cehug melihatnya ada di atas gedung itu. Benar saja, salah seorang Yuari melihatnya dan dengan cepat mengarahkan terbang cehugnya kearah Xano. Xano tampak takut untuk mengelabui Yuari itu.
“Itu dia, diatas! Kepung dia!”, kata Yuari itu pada teman-temannya dibawah. Para Yuari itu langsung masuk ke gadung dan menaiki tangga agar sampai kelantai dua.
Yauri-yuari cehugpun berdatangan. Xano mulai benar-benar khawatir akan situasi yang tidak sesuai perkiraannya ini. Dia benar-benar bingung.
“Menyerah saja Xano. Hahaha”. Yuari yang mengejarnya tadi telah sampai duluan dan turun di balkon.
“Tidak buruk juga”, pikir Xano. “Baiklah, aku akan menyerah pada kalian. Aku lari juga percuma karena kalian terlalu banyak”, ucapnya ketika melihat Yuari-yuari telah mengepungnya di balkon. Mata cerdas Xano masih memperhatikan cehug yang tidak ditunggangi itu.
“Tunggu apalagi tangkap dia!”, perintah salah seorang Yuari.
Para Yuari menyerang Xeno yang sendirian di atas gedung itu. Tanpa pikir panjang lagi Xano mengeluarkan linggi khususnya yang berukuran kecil sebesar kancing baju yang jumlahnya sangat banyak sekali.
“Hiiiiaaaaatttttt, rasakan ini!”.
Crak,crak,crak,crak,carak,crak! Linggi-linggi kecil itu menyebar keseluruh sisi dan mengenai siapa saja yang mendekati tubuhnya.
“Arghhh!”. Satu per satu para Yuari berjatuhan. Kesempatan itu ia manfaatkan untuk melompat ke cehug incarannya dan mengendarai cehug itu hingga terbang menjauh dari sana. Namun, bukan pasukan Yuari namanya kalau menyerah begitu saja. Yuari yang masih tersisa, kini mengejar dengan cehug mereka juga. Aksi kejar-kejaran pun samakin tak terelakkan. Kecapatan cehug Xano kian bertambah dan para Yuaripun semakin memepercepat terbangnya. Belokan-belokan tajam membawa Xano keluar dari dalam Hrewa Kufe. Namun diluar sana ternyata ratusan linggi angin telah terbang kearahnya. Linggi yang berasal dari para Yuari.
“Gawat! Hiiiaaaatttt!!!”. Sangat cepat dan gesit dia menghindari hujan linggi itu dan sesekali apabila tak sanggup dia hindari maka dia lawan dengan linggi air besarnya. “Argghhh!!”, teriak Xano yang terkena linggi di beberapa bagian tubuhnya. Darah segar menetes ke udara, namun dia terus terbang meninggi menuju sarang para Yuari. Linggi berhenti dan berganti dengan pasukan bican yang mengejarnya di belakang. Tampak Juyu dengan senapannya membidik Xano.
Dor,dor,dor! Xano memang sangat gesit sehingga tak ada satupun dari peluru Juyu yang mengenainya. Untuk menghambat Juyu, dia mengeluarkan linggi kecilnya dari tangan dan dia arahkan kebawah.
Trak,trak,trak linggi-linggi itu berhasil dihindari Juyu dan hanya mengenai tangan Juyu. Kembali Juyu membidikkan senapannya ke arah Xano dan lagi-lagi tidak ada yang kena satu pun.
Xano merasa bodoh sekali menuju sarang Yuari seorang diri untuk menyelamatkan Qwed. Dia yakin bahwa Qwed akan kembali padanya maka dari itu dia tetap berusaha untuk mendatangi Qwed walaupun nyawanya dalam bahaya. Tak terasa, kini dia sudah berada ditingkat empat dan tak lama lagi dia akan sampai. Dia terbang mengeliling agar tidak mudah tertangkap Juyu.
“Linggi kalian!”, perintah Juyu untuk menyuruh para Yuarinya mengeluarkan linggi lagi.
Tanpa banyak bicara, para Yuari dengan segera mengeluarkan linggi-linggi mereka dan melemparkannya ke arah Xano. Xano melakukan akrobat yaitu terbang memutar seperti gerakan mata bor untuk menghindari linggi-linggi tersebut. Dor,dor,dor,dor! Kembali secara mengejutkan Juyu menembakkan senapannya kearah Xano, tetapi masih tidak mengenainya.
“Awas kau Xano!!!! Bican cepat!”. Bican yang dikendarai Juyu mendengarkan perintahnya dan mempercepat terbangnya mengejar Xano dan cehugnya.
Sedikit lagi akan sampai dan diatas sana telah menunggu ratusan Yuari. Melihat itu dia mengeluarkan linggi air yang sangat besar dan melemparkanya ke arah Yuari-yuari itu. Linggi raksasa itu menghantam tembok pembatas dan membuatnya hancur. Para Yuari terlempar bersama temboknya dan menimpa pasukan yuari dibawah.
“Arggg!!”, erang para Yuari yang kesakitan.
Sekarang Xano mengendarai cehug memasuki ruangan Yuari dan telah menunggu Yuari-yuari khusus untuk menagkapnya. Ini situasi satu melawan dua ratus.
“Hap!”, Xano turun dari cahugnya dan menatap para Yuari didepannya.
“Ini mustahil untukmu Xano. Ibarat ayam masuk kesarang buaya! Hahaha. Serang!!!”. Para Yuari berlari menyerang dengan linggi di tangan mereka.
Apa boleh buat, Xano mengeluarkan Lingginya dan bertarung beradu linggi melawan ratusan Yuari Vocare.
Trang,trang,trang! Bruak! Arghhh! Hiat!! Drag Drap! Crak! Syat-syat! Dengan gagahnya Xano melawan ratusan Yuari itu seorang diri. Dia tampak kelelahan dan hampir kehabisan tenaga. Untuk beberapa saat terakhir dia mendengar suara Qwed yang sepertinya merasakan kehadirannya dari balik tembok didalam sana. “Qwed? Qweeeeedddd kemari….!!”, Xano berteriak memanggil Qwed. Dia kerahkan seluruh tenaganya untuk mengeluarkan hujan linggi agar menghambat kematiannya sampai dia menemui Qwed . “Rasakan ini!!! Argggghhh!”. Dengan susah payah dia keluarkan hujan linggi dan membuat para Yuari didekatnya terluka. Namun tampak sia-sia saja karena jumlah mereka yang banyak sehingga dia tak bisa berbuat lebih dari ini dan jatuh bersimbah darah. untunglah Qwed yang menyadari kedatangan Xano, mengamuk dan menghancurkan dinding-dinding penghalangnya dengan pukulan kuat arudretaju. Para Yuari kaget dan mulai ketakutan karena arudretaju itu terlihat marah besar melihat Xano dikepung para Yuari dengan linggi ditangan mereka. “Grrrrrrr… Arrkkkk!!”. Qwed menghentakan kedua tangannya kuat-kuat kelantai hingga membuat lantai itu retak dan mengakibatkan para Yuari terjatuh. Dia berlari mendekati Xano lalu mengambil tubuh Xano dan meletakkan diatas punggungnya. Xano tersenyum diantara kesakitannya. “Grrruuuuaaaaarrrrggghhh!!! Arg! Arggg! Host-host-host”. Qwed waspada melihat para Yuari menyiapkan jaring untuk melumpuhkannya. Namun ternyata ketika jaring itu dilemparkan dan mengurung Qwed, dia menjadi sangat marah dan berhasil merobek jaring itu. Para Yuari tak tahu lagi musti berbuat apa. Qwed berlari membawa Xano keluar ruangan dan didepan pintu telah menunggu pasukan Yuari dengan cehug dan tembakan pembius besar. Qwed tanpak liar dan semakin marah. Dia terus berlari sekuat tenaga menerobos barisan Yuari yang menghalanginya. “Arrrrrrrkkkkk!”. Dia hantam tembakan-tembakan besar itu seperti mematahkan mainan saja.
“Tangkap Dia! Ayo cehug bodoh!”, Juyu yang terluka memerintahkan para Yuari cehug untuk memerintahkan cehugnya mengeluarkan lidah lengket mereka untuk menangkap Qwed.
Mendengar atasannya berkata demikian, para cehug pun segera menjulurkan lidahnya dan menangkap Qwed. Lidah-lidah cehug menempel kuat ditubuh Qwed dan membuatnya agak terkekang. Qwed berusaha melawan sekuat tenaga namun puluhan lidah lengket itu sungguh tak bisa diremehkan oleh Qwed. Dia hanya bisa mengerang dan meronta-ronta agar para cehug melonggarkan lidahnya.
