Hunk Menu

Overview of the Naolla

Naolla is a novel which tells about life of Hucky Nagaray, Fiko Vocare and Zo Agif Ree. They are the ones who run away from Naolla to the Earth. But only one, their goal is to save Naolla from the destruction.

Book 1: Naolla, The Confidant Of God
Book 2: Naolla, The Angel Falls

Please read an exciting romance novel , suspenseful and full of struggle.
Happy reading...

Look

Untuk beberapa pembaca yang masih bingung dengan pengelompokan posting di blog ini, maka saya akan memberikan penjelasannya.
(1)Inserer untuk posting bertemakan polisi dan dikutip dari blog lain;(2)Intermezzo adalah posting yang dibuat oleh pemilik blog;(3)Insert untuk cerita bertema bebas yang dikutip dari blog lain;(4)Set digunakan untuk mengelompokan posting yang sudah diedit dan dikutip dari blog lain;(5)Posting tanpa pengelompokan adalah posting tentang novel Naolla

Kamis, 06 Desember 2012

Intermezzo: Aku, Kak Agus dan Kak Ridwan


Sepertinya hujan mulai reda. Aku yang sendirian dirumah malam minggu ini merasa sangat bete. Tapi mau jalan aku males banget. Pasti jalanan basah dan licin mana dingin lagi, bisa-bisa aku masuk angin. Mendingan dimasukin kontol deh dari pada masuk angin. Hehehe..
Kak Satria ada tugas malam ini, mungkin agak malam sedikit datangnya. Jadilah aku si angka satu didalam kosan kak Satria. Sambil rebahan aku nyalakan TV dan kebetulan aku juga masih sms-an ama kak Satria.
“Dek, kakak pasti pulang ntar malem. Adek tungguin kakak yah”. Bunyi sms dari kak Satria.
Aku membalasnya. “Adek kedinginan nih kak… Kakak cepet pulang dong, adek pengen diangetin…”.
“Sama dek, kakak juga dingin banget nih ampe punya kakak berdiri tegang. Nggak sabar kakak pengen pulang N ngentot adek. Siap nggak dek?”.
“Siap Pak!”, candaku.
Kami asik sms-an sampai-sampai aku tidak sadar ada suara dua motor dari arah depan rumah. Motor itu berhenti dan sepertinya memang tamu untuk kosan kak Satria ini.
Salah seorang mengetuk pintu. “Permisi… Permisi… Bay… Ni kak Ridwan”.
“Hah? Kak Ridwan, si polisi temen kak Satria? Ada apa ya kesini?”. Dengan masih agak bingung, aku bangun dan membukakan pintu rumah untuk tamu-tamu tak terduga itu. “Eh kak Ridwan dan kak Agus. Ada apa kak?”, tanyaku.
“Satria ada bilang ke kamu nggak?”, tanya kak Ridwan.
“Bilang apa?”.
“Belum ya? Coba kamu sms Satria dulu”, pinta kak Ridwan.
Kak Ridwan mengenakan baju kaos  berwarna putih dan kak Agus mengenakan jaket kulit hitam. Mereka sama-sama memakai celana coklat khas polisi.
“Masuk dulu kak”.
Mereka melepas sandalnya dan langsung masuk lalu duduk didepan TV. Sementara tanganku mengetik sms untuk kak Satria. Ih, kak Ridwan dan Kak Agus malam ini cakep banget, bikin lubang pantatku berdenyut-denyut aja pengen ditusuk pistol dua polisi ini.
“Gimana Bay, udah dibales?”, tanya kak Agus.
“Belum kak. Sebenernya ada apa sih? Kenapa musti kak Satria sih yang kasih tahu. Aku jadi penasaran…”.
Tit! Bunyi sms masuk di hp ku.
“Oh, Mereka mau pinjem laptop kakak buat main game. Kasih aja Bay, laptop kakak di dalam tas deket lemari”, bunyi pesan singkat kak Satria.
Ya ampun, aku kira ada apaan ternyata Cuma mau pinjem laptop doang. Ngomong kek dari tadi…
“Oh, laptop ya kak? Tunggu bentar ya… aku ambilin dulu”. aku bergegas mengambil laptop didalam kamar. Tapi Kak Agus malah mambuntutiku masuk kekamar.
“Nggak usah Bay, kakak pakai laptopnya dikamar aja. Enak dikamar sambil tiduran”.
