Hunk Menu

Overview of the Naolla

Naolla is a novel which tells about life of Hucky Nagaray, Fiko Vocare and Zo Agif Ree. They are the ones who run away from Naolla to the Earth. But only one, their goal is to save Naolla from the destruction.

Book 1: Naolla, The Confidant Of God
Book 2: Naolla, The Angel Falls

Please read an exciting romance novel , suspenseful and full of struggle.
Happy reading...

Look

Untuk beberapa pembaca yang masih bingung dengan pengelompokan posting di blog ini, maka saya akan memberikan penjelasannya.
(1)Inserer untuk posting bertemakan polisi dan dikutip dari blog lain;(2)Intermezzo adalah posting yang dibuat oleh pemilik blog;(3)Insert untuk cerita bertema bebas yang dikutip dari blog lain;(4)Set digunakan untuk mengelompokan posting yang sudah diedit dan dikutip dari blog lain;(5)Posting tanpa pengelompokan adalah posting tentang novel Naolla

Selasa, 13 Agustus 2013

IntermezzoX: STRAIGHT TO GAY PART 0,2



tumblr_m5dq5s2hAa1qk35bzo1_500.jpg
 













Hello, Dree is back! Now I’m gonna give you guys, a new story from Hendra’s adventure with a lot a straight in his live. Perviously, gue udah suguhin cerita Hendra bersama Farid slash temen sekelasnya slash ketua kelasnya yang super damn hot itu. Well, for now, Hendra is back with his story, yang nggak kalah kerennya dari yang sesudah dan terdahulunya. Bagian yang ini bercerita tentang Hendra dan Bokapnya sendiri. Well, let’s check this story out, gusy!
Author’s Note :
Thanks buat Dimas Arbayu atau Bayu – gue ambigu soalnya sama pemilik blog ini, yang udah kasih izin ke gue buat jadi kontributor cerita gay di blog lo ini. Suer, kalau gue bisa bikin blog sendiri, pengen deh punya. Tapi pengennya bikin blog fashion – eh kok malah curcol. Well, buat para pembaca, gracie *terima kasih*, atas komentar dan kesabaran kalian dalam mengikuti kisahnya Si Hendra ini. Gue bukan pakarnya “gay menggoda straight”. Apa yang ada di cerita gue itu hasil imajinasi dan teori gue sendiri. Sialhkan kalau kalian para gay straight du jour mau mengikuti kiat-kiat Hendra dalam menggoda para straight itu. Good luck guys! For your information, ini based on artikel yang gue baca di sebuah situs internet, bahwa seorang laki-laki memiliki sisi gay dalam hidupnya. Let’s say lo tiba-tiba mengoral kontol seorang teman straight yang kala itu lagi tidur dan nginep di rumah lo. Apa yang akan terjadi saat dia mengetahui lo sedang mengoralnya? Well, he will let you do it.
Buat yang mau kenal gue. Nama gue Andre. Just call me Dree as like my author name. Kontak gue lewat e-mail di : dreetheauthor@gmail.com it’s official lho. Untuk kontak person, well, I keep it secrets first for my savety. Sorry, gue baru di dunia gay. Well, gue emang complicated. Gue gay atau straight? Well, I worship the gay people *secara idola gue adalah Kurt dan Blaine di serial glee*, but I love girls too. Bisex, well I dunno? Forget it, gue kok malah curcol, ya!! Hahahhaha.
Thanks atas perhatiannya. Heart YA!
Note buat Dimas Arbayu : Di setiap postingan cerita mesti lo kasih gambar, bro. Sebut saja ada gambar polisi. Lo nggak takut ada yang kenal sama mereka?
                                                          
Dree
****
Singkat cerita...
 Di rumah gue yang bergaya minimalis di daerah elite kota S, gue tinggal bersama orang tua gue. Sebut saya mereka Bokap, Nyokap, dan gue sendiri. Well, buat kalian yang belum kenal gue. Nama gue Hendra (24 tahun). Gue adalah seorang Polisi berpangkat Briptu yang bekerja di sebuah Polsek di Kota S di Pulau Jawa. Gue adalah seorang gay, dan gue crush du jour with a straight, tahu kan! Gue sukanya sama straight alias cowok-cowok normal. Kenapa bisa begitu? Well, udah kebewa batin kali ya kalau gue lebih suka, seneng, dan terlebih puas kalau gue bisa merubah seorang straight masuk ke team gay seperti gue. Gue, sih nggak muluk-muluk mau merubah mereka menjadi gay, but atleast gue pengen memperkenalkan mereka para straight itu mengenai dunia gay. Lewat apa? of course lewat seks.
Kembali ke cerita. Hem, meskipun punya orang tua lengkap, gue nggak ngerasa bahagia. Di umur gue yang baru menginjak 18 tahun (Sekarang gue udah kelas 3 SMA dan masih sekelas sama Farid. Gimana hubungan gue sama Farid? Well, baik-baik saja. Kita malah jadi BFF *Best Friend Forever* dan kayaknya gue jadi his gay friend. Dan dia masih seorang straight *Insert : para gay kecewa berat* dan dia masih pacaran sama Dian Ayu Permata yang gue benci itu) gue kurang kasih sayang dari Nyokap.
Bokap gue sibuk bekerja sebagai seorang Polisi berpangkat Irjen di Polda, dan sedangkan Nyokap gue adalah seorang Managing director sebuah hotel berbintang di kota S, which is membuat gue sedih karena Nyokap selalu sibuk dan jarang ada di rumah. Nyokap gue selalu tugas ke luar kota sampai beberapa hari dan pernah tuh saat hari besar agama gue, Nyokap malah sibuk di tempat kerjanya, which is meninggalkan Bokap yang kerja, tapi nggak sibuk-sibuk banget itu, berdua di rumah.
Gue nggak membenci Nyokap gue. Gue cuman menyayangkan keputusannya yang dengan teganya meninggalkan gue dan Bokap demi karirnya. Well, Bokap gue gajinya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga gue, tapi entahlah... alasannya Nyokap, sih demi mengejar karir dan emansipasi wanita yang pengen kerja juga dan nggak mau kalah sama laki-laki.
Itulah yang membuat gue juga merasa iba sama Bokap. He’s fourthy something umurnya dan masih kelihatan muda dan bergairah muda. Well, bokap gue punya badan yang shape. Nggak terlalu maskulin dan berotot, sih cuman dia tahu gimana caranya jaga badan dan hidup sehat. Gue yang seorang gay, kadang-kadang suka horney ngelihat Bokap dengan seragam Polisinya itu. Tapi, yaaaahh perasaan gue ini harus gue pendam dalam-dalam kalau kontol gue udah mulai menunjukkan reaksi kalau ngelihat Bokap yang Oh so Damn Hot, if he’s fourthy something itu.
Seperti hari ini. Di pagi hari sebelum gue berangkat sekolah. Nyokap gue entah ada di mana. Menurut info dari Bokap, Nyokap udah berangkat kerja sejak jam lima pagi tadi. Hufffhhh, gue nggak menghitung sudah berapa banyak lenguhan kesal gue karena Nyokap nggak sarapan pagi bareng-bareng kita.
Pagi ini seorang pembantu menyiapkan sarapan untuk gue dan Bokap. Yah, breakfast menu ala Indonesia. Nasi goreng. Bokap muncul di ruang makan dengan seragam Polisinya yang menempel pas di badannya yang proposional itu. Eeeeemmmm, pagi-pagi udah cuci mata. Begitu kata gue dalam hati. Dalam diam gue menikmati ketampanan Bokap gue. Badan proposional, wajah ganteng tanpa keriput, dan kumisnya itu lho... nggak nahan.
Kami biasa sarapan dalam diam, terus setelah itu masing-masing berangkat ke tujuan masing-masing. Bokap pakai mobil dinas ke Polda, gue naek motor matic gue ke sekolah. See you later, Pop!

THE “IT” NIGHT (Satu minggu kemudian)...
Malam itu setelah mengerjakan tugas Sejarah, gue tidur di kamar dengan ditemani berlembar-lembar kertas HVS dan buku-buku pelajaran gue yang masih berserakan di atas tempat tidur. Gue nggak habis pikir, kenapa belajar bisa melelahkan begini. Apalagi tadi pagi gue ada rapat OSIS bareng Farid sampai sore. Malam ini tidur gue pules banget.
Pada tengah malam gue terjaga sekitar pukul dua dini hari, gara-gara dering handphone gue di kantung celana jins yang malam itu gue pakai tidur. Gue bangun dengan setengah kesadaran dan merogoh saku celana. Ternyata ada SMS dari Nyokap. “Sayang, Mama kan lagi tugas ke S’pore. Mau nitip oleh-oleh apa?”
Gue tersenyum. Nyokap gue emang sibuk, tapi gue suka dimanjakan dengan barang-barang yang mahal. Apapun yang gue minta pasti Nyokap belikan. Mungkin itu salah satu cara gimana Nyokap membayar kasih sayang yang kurang gue dapatkan. Kasih sayang yang bagaimana, well, ya Family time with me of course. Gue langsung membalas SMS Nyokap, yang isinya “Postman bag dari Louis Vuitton yang di DAMAN waktu itu boleh juga. Thanks, Mom!” nggak lama kemudian di balas lah SMS gue. “Siap,”. See, apa gue bilang. Apapun yang gue minta pasti diturutin sama Nyokap. Inilah nilai lebihnya kalau punya Bonyok yang sama-sama punya kerjaan mapan. Biarpun kurang kasih sayang gue masih bisa mendapatkan keuntungan pribadi yang lain. Mungkin juga karena alasan “kurang kasih sayang ini” gue bisa menjadi seorang gay. Ahhh, gue lagi malas buat membahas sebab-akibat thing begitu.
Jadilah gue merasa haus malam itu. Terjaga di tengah malam pasti bakal susah untuk balik terlelap. Sialan! Mana gue lagi mimpi make out sama Taylor Kinney lagi. SIUL! Bangunlah gue dari atas tempat tidur dan melangkahkan kaki jenjang berbulu gue ke lantai bawah. Ingin rasanya gue membasahi tenggorokan kering ini *mungkin karena di dalam mimpi tadi gue lagi kasih blowjob ke Taylor* dengan air dingin di lemari es.
Lampu-lampu di rumah gue emang selalu mati di malam hari. Yah, untuk menghemat listrik dan sayang bumi, sih katanya. Sambil berjalan santai, tapi langkah kaki gue nggak menimbulkan suara, cos lantai kamar gue dari kayu yang dipelitur halus, gue melangkahkan kaki menuju dapur. Dalam perjalanan itu gue melewati kamar Bokap yang pintu kamarnya terbuka sedikit. Tumben Bokap nggak mengunci kamarnya? Batin gue yang tiba-tiba mendekati pintu kamar Bokap, dan bukannya melanjutkan perjalanan ke dapur.
Dalam kepala gue pengen banget ngintipin Bokap lagi tidur. Yah, you know, kebiasaan Bokap gue tidur sambil Topless. Siapa tahu gue bisa ngelihat bodynya itu *For your imagination, gambar di bawah judul itu bisa jadi refrensi*. Gue melongohkan kepala ke celah pintu kamar Bokap. Kamarnya gelap, dan hanya ada lampu baca di atas sandaran tempat tidur king size itu yang menyala. Cahaya redupnya menyinari tempat tidur yang berantakan tapi kosong. Kemana Bokap gue?
 Gue melirik ke sudut dan menemukan pintu kamar mandi dalam kamarnya terbuka sedikit dan ada cahaya terang menyerobok dari dalam. Bokap di kamar mandi. (Well, kenapa sih selalu ada adegan “pintu terbuka sedikit” hahahahhaa, gue nggak tahu. Kalau kalian menjumpai pintu-pintu yang begitu, silahkan diintip. Siapa tahu beruntung) gue mendekat ke arah pintu kamar mandi yang terbuka sedikit itu. Suara langkah kaki gue teredam karpet beludu yang menggelitik telapak kaki.
Gue mengintip ke dalam. Dan yang gue lihat adalah, Bokap sedang berdiri menghadap cermin di depan wastafel. Bokap lagi shaving bakal jenggotnya. Adegan macho itu menggetarkan jiwa gay gue. Ibarat model di iklan pencukur, gue mengagumi sosok Bokap kala itu. Sexy, bangat! Bokap biasa topless dan mengenakan celana piamanya. Pekerjaan mencukurnya udah hampir selesai.
Selesai mencukur, which is Bokap menyisahkan kumisnya yang sexy itu, Bokap lantas melepas celana piamanya. Gue yang sedang mengintip kala itu langsung berdebar-debar bukan main. Bokap melempar celana piamanya ke dalam keranjang cucian, dan gue saat itu menyaksikan dengan mata-kepala gue sendiri bagaimana HOTnya Bokap dengan bentuk serupa model-model iklan celana dalam.
Celana dalam jenis briefnya melekat mantap, membingkai dua pantat indahnya yang masih kencang di umur fourthy something itu. Sayang sekali, gue nggak bisa melihat kontolnya yang tercetak bagian depan celana dalamnya. Hiks! Gue emang belum pernah ngelihat Bokap gue naked.
Dari situ Bokap mengambil sebuah karpet matras *itu lho, karpet dari bahan karet yang biasa digunakan alas untuk berolahraga agar kaki nggak slip di lantai yang licin* dari laci di bawah wastafel. Mau ngapain Bokap dengan karpet itu? Bokap menggelar karpet itu di lantai kamar mandinya yang kering dan cukup luas itu. Dan saat itu juga, gue menyaksikan Bokap push up. OH MY FUCKING GOD! Gue menelan ludah. Otot di bahunya tiba-tiba bermunculan seiring dengan gerakan push dan up Bokap di atas karpetnya.
Gue hitung ada 30x pushup dan setelah itu Bokap kayaknya mulai melakukan stertching sambil duduk bersila di atas karpet. Gue sontak terkejut saat mengetahui gerakan-gerakan yang dilakukan Bokap. He’s doing yoga. Hah? Bokap gue yoga? Nggak, salah? Berbagai macam jenis gaya yoga Beliau praktekkan. Hampir sepuluh menit gue mengintip Bokap gue melakukan yoga. Ada sih beberapa gerakan yang membuat kedua pahanya saling berhimpitan dan mencetak jelas tonjolan di balik celana dalamnya yang membuat gue berhenti bernapas seketika itu juga. ARGHHHHH! Ingin sekali air liur ini menetes.
Selepas yoga, Bokap gue kembali menggulung karpetnya dan mengembalikan benda itu ke tempatnya semula. Kembali Bokap bercermin dan melakukan gerakan-gereakan meregangkan bahunya yang kembali membuat otot di bahunya itu bertonjolan.
What the fuck! Jantung gue berhentik berdetak begitu melihat Bokap melepas celana dalamnya. Terlihatlah kedua bokongnya yang ASOY itu. Dari kegelapan di celah pintu kamar mandinya ini, gue bisa melihat ada bulu-bulu yang timbuh di sekitar lipatan bokong Bokap, dan itu membuktikan teori gue kalau Bokap adalah jenis laki-laki berbulu. Ah, ingin sekali gue melihat bagian depannya. Saking nggak sabarnya gue sampai menghentak-hentakkan kaki ke atas karpet.
Tunggu, deh? Gue, kok bejat banget mengintip Bokap gue sendiri. Tapi pikiran itu segera menyingkir karena didesak oleh keinginan birahi gay gue yang semakin trun on. Bokap yang telanjang lantas masuk ke bilik kaca untuk mandi di bawah guyuran shower. Dalam sekejap waktu gue menikmati adegan Bokap gue mandi. Kali ini Bokap sedang menyabuni tubuhnya yang besar itu dengan sabun cair yang ia tuangkan banyak-banyak ke telapak tangannya. Tubuh besar itu segera terpenuhi dengan busa sabun, dan sekarang Bokap sedang memofokuskan gerakan tangannya untuk menggosok kedua selangkangannya AHHHHH! OHHHHH! YESSSSS! Lihatlah itu! Gue bisa melihat kontolnya yang sedang tertidur di bawah rimbunan jembut yang mengkeriting. Gue tafsir panjangnya saat tak ereksi, 5cm. Ah, gimana bentuknya kalau Bokap lagi ereksi.
Sayangnya keinginan itu tak akan pernah tak terkabul. Sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak pada gue, dan segalanya memang terlihat sangat mudah dan kebetulan sekali. Thank you Gay God! Gue melihat Bokap gue menggosok-gosok kontolnya yang penuh busa sabun dengan tangannya. Dalam sekejap kontol itu bekerja menanggapi rangsangan lembut tangan penuh sabun itu. Berlahan tapi pasti kontol itu terbangun dan menunjukkan bentuk keperkasaanya.
16cm panjangnya dengan diameter sekitar 4cm dan bikin kaki gue lemas begitu melihatnya dengan mata-kepala gue sendiri. Entah kenapa saat itu Bokap nggak segera menjauhkan tangannya dari kontolnya sendiri. Bokap malah mulai mengocok dan mengurut kontolnya dengan gerakan pelan.
Apakah Bokap sedang? Dan saat itulah gue mendengar ocehan Bokap. Jelas.
“Aku nggak percaya kalau aku akhirnya kembali melakukan onani seperti ini? Sudah lama aku nggak berhubungan intim. Sialan! Kalau kamu nggak keluar kota malam ini, Rahayu, aku pengen membasahi vaginamu. Ahhhh! Sialan! Sekarang puasnya cuman onani saja.”
Gleeeek! Gue menelan ludah. Keringat gue mengucur dari kening dan saat itu juga gue dilanda rasa iba. Gue kasihan sama Bokap. Well, Bokap orang yang sehat Jasmani dan Rohaninya, jelas Bokap masih butuh kebutuhan biologis tersebut. Dan mirisnya, saat Bokap membutuhkan itu semua, Nyokap gue yang selama 20 tahun ini menjadi pasangannya dalam kehidupan dan di atas ranjang, malah memilih pergi ke luar kota demi pekerjaanya. lihatlah sekarang ini! Bokap gue onani. Jelas-jelas bukan kegiatan yang sepatutnya dilakukan oleh laki-laki yang sudah menikah.
“Agrrrhhh!”
Sepertinya Bokap sudah menelan mentah-mentah kekecewaanya kepada Nyokap. Sekarang Bokap sedang menikmati gerakan tangan bersabunnya yang sibuk mengurut-urut kontolnya yang sudah ereksi itu. Siapa sangka kalau keturunan kontol itu yang sekarang ini sedang bersarang di balik celana jins yang gue pakai ini mulai menyadari kehadiran ayahnya. Sudah lama kontol gue ini menunggu pertemuannya dengan ayahnya.
Kontol gue terbangun dalam sekejap, seolah bersemangat menanggapi gejolak gairah yang saat itu tengah melanda tubuh gue. Pikiran jorok gue menggerakan tangan gue untuk menyentuh kontol gue yang mulai berkedut-kedut. Pull me out, I wanna see my father. Kalau saja kontol gue bisa ngomong, pasti dia udah protes. Apa daya! Gue udah kepalang napsu ngelihat Bokap gue telanjang bulat, dan lagi onani pula.
“Ahhhh, Ahhh, nikmat banget. Kocokan gue ternyata masih seenak dulu. Ahhh!”
Gue mendengar Bokap kembali meracau. Bokap menyandarkan tubuhnya di dinding dan membiarkan air dari shower membilas habis busa-busa sabun di dada dan perutnya. Dalam sekejap juga busa-busa sabun yang menyelubungi kontolnya mulai terkikis. Kontol itu kini bersih, dan tampak berkilat saat Bokap masih terus mengocok-ngocok kontolnya.
Cairan percum mengalir keluar dan kejadian itu membuat Bokap mengadahkan kepalanya keatas, menikmati gelitik nikmat di kepala kontolnya yang sekarang basah dengan percum. Inilah saatnya gue untuk bergabung. Gue membuka resleting celana jins gue, dan mengeluarkan kontol gue dari celah resleting yang terbuka. Here it goes. Kontol gue yang indah ini, 17cm sudah tak sabar ingin mengikuti jejak nikmat yang dilakukan Bokap gue. Dengan mantap tangan gue mengenggam batang kontol gue dan mulai mengurut-urutnya dengan gerakan pelan. Sekejap mata gue terpejam menikmati sensai pertama menegangnya setiap saraf di sana.
“Aghhh, Ohhhh, nikmat sekali! Aku bener-bener horney malam ini. Fuuuh, Heeem!”
Bokap kembali mengeluarkan dirty talk by him self-nya. Mendengar suaranya yang rendah dan tertahan begitu, kontol gue meronta-ronta dan mengeluarkan banyak percum dan seketika itu membasahi telapak tangan gue. Pelumas alami ini gue gunakan untuk memperlancar gerakan tangan gue kala beronani.
Percum kembali keluar dari lubang kencing Bokap dan kali ini disertai dengan gerakan tubuh Bokap yang meliuk-liuk seperti ular raksasa. Desahan kembali terdengar memecah keheningan malam. Sebentar lagi Bokap akan mencapai puncak kenikmatannya. Dalam hati gue pengen mencapai puncak bersama-sama dengan Bokap, maka gue percepatan kocokan tangan gue di kontol. Clek, clek, clek, clek. Suara becek tangan berpelumas percum yang sedang mengocok-ngocok batang kontol, tengah bersahutan antara gue dan Bokap.
“OOOOOHHHHHH YEEEEEEEAHHHHHHHHHH!” Bokap ejakulasi. Spermanya menyembur banyak sekali. Kalau pun sperma itu ditampung, mungkin bisa memenuhi gelas sloki vodka.
Gue menelan ludah menikmati pemandangan erotik Bokapa yang sedang berada dipuncak awang-awang. Melihat itu adrenalin gue terpompa. Seperti kerja pegas kereta api gue mempercepat kocokan gue, dan tak selang berapa lama, inilah yang gue tunggu-tunggu. Tubuh gue bergetar seiring rasa gelitik yang menggrayangi area pribadi gue. Otot-otot di sana mulai menegang dan langsung meregang begitu sperma gue siap melontar. Dan...
CROOOOOOOOOOOOT! Gue ejakulasi. “Oooooooohhhh...” Desahan membisik keluar dari bibir gue.
Bokap berusaha mengatur napas di dalam bilik kaca sana, dan gue juga melakukan hal yang sama di balik pintu kamar mandinya. Setelah napas dan kesadarannya berangsur pulih, Bokap langsung membiarkan guyuran air membasahi tubuhnya kembali. Air membasuh sperma yang tertinggal di pangkal paha dan tangannya pergi. Cairan putih kental itu menghilang, mengalir bersama air memasuki saluran pembuangan.
Di tempat gue sekarang ini, gue sedang membersihkan tempat sperma gue mendarat dengan T-Shirt yang tadi gue pakai. Nggak ada tisue di kamar Bokap, dan untuk membersihkan jejak erotis gue, gue menggunakan T-Shirt yang gue pakai di badan. Sekarang gue lagi topless, dan sedang berusaha menajamkan mata untuk bekerja di tengah kegelapan demi membersihkan sperma gue yang tercecer di muka pintu dan hampir di mana-mana itu.
Thank you for the unbelieveable, & unforgetable momemnt, experience that you give to me, Pop!

The spectacular view on the other day...
tumblr_lylj47AcMH1qgb0w5o1_400.jpg
 












Di minggu pagi yang cerah, lewat tiga hari setelah kejadian malam itu, gue menemukan Bokap muncul di meja makan dalam keadaan topless as usuallynya dengan hanya mengenakan celana piama yang selalu dikenakannya dalam tidur. Tapi kali ini ada pemandangan tambahan bagi gue. Selain gue bisa menikmati breakfast view dengan menu : tubuh bagian atas Bokap yang yuuuumy itu, gue bisa melihat tonjolan di balik celana piamanya. Look at the picture, up there! It same like that!
“Pop!” Seru gue dengan mata terbelalak, sambil menunjuk ke bagian selangkangan celana piama Bokap yang menyembul.
Bokap melirik ke bawah dan langsung nyengir. “Biasalah. Pagi-pagi...”
Maksudnya pagi-pagi kontol kan selalu bangun. Lebih dahulu bangun ketimbang pemiliknya yang biasanya masih molor saat mengalami ereksi di pagi hari.
“Ya, tapi nggak di depan aku begini. Kalau Bik Sum ngelihat bagaimana?” Sebetulnya gue sih seneng-seneng saja. Bener-bener nggak bisa dipercaya!
Tiba-tiba Bokap memasukkan tangan kanannya ke balik celana. Entah apa yang sedang dilakukannya. “Hoi, balik tidur!”
Glek! Gue cekikikan mendengar kata Bokap barusan. Berangsur-angsur tonjolan di celana piamanya memudar. Kontol Bokap kembali lemas karena kesadarannya mulai menguasai setiap kerja otot yang bekerja di area pribadinya sana.
“Tuh, udah balik.” Bokap nyengir sambil duduk di tempat beliau biasa duduk baik untuk sarapan dan makan malam. Selalu. Leader selalu duduk di ujung meja.
Gue langsung mendengus dan melanjutkan acara makan pagi gue yang kali ini menunya butter rice with chicken brest deep fried. Melihat pemandangan yummmy itu bikin gue lapar. Aurrghhhhhhh!

Sleeply, Drunk, Pop...
Entah apa yang terjadi sama gue? Yang jelas sejak kejadian episode malam itu, dan episode di pagi hari beberpa hari kemudian, pikiran gue selalu dipenuhi dengan bayang-bayang Bokap. Gue rasanya kayak lagi kasmaran. Wajah Bokap muncul dan menari-nari di pikiran gue. Selama di sekolah yang ada di kepala gue bukannya rumus-rumus matematika, tapi malam memori-memori sejelas kenyataan mengenai gambaran jelas tubuh aduhai bokap, dan terlebih bentuk detil kontolnya yang for heaven sake, bikin gue pengen memasukkan benda itu ke mulut gue.
tumblr_m75cf7xtU61qk35bzo1_400.jpg 











Apakah ini pertanda buat gue. Perintah langsung dari Gay God yang selama ini jadi pembimbing gue, kalau ini adalah saatnya menjalankan project : Straight to gay. Gue udah sukses bersama Farid, apakah yang selanjutnya ini adalah Bokap gue sendiri? Ick, gue ngerasa hina banget kalau punya pikiran seperti ini. Tapi... tapi... tapi... pikiran ini udah nongkorong di kepala gue semingguan ini. Apa jadinya kalau gue ngegodain Bokap gue, merayunya untuk melukan seks bersama gue. Oh, jelas Bokap bakal tahu kalau gue gay! Well, rahasia yang selama ini ingin gue sembunyikan dari orang yang gue kenal.
Kalau temen-temen gue tahu, gue akan merasa menjadi orang yang paling menjijikkan di dunia ini, tapi gimana kalau Bokap gue yang tahu soal identitas orientasi seksual gue yang sebenernya? Apakah akan jauh lebih menyakitkan dari rasa malu?
Sepanjang perjalanan pulang gue mikirkan ini. Antara keinginan untuk menikmati tubuh Bokap gue sendiri dan juga resiko besar yang akan gue terima kalau gue nekat melanjutkan project gue ini ke Bokap. Kegundahan ini mengundang rasa penasaran Farid BFF gue. Yah, sahabat gue satu itu bener-bener perhatian. Gue nggak mungkin, dong cerita ke dia soal ini. Bisa-bisa gue diceramahin. Harus kemana gue mengadu akan kegundahan gue ini? The real God, or my Gay God!
Gue memasukkan motor ke dalam halaman rumah. Seperti biasa Bi Sum pembantu gue menyambut di depan pintu saat gue dateng. Wanita lanjut usia itu memang sudah mengabdi di keluarga gue sejak gue masih umur tiga tahun. Beliau udah gue anggep kayak nenek gue sendiri, secara nenek gue dari piihak Bokap udah meninggal, dan dari pihak Nyokap orangnya konvensional banget. Terlalu kaku dan nggak deket sama gue dan sepupu-sepupu gue.
Setelah ganti pakaian gue makan siang seorang diri di meja makan apik itu. Bokap kalau siang gini jelas masih tugas di Polda. Nyokap, yahhhh tahu sendiri kan kalau orangnya sibuk. Kemarin pulang dari S’pore cuman kasih tas pesenenan gue, which tas itu keren banget waktu gue pakai sekolah hari ini, dan bikin Farid, juga yang lain ngiri sama gue.
Habis makan siang gue langsung ngacir ke kamar. Biasanya, sih gue langsung bobo siang, kalau nggak ya main game pc. Kalau ada PR gue biasa kerjain sehabis mahgrib. Berada berdua dengan Bi Sum di rumah ini terkadang malah terlewat sepi. Bi Sum orangnya pendiam dan jarang kelihatan berkeliaran di rumah. Kebanyakan waktunya dihabiskan di dapur dan nggak bakal masuk ke area keluarga kalau nggak dipanggil. Kalau tugasnya selesai biasanya Bi Sum ada di dapur, nonton teve, kalau nggak ya ngacir ke kamarnya yang ada di belakang dan terpisah dari rumah utama untuk istirahat.
  Gue main game pc sampai pukul lima sore. Bokap biasanya udah pulang, tapi kenapa jam segini belum nyampek rumah? Semacet apapun jalan nggak sampai hampir mahgrib begini. Apa mungkin ada kunjungan Pak Presiden jadi Bokap mesti siaga. Biasalah, kalau ada petinggi pusat yang mampir ke kota gue ini, Bokap selalu lembur kerjanya.
Akhirnya sambil menunggu Bokap, gue membuat PR bahasa inggris. Sampai jam tujuh Bokap juga belum pulang. Tiba-tiba Bi Sum nongol di depan kamar, bilang kalau makan malam sudah siap, dan Bokap tadi telepon katanya agak telat sendiri karena ada urusan bersama teman. Ya, sudah! Pokoknya udah denger kabar dari Bokap gue tenang. Alhasil gue makan malam sendiri, dan Nyokap nggak usah diharepin, deh. Gue lebih khawatir Bokap telat pulangnya ketimbang Nyokap yang telat.
Sampai jam sebelas malam Bokap juga belum pulang. Gue akhirnya nonton teve di ruang tengah sambil menunggunya pulang. Untung di teve ada film New Moon. Lumayan bisa ngelihat bodynya Taylor Lautner yang siap tampil full shirtless selama dia bersama parak teman-temannya dalam geng srigala. Pas, lagi seru-serunya ngelihat segerombolan srigala mengejar Victoria *Vampir wanita berambut merah yang dendam sama Edward dan Bella. Well, semua gay pasti doyan nonton film ini*, gue mendengar suara mobil dinas Bokap masuk ke halaman.
Sebagai anak yang baik gue menghampiri ke depan. Pas sampai di garasi gue melihat Bokap keluar dari mobilnya. Lho, kok nggak pakai seragam? Gue mendekati Bokap, dan tiba-tiba hidung gue langsung mengernyit Yick! Bau alkohol menguar dari tubuh Bokap. Pas beliau menyapa gue, gue langsung mencubit hidung karena napas Bokap bau alkohol.
“Papa mabuk, ya?!” Tanya gue dengan nada marah.
“Hick.” Eh, Bokap malah cegukan. Langkahnya gontai saat berjalan ke arah gue.
Spontan gue merapat ke Bokap dan memapah tubuhnya. Sekejap bobot tubuhnya yang 80kg itu menguji ketahanan fisik gue. Pelan-pelan gue menuntun Bokap ke dalam. Setengah menahan napas karena menahan bahu tubuh dan napas Bokap yang berbau alkohol, gue meletakkan tubuh nggak berdayanya itu di ruang tamu.
“Tunggu di sini, Pa biar aku ambilin minum.” Pikir gue orang mabok kalau di kasih minum air putih, dia bakal punya sedikit kesadaran. Wah, istilahnya mengcharge sisa kesadaran dari hangover kali ya.
Karena sudah malam gue nggak mau merepotan Bi Sum yang pasti sudah beristrihatan di kamarnya itu. Well, sebagai anak gue harus berbakti dong, apalagi gue sayang sama Bokap gue ini. Sambil menunggu gelas terisi penuh di dispancer, gue bermain dengan pikiran gue. Kenapa Bokap sampai mabok, ya? Nggak biasanya Bokap mabok. Polisi kan harus menjaga betul nama baik dan pangkatnya, apalagi Bokap adalah petinggi di jajarannya. Mana mungkin Bokap seceroboh ini? Kalau ketahuan masyrakat yang kebetulan mengenali wajahnya, bisa alamat Bokap akan dicopot jabatannya. Pasti Bokap ngeluyur ke club bareng temen-temen semasa remajanya dulu yang emang bada berandal dan nakal. Tuh, buktinya Bokap pulang tanpa seragam dinasnya? Pasti Bokap mengganti pakaian dulu sebelum clubing. Cek, cek, cek.
“Minum airnya dulu, Pop!” Seru gue sambil menyodorkan bibir gelas ke bibir keunguan Bokap.
Glek, glek, glek, Bokap meminum beberapa teguk, dan langsung Pluk! Terjerembap di atas sofa nggak sadarkan diri. Wah, mabuknya kelewat parah nih, wajahnya saja sampai memerah gitu. Sedetik kemudian gue mendengar Bokap mendengkur. Wah, langsung terlelap. Akan lebih susah kalau membopong orang nggak sadar ke kamar, jadi gue naikkan kaki papa ke sisi sofa yang masih kosong dan gue baringkan tubuhnya di sana.
Gue tutup korden ruang tamu dan pintu rumah. Klik, gue kunci. Nyokap dimana sih di saat-saat genting seperti ini? Gue balik ke  kamar untuk mengambil handphone. Gue kepikiran telepon nyokap.
Tut! Tut! Tersambung. Di dengung ke lima telepon diangkat.
“Hallo, iya sayang!” Suara Nyokap kedengaran kresek-kresek. Bunyi musik ada di latar belakang.
“Mom, jam berapa pulang. Papa mabok!” Jelas gue langsung to the point.
“HAH? PAPA KAU MABOK? PASTI DIAJAK KELUAR SAMA GUSNANDI!” Gusnandi. Om Gusnandi kalau gue bilangnya. Temen masa remaja Bokap gue. Salah satu dari geng bringas dan urakan dulu.
“Papa udah kelewat teler, deh, Mom. Sekarang malah tidur di ruang tamu. Hendra, nggak kuat ngangkat badan Papa ke kamar.”
“Ya, sudah biar dia tidur di situ malam ini.”
“Mama jam berapa pulang?”
“Jam satu, sayang. Ada acara kawinan. Mama yang mengheandle acaranya. Orang penting jadi nggak boleh ditinggal. Di mana sopan santun Mama sebagai kepala di sini!”
Dalam hati gue beribu-ribu kali mendesah. As usual! Setelah berbasa-basi sejenak gue menutup telepon. Jam digital handphone gue menunjukkan pukul sebelas tiga puluh. Gue melirik Bokap.
“Pop!” Gue tepuk-tepuk pipinya. Bokap nggak menyahut. Nggak tahu kenapa mata gue turun ke selangkangannya. Sesuatu tengah berkedut-kedut di baliknya. What the fuck? Bokap, lagi ereksi jangan-jangan. Apa gara-gara panas alkohol dalam tubuh, kontol juga ikut terangsang? Well, I dunno. Maybe no, maybe yes. Kenapa nggak gue cek saja? Begitu kata hati gue.
Tiba-tiba tangan gue dengan lancangnya membuka ikat pinggang Bokap, lanjut ke kancing celana, dan resletingnya. Sreeeek... celana Bokap udah melonggar. Kontol yang berkedut-kedut itu semakin terlihat jelas karena sekarang hanya tertutup oleh celana dalam brief warna hitam.
Gue melirik ke Bokap. Nggak ada tanda-tanda orangnya bakal bangun. Gue pegang dan elus-elus permukaan celana dalam itu, tepat di kontolnya yang diarahnya nempel kulit ke atas itu. Mendapatkan sentuhan itu, permukaan telapak tangan gue disodok-sodok oleh benda yang sepertinya bereaksi terhadap rangsangan.
Bokap masih nggak bergerak. Sekarang gue buka kancing teratas polo shirt yang nempel ketat di badan Bokap. Masih nggak bergerak juga. Well, 100% Bokap nggak sadarkan diri. Niat jelek tiba-tiba muncul di kepala gue. Niat paling bejat yang pernah mampir di otak gue. Gue singkapkan polo shirt warna biru itu sampai ke atas dada, dan terlihatlah tubuh Bokap yang seketika itu membuat kontol Gue juga terbangun.
Napas Bokap yang teratur seperti bayi yang tidur nyenyak, membuka perut rata sexy dan dada bidangnya itu naik turun. Dua putingnya yang hitam itu menegang sempurna. Bulu-bulu tipis yang menghiasi dada sampai perutnya juga kelihatan basah, lengket, karena keringat.
Gue langsung menggrayangi Bokap. Mula-mula gue usap-usap bagian perutnya. Gue merasakan basahnya keringat di badan Bokap menempel di telapak tangan gue. Gue bisa merasakan napasnya di kulit gue. Hangat. Tubuh gue bergetar hebat menikmati sensai itu. Tangan gue naik ke atas ke dadanya yang ranum dan bidang itu. Gue remas dua dadanya. Begitu kenyal. Belum lagi tiba-tiba gue terangsang melihat tahi lalat di bagian dada kiri atas Bokap. Beh, entah kenapa melihat benda itu gue merasa segera menerkam dua puting Bokap yang mengacung itu.
Gue pelintir pelan dua puting dadanya itu. Keras dan kenyal. Bokap langsung mengedip sejenak. Mungkin alam bawah sadarnya memberikan respon akan rangsangan itu. Gue remas sekali lagi dadanya, dan kali ini gue mainkan puting kananya dengan ibu jari gue. Gue usap-usap melingkar searah jarum jam, dan Bokap memberikan reaksi dengan menggerakan ujung bibir sebelah kirinya ke atas.
Kini saatnya lidah gue yang bereaksi. Ujung lidah gue menyapu langsung tepat ke puting kiri Bokap. Lick, nikmatnya tak terkira. Puting Bokap main mengeras saat merasakan lidah basah gue di sana. Gue hisap kali ini yang sebelah kiri dan Bokap mulai melenguhkan suaranya, tapi tetap saja tidak membuka matanya.
Puas memainkan lidah gue di bagian dadanya, gue turun ke tengah tubuh, di bagian perutnya yang berbulu itu. Karena tak cukup ada otot yang terlihat, gue mefokuskan pekerjaan di pusar Bokap. Area yang bersih itu gue mainkan dengan ujung lidah, sementara tangan gue berusaha bermain dengan bulu-bulu yang ada di perutnya. Rasa asin dari keringat Bokap memanjakan ujung lidah gue, meskipun berbau alkohol. Tak butuh banyak waktu karena tempat itu kurang menarik perhatian gue. Sekarang gue mau masuk ke intinya.
Benda di balik celana dalam Bokap sudah tak berkedut lagi, tapi malah menyembul mendesak ke atas kain celana dalam dari bahan nilon itu. Ternyata sudah ereksi. Gue pegang karet celana dalamnya dengan satu tangan. Gue lirik Bokap. Nggak bereaksi. Ini artinya pertanda bagi gue untuk meneruskan. Gue tarik karet celana dalamnya itu dan gue turunkan sampai kontolnya melontar tegak ke udara bebas. Agar tidak susah-susah menahan karet celana dalam Bokap, gue menyelipkan karet celana dalamnya itu di bawah buah zakarnya yang saat itu sedang mengeras karena tertekan suhu panas. Gue jadi nggak bisa melihat dua bijinya yang menggantung, karena yang ada malah sebongkah daging berbulu dan kehitaman sebesar kepalan tangan anak SD.
 Kontal Bokap menggoda gue seperti gue tergoda melihat sosis bakar jajanan di sekolah. Ingin segera gue lahap sosis itu, eh bukan, kontol itu. Kontol Bokap gue. Gue genggam batangnya dengan mantap. Hangat sekali rasanya, dan Bokap lagi-lagi nggak bereaksi. Kali ini gue coba mengurut-urut batang kontolnya beberapa kali untuk menguji kesadaran Bokap, tapi Bokap tidak bergeming.
THANK YOU GAY GOD!
Slurrrrp! Gue hisap kontolnya. Jlep, cleepok, cleeepok! Begitulah bunyi suara mulut gue yang tengah memberikan oral di kontol Bokap. Archhhhh, rasanya yang sedikit asin, aneh itu belum terbiasa di lidah gue. Rasanya berbeda dengan Farid yang kalau itu kontolnya campuran antara bau keringat dan sabun, tapi tidak meninggalkan jejak rasa apapun di lidah gue.
Gue kenyot-kenyot kepala kontol Bokap yang ungu itu. Hemp! Gue hisap sejenak, terus gue jilat-jilat batangnya. Aroma jembutnya yang lebat menggelitik hidung gue, dan makin membuat gue semakin bernapsu untuk memberikan seks oral ke Bokap yang sedang tidak sadarkan diri.
 