“A-ku harus me-no-long Qwed…”. Xano yang terluka parah berusaha mengumpulkan sedikit tenaganya dan bangkit. Melihat Qwed terikat, dia mencoba memutus lidah-lidah cehug itu dengan lingginya. “Ini kesempatan terakhir. Qwed bawa aku keluar dari Hre-wa Kufe setelah ini”, Xano memebisikan perintah ke Qwed.
Qwed seperti paham dengan perintah majikannya dan berusaha tenang sedikit agar tidak menimbulkan gerakan saat Xano memotong lidah para cehug.
“Rasakan Ini!!! Haaaaatttt!”. Crrrruuuuaaakkk! Crak-crak! Semua lidah yang melilit tubuh Qwed dia potong dengan lingginya hingga tak tersisa satu pun. Para cehug kesakitan dan terbang tak terkendali membuat para Yuari kalang kabut dan jatuh terlempar cukup keras.
“Lari!!!”, perintah Xano pada Qwed.
“Arrrrggg!”. Langkah kaki Qwed semakin cepat walau ditubuhnya masih melilit bagian lidah cehug yang terpotong. Dia menuju tepi bangunan dan melompati dinding pembatas untuk jatuh bebas kelantai lima yang berjarak sekitar 40 meter. Para Yuari bican masih mengejarnya. Sesekali Qwed menghalau para Yuari dengan tangannya yang kuat hingga mereka terpental.
Satu-per satu lantai dia lompati hingga sampailah mereka pada jembatan  Hrewa Kufe.  Di sana telah menunggu ratusan Yuari Kaguka dengan lingginya. Apa boleh buat, Qwed harus maju dan ini mungkin akan sakit untuk tubuh Qwed. Tanpa ampun, Qwed menerobos kerumunan yang menghadangnya dan tidak memperdulikan  hantaman linggi-linggi yang mulai melukai kulit kerasnya. Dia marah besar dan memukul barisan Yuari dengan tangan besarnya yang kuat. Para Yuari terlempar kedanau bersama kaguka mereka. Ini memang mustahil, satu monster melawan ratusan Yuari dan para Yuari tidak bisa berbuat apa-apa. Namun, sebuah tembakan peluru bius mengenai Qwed. Memang ini tidak bisa menghentikan Qwed yang mengamuk, tetapi ini akan berakibat bagi kesadarannya.
Qwed yang terkena bius masih berusaha sadar dan lari secepat dia bisa menuju ujung jembatan dan memasuki hutan. Para Yuari masih mengejarnya dengan sesekali masih melepaskan linggi dan tembakan bius. Kesadaran Qwed mulai menurun dan diapun masuk kedalam sebuah goa dihutan untuk menghindari para Yuari yang masih mengejarnya. Untunglah para Yuari kehilangan jejak dan tidak tahu bahwa Qwed berada di dalam goa kecil itu bersama Xano yang terluka parah.
Sesampainya di dalam goa, dia ambruk dan pingsan begitu juga Xano yang sejak tadi sudah tak sadarkan diri karena kehabisan tenaga. Kini mereka berdua aman dari pasukan Yuari untuk sementara waktu.
“Bodoh! Yuari sebanyak itu tak bisa menangkap satu orang tahanan dan monsternya? Dimana otak kalian, hah?!”. Sukaw menendang salah seorang Yuari hingga jatuh kelantai.
Dia bangkit dan memohon maaf. “Maafkan kami tuan. Kami tidak menyangka kalau arudretaju bisa seganas itu kalau sedang marah besar. Kami sudah membiusnya namun dia kebal tuan. Selain itu tuan Xano bukan tandingan kami para Yuari, dia kuat”, ucapnya membela diri.
Sukaw menghampiri orang itu dan menatap matanya dekat-dekat. “Kalian itu banyak! Mengapa tidak kalian ikat saja kaki arudretaju itu dengan cehug? Apa kalian mau bilang dia bisa melempar puluhan cehug?”.
“Ti-tidak tuan. Tapi, para cehug kami terluka parah akibat lidahnya di potong Xano saat menangkap arudretaju itu. Xano orang berlinggi air tuan”.
“Xano! Ternyata dia memiliki linggi air. Aku tidak menyangkanya sama sekali”.
Sukaw kembali menuju singgasananya dan duduk disana. “Panggilkan Juyu kemari”.
“Maaf tuan, nona Juyu terluka akibat terjatuh dari atas bican”.
“Panggil siapa saja yang bisa aku andalkan untuk saat ini. Panggilkan aku tuan Zaren dan Diagta kemari. Cepat!”.
Salah seorang Yuaripun berangkat untuk memanggil ketua Yuari pengintai dan Diagta agar menghadap Sukaw.
Dengan jubah khususnya yang berwarna hitam bercampur merah tua, Zaren memasuki ruangan bersama Diagta disampingnya. Di bahu kanan Zaren terdapat flat besi berwarna merah yang  indah. Rambutnya yang ikal panjang diikat agar tidak menyusahkannya. Dialah ketua pasukan pengintai yang terkenal pendiam.
“Hormat kami tuan”. Zaren mengepalkan tangan kanannya dan menempelkannya ke dahi sebagai tanda dia menghormati Sukaw. Begitu juga dengan Diagta yang melakukan hal serupa seperti tuan Zaren.
“Tuan Zaren. Kau tahu mengapa anda saya panggil kemari?”.
“Belum tuan. Apakah ada tugas khusus untuk saya?”.
“Ini sebenarnya tugas untuk kalian berdua. Diagta terpaksa aku pilih untuk berjaga-jaga”, kata Sukaw yang agak terpaksa melihat kearah Diagta.
“Maksud tuan apa?”, tanya Diagta.
“Kamu memang banyak bicara Diagta, tetapi untuk menghadapi orang berazzo air memang tidak mudah dan hanya kamu orang yang tepat untuk itu. Bukankah kamu masih bisa hidup enak di istana ini karena kemampuan khususmu itu? Jadi kamu jangan banyak bicara untuk tugas kali ini dan lakukan saja jika kamu mau tetap hidup enak di Hrewa Kufe”, kata Sukaw seperti sedikit mengancam.
“Iya… Aku paham”, jawab Diagta cuek. “Jadi apa yang harus kami lakukan untuk tuan?”.
“Kalian sudah dengarkan, bahwa pasukan Yuari penangkap gagal menangani Xano dan Arudretajunya? Maka dari itu aku bermaksud meminta kalian untuk bergerak mencari Xano sebelum dia terlanjur jauh dari Hrewa Kufe. Aku percaya pada anda tuan Zaren, jadi saya hanya mau terima beres. Bawa Yuari seperlunya saja karena saya tidak mau terlihat mencolok”. Sukaw yang tadi tampak marah mulai agak tenang.
“Saya akan laksanakan tuan. Kalau sudah tidak ada tugas lagi, ijinkan saya untuk permisi “, kata tuan Zaren.
“Silahkan. Sebentar dulu, tangkap Xano hidup atau mati”, tegas Sukaw.
Zaren menganggukkan kepala dan mengulangi hormatnya seperti awal tiba tadi sebelum pergi keluar ruangan bersama Diagta.
Di gang saat keluar ruangan Sukaw. Diagta mulai protes dengan perintah Sukaw. Itulah Diagta, kalau tidak banyak omong bukan Diagta namanya.
“Tuan Sukaw bisanya menyuruh saja. Apa tuan tidak merasa jengkel disuruh-suruh terus? Tuan Zaren kan hebat dan saya rasa tuan Sukaw tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kekuatan tuan.  Saya sangat tidak suka dengan cara dia menyuruhku tadi seperti mengancam nadanya. Andai saja dia bukan raja, sudah aku sentil dahinya tadi”. Diagta menunjukan raut wajah yang tidak begitu senang.
Zaren hanya diam membisu mendengar ocehan Diagta.
“Mengapa tuan tidak berani melawan tuan Sukaw?”.
Zaren masih diam dan terus melewati gang-gang ruangan sambil sesekali terlihat memperhatikan langkah kakinya.
“Tuan?”, Diagta tetap berusaha mencari jawaban tuan Zaren.
Zaren berhenti dan menatap mata Diagta dengan tatapan mata yang mengerikan. “Kamu sendiri mengapa tidak melawan Sukaw?”. Senyum Zaren sungguh mengerikan sekali.