“Oh, iya kak silahkan”.
Tak lama kemudian, kak Ridwan masuk sambil membawa sebuah kotak yang aku yakini itu adalah stik untuk bermain game. Sebelum masuk dia mematikan TV. Ih, kok dimatiin sih? Padahal aku masih mau nonton. Apa mereka pengen aku temenin dikamar ini? Ntar aku diapa-apain lagi. Tapi nggak apa-apa juga sih, malah itu yang aku harepin.
“Udah, Bayu temenin kakak main disini aja. Acara TV juga nggak rame. Mending temenin kak Agus dan kakak main game”, kata kak Ridwan seperti tahu apa yang sedang aku pikirkan.Ya sudahlah, lagian mending liatin wajah n tubuh gagah mereka ketimbang nonton acara nggak penting di TV. Ya nggak?
Triple OMG! Kak Agus melepas jaketnya dan tampaklah tubuhnya yang masih berotot terbalut singlet putih yang ketat. Aku hampir saja menyambar tubuhnya dan memeluk kak Agus erat-erat. Sayangnya aku masih sadar kalau mereka ini temen-temen kak Satria.
Merekapun mulai bermain game di laptop. Keliahatannya mereka sangat senang bermain game sepak bola. Aku hanya senyum dan sesekali menyahuti perbincangan mereka.
“Bay, bisa main nggak?”, tanya kak Agus.
Aku menggeleng.
“Sini kakak ajarin. Gampang kok. Nih”, kak Agus menyerahkan stik padaku. Aku akhirnya mencoba mengotak-atik tombol-tombol yang ada di stik game. Pusing aku dengan kombinasi-kombinasi tombolnya sehingga dengan mudah aku kalah 2-0 dari kak Ridwan.
“Hahaha… Gol! Ayo dong Bay, bisa –bisa jebol tuh gawang kamu kakak masukin terus”, kata kak Ridwan.
“Ih, susah banget kak. Aku nggak bisa ah… Biar aja deh jebol, yang penting asik. Hehehe”.
“Sini kakak ajarin”, kata kak Agus. Dia mendekatiku dan langsung mengambil posisi duduk dibelakang punggungku. Tangannya seperti memelukku dengan memegangi tanganku yang masih memegang stik. Jujur aku gugup banget pas kak Agus mengambil posisi seperti itu. “Oh Bayu, lo harus sadar bahwa dia itu temen BF lo! Kalau sampai lo kepancing, mampus lo ditembak Satria. Lo sadar Bay!”. Aku memang agak risih tetapi  aku juga menikmati itu. Entah mengapa disebagian dari diriku aku bahkan mengharapkan hal yang lebih akan terjadi malam ini namun disisi lain aku juga sadar kalau mereka ini adalah teman kak Satria, pacarku.
Kaki kak Agus di kangkangkan sehingga entah sadar atau tidak bagian kontolnya menyentuh pantatku. Kok sepertinya kak Agus sengaja ngelakuin ini. Buktinya tonjolan diselangkangannya mulai mengeras dan terasa sekali dia mulai menggesek-gesekan benda kejantanannya itu.
“Begini Bay, tekan lalu tahan”, kata kak Agus.
Aku tak bisa berkata apa-apa karena sebenarnya lidahku telah kaku dan sulit untuk digerakkan. Sementara entah kenapa kayaknya kak Agus menyadari hal itu sehingga dia semakin mendekatkan wajahnya kepipiku seolah-olah memperhatikan layar laptop dengan serius. Aku sekarang ibarat boneka didalam pelukan seorang polisi gagah ini karena sekarang jari jemarinya yang menggerakan jari-jemariku untuk menekan tombol-tombol stik. Huh, aku memang seperti boneka! Tapi nggak apalah yang penting aku bonekanya kak Agus yang perkasa ini.
“Gol!!!”. Kak Agus berseru didekat telingaku manakala sebuah gol berhasil menembus gawang kak Ridwan. Aku kaget dan lamunanku buyar.
“Arhhhh sialan kamu Gus.  Udah ah males jadinya main”. Kak Ridwan melepas stiknya dan mengeluarkan aplikasi game.
“Dek, kita edit foto yuk! Ajarin kakak ngedit foto buat di upload di FB”, ajak Kak Agus.
“Ok. Tapi foto yang mana kak? Foto kakak nggak ada di laptop ini kan?”.
“Kita foto-foto aja dulu”, kata kak Agus.
“Ayuk kita foto-foto. Mumpung ada laptop nih biar besok pas ke warnet aku upload”, kata kak Ridwan.
Aku mengatur laptop dan mulai membuka aplikasi kamera. Tampak jelas dilayar laptop Kak Agus memelukku sedangkan kak Ridwan duduk disebelah kami.
“Kak lepasin aku dong, kan main gamenya udah selesai”, pintaku pada kak Agus.
“Nggak, biarin aja dek. Kamu nggak suka ya? Kan enak diangetin kakak… Hehehe”, jawabnya.
Aku hanya mengangkat alis tanda aku menerima perlakuan kak Agus. Kini kamera sudah siap mengambil foto kami. Beberapa pose sudah kami lakukan. Mulai dari yang biasa sampai yang luar biasa. Tapi tiba-tiba…
“Muahhhhh….!!”.
Crek! Sebuah foto tak lajim tertangkap kamera. Kak Agus dan kak Ridwan mencium pipiku bersebelahan secara bersamaan. Aku kaget dong dan lagi foto itu ada dilaptop kak Satria.
“Kakak?!”, sentakku kaget seakan tak percaya.
Terpampang jelas sebuah bidikan kamera laptop 14 inchi itu. Bibir kak Agus dan kak Ridwan menempel dikedua belah pipiku. Aku berniat ingin men-delete-nya namun buru-buru dicegah kak Agus.
“Jangan Bay, biar aja. Buat koleksi kakak. Ntar di cut aja ke flash disk kakak itu biar nggak ketahuan kak Satria”, ucap kak Agus.
“Tapi kak, kalau sampai ketahuan gimana? Aku nggak mau ah”. Aku masih berusaha menghapus foto itu.
Kak Ridwan memegang tanganku lalu kak Agus membisikan sebuah kata ditelingaku. “Kamu tenang aja sayang. Kakak janji kakak nggak akan macam-macam kok ama kamu. Kakak Cuma mau seneng-seneng aja ma kamu malam ini. Boleh ya…??”.
Aku benar-benar sulit untuk meneguk air ludah. Entah mengapa kata-kata barusan menunjukan bahwa aku akan diapa-apain oleh mereka berdua malam ini. Walau tadi aku berharap buat diapa-apain tetapi aku nggak mau kalau sampai kak Satria tahu ini. Aku nggak sanggup buat kehilangan kak Satria tetapi aku juga tidak bisa melawan keperkasaan kedua polisi gagah berotot ini.
Kak Agus mulai menciumi leherku sambil memegang tanganku sementara kak Ridwan memegang kakiku sambil melepaskan seluruh pakaian dibadanku. Entah bagaimana caranya, kini kami semua sudah telanjang bulat. Aku yang semula merasa bersalah kini sudah terbuai oleh perlakuan mereka berdua. Putingku di sedot-sedot oleh kak Ridwan sementara bibirku diciumi oleh kak Agus. Genggaman tangan di lengan dan kakiku mulai melonggar dan akhirnya lepas tanpa ada perlawanan dariku. Aku memang begini adanya kalau sudah dilanda nafsu, lupa segala-galanya.
“Isep dek! Cepetan nih! Uhhhh”. Kak Agus menyodorkan  kontolnya yang mirip timun itu kearah mulutku. Aku yang saat itu udah rebahan dipaha kanan kak Agus langsung menyentuh kontolnya dan Hap! Dengan sekali sergap kepala kontol yang besar itu mampu mengahanyutkanku dalam keindahan hasrat. Kepalanya berwarna merah muda dan lumayan bagus untuk ukuran kontol kak Agus yang besar.
Kak Ridwan yang sibuk dengan putingku akhirnya turun kebawah dan menguak lubangku lebar-lebar. Entah apa yang aku rasakan saat itu, ketika bibir kak Ridwan sudah mengganas menyeruput lubangku seperti mengenyot bibir. Uhhhh enak sekali rasanya. Gatal-gatal nikmat!
Slurpppp! Ahhhh … Slurpppphhh! Ahhhhh…
“Auhhhhh Ohhhhhh… Enakhhh Bangetz Wan, isepan anakh inih… Kamu Mustih cobahhhh ahhhh uhhhh”, racau kak Agus sambil menekan-nekan kepalaku agar bisa memasukan kontolnya yang besar dan panjang itu kedalam rongga mulutku.
“Gila Gus, lubang ni anak kok bentuknya bagus banget ya? Aku ngaceng eh, liatnya! Pengen banget cepet-cepet nusuk dia”. Kembali kak Ridwan mencelemoti lubangku dengan lidahnya.
Sekarang aku sudah dalam keadaan nafsu berat dan tanpa sadar aku mengucapkan kata-kata sialan, “Kak Rid… Entot dedek… Uhhhh”.
“Bener Dek? Kontol kakak gede lho. Mau?”, tanyanya antusias sambil mengenggam kontolnya yang besar dan panjang sekitar 20 cm itu.
Aku mengangguk. Sekarang aku memposisikan diri seperti bayi yang sedang merangkak. Dihadapanku sebuah kontol sedang menjejal mulut sedangkan dibelakang dengan gagahnya kak Ridwan mulai mengentoti lubangku. Uh rasanya bener-bener enak…
“Ohhhh…. Isepppp ahhhh”…
“Gila, lubang Bayuh Uhhhh Enak banget! Uhhh oh oh ohhh”, racau kak Ridwan sambil mengentoti lubangku.
Bunyi pantatku yang dihentak-hentak oleh kak Ridwan semakin menggema memenuhi seisi ruangan. Sodokan kontol kak Agus juga sampai-sampai menyentuh pangkal tenggorokanku. Dadaku yang nganggur langsung saja diremas-remas kak Ridwan. Tangannya yang agak kasar sempat membuat aku merintih-rintih kesakitan namun aku suka dengan gaya bercinta mereka yang kasar. Aku yang  terus mencaplok kontol Kak Agus yang gede dan super tegang, kini mempermainkannya dengan mulut dan lidahku yang kata kak Wando memiliki lidah terenak didunia, Guiness book punya dah... Lubang pistol polisi itu aku buka-buka dengan ujung lidah dan kadang-kadang  aku kocok naik turun dengan mulutku hingga kak Agus mengerang nikmat kaya banteng. Kontol kak Ridwan sendiri langsung tegang keras dan terus menghunjam anusku maju mundur. Mendapat dua penis sekaligus mengisi lubang depan dan belakangku apalagi kontol mereka gede-gede sekali membuat aku sangat bernafsu, nafasku udah memburu sedangkan otot anusku semakin ngemot-ngemot mencoba meremas lebih keras kontol kak Rid. Kadang-kadang aku tak menghisap penis kak Agus tapi memepetkan kedua telapak tanganku kepenisnya lalu aku gosok-gosok seperti ingin membuat bara api dari ranting.
Kak Ridwan yang berotot dan mulai basah kuyup akibat berkeringat itu kini memegegang pantatku dan langsung menggoyangkannya maju mundur sehingga aku agak kurang konsentrasi mengocok kontol Kak Agus. Laki-laki perkasa yang mengentoti pantatku itu hanya terdiam dengan goyangan pada pantatku yang sudah membuat nikmat pistolnya.
Aku bilang, "Waduuuhhhhh kak Rid uhhhh, sodokhan kakakkkk uhhhh berasa ampehhh dalam uhhh".
Kak Ridwan menanggapi ucapanku, "Aku juga tegang bangethhhh nih Dek.. Uhhhh kontol kakak Enakhhh disedot-sedot dan dipermainkan lubangnya oleh Bayuhhh nihhh. Gus ayo kita ganti posisi...".
Waduh baru aja ngegenjot anusku kak Ridwan mau aku sepong juga ternyata. Tapi aku nggak masalah mau diapain juga yang penting mereka enak dan aku enak. Aku disuruh tiduran dengan pantat berada di ujung bawah kasur dan kaki tertekuk hingga dada.
Penis kak Ridwan langsung saja aku caplok karena aku udah nggak tahan rasanya. Baru beberapa saat aku melepas penis kak Ridwan aku kembali mengaduh, "Aachh.... Kakkkk!".
Aku melongok ke bawah karena  ternyata kak Agus sedang sibuk mau memasukkan penis besarnya tapi belum bisa masuk. Gimana mau cepet masuk wong kelewat besar bendolan kepala kontolnya saat tegang banget itu kira-kira ada lah kaya terong ungu yang biasa ibuku sayur.
"Sulit bangettthhh  Dekkk.. uhhh susah masuknya coba  kakak beri lotion sedikit dulu", katanya.
"Masa sih Gus? padahal sudah kumasukan penisku dan sudah ada precumku, kok masih susah?", sahut kak Ridwan.
 Lalu kak Agus mengambil botol kecil berisi lotion dan diolesilah kepala penisnya dengan lotion lalu dia mengambil semacam longsong dari karet dengan bagian dinding luarnya penuh bulu dari karet kira-kira panjangnya 1 cm. Longsong itu diameternya kira-kira 5 cm. Kemudian dipakaikan ke penisnya hingga batang penisnya sebagian tertutup dengan longsong berbulu itu.
"Ini supaya Bayu mendapat kenikmatan yang lebih hebat. Mau coba ya Bay?", katanya sambil ditunjukkan ke padaku. Penisnya yang sudah gede dan panjang lagi coklat itu dilongsongi dengan gelang karet putih berbulu sehingga benar-benar menakjubkan kelihatannya.
 "Waah kayak apa rasanya nanti Kak? aku belum bisa membayangkan. Tapi pokoknya kakak harus nusuk adek ampe abis air mani kakak!", pintaku manja.
"Oke Sayang.." sahutnya.
Lalu kak Agus mengangkat dan membentang lagi kakiku dan ujung kontolnya ditempelkan tepat di lubang anusku yang mulai menganga itu dan disentakkan ke dalam.
"Aacch... Kak, Uhhhh Udah masuk!”, kataku memberi tahu.
Memang kepala kontol kak Agus sudah masuk lalu digoyang-goyangkan keluar masuk pelan-pelan kepala penisnya supaya agak terbiasa.
"Uhhhh Ohhhh Yeahhhhh Aduh Kak, rasanya seret sekali di lobangku. Aku bisa merasakan bentuk kontol perkasa kak Agus Ihhhh", kataku sambil dengan mata terpejam dan menggigit bibir. Setelah itu kak Agus baru memasukkan seluruh batang penisnya yang tertutup gelang bulu itu pelan-pelan.
Setelah terbenam semuanya, aku mendesis lagi, "Aduhhhh Kakkkk, penis kakak mentok sampai dalam kepalanya rasanya menyodok ususkuuuuhhh Ohhhh. Enaaknya luar biasa dan gelinya juga hebat kena gelang bulu itu”.
Dengan penis tetap terbenam penuh kak Agus mulai menggoyangkan pantatnya naik-turun sehingga penisnya menyapu seluruh dinding anusku yang udah kebelet pengen dientot. Tanganku mulai meremas kain sprei dan seperti lont, aku meminta penis kak Ridwan untuk aku hisap. Penis kak Rid aku permainkan dengan lidah, lubangnya aku buka-buka dengan lidah dan rasanya enak luar biasa. Aku sambil melihat ke bawah, kulihat penis Kak Agus mulai digoyangkan keluar masuk sehingga bulu karetnya menyentuh lubangku juga. Setelah gampang masuk keluar penisnya, tangan kak Agus langsung meremas dada  dan pentilku.
Baru 12 menit jalan adegan ini, aku sudah mengaduh, "Aah.. aah, aku mau klimaks, Kak!".
Benar juga sekejap kemudian aku memuncratkan spermaku.
"Gila Rid, pijatan anus Bayu kuat sekali di penisku."
Memang kalau klimaks anusku akan memijit penis dengan kuat dan tentu nikmat rasanya.
"Kak Rid, kak Agus, tolong semprotkan semua mani kalian yahhh, aku sudah pengen hangatnya mani kalian”.
Kak Ridwan berkata, " Gus, gimana? Kamu suka dek di entot dua pria kayak gini?”.
"Ya Kak, aku puas banget dan memang enak dan grengnya luar biasa sekaligus melihat, memegang dan menikmati 2 pistol polisi, apalagi ada yang gede-gede. Adek jadi kepingin terus", sahutku.
Lalu kak Agus sudah mulai menggenjot lagi anusku dengan penisnya dan penis Kak Ridwan aku hisap lagi sambil dibantu ku kocok dengan tangan.
"Ayo Rid, sekarang kita puaskan Bayu dengan semprotan mani kita secara berbarengan."
Kak Agus mulai menggerakan lagi keluar masuk dan kadang memutar sehingga aku sering menggelinjangkan tubuh dan penis kak Ridwan mulai dihisap lagi sambil kadang-kadang dikocok dengan tangan, sedang putingku tetap menjadi bagian dari tangan kak Agus yang tak bosan-bosan memilin-milinnya. Makin lama kak Agus semakin cepat dan semakin keras menghunjamkan penisnya ke liang pelepasanku dan mulai mendengus-dengus seperti sapi. Melihat itu aku semakin bernafsu dan penis kak Ridwan terus ku kocok hingga air mani kak Ridwan tak tertahan lagi.
“Ohhhh Dekkk Uhhhh Owwwhhh Ohhhhh Auhhhh!”.
Creet.... creet.... cret, mani kak Ridwan menyemprotkan sperma gurihnya masuk ke mulutku. Mani kak Ridwan cukup banyak dan kental juga sehingga mulutku penuh dengan mani yang putih seperti cendol itu. Lalu penis kak Ridwan kukeluarkan dari mulut dan mani yang masih menetes dari lubang penisnya kugeser-geserkan ke bibirku dan langsung ku telan semua maninya.
Baru saja habis menelan mani polisi Ridwan, terdengar suara mengaduh dari temannya, kak Agus, "Uuuuuh.... uuuuhh.... uuuhh Uhhhh Arggghhhh", sambil menekankan kuat-kuat penisnya yang terbenam itu ke anusku. Dan tiap kali kak Agus mengaduh aku pun ikut mengaduh,"Aaah Kakkkkk.. aahh.. aah Ohhhh”.
Tiap kali semprotan mani kak Agus terasa sekali nikmatnya olehku. Kak Ridwan lalu tiduran disebelahku dan kak Agus juga langsung rebah menindih tubuhku.
Walaupun dengan nafas yang masih memburu tangan kak Agus tetap masih memainkan putingku. Kemudian tubuh kak Agus aku peluk dan kakiku pun kulipatkan erat-erat ke pinggang kak Agus dengan maksud agar penisnya jangan buru-buru dicabut dari lobang pantatku. Kira-kira sampai 5 menit kami bertiga terdiam tanpa kata-kata hanya dengan nafas tersengal-sengal, baru kemudian kak Ridwan turun menuju kamar mandi untuk cuci dan ternyata kak Agus dengan merangkulku juga ikut ke kamar mandi untuk cuci bersama. Untuk mencuci penis-penis polisi itu, aku yang bertugas. Karena kepunyaan kak Agus yang banyak belepotan maninya maka penisnya yang dicuci dulu. Rasanya dari anusku meleleh sedikit mani yang keluar menuju paha.
"Yah kak Rid… anusku sakit dan merah. Itu gara-gara penis temanmu itu toch yang seretnya bukan main mulai dari bibir anus sampai dinding dalam seret terus, sehingga lobangku bisa merasakan lekuk-lekuk penisnya”, ucapku.
"Tapi enak dan nikmat toch sayang?" balas Kak Agus.
Aku Hanya tertawa tanda setuju, sambil terus mencuci penis kak Agus dan kemudian penis kak Ridwan. Setelah itu giliran aku yang anusnya mau dicuci oleh kak Ridwan, aku nungging dengan bertumpu di closet dan pantat terbuka lebar kemudian anusku dicuci dan jari tengah kak Agus dimasukkan pelan-pelan untuk mengambil mani yang menempel di dalam dan ternyata ada sedikit dan ditunjukkan ke aku.
"Wah Kak, maninya kak Agus numpuk dalam anusku nih sebab tadi semprotannya banyak dan sampai tiga kali tapi yang keluar sedikit sekali. Mungkin masuk ke usus sebab dalam perutku masih terasa hangat dan saat nyemprot ujung lubangnya benar-benar disodokkan sampai rasanya masuk ususku".
"Tenang saja dek, lama-lama kan keluar sendiri, sekarang dikeluarkan percuma nanti malam kamu kan masih akan disemprot lagi."
"Bukan malam ini saja mungkin sampai besok pagi akan kusemprotkan sampai habis maniku ke anusmu", sahut kak Agus
Gila nih polisi, kalau kepergok kak Satria bisa gawat! Udah ah, mendingan aku masuk kedalam kamar terus tidur daripada ngelanjutin acara persenggamaan dan ketangkep kak Satria. Aku pun keluar kamar mandi lalu mengenakan pakaian kemudian siap-siap tidur.
Kak Ridwan dan kak Agus sepertinya masih mau ngelanjutin acara main game mereka yang tertunda tadi.
Terserahlah yang penting sekarang aku udah ngerasain pistol mereka berdua.

2 komentar: