Siang itu aku sedang berada di
lingkungan sekolah SMPku yang lama untuk sekedar bermain-main hingga aku
bertemu pak Bambang guru olahraga favoritku. “Pak kita main di atas yuk, udah
lama kita ga main basket bareng nih!”, “boleh dek, ayo naik ke atas”. Kami
menaiki tangga hingga ke lantai atas, “Dek bentar ya kuncinya ada di ruang saya
di atas, ayo ikut bapak ambil kunci”. Setelah naik ke ruangannya, ia tiba-tiba
menutup pintu lalu mendekapku “Aku tahu gelagatmu itu! Kamu mau kan ngerasain
kontol bapak? Hah? Mau kan? Maksudmu gitu kan?” sambil menyodorkan kontolnya
yang besar itu, panjangnya dapat mencapai 20 cm dengan diameter sekitar 6 cm.
“Ayo isap kontol bapak! Bapak tahu kamu mau! Bapak bisa lihat mata kamu yang
tergoda itu!” aku langsung menyamber dan mengocok-ngocok kontolnya lalu
memasukkannya ke dalam mulutku. “Oh ya vin.. Kamu bener-bener tau apa yang
bapak mau.. Sudah lama bapak ga ngentot lonte-lonte. Kamu mau ga vin dientot
sama kontol bapak ini?” Dientot?? Sama kontol gede kayak gini? Siapa yang kagak
mau?? Aku terus menyepong kontol gedenya, precum mengalir di dalam mulutku,
jembutnya menggelitik hidungku, udara pengap di dalam ruangan tertutup itu
membuatnya melepaskan bajunya hingga hanya tersisa celana trainernya saja, otot
dada dan lengannya yang kekar serta perutnya yang sixpack berlumuran keringat
hingga membuatnya makin seksi. Ia semakin cepat menggerakkan kontolnya di
mulutku, rambutku dijambak dengan keras, mulutku seperti lubang memek baginya
“AAH VIN BAPAK MAU NGECROT!!” CROOOOT CROOTT CROOTT!! Kurasakan mulutku penuh
oleh pejunya, ia melepaskan kontolnya dari mulutku dan berbaring sebentar di
ranjang untuk senam. Kemudian dia bangkit dan mulai melucuti pakaianku dengan
nafsunya hingga aku telanjang bulat di depannya. Ia menciumi mulutku dari
belakang dengan birahinya “Vin mau kan dientot bapak? Bapak akan puasin kamu
vin.. Mau kan vin?” sambil memilin-milin kedua puting susuku “mau banget pak,
fuck me pak sekarang!! Entot aku pak!!” tiba-tiba ia membanting tubuhku ke
kasur, lalu ia meludah di lubang pantatku dan membasahi kontolnya yang gede
itu. Tanpa babibu lagi ia perlahan-lahan memasukkan kontolnya ke lubang
pantatku, plokk plokk plokk terdengar suara kontolnya di lubangku “Arghh enak
pak!! Gede amat!! Terus pak masukin yang dalam pakk!!” “lubangmu sempit banget
vin!! Lebih sempit daripada memek lonte!!” kami mengentot dengan posisi doggy
style, ruang yang panas membuat suasana semakin seksi. KREEKKK! Tiba-tiba pintu
ruangan dibuka “Bang! Enak amat lu ngentot! Ga ngajak-ngajak lagi!” ternyata
guru olahraga yang kedua, pak Deni masuk menerobos “Hai Den! Enak loh ngentot
dia, mau gabung ga nih?” Pak Deni yang masih berbaju lengkap membuka resleting
celananya dan menyodorkan kontolnya yang ga kalah gedenya dengan pak Bambang ke
mulutku. Aku telanjang bulat di antara kedua mantan guruku, satu sedang
menghajar lubang pantatku, dan satu sedang mengentot mulutku, pak Deni kemudian
juga membuka bajunya hingga hanya memakai singlet saja, otot lengannya juga
tidak kalah kekar dengan pak Bambang. “Bang gantian dong! Enak amat lu ngentot
dia dari tadi! Gua juga mau nih!” “Iya iya Den! Eh Calvin mau coba ga dientot
berdua sama kami?” tanya pak Bambang dengan nafsunya kepadaku. “Mau pak!!
Cobain aja! Pasti muat kok!!” Pak Bambang menghentikan entotannya di pantatku,
dan dan pak Deni mengeluarkan kontolnya dari mulutku, pak Bambang kemudian
menggendongku, dan membalikkan tubuhku hingga berhadapan dengan wajahnya
sementara kontolnya masih menancap rapat di lubangku, bibirnya sibuk bergerilya
dengan lidahku, kemudian pak Deni dengan perlahan-lahan berusaha memasukkan
kontolnya ke dalam lubangku yang sudah berisi kontol pak Bambang “Argh sakit
pak!! Tapi enak banget! Masukin yang dalam pak!!” aku terpekik menahan sakit
dan enak yang melebur jadi satu. Kontol pak Deni sudah masuk sepenuhnya, kami
pun mulai bergerak, aku berpegang erat-erat pada punggung pak Bambang, pak Deni
mulai memaju mundurkan pinggangnya sambil meremas-remas putingku, dan pak
Bambang mengimbangi ritme pak Deni, ketika kontol pak Deni ditarik keluar, pak
Bambang mendorong kontolnya masuk ke dalam, dan seterusnya. “Den istri lo mana
mungkin mau dibeginiin!” “Ga mungkin mau Bang! Lagi memeknya juga ga seret
kayak gini” omongan kotor mereka semakin membuatku horny, telanjang bulat diantara
dua orang berotot besar dengan pakaian yang masih menempel sambil dientot
berdua, yummy enak sekali. Kami kemudian berganti posisi, Pak Bambang berbaring
di ranjang untuk senam yang telah basah oleh keringat kami, aku kemudian duduk
di atas kontolnya membelakanginya, aku bertumpu di atas perut pak Bambang,
sementara pak Deni di depan menghadapku dan perlahan-lahan memasukkan kontolnya
ke lubangku yang sudah ada kontol pak Bambang di dalamnya, kemudian dengan
binalnya menciumiku seperti aku adalah istrinya. Pak Bambang menarik tubuhku
hingga jatuh ke atas dadanya, membuatku melepaskan ciumanku terhadap pak Deni.
Pak Bambang kemudian ikut menciumiku dengan rakusnya melahap lidahku, sementara
pak Deni mulai menggerakkan pinggangnya maju mundur. Mulut pak Bambang berhenti
mengerjai mulutku, dan mulai bermain di lubang telingaku, spot yang membuatku
sangat terangsang, sambil memainkan jari-jarinya di kedua puting susuku, ia
memilin-milin dan memelintir putingku dengan nikmatnya. Keringat pak Deni jatuh
di atasku, beberapa jatuh di wajahku dan kujilat, asin nikmat rasanya.
Bayangkan diantara 2 lelaki jantan yang sedang mengentot dengan keringat yang
bercucuran segede biji jagung menetes! Bayangkan 2 kontol di dalam lubang
pantat sempit sambil 2 puting susu dimainkan, betapa nikmat rasanya. Bau
keringat jantan memenuhi ruangan pengap itu, membuat suasana semakin seksi,
namun semua yang nikmat pada akhirnya akan berakhir. “Bang aku bentar lagi mau
keluar!! Kita keluarin bersama-sama ya!!” “Ayo pak Deni!! Keluarkan semuanya di
dalamku!! Terus pak!! Fuck me hard!! Entot aku pak!!” terangsang oleh
kata-kataku, pak Bambang semakin keras mengentotku, 2 kontol di lubangku
menyentuh suatu bagian di pantatku yang sangat enak, membuat kontolku
terangsang dan akhirnya muncrat CROTTT. Orgasmeku menyebabkan lubang pantatku
semakin sempit dan mencekik 2 kontol di dalamnya “DENI AKU MAU KELUAR!! VIN AKU
KELUAAR ARGH!!” CROOOT CROOOT CROOOTTT pak Bambang mengeluarkan seluruh isi
pejunya di dalamku “sialan lu Bang! Pejumu kena kontolku!!” CROTTT CROOOOT CROOOOOT
CROTTTT pak Deni akhirnya keluar juga di lubangku, terasa panas perutku akibat
semburan pejuh 2 kontol lelaki jantan kekar. “makasih ya Calvin, bapak puas
banget, kamu mau ngga jadi pemuas kami berdua lagi?” “mau banget pak, aku
sangat ingin jadi pemuas bapak berdua”. Kami berbaring sebentar dan akhirnya
tertidur sejenak dengan kedua kontol masih didalam lubangku. Ketika kubangun,
ternyata mereka sudah lanjut ronde kedua, and the fuck goes on..