“A-a-aku Sendirian Tu-an”, jawab Diagta sambil menahan ketakutannya.
Zaren kembali melanjutkan langkah kakinya setelah mendengar jawaban Diagta.
Diagta yang masih agak takut mengikuti langkah tuan Zaren. Dia sekarang diam dan tak berani berkata sedikitpun. Dia tahu bahwa tuan Zaren sebenarnya sedang kesal mendengar ucapannya. Entah karena ucapannya yang kelewatan atau ucapannya yang memang ada benarnya.
Langkah kaki terus bergerak menyusuri gang sebuah ruangan. Kaki itu adalah milik tuan Loka Fugk yang tengah keluar dari ruang pertemuan membahas mengenai Hajunba yang dimiliki Fugk untuk menuju bumi. Langkah kakinya tampak di buntuti oleh asistennya yang cantik.
Sementara didalam ruangan masih baru mau keluar tuan Karveo dan tuan Qaza.
“Tuan Qaza sudah seharusnya mencari jalan keluar dari masalah ini. Jangan diperlambat lagi”, tegur tuan Karveo saat berbarengan keluar ruangan.
“Saya sudah berusaha tuan tetapi kemampuan Hajunba seperti yang dicuri Vocare telah melalui banyak percobaan dan seleksi panjang pada setiap Hajunba alami. Kita bisa saja membuat Hajunba secara cepat namun untuk menuju bumi, kita tidak bisa. Ini benar-benar bukan masalah jarak yang dekat atau jauh namun ini mengingat bumi dan Naolla memiliki perbedaan waktu yang  cukup jauh. Jika saya paksakan untuk membuat Hajunba jenis itu, kemungkinan untuk menuju bumi hanya satu berbanding seribu. Kestabilan Hajunba darurat sangat labil dan sering kali berubah. Yang saya takutkan, jika sewaktu-waktu hajunba itu mengalami anomali, kita tidak bisa berbuat banyak. Maka dari tu saya tidak ingin mengorbankan para Yuari tanpa mendapat hasil”.
“Lalu bagaimana mungkin anda mengirim orang untuk menemui Ray sementara Hajunba menuju bumi hanya sekecil itu?”.
Mereka terus berjalan meninggalkan ruangan rapat.
“Sesuai perintah Loka tadi, kita akan mencoba mendeteksi keberadaan Ray di bumi dengan baunya. Saya punya hewan kecil yang bisa diandalkan”, kata Qaza.
“Hewan apa itu tuan?”.
“Ayo ikut saya kegedung penelitian, tuan Karveo”, ajak Qaza.
Langkah kaki mereka semakin cepat memasuki ruangan kerjanya. Loka duduk di kursi dan mulai membuka berkas yang akan dia persiapkan untuk pemberian wewenang penuh menangani kasus ini pada Yuari dan lembaga penelitian pulau Fugk.
“Tolong kamu buat surat pemberian wewenang seperti ini, Nevala. Sesegera mungkin”, pinta Loka sambil menyerahkan sebuah surat kepada Nevala.
“Berapa buah tuan?”. Nevala mengambil surat itu.
“Tiga buah. Satunya untuk bukti dimejaku”.
Nevala segera melaksanakan tugas yang diberikan tuan Loka padanya. Diketahui bahwa pertemuan tadi menghasilkan kesepakatan bahwa kasus ini sepenuhnya diserahkan kepada Yuari sebagai pelaksana dan dibantu oleh lembaga penelitian sebagai orang yang dipercayai mengadakan alat pendukung kebumi. Fugk akan melakukan dua tahap pertolongan pada Ray. Pertama mereka akan mengirimkan hajunba kecil setelah menemukan Ray untuk mempermudah mereka kabur jikalau terpaksa. Sementara itu lembaga penelitian Fugk mempersiapkan Hajunba besar seperti yang dibuat sebelumnya agar bisa mengirim pasukan penolong kebumi.
“Wow! Lucu sekali binatang ini tuan”. Karveo memegang seekor binatang sebesar belalang diujung telunjuknya. Dialah Jheibo hewan langka yang bisa bicara dan memiliki kepandaian serta kepintaran. Jheibo memeiliki kepala besar dan seluruh tubuh bersisik kecil berwarna biru keungu-unguan. Dia memiliki enam pasang kaki dan dua pasang sayap yang panjang. Dikepalanya terdapat tonjolan yang mirip sanggul. Di Naolla dia hanya bisa ditemukan di pedalaman Isipao dan itupun sangat sulit melihatnya karena dia bisa membentuk dirinya mirip bunga apabila ketakutan dan waspada.
“Dia memang lucu dan unik tetapi dia bukanlah hewan peliharaan”, jelas Qaza.
“Bagaimana dia akan mengatakan dan menjelaskan pada Ray tentang situasi saat ini di Naolla?”.
“Hewan ini sangat pandai dan bisa bicara. Dia hanya bisa diajarkan berbicara sedikit-sedikt pada kita. Dia tidak akan mampu berbicara banyak karena jika berbicara terlalu panjang akan membuatnya pusing dan tertidur. Tidur Jheibo bisa satu minggu lamanya”.
“Bagaimana Ray tahu kemampuan Jheibo ini kalau kita tak memberitahunya?”.
“Tenang saja. Ray memang tidak tahu tetapi Fiko tahu itu”.
“Mengapa tidak secepatnya kita kirim hewan ini kebumi?”, tanya Karveo.
“Bukankah kita menunggu surat dari Loka terlebih dulu?”.
Karveo memandangi Jheibo lekat-lekat. Jheibo yang tampak manis itu berubah menjadi bunga yang tampak cantik bila dipandang. Karveopun tersenyum melihat kelucuan Jheibo.
***
Ray masuk kedalam rumahnya dan menutup pintu kembali. Tengah malam yang sunyi kali ini membuat Ray agak waspada jikalau tiba-tiba Yuari mengetahui keberadaannya. Pikiran Ray masih teringat akan wajah keempat Yuari yang mengejarnya dihutan tadi. Dengan hati yang masih agak takut, dia masuk kekamar mandi dan mencuci kaki kemudian masuk kekamar dan berganti pakaian tidur.
“Ray? Kamu sudah pulang?”, tanya Fiko seperti mengigau.
“Iya, ini aku Fiko. Sudah… Lanjutin saja tidurmu. Masih malam”. Ray melepas pakaiannya lalu mengambil pakaian bersih untuk ia kenakan tidur.
Ray tidur disamping Fiko. Sementara Fiko membelakangi Ray dengan pulasnya. Ray yang memandangi Fiko hanya bisa tersenyum dan mulai memejamkan mata.
Fiko berbalik badan dan menghadap Ray. Fiko tampak tampan sekali ketika tidur seperti ini. Ray yang semula memejamkan mata sekarang menatap wajah Fiko yang dekat dengan wajahnya sambil berfikir, “ Kamu dan aku berbeda. Kamu Raja dari Vocare sedangkan aku hanya orang biasa. Aku beruntung bisa bersamamu Fiko. Terimakasih karena kamu mau menjadi tanganku dan akupun bersedia melindungimu tanpa atau dengan perintahmu”. Ray mengelus wajah Fiko yang tampak pulas tidur.
Fiko memeluk Ray didalam tidurnya yang hanya ditanggapi Ray dengan senyuman tanda dia setuju dengan perlakuan Fiko.
Malam semakin larut dan dingin. Waktu disana telah menuju dini hari. Dia harus secepatnya memberitahu Fiko mengenai Yuari yang mengincarnya agar mereka bisa waspada jika jauh terpisah.
Lampu-lampu tidur menerangi rumah-rumah di Toshirojima. Kucing-kucing liarpun masih ada yang berkeliaran mencari makanan.
Pagi yang sudah meninggi membangunkan Ray dari tidur nyenyaknya. Dia mengucek-ngucek mata dan melihat kesebelahnya yang tampak hanya tempat tidur Fiko yang tidak dia bereskan. Tidak biasanya Fiko meninggalkan tempat tidurnya dalam keadaan berantakan begitu. Ray mulai berfikir, apakah Fiko sedang buru-buru. Ray bergegas bangun dan merapikan tempat tidurnya dan sekalian tempat tidur Fiko.
Jendela kamar dia buka dan tampaklah matahari ditimur yang mulai meninggi. Ray mengambil handuknya dan dengan jalan malas dia masuk menuju kamar mandi. Ketika dia buka kamar mandi tersebut…
“Fiko? Maaf…”. Ray kaget ketika melihat Fiko sedang mandi telanjang kemudian dia berniat menutup pintu kamar mandi kembali.