Gue biarkan kontol yang panjangnya nggak sampai menyentuh tenggorokan gue itu berdiam di dalam mulut gue itu sampai pangkal-pangkalnya, dan dengan kontol yang masih di dalam mulut, gue langsung saja menusuk-nusuk setiap saraf yang ada di pangkal kontol Bokap dengan lidah gue yang lincah. Gue merasakan jembut-jembutnya yang ada di pangkal nempel di ujung lidah gue. Slurrruuuup! Ckeeelpeeelp! Terus gue keluarkan kontol itu dari dalam mulut gue sampai berbunyi PUP! Dan kontol itu masih tetap berdiri tegak.
Mendapatkan serangan seperti itu kontol Bokap gue malah berdenyut-denyut. Wah alamat Bokap bakal ejakulasi, nih. Langsung saja gue genggam kontol itu dan gue kocok-kocok, sementara lidah gue bermain di lubang kencingya. Kontol itu terus berkedut-kedut di tangan gue, dan Crooooooooooot! Sperma Bokap keluar dalam sekali cipatran dan langsung masuk ke mulut gue yang saat itu sudah siap terbuka untuk menerimanya.
Rasa anyir dan asin sperma (Author note : Betul nggak, sih rasanya gitu?) Terasa di lidah gue untuk pertama kalinya. Well, gue belum sempat merasakan sperma kala bercinta dengan Farid waktu itu, karena Farid mengeluarkan banyak spermanya di dalam anus gue. Ada, sih yang keluar dari lubang anus gue, tapi kan.... yuuuuuuks, jijik banget.
Gue biarkan sperma itu menetap di lidah gue. Gue agak ragu antara menelannya, atau menumpahkannya? Well, gue masih agak jijik kalau cairan itu sampai masuk ke tenggorokan, jadi gue putuskan untuk menumpahkannya ke telapak tangan gue. Sperma Bokap bercampur air liur gue tumpah ke telapak tangan, kombinasi yang menjijikan.
Gue melirik ke arah Bokap. Masih nggak sadar. Bener-bener, deh! Gue emang beruntung banget. Berangsur-angsur kontol Bokap kembali ke posisi semula. Benda itu sekarang hanya seukuran ibu jari orang dewasa dan menempel manja pada buah zakarnya yang masih membulat ketat. Selamat tidur anak manis, terima kasih atas partisipasimu. Sekarang kontol itu terlelap dengan diselimuti jembut Bokap yang lebat.
Sekarang perhatian gue tertuju pada cairan campuran antara sperma Bokap dan air liur gue. Mau gue buang ke mana cairan ini? Cairan itu masih menggenang anteng di telapak tangan gue. Tiba-tiba pikiran jorok muncul di kepala gue untuk ke dua kalinya. Gue emang anak paling bejat sedunia!
Gue bangkit berdiri dan memelorotkan celana jersey dari kesebelasan Chelsea yang kala itu lagi gue pakai. Kontol gue udah nggak setegang waktu mengoral Bokap tadi. Benda itu sekarang kelihatan setengah bagun dan seperti anak kecil yang merengek ingin segera naik ke atas tempat tidur. Tunggu dulu hendra’s little brother, bangunlah sejenak untuk bermain sebelum tidur.
Clepok! Gue usapkan sperma Bokap yang bercampur air liur gue ke kontol gue. Cairan gue usap-usapkan ke batang dan kepala kontol gue seperti ibaratnya pelumas untuk onani. Biasanya gue pakai baby oil, sekarang pakai benda alami. Bau sperma Bokap tercium anyir di hidung, tapi gue nggak perduli. Bau pemutih pakaian itu gue nikmatin sambil membangunkan kembali kontol gue dengan kocokan pelan.
Beronanilah gue di depan Bokap yang lagi terbaring di sofa tidak sadarkan diri. Sebagai pembangkit gairah gue menikmati tubuh Bokap yang basah karena keringat itu. Sampai akhirnya gue merasa bosan setelah tiga menit beronani, tapi belum juga menunjukkan reaksi nikmat. Sperma Bokap main terasa lengket dan tidak nyaman untuk digunakan sebagai pelumas.
Gue melirik ke arah tangan Bokap yang saat itu terkulai menggantung di pinggir sofa. Wah! Muncul ide paling bangsat di otak gue. Kenapa gue nggak menggantikan peran tangan gue dengan tangan Bokap. Tangan keras dan lebar itu mengenggam batang kontol gue. Rasanya kasar karena buku-buku jari dan telapak tangan Bokap ada yang kapalan. Mungkin karena keseringan memegang pistol waktu latihan menembak. Tangan pekerja keras itu kini mengenggam kontol gue, meskipun tangan kanan gue menahan pergelangan tangannya agar posisinya tetap berada di tempat yang gue inginkan.
Berlahan gue maju mundurkan pantat gue sehingga kontol gue mulai menggesek-gesek telapak tangan Bokap yang sudah menyelubungi kontol gue itu.
“Ahhhhhhhhh!” Gue mendesah, kepala gue mendongah ke atas. Sensasinya nikmat bukan main.
Gue yang nggak bisa mengendalikan gairah karena baru pertama kali ini mencoba eksperimen baru “menggunakan tangan orang lain sebagai pengganti tangan sendiri saat onani” benar-benar memacu segala saraf dan titik rangsang di tubuh gue untuk bangkit lebih awal.
Tubuh gue serasa meledak seperti kembang api, mata gue berkunang-kunang, dan sekujur tubuh gue menggigil menikmati indahnya orgasme yang hanya dapat dirasakan sekali itu oleh laki-laki.
“Agrrhhhhhhhhh!” Gue menggerang, dan sperma gue muncrat dan jatuh banyak ke dada, dan sedikit menciprat ke muka Bokap.
Sialan! Gue langsung terbakar rasa panik. Kenikmatan itu tiba-tiba sirna saat kesadaraan mengambil alih fungsi pikiran gue. Sperma gue ada yang menempel di ujung bibir atas bokap sebelah kiri. Bokap jelas bisa mencium bau itu lewat hidungnya? SIAL! Mungkin inilah hukuman buat gue. Gue bakal... Agrrhhhhhh! Gue mengerang furstasi. Kringat dingin mengucur dari seluruh pori-pori di tubuh gue. Ketiak gue langsung basah dan becek, begitu menerima rangsangan dari degup jantung gue yang berdetak lebih cepat dari normalnya.
Sepuluh detik, lima belas, dua puluh lima, tiga puluh... satu menit. Bokap nggak breaksi. Napas gue berangsur-angsur normal, dan jantung gue kembali berpacu pada kecepatan yang wajar. Lho, kok bisa Bokap nggak sadar? Ini bener-bener aneh. Dilanda rasa takut yang tersisa dan keinginan untuk segera menutup tempat kejadian perkara, gue mengambil tisue yang ada di meja ruang tamu dan membersihkan sperma di wajah dan dada Bokap. Di sentuh-sentuh begitu wajahnya sama gue Bokap juga nggak bangun.
Aneh?
Sekarang gue membersihkan kontol gue sendiri dengan tisue. Sisa sperma Bokap yang masih menempel di sana juga sudah gue lap sampai keset. Nggak lupa bersihkan telapak tangan sebelah kanan Bokap yang gue fungsikan sebagai stady handjob itu dengan tisue.
“Ahhh...” Gue mendesah lega. Berlahan gue naikkan karet celana dalam Bokap. Gue naikkan resleting, gue kancingkan kailnya, dan gue pasangkan kembali ikat pinggangnya. Tak lupa gue turunkan polo shirtnya kembali menutupi tubuhnya.
Gue pakai lagi celana jersey gue yang sudah melorot sampai ke mata kaki itu. Malam hari ini gue mendapatkan pengalaman yang medebarkan, tak terlupakan, dan paling nekat, serta busuk dalam sejarah kehidupan gue sebagai seorang gay.
Karena gue nggak kuat membopong tubuh Bokap ke kamarnya, gue biarkan saja Bokap tidur di ruang tamu. Gue matikan lampu ruang tamu dan gue meninggalkan Bokap di sana dan pergi ke kamar. Saat gue naik ke lantai dua, dan hendak menginjakkan kaki di anak tangga teratas, gue mendengar suara pintu tertutup di bawah. Spontan gue menoleh ke sumber suara. Sontak tubuh gue membeku saat dari posisi gue sekarang, gue nggak melihat tubuh Bokap terbaring di sofa ruang tamu. Berarti Bokap sudah bangun, dan suara pintu tadi? DEG! Sumpah gue merasakan jantung gue serasa berhenti berdetak. Kaki ini gemetar saat melangkah menuruni tangga pelan-pelan.
Gue mendekati pintu kamar Bokap. Berdebar jantung ini saat gue menempelkan telinga ke daun pintu. Tidak terdengar apa-apa. Dan tiba-tiba Klek! Lampu di ruang tengah menyala, spontan gue terlonjak dan memutar badan. Gue menemukan Nyokap berdiri di belakang gue, sama terkejutnya dengan gue. SIALAN!
“Hendra! Ngapain kamu di depan pintu kamar Mama?!”
“EH,MAMA! Mama udah pulang?”
Mama kelihatan binggung dan masih memandangi gue dengan tatapan curiga.
“Anu, Ma! Tadi dengar suara. Sesuai perintah Mama tadi, aku biarin Papa tidur di ruang tamu, eh pas aku cek barusan ruang tamu kosong, jadi aku inisiatif ngecek ke kamar. Aku nggak berani masuk, makannya aku nguping sapa tahu kedengaran dengkuran Papa.” SIP! Gue pinter banget ngibulnya.
Nyokap gue sih percaya-percaya saja.
“Mau Hendra bikinin teh, Mom?”
Nyokap gue tersenyum mendengar tawaran gue. Ah, anak yang perhatian. “Boleh.”
Gue langsung ngacir ke dapur, dan mendengar suara Nyokap membuka pintu kamarnya dari belakang. Fiuhhhhhhh! Sambil menunggu air mendidih di kompor – karena air panas listrik di dispenser kehabisan air dan nggak punya stock air galon – gue duduk-duduk di stool besi di depan kitchen island.
Lima menit kemudian saat gue menuang air panas ke cangkir, Nyokap gue keluar dari dalam kamar dan menghampiri. Sontak gue membrondong Nyokap dengan pertanyaan.
“Beneran Papa udah pindah ke kamar?”
Nyokap gue ngangguk. “Lagi mandi. Katanya badannya lengket dan bau.”
BEAT! Dada gue serasa ditusuk pedang.
“Ohhh...” Begitulah suara yang keluar dari bibir gue. Masih deg-degan gue menyodorkan teh panas itu di hadapan Nyokap yang duduk di stool sebelah.
Nyokap meniup buih uap dari cangkirnya, dan menyesap tehnya sedikit. Nyokap mengernyit karena lidahnya terbakar.
“Masih panas, Mom!”
“Hehhehe, nggak apa-apa.”
Lalu kami berdua sama-sama terdiam. Emang gue dan Nyokap jarang berdua begini, duduk-duduk sambil ngeteh. Paling gue sama Nyokap kalau lagi window shoping di mall.
“Eh, ngomong-ngomong Papa minta Mama bilang ‘makasih’ ke kamu...”
DEG! “Makasih buat apa, Mom?”
“Nggak tahu. Disuruh bilang makasih saja, tuh. Mungkin makasih udah ngebopong masuk ke rumah tadi.”
Eh? Beneran cuman itu? Malam itu setelah gue balik ke kamar, gue nggak bisa tidur sampai subuh.

Awkward moment with Pop at Breakfast...
 Jangan tanya seberapa pucatnya wajah gue pas turun ke bawah buat sarapan. Sumpah pagi itu gue nggak tahu harus bersikap kayak gimana. Setelah kejadian paling mendebarkan dalam hidup gue sebagai gay, gue semalaman nggak bisa tidur. Pas gue bangun – karena sempet tepar juga waktu subuh – gue menemukan kantung mata di kedua mata gue. SIALAN! Pagi ini gue udah kelewat ngantuk dan bahkan malas mandi. Gue juga ngerasa gerah dan lengket – Kalau gue setelah onani dan belum mandi besar, gue mesti suka ngerasa gerah dan badan lengket.
Pagi ini gue turun nggak pakai seragam. Gue masih mengenakan celana dan kaus jersey dari kesebelasan Chelsea. Pas gue sampai di meja makan gue nggak berani memandang Bokap gue yang sudah duduk di tempat biasanya duduk, dengan penampilan rapi dan gagah. Seragamnya menempel sempurna di badannya itu. Topi dinasnya itu diletakkan di kursi kosong di sisi meja tak jauh dari tempatnya.
Untung Nyokap ada untuk ikut gabung sarapan. Kebayang gimana awkwardnya kalau cuman gue dan Bokap saja. Nyokap gue terkejut melihat penampilan kusut gue di jam sesiang ini – maksudnya udah setengah tujuh pagi, dan gue bukannya muncul dengan seragam sekolah dan bau wangi.
“Lho! Kamu kenapa sayang?” Bokap dan Nyokap spontan memandangi gue. Gue nggak ada hasrat untuk duduk dan mencomol sup makaroni kesukaan gue yang dihidankan untuk sarapan pagi ini.
“Kamu nggak enak badan?” Tanya Nyokap.
Ngangguk saja, deh.
Nyokap bangkit dari tempatnya dan lantas menyuruh gue untuk duduk. Sumpah gue nggak berani mendongahkan kepala saking takutnya gue sama Bokap. Telapak tangan Nyokap nempel di kening gue yang berkeringat.
“Wah badan kamu anget.”
“Boleh nggak hari ini nggak masuk?”
“Istirahat di kamar saja kalau begitu. Sana! Nanti biar BI Sum anter makan kamu ke atas. Jangan lupa minum obat sehabis makan.” Celetuk Nyokap.
Kenapa Bokap belum bersuara juga, ya?
Kemudian Nyokap memanggil Bi Sum. Terjadilah perbincangan diantara mereka. Eh, gue makin ciut di meja makan nggak berani ngelihat Bokap.
“Kamu semalam nggak tidur?” Akhirnya terdengar suara Bokap.
Gue diem saja. Kok, rasanya janggal banget kalau nggak merespon, jadi gue mengangguk.
“Hendra...” Papa memaggil nama gue lirih. Seperti nggak mau kedengaran siapa-siapa.
Aduh gue takut untuk mengadahkan kepala dan menatap Bokap. Ya, ampun! Gue merasa hina banget. Pelan tapi pasti gue mendongah. Wajah Bokap nggak kelihatan garang saat wajah kami sejajar.
“Yang semalam terima kasih, ya...”
DEG! Mata gue melotot. SIALAN! Andai saja bisa, gue udah meminta Tuhan untuk mencabut nyawa gue sekarang dan menjebloskan gue ke neraka jahanam. Gue melihat dengan pandangan nanar, Bokap tersenyum ke arah gue dan bangkit dari kursi makannya. Tiba-tiba saja Bokap ngacir pergi gitu saja setelah mengecup pipi kanan Nyokap dan pamit berangkat.
Nyokap lantas memandangi wajah gue yang udah kayak mayat hidup itu. “Kamu pucat sayang. Mama antar ke dokter, ya?”
Gue nggak bisa ngomong apa-apa kecuali mengangguk. Dalam hati gue mantep, sesampainya di rumah sakit gue bakal minta dokter buat suntik mati gue.
ARRRRRGRRRRRRRH!

Akhir yang mencerahkan (Satu bulan kemudian)....

tumblr_m5duqaJQCy1qk35bzo1_500.jpg 








Untung sudah sebulan berlalu sejak kejadian paling awkward pagi itu. Selama itu gue berusaha menghindari pertemuan gue bersama Bokap. Well, gue awali dengan jarang mengikuti sarapan pagi, lebih-lebih menghindari saat-saat di mana Nyokap nggak ngikut sarapan, which is seharusnya hanya ada gue dan Bokap di meja makan. Gue seratus persen yakin sikap aneh gue mengundang ketertarikan Bokap. Sering kali sudut mata gue mendapati Bokap ngelihatin gue. Jangan tanya gimana rasanya? Hati ini hancur. Gue menyesal udah melakukan perbuatan hina itu dengan Bokap.
Ingin sekali gue membaki kekisruhan hati ini ke orang lain, tapi kepada siapa? Well, yang tahu siapa gue sebenarnya cuman Farid, tapi gue nggak yakin dia bisa bantu gue? Atau ke temen-temen gay gue. Gue punya temen-temen  gay di twitter dan facebook – gue punya dua akun sosial media Hendra yang hidup di topeng normal (yang ini pakai profile picture foto wajah gue), dan Hendra si gay (pakai profile picture, foto kontol gue yang lagi hard on). Akhirnya gue memutuskan untuk membagi keresahan ini dengan beberapa temen gay gue.
Apa yang mereka bilang. Gue dibilang bodoh! Tapi salah satu temen gue ada yang memberi pencerahan. Akhirnya ada setitik terang di kegelapan perasaan gue.
“Gue bertanya-tanya kenapa Bokap lo nggak marah?”
“Gue nggak tahu.”
“Ucapan terima kasih untuk semalam itu artinya nggak untuk yang lain, kan?”
“Gue yakin seratus persen untuk oral yang gue kasih. Nggak ada hal lain yang gue lakuin sampai mengundang ucapan terima kasih dari Bokap!”
“Sedikit aneh... jangan-jangan Bokap lo suka lagi!”
“Hah?!” Percaya nggak percaya guenya.
“Sekarang pikir, deh. Kalau emang bener Bokap lo tahu apa yang lo lakuin ke dia, pasti lo udah mati atau nggak babak belur karena dihajar. Bokap lo pasti udah tanya apa lo ini gay? Kenapa sampai sehina itu lo bermain-main dengan kontolnya?!”
Gue diem saja. Mikir sampai lama. Apa mungkin yang dikatakan temen gue itu bener?
Agrrrhhhhhh! Frustasi makin jadi.
Gue mengendari motor pulang ke rumah. Sekolah hari ini sampai siang saja karena nggak ada rapat OSIS yang biasanya membosankan itu bagi gue, tapi entah sejak kejadian itu dan kroco-kroconya yang menggelisahkan, gue jadi betah berlama-lama di sekolah dan nggak pengen pulang. Pernah gue nggak pulang dan malah ngerayu Farid untuk main ke rumahnya. Sekali sih boleh, dua kali, tiga kali gue minta main ke rumahnya, dia menaruh curiga.
“Lo nggak punya rencana ngapa-ngapain gue, kan?”
Yang saat itu langsung gue timpuk kepalanya sama binder. Gue pernah ngacir ke mall sampai malam hari, dan pulang ke rumah pas Bokap udah tidur. Yahhh, mau sampai kapan gue hidup seperti ini. Sambil berbelok masuk ke komplek rumah gue berpikir. Gue harus menghadapi kenyataan. Nasi udah jadi bubur, kayak pepatah tempoe dulu bilang. Yang terjadi biarlah terjadi. Nggak boleh nyesel. Huffffhh, gue mendesah. Dan saat itu mata gue menangkap sosok Bi Sum tengah berjalan di pinggir jalan sambil menenteng tas belanja.
Gue spontan berhenti. “Mau ke mana, Bi?”
“Di suruh belanja sama, Ibu.”
“Lho, bukannya tadi udah belanja sama tukang sayur.”
“Kata nyonya mau makan semur daging. Ini disuruh beli di pasar.”
Gue jadi kasihan melihat Bi Sum yang harus berjalan menuju pasar argo bisnis yang jadi salah satu fasilitas di komplek perumahan gue ini. Letaknya jauh di depan komplek, dan kalau jalan kaki bisa setengah jam sendiri.
“Ayo, Bi saya antar!”
Bi Sum sih nurut-nurut saja. Sampai di sana Bi Sum turun. “Udah, Mas Hendra pulang saja. Nanti Bi Sum naik ojek.”
Langsung saja gue ngacir pulang. Eh, nyokap jam segini udah pulang? Tumben. Bruuuuuuuum, gue lambat-lambatin laju motor gue supaya nggak cepet sampai, tapi mau gimana lagi tetep saja akhirnya gue sampai di depan rumah. Ahhhh, gue mendesah jengah. Gue membuka pagar dan terkejut. Mobil dinas Bokap ada di garasi, berjejer sama mobil Nyokap. Lho... dua-duanya ada di rumah, nih ceritanya? Tumben. Baru jam dua belas lho ini.
Ceklek! Pintu rumah kebuka. Nggak ada siapa-siapa. Sepi. Gue masuk sampai ke ruang tengah. Kosong. Di dapur kosong nggak ada tanda-tanda kehidupan. Gue langsung ngacir naik ke atas. Pelan-pelan dengan gontai gue menaiki anak tangga satu persatu. Sampai di anak tangga ke dua dari atas gue berhenti dan memaku.
Suara itu????????
Nggak-nggak-nggak. Nggak mungkin! Gue menajamkan pendengaran.
“Ahhhh, ahhh, ahhh, terus, Pa! Ahhhhh!” Suara Nyokap gue. Hah? Mereka? Nggak ada yang bisa menjelaskan apa yang terjadi kalau suaranya itu begitu kalau bukan mereka lagi... WHAT THE HELL!
Otak cerdas gue langsung muter. Ini alasannya kenapa mereka berdua di rumah? Ini alasannya kenapa Bi Sum tiba-tiba pergi ke pasar padahal tadi pagi sudah belanja? Ternyata mereka curi-curi waktu untuk.... ada rasa lega dan senang karena akhirnya Bokap dan Nyokap punya waktu berdua untuk... you know lah. Kaki gue saking gemetarnya nggak bisa dibuat melangkah.
“Memek kamu basah, Ma!”
“Terus sodok-sodok, Pa! Ahhhhh!”
Gleeek! Gue menahan air liur. Liar sekali mereka. Suaranya berasal dari kamar tamu di sebelah kamar gue.
“Oh, ya, yes!”
Dengan langkah cepat tapi berusaha untuk tidak sampai membuat kegaduhan, gue ngacir ke depan pintu kamar gue. Gue cengkram kenop pintu kamar gue sampai buku-buku jari gue memutih. Suara-suara itu sulit sekali untuk diabaikan. Oh, god! Meskipun gue gay, tapi gue terlalu penasaran dengan apa yang terjadi di kamar sebelah. Which is gue nggak mau ngelihat tubuh Nyokap gue. Yang gue bayangin sekarang gimana perkasanya Bokap gue pas ML sama Nyokap. Gue penasaran bagaimana cara mereka menikmati gairah berdua. Dengan cara begitu gue  bisa lahir ke dunia ini. Gue menelan ludah antara keinginan waras untuk mengacuhkan suara-suara itu dan masuk ke kamar, atau mendengap-endap ke sana dan mengintip ke dalam bagaimanapun caranya?
“Sst, ayo lah, Pa...” Terdengar suara Nyokap yang membisik manja.
“Kamu sudah banjir, ya Ma? Rasanya jari Papa basah semua...”
“Aghhh, ya Pa! Ahhhh, tekan di situ. Ohhh, yes!”
Di mana gue? Masih berdiri di depan pintu kamar.
“Ahhh, sekarang pakai lidahmu, Pa! Ahhhh, yeaaaaah. Dihisap!”
Sudah cukup! Teriak gue dalam hati. Gue menutup pintu kamar gue yang sudah sedikit terbuka itu dan gue berlahan melangkah pelan mendekati pintu kamar tamu yang ada di samping kamar gue. Pintunya tertutup rapat. Well, ada celah di bawah pintu yang memungkinan suara dari dalam bisa terdengar sampai luar. Kenapa mereka nggak melakukannya di bawah saja, di kamar mereka? Oh, mungkin takut Bi Sum sudah pulang dari pasar dan mendengar suara-suara liar mereka dari dapur. Kamar mereka kan deket ruang tengah dan dapur. Satu area.
Dari mana gue bisa mengintip? Ahhh, key hole! Gue membungkuk dan memicingkan mata di depan lubang kunci pintu kamar tamu.  Gue pun segera coba melihat apa yang mereka lakukan di dalam, namun hanya setengah dari punggung Bokap gue saja yang bisa gue lihat dengan posisi setengah membungkuk begini. Well, Bokap kayaknya lagi menghisap payudara Nyokap yang sebesar mangkuk mie ramen itu.
“Oh, mainkan puting Mama, Pa! Hisap! Hisap. Aucchh, jangan digigit.”
“Hehhehehe.”
Gleeek! Ya ampun liar sekali mereka. Batin gue. Samar-samar gue melihat Bokap bersimpu di depan Nyokap yang ngangkang di atas sofa. Well, mereka make out di sofa di depan tempat tidur – karena tempat tidurnya nggak ada seprai. Dari sini gue bisa melihat punggung Bokap serta pantatnya yang bohay itu. Buah zakarnya menggantung di antara celah kedua pahanya.
Sekarang mereka sedang berciuman. Lidah mereka bermain dengan liarnya. Adegan straight begini membuat kontol gue ngaceng. Wow, unbelieveable! Tiba-tiba Bokap bangkit dari posisi berlututnya dan berdiri di depan wajah Nyokap. Ahhh, Nyokap sekarang yang gantian oral kontol Bokap. Pantat kencang Bokap langsung mengejang begitu Nyokap sepertinya sudah melahap kontol Bokap. Ahhh gue nggak bisa lihat. Malah yang gue lihat sekarang ada vagina Nyokap yang ditumbuhi bulu-bulu itu. Yuck! Pintu kelahiran gue yang nggak bikin gue napsu sama sekali.
“Ah...Oh...Uh...” Bokap gue mendesah-desah. Here she goes!
“Enak, ya Pa?” Nyokap gue bertanya dengan kontol Bokap masih di dalam mulutnya.
“Enak, Oh... Ma! Ya, sedot begitu. Main lidah, Ahhhh!”
Enakan mana sama hisapan Hendra, Pop? Sekarang mereka ganti posisi. Bokap gue berbaring di atas sofa, kakinya dikangkangkan. Kaki kanan menyandar di sandaran sofa, dan kaki kirinya menggantung di tepian sofa. Kontolnya ngaceng tegak sempurna dan sedang dilahap sama Nyokap lagi. Well, bibir Nyokap selihai gue dalam mengoral ternyata. Buktinya Bokap gue sampai merem-melek begitu.
“Berhenti, Ma. Bisa-bisa aku keluar sekarang...” Kata Bokap sambil memegang kepala Nyokap dengan kedua tangannya.
“Langsung dimasukin saja, Pa!” Kata Nyokap gue yang langsung menyodorkan vaginanya di atas kontol Bokap. Women on top is engage now.
Jlep. Clepok. Jlep. Clepok. Bunyi kontol Bokap yang beradu dengan vagina Nyokap yang udah basah itu.
“Agh, Oh, enak Ma!”
“Goyang, Pa! Ahhhhhhh. Pantatmu juga ikut gerak dong, Pa!”
Bokap menuruti apa kata Nyokap gue. Sekarang pantat itu bergerak memompa kontolnya masuk-keluar vagina Nyokap Gue. Suara gencatan dua kelamin itu terdengar makin membahana.
“Ahhh, Ohhhh, Yes! Ahhh, hujam! Hujam! Sebentar lagi, Papa! Auchhhh, Ehhhh. Remas ini, Pa! Remas!” Nyokap Gue sangat berisik kala itu dalam mengungkapkan gairahnya.
Bokap gue makin mempercepat gerakan menghujam vagina Nyokap dengan kontolnya, sementara tangan Bokap meremas-remas payudaranya. Sekarang punggung Bokap naik dan dimainkannya puting payudara Nyokap dengan lidahnya. Gaya menyendok dari depan terus digencar oleh Bokap. WOW!
“AHHHHHHHHHHHHHHHHHH!” Nyokap gue mengadah ke atas. Nyokap orgasme. Tubuhnya menggigil. Dijambaknya rambut Bokap dan didangahkan kepala Bokap, sontak berciumanlah mereka dengan liar. Lidah saling menjulur dan beradu jotos.
Yuks! Saat itu terdengar dering handphone Nyokap yang berasal entah dari mana. Nyokap tiba-tiba aja melepas ciumannya dan mendorong tubuh Bokap sampai terjerembap ke atas sofa dan melepas hujaman kontol Bokap dari vaginanya. Bokap protes atas intrupsi itu. Tiba-tiba Nyokap mangkir dari acara panas mereka dan berjalan sambil ngankang menuju tempat tidur. Handphonenya tergeletak di atas BH-nya. Kenapa Nyokap jalannya begitu? Ohhh, vaginanya panas karena disodok kontol Bokap. Hehhehe.
Sementara Nyokap menerima telepon. Bokap memandangi punggung Nyokap dengan tidak sabaran. Matanya jelalatan sambil tangan kanannya mengocok kontolnya itu supaya ketegangannya terjaga. Wah, gue baru menikmati yang satu ini. Hehhehehehe.
“Papa! Mama harus ke hotel sekarang.” Celetuk Nyokap.
Bokap langsung menghentikan kocokan kontolnya.
“Papa belum puas, Ma?! Tega banget, sih Mama. Jarang-jarang kita bisa begini!”
“Aduh, gimana, nih. Udah ditelepon sama anak buah. Pipa gas ada yang rusak.”
“Nggak bisa suruh orang lain buat menghandle.”
“Tapi harus ada aku yang mantau!”
“Brengsek!”
Nyokap diam saja. Sekarang mereka malah bertengkar, nih ceritanya?
Nyokap seolah nggak perduli. Gue lihat Nyokap malah sibuk memakai pakaiannya. Dalam hati gue sama kecewanya sama Bokap. Well, jelas-jelas Nyokap udah orgasme duluan, masa setelah itu nggak membantu Bokap buat merasakan hal yang sama. SIALAN! Tega bener Nyokap gue. Kok, bisa-bisanya ngurusin pipa gas yang bocor. Pipa yang ini mau dibagaimanakan?
“Kamu onani saja, sayang! Nanti malam aku janji bayar hutang yang ini.”
Bokap diem saja. Ini pertanda buat gue untuk segera ngacir dari sana. Dengan lari cepat gue masuk ke kamar sebelum akhirnya Nyokap keluar dari kamar sebelah. Gue duduk di pinggir tempat tidur, menunggu. Lima menit kemudian terdengar suara mobil Nyokap keluar dari garasi dan berangsur-angsur menghilang. Nyokap udah berangkat. Bokap ada di mana? Gue tiba-tiba melangkahkan kaki keluar kamar untuk mengecek. Pas gue keluar kamar gue sontak terkejut saat menemukan Bokap gue keluar dari kamar sebelah dengan keadaan telanjang.
“WAH!”
“EH, HENDRA! KAMU SUDAH PULANG!”
Awkaward moment. Lagi-lagi refleks gue balik masuk ke kamar dan menutup pintu dengan terburu-buru sehingga terkesan membantingnya. Gue bersandar di balik pintu. Yah, Bokap kok muncul dalam keadaan begitu, sih?
Dok! Dok! Dok! Pintu diketuk. Pasti Bokap.
“Ya, Pop?”
“Kamu ngapain di dalam?”
“Nggak ngapa-ngapain.”
“Kamu kapan pulang?”
Jawab apa, ya? Ahhh, jujur saja, deh. “Lima belas menit yang lalu.”
Kemudian hening sejenak.
“Kamu mendengar semuanya?”
Glek! Gue menelan ludah. Gimana, nih? “Yang Ah-Oh-Ah-Oh, apa yang bagian bertengkarnya?”
Diam lagi. Aduh, gimana nih? Gue kok bisa balas bertanya seperti itu.
“Kamu buka pintunya, dong?”
Hah? Takut, penasaran, tegang, bercampur jadi satu saat gue membuka pintu. Glek! Bokap sudah mengenakan celana dalam, tapi tetep saja masih setengah telanjang di depan pintu kamar gue.
“Kamu sudah dewasa jadi Papa nggak akan menjelaskan apa-apa.”
“Santai saja, Pa. Nggak usah khawatir...”
Lalu hening. Bokap ngelihatin gue dengan tatapan aneh. Gue jadi kasihan sama dia. Kayaknya dia malu karena gue, anaknya, mengetahui apa yang terjadi di kamar sebelah.
“Eh, Mama jahat banget, ya Pa. Tega ninggal Papa menggantung gitu saja.”
Bokap gue terkejut mendengar celetuk ngasal gue, lantas Bokap tersenyum. “Hendra...”
Gue memberanikan diri untuk memandang Bokap. “Ya?”
“Kamu gay?”
JLEGEEEEEEEEER!!!!!!!! Gue tersentak dan terdiam mendengar pertanyaan Bokap. Sungguh aneh sekaligus menyakitkan saat kalimat tanya itu terlontar dari bibir ungu yang sekarang tampak kemerahan karena bengkak. Ciuman panasnya bersama Nyokap tadi membekukan darahnya di bibir Bokap.
“Sudahlah Hendra. Jangan menyembunyikannya dari Papa. Papa sudah tahu, kok!”
 Gue mengadah. Ketakutan itu malah membuat gue berani untuk bertatapan langsung dengan Bokap. Bokap kelihatan sama tegang dan merasa tidak nyamannya dengan apa yang sedang gue rasakan sekarang.
“Papa tahu dari mana?”
Kemudian Nyelonong masuk ke kamar gue dan gue perhatikan langkahnya menuju laci meja belajar gue. Di sana Bokap membuka laci tempat gue menyimpan buku pelajaran. Lho, di sana kan ada... Bokap mengeluarkan sebuah majalah. Bukan majalah porno, tapi pictorial book Siwon Super Junior. Kebanyakan membuat gambar anggot boyband korea itu sedang bertelanjang dada memamerkan otot-ototnya yang OH SO YUMMMY itu. Gue menelan ludah. Bokap menunjukkan majalah itu ke gue.
“Papa sengaja periksa kamar kamu...”
“Itu...”
Bokap duduk di atas tempat tidur gue. Di letakkan pictorial book itu di sisinya. “Papa juga tahu apa yang sudah kamu lakukan ke Papa malam itu.”
Tuh, kan beneran! “Maafin, Hendra, Pop!”
“Kenapa kamu bisa jadi begini, Hendra?”
Gue menggeleng-geleng. Air mata ini mengalir. “Kalau Papa mau menghajar Hendra sekarang, Hendra siap menerimanya. Papa mau mengusir Hendra?”
“Lihat Papa, Hendra!”
Perintah tegas itu membuat gue mendengah. Pandangan gue kabur karena mata gue udah basah.
“Kamu duduk di sini...”
Gue nurut apapun yang diperintahkan Bokap. Jadi gue duduk di pinggir tempat tidur, tepat di sebelahnya. Dan setelah itu tangan Bokap mendarat di paha gue. What the...
“Ada yang mau kamu sampaikan sebelum Papa berbicara lagi?”
Gue binggung mau ngomong apa jadi gue diam saja. Akhirnya Bokap gue bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja belajar gue lagi. Kali ini Bokap menyisir tumpukan buku-buku gue di atas meja. Bokap meraih binder gue. Dibawanya binder itu kembali ke tempatnya Bokap duduk tadi.
“Bisa jelaskan apa tulisan kamu di sini?”
Yang dibahas Bokap adalah catatan gue mengenai Straight To Gay Project. Di sana gue membahas cara-cara dan teori gue dalam menggoda straight. Ada juga penjelasan singkat mengenai ketertarikan gue kepada straight. Ada cerita dengan Farid yang gue tuangkan dalam cerpen. SIALAN!
“Kamu suka sama cowok normal?”
Kepalang kebongkar rahasia gue. Gue mengangguk.
“Jadi itu alasannya kamu melakukan itu ke Papa?”
Mengangguk lagi. Kemudian hening.
“Kamu mau melakukannya lagi ke Papa sekarang?”
Hah? Gue nggak salah denger? Gue memandang wajah Bokap nanar. Bokap mengangguk, dan suer gue bisa melihat Bokap tersenyum.
“Mama kamu udah tega sama Papa. Papa digantung di tengah jalan. Sekarang Papa lagi horney berat. Daripada onani sendirian, kamu mau membantu Papa?”
Hah? “Papa?”
“Kamu juga nggak bakal rugi. Mau, ya Hendra! Demi Papa?” Kali Bokap mengenggam tangan gue.
“Hendra nggak bisa, Pa!”
Sebenarnya ini peluang emas. Bokap tahu gue gay dan Bokap malah memanfaat keburukan gue ini demi horneynya hari ini. Nggak masuk akal? Masuk akal nggak, sih? Gue yang udah ketahuan boroknya udah kelewat malu.
“Kamu nggak mau karena sekarang kondisi Papa lagi sadar?”
“Bukan begitu, Pa!”
“Lantas?”
“Papa nggak marah tahu aku gay?”
Papa diam saja. “Papa nggak tahu Hendra. Papa terkejut sekali.”
“Maafin Hendra, Pa!”
“Maafin Papa juga Hendra. Papa nggak bisa jadi orang tua yang baik. Maafin Mamamu juga. Mungkin kita juga ikut andil dalam kebinggungan kamu ini. Maafin Papa yang malah nawarin kamu untuk melakukan hal itu lagi bersama Papa. Papa bener-bener nggak tahu diri!”
Hati gue terasa teiris. Sialan! Gue memandang mata Bokap lekat-lekat. “Anything for you, Pop!” Dan gue langsung berlutut di hadapan Bokap dan menarik turun celana dalamnya.
Plop! Kontol Bokap yang setengah tegang itu gue kulum dengan penuh gairah. Diperlakukan begitu Bokap langsung menegang dan sekejap kontolnya kembali hard on.
“Ahhh, enak sekali hisapanmu, sayang!”
Gue diam saja sambil terus memberikan service terbaik untuk Bokap. Lidah dan bibir gue terus bermain sepanjang batang kontol Bokap. Tangan kanan gue meringsek memainkan puting dada Bokap yang udah tegak.
“Ohhhh, yeah!”
Plop! Gue berhenti menghisap kontol Bokap. Sekarang gue memainkan buah zakarnya yang menggantung indah itu. Gue kulum dua biji kelereng itu dengan semangat empat lima. Bokap cuman bisa merem-melek dan menggelinjang keenakan. Tak luput bulu-bulu jembutnya gue endus-endus dan gue basahi dengan air liur. Sekarang jembut Bokap basah dan saling memilin satu sama lain.
“Kamu lebih hebat dari Mama kamu!” Begitu puji Bokap.
Gue nggak nyangka akan bercinta di kamar gue, di tempat tidur gue. Gue mendorong tubuh Bokap untuk rebahan.
“Sekarang Papa ngentotin aku, ya!”
Papa mengangguk. “Masukin anus, ya?”
“Ah, Papa pinter, deh...”
Gue nganggak di atas Bokap. Seperti Nyokap yang tadi women on top, sekarang gue tepatkan posisi  lubang anus gue di depan kontol Bokap. Jleeeep! Kepala kontol Bokap mendesak masuk saat gue menurunkan bobot tubuh gue ke bawah.
Auhhhh! Gue menggerang kesakitan. Ternyata dijebol kontol Farid yang gede itu nggak lantas membuat anus gue melebar. Harus dijebol berapa kali sampai anus gue bisa dimasuki kontol dengan leluasa. Nggak bisa kalau lubang anus gue masih kering. Jadi gue bangkit dari posisi gue on top, dan ngacir untuk mengambil baby oil yang gue simpen di lemari. Sebelum kembali ke posisi gue tak lupa menutup pintu kamar.
Gue lumuri kontol Bokap dengan baby oil terus gue kocok-kocok barang sejenak. Boka mengerang saat gue mengocoknya.
“Kocok terus sebentar biar tegangnya Top!
Gue turutin apa yang Bokap minta. Setelah anus gue becek kena baby oil, gue mencoba memasukkan kontol Bokap yang udah basah kena baby oil juga itu ke lubang anus gue. Jleeeeep! Kepala kontol masuk tanpa halangan, dan gue mengernyit menahan sakit. Gue mendorong lagi setelah mengambil napas. Bleeees. Batangnya masuk.
“Ahhhhhhh!” Gue mendesah bersama Bokap.
“Anus kamu sempit. Seperti memek perawan.”
“Ini lebih enak dari memek, Pop! Aku jamin.”
“Masukin sampai pangkal, sayang...”
Gue mendorong lagi, dan.... Claaaap. Kontol 16cm itu masuk ke anus gue sampai pangkal. Ahhhhh! Gue menjerit tertahan. Setelah gue membiasakan diri merasakan kontol Bokap di anus gue, gue cuman nungging ke depan sedikit dan meminta Bokap untuk bekerja.
Clepok! Clepok! Clepok! Clepok! Begitu bunyi kontol Bokap yang menghujam lubang anusku.
“AHHH! Gila, nikmat banget. Enak, rasanya Hendra.”
“Genjot terus, Pop!”
Gue makin membungkuk ke depan karena tak kuasa menahan gelitik di lubang anus gue saat kontol Bokap menyodok-nyodok dinding-dinding anus gue. Belum lagi belaian jembut Bokap yang memanjakan bokong Gue. Sambil membungkuk Gue menandaskan ciuman di leher Bokap. Gue gigit-gigit jakun serta pembuluh darahnya.
“Ahhhh, kamu nyupang Papa. Ahhhh, enak!”
Cup, cup, cup! Leher Bokap sampai basah. Sekarang gue remas-remas dadanya itu, jempol gue dengan gemulai memainkan putingnya yang tegang.
“Hisap, sayang...”
Gue hisap dan gue gigit sampai Bokap mengaduh. Gue nggak perduli. Gue udah kelewat horney sampai gue lupa kalau gue lagi ML sama Bokap. Muachhh! Gue mencium bibir Bokap. Bokap terkejut tapi tidak menolak. Anehnya lagi saat gue berusaha membuka mulutnya dan memasukkan lidah gue untuk merasakan lidahnya, Bokap sama sekali nggak membalas ciuman atau permainan lidah gue. Gue kayak ciuman sama patung, jadi gue jengah dan menyudahi area bibir itu.
Bokap sendiri masih doyan menggenjot anus gue. “Ganti posisi, Pop!”
Sekarang dogystyle. Gerakan berpindahnya hati-hati supaya kontol Bokap nggak lepas dari lubang anus gue. Sekarang gue nungging, dan Bokap merajam anus gue makin leluasa.
“Ahhhh, ahhhh, ahhhh...”
“Ohhhh, Papa! Enak! Ahhhh!”
“Kamu suka kontol Papa, Hendra?”
“Suka! Suka! Ahhhhh!”
It’s time for dirty talk. Gue menikmati moment-moment ini. Keringat kami berdua sudah mengucur deras. Tak terhitung sudah berapa gaya yang sudah kami berdua praktekkan. Gue on top, CHECK!, dogystyle, CHECK! Spooning from back, CHECK! From ahead, CHECK! Missionaris, CHECK!
“Fuck! Papa nggak keluar-keluar, nih?”
“Bentar lagi sayang!” Jawab Bokap masih dengan gaya missionaris, menghujam lubang anus gue. Tubuh gue ditindihin badan Bokap yang berat itu, tapi gue sungguh menikmatinya.
“Pa, boleh ganti gaya nggak?”
“Kamu mau yang bagaimana, lagi?” Tanyanya disela-sela desahan napas kami berdua yang saling bersahutan.
“69!”
Bokap melepas kontolnya dari anus gue. Behhh, sekarang anus gue rasanya melompong kayak lapangan bola. Dengan posisi saling menyamping Bokap menyodorkan kontolnya di wajah gue. Gue juga memposisikan kontol gue di depan wajahnya. Kontol gue yang lebih panjang itu sampai menyentuh hidung Bokap. Bokap sempet protes dan minta gue agak mundur. Waduh, bener, nih gue bakal di oral Bokap? Yeah, will see?
Yang terjadi bukan sesuai dugaan. Gue asyik mengulum dan menghisap kontol Bokap seperti permen, tapi Bokap cuman meludahi kontol gue dan mengocok-ngocoknya. Sama saja kayak yang malam itu, kontol gue dionaniin Bokap. Kecewa, sih tapi nggak apa-apa, deh. Rencana awalnya, kan gue cuman ingin memuaskan straight satu ini.
Dengan posisi ini kami sepakat untuk mencapai orgasme bersama. Bokap mengonanikan kontol gue dan gue mengoral plus doing handjob di kontol dia.
“Ahhhh!”
“Ohhhh!”
“Yes!”
“Oh!”
Suara desahan kami bersahutan.
“Hisap! Papa mau keluar sebentar lagi.”
“Kocok yang kenceng, Pop! Ya begitu, Ahhhhh!”
Coock! Coock! Cooock! Suara kocokan di kontol kami saling bersahutan.
“Terus, Hendra! Terus... Papa hampir keluar. Ya, sebentar lagi.”
Gue mainkan lubang kencingnya dengan lidah dan itu membawa Bokap lebih dahulu ke atas langit ke tujuh.
“AHHHHHHHHHHHHHHH!” Jerrrrrooooooot! Sperma Bokap muncrat ke wajah gue.
Cleeeepok! Cooock! Cooock! Bokap masih mengocok kontol gue sementara orgasme menguasainya.
“OHHHHHHH YEAHHHH, AHHHHHHHH!” Sperma gue muncrat di wajahnya gue.
Sama-sama kami menikmati orgasme. Mata kami sama-sama terpejam.
“Hendra kamu pintar sekali memuaskan, Papa!”
“Ahhhh, Papa! Ohhh, Papa!” Gue mendesah sambil mencengkram erat kontol Bokap yang masih tegang itu.
Gue hisap kontol Bokap. Gue hisap keluar sperma yang tertahan di mulut lubang kencingnya. Bokap kembali mendesah tertahan. Dibasuhnya wajahnya untuk membersihkan sperma gue, kemudian Bokap usapkan ke atas seprai. Gue, sih nggak membersihkannya dengan tangan, malah sekarang jemari gue menduil sperma Bokap dan menjilatnya seperti gue menduil krim di kue tart. Yum! Yum! Asin dan anyir, kali ini gue telen tuh.
“Makasih Hendra!” Bokap bangkit berdiri dan segera ingin pergi dari kamar gue.
Gue menarik bantal dan metakkan di belakang kepala sementara gue terlentang memandang ke Bokap. “Apakah ada yang ke dua, ke tiga, dan seterusnya?”
Bokap tersenyum. “Kita lihat saja nanti apa Mama kamu bisa main adil apa nggak.” Kemudian Bokap berbalik dan membuka pintu.
“Papa nggak marah aku menjadi gay?” Gue menahan Bokap dengan pertanyaan.
“Sudahlah, Hendra. Anggap saja Papa nggak tahu apa-apa tentang kamu.” Dan Bokap menghilang di telan lorong.
Gue mendesah lega. Well, akhirnya sih sedikit ngambang, yaw? Tapi mau bagaimana lagi coba. Perasaan berdosa gue entah sudah menguap kemana. Gue nggak sabar menunggu yang ke dua, tiga, dan seterusnya. Kali ini gue berharap Nyokap malah makin sibuk dengan pekerjaanya.
3 jam kemudian pintu kamar gue di buka. Kepala Bokap nyembul ke dalam. “Lho, kamu masih telanjang seperti tadi?”
Gue malu bukan main karena ketahuan belum bebenah barang sedikitpun. Gue terlalu asyik memutar ulang segala peristiwa yang terjadi belakangan ini yang melibatkan Bokap dalam urusan gay gue. Jam di kamar sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Woow, nggak terasa.
“Ayo kita turun sama-sama makan. Mama udah pulang juga!”
“Oke!”
Bokap menutup pintu kamar. Gue bangkit berdiri dan mencari baju ganti di lemari. Gue jadi mikir, kapan Bokap bongkar-bongkar isi kamar gue? Wahh, untuk yang selanjutnya gue bakal hati-hati dalam menyimpan barang pribadi gue, apalagi yang bersangkutan dengan gay-gay thing.
Untuk yang kali ini Straight To Gay Part 0,1 is officially done. Sampai jumpa di Straight To Gay Part 2.

Dree

:The end:

4 komentar:

  1. jual vimax untuk menambah ukuran penis, terbukti memuaskan!! isi 30 pil harga 400.000 orisinil asli kanada. hub. 08562937900 cod wilayah jogja dan sekitarnya bisa. Vimax adalah produk herbal alami yang sangat efektif dan berhasiat untuk masalah laki-laki yang dapat menambah panjang dan lingkar penis, keinginan seksual, kesehatan seksual dan membantu untuk mencapai ereksi kuat. Capsul vimax 100% aman dan alami. Hanya bahan-bahan berkualitas tertinggi herbal dari seluruh dunia yang digunakan dalam pembuatan vimax.

    BalasHapus
  2. keren,
    gaya bahasanya simple dan asik
    two thumbs for you dree

    BalasHapus