Sumber: http://indogayhotstory.blogspot.com/
Hunk Menu
Overview of the Naolla
Naolla is a novel which tells about life of Hucky Nagaray, Fiko Vocare and Zo Agif Ree. They are the ones who run away from Naolla to the Earth. But only one, their goal is to save Naolla from the destruction.
Book 1: Naolla, The Confidant Of God
Book 2: Naolla, The Angel Falls
Please read an exciting romance novel , suspenseful and full of struggle.
Happy reading...
Book 1: Naolla, The Confidant Of God
Book 2: Naolla, The Angel Falls
Please read an exciting romance novel , suspenseful and full of struggle.
Happy reading...
Look
Untuk beberapa pembaca yang masih bingung dengan pengelompokan posting di blog ini, maka saya akan memberikan penjelasannya.
(1)Inserer untuk posting bertemakan polisi dan dikutip dari blog lain;(2)Intermezzo adalah posting yang dibuat oleh pemilik blog;(3)Insert untuk cerita bertema bebas yang dikutip dari blog lain;(4)Set digunakan untuk mengelompokan posting yang sudah diedit dan dikutip dari blog lain;(5)Posting tanpa pengelompokan adalah posting tentang novel Naolla
(1)Inserer untuk posting bertemakan polisi dan dikutip dari blog lain;(2)Intermezzo adalah posting yang dibuat oleh pemilik blog;(3)Insert untuk cerita bertema bebas yang dikutip dari blog lain;(4)Set digunakan untuk mengelompokan posting yang sudah diedit dan dikutip dari blog lain;(5)Posting tanpa pengelompokan adalah posting tentang novel Naolla
Jumat, 10 Mei 2013
Kamis, 09 Mei 2013
Intermezzo: Mas Toni, Polisi Selingkuhanku
Hai teman-teman,
lama aku tidak menulis cerita di blogku ini. Ada yang kangen dengan aku nggak?
(Ngarep_bgt). Ya udah kalau nggak ada… yang jelas, kali ini ada sebuah cerita
seru yang tidak mungkin aku simpan begitu saja. Kalian mau baca kan? Ayo, Lets go!
Siang itu aku sendirian.
Ayah, Mama dan Mbak Maya mendadak ke kabupaten sebelah karena Ayah mbak Maya
sakit. Aku nggak bisa ikut karena ada kegiatan sekolah yang nggak bisa aku
tinggalin. Daripada bengong sendirian aku iseng bersih-bersih rumah. Pas aku
lagi bersihin kamar Mbak Maya aku menemukan sekeping VCD. Ketika aku merhatiin
sampulnya.. Astaga!! Ternyata gambarnya sepasang bule yang sedang berhubungan
sex. Badanku gemetar, jantungku berdegup kencang. Pikiranku menerawang saat
kira-kira satu minggu yang lalu aku tanpa sengaja mengintip Mbak Maya dengan
pacarnya berbuat seperti yang ada di sampul VCD tersebut di rumah kontrakan Mas
Toni. Sejak itu aku sering bermasturbasi membayangkan sedang bersetubuh. Tadinya
aku bermaksud mengembalikan VCD tersebut ke tempatnya, tapi aah.. mumpung
sendirian aku memutuskan untuk menonton film tersebut.
Mbak Maya adalah
anak om ku. Dia sedang PKL di daerah kami dan untuk sementara tinggal di rumah
kecilku. Mbak Maya memang sudah lama kuliah di daerahku namun karena jarak
antara kosannya dengan tempat PKL yang cukup jauh akhirnya dia memutuskan untuk
sementara waktu tinggal dirumah kami. Ibuku senang-senang saja dengan
kedatangan Mbak Maya, hitung-hitung dia punya anak cewek yang bisa di ajak
ngobrol or ngerumpi ketika masak.
Kembali ke VCD. Begitu
aku nyalain di layar TV terpampang sepasang bule yang sedang saling mencumbu.
Pertama mereka saling berciuman, kemudian satu persatu pakaian yang melekat
mereka lepas. Si cowok mulai menciumi leher ceweknya, kemudian turun ke
payudara. Si cewek tampak menggeliat menahan nafsu yang membara. Sesaat
kemudian si cowok mejilati vaginanya terutama di bagian klitorisnya. Si cewek
merintih-rintih keenakan. Selanjutnya gantian si cewek yang mengulum penis si
cowok yang sudah ereksi. Setelah beberapa saat sepertinya mereka tak tahan
lagi, lalu si cowok memasukkan penisnya ke vagina cewek bule tadi dan langsung
disodok-sodokin dengan gencar. Sejurus kemudian mereka berdua orgasme. Si cowok
langsung mencabut rudalnya dari vagina kemudian mengocoknya di depan wajah
ceweknya sampai keluar spermanya yang banyak banget, si cewek tampak
menyambutnya dengan penuh gairah.
Aku sendiri
selama menonton tanpa sadar bajuku sudah nggak karuan. Kaos aku angkat sampai
diatas dada, kemudian aku elus-elus sendiri putingku sambil sesekali aku remas
dan plintir-plintir, uhh.. enak banget. Apalagi
kalo kena putingnya woww!! Celana pendekku aku pelorotin sampe dengkul, lalu
tanganku masuk ke balik celana dalam dan langsung mengocok-ngocok penis ku.
Sensasinya luar biasa!!
Makin lama aku
semakin gencar melakukan masturbasi, rintihanku semakin keras. Tanganku semakin
cepat mengocok kontolku sementara yang satunya sibuk memilin-milin puntingku
sendiri. Dan, “Oohh.. oohh..”
Aku mencapai orgasme yang luar biasa. Aku tergeletak lemas di karpet dengan sperma yang menyembur kesana-kemari.
Aku mencapai orgasme yang luar biasa. Aku tergeletak lemas di karpet dengan sperma yang menyembur kesana-kemari.
Tiba-tiba,terdengar
suara pintu diketuk. Tentu saja aku gelagapan benerin pakaianku yang terbuka
disana-sini. Abis itu aku matiin vCD player tanpa ngeluarin discnya.
“Gawat!” pikirku.
“Siapa ya? Jangan-jangan ayah-ibu! Ngapain mereka balik lagi?”. Buru-buru aku
buka pintu, ternyata di depan pintu berdiri seorang cowok keren berseragam
Polisi. Rupanya Mas Toni pacar Mbak Maya.
“Halo Bayu, Mbak
Mayanya ada?”.
“Wah baru tadi
pagi ke *****. Emang nggak telpon Mas Toni dulu?”
“Waduh nggak
tuh. Gimana nih mo ngasi surprise malah kaget sendiri.”
“Telpon aja
HP-nya Mas, kali aja mau balik” usulku sekenanya.
Padahal aku
berharap sebaliknya, soalnya terus terang aku diem-diem aku juga naksir Mas Toni.
Mas Toni menyetujui usulku. Ternyata Mbak Maya cuma ngomong supaya nginep dulu,
besok baru balik ke rumahku, sekalian ketemu disana. Hura! Hatiku bersorak,
berarti ada kesempatan nih. Kapan lagi ada Polisi keren nginep dirumahku.
Kayaknya aku bakalan kejatuhan rezeki nomplok malam ini. Semoga saja
pacar-pacarku nggak ada yang datang ke sini. Amin……. Nnnn….
Aku
mempersilakan Mas Toni mandi. Setelah mandi kami makan malam bareng. Aku
perhatiin tampang dan bodi polisi itu yang memang tinggi, berisi dan keren,
kubayangkan Mas Toni sedang telanjang sambil memperlihatkan “tongkat kastinya”.
Nggak sulit untuk ngebayangin karena aku kan pernah ngintip Mas Toni sama Mbak
Maya lagi ml. Rasanya aku pengen banget ngerasain penis masuk ke anusku, abis
keliatannya enak banget tuh kontol Mas Toni. Hehehehe.. otak Mesum!
“Ada apa Bay,
Kok ngelamun, mikirin pacar ya?” tanyanya tiba-tiba.
“Ah, enggak Mas,
Bayu bobo dulu ya ngantuk nih!” ujarku salting.
“Mas Toni nonton
TV aja nggak papa kan?”
“Nggak papa kok,
kalo ngantuk tidur aja duluan!”
Aku beranjak
masuk kamar. Setelah menutup kintu kamar aku bercermin. Bajuku juga kulepas
semua. Wajahku ganteng, kulitku kuning langsat bersih dan lumayan mulus untuk
ukuran cowok. Tinggi yang tidak terlalu tinggi dan bahkan aku tampak seperti
anak kecil dengan wajahku yang baby-face. Jembutku tumbuh lebat menghiasi kontolku
yang masih tertidur. Aku tersenyum sendiri kemudian memakai kaos yang longgar
dan tipis. Aku merebahkan diriku di atas kasur dan mencoba memejamkan mata, tapi
entah kenapa aku susah sekali tidur. Sampai kemudian aku mendengar suara
rintihan dari ruang tengah. Aneh! Suara siapa malam-malam begini? Astaga! Aku
baru inget, itu pasti suara dari vCD porno yang lupa aku keluarin tadi, apa Mas
Toni menyetelnya? Penasaran, akupun bangkit kemudian perlahan-lahan keluar.
Sesampainya di
ruang tengah, deg!! Aku melihat pemandangan yang mendebarkan, Polisi itu di
depan TV sedang menonton bokep sambil ngeluarin penisnya dan mengelusnya
sendiri. Wah.. batangnya tampak kekar banget.
Aku berpura-pura
batuk kemudian dengan tampang seolah-olah mengantuk aku mendekati Mas Toni. Mas
Toni tampak kaget mendengar batukku lalu cepat-cepat memasukkan penisnya ke
dalam kolornya lagi, tapi kolornya nggak bisa menyembunyikan tonjolan tongkatnya
itu.
“Eh, Bayu anu,
eh belum tidur ya?” Mas Toni tampak salting, kemudian dia hendak mematikan vCD
player.
”Iya nih Mas,
gerah eh nggak usah dimatiin, nonton berdua aja yuk!” ujarku sambil menggeliat .
“Oh iya deh.”
Kamipun lalu
duduk di karpet sambil menonton. Aku mengambil posisi bersila.
“Mas, gimana sih
rasanya bersetubuh?” tanyaku tiba-tiba untuk memancing polisi itu.
“Eh kok tau-tau
nanya gitu sih?” Mas Toni agak kaget mendengar pertanyaanku, soalnya saat itu
matanya asyik mencuri pandang ke arah pahaku. Aku semakin memanaskan aksiku,
sengaja kakiku kubuka lebih lebar sehingga paha dan tonjolan kontol di balik
celana pendekku semakin terlihat jelas.
“Alaahh nggak
usah gitu! Aku kan pernah ngintip Mas sama Mbak Maya lagi gituan.. nggak papa
kok, rahasia terjaga!”
“Oya? He he he
yaa.. enak sih.” Mas Toni tersipu mendengar ledekanku.
Akupun
melanjutkan, “Mas, Lubangku sama punya Mbak Maya lebih enak mana?”.
“Ehh glek! Ngaco
kamu Bay. Kamu kan cowok, Maya kan cewek. Kalian beda dong. Kamu homo ya?”
Selidik mas Toni.
Sudah kepalang
tanggung juga nih. Maka aku lanjutkan untuk menggoda Polisi gagah itu yang
sudah sangat horny. “Terus kalo Homo memangnya mas mau ML ama aku?”. Kali ini
aku mencopot kaos dan celanaku sehingga tubuhku telanjang tanpa sehelai benang
yang menutupi.
“Aaanu..Eh…
Glek! Mmmm…”, Mas Toni tampaknya terbawa suasana dan masuk kedalam jebakan
birahiku. Mas Toni tampak melotot menyaksikan tubuh telanjangku. Hal itu malah
membuat aku semakin terangsang.
“Sekarang
giliran aku liat punya Mas Toni!”
Karena sudah sangat
bernafsu aku menerkam Mas Toni. Aku copoti seluruh pakaiannya sehingga dia
bugil. Aku terpesona melihat tubuh bugil Mas Toni dari dekat. Badannya Berisi
dan seksi. penisnya sudah mengacung tegar membuat jantungku berdebar cepat.
Entah kenapa, kalo dulu ngebayangin bentuk burung cowok aja rasanya jijik tapi
ternyata sekarang malah membuat darahku berdesir.
“Wah gede
banget! Aku isep ya Mas!”
Tanpa menunggu
persetujuannya aku langsung mengocok, menjilat dan mengulum batang kemaluannya
yang gede dan panjang itu seperti yang aku tonton di TV.
“Slurp Slurp
Slurpmmh! Slurp Slurp Slurp mmh.”
Sungguh nikmat
sekali mengisap penis. Aku jepit penisnya dengan kedua tanganku kemudian aku
gosok-gosokin, hmm nikmat banget! Mas Toni yang tidak melawan aku perlakukan
seperti itu akhirnya tak kuat menahan nafsu. Didorongnya tubuh kecilku hingga
terlentang lalu diterkamnya aku dengan ciuman-ciuman ganasnya. Tangannya tidak
tinggal diam ikut bekerja meremas-remas dadaku. Mungkin dia pikir aku ini cewek
kali.
“Ahh mmh.. yesh
uuh.. enak mas”
Aku benar-benar
merasakan sensasi luar biasa. Sesaat kemudian mulutnya menjilati kedua putingku
sambil sesekali diisap dengan kuat.
“Auwh geli
nikmat aah ouw!”
Aku
menggelinjang kegelian tapi tanganku justru menekan-nekan kepalanya agar lebih
kuat lagi mengisap putingku. Sejurus kemudian lidahnya turun ke kontolku.
Tangannya menyibakkan jembutku yang rimbun itu lalu dijilatinya dengan rakus kepala
kontolku sambil sesekali menyeruput kecil atau dihisap dengan kuat. Kayaknya
Mas Toni bisek deh. Kok dia bisa mahir gitu ngemut kontolku?
“Yesh.. uuhh..
enak mas.. terus!” jeritku.
“Slurp Slurp, Kontolkumu
enak banget Bay mmh”.
Mas Toni terus turun
kebawah dan langsung menjilati anusku sampai akhirnya aku nggak tahan lagi.
“Mas.. ayo..
masukin penismu.. aku nggak tahan..”
Mas Toni lalu
mengambil posisi setengah duduk, diacungkannya penisnya dengan gagah ke arah
lubang anusku. Aku mengangkangkan kakiku lebar-lebar siap menerima serangan
rudalnya. Pelan-pelan dimasukkannya batang rudal itu ke dalam anusku.
“Aauw sakit Mas
pelan-pelan akh..”
Walaupun sudah
basah oleh liurnya, tapi anusku masih sangat sempit karena ukuran kontol mas
Toni yang gemuk.
“Au.. sakit”
Mas Andi tampak
merem menahan nikmat, tentu saja dibandingkan Mbak Maya anusku jauh lebih
menggigit. Lalu dengan satu sentakan kuat sang rudal berhasil menancapkan diri
di lubang kenikmatanku sampai menyentuh dasarnya.
“Au.. sakit..”
Aku melonjakkan pantatku karena kesakitan. Sudah kepalang tanggung, aku ingin ngerasain nikmatnya bercinta. Sesaat kemudian Mas Toni memompa pantatnya maju mundur.
Aku melonjakkan pantatku karena kesakitan. Sudah kepalang tanggung, aku ingin ngerasain nikmatnya bercinta. Sesaat kemudian Mas Toni memompa pantatnya maju mundur.
“Jrebb! Jrebb!
Jrubb! Crubb!”
“Aakh! Aakh!
Auw!”
Aku
menjerit-jerit kesakitan, tapi lama-lama rasa perih itu berubah menjadi nikmat
yang luar biasa. Anusku serasa dibongkar oleh tongkat kasti polisi yang kekar
itu.
“Ooh.. lebih
keras, lebih cepat”. Jerit kesakitanku berubah menjadi jerit kenikmatan.
Keringat kami bercucuran menambah semangat gelora birahi kami.
Tapi Mas Toni
malah mencabut penisnya dan tersenyum padaku. Aku jadi nggak sabar lalu bangkit
dan mendorongnya hingga telentang. Pantatku aku kangkangkan tepat di atas
penisnya, dengan birahi yang memuncak kutancapkan batang bazooka itu ke dalam
anusku.
“Jrebb.. Ooh..”
aku menjerit keenakan, lalu dengan semangat ‘45 aku menaik turunkan pantatku
sambil sesekali aku goyangkan pinggulku.
“Ouwh.. enak
banget anusmu nggigit banget sayang.. penisku serasa diperas. Kalau aku tahu
lubang cowok seenak ini… Uhhhh.. aku bakalan ketagihan nusuk kamu… Bay…”
“Uggh.. yes..
uuh.. auwww.. penis Mas juga hebaat, anusku serasa dibor”
Aku menghujamkan
pantatku berkali-kali dengan irama sangat cepat. Aku merasa semakin melayang.
Bagaikan kesetanan aku menjerit-jerit seperti kesurupan. Akhirnya setelah
setengah jam kami bergumul, aku merasa seluruh sel tubuhku berkumpul menjadi
satu dan dan, “Aah aku mau keluar Mas..”
Aku memeluk
erat-erat tubuh atletisnya sampai Mas Toni merasa sesak.
Croott-crooott..croott… spermaku mengenai dada dan perut mas Toni.
“Oke, sekarang
giliran aku! Rasain ini!!! Ahhhhh…”
Aku mencabut
anusku lalu Mas Toni duduk di sofa sambil memamerkan ‘tiang listriknya’. Aku
bersimpuh dihadapannya dengan lututku sebagai tumpuan. Kuraih penis besar itu, aku
kocok dengan lembut. Aku jilati dengan sangat telaten. Makin lama makin cepat
sambil sesekali aku isap dengan kuat.
“Crupp.. slurp..
mmh..”
“Oh yes.. kocok
yang kuat sayang! Mulut kamu enak banget Bay! Ahhhhh…”
Mas Tonii
mengerang-erang keenakan, tangannya meremas-remas rambutku. Aku semakin
bernafsu mengulum. Menjilati dan mengocok penisnya.
“Crupp crupp
slurp!”
“Ooh yes.. terus
sayang yes.. aku hampir keluar sayang!”
Aku semakin
bersemangat ngerjain penis big size milik polisi itu. Makin lama makin cepat
cepat Cepat, lalu lalu “Croot.. croot..”
Penisnya menyemburkan
sperma banyak sekali sehingga membasahi rambut wajah dan hampir seluruh
tubuhku. Aku usap dan aku jilati semua maninya sampai licin tak tersisa, lalu
aku isap penisnya dengan kuat supaya sisa pejuhnya dapat kurasakan dan kutelan.
Akhirnya kami
berdua tergeletak lemas diatas karpet dengan tubuh bugil bersimbah keringat.
Malam itu kami mengulanginya hingga emapt kali dan kemudian tidur berpelukan
dengan tubuh telanjang. Sungguh pengalaman yang sangat mengesankan. Semenjak
saat itu aku tahu kalau Mas Toni, si Polisi gagah itu ternyata adalah bisek
bahkan yang sangat ironinya dia bisa-bisanya nyium aku dan minta aku isap
penisnya ketika berada di toilet rumahku sendiri padahal Mbak Maya sedang
menunggu mas Toni di ruang tengah. Pokoknya Mas Toni udah masuk jeratku dan
kami sering bersenggama ketika mas Toni menginginkannya.
Rabu, 08 Mei 2013
Senin, 06 Mei 2013
Senin, 29 April 2013
Insert: Perjakaku Direnggut Ayah
Baru saja
aku pulang dari makan-makan bersama teman-teman SMP merayakan ulang
tahunku yang ke 25. Tiba-tiba teringat satu kisah. Ini ceritaku dan
terjadi sepuluh tahun yang lampau. Waktu itu aku masih bocah yang ingin
tahu segalanya.
Ibuku adalah pengurus dharma wanita yang sibuk ditambah sebagai pejabat di beberapa yayasan. Ayahku adalah ayah tiri yang menikahi Ibu saat aku berumur 5 tahun. Aku memanggilnya Pa'cek. Ayahku orang yang ganteng dan berwibawa. Meskipun dengan Ibu tidak memiliki keturunan, namun beliau tidak menceraikan Ibu. Sadar diri kalau dia yang mandul. Aku anak bungsu dari 4 bersaudara. Kakakku wanita semua dan pada saat itu kakakku sudah tidak tinggal di rumah. Dua orang sudah menikah sedang kakakku tepat di atas sedang kuliah di Jawa.
Menjadi anak tunggal di rumah ada enak dan tidak. Ayahku sangat sayang dan memanjakanku. Kalau dia mendapat rejeki dia selalu membelikan apa saja yang kuminta. Aku mendapat TV dan VCD di kamarku sendiri. Justru ibu kandungku yang sering protes. Memang efeknya aku jadi jarang belajar dan agak bandel. Meskipun demikian ibuku tidak bisa berkutik karena tiap semester aku selalu berada dalam 10 besar terbaik meskipun bukan yang nomer 1.
Aku sering mendapat pinjaman VCD bokep dari teman-teman SMP kadang bahkan anak SMA kenalanku. Aku menonton di komputer di kamarku. Alasanku lebih mudah diklik dan aman. Orangtuaku jarang di rumah.
Namun hari itu aku benar-benar ceroboh atau mungkin sial. Hari itu aku tidak menonton bokep di komputer tetapi di VCD. Aku ingin gambar yang lebih lebar, pikirku.
"Alfond!!" tiba-tiba ayahku sudah di dalam.
Mati aku! Kok bisa masuk? Padahal... ah aku lupa mengunci pintu. Untung saja aku tidak sedang onani. Tapi tetap saja gambar orang yang sedang bersanggama tidak bisa hilang sekali klik. Mana remote entah kemana lagi... Aku panik. Aku tidak cepat menemukan remotku.
"Sudah, sudah. Kalau mau nonton ya nonton saja. Kamu kan sudah besar..."
Aku masih menduga-duga kemana keinginan Ayah. Walau Ayah sangat memanjakan dan tak pernah marah namun ini mungkin akan lain.
Ayah masuk dan menutup pintu lalu menguncinya. Dia duduk di kasurku dan ikut menonton. Ayah diam akupun diam. Terkadang aku melirik mata ayah yang seakan sedang menonton film biasa. Kucoba tenang seperti Ayah. Namun aku tetap saja tidak tenang karena ada Ayah waktu itu. Setelah beberapa lama kami dalam diam, aku merasa bosan dan makin gelisah saja.
"Fond, kamu tahu tidak, kontol Pa'cek lebih besar dari itu..." katanya dengan muka serius.
Aku memandang tidak percaya dengan perkataan yang baru saja kudengar. Aktor porno yang di VCD sebesar kontolku 17 cm 4 cm. Aku sudah bangga karena di antara teman-temanku, kontolku tampak paling besar. Aku sering sombong bahwa ukuran kontol menentukan kepandaian. Tentu saja itu sangat tidak berdasar.
"Owh ya?" kataku asal saja tidak tertarik.
Aku sama sekali tidak melirik ke gundukan di selakangan. Aku lebih tertarik milik wanita. Ayah membiarkanku mengira-ngira dan tampaknya memang besar. Kontol Ayah kandungku juga pasti besar buktinya aku keturunannya. Ayah tiriku tidak ada pertalian keluarga dengan almarhum ayah. Tetapi entah bagaimana Ibu begitu beruntung selalu mendapat pria dengan kemaluan yang besar. Ah pemikiranku terlalu jauh sampai ke asal-usulku.
Waktu itu aku yakin aku normal. Aku lebih suka menonton payudara dan vagina yang memerah. Aku suka lihat lekuk tubuh perempuan. Sekarang pun begitu. Namun peristiwa berikut ini telah mengubahku. Mengubah hidupku.
Wajah Ayah tiba-tiba mendekat lalu mencium pipiku. Kurasakan pipinya yang kasar dan aroma foam bercukur yang begitu maskulin. Bukan ciuman singkat tapi lebih ke .... ah aku tidak mengerti cara untuk menggambarkannya. Dia memelukku dengan erat dengan lengan yang kekar dan bisep yang menonjol. Aku meronta minta dilepas.
Ibuku adalah pengurus dharma wanita yang sibuk ditambah sebagai pejabat di beberapa yayasan. Ayahku adalah ayah tiri yang menikahi Ibu saat aku berumur 5 tahun. Aku memanggilnya Pa'cek. Ayahku orang yang ganteng dan berwibawa. Meskipun dengan Ibu tidak memiliki keturunan, namun beliau tidak menceraikan Ibu. Sadar diri kalau dia yang mandul. Aku anak bungsu dari 4 bersaudara. Kakakku wanita semua dan pada saat itu kakakku sudah tidak tinggal di rumah. Dua orang sudah menikah sedang kakakku tepat di atas sedang kuliah di Jawa.
Menjadi anak tunggal di rumah ada enak dan tidak. Ayahku sangat sayang dan memanjakanku. Kalau dia mendapat rejeki dia selalu membelikan apa saja yang kuminta. Aku mendapat TV dan VCD di kamarku sendiri. Justru ibu kandungku yang sering protes. Memang efeknya aku jadi jarang belajar dan agak bandel. Meskipun demikian ibuku tidak bisa berkutik karena tiap semester aku selalu berada dalam 10 besar terbaik meskipun bukan yang nomer 1.
Aku sering mendapat pinjaman VCD bokep dari teman-teman SMP kadang bahkan anak SMA kenalanku. Aku menonton di komputer di kamarku. Alasanku lebih mudah diklik dan aman. Orangtuaku jarang di rumah.
Namun hari itu aku benar-benar ceroboh atau mungkin sial. Hari itu aku tidak menonton bokep di komputer tetapi di VCD. Aku ingin gambar yang lebih lebar, pikirku.
"Alfond!!" tiba-tiba ayahku sudah di dalam.
Mati aku! Kok bisa masuk? Padahal... ah aku lupa mengunci pintu. Untung saja aku tidak sedang onani. Tapi tetap saja gambar orang yang sedang bersanggama tidak bisa hilang sekali klik. Mana remote entah kemana lagi... Aku panik. Aku tidak cepat menemukan remotku.
"Sudah, sudah. Kalau mau nonton ya nonton saja. Kamu kan sudah besar..."
Aku masih menduga-duga kemana keinginan Ayah. Walau Ayah sangat memanjakan dan tak pernah marah namun ini mungkin akan lain.
Ayah masuk dan menutup pintu lalu menguncinya. Dia duduk di kasurku dan ikut menonton. Ayah diam akupun diam. Terkadang aku melirik mata ayah yang seakan sedang menonton film biasa. Kucoba tenang seperti Ayah. Namun aku tetap saja tidak tenang karena ada Ayah waktu itu. Setelah beberapa lama kami dalam diam, aku merasa bosan dan makin gelisah saja.
"Fond, kamu tahu tidak, kontol Pa'cek lebih besar dari itu..." katanya dengan muka serius.
Aku memandang tidak percaya dengan perkataan yang baru saja kudengar. Aktor porno yang di VCD sebesar kontolku 17 cm 4 cm. Aku sudah bangga karena di antara teman-temanku, kontolku tampak paling besar. Aku sering sombong bahwa ukuran kontol menentukan kepandaian. Tentu saja itu sangat tidak berdasar.
"Owh ya?" kataku asal saja tidak tertarik.
Aku sama sekali tidak melirik ke gundukan di selakangan. Aku lebih tertarik milik wanita. Ayah membiarkanku mengira-ngira dan tampaknya memang besar. Kontol Ayah kandungku juga pasti besar buktinya aku keturunannya. Ayah tiriku tidak ada pertalian keluarga dengan almarhum ayah. Tetapi entah bagaimana Ibu begitu beruntung selalu mendapat pria dengan kemaluan yang besar. Ah pemikiranku terlalu jauh sampai ke asal-usulku.
Waktu itu aku yakin aku normal. Aku lebih suka menonton payudara dan vagina yang memerah. Aku suka lihat lekuk tubuh perempuan. Sekarang pun begitu. Namun peristiwa berikut ini telah mengubahku. Mengubah hidupku.
Wajah Ayah tiba-tiba mendekat lalu mencium pipiku. Kurasakan pipinya yang kasar dan aroma foam bercukur yang begitu maskulin. Bukan ciuman singkat tapi lebih ke .... ah aku tidak mengerti cara untuk menggambarkannya. Dia memelukku dengan erat dengan lengan yang kekar dan bisep yang menonjol. Aku meronta minta dilepas.
Meski sewaktu kecil Ayah tiriku sering memeluk dan memangkuku namun aku tidak suka dipeluk sekarang. Aku sudah besar bukan anak kecil lagi. Pelukannya juga lain. Nafasnya mendengus dan agak memaksa. Aku meronta namun apa daya badan kekar Ayah menelikungku sehingga aku yang kurus ini tak bergerak. Ayah semakin bernafsu dia menyedot dan mengulumi bibirku. Rasanya manis terasa nikotin Ayahku di mulutku.
"Pa'cek jangan. Jangan yo..." pintaku sambil terus meronta.
Entah bagaimana aku sudah telanjang bulat. Bahkan dengan badan yang masih ditindih begitu. Kontolku yang sedari tadi menegang karena rangsangan video bokep menjadi lemas. Namun Ayah tidak peduli dan tetap menciumi tubuhku. Menjilati leherku. Bahkan menggigit putingku.
Aku terus meronta sampai berkeringat. Rasa takut mulai menjalariku. Rambutku basah. Matakupun terasa mulai basah. Aku merasa sangat benci dengan Ayah. Aku sangat jijik dengan ciuman-ciuman itu. Geli saja rasanya.
"Jangan ya Pa'cek...." antara takut tetapi mulai penasaran.
Ayah membuka resleting dan memelorotkan celana. Segera tampaklah kontol Ayah yang superbesar itu. Suatu kali di lain waktu aku pernah mengukurnya, 20 cm panjang dan hampir 4,5 cm tebal nya. Aku kalah besar. Di sekitar kontolnya tampak rambut yang lebat.
"Aaahhh..." Ayahku melenguh pelan dan tersenyum tampak menikmati.
Kini badan Ayah yang kekar menindihku. Badan Ayah berotot dan perutnya sixpack. Dia memang rajin ke gym dan renang. Di perutku terasa kontolnya yang keras mengganjal digesekkan dengan keras. Aku merasa takut dengan yang Ayah akan lakukan.Tiba-tiba saja ayah mulai mengelusi badanku. Pungggungku, dadaku, lalu pantatku. Aku tidak menyangka sama sekali kalau ayah menginginkan menusuk aku. Duh!
Aku mengalihkan badanku menjauh dari jangkauan Ayah. Terutama anusku yang dia inginkan. Aku membalik badanku dan menutupi kontolku dan mataku. Aku merasa malu melihat Ayahku telanjang bulat begitu di depanku. Dia menciumi bibirku. Lidahnya mencoba menerobos deretan gigiku. Ludahnya terasa membasahi bibirku. Aku merasa sesuatu yang enak tapi sama sekali tak terpikir olehku untuk merespon.
Nafas Ayah mendengus-dengus keras tanda nafsunya sudah terbakar. Dia menciumiku berkali-kali lalu berbalik menindihku. Dia memegang kedua lenganku lalu menggosok-gosokkan kontolnya ke kontolku. Entah mengapa kontolku menegang lagi. Namun tak lama Ayah merobah posisinya jadi agak berdiri. Lalu turun ke lubang kontolku.
"Pa'ceeeekk.. jangan. Tolong..." kataku meronta tapi tidak menjerit.
Terus terang tiba-tiba aku menjadi ketakutan. Aku tidak mau jadi wanita yang disanggama. Aku kan bukan wanita. Tetapi di pihak lain aku tak mampu melawan tubuh Ayah yang kekar. Tubuhku yang kerempeng begini tak sanggup melawan cengkeraman Ayah. Di sisi lain aku juga bertambah penasaran apakah nikmatnya kontol sehingga wanita di vcd itu mengerang-erang keenakan.
Aku mulai merasakan ada suatu benda keras menusuk anusku perlahan.
"Aa pa'cek jangan lakukan ...yaahhh..."
"Sudah kamu menurut saja Fond... " Ayah meludah lalu membasahi ujung kontolnya dan lubang anusku.
Ayah menusukkan kontolnya ke tubuhku kembali. Aku mengejan memaksa menutup lubangku. Namun desakan kontol Ayah tak dapat kulawan. Benda keras itu sangat memaksa menembus masuk ke tubuhku. Tubuhku bergetar namun menjadi pasrah. Air mataku mengalir entah mengapa. Bahagia atau sedih atau kecewa aku tak mengerti. Seakan setengah nyawaku melayang dari tubuhku dan aku menjadi rileks. Bukan pingsan hanya begitu pasrah. Kurasakan ada yang mengganjal di anusku.
[Sebagian pembaca mungkin akan menanyakan mengapa aku tidak meronta dan melakukan perlawanan dengan keras. Aku sudah mencobanya dengan melarang Ayah. Namun aku yang tahu sifat Ayah dan ada sebagian peristiwa yang tak akan kuceritakan, yang membuat aku tak melawan. Tambah lagi ada rasa penasaran yang membuatku tak menyakiti Ayah. Aku tak menyesalinya. Pembaca akan tahu kalau mengikuti ceritaku]
Sementara Ayah bergerak-gerak di atas tubuhku. Kesadaranku benar-benar turun. Aku menjadi setengah sadar. Aku tak merasa apapun di sana. Sebelum tak sadar aku merasa ada gempa bumi hebat di kamarku.
"Ohh asssshhhhh..." Ayah mengkspresikan nikmatnya.
Ayah benar-benar dikuasai nafsu waktu itu. Aku menjadi sangat jijik sekaligus terpenuhi rasa dipuaskan rinduku. Aku sangat kesal dan sangat ternoda.
"Ooooaaahhhh.... " lenguh ayah dan rambut kemaluannya tepat ada di kemaluanku yang lunglai.
Aku tau kontol Ayah memasuki anusku tapi setelah beberapa waktu aku baru sadar kalau sedalam itu ayah sudah memasukiku. Ayah menciumiku lagi. Badannya yang kekar berkilat karena keringat.
Sementara di layar televisi sudah masuk adegan berikutnya. Aku kapok dan tak tertarik lagi dengan tayangan bokep itu.
Ayah mencabut kontolnya. Sesuatu yang kosong dan pegal aku rasakan di sana. Di bawah sana tepat di anusku. Pegal dan perih. Aku lihat ke sana ada darah mengalir di pahaku.
"Pa'ceeek sakit...."
Ayahku mengambil air hangat setelah mengenakan celananya. lalu dia membersihkan luka di anusku dengan penuh kasih sayang. Dia mengenakan kembali celana pendekku lalu menidurkan aku di kasurku. Persis seperti yang dia lakukan waktu aku masih kecil.
"Maafkan Pa'cek, Fond. Pa'cek khilaf!" ujarnya sambil mencium keningku. Tetes airmata yang panas jatuh di keningku.
Ayah berdiri mendekat ke televisi lalu mengambil keping vcdku. Ayah keluar kamar lalu menutup pintu kamarku.
Aku merasa lelah dan sakit baik secara fisik maupun psikologis. Aku tertidur dan baru terbangun malam saat Ayah memberikan obat untuk diminum dan satu obat ambien yang disumpalkan pada lubang anusku. Semua berlangsung tanpa kata-kata. Walau masih benci tapi aku tahu kalau Ayahku tidak berniat menyiksaku apalagi menyakitiku. Aku tahu ada sesal yang dalam di wajahnya.
Keesokan paginya aku tidak berangkat sekolah. Ayah sempat berdebat dengan ibuku yang mengatakan kalau aku baik-baik saja. Sedang Ayah bersikeras kalau aku sedikit demam. Akhirnya Ayah memenangkan perdebatan dan aku diijinkan tidak sekolah hari ini. Ah, apa kata dunia kalau aku sekolah dengan jalan seperti anak habis disunat? Akan banyak pertanyaan. Bisa sih aku beralasan kena bisul di pantat atau di selakangan. Ah, tetapi tidur di rumah seperti saran Ayah lebih enak dan nyaman.
Hari itu aku merasa jenuh alias bete bin sebete-betenya. Ayah pergi karena ada urusan. Keping VCD disita. TV membosankan acaranya. Tidur bosan. Di rumah sendiri, baru setelah makan siang nanti Ayah kembali. Sedang Ibu mungkin sampai malam karena harus kunjungan keluar daerah.
Dengan langkah yang masih tertatih-tatih dan terkangkang-kangkang aku mencoba mencari makanan di meja makan atau kulkas. Jalan ke belakang dan depan. Lalu terbersit ide mencari VCDku yang disita ayah kemarin. Aku tahu kunci kamar ayah dan ibu.
Tak perlu lama aku mencari-cari. Aku menemukan laci penyimpanan kondom. Aku mengambilnya satu. Aku ingin mencobanya. Aku mencari di kolong lalu mencoba membuka lemari pakaian. Namun tidak kutemukan VCD itu. Sekilas aku melihat ada bayangan pantulan plastik di atas lemari pakaian. Aku mengambil bangku dan menaikinya.
Ini dia!
Bukan cuma satu yang aku temukan. Sepuluh keping vcd termasuk milikku salah satu yang disita Ayah kemarin. Kuambil semua dan aku mau coba semua sebelum Ayahku kembali nanti. Segera saja adegan sanggama berbagai versi melintasi mataku masuk ke otakku. Koleksi ayah lengkap tidak hanya pria dan wanita berbagai bangsa namun juga wanita dengan wanita. Bagian lesbi selalu kulewati aku merasa jijik melihatnya. Sebaliknya bagian pria dengan pria selalu aku nikmati lebih lama. Bahkan aku terkadang mengulangnya.
Tak terasa jam-jam membosankan menjadi jam-jam menggairahkan. Lapar pun tak kurasa lagi yang ada aku menikmati rasa tegang di kontolku karena adegan-adegan di atas.
Kenakalanku bertambah-tambah. Sekarang memang aku tidak lagi meminjam VCD bokep karena aku bisa mengunduhnya dari internet dengan gratis. Beberapa kali aku ketahuan Ayah menonton dan Ayah sudah tidak bisa lagi melarangku. Bahkan sering Ayah yang meminjamkan VCD bokep untuk kami tonton bersama-sama.
"Yaaahhh...." kataku manja pada Ayah suatu kali acara nonton bokep bersama.
Oh ya semua kulakukan saat ibu pergi. Dan tahulah kalian kalau ibuku semakin sibuk. Apalagi beliau ikut partai politik yang mengangkat dirinya sebagai sekjen untuk wilayah propinsi. Sepak terjang ibu membuat dia semakin sering pergi bersama teman-temannya. Aku dan Ayah juga menikmati kalau ibu pergi.
Sore itu di rumah hanya berdua karena tadi siang Ibu berangkat ke Jakarta untuk konsolidasi pemenangan pemilu. Aku senang dan berdebar-debar karena malam ini aku akan tidur dengan Ayah menggantikan posisi Ibu jadi istri. Ayahku pun tampak sangat ganteng sore itu. Ayah bukan seorang yang suka jajan kalau ibu pergi. Tapi entah kalau di luar mungkin dia punya simpanan brondong.
Waktu adzan maghrib baru saja lewat. Rumah terasa sepi tanpa Ibu.
"Fond, Pak cek ngantuk. Nanti kalau mau tidur jangan lupa matikan lampu dan periksa pintu" ujar Ayahku sambil berlalu ke kamar.
Aku menonton TV sebentar namun semua acara membuat aku bete saja. Tiba-tiba terbersit pikiran nakalku lebih baik memanfaatkan waktu untuk nonton bokep sambil bermain kontol Ayah saja daripada ga ada kerjaan.
Setelah selesai memeriksa semua pintu dan mematikan lampu, aku masuk kamar orang tuaku yang sudah remang-remang lampunya. Ayah tampaknya sudah nyenyak terbawa ke alam mimpi.Tak lupa kubawa VCD bokep yang tadi siang dipinjamkan Ayahku. Aku suka VCD pilihan Ayah, bintangnya bagus-bagus juga variasinya. Segera saja kunyalakan DVD di kamar dan kumasukkan keping cakram tanpa kuperiksa lagi judulnya.
Terdengar musik yang keras.. ah lalu kukecilkan dengan segera. Ayahku terbangun kaget.
"Aaahh ck..." terdengar Ayahku kesal.
"Nonton Pakcek... " aku menawarinya tetapi tampaknya dia begitu mengantuk.
Segera saja suara ah, ouh, yess, dan erangan-erangan kenikmatan lain menghiasi frame demi frame film. Bintang filmnya lelaki semua, tumben. Biasa Ayah selalu meminjam yang campuran, maksimalnya film bisex. Meskipun begitu kontolku tetap tegang juga.
Lama kelamaan aku tidak tahan sendiri. Sedang di sampingku ada Pakcek aku yang suka kontol juga. Kurendahkan badanku dan kutempelkan pipiku di dada Ayah. Sambil menonton tanganku meraba-raba perut Ayah yang sixpack. Ada bulu-bulu sexy di bawah pusar yang menunjukkan jalan untuk terus ke bawah. Tapi ada sarung di sana... Ah rupanya kontol Ayahku juga sedang tegang.
"Kenapa Fond... ingin ya..." kata Ayahku tenang tanpa mengenyahkan tanganku yang meremas-remas kontol besarnya.
"Kalau iya Pak cek?" kataku.
Kontol Ayah tiriku yang ganteng semakin mengeras. Terasa hangat dan berdenyut-denyut. Sangat berasa karena Ayah tidak mengenakan celana dalam di bawah sarung.
Aku mendekatkan bibirku ke bibir Pakcek dan segera kami berciuman. Sebuah ciuman dalam dan sungguh nikmat ciuman Pak cek ini. Aku yakin ciuman dengan wanita tak akan mengalahkan dahsyatnya ciuman Pak cek. Kutindih Ayahku sambil aku tetap menikmati bibirnya. Lidahku bermain liar di dalam mulut Ayah. Lidah Ayah juga tak kalah garang mengeksplorasi semua sudut mulutku. Nafas kami memburu. Saat kami berpandangan kulihat nafsu membara yang mengatakan 'kamu kekasihku malam ini Fond'.
Tangan Ayah menggerayangi punggungku hingga pantatku. 'Ayah aku juga menginginkanmu malam ini' pikirku. Sangat hangat dan nyaman bergulat bersama Ayahku. Cukup berciuman aku tidur di pelukan lengan Pak cek yang kekar.
"Fond, kamu tahu tidak, aku sayang kau..." ujarnya dengan sungguh-sungguh.
"Sayang apa neh Pak cek?" tanyaku menggoda sambil sesekali mengelus dada, perut, dan juga kontol Pak Cek.
"Kamu ini ya anak Pak cek dan juga kekasih Pak cek. Pokoknya sayang lah" ujarnya
Lalu kami ciuman lagi, ciuman yang tak mungkin dilakukan oleh Ayah dan anak yang normal bahkan Ayah tiri sekalipun. Kupelorotkan sarung Ayah dan kubelai-belai kontolnya yang sudah menegang. Besar 20 cm diameter 4,5 cm. Ini bukan ukuran rekayasa karena ini cerita sungguhan. Ayahku juga bukan bule . Kontol Ayah bentuknya bagus kepalanya besar. Ah pantas saja anusku berdarah-darah dahulu.
Kulepas ciuman bibirnya aku turun menciumi kontol Ayahku.
"Sssshhh ooowwhh isap Fond..." Ayahku mengerang tak tahan.
Kumainkan lidahku di lubang kencingnya. Gerakan ini membuat Ayahku menggelinjang. Lalu berputar-putar di kepala kontolnya yang sensitif. Lidahku yang kuat dan basah menjelajah jalan panjang batang kontol Ayah hingga pangkalnya. Kontol Ayah berurat-urat sexy seperti badan binaragawan saja. Ayah sering menggunakannya mungkin.
"Oooooowwhhhhh...."
Kupermainkan dua bola kembar sambil kupegangi tongkat sakti Ayah. Jembut Ayah lebat kini basah dengan liurku. Kulit bolanya juga berkilatan ditimpa cahaya layar televisi yang berganti-ganti menayangkan adegan lucah.
"Fonndd ahhh kamu pandai sekali ooohhh"
Ayah mengerang keenakan saat lidahku mulai naik lagi ke batang atasnya. Hmmm kugigit bekas sunatan Ayah dengan lembut. Kulingkarkan lidahku di daerah sensitif penis yaitu di perbatasan batang dan kepala kontol. Ini membuat Ayahku menahan kepalaku.
"Aaahhhh isap Fond aaahhh Pakcek tak tahan ooouuuhhhh...." Nafas Ayahku benar-benar tidak teratur. Tersengal-sengal karena birahi.
Ayah benar-benar dikuasai nafsu birahi sekarang. Tak peduli kalau aku anak tirinya. Kumainkan lagi lidahku di lubang kencingnya. Lendir bening meluber asin rasanya di lidahku. Ayahku meracau karena nikmat tiada ampun. Kuhisap saja. Aku berciuman dengan lubang kencing Ayah yang biasa mengobok-obok vagina ibuku. Kucucup lubangnya. Ayahku bergelinjang.
"Setan! Isap Fond. Masukkan kontolku ke mulutmu!" Ayahku mengamuk karena tak tahan kupermainkan lagi. Kali ini dia benar-benar marah.
Aku senang bisa membuat Ayah belingsatan seperti ini. Aku tersenyum. Namun tak mau membuat dia menderita birahi, kumasukkan batang kontol yang besar itu melalui bibirku yang rapat tapi lembut.
"Oooouuuuhhhhhhhh..... shhhhh... Aaawwww.."
Batangnya yang keras terasa berdenyut-denyut di antara bibirku. Hangat sekali. Kumasuk dan keluarkan dari mulutku. Enak sekali rasanya. Clop clop clop suaranya... Meski kucoba memasukkan sedalam mungkin, namun bibirku tidak mampu menyentuh pangkal. Terlalu panjang buat tenggorokanku.
"Aaahhh enak sekaali Fonnnd..." erangnya menikmati servisku.
Kulakukan cukup lama sampai bibirku mulai terasa baal. Kulepaskan kontol Ayah yang merah berkilat basah lalu aku pindah untuk menindih dan menikmati bibir Ayahku. Kuhisap dan kusesap bibir bawah Ayah.
"Pak cek, gantian isap punyaku.." pintaku.
Ayah menidurkanku lalu menciumiku dengan lembut dahi dan pipiku. Lalu dada dan turun ke perutku. Geli rasanya tapi enak. Kutahan kepala Ayahku saat menjilati pusarku. Aku terkikik kegelian. Lalu dia tiba di kontolku dan langsung menghisapnya.
"Ooooaaahhhh ..."
Enak sekali. Bibir basah Ayah hangat menyelimuti batang kontolku yang panjangnya 17cm. Kalian harus merasakan yang ini ... ini baru namanya sex. Oooohhhhh sampai ubun-ubun rasanya air maniku mau nyemprot. Apalagi saat Ayah mengisap sambil menarik mulutnya ke ujung kepala kontolku.
"Aaaaahhhhhh ..." aku menjerit tak tertahankan.
Kontolku benar-benar tegang. Kepala kontolku berdenyut-denyut menambah sensitifitas rasa karena gesekan. Rasanya tambah besar saja kontolku keluar masuk di antara bibir Ayah.
Benar-benar kenikmatan dunia yang tiada tara. Ayah melakukannya berulang-ulang. Begini mungkin rasanya kalau bersetubuh dengan si sexy jupe hahaha.... Ayah memujiku pintar tapi dia lebih pintar. Duniaku serasa melayang. Nyawaku terasa ikut terhisap saja.
"Paaakcek akuuu aaaahhhhh.... " tak tertahankan lagi tiba-tiba saja aku muncrat.
Crot crot crot...! Tak terkendali cairan lelaki muda ini muntah dalam mulut Ayah berkali-kali. Banyak sekali. Sudah tiga hari tidak kukeluarkan.
Pakcek tidak melepas kontolku dari mulutnya. Padahal dia tahu aku sudah memuntahkan maniku dalam mulutnya. Aku yakin itu banyak sekali. Ayah tetap mengisap senjata saktiku. Seakan tak ingin ada mani yang tersisa dari batang kontolku. Bahkan dia membersihkan ujung kontolku dengan lidahnya.
Walaupun sudah keluar tapi kontolku tetap saja perkasa. Darah di batang tidak mau beralih. Ayah menciumku. Rasa asin berpindah ke mulutku. Dan menguarlah bau mani. Ya maniku sendiri.
Ayah mengambil kondom di laci samping tempat tidur. Lalu membuka dan siap memakainya di kontol besarnya. Aku tahu Ayah akan menusuk anusku. Tapi aku sekarang inginkan sebaliknya. Kurebut karet kondom dari tangan Ayah. Lalu kupakaikan di kontolku sendiri.
"Terbalik itu, Fond" kata Ayahku yang melihat aku kesulitan memakainya.
Kubalik dan kubuka gulungan kondom hingga terbuka semua di pangkal kontolku. Bentuknya jadi agak aneh tapi seksi. Bau kondom tercium harum. Ini memang pertama kali aku memakai kondom. Entah apa maksudnya aku juga tidak tahu. Aku hanya ingin memakainya sebelum menusukkan kontolku ke lubang pembuangan.
"Pak cek tiduran saja.." kataku mendorong dadanya.
Ayah mengangkat pahanya.
"Tetapi hati-hati dan pelan io..." pesan Ayah.
Kini aku ingin memperkosa pantat Ayah. Membalas apa yang dia lakukan beberapa bulan yang lalu. Kuarahkan batang kontolku yang tetap tegang ke arah lubang kecil yang merah dan berkerut itu. Tampak kecil sekali dibandingkan batang kontolku yang menginginkan pelampiasan. Ibarat tongkat satpam yang akan ditusukkan lubang di gasper saja. Tampak tidak mungkin
Saat kutempelkan kepala kontolku disana, lubang itu belum juga terbuka. Ayah menggenggam kontolku dan mengarahkan tepat di pusat kerutan lalu memaksa menusukkan ke sana. Aku menuruti dan mendorongkan pantatku ke sana.
"Aaaaakkkkkkkhhhhh.... fond pelan... sakiiitt" Ayahku yang perkasa itu meringis menahan sakit.
Baru tahu dia rasanya. Aku paksa saja kontolku masuk sambil menikmati wajah Ayah yang meringis menahan kontolku. Sementara itu kontol Ayah mengkerut dan lemas dengan segera. Mungkin saja ini efek dari menahan sakit tadi. Aku yakin itu.
Keringat menetes dari dahi Ayah. Badannya memerah dan berkilat. Nafasnya mendengus menahan sakit yang memusat di lubang anusnya. Kutarik kontolku lalu kumasukkan lagi. Kutarik lagi lalu kumasukkan lagi.
"Oooowwwhhh aaahhhhh ahhhh" jerit Ayahku
Kalian ingin tahu rasanya? Dua kali lebih nikmat dari dihisap Ayah tadi. Lubang anus Ayah begitu licin dan sempit. Memang hari ini aku beruntung menikmati dua kenikmatan sex yang tiada tara anus dan oral. Hmm mungkin kalau kontol besarku masuk vagina jupe akan 3 kali lebih nikmat dari ini, aku cuma bisa membayangkan.
"Ganti posisi fond..." pakcek memerintahku lalu dia membungkuk.
Ah inilah posisi yang dinamakan doggy style. Lututnya menekuk badan depannya membungkuk ditahan siku lengannya. Kutekuk lututku lalau kuarahkan kontolku di lubang merah yang kembali mengkerut kecil. Ajaib! sekarang lebih mudah. Sekali bless kontolku mendapat kenikmatan lubang anus Ayah.
Segera saja aku melakukan gerakan maju mundur. Otot pinggangku yang semakin liat dan menampakkan otot-otot pria dewasa. Meski belum sejelas Ayah tapi sixpacku juga sudah memperlihatkan semua modal seorang pria. Saat kontol maju ada nikmat. Saat kontol mundur juga nikmat. Jadi yang ada hanya nikmat dari nikmat. Semakin cepat aku masuk dan keluar, semakin nikmat.
Satu yang tak kuperhatikan adalah kontol Ayah menegang dan berayun-ayun memukul-mukul perutnya sendiri. Ayah benar-benar tegang disodomi begini. Bahkan tanpa tangan Ayah menyentuh kontolnya.
"Ahhh ahhh ahh..." Ayah rupanya sudah mendapat kenikmatan disodomi begini.
Setengah jam berlalu.
"Foonnnd Ayah hampir niiihhhh...." erang Ayah
"Terus Fonnnndd lebih cepat lagiiiihhhh...."
Kupercepat gerakanku. Tubuh kami berdua sudah basah oleh keringat. Dari rambut kepalaku pun menetes keringat. Seperti sehabis main bola saja. Kami memang main bola, namanya bola sodok. Bola kami menyodok tongkat yaitu kontol kami.
Aku hampir saja orgasme saat Ayah melepaskan diri dari kontolku. Ayah lalu tiduran dan mulai mengocok kontolnya. Crot crot crot...! Sungguh jauh muncratnya. Bahkan menempel di dinding belakang kasur. Muka Ayah juga terkena maninya, namun paling banyak ada di dada dan perutnya.
Kubuka kondomku, kukocok kontolku di atas dada Ayahku. Tak lama maniku dan mani Ayah bercampur jadi satu di dada dan perut Ayah.
"Ooooohhhhhhhh..." erangku menikmati orgasme kedua.
Ayah mengambil sarungnya dan membersihkan mani kami. Lalu Ayah menciumiku pipi dan dahiku.
"Ayah suka ini. Ayah sayang kamu Fond..."
Lalu Ayahku pergi ke kamar mandi. Tanpa terasa aku terlelap tidur. Aku sadar ketika Ayah membangunkanku. Ayah masih telanjang tanpa risih di hadapanku.
"Fond, lagi yuk... minum ini dulu... Ayah buatkan jamu biar kamu kuat" ujar Ayah menyodorkan cangkir putih.
Aku dicium Ayah lagi sebelum sempat meminumnya. Ah Ayahku kekasihku memang. Jam sudah menunjukkan jam 00.30 pagi. Tak mau sia-siakan waktu rupanya.
Epilog:
Aku
sekarang sudah bekerja. Masih tinggal dengan Ayah dan ibuku. Aku
terkadang masih melakukan dengan Ayahku terutama kalau ibuku tidak ada.
Dan sampai sekarang Ibuku masih tidak tahu. Hubungan kami masih
seperti biasa saja. Terkadang Ayah menegerku namun dia tidak jarang
juga memanjakanku sebagai anak lelaki satu-satunya dalam keluarga. Aku
kini bekerja sebagai Staf Sekuriti di sebuah Bank swasta. Oh ya aku
juga pernah melakukan dengan rekan kerjaku. Kapan-kapan akan aku
ceritakan.
Sumber: http://asikb.blogspot.com/2012/08/cerita-asik-2-ayahku-gay-gay.html?zx=4f3a79558aa30e47
Langganan:
Postingan (Atom)

