Sungguh dia tidak menyangka kalau Fiko ternyata masih dirumah. Biasanya Fiko sudah berangkat melaut jam segini. Fiko langsung menghalangi Ray menutup kamar mandi dengan kakinya dan menarik Ray masuk.
“Kenapa Sayang? Masuk saja sekalian kita mandi bareng”, ajak Fiko.
“Nanti saja ya Fiko. Kamu silahkan saja duluan”, tolak Ray. Dia bukannya menolak Fiko melainkan Ray takut kalau-kalau terjadi sesuatu antara dia dan Fiko dikamar mandi itu.
“Mengapa nanti Ray. Kan kita bisa mandi sama-sama. Bukankah aku pacarmu sekarang?”.
Ray hanya diam terpaku.
“Sudah… Sini aku bukakan bajumu”, pinta Fiko.
“Aku saja Fiko”. Ray membuka baju dan celananya.
“Lho, kok celana dalamnya tidak dibuka sekalian?”.
“Ngapain harus dibuka?”.
“Biar sama-sama polos tubuh kita”, jawab Fiko. Fiko mendekatkan tubuhnya ke Ray dan meraih celana dalam Ray kemudian mempelorotkannya.
Ray hanya diam antara menolak atau mengiyakan. Kini mereka sudah telanjang bulat. Fiko tampak memandangi Ray dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Ada apa Fiko? Jangan memandangku seperti itu”, protes Ray sambil menyiramkan air ketubuhnya.
Ray tahu bahwa Fiko mulai terangsang. Itu jelas terlihat dari barang Fiko yang mulai mengeras dan tegang mengacung.
“Ray. Aku tegang nih. Aku boleh tidak memintamu untuk memegang ini?”, tunjuk Fiko pada penis tegangnya.
Ray yang menakuti hal ini terjadi, akhirnya tak bisa berbuat banyak juga  untuk menahan nafsunya.
Melihat Ray diam membisu, Fiko pun mendekati Ray dan mengerahkan tangan Ray untuk memegang penisnya. Ray tidak menolak dan mulai menggenggam penis besar Fiko yang tidak muat digenggaman tangannya.
“Ray…”, Fiko mengarahkan wajahnya untuk menciumi Ray. Dengan perlahan Ray menengadahkan kepala dan menyambut ciuman Fiko. Pagutan bibir merekapun terlihat memanas. Ciuman Fiko terlihat sangat bergairah pada Ray. Sambil berciuman Fiko hidupkan shower disampingnya agar Ray dan dia terguyur air yang dingin. Ciuman mereka semakin liar dan tangan Ray mulai membelai-belai penis Fiko yang besar. Merasakan sensasi yang membuatnya terbang, Fiko semakin liar menggigit bibir manis Ray. Tangannya dia gerakkan membelai punggung dan pantat Ray.
Ray mulai pandai memainkan batang kejantannan Fiko. Dia kocok pelan penis Fiko dengan penuh perasaan. Fiko benar-benar bergidik merasakan sentuhan tangan Ray yang sangat lembut itu. Ujung jari Ray mulai nakal memutar-mutar dilubang pipis Fiko yang basah.
“Ohhhh Ray…”.
Fiko tersandar didinding dan melepaskan ciumannya. Dia menutup mata dan menikmati sentuhan tangan Ray di penisnya.
Pertahanan Fiko roboh, dia mulai menekan kepala Ray agar mau mendekat keselangkangannya itu. Dengan agak  canggung, Ray mulai mengikuti kemauan Fiko dan berhenti percis didepan penis Fiko yang tegak berdiri.
“Berikan tubuhmu padaku Ray. Aku mau kamu menjadi milikku”.
Ray masih agak bingung mau berbuat apa, tapi Fiko meletakkan ujung penisnya kebibir Ray dan memutar-mutar kepala penis itu seperti megenalkan diri pada bibir Ray. Karena penasaran, Ray julurkan lidahnya dan membuka mulutnya sedikit. Perlahan Ray coba menjilati lubang pipis Fiko dan menggelitiknya menggunakan ujung lidah.
“Ahhh ahhhh,, Shhhtttt… Apa itu tadi Sayang? Nikmat sekali rasanya”, puji Fiko.
Ray mulai menjilati kepala penis itu lagi dan kali ini dia seperti menyeruput lubang pipis Fiko. Fiko meringis nikmat dan tubuhnya bergetar. Ray emut kepala Penis Fiko dan dia isap-isap lembut. Ray tidak tahu rasa apa ini namun benar-benar membuatnya ketagihan. Dia beranikan diri memasukan seluruh batang Fiko kedalam mulutnya.
“Argggghhhh Ohhhh Sayang… Ahhhh”, Fiko menusuk mulut Ray dalam-dalam hingga Ray tersedak.
“Uhuk! Fiko? Pelan-pelan”, protes Ray ketika dia mengeluarkan penis Fiko dari dalam mulutnya.
“Maaf sayang”.
Ray kembali menekankan kepalanya pelan-pelan agar tidak tersedak seperti tadi. Kini Ray mulai mengocok penis besar Fiko menggunakan mulutnya.
Fiko terpejam kenikmatan dan suaranya yang berat mendesah tak karuan menerima hangatnya mulut Ray mengisap dan mengulum penis besarnya. Ray benar-benar tak habis pikir bahwa dia suka sekali dengan sensasi mengulum penis yang tidak ada rasanya ini. Walau begitu, mulutnya seakan-akan memeras kuat benda bulat milik Fiko itu. Ray mengigit bagian bawah penis Fiko dan menjilatinya seperti menjilat es krim batangan.
Fiko mengejang-ngejang merasakan mulut Ray yang nikmat itu.
Ray memompa mulutnya maju mundur pada batang besar Fiko. Air Shower yang terus mengucur sesekali mengalir dikontol Fiko dan tertelan Ray. Plop-plop-plop! Suara yang khas ditimbulkan oleh mulut Ray yang bergerak mengocok penis Fiko. Fiko tak mau kalah, dia mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur. Ray diam mematung, mencoba mengatur nafas karena Fiko sedang menusuk mulutnya ganas sekali. Fiko tampaknya akan keluar sebentar lagi. Kecepatan pinggulnya semakin ganas menyeruduk mulut Ray.
“Ah ahh ahh ahha ssshhhttt ahhh oh ooohhh…”.
Namun lagi-lagi mereka tidak diijinkan untuk melakukan hubungan nista ini lebih jauh. Dari arah luar terdengar seseorang memanggil Ray.
“Ray… Sudah bangun belum?”, panggil seseorang diluar.
Buru-buru Ray melepaskan penis Fiko dimulutnya dan bangkit berdiri. Fiko tampak protes karena dia sudah hampir orgasme.
“Ada orang Fiko. Nanti lagi ya”. Ray mengecup bibir Fiko dan buru-buru mengenakan handuk.
Fiko masih menahan Ray dengan memegang tangannya, namun Ray melepaskan pegangan Fiko dan menuju pintu depan untuk membuka pintu. Tampak sesosok tubuh yang tidak asing diingatan Ray sedang berdiri membelakangi pintu.
“Adam? Ada apa pagi-pagi kemari?”, tanya Ray kaget setelah menebak bahwa punggung yang dia lihat adalah punggung Adam.
Adam memutar badan. “Lama sekali Ka…”, Adam memotong perkataanya setelah melihat tubuh Ray yang hanya terbalut handuk putih dibagian pinggang. Tatapannya tampak tak lepas dari ujung kaki hingga ujung kepala Ray.
“Mau apa kamu kemari Adam?”, tanya Ray membuyarkan tatapan Adam padanya.
“Kamu baru mau mandi Ray? Boleh aku masuk?”. Tatapan Adam masih tertuju pada Ray.
Sungguh Ray merasa agak takut dengan tingkah Adam. Dengan agak ragu dia mempersilahkan adam masuk kedalam rumahnya.
“Ray, kamu menggoda sekali dengan handukan seperti itu. Aku jadi mau mandi bareng dengan kamu. Hehe”. Adam mulai tidak sopan dengan mencolek dagu Ray.
“Ini rumahku Adam, jadi aku harap kamu menghormati aku sebagai tuan rumah”. Ray menegur Adam.
“Kalau aku tidak mau?”. Adam tiba-tiba  mendorong tubuh Ray kedinding dan mencium bibir Ray.
Ray sangat marah sekali, berani-beraninya Adam melecehkannya dirumah dia sendiri. Ray memukul perut Adam sekencang-kencangnya. Namun Adam masih menciumi bibir Ray dengan kasar. Tangan Ray dia bentangkan di dinding sehingga Ray tidak bisa bergerak dan kaki Ray dia tahan menggunakan kakinya. Ray berusaha memanggil Fiko namun dia tidak bisa karena bibirnya digigit Adam dengan cukup keras.
Adam melepaskan handuk Ray yang merupakan satu-satunya benda pelindung tubuh Ray. Ray sekarang benar-benar bugil dihadapan Adam yang  terus mengigit bibirnya.
Fiko yang mulai curiga karena Ray tidak kedengaran suaranya dan Ray tidak kembali lagi ke kamar mandi maka Fiko pun keluar dengan hanya mengenakan handuk sebagai penutup tubuhnya.
Fiko memasuki ruang makan dan berbelok menuju ruangan depan. Alangkah terkejutnya dia melihat Ray sedang berciuman dengan Adam dan Adam terlihat menekan tubuhnya ketubuh Ray kuat-kuat didinding.
Fiko yang marah langsung menarik leher belakang Adam hingga dia melepaskan ciumannya pada Ray dan membanting Adam persis seperti pagi kemarin. Adam terlempar kelantai dan mengerang kesakitan. “Argggg…”.
Fiko menghampiri tubuh Adam yang terbaring dilantai dan memukul wajah Adam hingga hidung dan giginya berdarah. Fiko benar-benar marah pada Adam. Sementara Ray mengambil handuknya dan duduk bersandar didinding terdiam sambil menutupi tubuhnya dengan handuk seadanya. Matanya tampak berkaca-kaca dan geram pada Adam.
Adam tentu tidak menyangka bahwa Fiko tidak melaut hari ini dan masih dirumah bersama Ray. Terlambat bagi Adam untuk pergi meninggalkan rumah itu karena darah segar telah keluar dari gusi dan hidungnya.
“Kamu benar-benar kurang ajar Adam! Aku hampir membunuhmu kalau kamu bukan makhluk bumi namun jika tadi kamu berani bertindak lebih jauh maka terpaksa nyawamu berkhir diujung kapakku. Mengerti?!”. Fiko mendatangi Ray dan memeluk Ray yang agak syok.
“Aku kira kamu melaut Fiko”.
“Pergi dari rumah kami sekarang!”, bentak Fiko.
Adam bangkit berdiri dan buru-buru keluar rumah.
“Bibir kamu berdarah Ray. Kamu diapain sama Adam sampai berdarah begini?”, tanya Fiko sambil mengelap bibir Ray yang berdarah.
Ray hanya bisa diam dam meneteskan air mata sambil memeluk tubuh kekar Fiko. Fiko berusaha menenangkan Ray dengan memeluk tubuh Ray erat-erat. Dia sangat menyayangi Ray dan tidak mau Ray sampai terluka hatinya.
“Berhati-hatilah dengan Adam sayang. Dia tampaknya benar-benar terobsesi denganmu”. Kembali Fiko menciumi ubun-ubun Ray.
Ray sekarang merasa sedikit tenang dengan dekapan hangat dari tubuh Fiko. Merekapun bangkit dan masuk kedalam.
Satelah semuanya agak tenang Ray dan fiko sarapan setelah itu berniat untuk pergi kelaut untuk bersenang-senang. Fiko meminjam kapal tuan Takeshi yang biasa dia gunakan melaut. Kebetulan hari ini tuan Takeshi tidak melaut sehingga Fiko bisa meminjam kapalnya dan mengajak kekasihnya untuk menikmati indahnya laut berdua.
“Memangnya kamu bisa mengendarai kapal Fiko?”, tanya Ray ragu.
“Kamu meragukan aku Ray? Tenang saja, aku sudah mahir kok mengendarai kapal ini. Setiap hari aku kan bersama tuan Takeshi melaut”. Fiko mulai menyalakan mesin kapal dan memutar arah untuk menuju lautan lepas. Tampaknya Fiko tak perlu diragukan lagi bahwa kemampuan mengemudi kapal Fiko sudah bisa dikatakan mahir. Fiko mengemudikan kapalnya menerobos ombak-ombak laut dan angin yang menerpa. Cahaya air laut yang memantulkan cahaya matahari siang semakin menggambarkan ketenangan laut yang hanya mereka nikmati berdua.
Ditengah lautan lepas, Fiko menghentikan laju kapalnya dan membiarkan mereka terombang-ambing dibawa ombak. Menikmati birunya langit dan deretan awan-awan putih, sangat memukau mata Ray. Didalam hati dia merasa takjub akan heningnya laut yang dia rasakan sekarang ini. Fiko mengajak Ray kedepan kapal.
“Disini terlalu panas sayang”, tolak Ray.
“Ya sudah, kita kebelakang kapal saja ya”, ajak Fiko sambil merangkul bahu Ray.
Fiko duduk dibagian belakang kapal. “Duduk dipangkuan aku saja sayang”, kata Fiko pada Ray.
Ray menuruti mau Fiko dan duduk dipangkuannya. Kepala Ray bersandar di bahu kokoh Fiko sambil matanya menatap jauh kedepan sana. Birunya laut yang benar-benar membius Ray yang cinta kedamaian.
“Fiko, aku baru ingat bahwa ada yang harus kamu ketahui”.
“Apa itu Ray?”.
Ray menegakkan tubuhnya dan menatap Fiko. “Ini sebenarnya masalah serius Fiko. Vocare telah mengetahui keberadaan kita dan mereka telah mengirimkan empat orang Yuari untuk menangkapku kemarin. Aku tak habis fikir mengapa mereka bisa menemukan kita. Jika nanti mereka berhasil mengetahui lokasi kita dipulau ini maka aku tak bisa berbuat apa-apa tanpa kamu Fiko”.
“Tenang Ray. Aku akan berusaha melindungimu sebisaku. Memangnya mereka siapa berani-berani mengusik ketenangan kita?”. Fiko sebenarnya tampak berfikir, mungkin dia berharap bisa membuka hajunba ke Naolla dan kembali kesana.
“Mengapa Fugk tidak mengabari kita ya Fiko? Ini sungguh janggal menurut aku. Bagaimana ungkin Vocare bisa menemukan persembunyian kita sementara Fugk merahasiakannya. Jangan-jangan informasi ini dibocorkan orang dalam”. Ray masih duduk di pangkuan Fiko.
“Rebahan dibahuku lagi Ray biar lebih enak ngobrolnya”. Fiko mengarahkan kepala Ray untuk kembali bersandar dibahunya dan Ray seakan patuh pada Fiko.
Dengan diterpa angin laut tubuh mereka semakin merapatkan pelukan supaya tidak terlalu merasa dingin. Fiko mengecup dahi Ray mesra seolah-olah menunjukkan rasa cintanya.
“Kamu kok seperti biasa-biasa saja Fiko? Apakah kamu tidak takut kehilangan aku?”, protes Ray yang merasa bahwa Fiko tidak merespon kata-katanya tadi.
“Bukan begitu sayang. Aku sebenarnya memikirkan cara untuk menyembunyikanmu atau melindungimu saat kita terpisah jauh. Aku kan bekerja dilaut dan kamu di Toshirojima. Kita akan terpisah hampir delapan belas jam. Aku khawatir dengan kamu Ray. Apakah aku harus pindah profesi agar bisa dekat dengan kamu terus?”.  Mata Fiko memang tampak bingung memikirkan sesuatu. Dia bingung harus bagaimana saat ini apakah harus dekat dengan Ray atau menyembunyikan Ray? Fiko hanya bisa menutupi ketakutannya dengan memeluk erat Ray.
Kapal yang bergoyang dihantam ombak tampak menghanyutkan kedua insan ini. Langit mulai menegur Ray dan Fiko menggunakan cahayanya yang indah. Saking asiknya, mereka tidak menyadari bahwa ternyata hari sudah sore.
“Sebaiknya kita pulang Fiko”, pinta Ray yang bangkit dari dekapan Fiko.
“Sebaiknya memang begitu Ray. Kelihatannya sudah sore. Bukankah kamu harus kerja? Maaf ya Ray aku membuatmu terlambat bekerja”.
Ray tersenyum tanda dia tidak mempermasalahkan ini.
Fiko mulai masuk keruang kendali kapal dan menjalankannya untuk segera mengarahkan kapal menuju dermaga.
Disebuah penginapan yang disewa para Yuari tampak lengang. Para Yuari itu tidak ada dikamar mereka. Apakah mereka sedang mencari lokasi Fiko dan Ray berada? Kelihatannya begitu, mengingat mereka datang kebumi dengan tujuan menangkap Ray.
Dijalanan Toshirojima juga tidak tampak para Yuari itu dan hanya terlihat orang-orang berlalu lalang. Mungkin kah para Yuari itu sedang bersembunyi agar tidak terlalu mencolok?
Tampak dari jauh, ada dua orang tengah mengayuh sepeda cepat-cepat dan agak tergesa-gesa. Semakin lama semakin dekat dan mereka ternyata adalah Ray dan Fiko. Tampaknya Ray ingin cepat sampai ke penginapan karena nyonya Aiko pasti tidak akan senang dengan keterlambatannya hari ini.
Dia bersama Fiko memasuki penginapan dan tak tampak Nyonya Aiko disana. Suasana sedikit sepi dan Ray mulai bertanya-tanya kemanakah nyonya Aiko? Dia memasuki ruangan dan menuju dapur namun disana juga tak ada nyonya Etsuko.
“Nyonya Aiko… Nyonya Etsuko… Apakah kalian mendengar aku?”, panggil Ray.
“Kemana mereka ya Ray?”.
Dari arah luar muncul Nyonya Etsuko dengan membawa sesuatu ditangan kirinya.
“Nyonya? Kemana saja kalian?”,tanya Ray.
“Kalian? Aku maksud kamu Ray? Aku baru saja datang dari membeli jahe. Memangnya dimana nyonya Aiko?”, tanya dia balik.
“Aku juga tidak tahu”. Ray mencari nyonya Aiko kesemua ruangan. Ternyata Nyonya Aiko tengah berada dihalaman belakang sedang membuang sampah ketempat pembakaran sampah.
Ray menghampiri nyonya Aiko dan meminta maaf atas keterlambatannya. “Maafkan saya nyonya saya terlambat cukup lama kali ini”.
“Aku kira kamu tidak masuk kerja. Sudahlah Ray, tidak apa-apa. Kamu cepat mengerjakan apa yang harus kamu kerjakan saja, sebelum senja”. Nyonya Aiko tidak marah.
“Terimakasih nyonya. Saya membawa Fiko untuk membantu saya. Bolehkan nyonya?”.
Nyonya Aiko menganggukan kepala tanda dia menyetujuinya. Maka dengan antusias Ray mulai masuk ke ruangannya dan berganti pakaian kerja untuk segera mengerjakan tugas-tugasnya yang tertunda. Fiko juga ikut membantu Ray mengerjakan pekerjaaanya. Fiko menyedot debu-debu yang menempel di lantai dan karpet sementara Ray merapikan barang-barang yang harus dirapikan. Mereka berdua tampak kompak dan serasi mengerjakan tugas. Sesekali tampak Fiko menggoda Ray dan bercanda.
Tepat senja tiba mereka telah menyelesaikan tugasnya. Ray duduk sebentar ditempat kerjanya setelah merapikan peralatan bersih-bersih.
“Untung saja ada kamu ya Fiko jadi pekerjaan aku cepat selesai”. Ray merasa tertolong dengan adanya Fiko.
“Aku senang bisa membantumu sayang”, Fiko memeluk tubuh Ray.
“Muahh…”, Ray mengecup pipi Fiko sebagai tanda terimakasih. “Aku mau membantu nyonya Etsuko didapur dulu Fiko”. Ray melepas pelukan Fiko dan beranjak menuju dapur. Fiko mengikuti Ray kedapur.
Didapur adalah bagian nyonya Etsuko. Sudah cukup lama nyonya Etsu bekerja sebagai juru masak dipenginapan nyonya Aiko. Dia pandai sekali membuat masakan Jepang sehingga Ray sering belajar dengan beliau apabila ingin membuat masakan Jepang. Ray memang tidak begitu pandai memasak jika dibandingkan dengan Fiko. Walau pun Fiko tampak macho begitu, sebenarnya dia mahir memasak dibandingkan Ray namun Ray sebenarnya orang yang mudah belajar sehingga dia sangat cepat mempelajari sesuatu yang baru seperti halnya memasak.
“Wah nyonya Etsu mau masak apa untuk makan malam ini?”, tanya Ray ketika memasuki dapur.
“Mie somen, Ray”. Nyonya Etsu membersihkan udang yang cukup besar-besar itu.
“Saya bantu ya?”, tanya Ray menawarkan diri.
“Kamu potong sayuran itu saja ya Ray”. Nyonya Etsu menunjuk sayuran yang tergelatak di meja. Disana tampak brokoli, jamur shitake dan wortel.
“Sudah dicuci belum sayuran ini nyonya?”, tanya Ray.
“Sudah Ray. Wortelnya dipotong seperti membuat sup saja ya”.
“Baik nyonya”. Ray mulai mengambil sayuran itu dan mulai mengambil  wortel dan mengupas menggunakan pengupas wortel.
Fiko yang ada dibelakang juga mau membantu Ray, dia tampak mengambil cabe merah dan daun bawang. “Cabe merah ini di apakan nyonya?”, tanya Fiko yang sudah siap menangani cabe merah.
“Dicincang saja Fiko”.
Fiko mulai memotong-motong cabe dan Ray memotong wortel. Mereka sesekali tampak bercanda sambil melakukan pekerjaanya.
Setelah nyonya Etsu selesai dengan udangnya, dia memanaskan panggangan dan memanggang udangnya yang sebelumnya telah dibumbui. Aroma udang yang dipanggang sangat menggoda sekali dan aroma inilah yang membuat Adam penasaran untuk melihat apa yang sedang dimasak didapur.
Adam pun keluar kamar kemudian melangkahkan kaki menuju dapur. Dia agak kurang senang melihat Fiko dan Ray yang  tampak tersenyum-senyum sambil memotong sayuran. Langsung saja Adam memisahkan Ray dan Fiko dengan menyelinapkan tubuhnya diantara mereka berdua. “Kalau memotong sayuran aku juga bisa Ray. Aku boleh bantu kan nyonya?”, tanya Adam pada nyonya Etsu.
“Iya boleh tapi hati-hati dengan pisau ya tuan”. Nyonya Etsu sambil membalik udangnya.
Fiko dan Ray tampak kesal dengan kedatangan Adam terlebih lagi Ray yang telah diciumi Adam hingga bibirnya berdarah.
“Kami sudah mau selesai kok Adam. Kamu tidak usah mengotori tanganmu itu”, larang Ray.
“Fiko saja tidak marah. Ya kan Fiko?”, goda Adam.
Fiko tampak jengkel melihat sikap Adam yang tampaknya sengaja ingin membuat dia marah. Fiko menaruh cincangan cabai kasarnya kedalam mangkuk kemudian mulai memotongi daun bawangnya.
“Kamu bisa tidak menjauh dari kami sebentar Adam. Kamu menghambat kerjaku”. Fiko mulai marah karena tangan kanannya kadang sengaja disenggol Adam.
“Nih kamu yang potongi brokoli, Adam. Aku mau bantu yang lain saja”. Ray menyingkir dari sana dan dengan terpaksa Adam memotongi brokoli itu. “Bagaimana memotong brokoli ini Ray? Aku tidak bisa”.
“Tadi kata kamu kalau cuma memotong sayur, kamu bisa. Ya sudah, kalau tidak bisa masak jangan disini. Duduk saja sana!”, usir Ray yang mengambil pisau dari tangan Adam.
Adam akhirnya mau menjauh dan duduk didekat meja makan lesehan.
Setelah semua bahan-bahannya beres maka nyonya Etsu mulai merebus mie somen sedangkan Fiko membantu untuk membuat kuahnya. Ray memandangi wajah Fiko yang tengah memasak dengan senyum bangga. Fiko pun membalasnya dengan senyuman manis yang menunjukan deretan giginya yang rata pada Ray.
Sementara dibelakang sana, Adam dengan cemburunya menatap tingkah laku Ray dan Fiko. “Hati-hati Ray nanti wajah kamu terkena percikan kuah panas Fiko”, tegurnya sewot.
Ray tidak menghiraukan omongan Adam dan terus memandangi wajah kekasihnya ini.
Karena Fiko pandai memasak lah maka Ray sering tidak percaya diri jikalau menghidangkan masakan untuk Fiko dirumah. Namun kalau bukan dia yang masak siapa lagi? Kalau harus menunggu Fiko datang baru memasak makanan, itu sungguh keterlaluan sekali namanya.
Beberapa saat kemudian delapan mangkuk mie somen dingin sudah siap di santap. Ray memanggil para tamu penginapan dan juga nyonya Etsuko untuk makan bersama diruang makan. Nona Ino, Adam, Nyonya Etsu, Ray, Fiko, Nyonya Aiko dan kedua orang tamu,laki-laki serta perempuan, mulai duduk dan menyantap mie somen buatan Fiko dan nyonya Etsuko.
“Wah enak sekali ini nyonya”, puji tamu laki-laki yang tampak berusia sekitar 30 tahunan itu.
“Terimakasih tuan. Silahkan dinikmati jangan sungkan-sungkan”, jawab nyonya Etsu tersipu.
“Nona Ino menikmati liburan disini kan?”, tanya nyonya Aiko.
“Saya senang berlibur disini nyonya. Sluurrpppp”. Nona Ini menyeruput mienya.”Sayang sekali besok saya harus kembali ke Tokyo”.
“Kalau kapan-kapan ada waktu, nona kesini lagi”, kata nyonya Aiko.
Kehangatan acara makan malam kali ini sangat terasa. Mereka saling mengakrabkan diri layaknya sebuah keluarga kecuali Adam yang tampak kesal dengan Fiko yang berbisik-bisik dengan Ray. Tetapi mereka semua masih tidak memperhatikan tindakan Adam dan terus menikmati mie Somen nikmat itu.
Malam telah tiba dengan angin yang bertiup sepoi-sepoi di atas daratan Toshirojima. Ray menutup sebagian jendela yang masih terbuka. Diluar sana awan tampak tak bersahabat dengan menutupi sebagian langit yang indah. Ray teringat dengan kristal di Naolla yang ingin sekali dia naiki suatu saat nanti. Langkah kaki nya menuju ruangan pekerja yang berada didekat dapur. Disana ada Fiko yang sedang membaca buku. Alis Fiko tampak serius sekali menampakkan sikap Fiko saat membaca buku itu. Mata Fiko tampak mulai berair karena lelah membaca dan mungkin juga disebabkan karena tubuhnya yang lelah juga. Ray mendekati Fiko dan duduk disampingnya.
“Serius sekali membaca bukunya. Buku apa itu Fiko?”, tanya Ray sambil meregangkan otot tangannya dengan cara memijat.
“Buku biograpi Ray. Kamu sudah selesai?”. Fiko menutup bukunya.
“Sudah Fiko. Tapi tetap saja aku harus menunggu tuan Yamamoto dulu sebelum pulang. Sebentar lagi juga ada tuan Agashi yang menjaga penginapan ini”.
“Kamu capek ya sayang? Kalau capek istirahat saja disini”. Fiko menunjuk pahanya dengan maksud menyuruh Ray berbaring disana. “Ayo… Sini”. Dia merangkul bahu Ray dan mengarahkannya untuk merebahkan diri di pahanya.
Ray menurut saja apa yang disuruh Fiko karena sebenarnya dia memang sudah lelah dan ingin sekali merebahkan tubuh. Ray merasa sangat dekat sekali dengan Fiko. Semuanya telah berubah sekarang. Dulu dia sangat dingin pada Fiko namun setelah dia tahu bahwa Fiko benar-benar menyayanginya tanpa mengaharapkan apapun maka dia seperti tak ingin jauh-jauh dari Fiko sekarang dan untuk selamanya. Jika suatu saat takdir mengharuskan Fiko untuk pergi darinya maka hanya dia lah yang bisa melanjutkan hidup seperti ini atau hidup didalam diri orang lain sebagai Azzo.
Hangatnya paha Fiko membuat Ray tentram dan ingin sekali memejamkan mata sebentar. Fiko tersenyum melihat wajah Ray yang polos dan tampak kecapekan itu.
Ray memang bertubuh kecil, imut dan tampan. Alisnya yang rapi dan hampir menyatu sangat berbeda dengan penampilannya yang manis dan bibirnya yang merah. Deretan giginya yang rata juga semakin meluluhkan hati Fiko saat dia menatap senyum manis Ray. Hidung Ray yang tampak mancung mendukung bentuk wajahnya yang agak oval. Mungkin Tubuh Ray hanya setengah tubuh Fiko dalam ukuran berat. Fiko yang tinggi besar dan bertubuh kekar akibat latihan Yuari sangat menawan mata siapa saja. Senyumnya yang tampak manis dan wajahnya yang tampan tidak melukiskan bahwa dia mencintai seorang lelaki apalagi dia adalah seorang Raja. Tidak pernah terbesit sedikitpun dipikiran Ray bahwa dia bisa tidur dipangkuan Fiko sebagai kekasihnya. Sejak kecil Ray hanya tahu dari orang-orang bahwa Fiko akan menjadi Raja Vocare yang baru sebagai penerus Raja Vocare X, ayahnya. Ray fikir Fiko itu orangnya angkuh, sombong dan tidak mau tahu kehidupan orang bawah. Apalagi setelah dia mendengar kalau Fiko merupakan Yuari tangguh di kelompoknya. Fiko terkenal sebagai pengeran penerus kerajaan Vocare yang tangguh dan tak terkalahkan. Ray sangat membenci Fiko saat itu karena Fiko akan melakukan apa saja untuk mendapatkan kekuasaannya, termasuk melukai siapa saja yang menghalanginya. Disaat penyerangan Vocare ke Fugk untuk mengambilnya pun, Fiko membantai Yuari Fugk yang berusaha menghentikannya. Fiko benar-benar jahat dimata Ray saat itu.
Ketika Tahta berhasil direbut Sukaw, Fiko sadar bahwa Sukaw yang dia percaya selama ini ternyata hanya ingin menguasai kerajaan Vocare dan Naolla. Dengan berbekal kekuatannya, Fiko berusaha menculik Ray dan membawa Ray ke Fugk untuk berlindung. Namun ternyata Sukaw tahu kemana Fiko dan Ray bersembunyi. Sukaw tak bisa berbuat apa-apa saat itu karena dia adalah Raja Baru yang masih minim kepercayaan oleh warga Naolla. Maka dia tidak ingin melakukan tindakan paksa untuk mengetahui keberadaan Fiko dan Ray sehingga melakukan cara perundingan. Perundingan itu akhirnya membuat hasil yang tidak menguntungkan bagi beberapa wilayah dan Fugk sendiri. Sukaw memutuskan persahabatan dengan Fugk dan negara-negara sahabatnya jikalau Fugk tidak memberitahu keberadaan Ray. Loka Fugk mengira bahwa wilayah sahabat akan berfikiran sama dengannya agar menjaga kedamaian Naolla dengan menyembunyikan Ray tetapi ternyata wilayah sahabat tidak sependapat dan mulai membenci Fugk. Semanjak saat itu kehidupan Fugk menjadi berubah dan semakin dipersulit Sukaw.
Awal tinggal dibumi bersama Fiko, Ray sangat membenci Fiko dan dingin pada Fiko. Namun ketika melewati banyak hal bersama dibumi, ternyata Fiko tidak seperti yang ada dipikirannya selama ini. Fiko bahkan memiliki hati yang baik dan penyayang. Maka dari itulah perasaan cinta mulai menghantui diri Ray dan ini cinta terlarang. Namun tanpa dia sadari bahwa Fiko juga memiliki rasa yang sama padanya bahkan jauh sebelum dia merasakan perasaan cinta pada Fiko.
Ray memeluk pinggang Fiko seperti tak ingin melepasnya. Fiko tersenyum sambil tangannya membelai pipi Ray mesra. Fiko sangat sayang dengan Ray. Dia sebenarnya pria yang lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Dia selama ini hanya terkekang oleh nama besar yang dia sandang. Dia benar-benar berubah setelah melihat Ray untuk pertama kali dimalam penangkapan Ray saat itu. Dia takjub dengan keberanian Ray melindungi orang lain yang ingin dia bunuh menggunakan lingginya. Dia tidak bisa membunuh Ray walau saat itu dia bisa saja menebas kepala Ray namun tangannya tiba-tiba bergetar hebat menahan nafsu membunuhnya dan dia seperti benar-benar bukan Fiko Vocare yang hebat didepan Ray. Entah mengapa dia saat itu seperti orang lemah dan tak berdaya hingga Ray terkena sebuah roda gerobak dan jatuh pingsan.
Memandangi wajah kekasihnya yang sangat dia sayang membuat lelah mata Fiko hilang secara tiba-tiba. Dia bersyukur bahwa Ray talah merubah hidupnya seratus delapan puluh derajat.
“Ray kamu mau tidak aku ajak tinggal diistana jikalau aku kembali ke Hrewa Kufe?”.
Ray diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Fiko. “Untuk apa Fiko?”, tanya Ray balik.
“Ya untuk hubungan kita. Aku mau kamu selalu ada didekatku dan menjadi bagian dari Hrewa Kufe juga”.
“Bagaimana dengan pandangan orang-orang padamu Fiko? Aku tidak mau memperburuk keadaan”. Ray mencoba mengemukakan apa yang dia pikirkan.
“Mungkin bisa jadi memperburuk dan bisa juga tidak Ray. Aku yakin Naolla tidak mempersalahkan hubungan kita”.
“Mungkin bagi kamu tidak Fiko tetapi nama Raja Vocare XI yang berada di belakang namamu itu yang menjadi taruhannya. Nama besar harus memiliki kesiapan yang lebih besar sayang”. Ray mencoba memberikan penjelasan pada Fiko.
“Aku sebenarnya sudah siap Ray. Aku siap menerima kesalahan perasaan ini jika suatu saat nanti Naolla menuntutku. Aku sungguh-sungguh ingin memilikimu. Aku ingin bersamamu dan menjadi tanganmu Ray. Kamu masih ragu kah dengan sikap dan perasaanku?”, ucap Fiko serius.
“Naolla tidak semudah itu mengerti keadaan kita Fiko. Jikalau kamu adalah orang biasa mungkin semuanya tidak akan berpengaruh namun nama besarmu yang sangat di hormati itu yang jadi permasalahannya”. Ray mencoba menjelaskan dengan nada lembut.
Fiko terdiam sebentar dan berfikir bahwa apa yang dikatakan Ray itu benar adanya. Dia tidak bisa menolak takdir sebagai orang besar namun dia juga tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Fiko menarik nafas panjang sebelum dia meraih tangan Ray dan menciumnya dengan penuh kasih sayang.
Drap,drap,drap… bunyi langkah kaki orang berlari kian mendekat. Suaranya tampak kompak dan teratur mungkin beberapa orang yang berlari itu memiliki kecepatan yang sama. Mereka terus mencari sesuatu sambil berlari. Mata mereka sesekali memandang kesisi kanan atau kiri untuk melihat apakah ada orang yang masih berkeliaran. Mengapa mereka berlari malam-malam? Apakah mereka mau berbuat jahat? Ternyata mereka adalah para Yuari Vocare yang tengah menuju penginapan. Mereka sudah mencoba mencari keberadaan Ray dan Fiko dengan bertanya pada warga Toshirojima namun tidak berhasil. Padahal Toshirojima adalah tempat yang sempit untuk bersembunyi namun mengapa mereka tidak bisa menemukan Ray dan Fiko? Ternyata mereka semua baru saja datang dari Naolla untuk mengumpulkan informasi mengenai bumi. Mereka berempat memiliki masalah untuk berbaur dengan warga di Toshirojima. Mereka memiliki masalah dengan adaptasi tingkah laku di pulau ini. Sikap kasar mereka ternyata membuat sebagian orang yang mereka tanya menjadi menjauh dan tidak berani mendekati mereka. Jika ini dibiarkan maka mereka akan terhambat untuk mencari keberadaan Ray.
“Cepat Vehu kita sudah terlalu malam untuk masuk kepenginapan”, protes Cre yang berada dibelakang Vehu.
“Hehe… Sebenarnya aku lupa jalan menuju penginapan kita”.
“Apa?!”, Cre kaget dan menghentikan larinya.
Para Yuari itupun berhenti sejenak.
“Tadi kamu bilang masih ingat dengan jalan menuju penginapan kita tetapi sekarang lupa? Bagaimana nasib kita ini sekarang?”, tanya Koloji agak marah.
“Maaf … Aku kan tidak terlalu pandai mengingat”. Vehu membela diri.
“Hu-uh… Sebaiknya kita bermalam di hutan saja sampai pagi tiba karena percuma terus berlari dan tidak mempunyai tujuan seperti ini”, usul Alian.
“Apa boleh buat. Ini karena sikap Sok tahu Vehu tadi. Kalau dia tidak bilang dia ingat mungkin aku akan pulang lebih cepat tadi”, kata Cre.
“Sudahlah. Kita juga yang salah sebenarnya. Kita tahu bahwa Vehu itu tidak sepandai kita tetapi kita masih saja percaya padanya. Ayo kita kehutan saja”, ajak Alian.
Mereka berempat mulai berlari menuju hutan untuk bermalam dan menghindari kecurigaan orang. Walau mereka sudah lelah berjalan namun fisik kuat mereka memang pantas di acungi jempol. Fisik kuat itu karena bentukan saat latihan di Yuari.
Gelapnya hutan dan lebatnya pepohonan membuat suasana dingin semakin menusuk tubuh mereka. Suara-suara binatang yang asing di telinga mereka juga tampak membuat mereka siaga. Mereka benar-benar masih belum tahu banyak mengenai bumi. Bukan seperti di Naolla yang memiliki binatang dan tumbuhan aneh, di bumi mereka juga merasakan keanehan. Binatang, tumbuhan, manusia dan keadaan alam dibumi tidak sama dengan di Naolla. Jika mereka ingin menjadi orang bumi maka mereka harus paham dengan bumi setidaknya sampai tujuan mereka dibumi tercapai.
“Berhenti!”, perintah Alian. “Dengarkan suara itu”.
Mereka menelinga dan mencoba mendengarkan sebuah suara yang mendekat kearah mereka. Suara yang ditimbulkan oleh dedaunan kering yang tergesek sesuatu.tentu saja mereka harus waspada kalau-kalau ada hewan atau sesuatu yang membahayakan nyawa mereka dihutan ini. Suara itu semakin dekat, semakin dekat dan…
“Awwww! Sesuatu mengigit kakiku!”. Vehu melompat dan jatuh ketanah. Tampaknya dia tergigit ular.
“Bagaimana ini Alian? Vehu tergigit sesuatu”, tanya Cre.
“Tenang Vehu. Tampaknya ini seperti gigitan beracun. Kamu jangan banyak bergerak dan aku akan mencoba menghilangkan racunmu”.
Alian mendekatkan mulutnya kekaki Vehu dan mulai menyedot darah dari kaki Vehu. Beberapa kali Alian melakukan itu untuk membuang bisa ular yang mengigit Vehu.
“Aduhhhhh… Pelan-pelan Alian. Sakit sekali”, protes Vehu.
“Tenang sedikit Bodoh! Kamu mau mati dibumi, hah?!”, bentak Koloji yang geram dengan sikap gugup Vehu.
Setelah menyedot darah Vehu, Alian mengeluarkan Azzonya dan mulai mebuat linggi yang kecil sekali untuk dimasukkan ketubuh Vehu. Linggi disini akan menyerap racun dan mengeluarkannya walau rasanya agak sedikit sakit.
Vehu meronta-ronta menahan sakit karena linggi itu mulai bekerja. Sementara Koloji, Cre dan Alian berusaha menahan Vahu agar tidak banyak bergerak. Perlahan-lahan Alian mengeluarkan linggi kecil yang menarik racun itu dari tubuh Vehu dan membuangnya jauh-jauh. Vehu mulai lemas dan tertidur.
“Bawa dia kedekat pohon itu dan sebaiknya kita menunggu datangnya pagi dengan beristirahat disini saja”, kata Alian. Merekapun mengangkat tubuh Vehu yang tak berdaya untuk disandarkan kepohon.
Bumi adalah tempat yang asing dan tidak mudah dipelajari oleh mereka. Untuk meminimalisir gangguan ular kembali terjadi maka mereka bertiga bergantian menjaga Vehu sampai pagi tiba.
Bumi ibaratkan tanah yang sangat bundar dan memiliki keanehan tersendiri dimata para Yuari ini. Mungkin dulu hanya mimpi bagi mereka untuk menuju bumi. Sekarang mimpi itu sudah menjadi kenyataan dan tampaklah ketakjuban meraka akan bumi yang indah. Jika mereka bisa menuju bumi, tentu mereka akan memerlukan sikap yang berbeda dalam menyikapi penduduk bumi. Sekarang mereka tahu bahwa dibumi manusia selalu ingin hidup bersama-sama dan dibumi juga manusia saling berperang untuk menjatuhkan satu sama lain.
Pagi akan segera tiba dan mereka pun memanfaatkan sisa malam untuk melepas lelah setelah seharian melakukan perjalanan bolak-balik Naolla-Bumi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar